HUSBAND

Remake from Phoebe Maryand's novel "Husband"

Hunhan as Maincast GS(Genderswitch) for uke, Typo(s)

! : It's will be a long chapter!


When you wake up from your sweet dream,
you are finding a stranger guy on your bed
and he said that you are his wife.
What will you do?


Sehun baru saja keluar dari kamar mandi sambil berusaha mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia memandangi Luhan yang sibuk mendengarkan I-pod dengan penuh konsentrasi sambil bersandar di atas tempat tidur. Sehun menaikkan sebelah alisnya karena heran, ini pertama kalinya ia melihat seseorang yang mendengarkan musik dengan ekspresi wajah seperti sedang menghadapi soal ujian.

Sehun mendesah mengingat Luhan yang pergi mencari Kris sore ini. Luhan tidak akan menemukan laki-laki itu karena dia sudah benar-benar menjauh, lalu mengapa harus di cari-cari lagi? Sehun menyesal mengikuti Luhan sore tadi, sekarang dirinya sedang dalam keadaan tidak baik karena mengetahui hal itu.

Sehun melangkah mendekati istrinya di atas ranjang melepaskan handset di salah satu telinga Luhan dan mengenakannya untuk dirinya sendiri. Luhan memandangnya dengan tatapan heran. Sebuah musik yang sering terdengar di beberapa tempat mengalun indah, musik klasik. Sehun tidak begitu suka dengan musik klasik, karena itu meskipun sering mendengarnya, ia sama sekali tidak tau siapa komposernya.

"Sejak kapan mendengarkan musik klasik? Selama ini kau lebih suka membaca buku di bandingkan mendengarkan musik." Tanya Sehun. Luhan melepaskan handset yang masih menggantung di telinganya dan memberikannya kepada Sehun. Ia tau Sehun tidak suka, karena itulah Sehun menon-aktifkan I-podnya dan menyimpannya di dalam laci meja lampu yang berada di sebelah tempat tidur. Luhan tidak tertarik, ia lalu beranjak ke sisi lain tempat tidur dan berbaring membelakangi Sehun. Seharian ini dirinya sudah benar-benar kecewa karena tidak bertemu Kris. Kris menghilang entah kemana, meninggalkan Café-nya yang sudah berpindah tangan, rumahnya juga sudah di jual. Luhan benar- benar kehilangan Kris untuk selamanya.

"Kau tidak mau menjawab pertanyaanku?" Sehun bersuara lagi, ia menaikkan kedua kakinya keatas tempat tidur dan duduk memandangi Luhan yang membelakanginya.

Desah nafas Luhan terdengar samar. "Maaf, suasana hatiku hari ini sedang buruk!"

"Buruk kenapa? Karena tidak berhasil menemukan laki-laki itu?Aku sudah bilang padamu kan? Aku tidak suka kalau kau dekat dengan laki-laki manapun."

"Aku juga sudah bilang kalau suasana hatiku sedang buruk dan tidak ingin berkelahi saat ini. Tolonglah biarkan aku istirahat, Kau satu- satunya orang yang tau masalahku dan ku harap kau bisa mengerti…"

Sehun membalik tubuh Luhan dengan paksa sehingga wanita itu sudah menatapnya.

"Aku juga sedang berusaha mengerti, tapi sulit untuk yang satu ini. Kau masih mengharapkannya? Kau yang meninggalkannya Luhan. Kau yang meninggalkan Kris dan menikah denganku, aku tidak suka kau melupakan siapa dirimu sekarang!"

"Aku minta maaf, benar-benar minta maaf! Aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya ingin memastikan dan sama sekali tidak bermaksud untuk membuatmu marah!" Luhan mengalah.

Ia sangat tidak suka berkelahi. Apapun alasannya, berkelahi akan menjadi pilihan terakhir atau bahkan tidak akan pernah jadi pilihan dalam hidupnya. Matanya memandang Sehun dan menemukan keseriusan disana, kelihatannya benar-benar cemburu. Luhan berusaha untuk sehingga dirinya berhadapan dengan Sehun sekarang. Laki-laki itu adalah suaminya, lalu mengapa dirinya tidak bisa menempatkan diri sebagai istri?

