Tangan kanan Itachi yang menumpu bahu kursi sebelah kanan reflek terangkat untuk memijat pangkal hidungnya usai Zetsu menyampaikan hasil penyelidikannya. Meski dia sudah bisa menduga kalau terungkapnya siapa penyebab dari tidak stabilnya laju kematian di dunia manusia hanya dalam waktu beberapa hari saja, tapi entah untuk alasan yang bagaimana tubuhnya justru shock mendapati ketepatan tebakannya. Mungkinkah kalau jauh di dalam lubuk hatinya, dia masih belum siap mendengar kabar tersebut?
Berbagai reaksi, sekalipun itu minim dapat dilihat pada wajah tiap-tiap peserta rapat yang dihadiri oleh seluruh ketua divisi Shinigami Association.
"Rupanya benar seperti yang telah di gariskan." Kisame mengakhiri komentarnya dengan kekehan kecil.
"Kalau sudah seperti itu apa kita juga harus menuruti apa kata ramalan?'' Tanya Sasori serius. Lelaki itu tampak ingin segera mengetahui langkah selanjutnya. Tentu saja dia sudah bosan menunggu penyelesaian dari masalah yang telah berlangsung lima tahun lamanya ini.
Semua ketua divisi yang menamakan diri mereka Akatsuki tersebut menoleh pada Pein selaku ketua mereka.
"Aku tidak ingin kita salah langkah seperti kejadian Madara lima abad silam."
Berbagai respon persetujuan kembali di tunjukkan kesembilan anggota akatsuki yang lain dengan bahasa tubuh masing-masing. Seperti Kisame dan Tobi yang menganggukkan kepalanya, Hidan yang menyeringai kecil atau sekedar diam tak bersuara seperti sisa dari tiga yang sudah terlihat. Kecuali Itachi yang masih berkutat dengan batinnya atau dengan Deidara yang justru memicingkan mata tak suka. Seolah pemuda itu ingin menuntut lebih dari sekedar mengikuti cara yang telah ramalan tentukan. Namun dia cukup sadar akan datangnya tentangan dari semua anggota Akatsuki apabila pendapatnya ia keluarkan.
Tapi sungguh, Deidara benar-benar sudah tidak tahan lagi untuk tidak bertindak. Ramalan hanyalah ramalan. Perbuatan Uchiha Sasuke sudah terhitung sangat kelewatan dan dia ingin segera menghabisi si Uchiha pembuat onar itu karena dia tahu apa keputusan yang ada di otak Pein.
Akhirnya dengan bermodalkan kenekatan dan mengabaikan penolakan yang pasti akan di terimanya, dia memutuskan untuk tetap mengutarakan sanggahannya, "Tapi ini sudah terlalu lama. Kalau menuruti apa kata ramalan dengan mengharuskan Hideaki untuk mengakhiri semua ini maka kekacauan akan menjadi semakin tidak terkendali."
Semua perhatian tiap kepala yang duduk melingkari sebuah meja bundar di tengah-tengah ruang kerja Pein—tempat rapat diadakan—serempak mengarah pada Deidara. Namun sekali lagi, minus Itachi yang meski kini tangan kanannya sudah lagi tidak menggantung di pangkal hidungnya, dengan kepala tertunduk, dia tetap tidak mengurangi keselarasan kerja indera pendengaran dan otaknya untuk memperhatikan keadaan di sekelilingnya.
"Deidara benar." Suara Orochimaru yang turut muncul membuat seluruh atensi Akatsuki berganti terpusat padanya.
"Lagipula kecurangan yang Sasuke lakukan sudah berjalan cukup lama. Sedangkan Hideaki saja sepertinya belum siap baik fisik maupun mental untuk melaksanakan keharusannya. Kita harus bertindak untuk segera mengakhiri semua ini." Lanjut Orochimaru yang dituntaskan dengan sebuah saran. Dari tempatnya, mata Deidara melirik Orochimaru yang duduk di sebelah kirinya dengan kilat licik. Berbalas pula dengan seringai kecil Orochimaru dari balik tangan kiri yang menumpu dagunya.
