Rii : Ah! Akhirnya apdet juga.

Naruto : Gomen yang sudah menunggu fict author gaje ini.

Rii : Hehehe. Di sini telah ada Naruto is Dokter Cinta mode: on. Tapi masih sangat sedikit. Gomen! Malas nulis. Maka dari itu tanpa banyak bacot lagi,

Happy Reading, Minna!

.

.

_Secret Love a Dokter Cinta_

Disclaimer:

Naruto bukan punya rii, tapi punya seorang komikus berbakat bernama Mashashi Kishimoto

Rated:

T

Genre:

Romance / Drama –mungkin-

Pairing:

SasuNaru

NejiGaa

KibaHina

SaIno

ItaDei

KakaIru

dll. (Akan berkembang sepanjang perkembangan cerita)

Sumarry:

Naruto merupakan seorang Dokter Cinta di sekolahnya. Tapi dia sendiri tidak tahu bagaimana harus berhadapan dengan orang yang disukainya dan malah menjadi rivalnya, Uchiha Sasuke. Bagaimana Kisahnya?

WARNING!

Boys Love, STRAIGHT, AU, Gaje, Miss Typo(s), dll., dsb., dkk.

Don't Like? Don't Read!

.

.

Chapter 4

Pulang sekolah.

"Gaara!" teriak Naruto sambil menghampiri sahabatnya yang hendak menaiki motor sport-nya.

Gaara yang mendengar bahwa namanya dipanggil oleh suara yang sangat 'merdu' dengan segera menoleh ke arah Naruto.

"Hmm?" balas Gaara.

"Hosh...hosh...ah! Kau ini, aku panggil dari tadi...hosh...hosh..," kata Naruto karena kelelahan. Jelas dong? Masa gak? Nih, anak, udah lari dari kelas sampe parkiran motor KHS hanya untuk manggil Gaara yang emang gak tahu atau pura-pura gak tahu kalau dia dipanggil oleh sahabatnya tercinta ini dari tadi. –sabaku-

"Apa, Naru?" tanya Gaara.

"Ehem..,"

Naruto langsung berdehem kuat.

"Gini, loe bisa kan hari ini jam 3 sore ke rumah gue? Kita bakal kerjain tugas si maniak ular itu di rumah gue. Oke?" tanya Naruto sambil menunjukan jempol tangan kanannya dengan senyuman lebar.

"Baiklah," jawab Gaara.

"Eh? Tapi loe nanti datang 'ma Neji, ya! Si Neji gak tahu rumah gue sih. Nih nomornya!" kata Naruto sambil memberikan secarik kertas yang berisi deretan angka.

"Ya," balas Gaara datar.

Naruto pun nyengir senang.

Segera setelah itu Gaara langsung menaiki motor sport merahnya, tak lupa juga memakai helmnya yang berwarna hitam. Kemudian ia pun langsung melesat pergi dari KHS ini.

"1 misi terlaksana," gumam Naruto sambil nyengir senang. –lagi?-

Tak lama kemudian setelah Gaara pergi, datanglah seseorang yang langsung menghampiri Naruto.

Puk!

"WUAAA!" teriak Naruto karena kaget akan tepukan di pundaknya.

DUG!

"Gak usah teriak, Usuratonkachi," kata suara datar yang telah menjitak Naruto.

"Apaan sih, Teme? Ngagetin aja," kata Naruto dengan cemberut.

"Hn. Di mana rumah loe? Gue gak tahu," kata Sasuke datar to the point.

Naruto yang mendengar itu langsung terbelalak kaget. Sangat kaget.

'Ampun deh! Uchiha itu selain pelit dalam segala hal, juga to the point abis ya?' batin Naruto prihatin.

Tanpa mau berpikir lebih jauh tentang sifat-sikap Uchiha, Naruto langsung saja menjawab pertanyaan dari Uchiha bungsu di depannya.

"Ehem..Teme, nanti loe datang 'ma Gaara dan Neji aja. Mereka serempak kok. Jadi loe ikutin mereka aja," kata Naruto untuk menjawab pertanyaan Sasuke tadi dengan tidak jelasnya.

"Hn," balas Sasuke. Dan langsung nyelonong pergi ke tempat mobil ferarri-nya diparkirkan.

'Huh? Apaan tuh?' batin Naruto sweatdropped dengan kelakuan si Uchiha bungsu.

