Balasan Review :
Zombie-NHL : sippo (y)
Arisa Yuki : Haha :D. penasaran? Saya juga, hehe. Kok review Risa-chan gak muncul ya di email? :/
Hikarishe : duh, ini happy ending kok! :')
Winda : maksudnya itu teh gimana ya? Amaya gak ngerti. Hehe :D
.
.
.
Setelah selesai dengan pekerjaannya, Hiashi memutuskan untuk beristirahat sebentar. Diliriknya seorang gadis yang tertidur pulas di atas sofa. Hiashi mengambil selimut untuk menyelimuti tubuh putrinya. Dia tersenyum saat melihat wajah anak sulungnya yang begitu damai dalam tidurnya. Tiba-tiba dia teringat sesuatu yang membuatnya tidak tega merusak kebahagiaan anak-anaknya.
Dibelainya puncak kepala Hinata dengan penuh rasa sayang. Kemudian mengecup dahinya. Setelah itu kembali lagi dia pandang anak gadisnya dengan penuh sayang. Tangannya terus mengusap kepala Hinata.
Sebagai single parent, Hiashi harus bisa menjadi ayah sekaligus ibu untuk anak-anaknya. Melihat anak-anaknya sudah tumbuh besar seperti ini, hatinya sedikit tenang. Sudah sangat menyakitkan untuk mereka saat kehilangan sosok ibu. Dan untuk masalahnya sekarang, dia tidak tega membuat anak-anaknya sedih kembali.
Masalahnya harus segera dituntaskan! Hiashi tidak ingin merenggut kebahagiaan putri-putrinya. Namun dia sendiri tidak tahu harus bagaimana lagi?
"Gomen ne, Hinata!"
.
.
.
2 in 1 (Dua Jiwa dalam Satu Raga)
By Amaya Katsumi
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Angst, Hurt/Comfort, Drama, Family, Fantasy, Mystery
Pairing : NaruHina
Rate : M for save
Warning : Typo, gak jelas, gak nyambung (dan kesalahan lainnya)
Don't like, don't read!
.
.
.
Hinata POV
'Ceklek'
"Hah!" aku terperanjat bangun dan membuka mataku ketika seseorang membuka pintu. "Selamat datang! Boleh kutahu apa keluhanmu?" ucapku tiba-tiba.
"Hinata-san, ini aku!"
Kupandang wajahnya yang memandangku bingung. Dia adalah perawat yang menjadi asistenku. sudah beberapa hari ini semenjak pertemuanku dengan bocah hantu itu, aku menjadi sulit tidur. Selain bocah itu, ada nenek yang juga mendatangiku dan memintaku untuk memberikan surat permohonan maaf kepada anaknya. Ada juga seorang perempuan yang mati bunuh diri dan memintaku untuk melepaskan tali yang menyangkut di lehernya. Akibatnya, beginilah! Aku selalu tertidur saat bekerja. Pasien yang mengunjungiku selalu membangunkanku dengan berbagai macam variasi. Ada yang menepuk pipiku, ada yang menggebrak meja, ada juga yang pergi lagi keluar.
"Hinata-san, kulihat kau seperti kurang sehat. Apa kau kurang tidur?" tanyanya.
Aku mencoba membuka mataku untuk menjawab pertanyaannya.
"Ya. banyak hal yang terjadi padaku yang akhirnya aku mengalami insomnia. Arrghhh! Bisa-bisa aku menjadi makhluk nocturnal!" aku menjambak rambutku frustasi.
"Sebaiknya kau pulang saja untuk beristirahat. Kau terlihat sangat kacau." Ungkapnya.
"Tidak tidak! Aku baik-baik sja! Aku akan membeli kopi atau minuman dingin untuk menyegarkan pikiranku."
Kemudian aku berjalan keluar ruangan. Sesampainya di kantin, bukannya membeli minuman, tapi aku malah duduk di meja karena aku merasa sangat mengantuk.
Sepertinya tidur sebentar akan membuatku merasa lebih baik. Masih posisi duduk, aku mencoba menutup mataku. Rasanya enak sekali! Masa bodoh dengan orang yang melihatku atau pasien yang menungguku di ruanganku. Yang penting, sekarang aku harus tidur!
