Title : Black Flower

Author : Sulis Kim

Main : Jung Yunho

Kim Jaejoong

Hyuna ( JJ nephew )

Other

Rate : M + 18

Genre : Romace, Action, Comedy (gagal)

WARNING

GS, jika tidak suka jangan baca, Author cinta damai.

Ff ini milik saya seorang. Jika ada kesalahan typo dan salah kata mohon maaf. Menerima kritik dan saran yang membangun.

Don't like Don't read.

Alwasy keep the faith.

Happy Reading ...!

Bihanne restoran rame oleh pengunjung siang itu, meskipun jam makan siang telah lewat beberapa waktu lalu. Restoran yang lumayan besar berjarak satu kilometer dari incheon air port.

Yunho sengaja memilih tempat itu untuk pertemuan siang ini. Bahkan Yunho benar benar tidak memberi waktu untuk Choi Sangwoo merencanakan apapun yang kemungkinan dapat membatalkan bisnisnya, terutama Nantucket Island.

"Satu jam setelah anda turun dari pesawat, Yunho Sama menunggu anda di Bihanne restoran." salah satu anak buah Yunho memberi tahu.

Changmin duduk nyaman di salah satu sudut yang tak begitu mencolok untuk mengawasi Jaejoong, wanita itu duduk dengan tenang di kursinya. Akan tetapi Changmin berani bersumpah jika kakaknya sangatlah gugup dilihat dari gerak gerik jari jari Jaejoong di atas pangkuanya.

Siang ini ketika mereka turun dari pesawat, salah satu manajer perusahaan menghubungi Choi Sangwoo, memberi tahu adanya kecelakaan kerja di salah satu cabang baprik di daerah Busan. Kecelakaan yang mengharuskan pria itu hadir disana tempat kejadian sore ini.

Entah apa yang dipikirkan kakaknya itu sehingga mengusulkan ia sendirilah yang akan berdiskusi dengan pemimpin mafia yang telah menyandera Putrinya, Jaejoong bersikeras sampai Sangwoo tidak punya pilihan lain selain dengan menyuruh Changmin menemani Jaejoong.

Changmin mengumpat, bagaimana bisa ia menuruti perintah Jaejoong untuk tidak duduk satu meja denganya "Demi keselamatan Hyuna, aku tidak ingin membuat pria itu marah dengan lebih satu orang disini." Jaejoong tidak akan menanggung konsekuensi apapun jika itu bisa membahayakan Hyuna, putri yang belum pernah ia timang sejak ia melahirkan gadis kecil itu.

Jaejoong memejamkan mata mencoba tetap tenang. Sebentar lagi, sebentar lagi ia akan bertemu dengan putrinya, dan juga pria itu. Detak jantung Jaejoong semakin menggila ketika ia melirik jam tangan mungil di pergelangan tangan kirinya. Lima menit lagi ...

Ya, Tuhan, kenapa ia tidak bisa tenang barang semenit pun . Bahkan sepertinya ia menyesal, ia mengabaikan saran dokter untuk tidak memaksakan diri dalam usaha memulihkan diri terlebih dahulu. Akan tetapi itu berarti mengharuskan putrinya tinggal bersama para Mafia lebih lama. Tidak, ia tidak akan melakukanya!

Baru tiga hari Jaejoong sadar dan kondisi tubuhnya masih rapuh, bahkan untuk mengambil menggerakan tangannya pun masih gemetaran, kedua kakinya masih mati rasa meskipun ia sudah bisa menggoyangkan jari kakinya.

Sekarang ia kembali menyesali keputusan, mengusir Changmin tadi ketika pria itu ingin duduk disini, bersamanya. Ia menyapukan pandangan mencari pria itu di ujung lain ruangan yang tidak begitu jauh. Jaejoong sudah akan memanggil Adiknya ketika ia melihat pintu terbuka dan seorang pria berkaca mata hitam dengan empat pria lain berbaju hitam berjalan kearahnya.

