WEDDING MASK

Naruto © Masashi Kishimoto

Dark Silverous Proudly Present

The SasuSaku FanFiction

Enjoy!

.

.

Sasuke, kau tahu?

Rambutmu aneh, sifatmu dingin dan kau itu sama sekali gak menyenangkan untuk diajak bicara.

Kenapa banyak yang suka kamu, sih?

(Sakura to Sasuke)

.

.

.

"Sakuraaaaaa! Makaaaan!" pekik Mebuki saat melihat sosok Sakura turun dari tangga menuju lantai bawah. Kedua iris matanya menangkap sosok sang anak yang kini tengah memakai kaos kedodoran serta celana pendek di atas lutut. Sambil mengusap-usap wajahnya, Sakura pun segera berjalan menuju dapur.

Melihat sosok sang anak, ingatan Mebuki pun kembali berputar cepat kembali ke waktu beberapa saat lalu.

Saat dimana ia melihat sosok Sakura yang baru saja pulang membawa koper dengan wajah terlipat sepuluh. Sejenak, Ia mengkerutkan wajah bingung. Apa Sakura bertengkar lagi dengan Sasuke?—pikiran itulah yang pertama kali muncul di dalam otaknya saat melihat keadaan Sakura saat itu.

Kalau membicarakan soal Sakura dan Sasuke sih memang tidak aka nada habisnya. Mebuki sangat hapal betul akan tabiat kedua anak itu. Sejak dulu mereka memang tidak pernah akur, selalu bertengkar, dan tidak ada satu pun di antara mereka yang mau mengalah. Itu dulu. Saat dimana mereka masih kecil. Mau Sakura dan Sasuke betengkar, cakar-cakaran sampai gulung-gulung Mebuki tidak akan peduli. Karena Mebuki tahu, dibalik sikap mereka yang seperti itu, Sakura dan Sasuke sangatlah akrab.

Kembali ke masa sekarang. Kalau membicarakan soal hubungan pertengkaran antara Sakura dan Sasuke, masalah ini sudahlah lain.

Atmosfernya sudah beda. Mereka bukanlah lagi anak ingusan yang selalu mementingkan ego masing-masing. Mereka akan membangun sebuah hubungan ke jenjang yang lebih tinggi. Apakah pantas kalau mereka masih bersikap seperti layaknya anak kecil?

Secara, Sasuke dan Sakura 'kan sudah hampir menikah. Bisa bahaya kalau sampai ada suatu masalah terjadi di antara mereka, bukan?

.

.

Sakura, kembali muncul dengan raut muka horror setengah lemas. Ia memegangi perutnya dan wajahnya terlihat sangat pucat. "Kaa-san, mau muntah," katanya seperti anak kecil pada ibunya saat ia ingin pipis sembarangan.

Kizashi—ayah Sakura melipat koran yang tengah dibacanya saat ini seraya memperhatikan anak semata wayangnya. Kedua iris matanya menatap Sakura dengan pandangan penuh selidik. "Kenapa, Sakura?" tanyanya angkat bicara.

"Entahlah, Tou-san, sejak tadi aku merasa mual," jawab Sakura dengan suara parau. Ia kembali membekap mulutnya seraya berlari menuju wash toffel di ujung dapur—memuntahkan apa yang bisa ia muntahkan.

"Makan dulu, Sakura, kau belum makan sejak kemarin," kata Mebuki sambil mempersiapkan roti berselai strawberry kesukaan anaknya itu. Ia melirik anaknya dengan wajah heran.

"Tidak. Aku tidak napsu makan," kata Sakura sambil berjalan menjauh. Tidak diindahkannya sebuah roti berselai kesukaannya yang terhidang di atas piring putih kesayangannya itu.

"Kau pusing?" tanya Mebuki dengan wajah menyelidik.

Sakura menganggukkan kepalanya pelan.

"Perutmu melilit?"

Sakura mengangguk lagi.

"Diare?"

Sakura menggeleng. "Cuma mual, badan dan perutku sangat tidak nyaman, juga hanya pusing saja," jawab Sakura seraya kembali melangkahkan kaki-kaki jenjangnya naik menuju ke lantai atas. Untuk saat inI, yang ia butuhkan hanyalah beristirahat.

Mebuki dan Kizashi mengerutkan alis sejenak saat melihat tingkah laku anak mereka.

