"Nah hyung, bagaimana? Jangan menolakku lagi yah, kumohon." Ujar bo—pria berwajah bocah dengan tinggi yang tak mungkin membuatnya dideskripsikan sebagai bocah tersebut. Matanya dibuat semirip mungkin dengan wajah plus mata dari seekor kucing terbuang yang minta dimasukkan ke karung beras.

"Hhhh~" terjadi penghelaan napas secara berjamaah disana. Kenapa? Mari kita telisik, Yunho menghela napas karena lelah dengan sikap ibu dan pria kucing memelas dihadapannya ini. Yoochun menghela napas karena lelah dengan seringnya melihat adegan bertepuk sebelah tangan dihadapannya kini. Dan Junsu yang menghela napas untuk sekedar ikut-ikutan. Siapa tahu ia bisa terlihat sekeren Yunho, iya kan? Tapi, sepertinya ada yang kurang, apa ya? Atau, siapa ya?

"Kalian akan kehilangan satu kebahagiaan jika menghela napas seperti itu." tambahnya. Jika itu benar, maka tersangkanya adalah dirinya sendiri. Memang siapa yang menyebabkan tiga pria tampan ini menghela napas? Pakai acara mengatakan jika menghela napas akan kehilangan satu kebahagiaan. Sadar diri, sadar diri woi! Membuat emosi saja.

"Aku tak bisa." Yunho buka suara. Ia tak mau menghela napas lagi seperti yang dilakukan Yoochun setelah ia mengatakan kalimatnya. Duh, lagi-lagi. Kejadian dan kalimatnya selalu seperti ini, berulang-ulang. Siapa yang tak bosan dan menghela napas kalau begitu? Yoochun sudah bosan. Jika bosan bisa menyebabkan kematian, ia pasti sudah mati dari jauh-jauh hari, yakin.

"Kenapa hyung?" dih, minggu lalupun pria itu bertanya seperti ini pada Yunho. Apa ia tak bosan. Yoochun saja sudah sangat bosan. Sekali lagi, sangat bosan. Silahkan di garis bawahi.

"Sekarang aku sudah punya kekasih." Jawaban satu kalimat Yunho menyebabkan keheningan sesaat. Semua mata menatap bo—pria tampan yang wajahnya terlihat masih berumur delapan belasan itu. tapi, author ingin mengingatkan, jika wajah bisa saja berbohong mengenai umur, jadi disarankan untuk menelisik kembali umur pria itu dari kartu pengenalnya saja, jangan lihat dari wajahnya yang tampan itu.

"Te-tega sekali kau hyung. Aku mau menangis saja." He? He. Masa calon suami Yunho akan menangis? Lalu akan ditaruh dimana harga diri Yunho kalau jadi istrinya? Bocah ini benar-benar membuat Yoochun harus ekstra sabar dari kebosanan serta membuat Yunho geleng-geleng kepala.

"Min, hyung mohon. Mengertilah. Hyung menyayangimu. Tapi Shim Changmin, hyung yakin kau bisa mengerti bagaimana arti perasaan hyung padamu. Okay?"

"Yep, kau harus mengerti Shim Changmin." Yoochun menambahkan. Penolakan Yunho dan ekspresi Changmin yang seolah minta dikardusin sekarang adalah obat yang paling ampuh untuk penyakit bosan yang melanda Yoochun setiap Changmin mengatakan perasaannya seperti ini. Sungguh bocah nekad yang kasian, tapi author nggak berani puk-puk deh. Siapa yang tahu sifat jahilnya akan muncul kapan, iya kan?

"Nah, ini dia. Jaejoong. Bagaimana?" akhirnya anak hilang yang tak ikut menghela napas berjamaah itu tiba. Jaejoong sedang mencari toilet ketika helaan itu berlangsung. Dengan ini Tuhan memberkati Jaejoong. Setidaknya kebahagiaannya tetap utuh tanpa kehilangan satu yang dihilangkan oleh tiga pria lainnya.

Changmin menatap Jaejoong yang masih dalam posisi berdiri dengan tatapan menelanjangi. Membuat Jaejoong begidik ngeri. Apalagi mata Changmin yang walau tak setajam milik Yunho itu juga memiliki unsur berbeda didalamnya. Tidak seperti tatapan Yoochun yang lembut dan baik hati, atau Junnienya yang polos-polos menghanyutkan. Tapi, tatapan pria yang belum dikenalnya ini seolah, apa ya? Bagaimana cara menjelaskannya ya? Apa pria ini menyimpan iblis dalam tubuhnya membuat tatapannya seolah begitu mengintimidasi.

"Yunho hyung," Changmin mengalihkan matanya yang berkaca-kaca dan ekspresi wajah yang minta dipeluk itu kearah Yunho. "Kau menolakku kan?" tambahnya. Yunho ingin merasa bersalah, tapi ia sudah kebal dengan ekspresi kucing terbuang yang selalu Changmin pasang.

Hohoho~ jadi Yunho menolak pria ini, yosh! Meski tubuhnya tak bisa berjingkrak senang, tapi tubuh dalam hatinya atau sebut saja tubuh imajinernya yang bersorak ria. Yunho memang harusnya milik Jaejoong sih, Shim Changmin doang sih, lewaaaat.

"Iya. Aku tegaskan, aku menolakmu." Ahay! Tubuh imajiner Jaejoong semakin bersorak riang. Siapa yang bisa melewatkan Kim Jaejoong? Tak ada? Tepat sekali.