Mata kucing Jaejoong menatap kerumanan itu yang tentunya menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung restoran, mengingat bagaimana mereka terlihat mencolok di antara pengunjun pengunjung lain. Terutama pria yang menggandeng tangan anak kecil ... Gadis kecil. Mungkinkah itu Hyuna?

Ya Tuhan, pria itu. Jung Yunho jauh lebih menyeramkan dari terakhir Jaejoong lihat lima tahun lalu. Bajingan yang semakin mempesona, dengan tubuh yang lebih besar dan berotot, dada bidang kokoh dengan wajah yang Jaejoong akui, tampan. Pria itu memiliki rambut coklat sebahu yang di kucir sebagian. Langkah kaki pria itu begitu tegak berjalan ketempat dimana ia duduk saat ini.

Nafas Jaejoong tercekat. Bajingan yang sekali lagi membuat Jantungnya berdebar seperti malam itu. Malam pertama yang seharusnya ia berikan untuk Seunghyun, tidak seharusnya ia lakukan bersama Jung Yunho. Jaejoong menggelengkan kepala mencoba melupakan kejadian di masa lalu. Ini bukan waktu yang tepat untuk mengingat hal yang tidak menyenangkan, ia harus tetap tegas dalam bersikap, tidak peduli apapun yang pria itu katakan nantinya. Ia tidak akan membiarkan pria itu menguasai diskusi ini!

Jaejoong kembali melirik kearah Yunho dari balik pundaknya. Mungkin saja Jaejoong akan menjadi salah satu wanita dalam ruangan besar restoran yang menatap kagum kearah Jung Yunho, andai saja pria itu tidak begitu kejam kepadanya.

Tapi itu hanya sekedar, mungkin.

.

.

.

Tatapan Yunho menyapu keseluruh penjuru restoran ketika ia masuk bersama Hyuna dengan gadis itu dalam gandengan tangan kanan.

Salah satu pengawal yang ia tempatkan di tempat itu untuk mengawasi keberadaan Sangwoo mengatakan belum melihat pria itu. Sangwoo baru saja menghubunginya, memberitahu akan ketidak hadiran pria itu karena kepentingan mendesak yang tidak bisa di tinggalkan.

Sungguh ironis, itulah pemikiran Yunho ketika menunduk memperhatika Hyuna. Kakeknya mengirim seorang wanita untuk mewakili diskusi bisnis yang begitu penting, bahkan melibatkan keturunan satu satunya keluarga Choi. Yunho penasaran siapakah wanita itu? Mungkinkah wanita simpanan Choi Sangwoo sampai pria itu mempercayakan hal yang begitu pribadi kepada wanita yang entah siapa itu.

Wanita itu duduk dengan tegak di kursi yang sudah Yunho pesan khusus untuk pertemuan mereka malam ini. Tempat yang sedikit prifasi dan jauh dari pengunjung lain. Ia akan membutuhkan diskusi yang tenang, dan tidak ingin di dengar oleh siapapun seandainya terjadi suatu yang tidak di inginkan, tapi ia tidak suka membicarakan bisnis ini di dalam ruangan yang sempit dan tertutup.

Rambut hitam panjang lurus wanita itu dibiarkan tergerai jatuh di punggung, seketika ia duduk tegak saat Yunho melangkah melewati sisi wanita yang sekarang berubah duduk dengan tidak nyaman, salah seorang pengawal menarik kursi untuk Hyuna dan ia mengangkat gadis kecil itu untuk duduk di atasnya. "Duduklah dengan manis, maka kau akan mendapat eskrim yang aku janjikan."

Pekikan gembira Hyuna tak di pedulikan Yunho, ia duduk di sisi lain meja persegi yang tidak cukup lebar dan Hyuna duduk di antara keduanya. Yunho mengangkat wajah menatap wanita yang duduk di hadapanya.

