A Village
.
Main cast : Jung Hoseok
Pair : -
NO LOVE STORY
Genre : mystery, thriller, and of course murder
All is AUTHOR P.O.V
.
.
.
11 Mei 2016
Hoseok tidak mempunyai ponsel, bahkan ponsel genggam kuno yang tidak mempunyai fitur kamera pun dia tidak punya. Yah, walaupun Hoseok memiliki ponsel genggam kekinian atau kekunoan, tetap saja Hoseok yakin di desa ini tidak akan mendapat signal.
Maka dari itu, Hoseok membongkar beberapa barang miliknya yang ia letakkan di dalam kardus, benda yang sengaja ia lupakan begitu saja karena menurutnya tidak terlalu penting. Tapi di saat ponsel pintarnya Hoseok dijual demi modal hidup di desa ini, Hoseok jadi teringat, bahwa hobi lamanya mungkin bisa membantu.
Hoseok suka mengambil foto, dari kamera yang sering dipakai fotografer profesional, hingga kamera ponsel. Akan tetapi, kemirisan hidupnya membuat seluruh kameranya terpaksa dijual. Dan hanya ada satu kamera yang selalu ia jaga dengan baik.
Kamera Polaroid kuno berwarna hitam yang diberikan oleh neneknya, Hoseok pernah sekali mengambil gambar dari kamera tua itu, dan menurut Hoseok hasilnya begitu bagus. Kesan warna yang tidak bercampur secara sempurna dan hasil foto yang menurut orang kebanyakan 'gagal', tapi menurut Hoseok semua begitu indah.
Membuatnya tidak mau mengganti kamera kuno itu dengan yang baru dan sangat menyayangi benda mati itu. Bahkan Hoseok ingat, dirinya rela membeli seluruh kertas foto yang harganya terbilang cukup mahal hingga uang jajan bulannya habis begitu saja.
Hoseok tidak sempat menggunakan puluhan kertas foto itu dan hanya bisa menyimpannya saja di tempat yang aman. Tapi kali ini, kamera kuno dan kertas petak kecil khusus Polaroid ini sangat dibutuhkan.
"Ketemu!" bisik Hoseok dengan suara senang, tangannya menggenggam kuat kamera kuno itu dan mencari satu kotak penuh kertas foto. Hoseok dengan cepat memasukkan dua benda terpenting—menurutnya—ke dalam tas sekolah dan menutup kotak kardus itu kembali.
Hoseok berlari keluar kamar sambil melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 07.20, menandakan 10 menit lagi bel sekolah akan berbunyi.
Melihat anak bungsunya keluar, ibu Hoseok langsung tersenyum merekah. "Hoseok, sarapan dulu—"
"Tidak sempat bu!" jawab Hoseok cepat, menyambar kedua sepatu lusuhnya dan memasang dengan sembarangan.
"Setidaknya makan satu roti ini." Teriak Namjoon sambil menyodorkan roti dengan selai cokelat menggiurkan. Yang langsung ditangkap mulut Hoseok dengan senyum lebar, setelah itu Hoseok langsung berlari keluar menuju sekolah.
Selama di perjalanan, kaki Hoseok melangkah begitu cepat, Hoseok tidak berlari. Karena dirinya terlalu fokus melakukan dua hal, makan roti dan mencabut beberapa helai kertas di buku kecil yang selalu ia bawa. Hingga tangannya terhenti di selembar foto, foto ibunya dengan wanita yang entah siapa itu.
Hoseok berhenti melangkah, mulutnya menelan seluruh sisa roti tanpa belas kasih. Matanya menatap foto itu cukup lama dan otaknya berpikir kecil. Tidak beberapa lama kemudian, Hoseok mendengus kecil. Ada sebuah pemikiran yang terlintas di benaknya…
Bahwa ibunya dulu juga pernah kehilangan.
"Apa karena itu kau pindah bu?" tanya Hoseok kepada selembar foto itu, yang tentu saja tidak akan dijawab. Setidaknya sekarang Hoseok tahu, bahwa ibunya sendiri menyimpan rahasia desa ini dan tidak memberitahu dirinya.
Hoseok ingin berpikir positif, seperti mungkin ibunya tidak memberitahu dirinya demi alasan tertentu, untuk kebaikannya mungkin?
Tapi untuk kali ini, Hoseok sama sekali tidak bisa berpikir positif. Apapun informasi yang ditangkap oleh otaknya selalu berakhir dengan pemikiran negative. Entah karena dirinya yang terlalu paranoid atau memang desa ini yang aneh.
Hoseok kembali berjalan, entah kenapa kali ini lebih pelan dan matanya menangkap satu botol besar berisikan permen rasa lemon yang dipampang di depan kedai kecil bertenda hijau. Hoseok mendekati kedai itu dan tersenyum kecil dengan pemilik kedai yang sedang menikmati kopi hitam panas dan beberapa ibu desa yang sedang bergosip ria.
"Pak, saya mau beli permen ini." Jawab Hoseok sambil menyerahkan beberapa lembar uang dan membuat penjualnya kebingungan.
