Prejudice

Castiel masih termenung di meja belajarnya. Matanya masih menggeluti tiap kalimat dan nada yang tertuang di kertas putih itu. Sebuah lagu ciptaannya yang beberapa hari lalu dibuatkannya coretan pertama. Kini, ia ingin menyelesaikan coretan kedua sebagai final dari lagu itu. Beberapa lirik diubahnya. Beberapa nada dan improvisasi juga ada yang diubah. Semuanya dilakukan penuh konsentrasi hingga otaknya tanpa sengaja kembali mengingat memori tiga hari lalu.

"jadi, kau Sam? Dean sering bercerita tentangmu," Castiel membuka pembicaraan.

Sam mengangguk, "dan kau pasti Castiel?"

"ya, Dean bercerita?"

"ya, Dean bilang kau sahabatnya," begitu kata Sam.

Castiel hanya tersenyum.

"jadi..." Sam menghembuskan napas, "apa pendapatmu tentang Dean?"

"Dean?" Castiel terdiam sejenak dan kemudian melihat Sam mengangguk, "Dean baik, setia, perhatian.."

"humoris?"

"ya," seringai Castiel. Kemudian dia menyadari tatapan Sam yang berubah menjadi sedih dan mengalihkan pandangan ke setiap sudut ruang serba putih ini, "kenapa?"

Sam jadi semakin bersalah dengan pertanyaan Castiel, "aku ingin menceritakan sesuatu padamu."

Castiel mengangkat bahu, "ceritakan saja."

"tapi.. aku tidak ingin kau menceritakannya pada Dean."

Castiel terdiam sebentar dan kemudian mengangguk, "as you want."

Sam menarik napas sebentar sebelum pada akhirnya ia mencoba jujur pada Castiel, "jadi, aku sudah tau sejak lama. Aku sudah tau bahwa aku menderita gagal ginjal kronik. Aku sengaja tidak memberi taunya pada Dean karena aku yakin, Dean malah akan kelabakan mengurusku dan meninggalkan kuliahnya begitu saja..."

Castiel mendengarkan dengan seksama.

"...aku tidak mau merepotkan Dean lebih banyak lagi. Dulu, saat aku demam, Dean rela tidak masuk empat hari hanya karena menjagaku di rumah. Apalagi jika sekarang dia tau kalau aku menderita gagal ginjal, Dean pasti akan lebih mementingkan di rumah sakit daripada kuliah. Dan aku tidak mau hal itu terjadi. Aku tidak mau Dean..." Sam terasa berat mengatakannya.

"ada apa, Sam? Kau tidak mau Dean untuk..?" tanya Castiel.

"aku tidak mau Dean memupuskan cita-citanya jadi musisi," air mata Sam mengalir.

Tenggorokan Castiel tercekat. Dean ingin menjadi seorang musisi, "tapi bagaimanapun juga, Dean kakakmu. Dean harus tau. Apakah kau mau saat..." Castiel ragu mengatakannya.

"saat apa, Castiel?"

Castiel diam, tidak melanjutkan.

"saat aku sudah tiada nanti? Katakan saja, Castiel."

Yang masih tegang itu mengangguk, "apakah kau mau Dean merasa bersalah seumur hidupnya hanya karena menganggap dirinya tidak mampu menjagamu dengan baik?"

"aku juga pernah berpikir seperti itu. Tapi apa gunanya aku bercerita pada Dean, kalau tidak ada solusi dari penyakitku ini?"

"kau bisa terapi."

"kita tidak ada uang untuk itu. Uang kita pas-pasan untuk kuliah."

"kau bisa mencari donor," saran Castiel.

"aku sudah mencobanya waktu itu. Tapi nihil hasilnya," Sam mendesah, "satu-satunya orang yang mau mengorbankan ginjalnya untukku hanya Dean. Tapi sungguh, aku tidak akan pernah mau meski dipaksa. Dean terlalu lemah untuk itu. Fisiknya tidak cukup kuat."

Hati Castiel mencelos.

"jangan pernah katakan ini pada Dean, Castiel."

Castiel menggeleng, "tidak akan pernah."

Tangan kanannya menggaruk kepala. Pusing memikirkan segala beban dipundaknya akhir-akhir ini. Semenjak Sam masuk rumah sakit, Dean jadi sering masuk jam kuliah terlambat, tidak pernah menemani Castiel latihan piano lagi, bahkan tidak pernah menayapa atau berbicara padanya. Apa salah Castiel? Tiap dirinya menyapa Dean, sahabatnya itu hanya akan tersenyum masam. Saat dirinya mengajak Dean hang out refreshing, ia hanya akan menggeleng lemah. Seakan Dean tidak punya semangat lagi seperti dulu.