"Aku hanya ingin tau apa yang terjadi sebenarnya. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi."

Amarah Sehun mulai mereda mendengar ucapan yang terakhir. Ia menghela nafas dengan lebih ringan dan nyaman. Sebisa mungkin ia memeluk Luhan erat-erat dan tidak memberikan celah untuk Luhan melepaskan diri.

"Aku tidak suka ada Kris lagi di antara kita. Aku tidak pernah suka karena itu selalu membuat kita bertengkar seperti ini. Kau harus ingat satu hal, Xi Luhan sudah menikah denganku dan tidak boleh ada orang lain dalam pernikahan kita."

"Kau sangat mudah emosi."

"Karena setiap kali kau mengingat Kris, kau selalu menyakitiku."

Luhan mendorong dada Sehun sehingga tubuh mereka memiliki celah, Sehun mengabulkan permintaan verbal Luhan untuk melepaskan pelukannya. Jadi selama ini Luhan selalu menyakiti Sehun? Satu bulan pernikahan dan tersakiti? Luhan memejamkan matanya dan masih bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.

"Kenapa aku melakukan itu?"

Sehun memandangnya lama lalu angkat bahu. "Karena aku satu- satunya orang yang berharap pada pernikahan ini. Sedangkan kau tidak, menikah denganku hanya untuk pelarian. Karena itu meskipun kita sudah menikah, kau selalu menganggapku seperti orang asing."

"Kenapa aku dan dirimu bisa menikah? Mengapa kau mau menikah denganku? Kau tidak tau kalau aku mencintai orang lain?"

"Karena…!" Sehun berfikir sejenak lalu tersenyum. "Karena aku berharap pada pernikahan ini, aku sudah bilang tadi."

Kening Luhan berkerut, jawaban Sehun sama sekali bukan jawaban yang Luhan inginkan.

"Sudahlah. Jangan di fikirkan lagi." Desis Sehun.

"Lupakan semuanya, karena jika kau bertanya kepadaku, aku juga tidak bisa menjawab banyak. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu selama ini." Luhan berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya.

"Boleh aku tanya satu hal lagi?"

"Apa?"

"Apa yang membuatmu yakin untuk menikah denganku?"

"Karena kau memaksaku melakukan ini!"

Benarkah? Desis Luhan. Ia yang meminta Sehun menikahinya? Kebingungannya semakin bertambah.

"Baiklah, lalu apa yang membuatmu menerimanya?"

"Karena saat itu kau memperlihatkan betapa lemahnya dirimu dan kau membuatku berfikir hanya aku yang bisa melindungimu. Hanya aku!"

Luhan terperangah. Karena ia lemah? Sehun menikahinya karena mengira bisa melindunginya? Semua hal membingungkan ini sebaiknya di buang jauh-jauh, karena Luhan tidak ingin merasa aneh setiap menghadapi detik-detik selanjutnya dalam hidup. Dia tidak ingin merasa ragu untuk melakukan apapun. Ia memandang Sehun sekali lagi, sekarang apa yang harus di lakukannya pada Sehun? Tidak ada pilihan lain selain berusaha menjalani pernikahan yang normal. Ia akan berusaha menerima laki-laki itu.

Semuanya sudah terlanjur seperti ini, ia sudah terlanjur menjadi istri seseorang dan sudah berpisah dari Kris. Lagi pula apa lagi yang bisa di lakukannya? Ya, Luhan akan menerima kenyataan ini. Sedang berusaha menerima, karena itu Luhan menerima ciuman Sehun pada bibirnya. Ciuman lembut yang lama kelamaan mulai intens dan liar. Membiarkan tubuhnya berbaring adalah pilihan berat, ia dan Sehun akan segera melakukannya, mereka akan segera bercinta dan Luhan akan membiarkannya.