"…"

"…"

Hening.

"…"

"…"

"Aku akan punya cucuuuu~" Mebuki mendadak bangkit dengan penuh sukacita dan entah dari mana bunga-bunga mawar berguguran di belakangnya dengan efek cahaya dari sudut kemiringan 30 derajat.

Stop, itu dramatis.

Yang pasti Mebuki sedang menghayalkan Sakura, Sasuke dan seorang cucu mungil dengan perawakan tampan dan suara lucu yang memanggilnya, "Nenek! Nenek!"

Rambutnya hitam seperti Sasuke dan matanya hijau berbinar seperti Sakura. Atau malah akan seperti Sasuke kecil? Entahlah.

"Anak muda memang hebat," gumam Mebuki sambil tersenyum misterius. "Bukan begitu—eh? Mau apa kau?" pekik Mebuki saat melihat suaminya tengah berlari menuju ruang tamu dan mengambil sebuah benda panjang dari lemari kaca.

"…"

"…"

"Sialan kau Sasuke Uchihaaaaa! Akan kubunuh kauuuuuuu karena sudah menghamili anakkuuuu!" teriak Kizashi penuh amarah sambil berlari menerobos keluar rumah dengan sebilah samurai yang ia letakkan di bahu seraya ia genggam erat-erat.

Jangan tanya kenapa Kizashi yang cuek kini marah pada Sasuke. Gini-gini Kizashi sangat menyayangi Sakura. Walau sangat jarang ditunjukkan.

Mebuki membelalakan mata tidak percaya atas tindakkan suaminya. "Suamiku! Sasuke tidak salaaaaah! Dia membuatkan seorang cucu untuk kita!" teriak Mebuki panik, lalu berlari mengejar suaminya menuju rumah keluarga Uchiha—melarangnya untuk mencincang orang yang sudah bekerja sangat baik.

Sementara Sakura? Dia sudah kembali terlelap dalam bunga tidurnya sehingga ia tidak tahu apa-apa.

.

.

.

"Kizashi—"

Sapaan yang sudah singkat dari kepala keluarga Uchiha itu harus semakin dipersingkat karena Kizashi—tetangga sekaligus sahabatnya sudah menerobos masuk ke dalam kediamannya dengan mata merah bersinar—dan apa itu? Samurai?

"Haruno-san, ada—"

"Mana Sasuke?!" tanya Kizashi dengan tatapan garang dan napas memburu. Kali ini bukan hanya Fugaku yang kata-katanya dipotong, tapi juga Mikoto.

Mikoto menatap heran tetangga sekaligus calon besannya itu. Ia jadi merasa takut. Tapi nyatanya ia tetap memanggil Sasuke dengan lembut dari lantai bawah. Lalu, setelah itu Sasuke pun turun dengan mata merah dan kaos lecek.

"Ada apa?" tanya Sasuke sambil menggaruk-garuk lengan tangannya yang berbekas gigitan nyamuk. Lehernya bahkan jadi sasaran nyamuk-nyamuk di perjalanannya pulang ke rumah tadi pagi.

"…"

"…"

Kedua iris mata Kizashi membelalak lebar saat mendapati tanda-tanda merah di sekujur tangan dan juga leher Sasuke. "KURANG AJAR KAU! BISA-BISANYA MENGAMBIL KESEMPATAN PADA ANAKKU!" pekik Kizashi sambil mengacungkan samurai ke wajah Sasuke, membuat Mikoto berjengit kaget dan Fugaku maju bersiap-siap untuk menghadang.

"Hn?" Hanya itu yang bisa Sasuke keluarkan sebagai reaksi. Alis matanya naik walau air mukanya tidak menunjukkan tanda-tanda ia kaget atau bingung. Beberapa kali ia menggaruk lehernya yang memerah karena nyamuk dan bekas garukannya sepanjang malam.

Kizashi yang melihat bekas kemerahan itu langsung naik pitam. "KAU SUDAH BERANI MENODAI PUTRIKU, TIDAK AKAN KUMAAFKAAN!" katanya dengan penuh amarah dan berlari untuk menebas Sasuke.

"Aku—"

"HENTIKAAAAAAAAAAN!" teriak Mebuki yang baru datang dengan pakaian rumahnya. Ia langsung meraih piyama Kizashi, bersama-sama dengan Mikoto dan Fugaku menahan suaminya agar tidak menggorok leher Sasuke dengan samurai besar.