"Bagaimana menurutmu Pein?" Konan melempar keputusan pada lelaki yang berada di sebelah kanannya.
"Aku memang tidak suka menunggu tapi dengan apa yang kalian berdua katakan, maaf aku tidak bisa untuk tidak mengabaikan ramalan. Kita sudah melakukan sekali kesalahan." Tolak Sasori halus tanpa perlu menunggu Pein menjawab pertanyaan Konan sembari melempar tatapan tajamnya pada Deidara dan Orochimaru yang duduk tepat di seberang kursinya.
Deidara menggeram pelan. Dia tidak menyangka bahwa penolakan yang dikira hanya akan datang dari Pein seorang rupa-rupanya juga diutarakan oleh Sasori. Padahal dengan harapan tinggi, dia berharap bahwa salah satu ketua divisi penyerangan yang sangat dia hormati itu pun mendukungnya. Mengingat bahwa motto Sasori yang tidak suka menunggu, dia sangat yakin bahwa selama lima tahun ini, Sasori juga pasti sudah tidak sabar untuk segera menghabisi dalang dari semua masalah yang terjadi.
"Sasori Senpai benar. Begini saja, untuk mencegah agar Sasuke tidak berulah, bagaimana kalau dia di masukkan ke pengasingan? Secara otomatis dia di berhentikan sementara dari semua tugasnya." Usul Tobi ceria. Lelaki satu ini memang selalu memiliki mood baik di segala suasana. Dia terlihat tidak terpengaruh dengan aura serius yang melingkupi jalannya rapat bertema berat ini.
Deidara menyipitkan mata tak suka pada Tobi yang tengah menunggu respon Pein. Demi apapun, dia sungguh tidak menyukai semua anggota klan Uchiha! Tersirat jelas sekali bahwa lelaki itu mengajukan pembelaan untuk Uchiha Sasuke dari ucapannya. Ikatan persaudaraan Uchiha sangatlah kuat dan itu membuat Deidara ingin sekali muntah!
Tidak akan dia biarkan Sasuke menghirup udara lagi. Dia harus memenangkan rapat ini. "Pengasingan sementara itu menunggu apa? Kenapa tidak di jatuhi hukuman langsung saja?"
Tobi mengalihkan matanya kepada Deidara. Senyumnya yang tadi masih belum hilang walau nada bicara Deidara tadi sedikit meninggi. "Bukti yang ada belum sepenuhnya benar mengarah pada Sasuke. Sampai semua bukti-bukti tersebut lengkap maka barulah Sasuke bisa dijatuhi hukuman."
Darah Deidara mulai terasa semakin panas. Dia menghembuskan napasnya keras. "Apa catatan pekerjaan Sasuke selama tiga tahun berturut-turut di tambah hasil rekaman Soulmeter setahun terakhir belum cukup?"
"Tentu saja." Tobi menaikkan kedua alisnya.
"Ingat kejadian pembunuhan berantai selama sepuluh hari di Vietnam enam bulan lalu yang juga mempengaruhi Soulmeter? Sasuke tidak bertugas untuk mencabut nyawa orang-orang tersebut. Pada hari itu dia sedang libur dan shinigami yang bertugas pada kejadian itu adalah Suigetsu. Kita harus mengkaji lebih dalam dan tidak bisa sembarangan menuduh." Jelas Tobi lagi.
Kedua tangan Deidara yang berada di atas meja mengepal erat. Dia tidak tahu atas dasar apa keyakinannya ini, tapi insiden pembunuhan berantai enam bulan lalu itu adalah ulah Sasuke juga menurutnya. Pasti lelaki itu bekerja sama dengan Suigetsu. Uchiha selalu punya seribu satu cara untuk mendapatkan keinginannya.
