Desclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Warning: OOC, ide mungkin pasaran, typo, AU.
It's difficult! © Kumi Usagi
Chap 4
7 tahun kemudian
.
.
.
Terlihat seorang gadis manis berusia 14 tahun dengan memakai celana berwarna cokelat dengan panjang ¾ dan blouse merah polos sedang menatap pantulan dirinya di depan cermin besar kamarnya. Dan kemudian sempat berfikir 'Heh, aku yang tomboy seperti ini, bisa apa?'
Sabaku Sakura. Gadis yang dulu sangat imut dan feminine sekarang berubah menjadi gadis tomboy yang terkadang suka marah-marah. Entah apa yang merubahnya hingga menjadi seperti itu, namun sekarang ia sedang bergulat dengan lemari pakaiannya. Sudah satu jam lamanya ia bingung harus memakai gaunyang mana. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk memanggil Shizune dan mulai mencari gaun yang pas untuk dirinya.
Mengapa Sakura repot-repot ingin memakai gaun? Karena di sekolahnya mengadakan Prom Night berhubung ia sudah kelas 3 Menengah Pertama.
"Nona, saya rasa gaun yang ini cocok." Ujar Shizune dengan mata berbinar.
Ia menyerahkan hanger-nya pada Sakura. Kemudian Sakura melihat gaun tersebut dengan detail. Sempat terbesit di pikirannya 'Sejak kapan aku punya gaun seperti ini?'
Gaun selutut berwarna merah tua atau maroon,bahan dari beludru, lengan ketat mencapai sikut, dan dengan kerah yang sedikit terbuka hingga memperlihatkan leher jenjangnya.
'Sempurna, how luxurious!' batinnya mantap.
Sakura pun tersenyum gembira. Tidak sia-sia ia memanggil Shizune ke sini. Kalau ia tidak memanggil si pelayan, mungkin Sakura akan membuang banyak waktu dan bisa saja ia tidak pergi sama sekali ke acara Prom Night di sekolahnya. Tapi Sakura harus berpikir dua kali. Ia rela ke acara Prom Night 'kan demi berdansa dengan Sasuke.
Sembari tersenyum simpul, si Pinkie langsung melesat ke kamar mandi.
Setelah hampir satu menit, Sakura keluar dari kamar mandi pribadinya. Shizune tercengang. Nona Muda-nya terlihat cantik sekali.
Dengan wajah merona, Sakura berjalan menuju meja riasnya. "Uhm, Shizune -san? Bisa bantu aku? Aku.., err—" perkataan Sakura dipotong oleh gumaman antusias dari sang pelayan.
"Tentu saja!" balas Shizune senang.
Setelah selesai merias wajah Sakura dengan makeup tipis, Shizune memakaikan sebuah gelang hitam polos tanpa motif di tangan kiri Sakura untuk menambah aksesori. Kemudian ia membuka lemari sepatu Sakura, dan manganjurkannya untuk memakai sepatu bot berhak tidak terlalu tinggi berwarna hitam yang tingginya hanya beberapa senti di atas mata kaki.
Tada~
Sakura sudah siap! Sekarang sudah pukul 19.50 sedangkan acara mulai pukul 20.00. Dengan gesit, Sakura mempersiapkan tas selempang kecil berwarna hitam dan memasukan barang miliknya dengan seperlunya seperti; dompet dan Handphone misalnya.
.
.
Krieeet. Blam.
.
.
"Sasori nii –chan,Gaara nii –chan, Sakura pergi dulu, ya." Ujarnya kalem ketika melihat kedua saudaranya sedang sibuk.
Sasori yang sedang berkutat dengan kulkas besar –mencari sesuatu-di dapur, dan Gaara yang sedang bermain Xbox pun tiba-tiba menoleh ke asal suara maskulin tersebut, dan sedikit terpana melihat pemandangan –adiknya- yang….., cantik sekali.
"Eh? Kenapa kalian bengong begitu? Apa Sakura terlihat….., jelek?" Tanya Sakura dengan pipi yang digembungkan serta rona merah tipis menjalari pipinya yang tembam. Malu.
"Ya. Jelek banget." Balas Gaara datar, walaupun ia hanya bercanda.
Sakura mendengus kesal melihat jawaban yang cukup menusuk dari kakaknya yang mirip binatang langka –Panda-. Namun ia dibuat terkejut ketika melihat kakaknya yang satu lagi –Sasori- sudah berada di sebelahnya dan kemudian mengelus pucuk kepalanya lembut.
Sakura, sih, berharap mendapat pujian.
"Ah~ Adikku yang cengeng ini manis sekali, sih. Kayak bidadari yang habis terjun payung dari Surga." Ujar Sasori sambil menyeringai.