"Kyaaaaaaaaaaaaa!" teriakan Mikoto yang terkejut dan panik saat ujung samurai itu hampir mengenai wajah anak bungsunya. Ia berusaha menggenggam erat tangan Kizashi yang mengacungkan samurai ke depan agar anaknya tidak terluka.

"Kizashi, tenangkan dirimu dulu!" kata Fugaku sambil menahan tubuh tetangganya yang masih berusaha mendekati anaknya. Matanya terlihat panik walau wajahnya masih dingin terkendali. "Apa masalahmu?" tanya Fugaku dengan suara berat, "kita bisa membicarakan masalah ini baik-baik."

"…"

"…"

Sesaat, Kizashi melirik ke arah Fugaku dengan wajah dingin. Menghela napas panjang, Kizashi pun mulai tenang dan berhenti melawan. Matanya menatap tajam sosok Sasuke yang pucat pasi.

"Aku tidak—"

"Kalian. Harus. Menikah. Segera," potong Kizashi dengan tatapan mengintimidasi pada Sasuke. Ia melirik istrinya yang tengah terengah-engah di belakangnya dan mundur menurunkan samurainya.

"…"

Sasuke bungkam seketika.

"Se-sebenarnya ada apa Haruno-san?" tanya Mikoto dengan raut wajah yang masih pucat dan terkejut. Ia melirik anaknya dan segera mendorongnya agar kembali ke lantai atas agar tidak memicu lebih banyak lagi amarah tetangganya.

"Kita bicarakan di ruang tamu," kata Fugaku sambil menuntun keluarga Haruno menuju ruangan di sebelah barat. Ia menarik napas diam-diam dan menoleh pada putra bungsunya dengan wajah yang tidak bisa digambarkan lagi.

.

.

.

"What the hell?! Aku tidak hamil! Oh, yang benar saja!"

Sakura yang dibangunkan paksa oleh Sasuke kini tengah duduk di atas ranjangnya dengan wajah merah dan pucat menjadi satu. Ia sakit, tapi rasa malu tidak terhindarkan dari wajahnya.

"Ya pasti. Kita tidak melakukan apa-apa," jawab Sasuke seraya menggerling kedua bola matanya. Ia duduk bersila di atas ranjang Sakura.

Lelaki tampan ini menerobos masuk ke dalam kamar Sakura saat ia disuruh naik oleh ibunya untuk kembali ke kamar.

Ia tentu tidak bodoh. Keluarga Haruno pastilah mengira mereka telah melakukan sesuatu karena kondisi Sakura saat ini.

Padahal sumpah demi Tuhan! Sasuke pegang-pegang saja tidak pernah. Palingan cuma karena pertengkaran kemarin ia memegang Sakura. Ia bahkan berani terjun ke air terjun Konoha, kalau ia tidak bersalah dan tidak pernah melakukan apa-apa.

Enak saja dikira dia menghamili Sakura! Apanya juga yang bagus dari anak ingusan macam itu?

'Bokongnya saja tepos,' batin Sasuke dalam hati. Ia melirik bagian tubuh Sakura yang menurutnya tidak berbentuk tadi.

"…"

"…"

"Apa lihat-lihat?" tanya Sakura sewot saat sadar kalau Sasuke melirik bagian tubuhnya. Jangan salahkan kalau bokongnya tidak seksi. Ini adalah hasil cetakan dari ayah dan ibunya.

Sasuke mencibir.

Sakura mencubit lengan Sasuke sekuat yang ia bisa sambil berkata, "Dasar kau mesuuuuuum! Beraninya kau melihat bokongku semena-menaaaa!"

"Hoyheh—siapa—yang lihat—lepaskan!—bokong teposmu?—grr!" Sasuke berusaha menjauh dan menyingkirkan tangan Sakura yang mencubitinya layaknya tang. Bekas cubitan Sakura meninggalkan ruam-ruam merah di permukaan lengannya.

"…"

"Apa katamu? Kau berani melihat bo—bokong anakku?!" teriakan Kizashi mengagetkan Sasuke dan Sakura yang sedang bertengkar. Pria itu berada di sisi kamar Sakura—kamar Sasuke—bersama dengan Mebuki, Mikoto dan Fugaku.

