A/n maaf yaaaaa saya lama meng-update!. Flash Disk yang biasa saya pakai untuk membuat fict hilang untuk sesaat. Jadi tak bisa buat lanjutanya deh. Oh ya yang aku buat menjadi dua bagian adalah cerita kali ini. Jadi ada keslahan pada fanfict sebelumnya. Maaf ya~
Disclaimer : Saya tidak punya digimon , tapi ingin punya.
20-06-08.
Tempat: atap sekolah
Cuaca: Berawan Hitam.
"Haaah pertandingan itu makin dekat , bagaimana ini? anggota kita untuk bermain saja belum lengkap. Apa yang harus kita lakukan?" kataku sambil menggaruk-garuk rambutku dengan kedua tanganku.
"Memangnya ada yang berminat selain kau dan aku?" tanya Takeru padaku.
"Entahlah , aku juga tak tahu." setelah mengatakan itu pintu atap pun dibuka dan masuklah Ken dan Daisuke.
"Kami bisa membantu kalian. Hari pertama hanya basket saja kan? Sebagai gantinya Takeru harus membantu kami harus membantu kami dalam sepak bola." kata Ken sambil membawa bekalnya. Tapi yang kulihat Takeru terlihta ragu mengenai Daisuke. Ia pun menatap Daisuke dengan pandangan ragu.
"Ja...jangan ragukan kemampuanku lo." katanya.
"Lalu yang terakhir siapa?"tanya Takeru pada Daisuke.
"Aku bersedia."suara itu benar-benar datang tiba-tiba besamaan dengan datanya petir. Suara itu membuat kami semua berteriak. Daisuke pingsan dengan mulut yang berbusa dan Takeru bersembunyi di belakangku. Sedangkan Ken tidak kenapa-kenapa.
"Hasagusa-san bisa tidak kau tak menakut-nakuti kami seperti itu?" ucapku.
"Maaf aku tak bermaksud menakut-nakuti." kata Hasagusa-san meminta maaf. Aku tak melihatnya dari kemarin karena ia tidak masuk sekolah. Mungkin ia tidak masuk karena harus mengobati luka-lukanya.
"Hasagusa-san apa dahimu sudah sembuh?" tanyaku.
"Berkat doa anda Hikari-sama." jawabnya sambil memegang tangan kananku dengan kedua tangannya.
"Ahahaha" Tawaku.
"Hee tapi apa kau bisa bermain basket?" tanya Takeru pada Hasagusa-san.
"..." ia terdiam. "Ah benar juga kita harus bisa bermain basket ya?" tanyanya balik.
"Sudah kuduga. Baiklah aku akan melatih Hasagusa-san sekarang juga." katanya sambil berdiri dan menarik Hasagusa-san turun kebawah.
"Aku ikut!" teriakku. Akhirnya kami semua kecuali Ken dan Daisuke yang masih pingsan turun kebawah untuk melatih Hasagusa-san. Sesampainya di lapangan basket , ruangan itu dipenuhi oleh orang-orang yang sedang latihan menjelang festival olahraga. Lalu aku melihat ada anak yang terus memperhatikan kami. Lalu anak itu mendekat dan berdiri di depan Takeru.
"Ternyata kaki mu itu belum cukup untuk membuatmu kapok ya." katanya dengan senyum yang picik.
"Kau! apa kau belum puas menyakiti orang?" kataku sambil mendekat ke arahnya. Tapi tangan Takeru menghentikanku untuk maju lebih darinya.
"Maaf ya kalau hanya ini aku masih bisa main dengan baik. Bahkan dengan tangan kiri yang patah pun aku masih bisa mengalahkan mu." kata Takeru dengan senyum piciknya.
"Heh banyak omong juga kau!"
"Heee aku bukannya banyak omong. Bukankah itu kenyataan? Jika aku menjadi kau , aku akan langsung harakiri dikalahkan oleh anak kelas 1 yang jauh lebih pendek dariku." balasnya. Setelah Takeru mengatakan itu ,sebenarnya aku ingin sekali berteriak Rasakan itu! dan tertawa sepuas-puasnya.
"Kauuu.." katanya yang setelah itu ingin memukul Takeru. Tapi tak melihat gerakan apapun dari Takeru. Apa ia bermaksud menerima pukulan itu? Lalu gerakannya terhenti karena ada Hasagusa-san berdiri di depan Takeru.
