Disclaimer : Hunter X Hunter © Togashi Yoshihiro
Author : Senshei, I Love You! © Hayato Ryuuga
Warning : ooc, AU, mengandung unsur lemon! Yang merasa belum cukup umur, harap gak baca…
Yo! Kita ketemu lagi, maaf yang sebesar-besarnya atas keterlambatan update saya. Ini semua karena komputerku rusak, dan sampai sekarang belum diperbaiki. Tapi syukur lah, sekarang aku sudah beli laptop, jadi bisa update lagi!
.
.
~Senshei, I Love You!~
.
"Baiklah, pelajaran kita sampai di sini…" ujar Kuroro saraya merapikan buku-bukunya, serta biolanya. Para murid pun memberi hormat padanya.
"Oh ya Kurapika," panggilan Kuroro barusan sukses menghentikan teman-teman Kurapika yang hendak keluar kelas.
"I—iya sensei?" jawab Kurapika gugup.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Saya sudah baikan sensei…"
"Bagus, nanti kau ke ruanganku untuk ulangan susulan, karena dua hari yang lalu kau tidak ikut ulangan!"
"Hai, sensei!"
Seluruh manusia dalam ruangan itu pun meninggalkan kelas, tak terkecuali Kurapika dan Kuroro.
.
Kuroro duduk di ruangannya, sambil memainkan grand piano hitam yang ada di ruangan itu dengan tenang. Jari-jarinya yang besar dengan indahnya menari di atas tust-tust piano itu, menekan beberapa tust secara bergantian hingga menghasilkan suatu nada yang indah. Aktivitasnya terhenti ketika mendengar seseorang mengetuk pintu ruangan itu.
"Masuk," sahut Kuroro seraya menghentikan aktivitasnya.
Matanya agak membulat ketika mendapati Kurapika masuk ke ruangannya, dan menutup pintu ruangan itu. Kuroro menyeringai. Dia pun berjalan mendekati Kurapika.
"Saya siap untuk ujian sus—umm!" perkataan Kurapika terpotong ketika Kuroro langsung mengecup lembut bibirnya. Kurapika tersentak kaget dengan perlakuan Kuroro yang terkesan tiba-tiba itu.
Kurapika mendorong pelan tubuh Kuroro, hingga ciuman mereka harus terhenti. Wajah Kurapika pun saat ini sudah sangat memerah. "S—sensei…"
Cklikkk…
Mata Kurapika membulat ketika melihat Kuroro mengunci pintunya, dan langsung mendorong tubuh Kurapika hingga ia tersandar di pintu itu. Kuroro mencium bibir Kurapika dengan liar, dan memegang bahu gadis itu kuat-kuat, menahannya agar tidak bisa lolos.
"Sens—umppphh!" Kuroro tak memberi Kurapika kesempatan untuk bicara. Dia terus melumat bibir ranum gadis itu dengan penuh nikmat.
Tangan Kuroro yang sedari tadi menahan bahu Kurapika pun kini mulai menjalar melalu bawah baju sailor Kurapika, melewati bra yang saat ini dipakainya, dan meremas dada gadis itu kuat-kuat sambil terus menciumnya.
"Ummpppphhhhh!" mata Kurapika membulat sempurna menerima perlakuan Kuroro. Dia menggeliat, berusaha lolos dari Kuroro. Namun nyatanya Kuroro jauh lebih kuat darinya.
Kurapika berpikir, berusaha memusatkan tenaganya hingga terpusat di satu bagian tubuhnya, dan…
Puk…
BRUKKK…!
Dengan satu dorongan Kurapika dapat mendorong tubuh Kuroro hingga Kuroro harus mundur beberapa langkah. Lama dia menatap Kurapika, sampai dia merasakan sakit di bagian dadanya. Yah, Kurapika tadi dengan sengaja mengenai urat syaraf Kuroro.
"Ukkhhh…" Kuroro terbaring di lantai, sambil memegangi dadanya dengan keras.