Awalnya mereka ingin menemui Sasuke untuk menjelaskan dulu perkara yang sebenarnya sedang terjadi. Tapi, begitu melihat kamar itu kosong, jendela kamarnya terbuka dan terlihat Sasuke di atas ranjang bersama Sakura, emosi Kizashi kembali meledak.

Belum lagi mendengar Sakura berteriak tentang bokong—pasti ada sesuatu yang salah di sana.

Kizashi yang berang, Mebuki, Mikoto, dan Fugaku yang speechless, lalu Sasuke dan Sakura yang terkejut membuat semuanya makin runyam saja.

"Awas saja kau bajingaaaaaaaan!" teriak Kizashi kembali mengeluarkan samurai dari sarungnya dan berlari menuruni tangga menuju kamar anaknya sendiri.

"Kyaaaaaa! Anakkuuuuuuu!" Mikoto yang tidak sanggup melihat anaknya yang bisa saja dicincang oleh calon besannya segera mengejar kepala keluarga Haruno untuk menahannya.

.

.

"To-Tou-saaan! Ini tidak seperti yang kau pikirkan!" jerit Sakura yang berlari—sayangnya berlari sambil menggenggam tangan Sasuke agar ikut kabur bersamanya.

Kalau begitu, mirip kawin lari, dong?

"Bodoh, jangan ikut tarik aku!" kata Sasuke yang tangannya ditarik paksa oleh sahabatnya. Ia panik, tapi otaknya masih bisa berputar dengan baik.

Sayangnya, Sakura sibuk saja berteriak-teriak dan menarik dirinya.

Sementara itu, Mebuki sudah berteriak dan mengejar suaminya yang hendak mencincang tersangka utama yang telah membuatkan cucu untuknya.

Fugaku yang melihat hal itu hanya bisa menghela napas seraya bergumam, "bodoh." Lalu ia berlari mencari istrinya yang tengah berteriak-teriak histeris menahan samurai Kizashi menebas sesuatu.

'Well,Sasuke, kau dalam masalah besar,' gumam Sasuke dalam hati. Merutuki semua kebodohan ini.

.

.

.

"Gomennasai—oi, Sasuke, minta maaf juga!" sikut Sakura pada Sasuke. Kini mereka berdua tengah disidang di dalam ruang makan keluarga Uchiha bersama makanan yang menggiurkan.

"..." Sasuke menulikan pendengarannya. Selama hidupnya, ia tidak akan pernah mau minta maaf kalau ia tidak bersalah.

Tunggu, dia memang tidak salah, 'kan?

Sakura menyikut lebih dalam lagi rusuk Sasuke, memerintahkan lelaki itu agar segera minta maaf. Ia bukannya merasa bersalah, tapi dia tidak tahan untuk tidak segera menyantap makanan yang saat ini tengah terhidang di hadapannya. Lebih cepat minta maaf, lebih cepat makan.

"…"

"…"

Jengah. Fugaku pun memukul meja makanan itu dengan keras—membuat beberapa piring bergoyang—dan menilik tajam anak bungsunya. "Kau salah dan kau harus minta maaf," tekannya tegas pada anaknya.

"Aku tidak—"

"Aku tidak mengajarkanmu untuk jadi anak yang tidak tahu sopan santun," potong Fugaku cepat. Ia sama sekali tidak mau mendengarkan alasan anaknya lagi.

Sasuke mengerutkan alisnya kesal. Topeng wajahnya yang datar sudah hampir terlepas dari raut mukanya.

Ia tidak salah! Ia tidak melakukan apa-apa! Malah Sakura yang melakukan penyiksaan padanya. Kenapa ia harus minta maaf?

Sakura yang merasakan perutnya bergejolak mulai membujuk Sasuke dengan tampang memelasnya. Ia menarik-narik ujung kaos Sasuke dan meratap. "Sasukeeeeee!"

"…"

"Sasukeeee."

Sasuke menarik napas. Jujur, ini adalah hal terberat dalam hidupnya. Ia melirik ke arah kiri dan kanan. Mana ibunya? Biasanya ia akan membelanya pada saat seperti ini.

"Sasukeeeeeee," rajuk Sakura lagi. Ia menggoncang-goncangkan lengan Sasuke agar lelaki itu segera minta maaf dan ia bisa makan.

