Kenapa Selalu Sakura?

By Ryuhara Haruno

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Sasuke x Sakura

Warning : Au,OOC, typo (s), cerita pasaran tapi, dijamin penasaran#PDLO?

Summary : Sakura itu sekretaris OSIS/Sakura-chan juga ikut bergabung dengan klub memasak/Hn. Aku ingin Sakura yang menjadi menejer tim kami/Gawat...gawat! Sakura, akan menggantikan posisi Shion!

.

.

.

Chapter 3 : Organisasi

.

.

.

Flashback.

Seingat Sasuke ia tak pernah merasa pernah mencantumkan nama, alamat, atau pun sebuah kutipan yang berisikan untuk bisa berkenalan dengan seseorang melalui sebuah majalah. Jangankan bertingkah seperti itu, memikirkannya saja tidak. Yang ada difikirannya sekarang adalah, kenapa tadi sore sepulang dari sekolah seorang bapak-bapak yang sudah lanjut usia menekan bel rumahnya dan memberikannya setumpuk surat. Ada yang disertai foto, bunga, bahkan kartu pos. Sasuke kecil hanya menggeleng kecil dan menerima semua surat yang 'katanya' untuk dirinya tersebut dan membacanya di dalam kamar.

Ia memulai dari surat yang amplopnya berwarna merah muda dan setangkai bunga mawar bersamanya.

"Hallo Sasuke-kun, kenalkan aku adalah Uzumaki Karin. Sekarang aku sedang berada di kelas 6 SD. Tepatnya di Konoha Elementary School. Oh iya Sasuke-kun, aku menemukanmu di rubrik sahabat pena Konoha Magazine For Kids. Disana aku merasa tertarik saja dengan dirimu. Apalagi jika membayangkan bagaimana wajahmu kau pasti sangat tampan. Kyaaaa... _ ku jadi tidak sabar bertemu denganmu. Kita ketemuan yuk, mumpung kita berada di kota yang sama. oh iya, ini aku selipkan fotoku dan bunga mawar untukmu. Balas suratku dengan cepat ya Sasuke-kun. :* aku sangat menantikannya lo. Jangan lupa selipkan fotomu juga. Byeee.."

Cih.. membaca surat ini saja ia sudah mual. Bagaimana jika ia bertemu dengan si pemilik surat? Ia melihat foto gadis yang berambut merah dengan kacamata di wajahnya dan berpose sedikit alay dengan meletakkan jari telunjuk di depam bibir dan kedua pipi yang digembungkan. Benar-benar sekali dia ini. Sasuke segera meremas surat itu dan melemparnya ke tong sampah.

Hampir 1 jam ia habiskan hanya untuk membaca setiap surat yang masuk. Rata-rata semuanya berasal dari perempuan dan hampir seluruh isinya mirip dengan surat yang ia baca pertama tadi. Begitu ia sadar bahwa hal ini hanya membuang-buang waktunya, Sasuke hendak beranjak dari kegiatan tak bergunanya ini dan hendak mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu kamar mandi. Namun, sebuah surat dengan amplop brwarna hijau emerald menjadi perhatiannya.

Rasanya ia sudah membuang semua surat ke tong sampah, kenapa yang ini masih bersisa? Mengikuti rasa penasarannya, Sasuke mengambil surat itu.

"Hn. Ini yang terakhir." Gumamnya.

ia membukanya secara hati-hati dan melihat siapa nama pengirim surat itu terlebih dahulu.

From : Cherry-Amegakure

Lumayan jauh juga fikirnya. Namun, melihat tulisan gadis itu yang kecil-kecil namun rapi membuat Sasuke menjadi tertarik untuk membacanya sejenak.

To : Sasuke di Konoha

From : Cherry di Amegakure

1 Mei 2007

Halo Sasuke-san. Bolehkah aku memanggilmu begitu? A-ano, sebenarnya aku bingung mau menulis , aku hanya sekedar ingin menjalin pertemanan denganmu. Hehehe bolehkan? ^^ oh iya, aku memperkenalkan diri dulu ya. Namaku Cherry, kau bisa memanggilnya begitu. Sekarang aku sedang duduk di kelas 6 SD di Ame Elementary School. Awalnya aku tidak berani mengirim surat seperti ini. Tapi, karena teman-temanku sedang heboh dengan sahabat pena aku jadi juga ingin mencobanya. Kau mau menjadi sahabat penaku tidak? Jika kau bersedia balas suratku ya. Tapi jika kau tidak mau ya sudah, aku tidak memaksa kok XD terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca suratku. Oh iya, aku mengirimkanmu origami buatanku, semoga kau menyukainya ya.

Salam

Cherry

Sasuke melihat origami berbentuk angsa sejumlah 2 buah yang dikirimi oleh gadis berinisial Cherry ini. Entah kenapa, sudut bibirnya menjadi terangkat begitu membaca deretan huruf yang ditulis rapi oleh gadis itu. Ia menyimpan surat dari Cherry di dalam bukunya dan meletakkan origami itu di atas nakas tempat tidurnya. Entah kenapa, rasanya setelah mandi ia akan membalas surat dari gadis itu.

End of Flashback

Sakura menatap langit jernih Konoha High School dari atap. Entah gerangan apa yang membawanya kemari, ia hanya merasa tertarik dengan tangga yang sangat panjang dan menghubungkannya dengan tempat luar biasa seperti sekarang. Ia merasakan desauan angin yang mulai nakal memainkan rambut soft pink-nya yang ia biarkan tergerai seperti sekarang. Ia menyelipkan anak rambut yang menghalangi pandangannya ke belakang teling dan menangkap suara anak laki-laki yang sedang asyik bermain bola di bawah sana.