Ia melepaskan kaca mata hitanya dan menyerahkan kepada salah seorang pengawal. "Baiklah Nona..." mata Yunho mengerjap beberapa kali. sepertinya ia terlalu banyak minum semalam sampai ia melihat pandangan yang tidak seharusnya ia lihat saat ini..

Bagaimana mungkin Kim Jaejoong duduk di hadapanya, dan wanita itu tetap mempesona walaupun terlihat gelisah. Yunho kembali mengerjap beberapa kali kemudian menggeleng. Wanita itu tetap berada disana duduk dengan tegang menatap Hyuna sendu tanpa berkedip.

Punggung Yunho menjadi lurus ketika ia duduk . Ya, Tuhan wanita itu nyata, benar benar nyata. Yunho menegang di atas kursi ketika pelayan menyajikan minuman di atas meja. Tidak ada sepatah katapun terdengar dari bibir ranum pucat wanita di hadapanya itu.

"Kapan eskrimnya akan datang." Hyuna memecahkan keheningan di antara mereka. Wanita itu terhenyak kemudian mata itu naik untuk menatap pria di sisi lain meja, mata mereka bertemu, mata yang sama dengan mata yang selalu membayangi mimpi mimpi Yunho di tengah malam, wajah yang sama hidung, bibir... bagaimana mungkin!

Jaejoong susah payah menahan ekspresi wajahnya agar tetap tenang, menahan tubuhnya untuk tidak gemetar ketika mata setajam musang itu menatap lurus kearahnya. Mata pria itu begitu gelap dan menyesatkan, Jaejoong ingin berpaling tetapi tak kuasa, bibirnya terbuka untuk berkata. "Saya ...say mewakili Ayah saya untuk mendiskusikan penjualan Nantucket Island." Ia tidak yakin pria itu mampu mendengar suara yang begitu lirih dan serak.

Pandangan Jaejoong beralih menatap kembali ke arah Hyuna ketika gadis itu menatapnya dengan mata bulat kecilnya penasaran. Ya ,Tuhan, betapa cantik putri yang ia miliki. Air mata menggenang dalam mata Jaejoong, ia berpaling untuk menyembunyikan air matanya.

"Mommy," Jaejoong mendongak menemukan mata putrinya juga berkaca kaca.

"Hyuna sayang," Ia tidak peduli ketika air matanya menetes dengan lancang. Jaejoong ingin memeluknya, mencium putrinya dan menggendong putri kecilnya, ia menyesal tidak dapat melakukan salah satu dari keinginan keinginan yang begitu mudah ia lakukan sebelum kecelakaan itu terjadi.

Yunho terdiam mengamati pertemuan mengharukan yang ia lihat di depan matanya. Keningnya berkerut, sama sekali bukan pertemuan hangat yang penuh kerinduang, mereka terlihat ...bagaimana mengatakanya? Asing, namun mata Jaejoong penuh cinta dan kasih sayang ketika wanita itu menatap putrinya.

Brengsek, selama ini Sangwoo menyembunyikan keberadaan Jaejoong dari dunia terutama dari dirinya semenjak suaminya ... Tunggu mungkinkah Jaejoong bersama Seunghyun? Apakah pria itu juga masih hidup?

Jemari Yunho bergerak memanggil pengawal dan membisikkan sesuatu, setelah itu pengawal itupun pergi.

Ia kembali menatap Jaejoong, dan tekatnya sudah bulat untuk merebut wanita itu dari semua yang memiliki dan dimilikinya, ia tidak butuh yang lain tapi ia harus mendapatkan Jaejoong, selama ini ia sudah cukup hidup dalam penyesalan, dan ia tidak merasa dirugikan ketika wanita itu muncul kembali, disini, dihadapanya.

"Kim Jaejoong." panggil Yunho.

Jaejoong mengangguk.