"Aigoo… dengan uang sebanyak ini, kamu ambil aja satu botol ini." Ucap bapak tua itu sambil tertawa, tapi Hoseok malah mengangguk dan membuka tutup botol itu lalu menuangkan seluruh isi permen asam itu ke dalam tasnya. Membuat di pemilik kedai itu bengong dan tidak beberapa lama hanya menggeleng kecil. Seakan memaklumi perbuatan anak muda zaman sekarang yang suka aneh-aneh.
"Eh, sudah dengar berita tidak?" sahut seorang ibu-ibu tua yang menggunakan baju lusuh panjang selutut dengan kerambu kecil di tangan kanannya. Hoseok yang tidak peduli dengan sekumpulan ibu-ibu penggosip hanya bisa meletakkan botol itu dan meringis kecil, mengingat dirinya baru saja menghabiskan uang jajan satu minggunya demi ratusan permen. Yah, terkadang Hoseok sedikit gila.
"Itu loh, karena badai besar beberapa hari ini. Katanya sampai merusak pelabuhan dan satu-satunya kapal. Wah kalau begini, bisa-bisa semua harga makanan bisa naik." Lanjut ibu itu lagi yang membuat temannya yang menggunakan baju persis akan tetapi beda warna langsung berteriak kecil.
"Ihh, kalau itu aku sudah tahu bu. Haduh, bisa susah kalau jalan satu-satunya ke desa ini tertutup seperti itu. Pasti harga barang naik karena proses pengantaran barang jadi terhambat. Katanya yah, beberapa bahan makanan akan dikirim menggunakan kapal besar atau helikopter dari pusat. Ah, aku yakin sekali harga barang akan melunjak tinggi!" ujarnya dengan heboh. Membuat Hoseok memutar matanya malas, memikirkan betapa ributnya ibu-ibu desa yang terkadang tidak tahu tempat.
"Ah, kalau begini kita harus jaga-jaga… butuh banyak uang juga, kantor arsip bagian kependudukan pasti akan sibuk." Salah satu suara dari segerombolan ibu-ibu berisik itu, membuat Hoseok menghentikan langkahnya. Diam dan kaku, apa hubungannya harga barang yang naik dengan kantor arsip?
Seingat Hoseok, kantor arsip kependudukan yang ada di balai desa adalah kantor yang menyimpan segala macam data tentang warga. Dan tidak sembarang orang yang bisa masuk ke dalam kantor itu.
Hoseok berpikir sejenak, dirinya mengambil buku kecil yang ia selipkan di saku celananya dan menuliskan kata-kata kunci yang menurutnya adalah sebuah clue.
Harga naik dan kantor arsip.
Kakinya melangkah dengan mata terfokus pada buku kecilnya, dan tangan yang terus mencoret-coret beberapa kemungkinan yang ada.
Apa hubungannya?
Ada apa dengan data warga di kantor arsip?
Sejauh ini yang (aku ketahui) hilang adalah anak-anak, atau orang yang belum dewasa… jadi…
Harga, anak-anak, dan hilang… dan…
Kaki Hoseok langsung berhenti melangkah, tubuhnya kaku dan tangannya melemas. Hoseok pernah mempelajari ini, jauh saat dirinya masih tinggal di kota besar. Pelajaran yang memadai dan berbau memaksa.
Hoseok masih ingat dirinya yang sangat malas saat kelas Sosiologi dimulai, kelas yang menurutnya sangat tidak penting untuk dipelajari. Karena hanya membahas masalah-masalah social yang bahkan bisa dijawab dengan logika.
Pada waktu itu, setiap kelompok mendapat tugas. Membuat penelitian ilmiah dari salah satu masalah sosial yang cukup terkenal pada zaman ini. Hoseok dan kelompoknya sudah hampir memilih tema 'Aliran sesat' yang memang sedang maraknya di berbagai kota. Akan tetapi pembahasan itu diganti, karena menurut ketua kelompok tema itu terlalu berat jika dipakai untuk penelitian ilmiah.
Dan pada saat itu, Hoseok masih ingat sangat jelas. Tangan Baekhyun yang terangkat dengan senyum lebar, seperti mendapat ide cemerlang entah dari mana.
"Bagaimana kalau perdagangan anak?"
Keajaiban dari mana, semua anak langsung setuju dengan usulan Baekhyun. Kata Seoungchol juga tema itu lebih bagus dari pada 'Aliran sesat'.
Hoseok teringat, sebuah fakta mengerikan dimana banyaknya anak-anak kecil terkhususnya perempuan, menghilang tanpa jejak dan ternyata diculik lalu didagangkan demi kebutuhan seksualitas orang-orang jahanam. Atau fakta maraknya perdangangan anak demi mencari organ-organ tubuh yang sangat menguntungkan jika dijual.
Tentu saja ini hanya ingatan yang tiba-tiba muncul di otak Hoseok, tapi kenapa sekarang… Hoseok merasa semua begitu jelas?
Entah kenapa, Hoseok langsung merinding. Hawa dingin menyentuh tengkuknya dan kerongkongannya terasa kering. Selai cokelat yang biasanya pasti meninggalkan jejak di lidah, sekarang terasa hambar. Bahkan Hoseok yakin dirinya berkeringat dingin.