"Teme...! Ayo oper bolanya padaku."

"Hey, jaga disana baka!"

"Ayooo... Sasuke-kun, masukkan bolanya!"

Teriakan super heboh terdengar di bawah sana. Ia menatap segerombolan gadis berdada besar sibuk menyoraki seorang pemuda tampan dengan surai raven yang berkibar dan tetesan keringat yang membasahi wajah dan baju olahraganya. Membuatnya terlihat tampak lebih menawan dan juga hot.

Sakura merasakan pipinya memanas. Rasanya ia cukup beruntung bisa sebangku dengan Sasuke. Walau ia cukup dingin dan irit berbicara, namun jika dengan Sakura pemuda itu akan berbicara sedikit lebih banyak walau masih menyimpan nada dingin di suaranya. Sakura memandang kembali sosok pemuda raven yang kini membasahi rambutnya dengan air mineral dan mengibaskan rambut ravennya itu sehingga ia mendengarkan teriakan heboh para gadis di bawah sana. Apakah sebanyak itu fans Sasuke? Pantas saja ia merasakan hawa menusuk saat dirinya bisa duduk bersama pemuda tampan di KHS setelah Sasori menurut Sakura tersebut. Karena, bagaimana pun senpainya yang memiliki rambut sewarna merah darah dan mata hazel-nya yang memikat itu tetap berada di urutan pertama sebagai pemuda tampan yang sudah ia temui disini. Apalagi sikapnya yang manis, hangat dan sangat friendly. Membuatya nyaman saat berada disampingnya. Dan sekarang, Sakura merasakan dadanya berdebar.

"Kami-sama, aku kenapa?" Bisiknya sendiri.

"Kau kenapa hm?"

Deg!

Sakura merasakan hawa nafas seseorang di sampingnya. Ia segera menolehkan wajahnya ke sebelah kiri dan mendapati seorang pemuda tampam dengan surai yang serupa dengan Sasori, namun matanya berwarna jadhe dengan tato Ai di dahinya. Pemuda itu tersenyum tipis sembari menawarkan apel di tangannya pada Sakura.

"Kau mau?"

"Ah?" Sakura tersadar dengan lamunannya.

Ia menatap potongan apel di tangan Gaara. Namun kepala merah jambunya menggeleng pelan dan dibalas oleh seringaian tipis dari Gaara. Pemuda tampan itu bersanda di belakang pagar pembatas dan memasukkan potongan apel ke dalam mulutnya.

"Hn. Aku Rei Gaara. Kau siapa?"

Sakura mengerjapkan mata emerald-nya. Ia melirik sekilas pemuda di sebelahnya dan tersenyum manis.

"Aku Haruno Sakura. Salam kenal."

Gaara tak menjawab langsung. Ia ikut menatap ke bawah tempat Sakura memandang tadi. Ah, pertandingan bola anak kelas sebelas rupanya. Disudut lapangan, temannya yang memiliki rambut pantat ayam itu dikerubungi oleh para gadis. Ada yang memberikannya minuman, menawarkannya handuk dan menawaran makanan. Sakura ikut melihat ke arah sana. Kemudian Gaara mendesah nafas lelah dan kembali menatap gadis di sebelahnya ini.

"Kau sedang apa disini? Memperhatikan si Uchiha hn?"

Sakura menggeleng. "Tidak kok. Awalnya aku hanya penasaran sama tangga di bawah sana. Jadi aku mengikutinya dan sampailah ke sini."

"Kau murid baru ya?"

"Hu'um."

Gaara melirik Sakura sekilas. Ia menyodorkan permen di kantungnya dan di terima oleh gadis itu.

"Terima kasih."

"Kau pindahan dari mana?"

"Ame."

"Sekarang berada di kelas mana?"

"XI-1. Kau?"

"Aku di kelas XI-2."

"Aaa.. di sebelah kelasku."

"Hn."

'Ih.. dingin sekali sih.' Fikir Sakura.

Semilir angin kembali menerpa wajah dua anak manusia berbeda gender ini. Bel masuk sudah berbunyi, merasa diabaikan Sakura hendak beranjak dari sana untuk kembali ke kelas. Namun, sebuah tangan kekar menahan langkahnya dan menatapnya dengan bingung ke arah Gaara.

"Kau, besok bisa kesini lagi? Ada yang ingin aku tunjukkan." Ujarnya.

Sakura mengangguk. Ia merasakan tangan dingin Gaara melepaskan tangannya dan pamit dari tempatnya berdiri sekarang.

"Aku duluan ya."

"Hn."

Sakura meninggalkan Gaara yang menyeringai menatap. "Gadis menarik."

.

.

.

.

"Haruno, ikut denganku!"

Sepulang sekolah, Sasuke menarik Sakura untuk ikut dengannya ke ruangan ketua murid. Pemuda raven itu menulikan pendengarannya dari gerutuan gadis merah muda itu dan mendudukannya di atas sebuah kursi. Ia melepaskan tas sekolahnya yang terasa seberat batu dan melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya. Sakura masih menatapnya dengan sebal. Ia melipat tangannya di depan dada. Memperhatikan Sasuke yang menyeduh kopi hitam tanpa gula di dispenser dan pemuda itu terlihat tak berdosa telah mengajaknya kemari.