Sasuke melirik ayahnya. Fugaku jelas menatapnya tajam dan berkata melalui matanya, ayo-cepat-minta-maaf-atau-kupecat-dari-perusahaan.

Mendengus sebal. Lelaki itu pun menarik napas dalam-dalam kemudian berkata, "I'm sorry."

"Gunakan bahasa yang baik!" bentak Fugaku dengan tangan yang kembali menggebrak meja. Ia paling tidak suka kalau anaknya menggunakan bahasa inggris untuk minta maaf pada orang yang lebih tua.

Sasuke membuang muka. Sudah cukup ia minta maaf, ia tidak mau lagi mengulangi kalimat maafnya.

"Sasukeeeeeee!"

Sebenarnya, siapa sih yang dianiaya selama ini? Kenapa? Kenapa ia harus menjalani kehidupan bodoh seperti ini? Menyebalkan.

"Sasukeeeeeee!" Sakura kembali memanggil namanya dengan nada memelas. Merasa bosan dengan situasi ini, Sasuke pun mencoba untuk mengalah.

"Aku—" gumam Sasuke pelan setelah ia berusaha menghirup oksigen banyak-banyak, "—aku minta maaf." Sasuke menatap Fugaku berani. Sakura yang mendengar ucapan tersebut pun akhirnya menatap Sasuke dengan pandangan berbinar.

"Jadi?" Sakura mulai berkata, "Apakah aku sudah bisa menyantap hidangan ini?" lanjutnya seperti anak kecil yang sedang memohon untuk dibelikan sesuatu. Sasuke melirik Sakura tajam. Dasar menyebalkan—batinnya mendengus sebal.

Mebuki yang melihat tingkah laku Sakura hanya bisa mendengus pasrah. Oh, anaknya ini sama sekali tidak pernah berubah sifatnya! Ckk.

"…"

"…"

Fugaku berdehem pelan guna menetralisir suasana. "Silahkan, Sakura," ucapnya datar mempersilahkan sang calon menantu untuk menyantap hidangan yang ada. Bersamaan dengan itu, Mikoto pun datang seraya membawa nampan berisi penuh dengan hidangan penutup.

Sakura menatap Mikoto dengan pandangan berbinar, membuat Sasuke mengernyit ilfiel. Gadis macam apa dia?—batin Sasuke berkata.

"Itadakimasu!" seru Sakura semangat.

.

.

.

Kediaman Uchiha. Pukul 14.00

"Kita harus segera mengambil tindakkan," ucap Kizashi dalam seraya menatap kedua anak muda yang kini tengah mulai menginjak dewasa. Kedua iris matanya menatap tajam sosok Sakura dan Sasuke yang saat ini sedang duduk dalam posisi tegang.

Sakura menelan ludah gugup. "Ti-tindakkan apa?" tanyanya pada sang ayah. Kedua iris hijau hutannya menatap satu persatu seluruh sosok yang ada di dalam ruang tersebut—Kizashi, Mebuki, Fugaku, dan juga Fugaku.

"Tindakkan atas perbuatan kalian," jawab Fugaku tegas, membuat kedua iris mata Sakura dan Sasuke membelalak kaget.

"Apa? Tindakkan apa? Aku tidak melakukan apa-apa." Sakura berusaha membela diri. Ia tahu, masalahnya tadi pagi bersama Sasuke belumlah selesai.

Kizashi memicingkan matanya curiga. Sedangkan Mebuki dan Mikoto menatap Sakura dengan tatapan penuh harap, eh?

Firasatku tidak enak—batin Sasuke merasakan aura kelam menguar dari tubuh keempat orang tua yang saat ini tengah ada di hadapannya. "Ini buruk," gumam Sasuke pelan.

"…"

"…"

Fugaku, kembali berdehem pelan. "Kami … sebagai orang tua sudah memutuskan—" ucap Fugaku menjeda kalimatnya sejenak, membuat Sakura dan Sasuke menelan ludah gugup.

Memutuskan?

"—bahwa minggu depan kalian akan mengadakan pesta pernikahan."

"…"

"…"

Sakura dan Sasuke membisu. Mebuki dan Mikoto menatap Sakura dan Sasuke dengan padangan berbinar. Kizashi memicing tajam ke arah Sasuke. Sedangkan Fugaku tetap dengan wajah tegasnya.