Ada sesuatu yang menusuknya, sesuatu yang membuatnya susah bergerak. Secara perlahan Hoseok memutar kepalanya ke belakang, menatap kembali kedai yang tidak jauh darinya. Hoseok hanya melihat kedai itu dengan sebelah mata. Tapi Hoseok yakin…
Seluruh orang di kedai itu, berhenti.
Dan menatapnya dengan tajam.
Tanpa sadar, Hoseok langsung menjatuhkan pena hitam yang ada di tangannya ke tanah. Darah di tubuhnya mengalir deras seiring detak jantung yang meningkat tajam. Hoseok panik setengah mati, dan dirinya terasa membeku di tempat.
Cukup membutuhkan waktu lama, seorang anak kecil menabrak Hoseok menggunakan sepeda hitam. Menghantam pinggul Hoseok, yang membuat Hoseok hampir tersungkur dan meringis kecil. Hoseok bisa melihat, anak kecil berseragam SD itu tersenyum kecil. Seakan menyelamatkan Hoseok dari situasi mengerikan.
Dan Hoseok yakin seratus persen, anak itu adalah Joong Ki. Setelah itu Hoseok hanya bisa melihat punggung kecil Joong Ki yang mengayuh sepeda dengan cepat, sering kali membelokkan sepeda demi menghindari batang-batang pohon yang tumbang karena badai. Joong Ki menyadarkan Hoseok dari kebekuannya dan rasa panik yang menjalar di tubuhnya.
Hoseok langsung mengambil pena yang terjatuh dengan beberapa kali mengelus pinggulnya yang kesakitan. Sempat Hoseok melirik ke arah kedai tadi dan melihat aktifitas mereka yang kembali normal.
Tanpa butuh basa-basi, Hoseok langsung berlari sekuat tenaga.
Melupakan rasa sakit di pinggulnya yang terasa sangat menyakitkan.
.
.
.
"Ahahahaha, dasar bodoh! Hyung terlambat karena membeli satu botol permen?!" gelak tawa menghiasi toilet laki-laki yang selalu tampak kotor. Hoseok hanya bisa menyengir kecil dengan tangan memegang tongkat pel yang sudah jelek.
"Kalian mau?" tawar Hoseok sambil membuka isi tasnya yang langsung mendapat gelengan dari Taehyung dan Jimin.
"Tidak terlalu suka makanan asam." Tolak Jimin.
"Lagi makan permen karet." Jawab Taehyung.
Hoseok hanya mengangguk penuh pengertian, baru saja ia ingin menutup kembali isi tasnya, sebelum akhirnya ia kepikiran sesuatu.
"Ah… coba kau tadi tidak telat bangun Tae… aku tidak akan membersihkan toilet ini!" keluh Jimin dengan nada kesal, dan si Taehyung hanya bisa menyengir lebar dengan alis naik turun. Seakan dirinya sengaja telat dan tidak merasa bersalah sama sekali.
CEKREK
Taehyung dan Jimin langsung terdiam, menatap ke arah suara kamera kuno yang sekarang mengeluarkan kertas foto kecil dengan perlahan. Jimin yang pertama kali berjalan cepat mendekati Hoseok dan merebut hasil foto.
"Lama… lama… lama…" gumam Jimin tak sabaran, setelah itu Taehyung menyusul dan melihat hasilnya dengan sedikit memaksa. Tidak beberapa lama, munculah sebuah gambar muka Jimin yang mengeluh kesal dan Taehyung menyengir bodoh.
"Yah… setidaknya aku tampak keren di sini." Gumam Taehyung dan Jimin berbarengan. Hoseok hanya bisa tertawa kecil dan mengambil foto itu, lalu ia selipkan di buku kecilnya. Hanya untuk jaga-jaga.
"Ah… aku lelah, bolos saja yuk, ke kantin. Daripada masuk nanti pasti ditambah hukumannya." Ajak Jimin yang langsung dijawab dengan anggukan setuju. "Yak, Jungkook! Kau ikut?!" teriak Jimin lagi sambil menendang salah satu bilik toilet.
"AISH! Sabar sedikit kenapa?! Lagi BAB juga!" teriak Jungkook dari dalam, Hoseok tidak terlalu mengenal Jungkook. Tapi Jungkook juga telat waktu itu dan berakhir terkena hukuman yang sama dengan dirinya. Dan sepertinya, Jimin serta Taehyung cukup dekat dengan namja bergigi kelinci itu.
"Ahh… eh, kau tahu? Berita tentang rusaknya kapal kita." Sahut Jimin secara tiba-tiba dengan tangan yang bersandar di pintu toilet.
"Badai kemarin benar-benar hebat man, aku bahkan bisa merasakan rumahku hampir roboh!" kata Taehyung dengan sedikit antusias.
"Cih, tidak usah mengatakan hal seperti itu." Jimin mendecih kesal, membuat Taehyung langsung menggeleng kecil.
"Aku tidak bermaksud mengungkit sebagian rumahmu yang roboh, akh! Lupakan!" balas Taehyung dengan wajah malas. Jimin hanya diam beberapa saat sebelum akhirnya Jimin melenguh panjang.
