Hyahoo..~ Saya ucapin terima kasih yang sebanyak-banyaknya yaaa buat yang udah baca dan yang review~ Saya senang kalo para pembaca suka fic saya. Tapi kalo kalian jadi gila saya gak tanggung, yee. Spesial makasih buat Rokudou Tsuzuki-san yang ngasih tau letak typo-typo Auhor. Saya baru tau kalo cara ngetik dialog kayak gitu *PLAK* Tapitapitapi saya belom ngerti penjelasan anda yang di paragraf satu. Bisa jelasin lagi?
Oh iyaa FPI, di chapter 1 saya bilang ide fic ini didapet pas lagi ulangan PKN, kan? Ternyata eh ternyata nilai ulangan PKN saya gak sesukses fic ini, loooh. Kalian tau tahun kemerdekaan Indonesia? ..nah, itu dia nilai PKN saya.
Disclaimer : Selama belom ganti judul jadi Baksoshitsuji ato Kusoshitsuji, berarti Kuroshitsuji masih punya Yana Toboso. Indonesia punya saya lah.. kan negara saya. Informasi mengenai G*y*s T*mb*n*n saya dapat dari internet.
Warning : Ciel-nya OOC. Author-nya OON. Latar waktu ngaco. Yah pokoknya waspada aja yee. Don't like dont't read.
Selamatkan Indonesia!
Ciel dan Sebastian (lagi-lagi) ngaso santai-santai di Monas. Setelah urusan di Depdiknas kelar, maka mereka harus nyari kakus... bukan, kasus lain lagi buat diselesain. Hmm.. enaknya apa, ya? Dengan (sok) elegan Sebastian ngebolak-balik koran lagi. Kali ini Koran Lampu Merah Rusak.
Sungguh gawat tempat hiburan yang satu ini. Selain semua orang—tanpa pandang umur—bebas masuk ke sini, para pengisi acara di tempat hiburan inipun tidak ada yang mengenakan pakaian sehelai benangpun. Semua bebas mepertontonkan auratnya di depan pengunjung, walau tidak sedikit dari para pengunjung tersebut yang masih dibawah umur. Meski tempat hiburan ini jelas-jelas mengindikasikan melanggar UU Pornografi dan Pornoaksi, tak ada seorangpun yang berkeinginan untuk menutupnya. Bahkan MUI terkesan acuh pada hal ini. Pengelola tempat hiburan yang dimintai konfirmasi pun akhirnya buka mulut, "Untuk apa menutup tempat ini? Memangnya hewan-hewan di kebun binatang ini mengerti tentang UU Pornografi?" ujarnya.
1 Author tewas, 2 lainnya luka berat, 3 luka ringan, 4 sehat, dan 5 sempurna dalam sebuah kecelakaan di Jalur Tol Cupularang. Salah satu saksi jidat yang berada di lokasi kejadian mengatakan bahwa tabrakan beruntun yang melibatkan bajaj-sepeda-gerobak-kereta bayi ini terjadi pada siang hari, ketika sebuah bajaj secara tidak terkendali melaju dengan kecepatan penuh menghantam sepeda, lalu berlanjut ke gerobak, dan akhirnya menyenggol kereta bayi. Satu orang Author yang tewas karena terlindas kereta bayi inipun (yaelah lemah amat sih), langsung digeret ke RSCM (Rumah Sakit Calon Mati) untuk diaborsi.
"Hh..," Sebastian cuma helain nafas aja pas baca berita. Dia udah cukup biasa sama yang aneh-aneh di Indonesia. Jadi kalo berita korannya aneh, ya gak heran. "Sebaiknya kasus apalagi yang harus kita selesaikan ya, Tuan Muda?" tanya Sebastian ke Ciel yang lagi guling-guling di rerumputan saking bosennya.
glundung glundung "Apa saja boleh," kata Ciel sambil tetep guling-guling. glundung glundung "Terserah kau saja." glundung glundung
"Indonesia itu cukup luas. Apa sebaiknya kita tidak bepusat di Jakarta saja dan pergi ke luar kota juga?"
"Benar juga.." glundung glundung "Itu bukan ide yang buruk." glundung glundung glundung gludung JDUUUGH! Aow. Ciel nabrak tembok pager Monas. Bego, sih. Lagian ngapain guling-guling coba?