'Slaap'
"Eh?"
Apa ini? Rasanya sejuk sekali! Ada sesuatu yang menempel di pipiku. Rasanya segar!
Saat kubuka mataku, terlihat botol minuman dingin masih menempel di pipiku. Dan kulihat pelakunya adalah orang yang sangat kukenal.
"Hai, Hinata! Kenapa kau tidur di sini?" tanyanya.
"Ahh, Toneri! Sedang apa kau di sini?"
Aku menatapnya yang duduk di berhadapan denganku. "Aku habis menengok temanku yang dirawat di sini."
Kutengok botol yang ada di depanku. Menatapnya bergantian dengan Toneri.
"Itu untukmu!"
"Arigatou!" ucapku lalu meminumnya.
"Bagaimana kabarmu, Hinata? Aku baru melihatmu lagi."
"Aku baik. Kau?"
"Seperti yang kau lihat. Aku semakin tampan." Ucapnya yang membuatku terkekeh. "Kau juga semakin cantik, Hinata!" lanjutnya yang membuat menghentikan tawaku.
"Are?"
Dia tertawa kecil. "Kau lucu sekali, Hinata. Ngomong-ngomong, kau bekerja di sini ya? kau dokter spesialis apa?"
"Aku di bagian psikiatris. Kau tahu? Pasien yang datang untuk curhat padaku."
"Ya. karena ini negara maju, dokter kejiwaan sepertimu semakin banyak dibutuhkan."
"Kalau kau bagaimana? Aku juga baru melihatmu." Tanyaku.
"Di luar kota, aku bekerja di perusahaan robot. Di sana aku sebagai orang yang memogramkan robot agar bisa berjalan, berbicara, dan merespon."
Aku memperhatikannya berbicara. Toneri adalah temanku semasa SMA. Aku cukup dekat dengannya. Dia seangkatan dengan Naruto. Entahlah apa yang membuat kami saling mengenal. Mendengarnya bekerja seperti itu, membuatku terkagum-kagum.
"Ada apa dengan lingkaran hitam di matamu?" tunjuknya kepada mataku. "Kau jadi terlihat seperti zombie."
"Entahlah. Akhir-akhir ini aku merasa ada yang mengganjal."
Toneri mengangkat sebelah alisnya. "Kau ada masalah?"
Lalu aku melihat sosok perempuan dengan kepala menunduk di samping Toneri.
"Siapa dia Toneri?" tanyanya.
Lagi-lagi Toneri mengerutkan keningnya. "Maksudmu?"
"Perempuan yang ada di sampingmu. Sedari tadi dia mengikutimu. Perkenalkanlah padaku."
Mata Toneri terbelalak. "Hinata, kau jangan bicara yang aneh-aneh. Di meja ini hanya ada kita berdua."
"Are?"
Aku melirik sosok itu sekali lagi. Dia masih ada di tempat. Tempat ini memang sedikit gelap karena kantin ini berada di ruangan tertutup. Sedikit gelap karena listriknya sedang padam.
"Kau tidak melihatnya, Toneri? Lalu aku melihat apa? Demi kami-sama! Dia masih ada di sampingmu."
"Demi kami-sama! aku tidak melihat apapun selain kursi di sampingku ini."
Hah! Apa yang terjadi padaku? Ini membuatku semakin bingung. Jadi sosok yang mengikuti Toneri ini adalah hantu karena hanya aku yang bisa melihatnya?
…
Dengan langkah gontai, kakiku terus berusaha membawa tubuhku untuk segera pulang dan tidur sebelum hari semakin gelap dan para arwah mendatangiku. Berkali-kali aku menubruk orang dan meminta maaf. Demi Kami-sama! Aku hanya ingin tidur! Siapapun, tolong aku!
Langkahku terhenti saat melihat ada kecelakaan mobil di jalan. Yang membuatku merinding adalah sosok melayang yang berdiri di samping mayat yang sedang dibawa oleh petugas. Dan yang lebih sialnya lagi, makhluk itu melihatku dan menyadari kalau aku bisa melihatnya.