"Uchiha-san, sebenarnya ada apa? jika tidak terlalu penting jangan paksa aku kemari. Aku harus bekerja 1 jam lagi dan kau malah mengajakku kemari." Gerutunya.

Sasuke menaikkan satu alisnya. Ia meletakkan cangkir yang kini isinya sudah berkurang seperempat dan menatap mata jamrud gadis itu.

"Hn. Aku ingin mendata dirimu sebentar. Kau 'kan masih baru disini. Lagipula, apa itu? Kau bekerja? Dimana?"

Sakura mencibir Sasuke yang terlihat 'kepo' tentang dirinya. Ia menyamankan posisinya disana dan menatap Sasuke yang kini sudah duduk di kursi kerjanya dan membuka buku tentang siswa kelas XI Konoha High School. Mata kelam itu menatapnya dengan intens. Namun Sakura malah tertawa melihat ekspresi Sasuke yang menurutnya lucu.

"Hahaha.. jangan begitu Uchiha-san. Aku tahu kau ingin mengenalku lebih dalam. Tapi, bisakah hilangkan raut wajahmu itu. Aku jadi ingin tertawa."

Sasuke melihat ekspresinya di cermin. Memangnya apa yang salah? Wajahnya terlihat tampan seperti biasa. Cih, dia narsis juga rupanya. Merasa diabaikan, Sakura menghentikan gelak tawanya dan menjawab pertanyaan Sasuke.

"Oke, oke! Jangan pasang wajah dingin itu. Aku ini bekerja sambilan di toko kue. Yah, kau tahu? Aku tidak mau merepotkan ibuku yang bekerja sendirian untuk membiayai kehidupan kami. Maka dari itu aku memutuskan untuk bekerja sambilan di Crimson Cake sampai jam 9 malam."

"Hn."

Sakura menekuk bibirnya sebal mendengar respon dari Sasuke. Sudah bercerita panjang lebar, bukannya ditanggapi dengan hal yang menarik. Yang ada pemuda tampan dihadapannya ini malah melunturkan semangatnya untuk bercerita. Ck!

Sakura kembali sibuk dengan fikirannya. Ia memainkan sebuah hiasan yang ada di atas meja kerja Sasuke. Sebuah origami yang terlihat sudah lusuh sekali. Origami berbentuk angsa berjumlah dua buah dan di pajang di dekat foto berwajah datar Sasuke. Sasuke sendiri sesekali meliriknya dan terus mencatat sesuatu di bukunya.

"Namamu siapa?"

"Ah, siapa aku?" Sakura menunjuk dirinya sendiri.

Sasuke hanya diam dan menatapnya dalam.

"Haruno Sakura."

"Umur?"

"16 Tahun."

"Tanggal lahir beserta tempat."

"Amegakure, 28 Maret 19XX"

"Alamat?"

"Apartemen blossom no.28."

"Nama orang tua?"

"Haruno Mebuki."

"Nama ayahmu?"

Sakura tak menjawab. Entah kenapa cahaya di sepasang emerald-nya meredup. Sasuke tetap menunggunya. Ia memandang gadis itu cukup khawatir. Kenapa? Apakah ada yang salah dengan ayahnya? Sehingga ia tak menjawabnya dengan langsung?

"A-aku.. aku.." Sakura menggenggam ujung roknya denga erat. Ia harus kuat, karena bagaimana pun karena ayahnya jugalah ia lahir ke bumi ini. Walau kini, ia dan ibunya sudah ditinggal sejak kejadian itu. Bahunya bergetar, Sakura menundukkan wajahnya semakin dalam dan berujar lirih.

"Ha-haruno Kiizashi." Jawabnya getir.

Sasuke menuliskannya di dalam data siswa. Kemudian ia menyuruh Sakura menuliskan nomor handphone beserta asal sekolahnya dan dibubuhi tanda tangan. Setelah mencatat data Sakura, ia menyimpan bukunya di dalam laci dan terus memperhatikan sosok Sakura yang sepertinya sedang bersedih.

Entah apa yang terjadi Sasuke tidak tahu. Sepertinya gadis itu enggan bercerita padanya. Onyx-nya menatap jam yang tergantung di atas dinding. Menunjukkan pukul 3 sore. Mungkin sebentar lagi Sakura akan bekerja. Ia meraih jaketnya di atas kursi, menyampirkan tasnya di bahu dan memberikan jaket itu pada Sakura.

"Hn. Ayo, kau kuantar ke tempatmu bekerja."

Sakura mengangguk. Ia menghapus air mata yang sempat membasahi pipinya, dan mengambil jaket Sasuke.

.

.

.

Kini, cuaca sedang hujan gerimis. Kedua anak manusia berbeda gender itu menatap langit yang semakin gelap dan tidak memberikan kesempatan sedikit pun pada matahari untuk bersinar. Padahal, tadi siang langit sangat jernih dan matahari seperti menantang di atas sana. Sakura memakai jaket kulit milik Sasuke. Terasa hangat dan nyaman di tubuh kecilnya. Ia memeluk dirinya sendiri dan sesekali melirik sosok teman sebangkunya yang kini berdiri di sebelahnya sembari memasukkan tangannya ke dalam saku celana.

Sakura merona sendiri. Padahal, tadi ia sempat bersedih ketika Sasuke menyinggung tentang ayahnya. Namun, mengingat sekarang ia berada di sebelah pangeran entah kenapa mood-nya menjadi lebih baik.