Naruto pun langsung pergi meninggalkan KHS dengan skateboard-nya. Dia gak mau lagi memikirkan tentang Uchiha, kepalanya terlalu pusing untuk memikirkan keluarga Uchiha yang sangat sulit ditebak akan tingkah lakunya.

.

.

~Secret Love of Dokter Cinta~

.

.

Kediaman Namikaze.

Terlihat bahwa pada jam dinding yang terdapat di dinding kamar bernuansa cerah itu telah menunjukan pukul 3 lewat 15.

"Ck...lama amat sih mereka," kata Naruto sebel.

Tentu saja, cowok manis berambut pirang ini merasa jenuh karena teman-teman sekolompoknya yang telah ia tunggu dari tadi telah terlambat 15 menit.

Dia pun merebahkan dirinya di kasur Queen size-nya.

Queen size? Kenapa bukan King size?

Maklum, nih anak gak suka sama yang mewah-mewah.

Kalo ditanya mengapa, pasti nih anak ngomong repot ngurusnya.

Ck...dasar gak mau ribet. Padahal yang dia punya termasuk golongan –cukup- mewah.

Beberapa menit kemudian.

"NARU-CHAN!"

Naruto yang tadi sedang membaca komik miliknya langsung melompat dari kasurnya saking kaget akan teriakan yang...sudahlah tak usah dibahas.

Diselimuti perasaan khawatir akan Kaa-san-nya yang berteriak 'merdu' itu, Naruto segera berdiri dari posisi jatuhnya yang tidak elit itu.

Dengan secepat kilat, Naruto langsung keluar dari kamarnya dan mulai menuruni tangga menuju lantai 1 rumahnya.

Drap! Drap! Drap!

"Ada apa, Kaa-san?" tanyanya khawatir terhadap kaa-san-nya yang teriak.

Kushina langsung membalikkan tubuhnya menghadap sang anak.

"Nih! Ada temenmu yang datang," kata Kushina santai sambil menunjuk ke belakang menggunakan jempol tangan kanannya.

Naruto yang mendengar jawaban dari Kaa-sannya hanya bisa sweatdropped.

'Ya, ampun, Kaa-san. Gini aja sampe teriak-teriak, emang aku budeg apa?' batin Naruto.

Naruto pun tersenyum canggung kepada Kaa-san dan teman-temannya.

"Eum..makasih, Kaa-san. Ehem…ayo masuk!" kata Naruto sangat canggung.

Maklum –lagi?- nih anak sedikit malu punya ibu yang super energik kayak Kushina. Saking energiknya, bisa mengalahkan makhluk yang seseram, sekuat, sebesar, sepintar apa pun. –lebay- *dilempar kunai sama kushina*

Kushina langsung aja kembali ke dapur untuk resep baru restaurantnya.

Naruto dan teman-temannya (author: tau kan siapa?) langsung aja menuju kamar Naruto tanpa basa-basi lagi.

Setelah sampai di kamar Naruto.

"Haa... Kaa-san selalu aja begitu," kata Naruto sambil menghela nafas.

"Ehm...Bibi memang gak berubah, ya," kata Gaara dengan senyum tipisnya.

Neji yang tak sengaja melihat senyum itu, pipinya langsung merona.

"Memang~. Eh? Napa lo, Neji?" tanya Naruto bingung karena melihat wajah Neji ada rona merah.

Neji yang sadar akan perubahan yang terjadi di wajahnya, langsung berdehem kecil.

"Ehem...gak ada apa-apa kok. Langsung aja deh kita kerjai," kata Neji yang mulai membuka laptop Naruto yang berada di meja kecil tepat di samping ia berdiri.

"Okelah," kata Naruto.

Satu jam kemudian.

"Neji, sudah belum?" tanya Naruto yang mulai bosan. Ia sedang berbaring di tempat tidurnya bersama Sasuke. Bedanya Sasuke lagi baca majalah 'Hero' miliknya sedangkan ia yah...tentu komik.

"Sudah-sudah kok. Tapi tanggung baru sedikit nih, nanti nilai kita jelek. Kan harus sebanyak-banyaknya," kata Neji yang sangat terobsesi dengan nilai bagus. Padahal nilainya saja tidak lebih tinggi dari Uchiha bungsu dan pemuda yang ditaksirnya.

"Eum...Naru. kita belum ada kartonnya. Beli dulu sana!" perintah Gaara yang sedang duduk di sebelah Neji kepada Naruto.

Naruto yang tadi berbaring terlentang di sebelah Sasuke yang terlungkup langsung menelungkupkan tubuhnya.

