Game Over (c) aidaverdyky
Sung-Yeol and You
Romance-Comedy
Teenager
Sung-Yeol adalah milik Tuhan, keluarga, Woolim Ent., Inspirit, dan Yeollipops \(^o^)/
Watchout of the typo(s), baper area!
...
Ctik Ctik Ctik
Suara konsol game yang sangat menyebalkan terdengar di sekeliling ruangan. Sung-Yeol tampak sibuk menatap layar, mengacuhkanku yang sedari tadi menatapnya dengan gembungan kesal di pipi tirusku. Sudah satu jam sejak aku datang ke apartemennya atas permintaan kekasih-setengah-tiangku ini, namun bukannya bisa berduaan dengannya aku justru ditinggalkannya untuk berkencan dengan PlayStation 3 kesayangannya sejak 45 menit yang lalu.
Aku mendengus kesal dengan suara keras, berusaha sebisa mungkin menarik perhatian Sung-Yeol. Sayang sekali layar di hadapannya sepertinya tampak lebih penting dari kekasihnya yang sedang kesal ini. Tidak tahan dengan keacuhannya, aku mulai buka suara setelah cukup berdiam diri sekitar setengah jam.
"Oppa?." Panggilku lembut.
"... ." Nihil. Aku tidak tahu apakah suaraku terlalu lirih atau dia memang enggan peduli. Kurasa yang kedua lebih masuk akal.
"Oppa~."
"... ." Sama saja. Oke, sekali lagi.
"Oppa!."
"Hm." Astagaaa, apa aku harus berteriak agar dia mau menoleh? Bahkan melirikku saja tidak.
"Ck! Kalau kau mau berkencan dengan gamemu itu lebih baik jangan menyuruhku kemari."
"... ." Aarrrgh!
"Aku pulang saja!."
GREP
Sung-Yeol menggenggam tangan kananku, mencegahku untuk pergi. Pada awalnya aku tersenyum, membayangkan sebentar lagi Sung-Yeol akan mematikkan game sialannya itu lalu mengajakku berkencan. Sayangnnya itu hanyalah sebuah angan. Pada kenyataannya Sung-Yeol masih serius menatap layar dengan jemari tangan kanannya yang panjang bergerak lincah di konsol game itu.
Ayolaaaaah. Ini sudah lebih dari sebulan sejak kami tidak bertemu karena sama-sama sibuk dengan tugas akhir. Apalagi Sung-Yeol yang mengambil jurusan kedokteran dan mulai sibuk dengan praktik di rumah sakit.
"Apa lagi!?."
"Jangan pulang!." Aku mendengar nada memerintah khas Sung-Yeol kepadaku membuatku mengerucutkan bibirku sebal.
"Lalu untuk apa aku di sini? Menontonmu bermain game? Tidak mau! Lebih baik aku pulang, atau pergi dengan teman-temanku ke mall."
Sung-Yeol masih teguh pada pendiriannya untuk tak mengalihakan pandangannya dari layar sementara tangan kirinya menggenggam erat pergelangan tangan kananku. Pada akhirnya aku yang mengalah, kembali duduk di sampingnya. Sekilas kulihat senyum di bibir Sung-Yeol.
Ah, sepertinya aku salah, itu bukan senyum, tapi seringai.
Ctik Ctik Ctik
Suara sialan itu kembali menggema di ruangan itu, bahkan masuk ke dalam kepalaku. Aku memilih memainkan ponselku, memeriksa pesan dari beberapa teman kampusku. Untung saja pesan-pesan itu cukup menarik, membuatku sejenak melupakan tingkah menyebalkan manusia tiang di sebelahku. Beberapa bahkan sanggup membuatku cekikikan atas komentar dan saran-saran setengah gila dari teman-temanku setelah mendengarkan ceritaku tentang Sung-Yeol.
"Kenapa kau terus tertawa?." Sung-Yeol akhirnya kembali buka suara, membuatku terkejut sekaligus lega. Aku sudah khawatir dia akan berubah menjadi robot dan kehilangan jiwanya setelah terlalu lama bermain game. Hmm, sepertinya aku mulai kurang waras setelah bicara dengan teman-temanku.
"Emm, tidak apa-apa." Jawabku tanpa menoleh, karena dia juga bertanya bahkan tanpa melirikku.
"Berhenti tertawa kearah ponselmu. Kau seperti orang gila."
Aku menoleh sekaligus melemparkan tatapan membunuh ke arah Sung-Yeol. Enak saja dia bilang aku seperti orang gila. Lalu dia apa?. Dia bahkan lebih gila dari pada aku, karena masih juga sibuk bermain game, padahal kekasih cantiknya sedang kebosanan di sebelahnya. Hell ya, ini bahkan sudah hampir dua jam.
"Kau juga berhentilah bermain dengan game bodohmu itu!." Kubalik perkataannya dan dia justru terkekeh membuat kesabaranku habis.
SRET
"Hey!." Aku berdiri menjauh sambil menyembunyikan tanganku di punggung. Sung-Yeol memberikan tatapan jengkel yang kubalas dengan pandangan yang tak kalah kesal.