"Baiklah." Ekspresi kucing terbuang Changmin menghilang. Ekspresinya kini terlihat serius dalam balutan wajah awet mudanya itu. "Sebenarnya hyung, jika dipikirkan, aku merasa kita tak cocok. Kau tampan aku tampan, aku takut kita beradu hyung. Jika aku yang tampan mendapat yang cantik, itu baru cocok." Nah, itu mengerti. Changmin memang anak pintar, pengen auth—oh, tak jadi deh. Silahkan lanjutkan. By the way Changmin tidak narsis kok, karena ketampanan Shim Changmin adalah fakta. Sekali lagi, fakta. Okay? "Hei, Jaejoong! Kau benar-benar kekasih Yunho hyung?" lanjutnya.

Jaejoong terdiam, ke-kekasih ya? Jaejoong mencoba mengingat-ingat, apakah dalam fase hidupnya ada potongan adegan semisal 'Disini, ada kau.' Lalu berpelukan ketika ia dan Yunho berada didekat sebuah kotak telepon dengan tangan Yunho membawa tangannya pada tempat dimana degupan jantung akan sangat terasa. Atau sudahkah ia dan Yunho melewati adegan 'Jaejoong, aku cinta padamu. Maukah kau menjadi pacarku?' lalu ia menjawab 'Iya, Yun. Aku mau." A la sinetron? Bisakah ia menyebut hubungannya dengan Yunho sebagai pasangan kekasih? Mooo~ jika diingat, hubungannya dengan Yunho itu antara Korban dan tersangka. Enak saja menyebut Jaejoong sebagai kekasihnya tanpa perjuangan apa-apa. Jaejoong itu mahaaaaaal tau. Vas saja belum sampai satu persen untuk keseluruhan perjuangan untuk mendapatkan dirinya, tapi jika ditambahkan kenikmatan di malam taruhannya dengan Hyun Joong serta di Jepang sana, bolehlah naik hingga posisi 40 persen. Jadi Yunho harus mendapat 60 persen lagi jika benar-benar ingin memilikinya. Hohoho~ jadi, jawaban untuk Changmin sudah ditemukan eh, Jaejoong?

"Err~ aku rasa bukan." Ha-ha! Terlalu mahalnya dirimu akan menjadi kesalahan fatal Kim yang cantik, lihat saja nan—

"Klop! Aku tak jadi menginginkanmu hyung," Changmin menunjuk Yunho dan mengibaskan telapak tangannya seolah ia mengusir sesuatu yang tak penting. "Aku akan memacari Jaejoong saja." Oh, sekarang bisa Jaejoong lihat akibat dari jawabannya, tanpa perlu nanti-nanti.

Oke, mari tinggalkan empat pria kece yang sedang melongo indah disertai pria yang terkece karena ia adalah satu-satunya pria yang tak memasang ekspresi yang membuat ketampanannya berkurang.

-oOo-

MISSION

O-CYOZORA

Yunho Jung x Jaejoong Kim

Suport cast:

Junsu Kim

Yoochun Park

Changmin Shim

Hyun Joong Kim

Rated:

M

Genre:

Romance

Comedy

::BOYS LOVE, NC/LIME, OOC, OC, AU, MYSS, TYPO::

© Yunho and Jaejoong have each other, the story line and idea pures mine ©

-1st & ma beta reader, Nayuka. Thanks so much babe *fly kiss*-

MEMBACA INI DAPAT MENYEBABKAN DOSA ANDA SEMAKIN MENUMPUK, AI WARNING YU!

ENJOY~

-oOo-

"Umma dengar kau sudah pulang dari kemarin, kenapa umma baru melihatmu disini hari ini?" sebuah brondongan langsung datang pada Yunho ketika ia sedang asyik dengan majalah bisnisnya ditemani secangkir kopi di sofa yang berada dalam kamarnya.

"Ne," hanya sebuah jawaban singkat berisi satu kata yang keluar dari bibir tebalnya, tanpa senyuman pula, errr~ durhaka ya? Ck, ck.

"Yun, umma bertanya padamu. Kau tahu, umma merindukanmu. Sangat merindukanmu." Iya deh, sifat buatan memang tak bertahan lama. Baru saja Yunho sangat bangga dengan keeleganan dan sedikit perisa keangkuhan dalam nada bicara ummanya dikalimat pertamanya tadi, kini ummanya kembali pada sifat yang argh! Yunho ingin manyun rasanya. Ijin untuk manyun, bolehkan? Dan lagi, apa-apaan gesekan pipi dan cubitan dipipi maskulinnya ini? Memangnya ia seorang bocah gembil menggemaskan? Bukan kan? Oh ayolah, sosok yang terabaikan dipojok sana akan membatalkan pernikahannya jika ummanya bersikap seperti ini.

"Yoochun berada dikamarnya, bersama kekasihnya." Yunho tak menjawab pertanyaan ummanya, ia memilih untuk mengganti topik saja. Ia malas jika ummanya akan membahas wanita-wanita beserta bla-bla-bla yang mengikuti dibelakangnya.

"Oh, kekasih? Akan umma lihat nanti. Omong-omong, umma membawa seorang wanita cantik untukmu. Ayo kita lihat." Satu-satunya wanita paruh baya yang masih tersisa kecantikannya minus keanggunan yang biasanya ditunjukkan wanita-wanita pendamping pria hartawan itu beranjak hendak berdiri untuk menyeret putranya turun.

"Tapi umma," Yunho berniat protes. Matanya melirik kearah pojok sana, dimana ada pria bermata doe yang memanyunkan bibirnya tanpa ijin.

"Tapi, tapi, tak ada tap—" Kekuatan yang tak bisa diremehkan hampir menyeret Yunho turun sebelum matanya mendapati sepasang mata yang hampir sama bulatnya dengan matanya sewaktu muda itu di pojok ruangan. Hoho~ sedari tadi ia tak melihat pria tampan itu toh? Anggap saja ini sebuah keberuntungan untuk Jaejoong karena ia tak benar-benar menjadi nyamuk yang diabaikan. "Siapa kau?" tanyanya.