"Hn. Aku tahu, aku ini tampan."

Sasuke sedikit menyeringai begitu mendapati sepasang emerald itu menatapnya dengan intens. Sakura memalingkan wajahnya yang memerah. Ia merasa malu ketahuan sedang menatap si bungsu Uchiha dengan begitu lekatnya sampai tidak berkedip. Sasuke tersenyum tipis dan mengacak helaian merah muda Sakura.

"Uchiha-san!" Gerutunya.

"Panggil aku Sasuke. Kalau bisa Sasuke-kun!"

"Eh?"

Sakura menatap sepasang obsidian Sasuke. Pemuda disampingnya ini memintanya untuk memanggilnya dengan nama kecilnya? Bahkan ditambahkan suffiks –kun pada akhir namanya. Apakah ia sedang bercanda? Sasuke ikut menatapnya dengan intens. Bahkan jarak wajah mereka hanya satu jengkal sekarang. Membuat Sakura merasakan deru nafas pemuda di sampingnya. Namun, sadar akan situasi keduanya saling menjauhkan wajah mereka masing-masing dan tanpa sadar rona merah menjalari wajah mereka. Sakura menormalkan debaran jantungnya. Sedangkan Sasuke sendiri mengembalikan wajahnya menjadi datar dan menatap gerimis yang mulai berhenti. Ia menggenggam erat tangan mungil Sakura dan mengajak gadis itu menembus gerimis kecil dan berlari menuju motornya yang ia parkir di luar gerbang.

.

.

.

Sakura menyerahkan helm milik Sasuke. Saat ini ia sudah di depan tempat ia bekerja dan pemuda tampan itu masih setia menunggunya sembari duduk di atas motor. Ia hendak melepaskan jaket Sasuke. Namun Uchiha bungsu itu menolak.

"Kau bisa kedinginan Sasuke-kun."

Mendengarkan panggilan baru dari Sakura, membuat hatinya sedikit menghangat.

"Kau pakai saja."

"Tapi, Sasuke-kun pulag bagaimana?"

"Rumahku di dekat sini."

Sakura menggembungkan pipinya. Ia merasakan pipinya dicubit oleh Sasuke. "Jangan seperti anak kecil Sakura."

"Habisnya kau sudah berbaik hati mengantarku, meminjamiku jaket. Lalu kau pulang bagaimana?"

"Sudah kubilang, rumahku dekat. Hn, aku pergi dulu." Ia mulai menghidupkan mesin motornya.

Sakura melambaikan tangannya dan tersenyum begitu manis, "Hati-hati ya Sasuke-kun. Terima kasih atas tebengannya."

Sasuke mengangguk di balik helm. Ia mulai mengendarai sepeda motornya dan meninggalkan Sakura yang berdiri di depan Crimson Cake sembari tersenyum manis. "Ayo kita bekerja!"

-000-

Di kesibukan sekolah seperti biasanya, hari ini sudah menginjak hari kelima semenjak Sakura bersekolah di KHS. Namun ia belum juga menemukan sahabat perempuan yang bisa diajaknya untuk berteman. Ia biasanya masih menghabiskan waktu sendiri. dan terkadang mengikuti Sasuke ke ruang ketua murid ssembari mencatat sesuatu. Ia juga berusaha menghubungi Sasori senpai, tapi menurut kabar yang beredar senpai-nya yang manis itu sedang berada di Suna untuk urusan OSIS. Pasti sangat sibuk menjadi ketua OSIS. Berbicara mengenai OSIS, Sakura jadi sadar bahwa ia belum mendaftarkan dirinya ke ekstrakulikuler ataupun organisasi yang ada di sini.

Selain menjadi seorang pelajar, tentunya ia ingin ikut aktif dalam organisasi agar dapat membentuk jiwa dan karakter pemimpinnya. Ia berlari dengan riang menuju atap sekolah. Ia sampai lupa bahwa Gaara menunggunya dan sekalian saja ia mengajak pemuda itu untuk memberitahunya tentang apa-apa saja kegiatan di sekolah ini.

Tap.

Tap.

Tap.

"BRUK!"

Sakura mendobrak pintu yang menghubungkannya dengan atap sekolah secara kasar. Sehingga membuat pemuda bersurai merah yang sedang terlelap disana merasa terganggu dan melirik siapa yang berani mengganggu tidur siangnya.

"Gaara!" Sapa Sakura.

"Hai!"

Pemuda bersurai merah itu mengernyitkan dahinya melihat wajah Sakura yang tampak berbinar.

"Katakan, apa saja ekstrakulikuler yang ada disini?" Tanyanya to the point.

"Untuk apa?"

"Tentu saja supaya aku tahu. Akukan ingin aktif. Ayolah Gaara!"

Gaara terpaksa bangun dari tidurnya. Ia mendudukkan dirinya di sebelah Sakura dan mengucek matanya yang terasa berat.

"Dasar panda! Pantas saja lingkaran di matamu begitu jelas. Masih pagi begini kok malah tidur."

Gaara mengabaikan perkataan Sakura. ia memberikan brosur yang ia ambil dari sakunya dan memberikannya pada Sakura.

"Wah! Kau sampai menyiapkannya untukku."

Sakura segera menerima brosur tentang daftar kegiatan ekstrakulikuler disana. Matanya membaca tulisan rapi itu secara seksama.

Basket

Voli

Sepak bola

Futsal

Seni tari

Seni drama

Melukis

Seni patung

Jurnalistik

Komputer

Robotik

Olimpiade

Renang

Sepak takraw

Anggar

Cheerleaders

Ah...~ membosankan.