Hening …

"Apa?" celetuk Sakura setelah hening yang cukup lama. "Sasuke!" panggilnya tanpa menatap Sasuke.

"Hn?" respon Sasuke singkat. Sejujurnya, ia masih shock akan pernyataan sang ayah. Ia yakin kedua telingannya masih normal, masih bisa mendengar perkataan ayahnya dengan baik.

Sakura menoleh kikuk seraya berucap datar, "bisakah kau antarkan aku ke THT?"

Mebuki yang mendengar ucapan Sakura pun segera bertanya dengan tegas, "mau apa kau?"

"Tentu saja untuk memeriksakan kedua telingaku ini, Kaa-san," jawab Sakura dengan wajah polos. Ia yakin, kedua telinganya pasti ada masalah. Apa tadi katanya? Pernikahan? Kalian? Sakura dan Sasuke? Oh, itu tidak mungkin!

Mebuki menghela napas panjang. "Oh, ayolah, Sakura anakku sayang. Kaa-san yakin kau pasti mendengar dengan jelas apa yang tadi dikatakan oleh Fugaku," ucap Mebuki berusaha menyadarkan Sakura. "Kalian—kau dan Sasuke …" tunjuk Mebuki ke arah Sakura dan Sasuke, "… akan menikah minggu depan."

JGER!

Tubuh Sakura kaku seketika. Bagaikan tersambar petir di siang bolong. Kami-sama, katakana bahwa ini adalah sebuah lelucon!

"Betul!" pekik Mikoto tiba-tiba, membuat Sakura menatap horror sosok ibunda Sasuke. "Lagi pula, aku dan ibumu tidak sabar untuk menunggu kelahiran dari anak yang kau kandung, Sakura-chan!" ucap Mikoto riang. Mebuki mengangguk-anggukan kepalanya setuju.

JGER!

Apa katanya tadi? Anak? Lahir? Oh, tidak! Dunia sudah gila. Anak siapa?

"Apa maksud Kaa-san?" tanya Sasuke tiba-tiba. "Anak? Anak siapa?"

Mikoto tersenyum lembut mendengar pertanyaan Sasuke. Ia tidak menyangka, bahwa Sasuke akan tumbuh dewasa dalam waktu secepat ini. "Tentu saja anakmu dan Sakura-chan," jawab Mikoto senang.

"Tu-tunggu dulu!" potong Sakura cepat dengan raut wajah panik. "Anak siapa? Aku tidak sedang mengandung!" Sakura berusaha membela dirinya.

Apa-apaan orang tua ini? Kenapa mereka bisa berpikir sampai sejauh itu?

"Bukankah sudah kubilang tadi pagi? Aku hanya masuk angin!" lanjut Sakura membela diri, membuat Mikoto dan Mebuki saling bertatap wajah.

"Kaa-san tidak peduli! Kaa-san ingin kau harus tetap menikah dengan Sasuke," Mebuki tetap kekeh pada pendiriannya. "Lagi pula, Kaa-san juga ingin cepat segera menimang seorang cucu."

Mikoto mengangguk setuju. Kizashi dan Fugaku hanya bisa diam terpaku menatap masing-masing istri mereka. "Keputusan kami sudah bulat!" ucap Mebuki yakin.

"Ta-tapi aku belum siap untuk menikah, Kaa-san!" balas Sakura tidak terima.

"Aku juga." Kali ini, Sasuke setuju dengan Sakura. Ia belum siap menikah, apalagi menikah dengan cara seperti ini. Ini-sangat-konyol!

Mendengar ucapan Sasuke, Kizashi semakin memicing tajam. "Kau-tidak-mau-bertanggung-jawab?" tanya Kizashi penuh penekanan.

"…"

"Bukankah tadi kau sudah mengakui kesalahanmu, Sasuke?" timpal Fugaku memberikan pertanyaan. "Lagi pula, apa kalian lupa soal peraturan warisan itu?"

"…"

"…"

Hening …

Sakura dan Sasuke kembali bungkam.

Apa-apaan suasana ini? Aura keempat orang tua ini terlalu menekan. Seberapa kuat Sakura dan Sasuke membela diri pun, mereka sadar bahwa mereka tidak akan sanggup menentang perintah keempat orang tua yang saat ini ada di hadapan mereka.