Yunho mengumpat. "Brengsek, Kau masih hidup dan pria itu berhasil menyembunyikanmu selama empat tahun tanpa seorangpun yang mengetahui keberadaanmu." tanpa sadar Yunho mengatakanya begitu lantang sampai Hyuna mengkerut takut dan turun dari kursi mendekati Jaejoong.

Ia tidak sadar suaranya begitu tinggi, emosinya membuat semua orang disekelilingnya beringsut mundur, Yunho menambahkan "Apakah Seunghyun juga masih hidup, apa pria itu juga ada disini. "

Dengan susah payah Jaejoong menemukan kembali suaranya dan berkata. "Tidak, suamiku tidak ada disini, dia sudah meninggal." ngilu rasanya ketika mendengar wanita yang diam diam di kaguminya itu menyebut kata 'Suami' di depan hidungnya dan pria itu bukanlah dirinya.

Tangan Jaejoong terangkat untuk menghapus air mata di kedua pipinya.

Tersadar akan apa yang ia lakukan membuat Jaejoong ketakutan sampai tangan wanita itu gemetaran. Yunho menarik nafas menahan gejolak untuk mengitari meja dan merengkuh wanita itu dalam dekapanya, tidak peduli apa yang akan Jaejoong lakukan seandainya Yunho benar benar melakukanya.

Jemari Yunho menyapu rambut yang terjatuh di kening dan ia sadar Hyuna juga ketakutan oleh suaranya yang keras. "Ya Tuhan, sayang. Aku minta maaf, apakah aku menakutimu." Yunho menurunkan ritme suara, menjulurkan kedua tanganya kedepan. "Kemarilah, eskrim mu akan segera datang."

Hyuna mendongak menatap Jaejoong, ia berusaha naik ke atas pangkuan ibunya akan tetapi Jaejoong hanya menatap wajahnya dengan pandangan sendu. "Mommy,"

Jaejoong berhasil menggerakan tangan untuk menyentuh pipi chuby putrinya, tanganya gemetaran, isakan kecil terdengar ketika ia berkata. "Hyuna, sayang. Taukah kau Mommy sangat merindukanmu." Jaejoong membungkuk untuk memeluk putrinya.

"Hyuna kemari," Yunho memanggil gadis itu mendekat, ketika pelayan menyajikan eskrim di atas meja. Sontak gadis kecil itu melompat kembali ke atas kursi yang tadi diduduki. Meninggalkan Jaejoong dalam kekosongan, ia mencoba meraih tapi purtinya terlalu cekatan dalam menghindar.

Buru buru Jaejoong meraih map di atas meja yang sudah ia siapkan . Ia mengulurkan map itu ke hadapan Yunho. " Ini ,,,ini surat surat kepemilikan Nantucket Island, sekarang bolehkah aku membawa Hyuna pergi." Pintanya.

Yunho mencodongkan tubuhnya untuk meraih map itu. Sengaja, ia menyapukan jemarinya di atas tangan Jaejoong yang dingin.

Map itu terjatuh di tas meja ketika Jaejoong menarik kembali tanganya. Yunho menyerigai menakutkan. "Semudah inikah kau menjual pulau itu," ia mengambil Map itu dan mebukanya. "Bagaimana aku bisa yakin ini adalah surat surat yang asli, bagaimana kalau kalian menipuku."

"Aku tidak akan melakukan hal yang akan membahayakan putriku." Ia menahan amarah yang di timbulkan pria di hadapanya. Jaejoong tidak akan membiarkan pria itu merasa menang telah menyudutkan dirinya.

"Kami tidak butuh harga dua kali lipat, bayar dengan harga pasaran dan kau mendapatkan pulau itu. Aku hanya menginginkan Putriku kembali." Keyakinan tegas dan keinginan kuat wanita itu sedikit melukai perasaan Yunho.

Tepat seperti apa yang dipikirkan olehnya tentang sosok Kim Jaejoong yang sebenarnya, angkuh tak terjangkau. Wanita itu salah jika menggunakan keangkuhan yang tidak ada gunanya untuk menyerang seorang Jung.