Akankah? Tidak, Luhan menepis tangan Sehun yang mulai bermain-main di bagian-bagian tubuhnya yang paling sensitif. Sehun melepaskan ciumannya dan memandangi Luhan kecewa. Luhan menggigit bibirnya dan membuang pandangannya kearah lain. Hatinya terguncang untuk yang satu ini, bahkan Kris saja tidak pernah menyentuh tubuhnya. Mungkin dirinya dan Sehun pernah melakukan ini sebelumnya, tapi apapun yang sudah mereka lakukan Luhan tetap merasa tidak bisa melakukan ini sekarang. Ia berusaha kembali menoleh kepada Sehun yang masih memandanginya. Luhan tidak sanggup memandang langsung kemata Sehun dan menunduk memandangi dadanya.

"Maaf, Aku…"

"Sudah waktunya makan malam." Suara Grandmere yang tiba-tiba saja menyela membuat Sehun dan Luhan memandang kearah pintu serentak. Pintu tertutup rapat namun mereka merasa seperti sedang di pergoki.

"Cepatlah keluar!"

"Baik, gradmere! Kami akan segera datang!" jawab Sehun lantang.

Suara Grandmere tidak terdengar lagi. Tapi Sehun masih belum beranjak dan masih berada di atas Luhan. Matanya kembali meneliti inci demi inci wajah istrinya.

"Kau tidak sedang menolakku, kan?"

"Tidak!" Jawab Luhan cepat. "Aku hanya belum siap."

"Baiklah…, tapi lain kali kau harus siap!" Sehun tersenyum. Lalu berbisik. Di telinga Luhan. "Karena aku sudah sangat merindukan ini."

Senyuman itu, meskipun sekilas berhasil membuat Luhan merasa lebih lega. Luhan mendekap dadanya saat melihat Sehun turun dari ranjang dan keluar kamar. Ia menghela nafas sekali lagi, Sehun menyentuhnya lagi dan Luhan tau dia tidak akan selamat. Lain kali, bisa saja Sehun tidak hanya menyentuhnya, Ia bisa saja melakukan hal yang lebih dan lebih.


Membuka mata dan menemukan dirinya kembali tanpa pakaian. Luhan benar-benar shock, kejadian ini terulang lagi padahal semalam dirinya tidak melakukan apa-apa. Seingatnya, Sehun tidur lebih dulu dan Luhan benar-benar menghabiskan malam dengan membaca buku. Lalu apa kali ini Sehun kembali memindahkannya ketempat tidur dan membuka pakaiannya?

Luhan menghela nafas pelan dan berusaha membuka matanya lebih lebar. Tapi…

'Astaga apa yang kulihat?' Luhan segera memejamkan matanya. Ia berbalik menuju sisi sebaliknya dari tempat semula dirinya menghadap. Ia melihat Sehun sedang menggenakan pakaiannya, Jantung Luhan tiba- tiba berdetak kencang lagi. Sebaiknya ia pura-pura tidur, itu lebih baik. Luhan bahkan cukup dengan bekal mengantuk semalam untuk kembali tidur dan rencananya untuk pura-pura ternyata membuatnya benar- benar terlelap.

Ia kembali terbangun saat merasakan sesuatu yang hangat membelai pipinya diiringi suara Sehun yang memanggil- manggilnya dengan sebutan sayang. Luhan berusaha membuka mata dengan susah payah. Sehun sudah rapi.

"Kau tidur telat semalam. Hari ini tidak usah kekantor saja!" Bisiknya.

Bulu kuduk Luhan meremang. Ada sesuatu yang aneh pada perasaannya saat mendengar bisikan Sehun yang sangat dekat dengannya. Luhan berusaha mengangguk, Sehun memberikan senyum terbaiknya.

"Kau yang memindahkanku ke tempat tidur?"

"Ya. Sepertinya kita harus mengembalikan AC ke kamar ini. Kau kepanasan semalam jadi aku membuka pakaianmu."