"Aduuh.." Ciel cuma bisa ngusap-ngusap mukanya yang jadi rata gara-gara nyeplak sama tembok. Sebastian cuma cengengesan sambil mikir, "Tuan Muda saya lama-lama jadi aneh. Salah makan mungkin? Tapi saya rasa saya hanya memberinya makan semur jengkol dan pete rebus akhir-akhir ini. Apanya yang salah?"
Justru itu yang paling salah, Sebastian..
Sementara mereka berdua masih bingung mau ngurusin kasus apa, tiba-tiba ada bunyi dering HP a la Bang Roma : 'Begadang jangan begadang..~ JRENG! Kalau tiada artinya..~ JRENG! Begadang boleh sajaaa~ kalau ada perlunyaa..~ JREEEEENG!'
Ciel tadinya udah siap-siap mau joget dangdut. Bahkan jempol dia udah goyang-goyang sinyal siap berdendang. Tapi berhubung ini lagi di depan umum.. di depan Sebastian.. di depan pembaca.. malu, ah. Stop, Ciel. Stop!
"Suara apa itu, Sebastian?" tanya Ciel sok kul sambil nyari asal suara.
"Ah, ini bunyi ringtone HP yang tadi diberikan Pak SBY," Sebastian ngasih liat HP-nya. Ciel ngambil HP itu, dan dengan ragu-ragu diangkat sama dia, "..halo?"
"Heeei, Ciel! Bagaimana kabarmu?" terdengar suara bapak-bapak dari seberang sana.
"Pak SBY?"
"Hahhahaha kau tahu, rupanya? Ya ini aku! Aku ada sedikit urusan.."
"Apa itu?"
"Makanya ayo kita bicarakan di Istana Negara! Sambil makan siang.. aku sudah menyiapkan menu spesial kesukaanmu, loh! Semur jengkol dan pete rebus!"
PIP!
OMG. Bahkan sampai seorang SBY pun tau makanan kesukaan Ciel.
"Sebastian, ayo ke Istana Negara!"
"He?"
Dengan semangat '45, Ciel pun bergegas ke Istana Negara. Dari Monas ke Istana emang deket sih. Jalan kaki juga bisa. Ngesot juga boleh. Guling-guling apalagi. Yah pokoknya segala cara halal lah buat ke Istana Negara.
ooo
Dan mereka berdua pun (lagi-lagi) sampe di Istana Negara. SBY yang udah nungguin, langsung ngarahin mereka ke ruang makan. "Hahahahha ayo ayo.. kita makaaann!"
Di meja makan, udah tersaji banyak makanan dan minuman. Khas Indonesia semua! Nasi goreng, nasi uduk, bakso, ketoprak, gado-gado, pecel lele, sate, mie ayam, bajigur, tempe, bakwan, risol basah, dan gak ketinggalan—ehem—semur jengkol, pete rebus dan es teh manis dong. Ciel makan dengan lahap (yaah.. masih tetep jaim, sih. Dasar Ciel. Kenapa gak jujur aja sih bilang kalo lo doyan? Gak dosa, kok!). Sebastian berdiri kayak patung selamat datang *BUAGH!* dengan setia di samping Ciel.
"Loh? Kamu gak makan?" tanya SBY ke Sebastian.
"Tidak terima kasih, Pak. Kebetulan tadi saya sudah makan di sebuah Warung Tegal," jawab Sebastian sopan.
Haa? Warung Tegal? Warteg? Sebastian makan di Warteg? Gyahaha pengen liat! *dibom*
"Hoo begitu. Seharusnya kau makan bersama saja.. Bagaimana Ciel? Hidangannya enak tidak?" SBY beralih ke Ciel.
"Ya secara keseluruhan cukup lezat. Terima kasih."
"Baguslah makanannya cocok dengan seleramu. Aku sempat khawatir tadi. Makanan apa yang sebaiknya disajikan pada orang Inggris? Tapi karena aku ingin menunjukkan cita rasa khas Indonesia, jadi kuhidangkan apa adanya. Hahahaha!"