"Huh? Belum ada,ya? Okelah," kata Naruto yang langsung berdiri.

Gaara yang melihat Naruto telah berdiri, langsung mengalihkan pandangannya ke arah Sasuke.

"Sas, loe jaga Naruto sana!" kata Gaara datar namun ada nada menyeramkan di sana.

Yah...mulai deh Naruto-complex. –plak-

Merasa bahwa namanya disebut-sebut, Sasuke langsung aja melihat Gaara dari balik majalahnya.

"Hn. Si dobe ini kan bukan anak kecil lagi. Masa ke minimarket sebelah aja pake dikawanin. Loe terlalu protektif ke dia," kata Sasuke panjang lebar. OOC rupanya dia –chidoried-.

"Ya, sudah. Kalo elo gak mau, gue aja yang kawanin Naru," kata Gaara setelah mendengar tutur kata penolakan dari Sasuke. Ia –sangat- tidak mau kalau Naruto itu pergi ke tempat yang –menurutnya- cukup jauh dan berbahaya sendirian.

Tapi kenapa kalau sekolah tidak?

Yah..sebenarnya Gaara juga –sangat- tidak rela jika Naruto pergi ke sekolah sendirian menggunakan skateboard-nya sebab jarak dari rumah Naruto ke sekolah –menurutnya- jauh. Tapi, karena Naruto pernah mengatakan bahwa ia ingin mandiri dengan –sangat- terpaksa Gaara membiarkan Naruto pergi sendirian.

Gaara pun langsung berdiri dari tempat yang didudukinya.

Sasuke? Dia sangat tak peduli dengan apa yang dikatakan Gaara. Toh, menurutnya walau pun Gaara itu protektif banget ke Naruto tapi racoon satu ini bukanlah saingannya untuk mendapatkan Naruto karena Gaara telah menganggap Naruto sebagai adiknya sendiri, ia tahu itu.

'Eh? Gaara?' batin Naruto kaget.

Seakan teringat sesuatu, Naruto pun langsung melihat ke arah Neji.

Di situ Sang penerus Dojo keluarga Hyuuga itu sedang menatapnya juga.

Seakan tahu maksud dari tatapan mata lavender itu, Naruto langsung mengambil tindakan cepat.

"Eh? Eum...Gaara! Elo di sini aja, ya! Eum..eum...gak enak kan kalo di rumah gue adanya si Teme dan Neji. Kaa-san kan belum kenal mereka. Jadi loe di sini aja, ya! Err..gue pergi sendiri aja," kata Naruto dengan gugup. Maklumlah nih anak paling gak bisa bohong sama sahabat sejak kecilnya ini.

Mata Gaara memincing sejenak. Memikirkan perkataan Naruto yang menurutnya sangat kurang jelas itu.

"Ya, udah. Kita di sini aja. Biar Sasuke dan Neji yang pergi," kata Gaara datar sambil menarik lengan kanan Naruto untuk duduk di kasur Naruto bersama dengannya tepat di sebelah Sasuke yang masih berbaring.

"EH?" tanya Naruto kaget.

'Aduh! Susah banget sih,' batin Naruto geregetan.

'Ayo, Naruto! Berpikir! Berpikir!' batin Naruto kesal dengan otaknya yang berloading sangat lama mencari 1 ide untuk meninggalkan Gaara dan Neji berduaan di kamarnya ini.

Hening sejenak. Tapi tak beberapa lama, keheningan itu terpecahkan oleh suara Naruto.

"Ah! Eum...Gaara, belum tentu kan mereka berdua tahu eum...biar aku pergi sama Teme, deh. Jadi kalian berdua eum...cari lagi gambar dan infonya. Dari awal kan memang kalian yang cari. Jadi biar gue sama Teme yang cari. Oke? Ja ne!" kata Naruto cepat sambil langsung menyambar tangan kanan Sasuke dan langsung keluar dari kamar nyamannya ini.

"Ck," decak Gaara kesal.

Neji yang melihat Gaara berdecak kesal langsung angkat bicara setelah dari tadi ia tidak membuka mulut sedikit pun.

"Eum..Sudahlah, Gaara. Toh, Sasuke pasti ngejagain Naruto kok," kata Neji berusaha menghibur sang pujaan hati yang lagi kesal.

"Hmm. Kalo tuh anak ayam gak bawah Naru ke sini dengan selamat. Gue pastiin dia gak akan bisa natap dunia nih lagi," kata Gaara sadis dengan aura menyeramkan yang mulai keluar dari tubuhnya.