Wajah Luhan memerah, terlebih saat Sehun menyelimuti tubuhnya, ia tidur dalam keadaan seperti ini semalaman di sebelah Sehun? Sehun sudah puas memandangi tubuhnya yang polos tanpa sehelai benangpun dan Luhan bersyukur Sehun tidak melakukan apa-apa terhadapnya.

"Kau tidak perlu melakukan itu!"

"Maksudmu membuka pakaianmu?"

Luhan menarik selimutnya sehingga setengah wajahnya tertutupi. "Maksudku memasang pendingin, kau tidak bisa tidur dalam ruangan ber-AC, aku masih bisa tidur tanpa itu meskipun harus tanpa pakaian seperti ini."

Senyuman Sehun mengiringi tatapannya pada Luhan yang sibuk menutupi wajahnya. 'Astaga Luhan, mengapa kau bersikap semanis ini?' Sehun berujar di dalam hati.

"Apa ini? Kau sedang malu-malu? Kalau begitu, nanti belilah gaun tidur yang nyaman untuk tidak membuatmu kepanasan. Kau sudah menikah, sudah saatnya menggunakan gaun tidur. T-shirt dan piyama tidak begitu baik untuk kelangsungan pernikahanmu!"

Sehun tertawa renyah membuat Luhan merasa semakin malu. Luhan menarik selimutnya lebih dalam hingga Sehun hanya bisa melihat matanya saja. Walau bagaimanapun bagi Luhan, Sehun tetaplah orang asing yang mendadak saja bisa menelanjanginya sesuka hati karena status pernikahan. Meskipun Sehun selalu berusaha untuk menghilangkan batas di antara mereka dan berusaha untuk selalu menunjukkan perhatiannya, Luhan tetap belum bisa memungkiri kenyataan bahwa baginya, saat ini Oh Sehun adalah orang asing.

Sehun mengambil dompetnya dan memberikan salah satu dari koleksi kartu kreditnya kepada Luhan, Sehun benar-benar mengantarkan benda itu kedalam telapak tangan Luhan dan baru yakin untuk melepas benda itu setelah ia yakin Luhan menggenggamnya dengan erat.

"Aku tidak bercanda tentang gaun tidur. Belilah beberapa kalau masih belum merasa nyaman karena aku selalu membuka pakaianmu. Aku bisa batal berangkat ke kantor bila setiap pagi melihatmu malu- malu seperti ini. Aku tidak akan bisa menahan hasratku lagi!"

Sehun mengedipkan matanya dan bangkit. Ia sudah berdiri dan mengambil jasnya yang masih rapi di atas sofa.

"Aku mungkin akan pulang malam. Tidur duluan saja. Ingat, yakinkan pakaianmu cukup nyaman sehingga kau tidak perlu mengigau memintaku membantumu melepas semua pakaianmu. Sampai jumpa besok pagi!" Luhan menelan ludahnya setelah Sehun menghilang.

Jadi ia yang mengigau meminta Sehun membantunya membuka pakaian? Apakah ia sedang bermimpi? Mengapa harus Sehun? Mengapa bukan Kris? Luhan memukul keningnya. Berhentilah memikirkan Kris, Luhan. Kau sudah bersuami. Batinnya. Lalu apa yang akan dilakukannya sekarang? Luhan sepertinya harus mencari tau bagaimana ia harus menyikapi semua ini.


"Monsieur Oh adalah anugrah untuk kantor ini, Setidaknya semenjak dia menggantikan Monsieur Fabius, DArE menjadi tidak membosankan."

"Yep, Aku jadi semangat setiap kali mau berangkat ke kantor. Tidak sia-sia punya Bos setampan dia! Ngomong-ngomong dia masih lajang atau sudah beristri?"

"Kurasa masih lajang, dia tidak pernah menyinggung soal keluarga, Monsieur Fabius juga tidak pernah mengatakannya sebelumnya. Dia masih muda dan tampan, menikah di saat sekarang adalah pilihan bodoh untuknya."