"Ke...kenapa kau ada di sekolah ini?" tanya orang itu kaget.
"Itu bukan urusanmu." balas Hasagusa-san.
"Cih!"katanya sambil menurunkan tangannya yang mau memukul Takeru. "Hey! Tadi kau bilang kau bisa melawanku dengan tangan yang patah kan? Kalau begitu akan kubuat kenyataannya pada pertandingan nanti." ancamnya.
"Coba saja" kata Takeru dengan wajah yang serius. Akhirnya kami tak jadi latihan basket dan kembali ke atap.
"Hey kalian sudah selesai latihan? Cepat sekali." kata Ken sambil memakan bekalnya.
"Ah kami tidak jadi latihan karena lapangannya penuh di pakai oleh anak kelas 2 dan 3." jawab Takeru.
"Mana Daisuke?" tanyaku.
"Dia pergi ke ruang uks untuk tidur."jawab Ken. Lalu aku melihat Hasagusa-san mau turun ke bawah.
"Hasagusa-san kau mau kemana?" tanyaku.
"Maafkan aku Hikari-sama tapi ada urusan yang harus kuselesaikan." katanya sambil membungkuk. Lalu ia pun pergi turun ke bawah. Aku sungguh penasaran denganya makanya aku pun membuntutinya sampai kebawah. Saat di bawah aku kaget karena ia bertemu dengan Hazakami. Aku bersembunyi dan menguping apa yang mereka bicarakan.
"Emm aku tak tahu kau masuk sekolah ini." kata Hazakami itu.
"Ya , aku juga kaget bahwa kau ada di sekolah ini." balas Hasagusa-san. Lalu aku melihat Hazakami merogoh-rogoh kantung celananya dan memberikan Hasagusa-san sebagian uang.
"Aku mau kau hancurkan Takaishu itu atau pun siapalah namanya sama seperti kau hancurkan lawan-lawanku seperti saat kita smp."
"...Baiklah." katanya mengambil uang itu dari tangan Hazakami. Aku benar-benar kaget kalau mereka mengenal satu sama lain dari smp. Yang aku lebih kaget ternyata sifat asli dari Hasagusa-san. Apa semua perbuatan yang ia lakukan padaku hanya kebohongan belaka. Aku pun pergi meninggalkan mereka berdua secara diam-diam dan pergi ke atap. Sesampainya di atap aku tak melihat siapapun di sana. Aku berpikir mungkin mereka berada di ruang kesehatan bersama Daisuke. Lalu akupun pergi ke ruang kesehatan dan aku melihat sangat banyak orang yang ada disana sedang minum teh bersama Konpaka-sensei. Ada kakakku , kak Sora , kak Jou , kak Koushiro , Daisuke , Ken , Takeru , Miyako dan satu anak perempuan yang terlihat sangat enerjik dan bermabut pink dengan hiasan bintang.
"Waah sepertinya penuh sekali di dalam." kataku.
"Hey Taichi apakah ini adikmu yang kau bicarakan?" tanya anak perempuan itu pada kakakku.
"Iya ini adikku namanya Hikari." jawab kakakku.
"Hee namaku Tachikawa Mimi salam kenal ya Hikari" katanya dengan senyum dan mata yang terpejam.
"Ah iya namaku Hikari Yagami salam kenal." kataku dengan sedikit kaget dan membungkuk.
"Nyaa~ dia benar-benar berbeda denganmu ya Taichi." katanya.
"Oh ya Takeru ikut aku!" kataku sambil menarik Takeru Keluar. Aku pun menarik Takeru dan membawanya pergi ke atap. Sesampai di atap aku melihat Hasagusa-san sedang menangis sambil melihat ke langit.
"Hasagusa-san kau kenapa?" tanya Takeru.
"Tidak...aku tidak apa-apa." katanya yang lalu pergi meninggalkan kami berdua.
"Takeru aku ingin kau tahu sesuatu." kataku dengan muka yang serius. Aku pun memberitahu apa yang barusan aku dengar pada Takeru. Setelah kuberitahu ia tetap terlihat tenang.
"Jadi bagaimana? Apa kau akan tetap membiarkannya masuk dalam tim." tanyaku.
"Iya." jawabnya tenang.
"Apa kau tak dengar apa yang barusan aku katakan? Dia akan mencelakaimu lo!."