Sakura pun merona. Kemudian langsung memukuli lengan kakaknya dengan kekuatan penuh. Tadinya ia ingin menjitak, tapi apa daya, tangannya saja tidak sampai untuk meraih si Kepala Cabai, padahal ia agak tinggian tuh karena menggunakan sepatu bot yang ada haknya.
"Jangan menggodaku nii –chan!" rengek Sakura sambil memanyunkan bibir mungilnya yang sudah diolesi lipgloss tipis.
Gaara pun menoleh kearah Sasori yang mengaduh kesakitan dan Sakura yang menggeram kesal.
"Hoi Sakura, sudah sana pergi jangan malah manyun begitu. Kau ini lamban sekali, seperti nenek-nenek aja."
Nah, berhubung Gaara sedang duduk, langsung habislah kepala si Panda Merah. Err, bukan berarti botak loh, ya. Maksudnya Sakura menjitak kepala kakaknya dengan telak.
Hah. Coba Gaara lagi berdiri, pasti Sakura juga tidak akan sampai menjitak kepalanya. Lagipula kasian Sakura, jika sudah berdiri di antara kakak-kakaknya ia seperti anak gajah di antara para jerapah. Kadang, Sakura dongkol melihat kakaknya yang memang tinggi-tinggi dan memiliki badan proporsional.
"Auw! Apa-apaan kau?" protes Gaara sambil mengelus rambut merahnya asal –agar berkurang sakitnya- dan mengerang kesakitan.
Sakura tersenyum menang. Habis, siapa suruh mengatainya lamban dan seperti nenek-nenek.
Sasori terkekeh geli. "Asal kau tahu saja, Gaara. Sakura gitu-gitu tenaganya melebihi manusia biasa. Apalagi kalo udah mukul, berasa diseruduk banteng—"
Sasori segera berlari menuju pintu depan, karena tau adiknya mengamuk akibat ucapannya barusan.
Terdengar suara ejekan dan gelak tawa Gaara yang menggelegar dari dalam, namun lebih menggelegar lagi teriakan Sakura yang meneriaki "ONII –CHAANNN! AWAS KAU."
.
.
Ketika sampai di pintu depan, rupanya mobil yang akan mengantar Sakura ke sekolah sudah disiapkan.
"Silahkan naik, Tuan Puteri." Goda Sasori sembari membukakan pintu mobil BMW ActiveHybrid 5warna hitam -salah satu mobil mewah dari mobil mewah lain milik keluarga Sabaku- dan berlagak menjadi pelayan, sepertinya.
Sakura masih kelelahan akibat berlari mengejar kakaknya, kemudian setelah agak tenang ia mendengus. Lagi. Tapi rona merah masih melekat di pipinya.
Siapa, sih, yang tidak malu jika diperlakukan seperti itu?
Kemudian saat Sakura ingin masuk kedalam mobil, Sasori menahan pergelangan tangannya hingga ia berbalik dan berhadapan dengan Sasori dengan jarak yang begitu dekat.
"Kau cantik, kok, Saku –chan. Mirip Okaa –san." Bisiknya tepat di telinga kiri Sakura.
Sakura hanya tersenyum simpul kemudian menunduk dalam.
Nyuuut.
Sakura merasakan pipinya yang tadinya panas karena malu kini berubah menjadi sakit bukan main. Ketika ia mendongak ternyata sudah ada Gaara yang berdiri di sebelah Sasori sambil mencubit kedua pipinya dengan sangat, sangat keras. Sepertinya Gaara bermaksud balas dendam.
"Gaara nii –chan!" teriaknya marah. Melengking sekali suaranya. Hingga Sasori harus menutup kedua telinganya.
Gaara pun yang tidak tahan akhirnya melepaskan cubitannya dan berlari menjauh sembari berteriak "Bye Banteng!"
Sasori yang mendengarnya pun langsung tertawa terbahak-bahak kemudian berlari menyusul Gaara masuk ke dalam. Yah, berjaga-jaga agar ia tidak kena tinju adiknya yang dahsyat.
"AWAS YA KALIAN BERDUA! AKAN KUHAJAR NANTI. SHANNAROOOO!" teriak Sakura lantang. Kemudian ia masuk kedalam mobil dan membanting pintu mobil setelahnya.
Ini menandakan bahwa Sakura-marah-besar.
Wah, dua orang berambut merah yang kini sudah di dalam rumah tiba-tiba merinding disko. Mereka masih bisa mendengar teriakan adiknya yang mengerikan. Entah bagaimana nasib mereka ketika Sakura pulang nanti.
.
.
.
.
Beberapa jam telah terlewati. Jam besar yang berada di ruang tamu sudah berdentang sebanyak sepuluh kali. Yang menandakan sekarang sudah pukul sepuluh malam.