"Aku setuju dengan usul Tobi." Akhirnya Itachi angkat suara.
"Aku bukan tengah membela adikku dan kurasa Tobi pun juga tidak sedang melindungi anggota klannya tapi bukti-bukti yang ada memang belum lengkap." Deidara merasa ucapan serta sorotan kedua bola mata Itachi yang menghadap langsung padanya itu seolah menohok kerongkongannya. Mencegah telak dirinya untuk kembali berdebat. Decihan pelan Deidara hanya dapat Orochimaru seorang dengar yang langsung membuat lelaki ular itu mendenguskan tawa mengejeknya sekali. Kekalahan sudah ada di depan mata pemuda tersebut.
"Setelah ini aku akan mempersiapkan Hideaki." Kata Itachi yang kali ini tengah menyoroti Pein.
"Baiklah. Uchiha Sasuke akan di tahan sementara sampai bukti-bukti yang ada benar-benar jelas. Divisi penangkapan akan segera bertindak setelah surat perintah dari nona Tsunade kukirimkan." Ujar Pein dengan fokus mata terarah pada Deidara yang notabenenya adalah ketua divisi penangkapan.
Deidara menggertakkan giginya. Rapat dimenangkan oleh kubu Uchiha. Namun itu tidak masalah. Peribahasa ada udang di balik batu memang benar-benar cocok untuk menggammbarkan situasi yang sebenarnya, karena di belakang sikap menentang Deidara, sesungguhnya kini dia tengah tertawa puas atas keberhasilan rencananya dan Orochimaru. Tujuannya yang asli memang untuk menekan Itachi.
"Akting yang bagus." Bisik Orochimaru yang tengah tersenyum kecil di atas wajahnya yang menunduk.
"Terima kasih atas pujiannya." Balas Deidara dengan bisikan juga.
Begitu suara kursi yang bergeser ramai memenuhi seluruh penjuru ruangan tanda rapat telah berakhir, seorang bocah laki-laki berambut berantakan turut serta berlari meninggalkan pintu coklat di belakangnya sebelum menampakkan sosok Hidan yang pertama kali keluar dari sana.
Naruto by Masashi Kishimoto
The Fiction by Sakura Hanami
.
.
.
.
Uchiha Crisis
.
.
.
.
Warning: Alur lambat, No Romance,
AU, Rate M buat jaga-jaga, No Lemon, Miss Typo(?)
Genre: Crime, Fantasy, Mystery, Gore, Action
.
.
.
Uchiha Sasuke & Haruno Sakura
With My Original Character:
Uchiha Hideaki
.
.
.
Sequel of Shinigami Mate
.
.
.
Happy Reading, Hope You Like It
And
Please Your Review^^
Shizune menghela napas pelan usai pen di pegangan tangan kanannya berhenti menulis laporan perkembangan kesehatan Uchiha Sakura. Kedua iris hitam sewarna rambut pendeknya ikut menyipit sedikit berkat kedua sudut bibirnya yang tertarik berlawanan saat memandang Sakura yang masih betah berada di alam bawah sadarnya.
"Cepatlah bangun Sakura. Tidakkah kamu kasihan padaku mengurus rumah sakit sendirian?" Tanya sekaligus goda Shizune sambil membelai kepala pink wanita yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri itu.
Karena selalu tidak adanya jawaban dari orang yang diajak biacara, maka Shizune pun tanpa sadar juga selalu membayangkan sendiri bagaimana tanggapan Sakura atas semua hal yang dia katakan. Termasuk dengan saat ini. Tawa pelannya meluncur begitu imajinasi wajah cemberut Sakura atas candaannya tadi timbul di benaknya.