Neji yang menyadari hal itu hanya melanjutkan kembali kegiatan yang telah dilakukannya sedari tadi.

'Gue kok bisa suka ama orang yang kayak gini,ya?' batin Neji miris.

Ia sangat tak berani lagi menatap wajah Gaara yang telah duduk di sebelahnya lagi.

Sudah dipastikan dari aura yang keluar dari tubuhnya, kalo si racoon emo ini sedang mengeluarkan wajah psikopat-nya.

'Oh, Kami-sama! Semoga Dewi Fortuna masih berpihak kepadaku. Aku tak mau jika nanti ada suatu siaran berita yang menampilkan 'telah ditemukannya lelaki tampan berumur sekitar 17 tahunan berambut coklat indah panjang telah tergeletak tak berdaya di sebuah kamar teman blondienya. Dengan keadaan menggenaskan, rambut acak-acakan, badan biru lebam, sekujur tubuh penuh akan cakaran,'. Oh! Semoga hal itu tak terjadi, Kami-sama,'batin Neji sarkatis.

.

.

~Secret Love of Dokter Cinta~

.

.

Naruto yang telah keluar dari rumahnya bersama Sasuke segera menuju minimarket terdekat.

Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Sampai beberapa langkah telah cukup jauh dari kediaman Namikaze, Sasuke memecah keheningan dengan suara bariton khasnya.

"Ck. Dobe, loe ngapain nyeret-nyeret gue segala, huh? Malas banget gue," kata Sasuke dengan deathglare andalannya.

"Teme~ Neji temen loe kan? Masa loe gak tahu, kenapa gue mati-matian supaya Gaara tetap di rumah?" tanya Naruto dengan sedikit menggembungkan pipinya yang memang sudah tembem itu.

Sasuke mengernyit heran.

"Jangan bilang kau sedang menjalankan misi-mu sebagai Dokter Cinta," kata Sasuke kaget.

Naruto yang mendengar hal itu langsung menoleh ke arah Sasuke dan memberikan cengiran lebar khas miliknya.

"Tepat," katanya.

Sasuke pun langsung menghela nafas lelah.

'Nih, anak,' batin Sasuke.

Kemudian mereka pun melanjutkan perjalanan dengan diam.

Sampai, tiba-tiba...

"Ah! Naruto!" panggil seseorang yang diperkirakan Sasuke dan Naruto seorang wanita karena suaranya yang melengking tinggi itu.

Dengan segera Naruto membalikan tubuhnya diikuti dengan Sasuke untuk melihat siapa orang yang seenak jidatnya teriak-teriak di tempat umum. Memang nih jalan punya nenek moyangnya apa? –author dibantai-

Terlihatlah dari jauh seorang wanita cantik berambut pirang pucat panjang yang sedang berlari ke arah mereka.

"HUAH! Akhirnya nyampe juga. Fiuh," kata wanita yang memakai tanktop putih dan celana ¼ tersebut sambil mengelap peluh yang mengalir dari keningnya.

Naruto yang telah dapat melihat dengan jelas siapa wanita yang menuju ke arahnya ini, langsung angkat bicara.

"Eh? Ino-chan, ada apa?" tanya Naruto innocent.

Ino yang sedang sibuk mengatur nafasnya karena berlari menghampiri mereka berdua ini langsung menoleh ke arah Naruto.

"Oh, iya-iya. Eum...maaf, Sasuke-kun, aku pinjem Naruto dulu, ya!" kata Ino dengan senyum manisnya.

"Hn," respon Sasuke.

Yah...Uchiha bungsu satu ini memang dari tadi tak tertarik dengan pembicaraan yang akan Ino mulai ke Naruto. Toh, ia telah dapat menebaknya.

'Pasti soal cowok yang disukai Ino. Sepupu yang memalukan nama Uchiha ini,' batin Sasuke malas.

Ah! Tahukah kau Sasuke, jika Naruto adalah seorang Dokter Cinta, kau adalah PERAMAL CINTA di KHS. Untuk apa? Untuk memprediksikan seberapa persen kecocokan pasangan ini, lalu seberapa persen keberhasilan PDKT seseorang,dan lain-lainnya setelah mereka berkonsultasi kepada Naruto. Karena apa? Tebakanmu saat ini, SANGAT TEPAT. –chidoried-

Ino pun langsung menarik Naruto sedikit menjauh dari Sasuke.