"Apakah itu benar? Kalau ia dikeluarkan , siapa penggantinya? Apa di kelas akan ada yang mau selain dia? Jadi bagaimana? Di keluarkan apa tidak? Tentu saja tidak. Kita tak bisa mencari penggantinya. Lagi pula aku percaya padanya. Dia bukan orang yang seperti itu. Aku yakin kau salah dengar. Dan juga yang kita harus lakukan kan mempercayai teman satu tim." jawabnya.
"Tapi..."
"Cobalah percaya padaku , aku tidak akan kenapa-kenapa .Ya?" katanya. Aku hanya terdiam dan menganguk. Ia pun akhirnya mengajakku kembali ke ruang kesehatan untuk sedikit tenang. Aku mencoba untuk mempercayainya , tapi entah kenapa...perasaan takut dan ketegangan seperti menghantuiku.
24-06-08.
Tempat: Lapangan Basket Indoor.
Cuaca: cerah
Tak terasa 4 haripun berlalu. Hari ini adalah hari pertandingan basket. Jadi dari pagi hingga siang hanya ada pertandingan basket campuran. Tim kami memakai baju putih dan Jersey berwarna kuning.(Jersey di luar dan kaus di dalam).Aku melihat Daisuke sedang mengobrol dengan Ken , Takeru yang sibuk membaca komik dan Hasagusa-san yang terus melamun melihat capung terbang di depannya. Kenapa tim ini benar-benar percaya diri?. Lalu aku melihat Hazakami mendekat ke arah Takeru.
"Hey apa kau sudah menyiapkan paramedis untuk tanganmu yang akan patah nanti?" ejeknya. Setelah ia mengatakan itu teman-temanya yang lain pun tertawa.
"Hmmm." katanya yang masih sibuk membaca komiknya.
"Hey!" katanya sambil memukul komik itu hingga jatuh. "Aku bicara padamu." ucapnya dengan nada yang kesal. Takeru mengambil buku itu dan melihat ke arah Hazakami.
"Heh jadi kau sudah siap ya? Yah nikmati saja pertandingannya nanti , hahaha!" katanya yang lalu pergi berbalik arah dari arah kami. Setelah itu ada pidato dari kepala sekolah.
"Eehm! Jadi untuk...apa ya?" katanya yang lalu mengambil sebuah kertas dari kantungnya. "Jadi untuk membuat festival olahraga ini makin sportif , menyenangkan dan menegangkan...akan dilanjutkan oleh wakil kepala sekolah!" katanya dipercepat. Wakil kepala sekolah terlihat kaget akan perkataan kepala sekolah. Sepertinya ia tidak tahu bahwa akan terjadi seperti ini. Dan aku tak tahu wakil kepala sekolah benar-benar seperti ibu-ibu yang biasa jualan di kantin.
"Ehmm jadi...kita buka saja festivalnya." jawabnya yang setelah itu berjalan cepat turun ke bawah panggung.
Takeru POV.
Masih terpikir oleh perkataan Hikari 4 hari yang lalu bahwa Hasagusa-san berniat menghancurkanku. Aku hanya berpura-pura tenang mendengar perkatannya. Sebenarnya di dalam hatiku aku cemas akan diriku sendiri. Aku melihat ke arahnya dan ia melihatku dengan tatapan datarnya. Tapi bagiku ia seperti mengeluarkan aura hitam yang pekat. Aku tak tahu kenapa. Sekarang badanku pun merinding. Begitu sampai di lapangan , sama seperti waktu dulu perasaanku jauh lebih tenang dari sebelumnya.
"Take-chan!" kata seseorang sambil menepuk punggungku. Aku menoleh kebelakang dan ternyata itu adalah Momoka-sensei.
"Sensei , bisakah kau menyebutku tidak menggunakan -chan di akhirnya?" tanyaku
"Aku sudah memanggil kalian berlima dengan sebutan -chan kok." jawabnya.
"Berlima?"
"Iya , kau , Hikari , Daisuke , Ken , dan Hasagusa kan? Bukankah kalian teman?" tanyanya balik. Aku terdiam dan berpikir dalam hati.
"Teman...sebenarnya apa arti dari teman itu?" pikirku. Setelah itu ada bel panjang menunjukkan pertandingan akan segera di mulai.