Semangat Sakura menjadi hilang entah kemana. Ia menyerahkan kembali kertas itu pada Gaara dan dihadiahi tatapan aneh dari pemuda merah di hadapannya.

"Kenapa?"

"Tak ada yang menarik."

Ia ikut bersandar di sana. Mata hijau hutannya tampak tak bersemangat. Rasanya, kegiatan ekstrakulikuler disini tidak menarik. Apakah tidak ada yang baru gitu? Seperti klub cerdas cermat, klub fotografi, ataupun memasak. Ia ingin ikut di ekstrakulikuler yang kegiatannya tidak membosankan. Rata-rata seluruh ekstrakulikuler yang tercantum disana sudah ada di sekolahnya dulu. Ia ingin mengikuti sesuatu yang berbeda.

"Bagaimana dengan klub memasak?"

"Memang ada?"

"Hn. Ini brosur lama, jadi belum tercantum disini."

Sakura memegang kedua bahu Gaara dengan antusias, "Katakan, dimana aku bisa mendaftar?" sakura tampak begitu bersemangat.

Gaara menyingkirkan tangan gadis itu dari bahunya dengan pelan dan sedikit meringis karena kuku Sakura sempat melukain dirinya.

"M-maaf."

"Tidak apa-apa."

Sakura menunggu jawaban Gaara. "Kau tinggal daftar dengan Kabuto. Dia ketua dari ekskul ini. Jika kau mau, besok saja kita mendaftar. Akan aku temani, bagaimana?"

Sakura menganggukkan kepalanya. Ia tersenyum lebar dan memeluk Gaara dengan refleks, "Terima kasih Gaara!"

Tanpa sadar, bahwa pemuda yang ia peluk sekarang wajahnya sudah memerah menyaingi warna rambutnya.

-000-

Sasuke melirik ke arah luar jendela dari tempat ia bekerja sebagai ketua murid. Setelah 3 bulan menjabati jabatan ini, tanpa terasa ia sudah cukup lelah. Apalagi Shion yang notabene adalah wakilnya itu sangat jarang sekali membantunya. Gadis itu terlalu sibuk dengan organisasi lainnya sehingga ia lupa bahwa ia juga menjabat sebagai wakil ketua murid disini. Apalagi sebentar lagi masa periode jabatan ketua OSIS akan berakhir. Shion berencana akan mengajukan diri sebagai ketua OSIS yang baru, pasti ia sibuk menyiapkan semua itu. Fyuh...~ Sasuke menghela nafas lelah.

Onyx-nya menatap pada origami yang selalu menjadi penyemangatnya dalam keadaan seperti ini. Origami buatan sahabat penanya yang sekarang entah bagaimana kabarnya, kondisinya, dan letak keberadaannya. Selama masuk SMA, ia tak pernah lagi mendengar kabar tentang Cherry-nya. Tidak pernah lagi dikirimi surat, bahkan ia merasa sedih karena kehilangan sahabatnya. Meski mereka hanya berkenalan lewat surat, tapi ia mengakui bahwa surat-suratan dengan gadis itu sangat menyenangkan. Membaca goresan tangannya, sebuah karikatur wajah gadis yang cantik setiap ia mengakhiri suratnya, dan terkadang kiriman origami yang selalu ia terima. Gadis itu, pasti sangat menarik.

Kriett..

Seseorang membuka pintu ruang kerjanya. Tak lama kemudian tampak Shion yang memasang senyumannya masuk sembari membawakan makan siang untuk Sasuke.

"Hehehe... gomen Sasuke. Aku jarang kesini ya? Ini, aku bawakan bekal makan siang untukmu."

"Hn. Baiklah terima kasih atas bentonya."

Sasuke membuka bungkusan bento yang diberikan Shion. Gadis pirang itu tampak sibuk dengan map dan berkas-berkas yang ia bawa.

"Sasuke, kau tahu minggu depan akan diadakan ujian pertama dalam semester ini. Aku sudah mengatakan pada Minato-sama bahwa aku akan mengundurkan diri sebagai wakil ketua murid. Kau tak keberatankan?"

"Hn." Sasuke menyuapkan onigiri ke dalam mulutnya.

"Nah, sebagai penggantinya siapa murid perempuan yang mendapatkan nilai tertinggi untuk ujian nanti ia yang akan menjadi penggantiku. Berdoa saja bukan si Hyuga." Shion meledek Sasuke.

Pemuda raven itu tidak menanggapi dan tetap tenang dengan makan siangnya.

"Oh iya, ngomong-ngomong kudengar dari anak-anak, si anak baru yang satu bangku denganmu itu digosipkan dekat dengan Sasori senpai ya? Soalnya, ada beberapa yang melihat mereka begitu mesra di kantin sekitar beberapa hari yang lalu. Kau tahu tentang itu Sasuke?"

Sasuke sedikit terkejut mendengarkan pertanyaan Shion. Namun ia berusaha untuk tidak peduli dan meneruskan makan siangnya.

"Bukan urusanku."

"Cih! Dasar pelit kata!"

Shion merapikan dokumen yang ia bawa tadi dan memasukannya ke dalam lemari yang terletak di dekat dispenser.

"Nah, Sasuke aku harap siapapun gadis yang menjadi wakilmu nanti, kau dan dia bisa bekerja sama dengan baik. Doakan aku bisa menjadi ketua ataupun wakil ketua OSIS untuk periode nanti ya?"