Dean yang dulu sangat bersemangat dan ceria. Sering memberi dukungan bahkan memaksa Castiel untuk tetap mengikuti berbagai lomba bermain piano. Kini malah berubah menjadi semacam orang depresi yang kerjanya hanya melamun, diam, dan tersenyum datar saat disapa. Castiel mengacak-acak rambutnya dengan kesal dan berteriak, "TUHAAN..! APA YANG HARUS KU LAKUKAAANN!" Sedetik kemudian, Castiel memegang dadanya. Merasakan sesak mulai menyerang paru-parunya.

Dean memangku gitarnya di salah satu sofa di kamar Sam di rumah sakit dengan kedua tangannya yang memegang kertas putih dan sebuah pena. Mencoba menuliskan sebait atau dua bait lirik dengan nada-nada nya dan kemudian dimainkannya dengan penuh keseriusan. Sesekali matanya melirik Sam yang tertidur lelap. Namun berkali-kali kemudian, otaknya dipenuhi pertanyaan tentang bagaimana cara menyelamatkan Sam dari penyakit yang dideritanya. Adakah obatnya? Adakah terapi? Ataukah harus mendapatkan donor? Apakah harus Dean yang mendonorkannya?


Keesokannya di pagi hari...

Jam kuliah masih jam 9.30. Tapi Castiel, datang lebih cepat dua jam agar bisa berlatih piano sendiri di aula. Di tengah-tengah nyanyian piano cowok itu yang sedang menggema di seluruh ruangan, tiba-tiba seorang gadis tertarik dan mencoba melangkah masuk. Menemukan seorang laki-laki tampan dengan rambut hitam legam dan mata biru bersinar. Tidak lupa, jas hujan coklat.

Castiel meraskan dirinya sedang dipandang, lantas ia menoleh.

"hai," sahut gadis itu melambaikan tangan. Yang disapa hanya diam tak mengerti, "hmm..." gadis itu melangkah mendekati Castiel, "namaku Anna. Kau yang memainkan piano tadi kan? Maaf, tadi aku kebetulan lewat, dan... yah, tertarik dengan permainanmu yang bagus itu."

Castiel hanya memandang Anna dengan rambut merah merona dan kulit seputih salju itu. Baru kali ini Castiel menemukan seorang gadis dengan mata paling bersinar seperti ini. Tampilan berbeda dari yang lain. Dan tidak banyak polesan di wajah seperti kebanyakan gadis lainnya.

"jadi... boleh kutanya, siapa namamu?" Anna masih memasang senyumnya.

Castiel tersadar dari lamunannya dan kemudian berdiri dari duduknya, "aku Castiel," sambil mengulurkan tangan dan menyungging senyum.

Anna menjabat tangan Castiel dengan getaran senang.


Dean datang lebih pagi ke kampus. Ia ingin berbincang dengan Castiel seperti dulu. Ingin menceritakan betapa ia sedang butuh refreshing saat ini. Pusing dengan beban yang harus di tanggun di pundaknya. Namun ketika langkahnya sampai di depan pintu aula, adegan yang dilihatnya justru tak seperti yang dibayangkannya. Selama perjalanan tadi, ia menyangka akan mendapat sambutan hangat dari Castiel yang mungkin juga merindukan bagaimana cara Dean berbicara. Namun justru terbalik. Yang dilihat Dean adalah sosok Castiel bersama dengan seorang gadis dengan rambut bercat merah. Mereka berdua sedang mengobrol. Duduk berdampingan di tempat duduk depan piano. Tampak Castiel sedang mengajari gadis itu cara bermain piano. Mereka berdua tertawa-tawa.

Hatinya menyimpan rasa cemburu tingkat dewa. Merasa bahwa posisinya sebagai sahabat Castiel telah digantikan oleh gadis berambut merah itu. Merasa bahwa Castiel lebih senang mempunyai sahabat perempuan ketimbang sahabat laki-laki seperti Dean. Merasa bahwa dirinya kini tak lagi jadi yang terpenting bagi Castiel seperti hari-hari sebelumnya. Castiel telah punya pengganti Dean. Dan Dean, mau tidak mau, harus menerima itu.

Jadi, kau sudah punya seseorang yang menggantikan posisi ku sebagai sahabatmu ya? Gadis berambut merah itu? Bagus deh, kalau begitu.

Dean kemudian pergi dengan segumpal kekecewaan dalam hatinya. Berjalan cepat dan kembali ke rumah sakit, tidak mengikuti jam pelajaran di kampus. Bahkan untuk seterusnya.

Untuk apa aku ke kampus kalau hanya untuk melihat sahabatku mempunyai sahabat lain?

"jadi, kau menciptakan lagu ini untuk siapa?" tanya Anna disela-sela tawanya.

Castiel termenung sebentar, "seorang sahabat."

"oh ya? Siapa?" tanya Anna penasaran.

"namanya Dean Winchester."

"kau pasti sangat menyayanginya, bukan, sehingga menciptakan lagu untuknya sebagus ini?"

Castiel mengangguk, "amat sangat."

TBC...


Aiyaaa... Bagaimanaaa? Review ya pleaaseeee huhuhu... Makasih sudah dibaca dan dihargai^^