"Ku rasa begitu. Kalau begitu dengan senang hati aku akan menggodanya, seandainya aku yang di angkat menjadi sekretarisnya."

"Benar. Tapi Monsieur Oh lebih memilih Baekhyun."

"Terserah kalau Monsieur Oh memilih Baekhyun, toh mereka tidak di ruangan yang sama. Baekhyun tetap bersama gadis berwajah China itu di ruangan Administrasi. Singkatnya, ada atau tidak sekeretaris tidak membawa pengaruh besar bagi Tuan Oh."

Luhan mendengus mendengar percakapan tentang Oh Sehun di kamar mandi. Tadinya Luhan merasa kesal karena Baekhyun memasukkan banyak saus dalam pasta pesanannya. Tapi sekarang ia bersyukur karena Baekhyun melakukan itu. Pasta pedas itu membuatnya punya alasan ke toilet dan mendengarkan gosip bodoh tentang Oh Sehun.

Ternyata sangat banyak yang menggemarinya, ternyata Luhan adalah orang beruntung yang terpilih menjadi istri Oh Sehun dan mengalahkan semua perempuan di kantor yang tidak begitu menanggapi keberadaannya selama ini dan hanya mengenalnya dengan panggilan 'Gadis berwajah China' itu.

Sekurang-kurangnya ada tiga atau empat orang gadis yang berbicara dengan antusias tanpa menyadari kalau Luhan berada dalam salah satu dari ke empat bilik yang tertutup. Mereka terus memuji Oh Sehun yang sepertinya menjadi topik pembicaraan hangat dan baru keluar mendekati jam makan siang. Setelah toilet benar-benar sepi Luhan keluar dan merapikan pakaiannya lalu kembali ke ruangan kerjanya.

Lagi-lagi yang di lihatnya adalah gadis Korea yang bernama Baekhyun tengah memperhatikan katalog- katalognya sambil memakan pasta pedas yang tadinya mereka makan bersama. Luhan mengelus perutnya sambil duduk di bangku kerjanya, masih terasa panas.

"Kenapa lama sekali?" Tanya Baekhyun, matanya masih tidak berpaling dari katalog-nya.

"Aku terjebak para penggosip di kamar mandi. Mereka membicarakan suamiku dengan santainya, mengatakan akan menggodanya tanpa rasa bersalah…"

"Kau kesal? Cemburu?" Baekhyun memotong. "Ini bukan pertama kalinya. Mereka selalu melakukan itu semenjak Oh Sehun memimpin DArE ,menggantikan Monsieur Fabius. Suamimu sangat di gemari para wanita lajang di kantor ini. Jadi kau harusnya merasa beruntung. Dan berhentilah merahasiakan pernikahan kalian."

"Ya, harusnya begitu. Aku yang terpilih."

"Benar. Seperti film laga yang sering ku tonton. Kaulah yang terpilih untuk memelihara mutiara kehidupan yang akan membantu nyawa banyak orang!"

Luhan tertawa mendengar kata-kata Baekhyun tentang film laga. Sejenak Luhan teringat keberadaan Sehun, dia belum kembali ke kantor juga. Padahal Baekhyun ada disini. Baekhyun sekertarisnya, kan? Luhan bahkan tidak bisa mengingat tentang Baekhyun yang ternyata adalah sekretaris suaminya. Jika tidak berada di kamar mandi, Luhan tidak akan mengetahuinya, ini juga berkat pasta pedas itu. Tanpa sang pasta, Luhan tidak akan menginjak kamar mandi hari ini. Luhan menarik piring pasta dan merampas garpunya dari Baekhyun kemudian memakan semuanya dengan lahap. Luhan sukses membuat Baekhyun terperangah.

"Hei Luhan, Bukankah kau sedang diet sehat? Kau ingin segera punya anak kan? Kenapa makan terlalu banyak makanan berbahaya seperti ini?" Baekhyun kembali merampas garpunya.