"Tidak apa-apa. Lalu.. masalah apa yang ingin ada bahas, Pak?" tanya Ciel tu de poin sambil menghirup teh after eat-nya. (halah. Saya gak tau istilahnya. Terserah deh)
"Ooh ya ya aku memang ingin minta tolong. Begini, loh.. belakangan ini sedang ada kasus korupsi di Direktorat Jenderal Pajak. Agak menggegerkan juga, sih. Menurut seorang mantan Kabareskrim Komjen Mono Duaji, pelaku korupsinya adalah pegawai pajak di sana, Jayus Tambunan."
"Ya.. lalu?"
"Meski Jayus Tambunan itu sudah dibidik 3 pasal mengenai korupsi, penggelapan, dan pencucian uang, tapi nyatanya di persidangan dia hanya dituntut pasal penggelapan, dan hanya dihukum 1 tahun percobaan."
"Kenapa bisa begitu?" Ciel menaruh cangkir teh-nya.
"Sepertinya sih.. beberapa jenderal di kepolisian turut terlibat dalam kasus ini. Makanya.."
"Penyalahgunaan kekuasaan, ya.." Ciel udah mulai bisa baca situasinya. "Lalu? Anda ingin saya mengungkap kasus itu?"
"Yaah daripada dibilang mengungkap sih, aku lebih ingin kau membuat Jayus Tambunan mengakui sendiri kesalahannya. Soalnya selama ini dia selalu berkelit." SBY nyender di kursi. Kenyang kenyaaang.
"Baiklah. Anda tahu tempat di mana Mono Duaji itu berada?" Ciel bangun dari kursi. Sebastian juga udah pasang posisi saya-siap-pergi.
"Ya, tahu. Kau mau ke sana?"
"Ya.. sekedar ingin menanyakan lebih lanjut kenapa dia bisa menuduh Jayus Tambunan itu. Di mana?"
"Di Jalan Kutilang No.12 RT 007 RW 01 Kecamatan Bojong Kenyot. Ngomong-ngomong, Victoria sering ke Bojong Kenyot, loh."
Ciel dropsweat. Mantan Kabareskrim tinggal di Bojong Kenyot aja udah aneh. Tapi fakta kalo Ratu suka ke Bojong Kenyot justru lebih aneh lagi. Bener-bener deh. Ini negara gak bisa lebih waras dikit lagi apa?
"Kalau begitu saya permisi dulu. Ayo, Sebastian."
ooo
Songket cerita, pokoknya terserah gimana caranya gak mau tau Ciel sama Sebastian sampe di Bojong Kenyot. Mereka dituntun alamat ke sebuah rumah sederhana ber-cat putih yang ada tulisan 'Awas istri galak' di pager rumahnya. Awalnya Ciel rada-rada ciut juga. Ah istrinya si Mono galak, nih. Tapi syukurlah pas mereka ngetok pintu dan dipersilakan masuk, ternyata istrinya lagi jalan-jalan ke segitiga bermuda. Diperkirakan masih lama baliknya.
Setelah nunggu agak lama di ruang tamu sambil ngemil kue nastar bekas lebaran taun lalu yang udah agak bulukan, Ciel sama Sebastian pun disamperin bapak-bapak setengah baya yang pake kaos kutang sama sarung motif kotak-kotak warna ungu merk Gajah Bengkak. Kayanya dia yang namanya Mono Duaji.
Mono : Wah wah ada apa ini? Ada perlu apa seorang anak kecil datang kemari? (duduk di ruang tamu)
Ciel : Anda Bapak Mono Duaji?
Mono : Iya. Saya sendiri. Ada apa?
Ciel : Saya Ciel Phantomhive. Saya sedang bertugas membantu Bapak SBY meyelesaikan masalah-masalah di Indonesia.
Mono : Hoo kamu yang namanya Sil Pentemhaip (aksen a la Indonesia. Tolong dimaklumi, ya)? Iya iya tadi SBY udah ngirim wol ke saya mengenai kedatangan kamu. Ada apa?
Ciel : Saya ingin menanyakan alasan mengapa anda menuduh Jayus Tambunan sebagai pelaku korupsi.
Mono : Hah! Soal itu, toh. Bukannya di media juga saya sudah gembar-gembor?