"Ini akan menjadi bulan yang berat." Sahutnya tipis, dan sejenak hanya hening yang menjawab. Hingga Hoseok yang dari tadi tidak mengerti ucapan mereka berdua, mendengar suara air mengalir deras dari dalam bilik toilet Jungkook.
"Kalian tahu, ini juga akan menjadi lebih berat." Suara Jungkook mewarnai toilet saat namja bergigi kelinci itu keluar dari bilik toilet. "Maka itu, mari makan mie rebus." Lanjutnya lagi yang langsung ditanggapi dengan anggukan setuju dari Taehyung dan Jimin.
Tidak beberapa lama, mereka bertiga langsung melihat ke arah Hoseok. Hoseok hanya menggeleng kecil. "Ah tidak, aku lagi tidak ingin makan. Kalian pergi saja, aku ingin ke atap sekolah." Tolak Hoseok dengan alasan yang cukup masuk akal, membuat ketiga adik kelasnya pergi meninggalkan toilet sambil bercanda.
Hoseok yang sudah ditinggal sendirian, langsung tersenyum tipis. Dirinya kembali membuka buku kecil dan menempelkan foto Jimin dan Taehyung dengan benar, sedikit kecewa karena dirinya tidak sempat memfoto saat Jungkook keluar dari salah satu bilik toilet.
Setelah itu, Hoseok langsung keluar toilet. Dirinya berjalan cepat melewati ruang guru, melihat sekitar dan menyadari bahwa tidak ada siapa-siapa di ruang itu. Bahkan guru BK yang biasanya duduk di depan ruang sambil menikmati teh hangat pun hilang entah kemana.
Membuat Hoseok tersenyum kecil, entah setan dari mana yang merasuki dirinya, tetapi yang Hoseok tahu hanya satu, kakinya bergerak sendiri, berjalan memasuki ruang guru dan memerhatikan deret meja yang terpampang rapi.
Tadi, waktu dirinya sedang mengepel lantai dan Jimin yang membersihkan beberapa bilik toilet—dan Jungkook yang BAB—Hoseok sempat mengorek informasi dari Taehyung. Bertanya dimana tempat yang biasanya menyimpan informasi atau data siswa. Dan jawaban Taehyung adalah di ruang kepala sekolah, di dalam ruang guru.
Hoseok sempat mendecih kesal, karena di sekolahnya dulu, data siswa di letakkan dan disusun rapi di perpustakaan sekolah. Di rak khusus yang berisi kenangan siswa-siswa, seperti buku tahunan atau beberapa arsip data yang kalau di simpan di ruang kepala sekolah hanya akan membuat penuh. Tapi Hoseok juga tahu, bahwa di sekolahnya tidak memiliki perpustakaan. Kalau mau ke perpustakaan, terpaksa harus ke balai desa.
"Lucu sekali…"
"Tidak mungkin aku harus menerobos masuk ke dalam ruang kepala sekolah demi mencari bukti."
Setidaknya itu yang dikatakan Hoseok tadi.
Buktinya sekarang dirinya sudah menginjak ruang guru dan tinggal berjalan menuju pintu cokelat yang kalau dibuka akan langsung menjumpai ruang kepala sekolah. Berharap saja tidak ada yang masuk ke dalam ruang guru untuk saat ini.
Hoseok langsung berlari cepat, menuju sudut ruangan dan menggapai ganggang pintu cokelat tua itu. Mencoba membuka pintu ruang kepala sekolah dengan kepala yang mengedarkan pandangan, berjaga-jaga jika ada yang masuk atau mencari CCTV yang mungkin saja akan merekam aksinya.
Hasilnya, nihil.
Mulai dari tidak adanya CCTV, orang yang masuk, hingga pintu yang tidak mau terbuka.
"Shit!" Hoseok menendang pelan pintu tua itu dan langsung berlari cepat, keluar ruang guru dan kembali mengecek situasi. Pikirannya hanya satu saat ini, yaitu pos satpam.
Hoseok berjalan menuju gerbang sekolah, matanya menangkap satpam sekolah yang sedang menceramahi anak-anak yang lebih telat darinya di depan gerbang sekolah. Ada juga guru BK yang menggeleng-geleng entah karena apa.
Tapi yang jelas, pos satpam waktu itu sepi, dan jarak antara gerbang sekolah dengan pos satpam begitu dekat.
"Just, act natural Hoseok… kalau tidak sekarang, kapan lagi?!" gumam Hoseok pelan, dirinya mengambil satu permen lemon dan memakannya cepat, membiarkan rasa asam itu mencoba menenangkan adrenalinnya.
Hoseok sengaja menyembunyikan tasnya di belakang pot besar hingga tidak nampak, lalu dirinya berjalan santai menuju pos satpam.
"Pak, apa tadi orang tua saya tidak menitipkan bekal atau apa gitu?" teriak Hoseok dengan tangan gemetar yang menggenggam tembok bercat putih itu.
Satpam yang mendengar itu, melihat ke arah Hoseok bingung. Kakinya melangkah mendekati pos satpam, membuat hati kecil Hoseok berteriak kuat.