Luhan mengusap bibirnya yang berminyak dan termenung sekali lagi. Dia sedang diet sehat? Dia memang sedang Diet untuk pernikahannya, tapi apakah masih perlu? Bukankah dia sudah menikah? Dia sudah menjadi istri seorang laki-laki bernama Oh Sehun, laki- laki itu bahkan memerintahkannya untuk membeli gaun tidur. Luhan mendesah, ia akan bolos kerja hari ini untuk membeli gaun tidur.

Kali ini Luhan bangun lebih dulu di bandingkan dengan Sehun dan masih mengenakan gaun tidur yang di belinya dengan kartu kredit suaminya. Ia tidak bangun dalam keadaan tanpa busana seperti biasa. Mulai sekarang Luhan harus belajar untuk menghabiskan uang suaminya dan itu berhasil membuatnya tersenyum geli, Luhan sudah memulainya dengan membeli banyak gaun tidur.

Semalam, sebenarnya Luhan sudah menunggu Sehun untuk pulang. Ingin memulai kehidupan barunya dengan memperlihatkan beberapa gaun tidur yang di belinya di depan Sehun. Sayangnya ucapan Sehun tentang 'Sampai jumpa besok pagi!' itu benar-benar terjadi. Sehun bahkan tidak pulang sampai tengah malam hingga akhirnya Luhan lelah menunggu dan tidur lebih dulu. Entah jam berapa Sehun pulang semalam, yang jelas hari ini dia tidak akan kesiangan ke kantor karena ini adalah hari sabtu. DArE benar- benar tidak di buka saat weekend kecuali percetakannya.

Luhan memandangi Sehun yang menggeliat, ia sudah antusias bila Sehun segera terbangun, tapi nyatanya tidak. Sehun hanya berpindah posisi dan kembali terlelap dengan tenang. Sepertinya harus di bangunkan, Luhan mencari ide bagaimana ia bisa membangunkan Sehun dengan cara yang sopan.

Bagaimana bila menciumnya dan mengatakan 'Selamat pagi sayang?' Tidak, Luhan tidak akan melakukan hal konyol seperti itu. Tapi mengguncang tubuh Sehun dan memintanya bangun juga bukan hal yang berani dilakukannya. Pada akhirnya Luhan hanya memilih untuk mengamati Sehun dengan seksama sambil menunggunya terbangun. Oh Sehun adalah seorang pria yang berkulit putih dan halus. Luhan tidak menemukan noda apapun di wajahnya, laki-laki itu memiliki alis yang berwarna lebih gelap di bandingkan dengan rambutnya. Bibirnya mungil dan hidungnya mancung. Pipinya juga kemerahan, Sehun memakai sebuah anting di telinga kanan yang membuatnya tampak sangat berjiwa muda dan penuh semangat. Lehernya jenjang, bahu lebar dan dada bidang, lalu perutnya datar, Luhan bisa melihat itu karena Sehun tidur dengan bertelanjang dada, sebagian tubuhnya ada di balik selimut. Apa yang ada disana?

Bagaimanaaa… Luhan menggelengan kepalanya. Apa yang sedang di fikirkannya? Mengapa ia memikirkan hal itu? Luhan sedang berfikir apakah Sehun tidur tanpa pakaian sama sekali seperti sebelum-sebelumnya? Perlahan ia mengangkat selimut dan mengintip kedalam. Sehun mengenakan sebuah celana pendek dari Nylon Spandex yang fit di tubuhnya. Dia tidak telanjang, tidak seperti yang Luhan fikirkan.

"Apa yang sedang kau fikirkan?" Luhan mengerjap.

Ia segera menoleh kesumber suara dan melihat Sehun yang sedang memandangnya. Dengan cepat Luhan menarik selimut yang di angkatnya dan berkamuflase seolah-olah ingin menyelimuti Sehun dengan benda itu.

"Ku fikir kau kedinginan. Makanya aku ingin menyelimutimu. Kau sudah bangun?"