"Jangan ngambek begitu, Sakura. Aku kan cuma bercanda." Namun tetap saja, kenyataan selalu menamparnya. Meski kini pun dia tengah mengimajinasikan Sakura tengah tersenyum manis sambil mengatakan 'aku tahu kok Shizune-san', tapi apa yang kini dia lihat membuat hatinya bagikan tercubit. Senyum tulus di wajahnya pada menit yang terlewat kini telah bertransformasi menjadi sebuah senyum miris.
"Besok aku akan datang lagi dan kuharap aku dapat melihat kedua kelopak matamu terbuka." Shizune menyempatkan diri untuk membenahi selimut wanita itu sebelum pergi dari sisi tempat tidurnya.
"Terima kasih, Shizune-san." Shizune sedikit terkejut saat mendengar suara berat seorang lelaki sebelum matanya mendapati sosok pemilik suara tersebut. Berdirilah Sasuke di depan pintu coklat kamar tempat Sakura berada yang kini tengah di tutupnya .
Entah sejak kapan suami Sakura itu telah berada di sana. Tapi Shizune tidak ingin bertanya karena menurutnya, lelaki Uchiha itu memang sengaja menunggu proses pemeriksaannya terhadap Sakura selesai. Alasan yang tidak bisa dibilang benar, tentu saja. Tapi kehadiran Sasuke selalu di tempat yang sama menguatkan dugaannya.
Mengabaikan hal tersebut, dia lebih memilih untuk tersenyum dan menyapa balik, "Sasuke-san selamat pagi. Aku sudah selesai dengan tugasku dan kamu sudah bisa menemui Sakura di dalam. Keadaannya tetap baik seperti biasa."
Dalam satu kali tarikan napas, wanita itu berhasil menuntaskan sapaan dan laporannya. Dia juga selalu melakukan itu tanpa Sasuke perlu bertanya.
"Hn. Terima kasih."
Shizune menganggukkan kepalanya sekali, "Baiklah. Aku permisi dulu—"
"Sebentar."
Shizune mengerjab tak percaya atas ucapan Sasuke yang memotong cepat pamitannya sekaligus mencegahnya untuk melangkahkan kaki pergi. Wanita itu tidak hanya sekedar terpana, tapi kini kerutan di keningnya mulai muncul begitu dia melihat tangan Sasuke yang menyodorkan sebuah silinder berisi cairan merah kehitaman padanya.
"Tolong suntikkan ini pada Sakura pada saat bulan purnama dua hari lagi tepat di pukul dua belas malam."
Walau heran, tapi Shizune tetap menerima silinder itu, "Apa ini?"
"Obat untuk Sakura."
Kedua bola mata Shizune melebar. Dia ingat pembicaraannya dengan Sasuke seminggu lalu tentang obat yang tengah lelaki itu buat, "Jadi ini obat yang kamu maksud bisa menyadarkan Sakura?"
Sasuke mengangguk.
"Yokatta. Semoga obat ini benar-benar berhasil."
Sasuke tersenyum tipis, "Semoga saja."
Tiba-tiba saja Shizune teringat satu hal lagi. Keheranannya kembali muncul untuk alasan yang berbeda. "Tapi kenapa aku yang harus melakukannya? Kenapa bukan kamu sendiri seperti biasa? Aku kan cuma mengawasi."
Sasuke terdiam. Ekspresinya kembali ke ciri khasnya, datar. Dalam waktu beberapa menit dihabiskannya untuk menatap Shizune dengan sorot yang tidak jelas. Seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tertahan oleh hal lain yang membuatnya tak mampu bersuara. Pada akhirnya, hanya inilah yang bisa dia utarakan, "Tolonglah, Shizune san."
Shizune menghela napas. Dia sempat melupakan sifat Sasuke yang memang kesulitan dalam menyampaikan apa yang ada di dalam pikirannya. Termasuk alasan di balik permohonannya ini. Lagi-lagi Shizune hanya dapat berspekulasi dengan mengesampingkan firasat tak enak sepintas yang mampir di hatinya, bahwa lelaki itu pasti sedang sibuk dua hari ke depan sehingga memintanya untuk menyuntikkan obat yang entah sudah keberapa di buatnya kepada istrinya.