"Kembalikan konsol gameku, Chagi."
"Tidak akan!."
Manusia tiang dihadapanku mulai mendekat. Aku menghindar. Berlari mundur mengitari ruang tamu apartemennya dengan sangat ahli karena sudah hapal mati setiap sudut tempat ini sambil membawa konsol gamenya yang tidak memiliki kabel dan masih setia di balik punggungku. Aku berlari dan dia terus mengejar.
GREP
"Gotcha!."
"Kyaaa!."
Tapi bagaimanapun juga pada akhirnya aku tertangkap juga mengingat langkah kakinya yang hampir dua kali lipat milikku. Kami terdiam sejenak demi menetralisir napas yang tersengal. Hanya lima menit berlarian dan rasanya jantung dan paru-paruku sudah berceceran di seluruh ruangan.
"Kau mau melepaskannya tidak?." Sung-Yeol buka suara. Berbisik rendah tepat di telingaku membuatku sadar akan posisi kami.
Sung-Yeol memelukku agar dia bisa meraih konsol game di punggungku. Mungkin itu pada awalnya, tapi entah mengapa aku merasa kekasih kelewat tinggiku ini malah menyamankan dirinya. Membiarkan kepalanya bersandar di bahu sempitku. Tanpa aba-aba jantungku kembali berpacu. Aish, baru saja jantung ini beristirahat dari kerja keras setelah berlari.
"Su-sudah ku lepas, Oppa." Sial, kenapa aku jadi gagap begini?.
"Hmm bagaimana ya? Sekarang aku yang tidak mau melepaskanmu."
Pada akhirnya aku membiarkannya saja. Tidak peduli dengan jantungku yang masih melompat-lompat ataupun pipi yang semakin menghangat. Juga fakta bahwa posisi tubuh Sung-Yeol pasti sangat tidak nyaman mengingat perbedaan tinggi kami yang cukup jauh. Biarlah, toh dia juga tidak banyak protes.
Aku mulai memejamkan mataku dan membalas pelukannya tak kalah erat. Ah, rasanya aku sangat merindukan pelukan hangat Sung-Yeol. Jadi kubiarkan saja keheningan yang masih menyelimuti kami.
"Maaf." Aku tertegun mendengar permintaan maaf Sung-Yeol yang kini menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku.
"Maaf karena mengacuhkanmu padahal aku yang memintamu kemari." Entah mengapa aku tersenyum mendengar suara lirihnya. Itu berarti kekasihku sangat menyesal.
"Tidak apa-apa Oppa. Aku tahu kau butuh refreshing setelah praktikum gila-gilaan di rumah sakit." Punggung lebarnya kutepuk lembut, berusaha menyalurkan kekuatanku yang tak seberapa kepadanya karena aku tahu dia sedang lelah dengan tugas akhirnya. Yeah, setidaknya tugas kuliahku tidak sebanyak milik Sung-Yeol.
Tiang berjalan ini tiba-tiba melepaskan pelukannya, membuatku merasa kehilangan. Tapi, dia tersenyum lembut saat berhadapan denganku. Dan lagi-lagi pipiku dibuatnya menghangat. Aku malu, tetapi juga menyukainya. Sensasi bahagia ini membuatku turut tersenyum.
"Ayo kita berkencan." Sung-Yeol melempar konsol gamenya ke sofa dan hendak menggandengku pergi. Tapi aku bergeming, menimbulkan raut bingung di wajah kekasihku.
"Bagaimana kalau kita berkencan di sini saja?." Ajakku dan Sung-Yeol malah memberikan tatapan 'apa maksudmu' padaku.
Tanpa banya bicara kutarik kekasihku kembali ke tempat duduknya tadi, di depan televisi dengan game yang sudah mati karena terlalu lama dibiarkan. Sedangkan aku sendiri menuju meja televisi dan mengambil sebuah konsol game lain lalu duduk di sebelahnya setelah menyerahkan konsol game yang dilemparnya tadi.
"Ajari aku bermain. Mungkin lain kali aku bisa menjadi partner bertarungmu." Aku memasang senyum termanisku. Kulihat mata Sung-Yeol berbinar dan senyumnya semakin terkembang. Ekspresi khasnya saat bahagia. Ekspresi khas seperti anak kecil. Ekspresi khas yang sangat kusukai.
GREP
Pemuda itu kembali memelukku.
"Terima kasih." Ucapnya membuatku tergelak.
"Baiklah. Ayo kita bermaiiin~."
Tidak ada salahnya sesekali menuruti kemauan pemuda-bermental-bocah ini. Dengan begini aku bisa lebih dekat dengannya dan menghilangkan rasa bosanku. Dan juga, kurasa aku harus mentraktir teman-temanku atas ide-ide aneh mereka yang ternyata manjur haha.
-Fin-
...
A/N: udah hari rabu aja nih. Udah postingan ketiga aja nih. Si manusia tiang kampret gimana? Nyebelin? Atau malah cute+sweet? Kalo tingkat kegantengan mah gak perlu dipertanyakan ya hehe
Okedeh, sampai jumpa hari Sabtu. Bye~~~