"Ayo Takeru pertandingan akan di mulai!" kata Hikari sambil menarik tanganku. Aku terus berpikir apa artinya teman. Mencari satu jawaban dari satu pertanyaan yang sangat sepele. Aku terus mencari kepolosk-plosok otakku untuk mencari jawabannya. Karena sibuk mencarinya , aku tidak sadar bahwa wasit telah melakukan Tip-Off.
Normal POV.
Wasit melempar bola ke atas. Daisuke dan Hazakami melompat merebut bola yang di lempar oleh wasit. Hazakami lebnih dulu memukul bola itu dan mengarahkannya ke pada temannya A ( Namakan sendiri ya!). A pun mendrible bola hingga di luar garis three point. Ia mau melakukan shoot. Tapi Ken merebut bola itu sebelum ia melakukannya. Lalu ia membawanya dengan cepat menuju ke arah ring lawan. Ia pun dihadang oleh B. Ia terhenti sementara memikirkan bagaimana caranya lolos.. lalu ia mendengar suara seseorang meminta bola. Ternyata itu Daisuke. Ken langsung mengoper bola kepada Daisuke yang sudah ada di depan. Setelah mengoper bola , yang menjaga Ken mundur untuk menjaga Daisuke. Ken pun bergegas maju ke depan ring. Kemudian Daisuke kembali mengoper Ken yang lolos dari penjagaan. Ken menangkap bola itu dan melakukan lay-up. Skor pun menjadi 2-0.
"Nice pass!" kata Ken sambil menepuk tangan Daisuke di udara.
"Kalian berdua hebat , teruskan seperti tadi." kata Takeru pada mereka berdua.
"FAST BREAK!*" teriak Hazakami dengan keras. Setelah mengatakan itu pemain-pemain Hazakami pun berlari menuju ring lawan.
"Box Out!**" teriak Takeru. Lalu Takeru dan timnya pun keluar dari Half Court zone untuk mmbuat para pemain Hazakami terhenti sebelum masuk ke daerah Half court. Setelah itu Hazakami melempar bola itu dengan sangat tinggi. Daisuke pun terpaku karena melihat lemparan tingginya. Penjagaanya pun menjadi tidak ketat dan akhirnya pemain Hazakami pun lolos dari penjagaan. Ia pun melompat an mengambil operan itu dan melakukan dunk. Skor pun menjadi 2-2.
"Jadi Fast Breakmu seperti itu ya." kata Takeru bicara sendiri. Permainan pun berlanjut kembali dari serangan Takeru. Takeru mendrible santai di ringnya. Saat driblenya sudah sampai pantulan ke 3 , ia langsung berlari dengan cepat. Semua pemain yang menjaga di lewati dengan mudahnya. Ia tidak melakukan apapun , ia hanya berlari menerjang.
"Cih! Dari awal sudah serius ya. Tapi aku takkan membiarkanmu lewat!" teriak Hazakami. Takeru pun hampir sampai di depan Hazakami. Ia tak mengurangi kecepatannya sedikitpun. Lalu di depannya pun ia melakukan spin ke arah kanan dengan cepat. Ia pun melompat dan melakukan dunk yang keras. Seisi ruangan pun terdiam dan kaget melihat aksi yang di lakukan oleh Takeru.
"Kyaaaa! Take-chan keren!" teriak Momoka-sensei. Setelah itu seluruh penonton pun berteriak wuoooo dengan suara yang keras.
"Hebat! Kau memang sang Prodigy." puji Hikari pada Takeru
"Prodigy?" tanyanya
"Ya Prodigy adalah sebutan orang yang melebihi tingkatan jenius." jawabnya.
"Heeee , oh ya Sejak kapan kau di panggil Take-chan oleh Momoka-sensei?" tanya Ken.
"Barusan.." jawab Takeru
"Aku juga minta dipanggil Ken-chan ah , sepertinya seru." jawabnya sambil berajalan lebih dulu dari Takeru.
"Aku tak mengerti apa yang kau pikirkan." katanya heran. Lalu Hazakami pun memulai serangan. Sebelum menyerang ia berteriak Fast Break lagi. Para pemain Hazakami pun kembali berlari menuju ring Takeru.
"Takeru apa kita tak memakai Box Out?" tanya Hikari.
"Tidak biarkan mereka menggunakan Fast Break sesuka mereka." katanya dengan senyum.