'Jangan ke sini…'
'Jangan ke sini…'
'Jangan ke sini chebal!'
Anehnya, teriakan kecil di hatinya berhasil. Satpam tua itu berhenti di tempat dan tersenyum tipis. "Ah, kau yang telat tadi kan? Iya tadi ada ibu-ibu yang datang ke sini menitipkan bekal. Kurasa itu ibumu. Lain kali jangan telat dan menyusahkan orang tua ya?" kata satpam itu dan kembali mengikuti guru BK yang masih saja ceramah panjang lebar.
Hoseok langsung menghela napas panjang, sepanjang-panjangnya, serasa seluruh napasnya ia tahan di paru-paru dan tidak boleh keluar dalam waktu yang lama. Walaupun sekarang rasa gugupnya sedikit berkurang, Hoseok tetap saja tegang dan keringat dingin.
Dirinya memasuki pos satpam itu dan melihat jejeran bekal yang ada di meja kayu berwarna cokelat muda. Matanya tidak tertarik dengan kotak bekal berwarna-warni yang mungkin jika dibuka akan berisi makanan menarik. Tapi matanya malah melihat di dinding pos satpam yang tertempel kayu panjang dengan kunci-kunci kecil bergantungan.
Hoseok langsung menemui kunci kecil bertuliskan ruang kepala sekolah dan ruang guru. Tanpa basa-basi Hoseok menyambar kedua kunci itu dengan cepat dan melirik beberapa bekal. Setidaknya dia harus mengambil satu bekal supaya semua lebih sempurna.
Dan mungkin dewi fortuna sedang berpihak kepadanya, dirinya melihat satu bekal yang di tutupnya bertulisan 'Jeon Jungkook, 10.2'
Tanpa basa-basi, Hoseok mengambil bekal itu dan keluar dari pos satpam. Sempat tersenyum ramah dengan guru BK dan satpam lalu langsung pergi dari tempat menegangkan itu. Mengambil tas dan langsung berlari menuju kantin.
Setidaknya, dirinya harus menenangkan diri sendiri, dan mungkin memberikan kotak bekal ini ke Jungkook lalu nimbrung memakan mie rebus, cukup baik untuk menetralkan detak jantungnya.
.
.
.
"Ya ampun bu… Hoseok hanya menginap di rumah Yoongi, rumahnya juga tidak jauh-jauh kali." Hoseok terkikik kecil, melihat ibunya yang sekarang cemberut kesal.
"Ibu hanya menyuruhmu membawa ini semua, mana tau kau butuh." Jawab ibunya yang membuat Hoseok melihat tas besar yang entah berisi apa itu.
"Tidak sama sekali bu, besok aku langsung ke sekolah dari rumah Yoongi yah bu." Kata Hoseok sambil mencium dahi ibunya dan pergi ke luar rumah. Tas hitam lusuh yang berisikan seragam sekolah, permen, kamera dan beberapa buku tipis terbawa rapi di punggungnya.
Bohong jika mengatakan Hoseok akan langsung menuju ke rumah Yoongi. Memang Hoseok sudah mengatakan ke Yoongi bahwa dirinya akan menginap mala mini di rumahnya, tapi Hoseok berjanji akan datang pukul 8 malam, dan sekarang masih pukul 7.
Dan tentu saja, Hoseok bukanlah orang yang suka tiba-tiba melakukan sesuatu jika tidak ada alasan. Bukankah Hoseok sudah berjanji dengan diri sendiri? Akan menuntaskan misteri ini hingga ke akar-akarnya?
Yah walau tadi satpam sekolah sempat heboh, karena dirinya kehilangan dua kunci paling berharga. Dan Hoseok sendiri sempat diinterogasi dan diperiksa seluruh badannya, membuat dirinya rela menyembunyikan dua kunci kecil itu di dalam celana dalam yang ia pakai.
Yep, celana dalam.
Sungguh tidak etis tapi sangat membantu Hoseok. Setelah itu, permasalahan diselesaikan oleh kepala sekolah yang masih mempunyai kunci duplikat. Dan mereka memutuskan untuk tidak menggantung kunci-kunci penting di pos satpam.
Sebenarnya Hoseok cukup bingung, apa yang mereka takutkan? Sampai begitu heboh hanya karena dua kunci yang hilang? Kasus ini pernah terjadi di sekolahnya, kunci ruang guru yang hilang. Dan sekolahnya hanya menanggapi dengan santai, memakai kunci duplikat dan mempercayai murid-muridnya tidak akan mencuri sebuah kunci.
Jadi apa yang mereka takutkan?
Takut anak murid mencuri soal ulangan? Tapi setahu Hoseok sekarang dirinya tidak sedang dalam masa ujian. Bahkan perlajaran masih terlalu baru untuk diadakan ulangan harian.
Pasti…
Ada yang mereka sembunyikan di sana…
Iya kan?
Hoseok langsung merapatkan jaketnya, memasang topi, serta kain hitam panjang untuk dijadikan masker, dan yang terakhir menutupi wajahnya dengan tudung jaket. Membuat seseorang tidak akan mengenalinya, dan jika pun ada orang yang melihat dirinya, pasti akan disangka seorang pencuri.