"Hn."

"Aku pergi dulu. Bye pangeran es!"

-000-

"Halo Sakura-chan!"

Tiba-tiba saja sebuah suara bass yang sangat familiar terdengar di telinga gadis merah muda itu. Ia segera mengangkat kepalanya yang sedari tertunduk di antara lipatan tangannya. Begitu mendapati si pemuda tampan berwajah baby face dengan kedua tangannya yang tersembunyi di balik tubuh tegapnya, Sakura segera bangkit dan berteriak heboh.

"Sasori senpai!"

Seuruh anak perempuan menatap iri ke arah mereka. Ada yang mencacinya, menatapnya dengan tajam, mengejeknya, dan ada pula yang kagum. Akasuna no Sasori yang selama ini dikenal paling anti bergaul dengan adik kelas apalagi dengan seorang gadis, entah ada badai apa tiba-tiba datang ke kelas mereka. Dan yang lebih membuat mereka terkejut adalah senpai-nya yang tampan itu menemui Haruno. Catat dengan jelas HARUNO!

Gadis merah muda yang belum lama menginjakkan kakinya ke KHS. Dan dia berhasil merebut perhatian si tampan pangeran mereka. Sasori tersenyum begitu manis, membuat hati para fans-nya menjadi meleleh hanya karena senyuman maut pemuda itu. Ia duduk di kursi kosong yang terletak di depan Sakura dan memberikan sebuah cokelat yang dibungkus dengan kertas kado berwarna emerald yang berkilau, lengkap dengan pita merah jambunya.

"Ini hadiah untukmu."

"Kyaa... senpai arigatou. Eh, ini untuk apa ya? Kan aku sedang tidak berulang tahun."

Sakura menatap Sasori dengan pandangan bertanya.

"Itu hadiah untukmu. Kau tahukan, kemarin aku ada urusan 3 hari di Suna untuk masalah OSIS. Jadi aku membawakannya untukmu."

"Wah..benarkah? Sekali lagi arigatou ne senpai. Aku sangat senang diberikan hadiah darimu."

Sasori mengacak rambut merah muda Sakura.

"Ayo ke ruanganku sebentar. Ada yang ingin kutunjukkan juga untukmu."

Sakura menganggukkan kepalanya. Ia mengikuti Sasori menuju ruang OSIS KHS dan meninggalkan kelasnya yang penuh dengan tatapan tajam seolah-olah ingin memakannya hidup-hidup.

"Cih! Dia juga menggaet Sasori-kunku? Gadis sialan!" Teriak Karin.

Hinata menenangkan sahabatnya yang terlanjur emosi. Ia menatap Sakura dengan tajam seiring langkah gadis itu keluar dari kelas.

"Lihat saja, akan kuberi dia pelajaran." Hinata menyeringai. Ia sudah menyiapkan rencana untuk menyakiti gadis merah muda yang sudah berani merebut perhatian pemuda-pemuda tampan di sekolahnya ini.

-000-

Sakura berdecak kagum dengan suasana ruangan kerja Sasori. Terasa aroma mawar di dalam ruangan yang sangat simpel, elegan dan tertata rapi ini. Sasori menyetel musik mozart untuk menemani mereka. Ia juga menyiapkan teh tarik untuk Sakura dan membuka jendela lebih lebar agar udara yang masuk lebih banyak.

"Kau suka ruangan ini?"

"Hu'um."

Sakura mengangguk dengan semangat. Ia merasakan hembusan nafas Sasori di pundaknya. Gadis itu menoleh sejenak ke belakang. Sasori berdiri di belakangnya dengan dua tangan kekarnya yang menyelesup di pinggul Sakura dan memeluknya dari belakang.

"Sakura~" Ujarnya.

Sakura tidak menolak. Ia menyamankan posisi mereka dan menikmati alunan lagu yang di setel oleh Sasori tadi.

"Kau tahu? Aku sedikit sedih waktu tidak bisa melihatmu selama 3 hari kemarin." Bisik Sasori.

Sakura menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya. "Kenapa senpai?"

"Entahlah, aku jadi merindukanmu. Kau tahu? Aku menginginkan seorang adik perempuan yang sepertimu Saku-chan."

"Anggap saja aku ini adikmu."

"Yah, kalau kau bersedia."

"Aku bersedia."

Sakura menatap mata hazel milik senpainya. Ia memiringkan kepalanya sedikit ke kiri dan tersenyum.

"Aku bersedia kok menjadi adikmu. Mulai sekarang, Sasori senpai adalah kakak laki-lakiku. Boleh aku bilang begitu?"

Sasori tersenyum. Ia semakin memeluk Sakura dengan erat dan mengecup helaian merah muda di kepala gadis itu.

"Dengan senang hati, Saku-chan."

.

.

.

.

"Jadi, bulan depan ada pemilihan ketua OSIS baru ya? Berarti masa jabatan Sasori senpai akan berakhir sebentar lagi ya?"

"Hm... kau tau Saku-chan, menjadi ketua OSIS itu sangat melelahkan. Aku harus kesana kesini untuk mengurus sesuatu. Lagipula aku sudah menjabat jabatan ini selama 2 tahun berturut-turut. Dan sekarang adalah saatnya aku pensiun. Aku harus mulai fokus belajar untuk kelulusan nanti."

"Wah.. begitu ya? Hebat sekali senpai menjabat dua tahun berturut-turut. Pasti senpai sangat dipercaya untuk mengemban tanggung jawab ini."