"…"

"…"

"Sudah diputuskan, minggu depan kalian akan me-ni-kah! Ini mutlak!" ucap Mebuki tegas, seraya memandang tajam Sakura dan Sasuke.

"Tu-tunggu dulu—" Sakura kembali berusaha menentang Mebuki.

Mikoto tersenyum bahagia. "Mulai besok, aku dan Mebuki akan mengurus segala sesuatunya!" potongnya cepat menghentikan kalimat Sakura.

"A-apa—" ucap Sakura benar-benar panik.

"Dan Sasuke," panggil Fugaku datar, "sebagai seorang pria, aku harap kau tidak akan mengecewakan kami semua." Fugaku berkata bijak.

"…"

"Aa …" Sakura mulai kehabisan kata-kata. Kami-sama, bagaimana ini?

"Yosha! Aku tidak sabar ingin segera menimang seorang cucu dari hasil perbuatan Sakura dan Sasuke." Mebuki terkikik geli seraya membayangkan seorang cucu berada dalam gendongannya.

Mikoto menganggukan kepalanya antusias. "Kita harus mempersiapkan segala sesuatunya sebaik mungkin!" ucapnya semangat namun lembut.

"…"

"…"

Sakura dan Sasuke membeku. Kata-kata kedua orang tua mereka sungguh di luar dugaan. Ingin rasanya Sakura berteriak sekeras mungkin di hadapan keempat orang tua ini!

"Sasuke lakukan sesuatu!" rengek Sakura menarik-narik lengan baju milik Sasuke.

"…"

"Sasuke!"

"…"

"Sa-su-ke!"

"…"

Sepertinya sang Uchiha bungu ini masih shock akan keputusan ini. Lihat saja dari wajahnya yang datar—maksudku lebih datar dari biasanya. Tatapan matanya kosong. Mulutnya terkunci rapat. Seorang Uchiha Sasuke sekarang benar-benar nampak seperti mayat hidup!

Sakura yang melihat keadaan itu pun semakin frustasi. Menggeram kesal, akhirnya ia pun berteriak sekeras mungkin. "AAAAAAAAA! SASUKEEEEEE!" pekiknya menggelegar hingga ke luar rumah kediaman keluarga Uchiha.

Dunia benar-benar sudah gila!

Gila!

Gila!

Dan gila!

.

.

.

"Sakura-chan? Kau terlihat sangat semangat dan bahagia," ucap Mikoto polos setelah mendengar pekikan Sakura yang membahana.

"WAAAAAAA!" teriak Sakura kembali.

Sepertinya hari-hari yang dipenuhi kegilaan ini masih akan berlanjut terus di dalam kehidupan Sakura dan Sasuke. Esok? Lusa? Entah sampai kapan kehidupan konyol ini akan berakhir.

To Be Continued

Selesai! Aaaaaaa *teriak frustasi* akhirnya aku bisa nyelesein fic ini dalam waktu hampir sebulan lebih! *poor me* sujud-sujud ama Silver. Maafin daku kalau ficnya ngaret yaaaa saya minta maaf juga ke para pembaca T_T salahkan lappie saya yang sempet rusak dan mood saya yang suka berubah-ubah #plak

Jadi ngerasa bersalah sama Silver deh sempet nelantarin fic ini QAQ aaaa …

Special Thanks untuk kalian udah mau baca fic ini *lap ingus*

Mauree-Azure, Nyimi-chan, Uchiha Hime is Poetry Celemoet, Ida, Kitahara Blue, Kuromi no Sora, Fa vanadium, Igin, Chooteisha Yori, Scy Momo Cherry, Momo Haruyuki, xxxkshineiiiga21737, Kim Keyna, skyesphantom, Tsurugi De Lelouch, akasuna no ei-chan, Volkova kuruta, Fishy ELF, Retno UchiHaruno, Chintya Hatake-chan, Miuira Kumiko, Sami haruchi, Deshe Lusi, Baka Iya SS, Neerval-Li, Chooteisha Yori, Nona Cokelat, Anka-Chan, Aden L kazt, FuRaHeart, Karasu Uchiha, Mayuri Clover, Aikawa Jasumin, namikaze yakonahisa, celubba, agezia, Sindi 'Kucing Pink

*cipok satu-satu* #plaks

Jika berkenan, Mind to Review and Concrit again? :D