Mata Hoseok memicing tajam, menatap gerbang sekolah yang tertutup rapat. Dengan cepat tangannya merangkak ke atas, membuat tubuhnya dengan mudah meloncati pagar besi pendek yang tampak rapuh. Di saat kaki Hoseok menginjak tanah sekolahnya, Hoseok langsung merasa hawa yang tidak enak.
Dimana-mana juga semua orang tahu, betapa menyeramkannya sebuah sekolah jika pada malam hari. Setiap sekolah pasti akan ada satu cerita horror, entah sekolahnya yang dari kuburan, atau ada murid bunuh diri di sekolahnya, atau bahkan yang lebih parah, adanya pembantaian yang dilakukan guru.
Walau sedikit mendramatisir, tapi percayalah, cerita bodoh yang tidak berdasar itu mampu membuat Hoseok bergidik ngeri.
Hoseok sempat kepikiran untuk menarik dirinya kembali lalu berlari menuju ke rumah Yoongi dengan kecepatan penuh. Tapi, rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya dengan begitu mudah. Menyisakan tubuh yang gemetar dan keringat dingin, sedangkan kakinya melangkah mantap masuk menuju sekolah.
Hoseok sengaja tidak membawa senter, terlalu bahaya. Walau Hoseok yakin, tidak akan ada manusia yang mau menginjak sekolah malam-malam. Tapi tetap saja, berjaga-jaga lebih baik bukan?
Sedetik, dua detik, Hoseok masih bisa berjalan normal. Tapi lama-kelamaan dia merasa ada yang memacu jantungnya, adrenalin yang mengalir deras, dan munculnya rasa gugup bercampur takut. Membuat langkah kakinya menjadi tidak pasti, kikuk, seakan takut akan dimangsa oleh seseorang.
Sebenarnya, otak Hoseok sudah meraung, berteriak meminta sang jantung untuk lebih tenang. Tapi tidak, Hoseok tidak akan tenang dengan adanya angin malam, yang memberikan efek-efek mengerikan terhadap pohon-pohon rindang. Ataupun kelas-kelas hening yang bernuansa kelam dengan kursi kosong. Hoseok tidak akan tenang, apalagi membayangkan adanya sosok-sosok tak kasat mata yang mungkin sedang memandanginya, berusaha menyentuhnya, lalu…
Memakannya…
"Huaa!" Hoseok menjerit kecil, kakinya langsung berlari cepat layaknya ninja. Ini mengerikan, sendirian di sekolah pada malam hari jauh lebih mengerikan daripada 100 soal Matematika. Bahkan sekarang tangan Hoseok sudah gemetar hebat, mencoba memasukkan kunci kecil untuk menembus ruang guru.
Di saat dirinya memasuki ruang guru, Hoseok langsung menutup pintu dan menguncinya sekali lagi. Berpikir bahwa dirinya akan merasa aman, tapi ternyata tidak. Ruang guru lebih terasa kelam, mengerikan, dan gelap daripada kelas-kelas yang dilewatinya. Dan itu memunculkan ratusan scene horror yang membuat Hoseok semakin takut.
Berlari pontang-panting menuju ruang kepala sekolah dan membukanya dengan cepat. Memasuki ruangan kecil itu dengan tangan kanan yang tergesa-gesa memasukkan kunci kecil ke lubangnya. Dan saat pintu terbuka, Hoseok menatapi ruangan kecil yang begitu gelap.
Hoseok menelan ludah berkali-kali, tangannya meraba seluruh dinding dan menemui saklar lampu di belakang pintu. Membuat dirinya langsung menghidupkan lampu ruangan, membiarkan matanya terbiasa dengan terang. Hati Hoseok mendadak lebih tenang, dirinya dengan mudah menutup dan mengunci kembali pintu tanpa ada rasa takut sedikitpun.
Yah, Hoseok mungkin bisa dibilang, sedikit takut akan kegelapan. Saat gelap, imajinasi Hoseok bagaikan menyembur seperti larva gunung berapi yang baru saja meletus. Imajinasi horror bertebar di sana-sini dan membuat Hoseok jadi panik seketika.
Tapi karena sekarang sudah terang, Hoseok bisa dengan tenang mengecek satu ruangan kecil yang mempunyai bau seperti kertas. Hoseok hanya bisa menggaruk gatal hidungnya karena bau ruangan yang cukup kuat ini.
"Ok, sekarang apa?" tanya Hoseok pada diri sendiri. Otak Hoseok buntu dan tidak tahu harus berbuat apa. Sebelum akhirnya dia kepikiran, biasanya jika di permainan seperti game horror, maka tokoh game mencari secara random di satu ruangan dan mengambil apa yang menurutnya penting.
Yah, mungkin Hoseok akan mencoba seperti itu. Mencari tanpa tahu arah dan mengikuti insting nya sendiri. Akhirnya Hoseok mulai membuka semua laci dan lemari yang ada di rungan itu, sebagian besar berisi berkas yang Hoseok tidak mengerti, sebagian besar hanya berisi data-data sekolah yang tetap saja Hoseok tidak mengerti.