"Sensei!" Kurapika segera berlari ke arah Kuroro dengan parasaan khawatir. "M-maafkan aku sensei! Maafkan aku!" ucap Kurapika penuh penyesalan.
Seringai langsung terlihat di wajah Kuroro. Dia tak ingin melewatkan kesempatan ini. Ditariknya tangan Kurapika ke bawah, hingga Kurapika harus jatuh. Kuroro pun segera bangun dan langsung mengambil tempat di atas Kurapika.
"Sensei…?" gumam Kurapika tak percaya.
"Ternyata kau itu nakal juga!" Kuroro mendekatkan wajahnya di wajah Kurapika, hingga kini jidat mereka saling bersentuhan.
"K-Kuroro sensei… kita masih ada di sekolah…" lirih Kurapika memalingkan wajahnya yang memerah.
Kuroro tanpa mengubris Kurapika langsung saja menciumi leher Kurapika dengan ganas, memaksa Kurapika ingin mendesah, namun ia harus menahannya dengan alasan takut terdengar orang dari luar.
"Unngghhhhhh!"
Kuroro melepaskan ciuman ganasnya dan kembali menatap Kurapika. Dielusnya pipi mulus gadis itu lembut.
"Kau tahu, selama tiga hari ini… kau membuatku tersiksa!" Kuroro kembali menciumi leher Kurapika tanpa ampun, hingga meninggalkan banyak kiss mark di sana. "Selama kau sakit… aku rasanya tak bisa berpikir dengan jernih… karena tak bisa bertemu denganmu,"
Wajah Kurapika semakin merona saja mendengarnya.
Kuroro lalu dengan perlahan menjatuhkan tubuhnya, dan memeluk Kurapika erat di lantai yang dingin itu.
"Maaf sensei… aku sudah membuatmu begini…" lirih Kurapika dengan pelan membalas pelukan Kuroro. Lama mereka berpelukan di lantai itu, Kuroro pun kembali bangun dan membantu Kurapika untuk berdiri.
Kuroro meraih dagu Kurapika, dan mencium bibirnya dengan lembut. Kurapika pun sontak membalasnya. Tangan Kuroro yang sebelah pun ia lingkarkan di pinggang Kurapika, dan meraniknya kuat-kuat. Kedua tangan Kurapika pun menjalar melingkari leher Kuroro.
Kuroro memiringkan kepalanya, agar dapat menikmati ciuman ini lebih. Kurapika hanya memejamkan matanya, menikmati ciumannya dengan Kuroro.
Lama mereka berciuman seperti itu, kini tangan Kuroro yang memegang dagu Kurapika menarik dagu Kurapika ke bahwah, agar Kurapika membuka mulutnya. Tanpa melawan, Kurapika pun meuruti apa yang Kuroro inginkan.
Kuroro memasukkan lidahnya ke dalam mulut Kurapika, dan diterima dengan senang hati oleh Kurapika. Mereka saling melumat bibir pasangan main mereka dengan penuh nikmat.
Setelah kurang lebih dua menit mereka berciuman di ruangan itu, Kuroro pun melepas ciumannya dengan alasan untuk mengambil pasokan udara.
Kurapika nampak mengatur nafasnya. Tangannya masih tertempel di dada Kuroro. Mata Kurapika membulat ketika Kuroro memegang kerah baju Kurapika, meminta izin padanya agar diperbolehkan.
Kurapika yang seolah mengerti maksud dari Kuroro, langsung memalingkan wajahnya yang sudah sangat memerah. "I-ini 'kan masih di sekolah sensei… kalau dilihat orang lain bagaimana?" tanya Kurapika lirih.
Kuroro tak mengubrisnya, dia malah mulai membuka seragam sailor Kurapika dengan perlahan. Kurapika tak melawan sedikitpun.
"Takkan ada yang melihat…" ucap Kuroro sambil melepas bra biru yang saat ini dipakai Kurapika. Kuroro melempar seragam dan bra Kurapika dengan sembarang. Tumben, saat ini dia tidak mengenakan kaos singletnya lagi. Dielusnya payudara Kurapika dengan lembut. "Dan kalau ada yang sampai melihat, akan kupastikan dia tak akan pernah melihat lagi…" ucap Kuroro dingin.