"Baiklah baiklah. Aku akan melakukannya untukmu."
Kepala berambut unik Sasuke mengangguk sekali, "Terima Kasih."
Shizune tersenyum, "Aku pamit dulu ya. Ada yang harus aku lakukan di rumah sakit. Sampai jumpa Uchiha-san."
Tanpa Shizune tahu, bahwa sesungguhnya firasat tak enak yang sempat dia rasakan juga Sasuke rasakan. Karena itu dia mempercayakan amanat tersebut kepada wanita tersebut. Sama seperti kakaknya, Sasuke meyakini bahwa firasatnya selalu benar dan dia pun yakin akan terjadi sesuatu padanya dua hari setelah hari ini.
Deidara menggebrak meja kerjanya usai membaca surat perintah penangkapan Uchiha Sasuke dari nona Tsunade selaku pemimpin Shinigami Association yang Konan antarkan padanya.
Isi surat perintah itu benar-benar tidak bisa diterima akalnya. Uchiha Sasuke seharusnya di tangkap untuk di hukum mati, bukannya malah di tangkap untuk sekedar diamankan. Bagaimanapun kelakuaannya sudah keterlaluan.
Kenapa bisa begini? Kenapa semuanya masih menaruh simpati padanya? Kenapa semuanya masih peduli dan mempertahankan seorang Uchiha bejat sepertinya?!
"Semua ada waktunya, Deidara. Aku kan sudah bilang padamu untuk bersabar." Ujar Orochimaru yang duduk di sofa putih Deidara dengan tenang.
"Tidak bisa." Geramnya.
Orochimaru menaikkan satu alisnya.
"Aku tidak bisa membiarkan ini. Aku harus memberinya pelajaran. Aku harus menghabisinya." Lanjut Deidara dingin.
Otak Orochimaru mulai berhipotesa atas ucapan Deidara. Berbagai kemungkinan bermunculan. Tapi hanya satu yang mengarah tepat pada maksud tersembunyi dari perkataan Deidara. "Kamu mau apa? Membunuhnya?"
Deidara mengangkat wajahnya yang tertunduk. Tatapan nyalangnya dia arahkan pada Orochimaru yang justru menatapnya dengan pandangan yang berbanding berbalik dengannya. Iris berpupil vertikal Orochimaru penuh pertanyaan.
"Aku sudah tidak peduli lagi. Aku muak dengannya!"
Orochimaru mengerutkan kening tak suka. Dia menggelengkan kepalanya pelan. "Jangan Deidara. Rencana kita sudah semakin dekat. Ingat, kita sengaja menekan Itachi untuk segera mematangkan kemampuan Hideaki. Biarkan anak itu yang melakukannya."
Deidara menyeringai, "Jadi intinya kamu menuruti ramalan itu?"
"Aku sama dengan yang lainnya. Aku juga tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi di masa yang akan datang." Tukas Orochimaru tegas.
Pemuda berambut pirang itu tertawa sinis, "Kukira tidak."
Kedua bola mata Orochimaru mendelik tak percaya begitu menyadari suatu hal. Dia berdiri dari duduknya, "Jangan bilang kalau kamu tidak peduli dengan semua itu."
"Eeee...! Kamu baru sadar? Sudah terlambat kalau ingin menghentikanku." Tawa Deidara bertambah keras setelahnya.
Orochimaru menyipitkan mata tajam. Dia melangkah cepat menuju meja kerja Deidara, tempat di mana pemuda itu mendudukkan diri di kursinya yang berada tepat di balik meja tersebut. Tawa Deidara berhenti sepenuhnya berkat kerah bajunya yang Orochimaru tarik.
"Aku akan menghabisimu di sini kalau kamu tidak bisa diajak bekerja sama."