Jaejoong terhenyak, segera ia mengganti pose jika di emotkan berupa angka nol tiga nol itu dengan wajah super manis level maksimal. Bagaimanapun, ia berhadapan dengan calon mertuanya kan? Hehehehe~ sip, cari perhatian mode: on

Tep,

Deg!

Tep,

Deg!

Oke, memang suara langkah dari satu-satunya wanita ini sedang beriringan dengan degupan jantung Jaejoong. Hueh, bagaimana ini? Jaejoong harus bersikap bagaimana dalam situasi ini? Lalu apa jawaban untuk pertanyaan calon mertuanya ini? Tolong dong, please! ayo nyumbang ide.

"Hei, ak—kyaaa! Kau cantik sekali! Kau pacar Yunho eoh?" wanita itu mempercepat langkahnya begitu melihat wajah Jaejoong dengan jelas di kamar yang bercahaya remang akibat gorden yang tak dibuka sepenuhnya meski hari masih siang dan terasa sangat cocok untuk melak—uhuk! Air, mana air?

"Aku—"

"Kau benar-benar cantik!" teriaknya begitu sampai dihadapan Jaejoong. Membuat alis cantik Jaejoong berkedut. Cantik? Siapa yang menyebutnya cantik? Ia akan membunuhnya, lihat saja nanti.

"Tapi aku bukan pacar Yunho." Oke, batin Jaejoong memang ganas. Ia bersumpah akan membunuh siapapun yang menyebutnya cantik. Tapi itu tidak sungguh-sungguh kok. Ia lelaki jantan sih, tak mungkin menyakiti wanita walau seujung kuku. Kalau pria lain ceritanya, ia akan menggantung poto pria yang menyebutnya cantik seperti poto Hyun Joong yang entah bagaimana nasibnya kini. Hohoho~ Jaejoong itu menyeramkan loh, jadi jangan macam-macam ya.

"Oh, begitu?" terdengar suara penuh luka ditelinga Jaejoong. Aish, rasanya ingin sekali membuang bibirnya yang seenaknya sekali dalam berbicara ini. Padahal, ia berbohong saja dulu. Perjuangan Yunho untuk mendapatkan enam puluh persen lainnya kan bisa menyusul.

"Jadi Yun, ayo kita lihat wanita dibawah." Calon mertua Jaejoong terlihat amat kecewa, membuat Jaejoong sangat merasa bersalah.

"Tapi umma, aku sudah memiliki kekasih." Yunho melirik Jaejoong dengan tatapan khasnya. Membuat Jaejoong tambah merasa bersalah. Ia harus menghentikan ini, menghentikan perasaan bersalahnya ini.

"I-iya, sebenarnya ak-ak—"

"Aku akan menikah umma, dengan siapapun yang mencintaiku. Kumohon, jangan paksa aku lagi mulai sekarang." Belum selesai Jaejoong dengan kalimatnya, Yunho segera menyelanya. "Aku akan segera menikah umma, yakinlah." Lanjutnya.

Wanita itu berbalik, melihat putranya dengan mata berbinar.

"Sungguh, memangnya siapa kekasihmu itu?"

Aku! Ingin rasanya Jaejoong meneriakkan kata tersebut seraya mengangkat tangannya tinggi-tinggi layaknya seorang siswa pintar yang akan menjawab pertanyaan didepan kelas. Tapi, tak perlu merisaukan hal itu sih, toh Yunho juga pasti akan—

"Aku akan mencarinya, sesegera mungkin." Eh? Hati Jaejoong terasa seperti jatuh. Mengapa jawaban Yunho seperti itu ya? Bukankah ia mau menikahi Jaejoong? Jaejoong didepan matanya saja mengapa dirahasiakan?

"Ara, umma mengerti. Tak lama lagi umurmu akan menyentuh angka tiga puluh. Jika kau belum menikah diumur seperti itu, umma akan menikahkanmu dengan dia." Wanita itu menunjuk Jaejoong dengan sadisnya. Tapi, Jaejoong tak merasa sakit hati, tersinggung, takut dan semacamnya tuh. Ini malah waktu yang tepat untuk memperbaiki kesalahan yang sepertinya sedikit menyinggung Yunho tadi.

"Se-sebenarnya." Aish, aish. Mengapa ia gugup seperti ini? Huh~ ayo tarik napas, tahan~ lalu keluarkan. Ayolah Jaejoong-ah, sebaiknya kau memberi kesan baik pada calon mertuamu ini. Jangan seperti gadis desa ne! Bersikaplah seperti gad—pria terhormat dari kalangan bangsawan elit.

"Sebenarnya?" wanita itu mengerutkan dahinya, ia sangat bersabar dengan jawaban pria dihadapannya.

"A-akulah kekasih Yun—"

"Sudah kuduga, kau memang pacarnya! Karena, baru kau saja yang dia ajak Yunho masuk kekamarnya. Ah, senangnyaaaa!" calon mertua Jaejoong segera menyerangnya dengan pelukan bertubi-tubi. Ish, ni anak sama emak kok sama-sama suka menyela perkataan orang sih? Jaejoong melirik pada pria bermata peleleh di sofa sana, pria itu mengangkat satu sudut bibirnya. Membuat Jaejoong merasa lega.