Mata Kurapika membulat ketika merasakan Kuroro langsung melumat dadanya dengan penuh nafsu. Kurapika hanya bisa meremas rambut hitam Kuroro kuat-kuat.
"Ngghhhh! Akkhhhh!" desah Kurapika tertahankan ketika merasakan Kuroro menggigit punting payudaranya dengan keras, membuat Kurapika rasanya ingin berteriak sekencang-kencangnya namun rasanya itu tak mungkin.
Melihat payudara bagian kanan Kurapika kosong, Kuroro lalu menggerakkan tangan kirinya untuk meremas payudara itu kuat-kuat, membuat Kurapika semakin menahan desahannya.
'Mendesahlah Kurapika… aku ingin mendengar desahanmu yang menggairahkan itu…' batin Kuroro semakin memperganas remasan dan lumatannya pada dada Kurapika.
"Ahhhh… ummhh… Kurorohh…" desah Kurapika yang akhirnya keluar, namun belum cukup bagi Kuroro.
Kurapika rasanya tak kuat berdiri, hingga keseimbangannya pun menghilang. Untunglah ada Kuroro di depannya, dan langsung menahan tubuhnya. Dipeluknya tubuh itu erat-erat sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Namun apa yang dicarinya tak kunjung di temukan.
Kurapika yang seolah tahu maksud dari Kuroro pun langsung mencium singkat bibir Kuroro, membuat Kuroro terlonjak kaget. Ditatapnya Kurapika tak percaya.
"Kuroro sensei, cepat selesaikan ini sebelum bel masuk berbunyi…" pinta Kurapika memalingkan wajahnya yang memerah.
Kuroro menyeringai kecil. Di gendongnya Kurapika menuju sofa panjang yang ada di dekat mimbar dirgen di ruangan musik itu. Kurapika pun dibaringkan di sana. Kini tubuhnya akan merasa lebih nyaman.
Kuroro lalu membuka pakaian bagian atasnya, hingga memperlihatkan otot-ototnya yang sudah terlatih dengan baik itu. Ia lalu membantu Kurapika untuk duduk, dan langsung membuka rok gadis itu.
"Ah, senseihhh…" lirih Kurapika memegangi tangan Kuroro yang hendak membuka roknya. Kuroro Hanya menatapnya bingung.
"A-apa ini tidak apa-apa?" tanya Kurapika menunduk malu.
Kuroro tersenyum tipis. Dibelainya rambut pirang Kurapika dengan sangat lembut. "Tenanglah… aku akan menjagamu…" ucap Kuroro lembut.
Kurapika tersenyum tipis. Ia pun melepaskan pegangan tangannya di tangan Kuroro, membiarkan Kuroro yang melakukan semuanya.
Rok, celana pendek, sampai celana dalam Kurapika pun kini sudah tergeletak di lantai. Kuroro dapat melihat kewanitaan Kurapika sudah basah oleh cairannya sendiri.
Kuroro langsung merasakan celananya makin menyempit ketika melihat tubuh polos Kurapika yang putih mulus. Kuroro hanya bisa meneguk ludahnya, berusaha untuk bersabar. Bagaimana pun, Kurapika masih berumur 17 tahun. Masih terlalu awal baginya untuk melakukan ini, meski mereka sudah pernah melakukannya sekali tepatnya seminggu yang lalu.
Kurapika langsung menutupi bagian dadanya dengan tangannya, dan menutupi bagian kewanitaannya dengan pahanya. "Ngh, kau jangan melihaku seperti," ucap Kurapika dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus saja.
Kuroro mengerjap-kerjapkan matanya, berusaha bangun dari lamunannya. "Ah, maaf… tadi aku melamun…"
Kuroro lalu duduk di bawah, tepatnya di depan Kurapika yang saat ini duduk di depannya. Kuroro memegang kedua lutut Kurapika, dan membukanya sehingga memperlihatkan lubang vagina Kurapika yang basah dan merah.