Bukannya takut ataupun bertambah marah melihat wajah keras Orochimaru serta sikap kasar lelaki itu padanya, entah karena alasan apa ekspresi lelaki itu justru berhasil membuat Deidara terkekeh geli. "Kenapa serius sekali sih? Aku kan cuma bercanda."
Deidara menampik tangan Orochimaru dari kerah bajunya. Pemuda pirang itu masih saja terkekeh sambil merapikan pakaiannya yang berantakan tanpa mempedulikan tatapan menuntut penjelasan lebih yang Orochimaru layangkan.
"Walau aku tidak ingin mengikuti ramalan dan ingin sekali menghabisinya, aku juga sadar. Jadi jangan menatapku seperti itu, Orochimaru-sama."
Tatapan tajam Orochimaru sedikit melunak. Namun setengah hatinya masih tidak mempercayai kata-kata yang mulut Deidara ucapkan. Karena...
"Kamu bukan orang yang suka bercanda seperti Tobi."
...Itulah faktanya dan Orochimaru cukup tahu bahwa sekalipun Deidara tertawa seperti tadi, namun itu bukanlah tawa candaan. Deidara selalu serius terhadap semua perkataannya.
"Awas saja kalau kamu bertindak macam-macam. Pada saat itu aku tidak akan segan-segan untuk menghabisimu."
Deidara mengangkat jari telunjuk dan jari tengah kanannya, "Aku janji."
Seringai di wajah Deidara tidak Orochimaru lihat karena pemuda itu baru menunjukkannya saat dia menghilang dari hadapan Deidara. Dua jari tangan Deidara berubah saling menyilang tanpa perlu repot-repot diturunkannya.
"Sayangnya aku tak bisa janji untuk tidak menghabisi Uchiha Sasuke karena dia pasti tidak akan mau begitu saja ditangkap seperti yang surat perintah utuskan padaku."
Suara tawa Deidara memenuhi seluruh sudut-sudut ruang kerjanya yang sepi walau dalam volume pelan seperti sekarang ini.
"Aku memang pandai berakting rupanya."
Hideaki tidak begitu mendengar gurunya bercerita tentang perang antara Konoha dengan Suna tiga abad silam. Pikirannya hanya tertuju pada pembicaraan anggota Akatsuki yang tidak sengaja di dengarnya kemarin malam.
Niatnya hanya ingin kembali ke kamarnya sendiri setelah seharian menemani ibunya dengan melewati jalan memutar. Tapi saat langkahnya sampai di depan ruang pemimpin Akatsuki yang ternyata sebagai tempat di langsungkannya rapat, dia justru mendengar sesuatu yang mengejutkan.
Tentang kakek buyutnya, Uchiha Madara. Soal ramalan dan juga takdirnya. Semua itu membuatnya bertanya-tanya pusing. Perihal kakek buyutnya, setidaknya dia tahu Madara yang mati karena bertarung habis-habisan dengan Hashirama Senju, pemimpin pertama Konoha, hanya karena masalah kekuasaan. Tapi itu sudah masa lalu. Sekarang kekuasaan bukanlah prioritas utama klan Uchiha lagi.
Tapi apa yang dia dengar kemarin malam itu seperti ada kisah lain dari kakek buyutnya yang sengaja di sembunyikan oleh orang-orang penting Shinigami Association. Lalu soal ramalan, ramalan apa yang sampai menyinggung-nyinggung namanya? Kemudian takdirnya. Takdir seperti apa yang sampai di ketahui oleh orang-orang asosiasi namun kenapa tidak dia ketahui?
Apa yang sebenarnya terjadi? Lebih dari itu, apa yang sebenarnya akan terjadi?
Sikutan pada lengan kanannya menyadarkan Hideaki dari lamunannya. Ditolehkan kepalanya ke samping kanan, arah dari mana sikutan itu datang. Raut wajah khawatir Uzumaki Hikari lah yang kedua iris emeraldnya dapati di sana.