Tolonglah jangan kemari! Aku hanya ingin tenang sebentar saja.
Aku pun menghela nafas lega saat sosok itu langsung menghilang. Lalu senyum di bibirku memudar ketika aku merasakan hawa tidak enak di belakangku. Aura dingin yang membuat bulukudukku merinding dan detak jantung meningkat. Sedikit mengintip ke belakang dan sosok itu ternyata sedang melototiku. Tubuhku semakin gemetar ketika dia mengulurkan tangannya padaku. Aku menutup mataku karena tidak ingin melihat lebih jauh lagi.
'Tap'
"Tolong jangan dekati aku! Kumohon pergilah!" ucapku sambil berjongkok dan kedua tanganku menutupi kepalaku setelah seseorang menepuk bahuku.
"Hei, ada apa denganmu?" tanyanya.
Sepertinya aku mengenal suara ini. Tapi, apakah benar dia bukan hantu?
"Apa kau masih hidup?" tanyaku takut.
"Hinata, kau ini kenapa sih?"
Aku mengangkat kepalaku untuk melihat wajahnya. Kedua pipiku memerah ketika melihat orang itu karena menahan malu. Langsung aja aku mengubah posisi menjadi berdiri dan menghadap kepadanya.
Bagus sekali Hinata! Kau telah mempermalukan diriku berkali-kali di depan Naruto-kun. Pasti sekarang dia telah menganggapmu gila.
"Apa ada seseorang yang mengikutimu? Atau kau takut melihat kecelakaan tadi?"
Mataku mengedarkan pandangang ke berbagai arah. Dan mataku terbelalak saat sosok perempuan itu muncul lagi di hadapanku. Secara reflex aku memeluk tangan Naruto-kun.
"Ada apa, Hinata? Apa ada yang menakutimu?" tanya Naruto-kun.
Tanganku kuulurkan untuk meraba-raba kearah depanku. Baru kusadari mereka (hantu) selalu menghilang saat aku menyentuh Naruto.
Eh? Aku menyentuh Naruto-kun?
Sepertinya aku memang butuh istirahat. Aku baru menyadari kalau aku memeluk Naruto-kun. Reflex aku melepaskan kedua tanganku. Sudah dipastikan wajahku ini telah memerah sempurna! Bukan karena ada Naruto-kun, tapi lebih karena malu! Uhhh, Kami-sama!
"Gomen, Naruto-kun! Ngomong-ngomong, ada apa? Ada yang bisa kubantu?" tanyaku yang masih menundukkan kepalaku untuk menyembunyikan wajah memalukanku.
"Haha, kau bertanya seolah aku adalah pasienmu! Aku baru saja mau pulang. Saat kulihat ada kecelakaan, aku memutuskan untuk melihat lebih dalam lagi. Dan kebetulan ada kau di sini, lalu kucoba untuk menyapamu. Yang kudapatkan sekarang adalah sikapmu yang sangat lucu." Jelasnya.
"Apa kau juga mau pulang? Kalau begitu, biar kuantar!"
Aku mengangguk. "Arigatou!"
"Ayo!"
Aku hanya mengikutinya dari belakang. Dan lagi-lagi sosok perempuan itu muncul lagi di tempatku tadi berdiri. Dia hanya diam sambil menatapku pergi.
…
Kulangkahkan kakiku untuk masuk ke dalam tempat aku tinggal selama 23 tahun ini, setelah mobil Naruto-kun melesat pergi.
Ngomong-ngomong tentang Naruto-kun, tadi kami bicara banyak tentang bagaimana pekerjaan kami dan juga membicarakan masa-masa sekolah kami. Tadi Naruto-kun begitu hangat dan ramah. Sifat dia yang biasanya telah keluar. Aku senang dia yang seperti itu daripada Naruto-kun yang dingin dan pendiam. Tapi, aku bertanya-tanya, kenapa sih Naruto-kun bisa seperti itu? apa ada semacam pribadi ganda?
"Hinata-sama!"
Lamunanku terhenti saat satpam di rumahku memanggilku.
"Kenapa Hinata-sama malah diam di sini? Kenapa tidak masuk? Sebentar lagi akan hujan." katanya.