Gluk…
Dengan pelan, Kuroro mendekatkan wajahnya di vagina itu, hingga mulutnya sampai di sana.
Kuroro mencium lembut dinding kewanitaan Kurapika, lalu menjilatnya. Lidah itu menjilat seluruh cairan hasil orgasme Kurapika. Kurapika hanya merinding menikmati tiap sentuhan Kuroro.
Lidah Kuroro lalu mulai masuk di lubang Kurapika, dan menyentuh sebuah biji kecil di sana. Kuroro pun menjelajahi lubang Kurapika dengan lidahnya.
"Akkkhhhh… ssshhhh! Kurorohhh…. Ahhkk…" desah Kurapika menahan kenikmatan yang diberikan Kuroro. Ia tak ingin suaranya sampai terdengar di luar.
Namun Kuroro berpendapat lain. Dia malah ingin mendengar suara desahan seksi dari Kurapika yang membuatnya makin bergairah.
Maka Kuroro langsung menggigit biji kecil yang ada di dalam vagina itu, sukses membuat Kurapika membulatkan matanya.
"Kyaaaahhh…" untunglah ruang musik itu terlapisi kedap suara, sehingga teriakan Kurapika MUNGKIN tak terlalu terdengar dari luar. Tapi tetap saja Kurapika menahan desahannya.
Mulut serta lidah Kuroro pun semakin mengganas di vagina Kurapika, sukses meluncurkan peluh di dahi Kurapika. Kurapika menggigit bibir bawahnya, menahan teriakan-teriakan yang hendak keluar ketika Kuroro semakin memberikan kenikmatan pada Kurapika.
"Ahhh… Kuhh… roh… akhh…" desah Kurapika meremas sofa yang saat ini didudukinya.
Crat… crat…
Sekali lagi cairan Kurapika keluar akibat ulah Kuroro. Cairan itu langsung keluar, dan langsung pula terhisap oleh Kuroro. Kuroro meminun cairan Kurapika dengan penuh kenikmatan.
Kuroro pun menghentika aktifitasnya. Dia lalu berdiri, dan menghapus sisa cairan Kurapika di pipi dan sudut bibirnya. Kurapika hanya mengatur nafasnya kelelahan.
Pemuda itu lalu mulai membuka tali pinggangnya, celananya, dan segala yang menjadi penghalang baginya. Hingga kini keadaan Kuroro pun sama seperti Kurapika.
Wajah Kurapika langsung memerah ketika melihat penis Kuroro saat ini sudah menegang, memanjang, dan mengeras. Sebenarnya Kuroro juga agak malu, memperlihatkannya tapi mau bagaimana lagi? Ini demi kepuasannya sendiri.
Sebelum 'melakukannya', Kuroro mencium bibir Kurapika terlebih dahulu. Dilumatnya bibir gadis itu dengan lembut, seolah ingin membuat Kurapika senyaman mungkin.
Tangannya dengan perlahan mendorong tubuh Kurapika hingga kini kepala Kurapika sudah rapat di sandaran sofa. Kuroro pun ikut naik di atas sofa, tepatnya di atas Kurapika. Tangannya yang satu memegang leher gadis itu, dan satunya lagi meremas payudaranya. Sedangkan tangan Kurapika sibuk melingkar di leher Kuroro. Ciuman mesra itu berlangsung cukup lama, hingga mereka harus menghentikannya untuk mengambil pasokan udara.
"Boleh?" tanya Kuroro lembut. Kurapika hanya mengangguk lemah.
Senyuman tipis langsung terlihat di wajah Kuroro. Dia pun turun dari sofa, bersiap melakukan kegiatan selanjutnya.
Kuroro menopangkan satu lututnya di atas sofa. Di ambilnya sebelah kaki Kurapika, dan meletakkannya di bahunya, dan satu kakinya lagi Kuroro pegang menjauh dari kaki satunya, sehingga lubang vagina Kurapika kini menganga lebar. Kurapika memejamkan matanya, siap menerima apa yang akan terjadi selanjutnya.