"Ya, begitulah. Kau tak tertarik untuk ikut Saku-chan?"

"Maksud senpai?"

Sasori menyesap teh tarik yang tadi ia seduh.

"Kulihat kau cukup berkharisma. Apa tidak ingin mencoba mencalonkan diri? Aku pasti menjadi tim suksesmu."

Sakura tertawa pelan. Membuat dirinya menjadi semakin cantik dimata Akasuna Sasori.

"Mana mungkin aku bisa mencalonkan diri. Aku saja belum lama bersekolah disini senpai."

"Yah..setidaknya menjadi sekretaris atau bendahara. Yang penting menjadi anggota inti dari OSIS."

Sakura berfikir sejenak. Ia memang dari awal tertarik untuk mengikuti berbagai kegiatan di sekolah ini. Apalagi, menurut kabar yang beredar KHS merupakan sekolah yang dikenal dengan organisasinya yang baik. Pasti ia bisa mendapatkan pengalaman yang lumayan bagus. Sakura melirik Sasori sejenak.

"Baiklah, aku akan mencalonkan diri. Hm.. mungkin sebagai sekretaris atau bendahara. Soalnya, aku masih belum bisa percaya diri menjadi ketua OSIS."

Sasori mengacak rambut merah muda Sakura. membuat gadis itu menggembungkan pipinya sebal.

"Aku suka dengan semangatmu."

-000-

Sakura melewati lapangan futsal secara tidak sengaja. Ia melihat anal laki-laki menggerutu sebal. Terlihat wajah mereka yang sangat lelah dan tidak ada satupun air minum yang tersedia disana. Awalnya ia hanya beniat untuk melihat Sasuke latihan futsal sejenak. Namun, begitu pemuda tampan yang merupakan teman sebangkunya itu duduk di pinggir lapangan dengan wajah yang memerah dan peluh yang membasahi tubuhnya, membuat Sakura menghentikan langkahnya.

"Ada apa Sasuke-kun?"

Ia berjongkok di sebelah Sasuke. Pemuda yang memasang wajah sebal itu menolehkan wajahnya ke samping dan mendapati gadis merah muda yang menghilang selama istirahat terakhir tadi berjongkok di sebelahnya.

"Hn. Menejer tim kami bekerja tidak becus. Ia menelantarkan kami dan tidak menyiapkan minuman sedikit pun. Padahal ia tahu hari ini ada latihan."

Sakura mengangguk mengerti. Ia menyerahkan tempat minum berwarna merah miliknya kepada Sasuke.

"Ini, minum punyaku saja dulu. Aku akan minta bantuan Sasori senpai untuk membawakan kalian minuman. Tadi di ruang OSIS, aku lihat ada 2 dus air mineral yang tersisa saat acara seminar. Tunggu sebentar ya?"

Sasuke mengangguk. Ia meminum air mineral yang diberikan Sakura. Tak lama kemudian Sakura kembali dengan Tobi dan Deidara yang membawakan air mineral tersebut untuk mereka.

"Minna! Ini ada air mineral yang aku minta dari ruangan OSIS. Kalian bisa mengambilnya disini."

Anak laki-laki pun langsung mengerubungi Tobi dan Deidara. Mereka mengambil air mineral tersebut dan menegaknya hingga kandas. Sakura juga memberikan mereka tishu untuk mengelap keringat dan memberikan biskuit di dalam tasnya.

"Arigatou Sakura-chan! jika kau tidak datang, kami bisa mati kehausan disini." Teriak Naruto yang sedang mengelap keringatnya.

"Ya, benar! Terima kasih ya Haruno-san." Ujar seorang pemuda bersurai cokelat dengan tanda segitiga terbalik di pipinya.

"Sama-sama minna. Lain kali, jangan lupa bawa minum sendiri ya? Untuk berjaga-jaga jika kejadian seperti ini terulang kembali." Ujar Sakura.

Semua yang ada disana mengangguk mendengarkan perkataan Sakura. Gadis gulali itu kembali ke sudut lapangan tempat Sasuke beristirahat. Ia membantu pemuda raven itu untuk memijat punggungnya dan membiarkan Sasuke mengistirahatkan kepalanya sejenak di pangkuan Sakura. Membuat beberapa pemuda disana menatap mereka dengan iri.

"Dasar Teme! Seenaknya saja mengumbar kemesraan di sini." Ujar Naruto dengan sewot.

"Bilang saja kau iri!"

"Diam kau anjing!"

Naruto melempar handuknya ke arah Kiba.

"Uh, kau jorok sekali Naruto!"

Tap! Tap!

Terlihat gadis indigo yang berlari ke arah mereka dengan wajah yang terlihat letih dan memerah. Ia hanya bisa membawa 3 botol air mineral di tangannya.

"Maaf Minna, aku hanya menemukan segini. Soalnya, kantin sudah pada tutup. A-aku minta maaf ya?"

Semua yang ada disana menatapnya dengan tajam. Ia memberikan botol mineral pada Naruto dan Kiba namun tidak ditanggapi oleh mereka.

"Seharusnya kau itu sadar, kami semua yang ada disini sudah dehidrasi sejak tadi. Kau kemana saja sih? Menejer tim tapi tidak bekerja dengan becus. Masa mencari air minum saja lama sekali. Untung ada Sakura-chan yang membantu kami. Itu! Minum saja sana sendiri!"