"Ohh… ano…. Aku akan segera masuk. " aku melangkahkan kakiku lagi untuk masuk ke dalam. "Ji-san, apa tou-san ada di rumah?" tanyaku.
"Tuan besar tadi kemari hanya sebentar. Setelah itu, beliau pergi lagi bersama Neji-sama." Jawabnya.
"Hanabi?" tanyaku lagi.
"Hanabi-sama mungkin sudah tidur."
Setelah kami selesai bicara, aku membungkuk padanya dan segera masuk ke dalam rumah untuk segera beristirahat. Ahh, aku lelah sekali!
Namun harapanku untuk segera tidur sirna saat melihat sosok perempuan melayang di depan kamarku. Secara mendadak dia membalikan kepalanya dan langsung melototiku sampai-sampai aku dibuat takut olehnya.
"Kenapa kau mengikutiku?" tanyaku kesal.
Selama beberapa detik dia tak kunjung bicara. Aku memutuskan untuk melewatinya dan membuka pintu kamar.
"Tolong bantu aku, nee-san!" pintanya yang membuat langkahku terhenti.
"Besok saja ya? aku hanya ingin istirahat saja."
"Kumohon!"
Sekarang aku hanya bisa menghela nafas kasar untuk mengatakan kekesalanku. Tolonglah! Aku hanya ingin tidur saja! aku bersumpah ini yang terakhir dan setelah itu akan tidur nyenyak.
…
"Kau yakin ini tempatnya?"
Dia mengangguk.
Saat melihat lambang yang ada di depan gerbangnya, rasanya aku sangat mengenal itu. rumah ini juga terasa tidak asing lagi bagiku.
Ah, aku tidak percaya akan melakukan hal ini lagi! Dengan berbekal jas hujan, aku menembus derasnya hujan demi membantu hantu yang bersamaku ini untuk menyampaikan surat cinta. Dia mengatakan kalau dia tidak akan tenang sampai dia bisa mengatakan perasaannya pada seseorang yang dia sukai. Dan hantu ini memaksaku untuk langsung memberikan surat ini kepada orangnya tanpa perantara siapapun lagi. Uhh, tubuhku mulai menggigil!
'Ting tong'
Seorang satpam membukakan gerbang. Tubuhnya terlonjak saat melihat penampilanku yang seperti ini.
Apa ada yang salah dengan penampilanku?
"Konbanwa, ji-san! Apa pemilik rumah ini ada?"
Orang itu melihatku dari bawah ke atas. Setelah itu, dia mengangguk dan menyuruhku masuk ke dalam. Namun aku memintanya untuk membawanya di depan pintu saja karena aku akan langsung pulang.
Tak lama kemudian, satpam tadi kembali lagi bersama pria berambut kuning yang sepertinya baru saja kutemui tadi.
Mataku membulat ternyata itu memang dia. Dan dia pun sama terkejutnya denganku.
"Eh Hinata! Apa ada yang tertinggal?" tanyanya.
Ternyata pria yang disukai perempuan ini semasa hidupnya adalah Uzumaki Naruto.
"Naruto-kun, apa aku mengganggu?"
.
.
.
To be continue
.
.
.
Amaya's note :
Hai, minna-san! Gimana malam minggunya? Amaya sedih karena setiap hari Jumat, Sabtu dan Minggu ffn sering sepi walau gak selalu.
Jujur nih, Amaya agak merinding pas ngetik chapter ini. Padahal niatnya mah cuma mau ngarang cerita, tapi kenapa mereka malah muncul ya? :D
Abaikan itu, minna-san! :3
Cerita hantunya terinspirasi dari drama korea. Tapi jangan bilang kalau ini plagiat ya! karena cerita itu cuma buat menghubungkan Hinata dengan Naruto. Cerita ini tidaklah sama dengan film itu karena ini murni karangan Amaya sendiri. Cuma Hinata yang bisa lihat hantunya dan juga saat memegang Narutonya aja.
Terima kasih untuk para reader yang sudah mau membaca, mereview, ngefollow, dan memasukan fic ini ke favorite. Kalau gak keberatan, tolong beri komentarnya di kotak review ya! ;) :)