Plakkk…
Dengan sekali hentakan, penis Kuroro langsung masuk sepenuhnya.
"Kyaaaaaa!" teriak Kurapika menahan sakit. Digigitnya bibir bawahnya sendiri, menahan teriakannya lagi. Air matanya menetes, saking sakitnya. Namun ia berusaha menunjukkan senyuman terbaiknya saat ini pada Kuroro.
Kuroro tertawa kecil melihat tingkah Kurapika, sebelum ia mulai memaju-mundurkan pinggulnya, sukses membuat Kurapika semakin nikmat saja.
"Ahhh… Ugghhh… akkkhh…" desahan Kurapika langsung saja menghipnotis Kuroro, untuk semakin mempercepat ritme in-outnya.
Semakin lama ritmenya semakin cepat saja, membuat mereka berdua tenggelam dalam kenikmatan tiada tara yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Kuroro memejamkan matanya, menikmati momen itu. Apalagi dinding vagina Kurapika begitu sempit, sehingga Kuroro merasakan seakan penisnya terpijit oleh dinding itu. Kurapika pun begitu. Entah mengapa semakin lama penis itu semakin memanjang dan membesar saja dalam lubang Kurapika.
"Ahhh… ahhkk… akhh… umhh… assshh…" sedikit lagi keduanya mencapai puncaknya.
Teng… teng… teng…
Bel tanda masuk langsung saja berbunyi, sukses mengagetkan keduanya. Namun Kuroro tak mau berhenti, dia tetap melanjutkan kegiatannya sampai dia mencapai klimaks.
Desahan Kurapika pun makin menjadi-jadi ketika Kuroro semakin mempercepat ritmenya, serta makin memperkeras hentakannya. Kurapika hanya bisa meremas dadanya kuat-kuat menahan sakit yang teramat sangat.
"Sens… akkhhh… senssheeeiihhhh…" Kurapika berusaha memanggil nama Kuroro, namun Kuroro sama sekali tak mengubrisnya. Dia tetap melakukan kegiatannya tadi.
Kepada guru musik Kuroro Lucifer… harap memasuki kelas 3-D untuk mengajar…
Panggilan itu sukses menyadarkan Kuroro.
"Ah!" Kuroro segera menghentikan aktivitasnya. Rasa ketidak puasan serta kekecewaan yang teramat besar menyelimuti kedua insan itu. Padahal mereka belum mencapai klimaks-nya, namun harus segera berhenti.
Kuroro membantu Kurapika berdiri. Mereka pun memasang pakaian mereka masing-masing.
"Ini," Kuroro menyerahkan tissue pada Kurapika. Kurapika pun menerimanya, dan menge-lap cairan yang masih terdapat di dekitar pahanya. Dia juga mengelap leher, serta bibirnya yang basah.
Kuroro cukup ragu ketika melihat dua bekas ciumannya tadi masih terdapat di leher Kurapika. Dia segera mengambil dua perban, dan memasangkannya.
"Emh… terima kasih, sensei…" lirih Kurapika menunduk. Kuroro hanya tersenyum tipis sambil merapikan rambut pirang Kurapika yang agak berantakan itu.
Diciumnya lembut bibir gadis itu. Kurapika pun refleks membalasnya.
"Pulang sekolah nanti, aku akan menjemputmu. Kita selesaikan yang tadi…" bisik Kuroro tepat di telinga Kurapika. Kurapika yang mendengarnya hanya diam dengan wajah yang merona merah.
"Baiklah Kuruta, kau boleh kembali ke kelasmu," perintah Kuroro seakan mereka hanya sebatas guru dan murid.
"Baik sensei…" ucap Kurapika seraya membungkuk hormat lalu meninggalkan ruang musik itu dengan Kuroro yang menatapnya.
'Apa aku terlalu berlebihan. Memperlakukannya?' pikir Kuroro.