Naruto melempar air minum pemberian Hinata. Mata lavender itu terlihat sangat terkejut.

"Ya, dia benar! Kami ini manusia, bukan mesin! Jika kau tidak sanggup menjadi menejer tim kami, lebih baik berhenti saja! Kami tidak membutuhkan seseorang yang kerjanya lambat sepertimu." Sahut Shikamaru yang kini terbangun dari tidurnya.

"Ya, itu benar!" Yang lain menyetujui perkataan Shikamaru.

Mata lavender Hinata tampak memerah. Ia menutup wajahnya dengan malu dan berlari dari sana.

"Dasar cengeng! Baru segitu saja sudah menangis. Bagaimana jika ia dimarahi oleh Sasuke ya?" Ujar Shino.

Yang lain hanya mengangkat bahu mereka. Mereka semua yang ada disana tidak sadar bahwa Sasuke yang menjabat sebagai kapten mereka hanya berpura-pura tertidur. Ia merasakan tangan lembut Sakura menyisir rambut ravennya dan sesekali mengusap wajahnya dengan hati-hati.

"Aku akan memecatmu Hyuga." Fikirnya.

.

.

.

TBC!

Haiii!

Makasih atas review kalian. Gak nyangka yang baca FF ini lumayan banyak juga.

Dan aku rencananya emang mau membuat Saku-cent disini. Ada yg suka?

Err.. untuk sahabat perempuan Sakura sedang aku fikirkan. Mungkin di chap-chap depan bakal hadir siapa yg jadi sahabatnya. Mengingat Ino disini perannya jadi musuh sakura juga. Wkwkwk.. sesekalikan, supaya cerita ini tidak terlalu mainstream. Walau aku tahu ini adalah ide pasaran. XD

Nah...

Aku tunggu review kalian.

Silahkan menuliskan apa saja ya...

Regards.

Ryuhara.

Balasan review:

Sabila Foster : Iya.. ini sudah lanjut. Review lagi ya.

Kirei apple : nih.. Otou-chan, 4k+ udah lumayan kan tuh? Wkwkw.. makasih udah review. Review lagi yaa

Azriel kanhaya : makasih nee-chan. nih.. udah lanjut.

Mantika mochi : iya.. semua cowok kece diborong Saku XD Berasa kaya belanja aja. Wkwkwk..

Madeh 18 : Kapan ya mereka sadar kalau mereka sahabat pena? Kayaknya masih lama deh. Dan kenapa surat Sasuke ga sampai ke sakura, itu masih misteri. Nanti akan dikuak secara perlahan kok XD

Hanazono Yuri : Iya.. ini sudah lanjut.

Guest : Udah dik :3

Kasuga Fuyu Y :Wahh.. kamu suka ya Hinata nya jahat? Iya.. ini udah di update.

UchiHaruno Misaki : iya... ini Saku-cent. Suka juga ya? Sama dong #toss makasih atas masukannya Misaki-san,. Dan untuk itu, aku akan berusaha nyari sahabat yg pas untuk Saku. Kasian aja dia gak ada sahabat. Thanks udah mampir XD

Vanny-chan : iya.. sesekali Ino dan Sakura jadi musuh.

Sarada Uchiha : makasih kalau kamu senang sama cerita ini. Mampir lagi yaa.. Sarada :3

Guest : ini udah aku usahakan apdet kilat. Maaf menunggu :v

Suket alang alang : belum dong. Kan masih chap 2 maren. Wkwkw... iya, hinata dan Ino jadi jahat. Biar greget. Hinata suka Sasuke.. wkwkw.. maaf kalau dia OOC

Lui h : hai sidersss... akhirnya ada yg muncul. Makasih reviewnya. Nanti review lagi ya :D

Aitara Fuyuharu : gak papa kok. Yg penting meninggalkan jejak. Makasih fuyuh~ Saso emang selalu mempesona kok. Dia kan tampan :3 Iyaa.. Ino antagonis.

Sofi asat : iyaa.. ini udah XD

Juju : hai jujuuuuuu... #panjangamat Saku gk disukai sama temua cewek karena semua cowok tampan suka dia. Wkwkwk.. nanti aku usahakan Saku punya sahabat cewek. Liat aja y nanti. Ino dan Hinata jahat karena tuntutan peran. Tenang aja deh.. inikan pair SasuSaku. Pasti endingnya kamu tahu bakalan siapaa... XD

Oto ; iya.. sudah nih.

Axwdgs : Ini udah kilat lah ya?

Cherry huanggara ; iyaa sudah...

Henilusiana39 : Iyaa... sudah nihh..

Hana. R. Salsabila. 1 : insya allah punya. Kasian juga kalau Saku sendirian aja. Sahabatnya ada yg cewek ada yg cowok. Saso deket kok sama sakura. tuh... #nunjukmereka iya.. hinata fans Sasuke. Shion baik gak ya? Nanti deh... liat perkembangannya. Shion gak suka sama Sasuke kok, dia gila organisasi. Shion jadiannya sama siapa ya? Rahasiaaaa... makasih udah review. Gak papa kok banyak tanya. Aku seneng XD

Yukumpme : salam kenal jugaaa.. gak papa kok baru muncul. Hinata aja yg FG Sasuke, karin sama ino nggak. Mereka punya tambatan hati masing-masing #eaaakkkk iya, Hinata ketua gengnya. Terima kasih udah review... :3

Lynn : Kok fujoshi kak? Inikan saku-cent :3

IndahP : Makasihh... ini udah kok.