Wait! Mengapa ia harus lega dengan senyuman yang mirip seringaian dibibir Yunho itu? Mengapa pula ia sangat peduli pada wanita yang tengah memeluknya ini. Tak mungkin jika Jaejoong benar-benar Yunho seksual kan? Mana mungkin dua malam dalam kebersamaan membuatnya menaruh hati pada pria ini kan? Ini bohong kan? Itu terlalu cepat untuk jatuh cintaaa~ Jaejoong mau frustasi ah, Jaejoong mau bunuh diri a—tak jadi, Jaejoong masih ingin hidup. Cukup frustasi saja, tak perlu bunuh diri. Itu terlalu ekstrim untuk kulit cantiknya.

Dan lagi, ia ini pria norm—

"Tapi, aku pria. Apakah itu tak masalah untuk bibi?" Jaejoong menyuarakan pikirannya. Benar juga, ia ingin tahu bagaimana reaksi calon mertuanya ini jika mengetahui ia dan Yunho memiliki barang yang sama. Hehehe~

o.o

Oke, emotion diatas adalah penggambaran ekspresi umma Yunho yang sedang menegadah pada pria can—tampan itu. Yah, Jaejoong kan memang tinggi. Meski tak setinggi Yunho ataupun bocah tiang yang entah dimana keberadaannya kini itu.

Ia tak percaya, ia sungguh tak percaya. Lihat saja, mata besar khas mata yang dinginkan hampir seluruh perempuan dikorea. Bibir yang akan membuat para gadis rela merogoh kocek untuk membuat pisau bedah mengukir bibir yang sama. Kulit yang terasa halus dalam belaiannya, putih pula. Ini pasti bohong. Jaejoong mungkin wanita yang terobsesi menjadi pria. Itu pasti.

Mata besar yang dimilikinya menerawang melewati leher mulus Jaejoong, memang ada jakun disana. Tangannya yang tadi sedang berada di pipi Jaejoong turun kebahu pria itu. namun pergerakannya tak sampai disana, tangan itu terus bergerak turun hingga—

"Aaaaaaa!" pelecehan T.T ini pelecehan seksual namanya

Hehehe~ wanita bermarga Jung ini tersenyum kaku setelah meremas dada milik Jaejoong, silahkan digaris bawahi. Yap, ia benar-benar melakukan itu. Tak mungkin pria cantik itu berteriak tanpa alasan kan?

"Aku tak percaya, memang terlalu kecil untuk ukuran seorang wanita. Tapi jika untuk pria, umma rasa Yunho akan puas." Ujarnya seraya beranjak pergi. Wajahnya terlihat sumringah ketika menjejakkan kaki diluar kamar Yunho. Hohoho~ ia kan segera memiliki menantu. "Cepatlah kalian menikah."

TTATT

Si-sialaaaaaan! Apanya yang akan puas? Yunho akan puas karena dirinya? Ia akan memuaskan Yunho, gitu? Sampai matipun, ia bersumpah! Ia-ia, akan memuas—sebentar, Ia memang dua kali terpuaskan oleh Yunho. Tapi sungguhkah ia juga memberi kepuasan pada Yunho? Rugi dong~ Hueeeee!

Well, entah rugi dari mana, orang sama-sama puas. Tapi karena ini Jaejoong, biarlah ia berpikir sesukanya.

-oOo-

Jaejoong selesai dengan kontroversi hatinya, meski ia masih ingin terisak, namun pelukan Yunho terhadapnya serta kalimat-kalimat yang keluar dari bibir tebal itu membuatnya merasakan ketenangan. Pelecehan tadi sungguh sangat terasa pelecehan sekali, melebihi pelecehan yang dilakukan Yunho dengan menyatukan tubuh mereka dikala itu. Mengapa seperti itu? Padahal jika dibawa dalam ranah hukum, hukuman Yunho mungkin akan lebih berat dibanding apa yang dilakukan calon mertuanya. Masalahnya, masalah utamanya, bagaimana jika Jaejoong mendesah ketika calon mertuanya meremas dadanya tadi? Kan tidak lucu. Mau di simpan dimana wajah tampannya nanti? Kalau mendesah dihadapan Yunho sih, rasanya takkan sememalukan itu. Weh, modus, iya. Memang modus :p

Elusan di punggung Jaejoong berhenti. Dilanjutkan dengan dorongan pada bahunya agar kedua tubuh yang sama-sama berotot itu tak lagi menempel. Yunho menahan tubuh Jaejoong untuk melihat wajah yang tak kehilangan satu persenpun ketampanan yang beradu dengan kecantikan milik pria dihadapannya itu. Ia membawa Jaejoong untuk duduk pada sofa yang tadi didudukinya. Jarak mereka tak lagi dekat seperti tadi. Hell, memangnya Jaejoong apa? ia pria tangguh yang tak akan mudah jatuh dalam buaian pria lain. Terkecuali Yunho mungkin. Makanya, ia harus siaga. Yunho sudah dua kali menjatuhkannya dalam buaian. Tak boleh ada ketiga kalinya, tak boleh. Dan lagi, hatinya sedang menempeli Yunho sekarang, satu gerakan Yunho akan sanggup meruntuhkannya, jadi~ ayo jaga jarak.

Omo, omo. Mata peleleh itu menatap Jaejoong lagi. Mau apa diaaaa?

Ow, Tuhan. Yunho mendekatkan wajahnya pada Jaejoong yang berjarak kurang dari setengah meter darinya, omo! Jaejoong harus bagaimana? Menghindar atau tutup mata? Menghindar atau tutup mata? Ayolah, yang—tutup mata saja deh.

Uhuk, sebelum kalian melakukan itu, author hanya ingin mengingatkan untuk menutup pintu, hei~ kalian tak mendengarku yah? Hei, Jae! Yunh! Ah, ya sudah~ jika kalian memang tak mau mendengar. Toh itu hanya saran.

Cup!

Eh? Cup? Kok cup? Bunyinya seperti sebuah kecupan anak kecil. Ini bukan sebuah ciuman penuh gairah ya? Huuuu~ penonton kecewa.