.
Di kelas,
"Maaf, saya terlambat…" ucap Kurapika seraya masuk ke dalam kelas.
"Mau dari mana, Kuruta-san?" tanya guru yang mengajar di kelasnya.
"Saya tadi dari ujian susulan,"
"Baiklah, kau boleh duduk," Kurapika pun mengambil tempat untuk duduk.
Pelajaran pun kembali dilanjutkan.
"Hei, kenapa kau lama sekali?" bisik Shalnark yang duduk di samping Kurapika.
"Emhh… habisnya, soalnya susah," bohong Kurapika.
"Kau benar! Apa lagi nomor tiga! Ohya, ada apa dengan leher—"
"YANG DI BELAKANG HARAP TENANG!" suara teriakan dari guru itu sukses memotong perkataan Shalnark.
"Maaf sensei!"
Kurapika menghela nafas panjang. Setidaknya dia berterima kasih pada guru itu, karena telah membungkam mulut lebar Shalnark.
'Pulang sekolah nanti, aku akan menjemputmu. Kita selesaikan yang tadi…' perkataan itu seketika terlintas di kepala Kurapika, sukses membuat wajah Kurapika semakin memerah saja.
'Kuroro sensei…'
.
.
Di sebuah Love Hotel, yang terletak di tempat yang agak sepi, di kamar 44 tepatnya kamar vip yang paling atas, terbaringlah dua insan yang saat ini sedang terlelap.
Siapa lagi, kalau bukan Kuroro Lucifer dan Kurapika Kuruta? Saat ini mereka sedang tidur bersama di ranjang king size empuk bernuansa krem itu. Pakaian mereka berserakan di lantai. Mereka tidur dengan berpelukan di atas ranjang, dengan selimut hangat melapisi tubuh mereka.
"Nghh…" Kurapika melenguh pelan. Matanya sedikit demi sedikit terbuka.
Ia baru sadar bahwa saat ini dia sedang berada dalam pelukan seorang pria kekar tampan yang sedang terlelap. Wajahnya sontak memerah ketika menyadari bahwa dada bidang Kuroro menghimpit payudaranya. Selain itu penis Kuroro setengah masuk dilubangnya.
Kurapika segera bangun, dan membungkus tubuhnya dengan selimut. Dia baru ingat kejadian beberapa jam yang lalu, ketika ia pulang bersama Kuroro, dan langsung membawanya ke hotel ini. Mereka berdua pun bercumbu, dan melakukan hal yang tak sepantasnya di sana.
Perlahan Kuroro juga mulai membuka matanya. Dilihatnya Kurapika saat ini sedang memasang bra-nya.
Kuroro langsung memegang tangan Kurapika. Kurapika pun tersontak kaget.
"Kau mau kemana?" tanya Kuroro dengan nada mengantuk.
"Enh… sekarang sudah malam, sensei…" lirih Kurapika merona merah.
"Tinggallah di sini… temani aku… malam ini saja…"
"Maaf, aku tidak bisa! Orang tuaku nanti mencariku!"
Dengan berat hati Kuroro melepas genggamannya. Ditatapnya gadis yang sedang memperbaiki pakaiannya itu.
"Biar kuantar kau pulang…" ujar Kuroro seraya ikut mengenakan pakaiannya.
"Eh?"
"Ayo," Kuroro menarik tangan Kurapika keluar, padahal kancing kemejanya belum ia pasang. Kurapika hanya mengikuti Kuroro.
Kuroro pun mengantar Kurapika pulang dengan mobil merahnya.
.
.
Mereka sampai di depan rumah mewah Kurapika. Ketika Kurapika hendak keluar, Kuroro langsung menarik tangannya dan mencium bibir gadis itu lembut. Kurapika hanya bisa membalas ciuman Kuroro.
"Terima kasih, untuk hari ini…" ucap Kuroro tersenyum tipis.
Kurapika hanya mengangguk, dan meninggalkan tempat itu langsung masuk ke rumahnya. Kuroro menatapnya dari jauh.