Ciel : Ya mungkin tapi saya rasa saya harus menanyakan langsung pada anda.
Mono : Hah.. jadi gini ya, Nak Sil. Saya itu tahu kalau Si Jayus itu punya tabungan 25 miliar. Dan saya juga tahu.. itu pasti dia dapet karena jadi makelar kasus.
Ciel : Kenapa anda begitu yakin?
Mono : Yah biar tinggal kaos kutang sama sarung begini juga, saya ini dulunya Kabareskrim. Jadi kalau cuma siapa-di mana-kenapa yang jadi markus mah.. ya saya tahu. Anda tahu tidak? Si Jayus itu gak lebih dari PNS golongan IIIA yang gajinya cuma 1.600.000 sampe 1.800.000-an per bulan. Lah bisa punya tabungan sampe puluhan miliaran gitu aneh, toh? Padahal sebelum jadi pegawai pajak dia tinggal di rumah bobrok. Tapi sekarang? Di kawasan elit.. mobilnya juga mewah dan lebih dari satu!
Ciel : Yah, memang aneh sih.
Mono : Ya kan? Mendingan situ langsung samperin aja si Jayus dan paksa dia ngaku. Itu juga kalau bisa..
Ciel : Kalau bisa? Tentu saja saya bisa. Kalau begitu di mana saya bisa menemui Jayus Tambunan itu?
Mono : Di rumahnya. Ini saya baik ngasih tahu. Jalan Kurang Asem No.2 RT 004 RW 06 Kecamatan Sialan.
Ciel : Loh? Bukannya dia sedang dipenjara 1 tahun percobaan?
Mono : Hah! Uang, Sil! Uang! Tentu saja dia gunakan uang sehingga bisa bebas.
Ciel : Oh.. baiklah saya permisi dulu. (Bangun) Tapi sebelum itu..
Mono : Apa?
Ciel : Saya heran dengan nama anda. Nama asli anda kan S*sno Duaji. Tapi kenapa dipleseti jadi Mono Duaji? S*sno dan Mono rasanya agak jauh..
Mono : Oh.. ya. Soalnya lafal S*usno Duaji mengingatkan dengan Monoshitsuji. Author sedang kesal setengah mati sama Monoshitsuji ini, makanya.. nama saya jadi Mono. (gak nyambung)
Ciel : ..oh? Terserah.
ooo
Dan Ciel plus Sebastian pun langsung ngacir ke rumah Jayus Tambunan (dipercakapan Ciel-Mono tadi Sebastian gak ikut ngomong ya? Maaf yaa.. abis kan Ciel majikan dia. Gak sopan, dong kalo butler ikut-ikutan ikut campur ngobrol). Dan lagi-lagi saya gak peduli mereka ke sana naik apa. Dan yaudah terserah. Dan okeh-okeh jangan bunuh saya. Lanjut!
Asumsikan Ciel sama Sebastian udah di dalem rumah Jayus. Mereka bertiga (sama Jayus tentunya) duduk-duduk di ruang tamu. Eh gak. Bertiga, ding. Kan Sebastian-nya berdiri.
Jayus : Ada perlu apa ya?
Ciel : Saya Ciel Phantomhive. Saya sedang membantu Pak SBY mengusut kasus-kasus di Indonesia.
Jayus : Haa? Apalagi ini?
Ciel : Sebenarnya saya malas berbasa-basi lagi. Makanya langsung saja. Apa anda benar-benar melakukan tindakan korupsi?
Jayus : Tidak. Kalian ini kok pada sok tau sih? Saya gak korupsi.
Ciel : Kalau begitu darimana uang 25 miliar di rekening anda itu? Saya dengar anda hanya PNS golongan IIIA yang gajinya tidak seberapa dibanding jumlah tabungan anda.
Jayus : Itu uang teman saya yang dititipkan direkening saya. Dia mau bangun ruko di Jakarta, tapi dia sendiri masih di Batam. Jadi ya.. dititip dulu di saya.
Ciel : Teman yang baik, ya? Menitip uang 25 miliar di rekening anda? (senyum tajem)
Jayus : ya terserah saya dong, Dek. Itu kan teman saya.