Yunho akan memenangkan semuanya, ia sudah melupakan pulau yang indah dengan penghasilan tertinggi setiap tahunya setelah ia menyadari bahwa wanita yang duduk di hadapanya adalah Kim Jaejoong. Wanita itulah yang saat ini ia inginkan. Tetapi ia tidak akan menggunakan cara yang sama seperti lima tahun lalu, ia akan mendapatkan hati Jaejoong bukan tubuhnya.

Pertama tama ia sudah memenangkan hati putrinya, Hyuna. Tidak akan sulit untuk menaklukan wanita itu dan tidak butuh waktu lama ketika Jaejoong dengan suka rela Jaejoong akan membawa Yunho naik ke atas ranjangnya. Hal yang sudah tidak sabar ingin ia lakukan, membaringkan Jaejoong si atas meja dan bercinta dengan wanita itu saat ini juga. Memberinya kepuasan yang tidak akan pernah Jaejoong lupakan.

Yunho mengumpat. Membayangkan wanita itu telanjang tanpa sehelai benang di tubuhnya membuat sesuatu dalam dirinya mengeras. Belum pernah ia mengalamii hal hal konyol seperti ini. Bagaimana mungkin hanya dengan melihat wajah angkuh dengan dagu terangkat di hadapanya mampu membangkitkan gairah yang terpendam dalam dirinya yang sudah lama tertidur.

Tanpa sadar Yunho meremas Map dalam genggaman tangan yang begitu kuat. Tenang, ia harus tenang. "Aku berubah pikiran, sayangku. " Is menaruh kembali map itu di atas meja.

Mengabaikan Hyuna yang sedang menikmati eskrimnya ia berkata.

"Terekam jelas di dalam kepalaku saat saat menyenangkan yang pernah kita lalui bersama." Yunho dapat melihat kilatan terkejut di mata Jaejoong. "Kau seperti merpati yang terbang kedalam sarang srigala dengan sengaja kau berjalan di depan srigala yang kelaparan menggoda srigala itu untuk menerkamu."

"Aku tidak menggodamu, dasar kau bajingan..."

"Hyuna disini, kalau kau lupa." Yunho mengingatkan.

Jaejoong mengepalkan tanganya, melirik sejenak putrinya yang tidak merasa terganggu oleh mereka. "Dasar laki laki biadab."

"Tidak, merpatiku sayang." Yunho tersenyum mengejek. "Kau yang ku inginkan saat ini," Yunho terdiam menunggu Jaejoong bereaksi, namun wanita itu tetap diam mengigit bibir bawahnya yang sudah bengkat. "Jangan gigit bibirmu, kau akan menyakiiti dirimu sendiri."

Terdapat ketulusan dalam kata kata itu sampai Jaejoong melepaskan gigitan pada bibir bawahnya. Ia menatap langsung ke arah mata Yunho. Pria itu memperhatikan arah lain sebelum akhirnya mata itu kembali kematanya, dan mata mereka bertemu.

"Sekarang katakan padaku bagaimana kau selamat dari kecelakaan itu, apakah kau melompat dari mobil?" Hampir sama dengan apa yang dikatakan Yunho, namun Jaejoong melompat bukan karena kehendaknya sendiri.

"Dan dimana kau bersembunyi selama empat tahun ini?."

"Ini tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang akan kita diskusikan, Mr. Jung."

"Jung Yunho, itu namaku." Yunho mengingatkan. "Kau bisa memanggilku Yunho, merpatiku sayang."

Jaejoong menggeram kesal, dan Yunho hampir saja tertawa karenanya. "Namaku Kim Jaejoong."

"Merpati, dengan bulu putih, ketika kau masuk ke ruang kerja Sangwoo lima tahun lalu, dan aku membantumu melepaskan bulu bulu indah itu di tempat rahasia yang hanya ada kita berdua di dalam..."