Sehun bangkit dan duduk dan meminta Luhan untuk bersandar si sebelahnya. Luhan melakukan apa yang di inginkannya, membuat Sehun mendapatkan kebahagiaan pernikahan yang di inginkannya. Sebelah tangannya mendekap bahu Luhan dengan santai.

"Aku lembur semalam, menyiapkan bahan untuk di cetak weekend ini. Apakah kau menungguku semalam?" Luhan mengangguk.

Ia sedang mencari perhatian, ingin menunjukkan betapa dirinya adalah seorang istri yang baik meskipun tidak mencintai suaminya.

"Aku ingin memperlihatkan gaun tidur yang ku beli kemarin."

"Aku sudah melihatnya satu."

Sehun lalu memandangi pakaian Luhan dengan senyum. Luhan sedang menggunakan gaun tidur yang terbuat dari sutra dan berwarna merah muda dengan bintik-bintik putih. Motif tutul yang lembut dari perpaduan warna yang juga lembut, baby pink dan putih membuatnya tampak manis.

"Ada kimononya?" Luhan menggeleng.

"Ini saja cukupkan? Untuk apa pakai lapisan luar lagi? Disamping harganya yang mahal, juga tidak berguna. Aku cukup nyaman memakai yang seperti ini, meskipun bagiku celana lebih baik. Tapi kau bilang aku harus membeli gaun tidur."

"Semuanya seperti ini?"

"Sedikit banyak ya…semuanya 85 cm, Aku memilih warna yang berbeda-beda dan…"

"Tidak usah di ceritakan." Potong Sehun. "Biar jadi kejutan saja nanti."

"Kau ingin melihatnya?"

"Aku akan melihatnya setiap kali kita akan tidur, dan ku harap setiap malam aku dapat suasana yang berbeda karena itu. Kau beli berapa banyak?"

"Tujuh, aku akan menggantinya setiap malam dan akan meminta uang kepadamu untuk beli yang baru setiap tiga atau empat bulan sekali agar dirimu tidak bosan. Aku juga mau mengganti pakaian dalam dengan yang lebih seksi untuk ku pakai saat tidur!"

Sehun tertawa. "Baju tidur sangat mempengaruhi gairahmu rupanya. Kau tau? Seharusnya kau tidak memakai apa-apa jika sudah mengenakan gaun tidur. Kalau ingin menggunakan pakaian dalam yang seksi juga pecuma. Tanpa itu istriku juga sudah cukup menggoda."

"Begitu ya? Aku tidak tau yang satu itu. Selama ini aku mengenakan pakaian dalam saat tidur." Luhan melirik ke dalam gaun tidurnya.

Sukses hal itu membuat Sehun tertawa lagi, Luhan sedang menggodanya dengan cara yang sangat manis. Dia tidak tau bagaimana cara menggoda laki-laki sesungguhnya. Tapi seperti yang Sehun bilang, Luhan sudah cukup menggoda tanpa harus melakukan apa-apa. Tentu saja begitu, karena selama ini Sehun hanya bisa memandangi tubuhnya dan menyentuh, membelai, tanpa melakukan hal yang lebih. Sehun hampir gila karena tidak bisa melakukan apa-apa kepada Luhan.

"Apa yang terjadi padamu?" Tanya Sehun sambil menyenggol bahu Luhan dengan lengannya.

"Aku hanya mencoba untuk menjadi istri yang baik."

"Benarkah, bagaimana caranya? Dengan menggodaku? Membicarakan tentang pakaian dalam yang seksi?"

"Katakan padaku, Apa yang kau inginkan untuk aku lakukan hari ini? apapun itu aku akan melakukannya."

Sehun menaikkan sebelah alisnya. "Benarkah? Termasuk seks?"


TBC


Kalau ada yang mau ditanyain tentang ff ini bisa lgsg pm seyeo. Maaf masih belum bisa bales review kalian satu-satu, karena chap 4 ini panjang banget. Jadi seyeo gak mau banyak cuap-cuap. Cuman mau bilang..

Review juseyoo..
Sama jangan lupa vote EXO di MAMA yaa...
Gomawooo :*:*