Dengan terpaksa pun, Sasuke harus menunggu Naruto. Walau ia berniat kembali ke rumah Naruto, itu tidak mungkin. Maaf saja, ya! Ia tidak mau mati cepat hanya karena ia tidak membawa si rubah satu ini pulang ke rumah bersamanya oleh si racoon protektif.

"Ada apa, Ino-chan?" tanya Naruto bingung.

"Ssst...Naruto, kecilkan suaramu! Aku ingin berbicara soal Sai," bisik Ino ke telinga Naruto sambil melirik ke arah Sasuke.

Sasuke? Walau tahu, ia hanya cuek. Dia harus pura-pura tidak tahu kalau Ino suka sama sepupunya karena ia mengetahui hal ini secara tidak sengaja saat mendengar pembicaraan mereka berdua di atap. Salah sendiri kan? Soalnya itu tempat biasanya Sasuke mengistirahatkan diri dan entah kenapa saat itu dua orang ini berada di sana dengan suara cukup keras untuk didengar di tempat sepi pula.

"Ah! Baik-baik. Kenapa dengan Sai?" tanya Naruto dengan berbisik juga.

'Semoga duo blondie ini gak dikatain gila karena berbisik terus dari tadi,' batin Sasuke.

Lanjut ke percakapan duo blondie kita!

"Gini, Naruto. Si Sai kok nampaknya jika di depanku tidak pernah memperlihatkan senyumannya,ya? Apa ia benci padaku?" tanya Ino berbisik dengan raut wajah sedih.

'Senyum memuakan palsu itu?' batin Naruto bertanya.

"Eh? Ino-chan, belum tentu," kata Naruto tegas.

"Ssst...ssst...tapi biasanya ia juga senyum ke arahku. Sekarang semenjak aku melancarkan aksi PDKT sesuai saranmu, ia mulai tak pernah lagi senyum kepadaku," bisik Ino miris.

Naruto yang melihat wajah sedih Ino langsung ikut sedih juga. Sungguh! Ia tak tahan jika melihat wajah sedih, apalagi air mata.

"Ehem...Ino-chan, belum tentu itu dibilang benci kan? Menurutmu senyum Sai selama ini, itu senyum yang bagaimana?" tanya Naruto lembut.

Perlahan tapi pasti, ia ingin membuat Ino bahagia.

"Eh? Senyum? Ehm..entahlah. Tapi entah kenapa aku merasa senyum selama ini hanya senyum buatan, tak berasal dari hati?" tanya Ino ragu.

Naruto yang mendengar itu tersenyum senang.

"Jadi? Ino-chan tahu kan maksudku?" tanya Naruto lembut masih dengan senyuman manisnya.

Ino tampak berpikir sejenak.

Tiba-tiba ia membelalakan matanya, seakan menyadari sesuatu.

"Tapi...tapi, Naruto. Bagaimana caraku untuk berkomunikasi tanpa canggung kepada Sai yang sekarang ini?" tanya Ino bingung.

"Eumm..,"

Tampak pula Naruto yang sedang berpikir akan pertanyaan Ino tadi.

"Ah! Coba aja Ino-chan mengajak Sai jalan, kemudian sedikit demi sedikit buatlah Sai merasa bahwa Ino-chan bisa dipercaya untuk membagi kisahnya," kata Naruto riang.

"Ehmm...Ngomong sih, gampang, Naruto. Tapi melakukannya itu bikin pusing~," kata Ino sambil memegangi kepalanya yang nyut-nyutan.

"Hehehe...Maaf, deh! Aku kan Dokter Cinta cuma bisa memberi saran. Gak untuk yang lainnya. Maaf, ya, Ino-chan," kata Naruto sambil membungkukan tubuhnya.

Ino pun hanya bisa memperlihatkan wajah sedihnya.

Naruto yang tadi hendak pergi ke arah Sasuke, tiba-tiba menolehkan kepalanya ke arah Ino berdiri.

"Tapi aku percaya, jika berbuat dari hati, sebesar apa pun kesulitannya, Ino-chan pasti bisa mendapatkan caranya," kata Naruto dengan cengiran yang terukir di wajahnya.

Ino langsung membelalakan matanya kaget.

"Kau benar, Naruto. Arigatou!" gumam Ino dengan senyumannya.

Kemudian, ia meninggalkan tempat itu dengan perasaan lega dengan tekad kuat.

Naruto yang telah tiba di dekat Sasuke pun, tanpa basa-basi lagi langsung menuju ke minimarket yang berjarak 10 meter lagi dari tempat mereka berdiri.

"Loe kalo jadi Dokter Cinta berbeda, Dobe," kata Sasuke datar.