'Apa yang telah kulakukan ini salah?' pikir Kuroro.
.
Kurapika masuk ke dalam rumahnya. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 9 malam. Kurapika meletakkan tasnya di sembarang tempat, dan langsung merebahkan tubuhnya di sofa.
Dipeluknya tubuhnya sendiri dengan erat. Wajahnya langsung memerah.
Entah setan apa yang merasukinya, tapi kenapa Kurapika begitu menikmati momen bersama Kuroro? Padahal diketahui Kurapika adalah gadis yang religius, dan dia sudah berbuat dosa yang teramat besar, bersama orang yang sangat dicintainya itu.
Mungkin Kurapika sudah gila, tapi… rasanya dia ingin terus dicumbuhi oleh Kuroro. Rasa sakit yang ia rasakan ketika Kuroro memainkan buah dadanya, rasa cairan saliva Kuroro yang bersatu dengan salivanya, serta kenikmatan tiada tara ketika Kuroro memasuki tubuhnya, yang terpenting setiap sentuhan Kuroro dapat membuat Kuroro lupa akan dunianya. Lupa bahwa yang ia lakukan dengan kekasihnya itu adalah zina. Perbuatan yang begitu hina di masyarakat.
Namun perkataan lembut Kuroro, selalu membuat Kurapikalebih tenang, dan tak peduli dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Kurapika menghela nafas panjang.
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dengan sendirinya. Kurapika pun menoleh ke sumber suara, melihat seorang wanita paruh baya berambut pirang sebahu, memakai baju kantor yang teramat rapih.
"Ibu?" gumam Kurapika.
"Kau baru pulang?" tanya wanita yang Kurapika panggil ibu itu datar.
"Ya," jawab Kurapika tak kalah datarnya. Mereka seolah tak saling kenal.
"Lain kali kau jangan terlambat pulang begitu, kau itu perempuan! Dasar!" ujar ibunya seraya berlalu meninggalkannya, tanpa memberikan kasih sayang sedikitpun, sewajarnya ibu dan anak.
"Memangnya apa pedulimu?" ketus Kurapika.
Ibunya berhenti dan menatap Kurapika begitu sinis. Kurapika tak mengubrisnya. Dia malah mengambil majalah yang ada di atas meja dan membacanya.
Yah, hubungan Kurapika dan kedua orang tuanya memang kurang baik. Ayah dan ibunya sering bertengkar, hingga akhirnya mereka bercerai ketika Kurapika kelas 3 SD, dan ibunya memenangkan hak asuh atas Kurapika. Penderitaan Kurapika tak hanya sampai disitu, ibunya juga dulu sering menyiksa Kurapika, jika moodnya sedang buruk. Itulah yang membuat Kurapika tumbuh sebagai gadis yang kuat.
Kurapika pernah berpikir kalau tuhan membencinya, karena memberikan penderitaan berlebih terhadapnya. Namun Kurapika membuang pikiran itu jauh-jauh.
Kurapika lalu merasakan handphonenya berbunyi. Ia pun membaca pesan yang masuk.
From Kuroro Lucifer
Aku kangen…
Wajah Kurapika langsung memerah membaca sms yang masuk. Dia pun membalas pesan Kuroro.
To Kuroro Lucifer
Aku juga kangen…
Mereka pun saling bertukar sms. Tak jarang Kurapika tertawa kecil atas candaan Kuroro. Sejenak, Kurapika lupa dengan beban yang ada di pikirannya.
Tiba-tiba saja Kurapika merasa mual. Dia langsung lari ke dapur.
Disana dia langung memuntahkan makanan yang telah ia cerna, ke dalam tempat pencucian piring. Kepalanya benar-benar sakit, begitu juga dengan perutnya.
'Apa yang terjadi denganku?'
TBC
Makasih sudah mau membaca fic ini!
Saya mau tanya, apa lemonnya sudah berlebihan untuk di terakan di fandom ini? Atau malah kurang?
Mohon komentar anda melalui review…