Tiba-tiba suara telefon rumah keluarga Sabaku berbunyi. Kala itu kebetulan Sasori sedang berada di ruang keluarga, dimana benda tersebut letaknya tidak jauh dari Sasori. Kemudian ia mengangkat telefon dan berkata "Moshi – moshi?"
Beberapa detik kemudian Sasori langsung menggedor-gedor pintu kamar adiknya.
"Oi Gaara. Ada telefon tuh dari pacarmu!" setelah berbicara begitu, Gaara membuka pintu dengan tampang kusut. "Apa sih? Kayak kemalingan aja." Gerutu Gaara.
Kemudian Sasori menyeringai usil. "Itu, ada cewek namanya Uchiha Hinat—"
Gaara langsung lari menuju ruang keluarga. Di mana masih tergeletak gagang telefon dalam keadaan telentang, yang menandakan masih tersambung dengan penghuni di seberang sana.
"Hm? Ada apa, Hinata?"
"G–gomen ne Gaara –kun, a-aku menelfon jam s-segini. "
"Nggak masalah. Jadi, ada apa?"
"B-begini, bisakah besok kau kerumahku untuk m-mengerjakan presentasi biologi k-kita?"
"Besok? Hn, aku ke rumahmu."
"Um. J-jangan lupa bawa materi yang s-sudah kau ringkas waktu i-itu."
"Iya, tahu."
"Ah, b-baiklah kalau begitu."
"Hn. Kenapa belum tidur?"
"E-eh? A-aku…, umm t-tidak bisa t-tidur…, dan m-malah teringat t-tugas biologi k-kita, jadi a-aku menelfon mu."
"Haha, kau ini lucu sekali. Bayangin aja wajahku kalo nggak bisa tidur."
"J-jangan menggodaku, Gaara –kun!"
"Ya sudah, sampai jumpa besok, Hinata. Err- mimpi indah."
Tut.
Remaja berusia 16 tahun ini langsung merona begitu memutuskan sambungan telefonnya bersama si gadis Uchiha.
Sasori tertawa membahana dan langsung dihadiahi deathglare terbaik dari Gaara.
"Kenapa belum tidur~? Kau ini lucu sekali~ Sampai jumpa besok, Hinata~ Mimpi indah~" Sasori tergelak.
Hooo. Rupanya ia meniru gaya bahasa Gaara yang tadi. Dan bermaksud menggodanya tentu saja.
Ia sempat berfikir 'setan apa yang merasuki adiknya yang notabenenya dingin dan irit bicara, tiba-tiba bisa mengatakan hal manis atau tergolong ajaib seperti tadi.
Gaara menatap horror Sasori. "Jangan menggodaku, Kepala Cabai!"
Tawa Sasori musnah sudah, jika dikatai Kepala Cabai.
"Jangan menghinaku, Panda Merah!" balas Sasori
Cetar!
Hal ini terjadi. Lagi.
Mata melotot. Petir menggelegar antar mata. Yah kalian pasti tahu apa maksudnya.
.
.
Blam!
.
.
Dan berakhir dengan bantingan pintu yang berasal dari Gaara.
Sasori hanya menggelengkan kepalanya sembari terkekeh geli.
Waktu berjalan begitu cepat. Tidak menyangka adik-adiknya sudah tumbuh menjadi lebih dewasa.
Karena terlalu fokus pada kuliahnya yang juga disertai dengan tugas-tugas segunung, ia jadi jarang berinteraksi dengan si Pinkie yang pemarah dan si Panda Merah yang usil.
Setelah bernostalgia, dan kelamaan melamun, akhirnya terdengar deru mesin mobil dari pintu depan.
Sasori langsung melotot. Di dalam pikirannya hanya 'Itu-pasti-Sakura.'
Dengan secepat kilat ia berlari kearah kamarnya dan menutupnya pelan kemudian menguncinya.
Sedangkan Sakura langsung membanting pintu depan dengan begitu kencang. Sengaja. Agar para rambut merah itu terlonjak kaget dan mati ketakutan.
Sakura menghentak-hentakkan kakinya kearah kamarnya kesal.
Walaupun sebenarnya ia sedang senang bukan main. Tadi saat Prom Night banyak yang memujinya cantik dan Sasuke salah satunya.
.
.
Beberapa jam yang lalu.
.
.
"Forehead!" teriak gadis manis bernama Namikaze Ino sambil melambai-lambai. Rambut pirang panjangnya yang biasanya dikuncir kuda tinggi dibiarkan tergerai, membuat kesan 'cantik' melekat pada Ino.
Sakura pun dengan –berusaha- anggun menuju kearah sahabatnya.
