Lanjut... :-) DLDR! Enjoy It
Chapter 4
.
.
.
GUBRAG!
Aku mendengar pemuda itu mengumpat, beranjak, lantas mengusap-usap bokongnya yang terasa kebas.
"Lain kali hati-hati ya, Tuan!" cibirku datar.
"Berisik!" bentaknya seraya mengedarkan pandangan. Namun tak seorang pun yang ia temui. Ia sendirian disana. Desiran angin membawa pikiran miring. Membuatnya bergidik.
"Tak ada siapa pun disini? Jangan-jangan...," desahnya tergantung,
"SETAN!" teriaknya, lantas lari terbirit-birit. Membuatku kian menggelak tawa jahil.
Suasana kelas terlihat gaduh, hanya pemuda itu saja yang terlihat tenang dalam diam menyelami tidur paginya. Seorang guru bersurai uban landak memasuki ruang kelas mereka, kelas 2-3.
"Ohayou minna," sapa Jiraiya sensei.
"Ohayou sensei!" balas murid-murid serempak terkecuali seseorang yang tengah bermimpi itu.
TOK-TOK
Alunan ketukan kayu berirama seketika semua murid menyorot pintu kelas mereka. Seorang gadis manis dengan surai merah tergerai, tengah berdiri anggun di ambang pintu kelas. Senyum terbaikku, menghiasi rona wajah ini.
"Permisi, maaf saya terlambat sensei!" ucapku seraya melangkah masuk.
"Murid baru tapi sudah telat! Untung saja dia cantik kalau tidak...," gumam Jiraiya.
"Kalau tidak kenapa, Sensei?" tanyaku sudah berdiri di samping Sang Ero-sensei. Seulas senyum kulayangkan kepadanya.
"Ah tidak apa-apa kok!" kilahnya seraya mengibas-ngibaskan tangannya. Mencoba menyembunyikan kenyataan.
"Baiklah! Sekarang Perkenalkan dirimu" perintah Jiraiya rada canggung. Lagi-lagi aku hanya mengulum senyum. Napas panjang kuambil untuk memulai perkenanlan.
"Ohayou minna! Watashi no name wa Sara desu. Douzo yoroshiku!"
"Hai Sara!" sapa Kiba dengan sorot mata berbinar. Aku hanya membalasnya dengan seulas senyum sederhana.
"Silahkan kau duduk dengan Namikaze-san!"
"Ha'i, sensei"
Aku melenggang menuju tempat dudukku. Semua mata tertuju padaku. Namun aku tak menghiraukannya. Kuambil posisi duduk senyaman mungkin.
"Ohayou Naruto!" sapaku kepada pemuda bersurai surya yang tengah meringkuk kepala mengarah keluar jendela. Hening tanpa balas.
"Ohayou, Naruto!" sapaku sekali lagi seraya menggoncang pelan tubuh kekar itu.
"Ngh... hoaamm" desahnya seraya mengambil posisi tegap, beberapa kali ia kerjapkan matanya. Mencoba mengembalikan kemampuan penglihatannya. Ia menyorotku dalam diam. 1 detik 2 detik 3 detik. Tet-toott... sebuah memori terputar kembali.
"K-kau...?" pekiknya. Aku hanya mengulum senyum, "Ba-ba-bagaimana kau bisa disini?" tanya Naruto histeris.
"Aku bukan manusia biasa, Naruto! Kau ingat itu?" jawabku enteng. Pemuda bermanik blue-sora itu langsung menjambak surai mentarinya. Saraf kesabarannya hampir saja terputus. Namun ia pertahankan, sebelum sebuah penghapus menghantam kepalanya.
Alat penunjuk waktu terus bergulir, memutar masa tak kunjung berhenti.
Teeet-teett
Nyanyian indah yang diidam-idamkan para siswa telah berdendang. Membawa semua siswa dalam keregangan pikiran.
Dengan rasa emosi yang meluap-luap. Pemuda beraksen durian itu bergegas pergi, menyisakanku sendiri di ruang kelas. Enggan sendirian, aku pun segera menyusulnya, membuntutinya. Kemana pun ia pergi aku selalu berada di belakangnya menjadi bayang-bayangnya. Hingga masa kesabaran sang pemuda jabrik itu hilang.
"Berhentilah mengikuti!" bentaknya, luapan emosi tak dapat dibendungnya lagi.
"Ta-ta-tapi Naruto, aku butuh bantuanmu!" jawabku lirih, rasa sesak akan bentakkan yang tak dapat diterima batin pun menyeruak.
"Aku hanya manusia biasa! Kau tau itu! Aku tak memiliki kekuatan apapun! Jadi berhentilah mengemis di hadapanku!" nadanya kian meninggi.
"Tapi Naruto... kau adalah keturunan suku kaze yang tersisa!" balasku kian lirih.
"Suku kaze, suku dayak, suku maya atau suku apapun itu aku tak peduli. Aku adalah Naruto! Naruto Namikaze. Keturunan dari Marga Namikaze bukan dari suku Kaze seperti yang kau bicarakan itu!"
"Ta-ta-tapi Naruto! Kau memiliki lencana itu!"
"Lencana ini?" bentaknya seraya menyodorkan sebuah lencana bulan biru yang cukup indah.
"Ini yang kau maksud? Ini hanyalah lencana biasa dan tak memiliki kekuatan apapun!"
"Tapi lencana itu adalah kunci kuil suci, Naruto,"
"Berhentilah bicara omong kosong! Aku muak dengan khayalanmu itu, Sara. Aku juga sangat muak dengan dirimu! Kau sangat menyedihkan! Berhentilah mengikutiku dan jangan pernah menampakkan raut wajah menyedihkan itu lagi dihadapanku! Aku membencimu!" bentaknya lagi seraya melenggang pergi, menyisakanku dalam isak kekecewaan.
Kuambil langkah sekencang mungkin yang aku bisa, tanpa sadar aura ke-ungu-an telah menyelimutku. Aku terus berlari dan berlari tanpa mau kembali. Sebuah bentakkan yang tak dapat kuterima. Sebagai seorang putri bentakan dari orang lain itu tak dapat kupungkiri, hati ini begitu sakit. Kecewa, rasa itu menyelimutiku.
~Naruto's POV~
Apa yang kulakukan? Aku tak seharusnya membentaknya. "Uh dasar payah!" gumamku.
AAAAAA, suara teriakan menginterupsiku. "Sara...?"
Tsuzuku...
mind to review?
_ Nami-Aika71 _
Jum'at, 2 Desember 2016