"Kamu kenapa Hideaki kun? Dari tadi kupanggil tidak menyahut."
Hideaki mengerjab sekali. Berusaha mengembalikan seluruh kesadarannya.
"Ada apa?" Tanyanya tanpa menggubris pertanyaan anak perempuan berambut pirang itu.
Gadis itu mencibir sedikit. Rasa kesal kerap menghampirinya meski dia tahu kawan sepermainannya itu rajanya cuek terhadap apapun. "Aku pinjam pensilmu. Punyaku patah."
Hideaki menyerahkan satu pensil yang dia miliki pada gadis kecil itu. Pada saat itulah matanya tak sengaja menangkap buku tugas Hikari yang terbuka.
"Apa yang sedang kamu kerjakan?"
Tangan Hikari terhenti di udara selaras dengan kedua alisnya yang terangkat karena pertanyaan Hideaki. Dia menoleh pada si penanya sambil memamerkan ekspresi herannya, "Tentu saja mengerjakan tugas di papan tulis. Memang kamu kira apa?"
Hideaki memutar kepalanya ke arah papan berwarna putih di depan sana. Sejurus kemudian, terdengar suara helaan napasnya. Ternyata pikirannya benar-benar sedang tidak berada di tempat ini. Lain waktu dia tidak boleh melamun lagi. Hideaki pun menggerakkan tangannya untuk membuka buku tugasnya.
"Kalau ada yang tidak dimengerti kalian bisa bertanya."
Gerakan tangan Hideaki yang menyalin soal dari papan tulis terhenti begitu saja setelah mendengar perkataan Moegi sensei. Entah bagaimana dia bisa langsung mengacungkan telunjuk kanannya tanpa berpikir panjang terlebih dahulu mengenai hal yang ingin dia tanyakan sama sekali tidak menyinggung pembahasan mengenai perang Konoha dan Suna. Apa yang berkecamuk di dalam otaknya harus mendapatkan jawaban segera. Ini sangat mengganggunya karena membawa-bawa dia dalam suatu kisah yang dia tidak tahu faktanya.
"Ya? Apa yang mau kamu tanyakan Uchiha-san?"
Hideaki menurunkan tangannya. Mulutnya belum terbuka. Masih menimbang apakah perlu atau tidak dia menanyakan masalah ini. Berpasang-pasang mata penuh rasa penasaran semua penghuni kelas 5-A terarah padanya yang masih terdiam.
"Uchiha-san?" Panggil Moegi sensei.
"Ano...Boleh aku menanyakan pertanyaan di luar perang antara Konoha dan Suna, sensei?"
Moegi terlihat terkejut juga heran. Namun, walau begitu tetap saja dia menganggukkan kepalanya. "Boleh saja. Soal apa yang ingin kamu tanyakan?"
Dengan satu tarikan napas untuk memantapkan hati, Hideaki memulai sesi keingintahuannya, "Apakah ada yang dilakukan Uchiha Madara selain dengan bertarung dengan Hashirama Senju semasa hidupnya dulu?"
Kalau seluruh teman-temannya memasang tampang heran begitu mendengar pertanyaan Hideaki, berbeda sekali dengan Moegi yang justru menegang. Sebagai mantan seorang shinigami, walau dia lahir di waktu yang jauh berbeda dengan waktu saat Madara masih hidup dulu, tentu saja dia tahu apa yang Hideaki tuntut jawaban darinya karena kisah fenomenal seorang Uchiha Madara kerap kali di dengarnya ketika masih bekerja untuk Shinigami Association.
Hari sudah menjelang tengah malam. Pukul sepuluh lebih tiga puluh menit lebih tepatnya. Waktu di mana Sasuke baru saja kembali ke kamarnya dari kegiatannya yang berkutat penuh di laboratoriumnya.