"Hmm…" gumam Hoseok berpura-pura mengerti dengan hal yang ia lihat. Bahkan di saat dirinya menemukan data-data siswa angkatannya, dia sama sekali tidak tertarik untuk mengecek lebih teliti, hanya karena mengikuti insting-nya saja. Sampai akhirnya, Hoseok membuka sebuah lemari besi tiga tingkat.
Di saat dirinya menarik tingkat pertama, Hoseok langsung tidak tertarik, karena hanya berisi tumpukan alat-alat sejenis gunting, lem, lakban, dan lainnya. Di tingkat kedua, Hoseok menemukan tumpukan berkas data pengeluaran keuangan sekolah, yang tentu saja langsung di loncati oleh Hoseok.
Pada tingkat paling terakhir, di laci paling bawah, Hoseok sedikit kesusahan menarik laci besi itu keluar. Seperti ada yang mengganjal di bawah, dan insting Hoseok mengatakan memang ada sesuatu di bawah situ.
Hoseok menarik laci besi itu hingga keluar, matanya melebar besar saat melihat sebuah map yang tidak begitu tebal tergeletak di lantai. Hoseok menggapai map itu, sedikit berdebu tapi terkesan terawat.
"Kenapa kau disembunyikan seperti ini teman…" gumam Hoseok pada diri sendiri. Tangannya membuka map itu dan langsung terdiam. Melihat lembar demi lembar dengan kaku, sepertinya insting Hoseok sangat berjasa malam ini.
Setiap lembar, selalu memiliki satu data singkat tentang seorang siswa. Seperti sebuah formulir, tapi terkesan aneh. Satu lembar, selalu ada satu foto siswa, tahun dan cap besar berwarna merah bertuliskan 'C.T'
Hoseok mengambil kameranya, memfoto lembar pertama dan terus membuka hingga tangannya berhenti. Mulutnya langsung terdiam, menatap selembar kertas yang ada foto Seul Gi di sudut kiri atas.
Sempat Hoseok berpikir untuk mencuri satu lembar saja, tapi itu terlalu rentan. Desa ini aneh, dan warga desa ini teliti. Hoseok yakin itu, satu lembar saja pasti akan membuat dirinya dalam masalah. Hal itu membuat Hoseok sekali lagi memfoto lembaran data Seul Gi dan berharap hasilnya akan cukup kuat untuk menjadi sebuah bukti.
Hoseok menunggu dua hasil fotonya dan tersenyum senang. Melihat hasilnya yang menampakkan jelas satu lembar data lengkap dengan cap merah yang terlihat begitu terang. Tidak ada yang kurang, dan ini sudah cukup membuat Hoseok puas.
Ingin rasanya Hoseok mengambil satu map itu, map yang ia yakini berisi dengan orang-orang yang hilang di sekolahnya, di SMA nya, yang tak lain adalah satu-satunya SMA di desa ini. Tapi Hoseok tahu, terlalu bahaya dan bisa saja mempertaruhkan nyawanya.
Hoseok kembali menghela napas lelah, otaknya berpikir kuat. Kenapa orang yang hilang dianggap biasa? Apa satu desa ini bekerja sama dalam proses penjualan anak? Dan apa maksud dari cap itu?
Pertanyaan mengalir deras di otaknya, tapi tidak ada satupun yang terjawab dengan pasti. Hanya ada jawaban-jawaban yang tidak berdasarkan bukti.
Tangan Hoseok bergerak, meletakkan semuanya kembali seperti semula. Badannya berjongkok di depan laci besi itu cukup lama, hingga telinganya menangkap sesuatu. Sesuatu yang membuat jantungnya berdegup kencang. Sesuatu yang membuat dirinya kembali panik.
Suara…
Hoseok mendengar sebuah suara…
Tidak begitu jelas, tapi terdengar begitu dekat…
Suara pintu ruang guru yang di buka dan adanya orang yang berbicara cukup kuat. Langkah kaki yang mengetuk, menggema seakan menandakan si pemilik kaki menggunakan sepatu pantofel. Hoseok sempat berpikir untuk mematikan lampu saat suara ketukan itu semakin mendekat. Tapi dirinya tidak punya waktu, terlalu singkat dan gerakan Hoseok tidaklah secepat angin.
Hoseok langsung memutar tubuhnya, mengambil sembarang kamera dan dua hasil fotonya. Matanya menatap ganggang pintu yang mulai bergerak naik turun. Seakan orang yang masuk tidak sadar bahwa pintu terkunci.
"Ah, iya… saya baru saja sampai di sekolah. Ne… ne…"
Suara mulai terdengar begitu jelas, Hoseok bergerak lebih cepat, memasukkan semua barang ke dalam tas dan menyelundup masuk ke dalam bawah kolong meja kepala sekolah yang tertutupi oleh taplak meja panjang bermotif kotak-kotak.