"Cukup aku tidak mau mendegarnya." suara Jaejoong melengking. Kedua tangan Jaejoong menutupi telinganya sendiri.

Hyuna menatap kearah Jaejoong. "Mommy apa kau baik baik saja," ia turun dari kursi. Dengan cemas ia menatap ibunya. "Kau melupakan selang itu, benda yang Grandad katakan membantu Mommy bernafas."

Yunho terdiam beberapa saat, memikirkan apa yang di katakan Hyuna barusan. Selang, bernafas. Tabung oksigen. Itukah yang di maksud Hyuna. Yunho sudah akan bertanya ketika tiba tiba tubuh Jaejoong limbung dan mendarat di lantai. Beruntung lantai itu di lapisi karpet tebal menghindari sesuatu entah papapun yang kemungkinan membuat Jaejoong terluka.

Bunyi kursi jatuh begitu keras ketika Yunho tiba tiba berdiri kemudian berlari melewati meja kemudian berlutut di samping Jaejoong. Mata wanita itu tertutup dengan wajah pucat, Yunho mebawa tubuh Jaejoong salam pangkuanya.

"Siapkan mobil. "Perintahnya kepada para pengawal. Ia menepuk ringan pipi wanita dan mendekap Jaejoong dalam pelukanya. Tanganya sendiri mulai bergetar.

Ya, Tuhan, seharusnya ia tidak mengatakan hal hal yang membuat Jaejoong teringat kembali dengan yang ia paksakan kepada wanita itu. Hyuna mulai menangis di samping Yunho. " Tenang sayang, Mommy hanya kelelahan. Ia akan baik baik saja"

Ia sudah akan mengangkat tubuh Jaejoong ketika seseorang berlutut di hadapan mereka dan meraih Jaejoong kedalam pelukan pria itu. Meninggalkan kehampaan dalam pelukan Yunho.

"Jaejoongie, Ya Tuhan, bukan matamu sayang," pria tinggi dan kurus itu mengangkat Jaejoong. Tangan Yunho meraih pergelangan tangan Jaejoong.

"Akan kau bawa kemana Jaejongku?"

"Dia bukan milikmu, Mr. Jung, dan tidak akan pernah."

Mereka saling beradu pandang seakan berperang dengan pedang kasat mata yang mampu menghunus langsung ke jantung satu sama lain. "Aku butuh penjelasan, dan ku rasa kau juga akan ikut denganku." Yunho menarik tubuh Jaejoong sedikit kasar kedalam rengkuhan lenganya.

"Kau,,," salah satu pengawal Yunho menodongkan pistol di belakang jaket Changmin dan berbisik. "Tenanglah, anak manis kalau kau ingin selamat."

Yunho sudah membawa Jaejoong berlari melewati ruangan begitu cepat, Changmin sempat kagum dengan stamina pria Itu.

~TBC~

Thanks buat yang udah RCL. maaf tidak bisa balas satu satu.

Karena sulis pecinta novel terjemah mungkin itu berpengaruh sama tulisnya Sulis juga. Tapi ini bukan Remake ^^ sulis juga lagi ngoleksi novel ada yang tau beli novel online murah dimana, boleh kasih tau sulis kkkk *maunya yg murah murah, kalau bisa mah gratis. *dilemparwajah

Ada yang tanya kenapa Hyuna (Nephew) : Karena Hyuna yg jadi anak Yunjae itu Hyuna ponakan Jaejoong. mengingat Hyuna di Korea banyak banget juga artis yg namanya hyuna juga ada. takut kalian salah ngebayangin hyuna yang mana. *kedip kedip.

Trimakasih untuk dukungan kalian dengan ripiu juga masukan dan saran. Itu sangat membantu dan buat Sulis seneng karena ternyata tulisan aku ada yang suka. ~Bow~ Kamsahamnida.