Yunho juga mengerenyitkan keningnya. Semestinya ini adalah ciuman basahkan? Mengapa bibir Jaejoong tak basah? Padahal sang empunya tak pernah absen melembabkan bibir ceri itu dengan saliva yang ia punya. Ada yang salah, sepertinya.

Berbekal dengan prasangka itu, Yunho membuka matanya. Dan tebak apa yang terjadi.

"Gyahahahaha!" sial. "Hahaha, aku memang tampan." Dih -_- "Istri-istriku memang sangat akur. Ah, hebat. Aku suami yang hebat. Istri tuaku mengecup pipi kananku, istri mudaku mengecup pipi kiriku. Waaah, aku memang hebat."

Jduak!

Lagi, silahkan tebak lagi apa yang terjadi.

Oke, jika terlalu malas untuk menebak apa yang terjadi, mari lihat tanpa penghalang. Yunho dan Jaejoong akan menyatukan bibir mereka dalam deep kiss jika dalam niat Yunho. Namun jarak yang diambil oleh Jaejoong tadi membuat kau-tahu-siapa datang dan menempati celah tersebut. Lalu, ya, benar. Bibir Yunho tak bertemu dengan Jaejoong. Bibir mereka hanya bertemu dengan yah, seperti yang disebutkan Changmin. Dan kini pria itu tengah dalam posisi mengagumkan setelah tendangan double yang dilancarkan Yunho dan Jaejoong. Hohoho~ macam-macam sih.

"Hyung! Ada apa disini?" tanya Junsu yang kini berada di dekat pintu menuju kamar Yunho. Matanya menatap polos, ya. Junnie Jaejoong itu polos. Adik terpolos yang ia temui, sebelum pria berjidat lebar itu meracuninya. Ih, niat Jaejoong untuk menghajar Yoochun mendadak hinggap lagi dalam dirinya.

"Tak, apa. Hanya seekor monster pengganggu." Ujar Yunho. Matanya tajamnya melirik pada pria Jangkung yang kini telah mengubah posisi mengagumkannya menjadi duduk manis dilantai marmer super bersih itu. yunho mengusap bibir Jaejoong bersamaan ketika ia menjilat bibirnya. Dalam hati ia berdoa, Tuhaaaan~ semoga bibir lembut yang tengah ia usap tak iritasi karena menyentuh kulit Changmin.

"Min?" Yoochun yang berada disamping Junsu menatap Changmin dengan tatapan penuh tanya. Awalnya, bibirnya yang setengah tipis setengah tebal itu sedang terkekeh. Setelah mendapatkan pertanyaan Yoochun menjadi perahu terbalik karena diterjang badai yang entah datang dari mana.

"Aku hanya ingin merasakan ciuman dari calon istriku." Changmin bangkin seraya mengusap-usap bagian belakang tubuhnya yang berciuman dengan tembok setelah mendapat ciuman manis dari dua kaki calon istrinya, menurutnya. "Aku jadi berpikir, aku tak perlu memilih antara Jaejoong atau Yunho hyung. Aku bisa memperistri keduanya. Hehehe~" tambahnya ketika ia berhasil duduk di sofa yang berhadapan dengan tempat Jaejoong dan Yunho duduk.

Omong-omong Jae, ada kopi tuh. Yakin tak mau melakukan sesuatu dengan itu? baikla—ah, Jaejoong terlambat. Yunho lebih sigap meski dengan pikiran yang tak begitu jahat dengan UVO berbentuk bantal sofa yang melayang kearah Changmin itu.

"Bukankah kau akan menyerah?" Tanya Yoochun yang ternyata menyusul Changmin untuk duduk disana, tentu saja bersama kekasihnya.

He? Changmin? Menyerah? Sejak kapaaaan? Tak pernah tuh ada dalam kamusnya.

"A-a!" Changmin menggoyangkan telunjuknya.

"Kenapa kau keras kepala sekali sih?" Junsu dengan sadisnya memukuli Changmin dengan bantal melayang tadi. Rasakan! Enak saja mau mengganggu hubungan kopel terserasi di jagat perkpopan.

"Hyung~" Changmin meminta ampun. Matanya kembali menampilkan ekspresi kucing terbuang. Ada lapisan kaca yang bisa jatuh kapan saja dimatanya, membuat Junsu menghentikan pukulannya. "Aku kan hanya ingin seorang kekasih." Tambahnya pelan, dramatisasi yang tepat sasaran. Junsu berhenti memukulinya dan menggantinya dengan ekspresi simpati pada pria itu. Yosh! Changmin memang cerdas.

"Tapi tak perlu mengganggu Yunho hyung kan? Banyak wanita yang pasti tergila-gila padamu diluar sana."

"Aku tahu, aku memang tampan. Dan banyak wanita ingin menjadi kekasihku." Weh, oke~ ini bukan narsisme, apa yang diucapkan Changmin adalah sebuah fakta. Iyakan? Siapa yang setuju, mari ang—baik. Biarkan Changmin melanjutkan. "Tapi aku tak ingin kekasih seorang wanita. Aku ingin pria."

"Ehhh!" oke, sekali tepuk tangan untuk Changmin. Ia memang cerdas, tahu sekali bagaimana caranya membuat dirinya menjadi paling tampan diantara empat pria lainnya diruangan ini. Hohoho~ pernyataan darinya membuat empat pria itu melongo tak kece, lagi.

"Mengapa kau ingin seorang pria? Aku saja masih suka wanita." Ujar Jaejoong berhadiah tunduk lesu dari Yunho.

"Kalau begitu, berikan Yunho hyung padaku ne?" Changmin mengedip-ngedipkan matanya, berharap Jaejoong melihat eksprtesi 'imut' darinya.