"Aku tahu kau punya rencana." lalu senyumnya pun bertambah lebar dari yang tadi. Itu menandakan ia benar-benar mempunyai rencana. Mereka menyerang dengan cepat. Hazakami membawa bolanya dari ringnya menuju ring Takeru dengan berlari. Sesampainya ia di luar Half court zone ia melompat dan melakukan shoot. Setelah ia melemparnya bolanya melayang dan mengenai ujung ring basket. Dan A pun melompat dan melakukan dunk. Skor pun menjadi 4-4. akhirnya mereka pun terus berbalik menyerang dan mendapat angka. Hazakami dan temannya terus melancarkan Fast Break sedangkan Takeru dan teman-temanya terus bermain dengan santai sampai pada waktunya istirahat.
Waktu untuk istirahat pun tiba. Hikari melihat Takeru duduk sendirian. Ia masih penasaaran dengan rencananya , maka Hikari berjalan ke arahnya dan duduk di sebelahnya
"Takeru kau bilang kau punya rencana , tapi sebenarnya apa kau tidak memberitahu apa rencanamu." tanyanyapada Takeru.
"Nanti juga kau tahu" katanya sambil mengambil sebuah botol minum dari tasnya. Lalu Hikari pun melihat Hasagusa-san pergi pergi keluar hall basket.
"Hey...aku punya firasat buruk." katanya pada Takeru.
"Tentang apa?" katanya sambil meminum air dari botol minumnya.
"Sudah pasti tentangmu kan? Aku khawatir." jawab Hikari.
"Kenapa kau mengkhawatirkanku?" tanya Takeru
"Hah? Sudah pasti karena kau temanku kan?." jawabnya sedikit heran
"Te...teman?" tanyanya balik.
"Iya teman."jawab Hikari lagi. Lalu Hikari melihat Takeru terdiam sebentar sambil menundukkan kepalanya. Lalu ia mengangkat kepalanya dan menoleh ke arahnya
"Hikari...sebenarnya apa arti dari teman itu?"
"Eh! Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanyanya kaget. Hikari tak tahu kalau Takeru punya pikiran seperti itu.
"Tidak aku hanya penasaraan , yah jika kau tak tahu jawabnya tidak apa-apa lupakan saja pertanyaanku barusan." jawabnya sambil tersenyum. Melihat senyumnya badan Hikari pun merinding.
"Ada yang salah pada Takeru hari ini" pikirnya. Lalu Takeru beranjak dari duduknya untuk kembali ke lapangan. Tanpa sadar Hikari menggenggam tangan Takeru dan mengatakan "Jangan pergi". Lalu Takeru pun melihat Hikari dengan pandangan yang kaget.
"Hi..Hikari kau kenapa? Tanganmu gemetaran. Apa kau baik-baik saja?" tanya Takeru cemas.
"Ja...jangan per..gi" katanya meneteskan air mata.
Takeru terdiam sesaat melihat Hikari. Tak berapa lama ia pun tersenyum. "Aku takkan pergi kemanapun , aku akan selalu di sisimu Hikari." katanya sambil mengusap-usap kepala Hikari. Perlahan Hikari melepaskan genggaman tanganya yang bergemetar. Lalu Takeru pun pergi menuju lapangan untuk latihan menembak.
Rapat Strategi Hazakami.
"Cih! bocah berkacamata goggle dan si itu membuatku kesal." kata A.
"Aku lebih kesal bocah yang berambut pirang itu. Entah mengapa aku ingin sekali membuatnya celaka sekarang." ucap B.
"Tidak! Akulah yang akan membuatnya celaka. Aku sudah kesal setengah mati karena ia sudah banyak mencuri perhatian di banding aku. Di babak ini aku yang menjaganya , PAHAM!" kata Hazakami marah.
"Hey Hazakami katanya kau mau membuat tangannya patah. Tapi kenapa kau belum lakukan?" tanya C (Oh ya aku lupa bilang , disini ada A ,B ,C, dan D. Dengan Hazakami mereka pas berlima.).
"Tenang saja , aku akan membuat tangannya hancur. Ah tidak bahkan kalau perlu , aku akan membuat impiannya hancur." setelah itu mereka tertawa dengan keras. Hikari pun merasa bulu kuduknya berdiri. Ia hanya tahu bahwa hal buruk akan benar-benar datang.
A/n gyaaa selesai! Bagaimana bagus tidak? Kalau bagus aku senang. Tapi kalau tidak bagus ya tidak apa-apa aku akan terus semangat mengerjakannya!. Baiklah terima kasih ya!.