Ciel : Begitu? (ngelirik ke Sebastian) Ngomong-ngomong.. nama anda unik, ya. Jayus Tambunan. Jayus itu bukannya maksudnya lawakan yang tidak lucu (seperti lawakan Author)?
Jayus : Iyah memang. Dulu saya bercita-cita jadi pelawak.
Ciel : Lalu kenapa tidak jadi?
Jayus : Ya karena lawakan-lawakan saya katanya jayus. Saya gak berbakat.. (meratapi nasib)
Ciel : Memangnya sejayus apa lawakan anda?
Jayus : Hoo kamu tertarik, Dek? Baiklah saya kasih satu.. Apa merk kendaraan yang bikin ketawa?
Ciel : Ha? Tidak tahu. Memangnya apa?
Jayus : Yamahahahahaha.. Hahahahaha! (ketawa ngakak sendiri)
Ciel : … krik. krik. krik
Sebastian : … krik. krik. krik
Jayus : Uhuk! (Sadar lawakannya gak lucu) Huh baiklah baiklah saya tau itu gak lucu. Saya punya lagi.. Apa bedanya zebra sama helikopter?
Ciel : …tidak tahu.
Jayus : Dasar bodoh! Kalo zebra belang-belang. Kalo helikopter baling-baling! Wakakakakakak! (ngakak sendiri lagi)
Ciel & Sebastian : … krik. krik. krik
Ciel : Sekarang giliranku. Hewan apa yang kecil, bulat, dan hitam?
Jayus : Eh? Hmm.. apa ya? Nyamuk?
Ciel : Bukan.
Jayus : Apa dong?
Ciel : Semut item makan jengkol bulat-bulat.
Jayus : Pff.. Wakakakakakak! Wakakakak! Hebat! Boleh juga.. sekarang giliranku! (mulai keasyikan) Siapa nama nenek-nenek orang Jepang yang pernah manjat Monas?
Ciel : … {hmm.. nenek-nenek? Setahuku cuma si Bard yang manjat Monas. Ini nenek-nenek? Siapa, ya?} ng.. kurasa.. tak ada.
Jayus : Wah! Bener! Kurasa Takada! Kok tau, sih?
Ciel : Eh? Loh? Yah.. yah soalnya aku pandai.
Jayus : Sekarang aku lagi! (bener-bener udah keasyikan) siapa nama pegawai pajak yang jadi markus yang gak bisa ngelawak?
Ciel : Hah? Mana kutahu.
Jayus : Ya aku, Jayus Tambunan! Wakakakakakakak! Wakakakak!
Ciel : …hmm.. (senyum)
Jayus : Wakakakakakak! Wakakaakak! (masih asyik ketawa)
Ciel : Akhirnya anda mengakuinya, Pak Jayus.
Jayus : Wakakakakak! Wakakakakak! Haa? Apa? Wakakakak! Mengakui apa? Wakakakakakak! Apa yang kuaku.. i.. (sadar)
Ciel : Sebastian.
Sebastian : Ya.
Ciel : Kau adalah saksi mata atas pengakuan tadi. Sekarang bawa dia.
Sebastian : Yes, My Lord.
Jayus : WAAAAA! TIDAAAAAAKK! GYAAAAAA!
Akhirnya eh akhirnya. Gara-gara keasyikan ngelawak garing, gara-gara keceplosan bikin lawakan, Jayus Tambunan pun berhasil dibuat mengakui dirinya sendiri. Ternyata sampai akhir pun Jayus Tambunan memang tidak cocok jadi pelawak. Dia pun dihukum berat karena telah korupsi, menjadi markus, dan ngelawak jayus. Cukup sampai di sini dulu fic saya. Di sana gunung di sini gunung. Di tengah-tengahnya pulau Jawa. Pembacanya bingung lah Authornya lebih bingung. Yang penting bisa ketawa.
Okeh. Makasih makasih makasih banget banget banget banget udah baca, ya. Sekalian review, ya? Pliiis. Akhir-akhir ini saya lagi gampang down. Makanya fic-nya jayus. Review dukungan dari kalian sangat ngebantu banget buat bikin saya semangat lagi. Mau kasih kritik saran cacian makian yang membangun juga boleh. Yaaaaa? Makasih.