He? Changmin memang cerdas. Pintar sekali mencari celah. Membuat Jaejoong ingin melemparnya ke luar angkasa. Biar bertemu alien jelek berkelamin pria untuk pria itu, berkelamin ganda juga bolehlah. Biar Changmin puas, ugh! Jaejoong emosi. Bener deh, dia jadi pengen makan Yunho, sekarang!

Buk!

Hehehe, biar deh Junsu tercemar oleh Yoochun, yang penting ia masih menjadi adik yang baik untuk Jaejoong. Tanpa susah-susah menggerakkan tangannya, Junsu yang sudah melakukannya duluan :3 memukul Shim Changmin, meski pukulan itu tak mampu mengirimnya ke luar angkasa sih.

"Kau gila. Apa alasanmu untuk semua ini. Bukankah kau suka wanita sebelum mengejarku?" Ujar Yunho.

"Habis, menjadi gay adalah tren akhir-akhir ini. Aku hanya mau mengikuti tren saja."

Brak!

Gubrak!

Sebaiknya jangan lihat, jangan lihat! Posisi empat pria tampan itu kini sangat amat menggairahkan. Dan Changmin, berhasil menjadi pria paling tampan lagi, lagi-lagi.

"Hyung!" suara khas milik Junsu membuat Yunho dan Jaejoong tak memperdulikan lagi kekehan Changmin. Mereka segera membenarkan posisi mereka akibat alasan Changmin."Aku mau pulang. Terlalu lama disini akan membuatku jadi gila." Ujar Junsu setelah kembali pada posisi tampannya. "Karena kau akan menginap disini, Chunnie yang akan menemaniku. Tak apa kan hyung?" sebenarnya Jaejoong ingin menangis setelah mendengar kalimat Junsu. Jika Junsu dan Yoochun berada dalam satu rumah dan berada dalam satu kamar, bagaimana dengan kepolosan adiknya? Pasti terkikis habis ToT

Tapi, *.*)9 demi keberlangsungan hidupnya, biarlah. Biarlah Junsu mengikis habis kepolosannya. Daripada nyawanya yang terkikis? Itu lebih berbahaya kan? Jaejoong yakin kok. Ia masih memiliki predikat kakak yang baik meski mengorbankan kepolosan Junsu. Toh mereka melakukannya atas dasar suka sama suka, iya kan?

Dengan semangat, Jaejoong beranjak dari duduknya.

"Baiklah, hyung antar kau sampai ke mobil kalian ya." Jaejoong melangkahkan kakinya. Diikuti Junsu dan Yoochun yang tengah berada diambang pintu kamar Yunho. Yunho berdiri, melirik Changmin sebentar lalu segera menyusul Jaejoong.

Beberapa langkah cepat ia ambil dan akhirnya, ia tiba disamping Jaejoong. Yunho memasang senyuman yang entah mengapa terlihat sangat manis dimata Jaejoong, membuatnya tak menolak ketika Yunho menarik telapak tangannya dalam sebuah genggaman hangat.

"Nah, Junnie. Jika nanti appa pulang, pura-puralah. Demi hyung ne." Ucap Jaejoong ketika mobil yang biasa digunakan Yoochun meluncur indah dan berhenti dihadapan mereka. Seorang pelayan pria yang bekerja dirumah Yunho keluar dari sana lalu segera membukakan pintu untuk Junsu.

"Araseoyo." Jawab Junsu setelah mendapat posisi nyaman di kursinya.

"Baiklah, hyung. Aku titip Jaejoong-hyung padamu ya." Ujar Yoochun. Err~ ada yang punya air. Ada kebakaran dalam kepala Jaejoong, lihat saja. Ada asap keluar dari sa—

"Seharusnya aku yang mengucapkan itu pabo! Awas jika berani mengusik kepolosan Junnieku tersayang." Ohhh~ itulah tanda kakak sayang adik. Lupakan fakta jika tadi Jaejoong berpikir sebaliknya.

"Sudahlah." ujar Yunho menenangkan. Pria itu memberi kode pada sepupunya agar segera meninggalkan rumah mereka, rumahnya lebih tepatnya. Dan shiuuuung~! Yoochun mematuhinya.

Yunho, dengan senyuman manisnya kembali menggenggam tangan Jaejoong ketika berniat kembali kekamarnya. Genggaman yang entah mengapa terasa nyaman untuknya. Yah, sungguh sangat nyaman untuknya sebelum—

"Hehehe, aku ikutan hyung." Seorang evil menyelinap diantara mereka. Memutuskan tautan tangan mereka, mengantinya dengan tautan antara Yunho-Changmin-Jaejoong. Oh, God!

-oOo-

Hari ini penuh dengan penderitaan. Ya, benar. Ini semua karena Shim Changmin, calon pacar dari seekor alien di luar angkasa sana itu. Setelah tadi memutus tautan menyenangkan dari tangan Yunho dan Jaejoong, serta mencuri kecupan darinya dan dari Yunho. Ish, mengingatnya saja membuat Jaejoong ingin meremasnya sampai hancur. Sekarang, ditambah lagi. Pria itu tak mau makan jika bukan Jaejoong dan Yunho yang menyuapi. Hei! Yang akan jadi suami istri itu kan Jaejoong dan Yunho. Seharusnya merekalah yang saling menyuap. Bukan malah menyuapi Changmin. Menyebalkan~

Tapi syukurlah, kini hari penuh penderitaan itu akan segera berakhir. Yunho dan Jaejoong tengah berada dikamar Yunho. Hari sudah malam, dan kini sudah waktunya untuk tidur

"Aku tidur disini Yun?" tanya Jaejoong ketika tangannya bergerak untuk membuka kancing kemejanya.