Semua masih sama. Termasuk dengan keadaan Sakura yang masih tetap terbaring di ranjangnya. Koreksi, ranjang mereka berdua karena Sasuke sengaja ingin merawat Sakura dengan tangan dan tenaganya sendiri. Wanita itu tetap tidak bergerak. Tak ada ubahnya.
Lampu kamarnya sengaja di padamkan Hideaki. Anaknya itu pasti menyempatkan diri untuk menemani ibunya sepulang sekolah sampai pukul dua belas malam. Kini jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari dan pasti anaknya itu sudah kembali ke kamarnya. Sumber penglihatan selalu di dapat dari cahaya lampu balkon yang memang sengaja tidak ikut di padamkan.
Semua tetap sama. Namun meski kelihatannya begini, mata Sasuke tidak dapat ditipu oleh sihir kamuflase yang seorang pemuda berambut pirang pakai untuk menyamarkan kehadirannya dengan memanfaatkan kondisi minim cahaya kamar ini. Sharingan yang dia aktifkan begitu menyadari aura orang lain selain Hideaki di kamarnya tidak dapat menyembunyikan apapun yang dilihatnya. Ketua divisi penyergapan Shinigami Assosiation tengah berdiri memunggungi pintu masuk. Berdiri tepat di samping istrinya tidur.
"Lancang sekali seorang dengan jabatan tinggi sepertimu masuk ke kamar pribadi orang lain."
Dalam mata Sharingan Sasuke, Deidara menoleh sedikit dari bahu kirinya. Pemuda itu tersenyum. "Ah, maaf. Aku tidak ingin mengagetkan anakmu."
Sosoknya yang transparan perlahan-lahan terlihat. Seiring dengan nampaknya tubuh Deidara, Sasuke pun menonaktifkan Sharingannya. Dengan catatan tetap tidak mengurangi tingkat kewaspadaannya. Bagaimanapun, seseorang yang telah masuk ke wilayah pribadinya bukanlah orang yang tanpa ada maksud tertentu.
"Sejak kapan dan ada perlu apa?"
Tangan kanan Deidara bergerak mengeluarkan selembar kertas dari balik saku mantel dalam sebelah kirinya.
"Sejak pukul sembilan."
Kedua alis Sasuke bertaut begitu membaca sebaris tulisan besar di bagian paling atas kertas yang Deidara pamerkan.
"Aku mendapat surat perintah untuk menangkapmu dengan tuduhan telah mengacaukan sistem kematian dunia manusia."
Author Note:
Alohaaa?!
Kita berjumpa lagi dalam kurun waktu yang lumayan singkat dari chapter kemarin XD #fufufufu.
Aku sudah memasuki libur sekolah jadi waktu buat ngetik juga banyak. #hore!
Wah wah...Aku paling suka baca setiap review kalian. Ga nyangka kalo responnya kaya gini XD
Hahahaha.
Nah ya, gimana dengan chapter kali ini? Makasih udah merasa puas dan suka chapter kemaren. Untuk modusnya Deidara dan Orochimaru masih belum aku beberkan (?) di chapter ini. Kapan? Hahaha, mari dinikmati saja kawan kawan semua XD
Yap, review? Review kalian semangatku lho ;)
Jaa ne.
Salam,
Sakura Hanami
Special Thanks To:
-Hideaki
-Zoey
-YoruChan Kuchiki
-Ran-Chan UchiHaruno Eternal BeSome's
-leak
-sasusaku lover
-tohko ohmiya
-BronzeQueen18290
-sonedinda
-Alifa Cherry Blossom
-hanzono yuri
-Romy Yuhardiansyah (elek) #haha
-Harry Borrison
-berjep45201
-oku manami
-lolitadol
-Hima Sakusa-chan
-Pinky Blossom
-semua yang udah komen tapi ga kesebut (gomen ne)
-silent rider
-yang offline
Makasih semua :D #ojigi