"Hai. Ino –pig." balasnya santai.
"Kau cantik sekali dengan gaun maroon-mu itu." Ujarnya senang.
Sakura tersenyum. "Kau juga cantik dengan gaunmu. Kenapa memilih warna yang sama dengan matamu?"
"Biar matching aja, Forehead."
Mereka pun berbincang-bincang seru. Entah topik apa saja yang Ino angkat, sampai mereka berdua tidak menyadari ada empat pasang mata -berwarna hitam kelam yang sangat menghanyutkan- yang sedari tadi memperhatikan mereka dengan tatapan terpesona. Karena sudah tidak tahan karena hanya menatap, akhirnya mereka menghampiri dua gadis cantik tersebut.
"Hei." Sapa Sasuke.
Kemudian pemuda satu lagi –yang berada di sebelah Sasuke- adalah Sai. Uchiha Sai. Sepupu Sasuke. Yang naksir berat sama Ino.
Ketika melihat Ino dan Sai yang sudah sibuk sendiri dan meninggalkan mereka berdua –Sakura dan Sasuke-,
Sasuke pun menarik pergelangan tangan Sakura perlahan untuk mempersempit jarak di antara mereka.
"Kau…, cantik." bisiknya dengan suara rendah. Yang tentunya para gadis atau fansnya sudah meleleh bahkan nosebleed saking malu-nya.
Hembusan nafas Sasuke yang hangat menggelitik leher jenjangnya yang putih mulus. Rasanya lelaki manapun akan tergiur untuk memberi Kissmark pada leher Sakura. Berlaku untuk kedua kakaknya juga, mungkin? Mereka kan juga memiliki hormon yang normal.
Sakura tersenyum simpul kemudian meletakkan kedua tangannya pada dada –yang lumayan- bidang milik Sasuke dan balas berbisik "Thank's, kau juga tampan."
Sasuke pun memberi jarak antara mereka berdua, kemudian tersenyum.
"Mau berdansa?" ajaknya sembari menyodorkan tangan.
Sakura mengangguk dan meletakkan tangannya di atas tangan Sasuke.
.
.
.
"KYAAAAAA!" jerit Sakura histeris seperti orang yang habis diapa-apain.
Sakura telah kembali ke alam bawah sadarnya. Sejak ia memasuki kamar dan duduk di tempat tidurnya, ia mulai melamunkan kejadian yang baru saja ia lewati.
Jantung berdegup kencang dua kali lipat ketika melihat senyumnya –Sasuke-, pipi merona karena mengingat hal-hal yang menyenangkan bersamanya. Hm, apa itu termasuk ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta?
Sakura segera membersihkan diri dengan mandi air hangat ditengah malam, kemudian berbaring di tempat tidur King Size-nya sambil memeluk boneka usamiminya.
Selama setengah jam, Sakura hanya membolak-balikan tubuhnya. Ia-tidak-bisa-tidur. Dan ia segera berdiri dari tempat tidurnya dan keluar kamar untuk mengambil segelas air putih dingin. Yah, mungkin bisa untuk menyegarkan pikirannya yang tengah campur-aduk.
Namun, langkah Sakura tiba-tiba terhenti. Padahal baru berjalan beberapa langkah. Tapi ia mendengar sayup-sayup suara Tv yang menyala dan dengan gesit ia memeriksa ruang keluarga, dan benar saja, ada yang lagi nonton.
"Gaara nii –chan?" tanya Sakura
Tv yang masih menyala tiba-tiba langsung diganti channelnya oleh si Panda Merah menjadi siaran berita.
Heh. Sepertinya ada yang ketahuan menonton film –piiip-, ya?
Sakura menyeringai usil. "Rupanya Gaara nii –chan suka menonton begituan, ya, jam segini. Sakura baru tahu, nih."
Gaara tidak menggubris. Ia sedang berperang dengan pikirannya sendiri.
Karena dicuekkin, Sakura mengedikkan bahu dan berjalan santai menuju dapur untuk mengambil segelas air dingin.
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
.
A/N:
GYAHAHAHA. /ketawa setan.
Konbanwa Minna –chan! :D mereka baru beranjak remaja nih, hehe. Dewasanya nanti, ya(?). Kan segala sesuatunya butuh proses. /plak.
Kumi takut kalo alurnya yang emang dari awal udah kecepetan malah tambah kecepetan =_= /gigitjari.
HEHEHE. Mumpung kumi lagi liburan, kumi jadi punya banyak waktu buat ngetik ff ini! Hohoho. Nah, sepertinya It's difficult bakal tamat di chapter 6. Tapi itu baru dugaan kumi doang :3
~Selamat Membaca~
Kumi Usagi ~(^.^)~
~09-06-13~