"Iya, mau dimana lagi? Atau kau lebih suka jika Changmin yang tidur disini? Atau kau berharap tidur dengan Changmin?" tanya Yunho sarkastik. Masih kesal dengan ucapan-ucapan Jaejoong mengenai kenormalan dirinya.

"Tidak sih." Jawab Jaejoong pelan. Ia kembali fokus pada kancingnya. Ia tak menyadari jika Yunho memandanginya dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan. Bukan hanya untuk Jaejoong, untuk Yunho pun terasa aneh. Ia sangat meyakini jika ia adalah pria normal yang masih tergoda keseksian wanita. Kecantik—cantik, pria dihadapannya itu memilikinya. Ini bukan salahnya jika tiba-tiba ia menjadi gay. Salahkan saja wajah Jaejoong yang begitu menipu itu. Mana ada pria secantik itu, bibir semerah itu, kulit seputih dan selembut itu. Sangaaat lembut jika Yunho ingin mengatakan sejujur-jujurnya. Membuatnya betah ketika menyentuhnya.

Kemeja yang dikenakan Jaejoong tanggal, ketika pemilik mata musang itu tengah mengingat kembali bagaimana halusnya kulit yang telah dua kali ia kecap. Oh, Tuhan memberinya pertanda? Yunho ingin melupakan fakta jika Jaejoong terus bersikap seolah ia keberatan dengan apa yang terjadi siantara mereka. Yunho ingin memilki Jaejoong tanpa mengetahui alasannya. Ia hanya ingin Jaejoong terus menjadi miliknya. Ia bisa mengesampingkan kekeras kepalaan pikirannya tentang bagimana orientasi seksualnya. Ia hanya, hanya menyukai Jaejoong saja.

Yunho melangkahkan kakinya ketika Jaejoong mulai melepaskan celananya, berniat untuk menggantinya dengan pakaian yang akan membuatnya nyaman dalam tidurnya. Matanya membulat ketika mendapati Yunho berada dekat dengan dirinya melalui pantulan cermin dihadapannya.

"I-" matanya membulat ketika Yunho membalikkan tubuhnya dalam satu gerakan.

"Jaejoong-ah, aku tahu hubungan kita terlihat aneh. Seperti kau yang terus menyangkal jika kau adalah gay, akupun begitu. Aku bukan gay." Yunho menyuarakan pikirannya. Benarkan? Jaejoongpun merasa aneh. Ketika berhadapan dengan Yunho, seolah ada yang mengendalikannya. Ia tak mengerti bagaimana bisa ia bisa begitu terhanyut dalam buaian Yunho. "Tapi, aku rasa aku tak keberatan jika hal ini berkaitan denganmu. Jae, aku butuh jawabanmu. Jika kau ingin kembali menjadi pria normal, maka pergilah. Dan jika kau memutuskan berada disini, itu berarti kau tak keberatan dengan hubungan kita beserta semua konsekuensinya. Karena jika kau memutuskan berada disampingku, aku takkan pernah melepaskanmu."

Jaejoong menatap mata Yunho yang sedang menatapnya. Hyaaa! Yunho melamarnya—ehm, maksudnya. Dengan ini Yunho bermaksud mengikatnya kan? Ehehe-eh? Tadi apa? Yunho bilang jika ia ingin menjadi pria normal ia harus pergi dari sini ya? Yunho modus, sudah tahu Jaejoong hampir telanjang, masa iya ia disuruh pergi dengan keadaan seperti ini? Dih, bagaimana kalau ada serigala lapar yang tergoda akan tubuhnya? Mending dimakan Yunho saja deh.

Ne, tentang keturunan biar saja ia pikirkan nanti. Sekarang baiknya Jaejoong mengangguk malu-malu saja.

...

Bibir itu tengah bersatu. Satu bibir tebal dengan bibir penuh pasangannya. Kecipak basah karena saliva kini terdengar, nah ini~ baru dinamakan ciuman yang dalam.

"Ngghh~" lenguhan terdengar ketika Yunho meneroboskan lidahnya pada mulut Jaejoong. Menjilat organ yang sama dengan organ yang sedang ditugaskan oleh otaknya. Sensasi ribuan kupu-kupu dalam perut Jaejoong sudah tentu tak terelakkan lagi.

Jaejoong sudah mendapat kepastian untuk keputusannya. Saat ini, biarlah ia didominasi oleh Yunho. Ia memang harus menikah dengan Yunho, bukan hanya untuk vas yang dijanjikan Yunho. Tapi beberapa alasan lainnya yang tak bisa ia mengerti. Untuk masalah kekalahan atas taruhannya dengan Hyun Joong. Jaejoong sangat meyakini, dengan adanya ikatan pernikahan dengan pria yang kini tengah menyantap ganas bibirnya ia bisa mengendalikan Yunho lebih mudah. Sesekali, Yunho bisa meminta Yunho agar mampu ia rasuki nantinya, lalu merekamnya. Kalau Yunho menolak, pura-pura saja mau bunuh diri. Dengan itu, Yunho pasti akan menurutinya. Hehehe~ ini ide hebatkan? Yosh! Jaejoong juga cerdas kaaan?

"Nghhh~" lagipula, sese—well, jika dihitung, sudah tiga kali ia dalam posisi ini dengan Yunho. Dan ini nikmat. Tak ada ruginya, kekeke~ lagipula, berada di atas itu melelahkan. Jaejoong pernah mencobanya ketika di Jepang. Lebih enak dibawah, secara lahir dan batin. Serius deh :Dv

"Ahnn~ Yunhhhh." Kapan tepatnya ia mengalami keadaan tanpa busana, Jaejoong tak mengetahuinya dengan pasti. Hanya saja, ia tak lagi perduli. Yunho akan segera memanjakannya, meski itu berarti Yunho juga akan ia manjakan sih. Ih, mengapa dalam hal ini Yunho juga mendapat keuntungan sih. Padahal, inikan pelecehan. Ish, menyebalkan.