Naruto yang mendengar hal itu langsung cemberut.

"Ini kan beda, Teme. Dokter Cinta itu harus bersikap yang dapat memancarkan semangat ke client-nya," kata Naruto dengan bangganya.

Sasuke yang mendengar jawaban Naruto hanya bisa mendengus geli.

'Dobe, loe bener-bener polos,' batin Sasuke senang.

Sungguh! Ia tak bisa tidak senang dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan matahari hidupnya ini.

To Be Continued

Rii : Makasih karena ada yang mereview fict gaje ini, ya!

Sudah panjang kan? Aku membuatnya cuma 5 hari setelah fict 'INFITY' –JIAH! Promosi-

Ehem..Sekali lagi Gomen ne apdetnya lama! *bungkuk-bungkuk gaje*

Naruto : Balasan Review. Teme, baca!

Sasuke : Hn. Dari iza-ken-twinsdevil

Rii : WUAA! Zaken! Makasih udah review *meluk-meluk Zaken*

Naruto : Lebay

Sasuke : Hn. My Dobe emang cute dari dulu.

Rii : Hehehe..Lanjut!

Sasuke : Dari akaringo satsuki

Naruto : Makasih udah review fict gak bermutu ini. Author satu ini sangat senang

Rii : Maaf gak bisa apdet kilat chapter satu ini. Selain lagi malas nulis, banyak tugas sekolah juga. Maaf, senpai!

Naruto : Lanjut!

Sasuke : Dari Kaze or wind

Naruto : Bagus? Fav? Jangan-jangan kamu sudah katarak ya? –dibantai-

Rii : Ck..Ngina aja. Hehehe…terserah, deh. Hak senpai kok. Sekali lagi maaf chap ini gak bisa apdet kilat. Maaf!

Sasuke : Hn. Dari Hitomi Mi Chan

Rii : Mi-chan, makasih udah review!

Naruto : Gak usah review sekalian juga gak apa-apa

Rii : Eh? Naru, kok jahat sih?

Naruto : Malas gue. Loe buat gue di sini kayak cewek apa nggaknya gue gak kesal?

Rii : Maaf, deh! Chap depan aku usahain lebih macho dikit

Naruto : Awas kalo gak. Lanjut!

Sasuke : Dasar. Dari Hyuzura Namikaze Hyuuga

Rii : Wah! Review lagi, makasih, ya!

Naruto : Ini sudah dilanjutkan author gaje ini.

Rii : Maaf, chap ini gak bisa apdet kilat!

Sasuke : Dari rhie

Naruto : Makasih udah review nih fict!

Rii : Makasih juga atas pengertiannya. Tau aja chap ini gak bisa apdet kilat. Jangan-jangan kamu peramal, ya? –dicincang-

Sasuke : Gila. Dari Micon

Rii : Maaf, gak bisa apdet kilat chap ini! Tapi makasih atas semangatnya.

Naruto : Reviewnya juga!

Sasuke : Ah! Capek gue. Dobe, bacain!

Naruto : Eum...Dari Uzumaki Winda

Rii : Hahaha...Benar-benar. Tapi sebenarnya masih lama –mungkin-

Sasuke : Loe jadi author gaje banget sih

Rii : Yah, maaf! Namanya juga newbie, ini juga first fict. Maklumilah, para readers sekalian! –digibeng-

Naruto : Maafkan, sifat author ini. Eum...dari kitsune no haruhachi sasunaru

Rii : Neechan! Makasih udah review lagi. *peluk-peluk neechan*

Naruto : Maafkan author ini gak bisa apdet kilat!

Sasuke : Hn.

Naruto : Dari Yamada Pink

Sasuke : Jelas typo(s) berkurang. Soalnya nih author mati-matian buat jadi author terbaik

Rii : Hehehe…Makasih udah review, pink! Nih, sudah di apdet. Maaf lama!

Naruto : Dari Fi suki suki

Rii : Fi-senpai!

Sasuke : Hikarii-san? Lucu? Nih, author masih 13 tahun. Adanya cerita ini ancur bukan lucu.

Rii : Hehehe...Fi-senpai, gak usah manggil Hikarii-san! Umurku masih muda, nih. Jadi malu dipanggil gituan.

Naruto : Lebay

Rii : Okelah. Terima kasih buat yang udah baca chap ini! Sampai jumpa chap depan!

Naruto : Kalo nih author lagi gak malas dan gak banyak tugas

Rii : R n R, please!