"Ahh, ahhh~" desahan terus lolos dari bibirnya, kecupan demi kecupan. Sentuhan demi sentuhan, terpaksa membuatnya mengakui. Yunho hebat, tak sia-sia pinggang dan perut menggodanya itu ada.

Satu jari bertambah dua dan akhirnya tiga yang menerobos tak sopan dan tubuh Jaejoong, tapi tak apa. mereka hanya melakukan tugasnya untuk membuat Jaejoong tak kesakitan nantinya. Lagipula, akan ada surga yang jatuh dihadapannya ketika—

"Aaaannn~!"—penyatuan terjadi antar ia dan, katakan saja kekasihnya.

Yunho terus bergerak, berusaha mencapai titik tertinggi untuknya dan Jaejoong. Sering ia menambahkan kecepatan dari gerakannya untuk mempercepat tibanya ia pada surga disana. Dua tubuh yang bergumul polos di sebuah ruangan itu tak berhenti. Mereka akan tiba pada tujuan akhir mereka dalam melakukan kegiatan ini.

Yunho menggeram dan Jaejoong mendesah, sedikit lagi mereka akan tiba. Ya, sedikit lagi—

"Kalian seharusnya mengajakku." –jika saja sosok manusia yang telah tiga kali menganggu acara mereka berdua datang lagi. Menyurutkan hasrat Jaejoong dan Yunho yang hampir mencapai puncak. Gezzzz! Haruskah ia muncul ketika Yunho dan Jaejoong akan meledakkan hasratnya? Tuhan! Kirimkan jodoh Changmin sekarang juga!

Hueh, sepertinya Yunho dan Jaejoong harus menimbun ekstra kesabaran sampai saat dimana Tuhan mengirimkan jodoh untuk Changmin.

-END-

Anyeong~ chapter terakhir tiba! Yosh, aku menyelesaikan satu hutangku. Well, aku kurang puas sama chapter ini sebenernya, tapi aku dapet suport untuk bisa publish chapter akhir ini. Hehehe~ karena ini aku udah kasih tanda skip -end- ini menunjukkan bahwa ini chapter terakhir ya. Nggak akan ada chapter lima sebagai tambahan. Review, kritik, saran, dan jika ada yang mau protes, silahkan layangkan saja pada kotak review ya.

Hihihi, aku mulai review replynya ya :3 aku merasa kehilangan sense of humornya di dua part terakhir T.T ifa. , masihkah kamu mrenges ketika baca part 4?

Iya, YunHolic aku munculin Yunhomen dimata Jaejoong *eaaa* bener juga nih, kurang poni kail ikan. Aku nggak kepikiran sama sekali deh yunnielicius. Aku nggak bisa bayangin hehehe~ papi tuh lebih keren rambutnya begitu-begitu. Bukan kelimis. Gpp kok, makasih ya udah review. By the way, aku nggak bisa bikin lemon loh, bisanya begituan doang tuh zhe maaf ya, kalo mengecewakan.

Hihihi. Aku nggak ngerti deh, Min jatohnya punya kopel siapa :p yoon HyunWoon. Dan hehehe, aku kehilangan arah sih Krisslyd, pertanda mau kena WB ini *plak* bagaimana menurutmu tentang chapter ini? Jelek ya? Wooo, Yoochun pelit? Nggak kayak papi ya :p tapi, baca aja deh chapter ini. Mungkinkah Jung Yunho seme absolut bisa dijadikan uke, jeng! Jeng! *toel Guest* malah ada everadit yang ngeramalin kiamat bakal dateng 100 tahun lebih cepat kalo Yuno beneran jadi uke. Makanya, jangan dibayangin deh eunwoo. Kekeke~ mami papi aja otaknya lagi berbelit, aku pikir nggak masalah kalo otak halmoni sama harabojinya juga kita bikin berbelit. Kekeke~ koplak-koplak gitu, kayak yang dibilang Cherry YunJae.

Ini ff ringan cho ri rin, ff ini nggak aku maksukin maslah berat. Paling, paling hal yang bikin kesel aja kok, bukan hal yang bikin stress :p ff ini juga bakal jadi ff multi chapter yang chapternya dikit, hehehe. Itutuh Jaejung Love, Jeje sama Yuno tuh udah ke program otaknya. Supaya kalo mereka lagi berduaan, seolah mereka tuh ditarik benang merah, hehehe *apadah* ya itulah, seperti yang aku bilang. 3kjj, Yuno nggak playboy kok. Memang nasib aja, tiang tinggi akan menjadi pengganggu hubungan indah antara YunJae *jiah*okeee, ini. Maaf sampe bikin kamu nagih, kemarin itu lagi tahap pembetaan *gayanyaaaaa~*

Well, hai namja tampan *colek PhantoMirotiC* minta plastik muntah dong *jder!* kan memang ff ini untuk Mirotic day, jadi cocoklah. Sipp, baca chapter lanjutannya dan mohon beri saran ya, jae sekundes. Bagaimana chapter kali ini? Hehehe, apa kamu masih ngakak baca chapter ini nickeYJcassie?hihihi, aku pake keduanya. Junnie dari Jaejoong dan Su-ie dari Yoochun :3 iya kan?

Makasih untuk semua yang baca dan review, mian jika ada kesalahan yang kurang mengenakkan dalam ff ini dari awal chapter hingga chapter ke empat ini ne. Khamsahamnida *bow*

O-Cyozora