Hoseok dapat mendengar, suara kunci yang membuka pintu, atau ganggang pintu yang turun secara perlahan. Hoseok mendengar seluruhnya, membayangkan sepatu hitam pantofel itu masuk ke dalam ruangan. Mengetuk dua kali lalu berhenti sejenak…
Hati Hoseok seakan meronta, jantungnya terasa sakit seperti ditindih oleh seseorang, nafasnya tercekat, bahkan Hoseok merasa lehernya tercekik dengan tudung jaketnya sendiri. Dirinya memeluk kaki dengan begitu kuat, menekuk badan dan sama sekali tidak bergerak sedikitpun.
"Aneh, kenapa lampunya hidup yah?"
Gumam orang itu yang membuat jantung Hoseok langsung berdegup kencang. Sangat kencang, hingga membuat Hoseok semakin takut, bahwa bisa saja orang itu dapat mendengar degup jantungnya.
Keheningan semakin terasa, Hoseok bisa merasakan bahwa orang itu curiga. Curiga ada yang aneh, dan Hoseok hanya bisa memeluk kakinya begitu kuat, seakan mampu meremukkan kakinya sendiri. Bahkan tubuh Hoseok tidak berani mengeluarkan keringat dingin, karena terlalu takut.
"Ah, tidak pak… saya hanya bingung dengan lampu ruangan saya. Hahahah iya… saya rasa saya lupa mematikannya…"
Hoseok bisa merasakan hidungnya mengeluarkan sedikit napas lega, setidaknya orang itu tidak curiga dan tidak akan memeriksa satu ruangan. Lama-kelamaan, tangan Hoseok mendadak terasa gatal, kakinya keram dan kain hitam yang melilit setengah dari mukanya terasa begitu menyesakkan.
Hoseok merasa sangat tidak nyaman, apalagi di saat sepatu pantofel ala mini mengetuk lantai dan adanya suara laci yang terbuka. Hoseok ingin berteriak, kabur, dan berlari sekuat tenaga, tapi orang sakit jiwa pun tahu, itu adalah tindakan yang salah.
Semakin lama Hoseok semakin tidak fokus, terlalu menyesakkan dan sempit. Hoseok tidak suka, tapi dia tidak berani untuk bergerak. Beberapa menit berlalu, jantungnya terasa berdetak lebih normal, hatinya tidak lagi berjerit ala , dan pikirannya tidak lagi diliputi rasa takut.
Sekarang yang tersisa hanyalah rasa pengap, jenuh, dan lelah…
Hoseok ingin cepat-cepat keluar dari neraka panas ini dan langsung menikmati dinginnya udara luar. Matanya menutup dan kepalanya sengaja ia sandarkan di kayu tipis meja dengan begitu hati-hati, agar tidak menimbulkan suara. Dirinya hanya ingin mencari posisi yang nyaman sambil menunggu.
Hoseok terus menguping pembicaraan orang itu, sesekali orang itu bercanda, tertawa, dan tiba-tiba mendadak serius. Tapi tidak ada sedikitpun informasi yang berguna, hanya percakapan basa-basi untuk mengisi keheningan.
Hingga akhirnya orang itu berteriak senang.
"Ah, saya menemukannya!"
"Yang bapak maksud adalah Park Jimin dari kelas 10.3 bukan?"
"Iya, saya menemukannya…"
"Akan saya serahkan langsung ke bapak ala mini."
"Ok, pak."
Dan saat itu, semua berjalan begitu cepat. Lampu yang dimatikan, pintu yang tertutup, dan suara ketukan pantofel yang menjauh.
Lalu, mata Hoseok yang melebar sepuluh kali lipat.
Apa ini?
Apa selanjutnya…
Jimin akan menghilang?
.
.
.
TBC
Tidak akan banyak basa-basi…
Aku bersyukur akhirnya bisa menyelesaikan chap ini di antara banyaknya masalah kehidupan #eeaa
Belakangan ini, menulis juga bukan prioritas utama :( dan yah, mungkin aku menentukan untuk mengapdet cerita setiap 1 minggu atau 2 munggu sekali. Wkwkwk…
BALASAN REVIEW :
Ganto sshi, and I'm sad when you are sad… XD wkwkwkw, iya… aku usahakan untu rajin apdet kek dulu lagi.
Hwimang, bukan setengah mati nih? Wkwkwkw
Kang Ha Neul, yep… I will take it easy! Dan akan semangat nulissss
Melaakimtae1, wkwkwk, makin ke sini makin seru gak?
94shidae, udah di jawab kan? Orang-orang yang hilang itu dijual. JENG JENG!
Yxnghua, IAAA AKU JUGA GREGET NENGOK REVIEWMU YANG HAMPIR SEMUA CAPSSS
J Jongkok, udah lanjutt~~~~
Guest, udah apdet yahh..
Yuuki asuka, hahaha iya, makasih yah sudah menunggu ^^ saranghae deh… wkwkwk
Ikaorii, ne, makasih loh udah bilang gitu, sangat membantu. Aku juga akan berusaha tetap pd dan rajin apde kek dulu. Wkwkwk…
Chris Tyan97, hahahaha, aku juga gak tau. Aku sering merasa gak pd dengan banyak hal, dan menulis sebuah cerita sebenarnya adalah yang paling besar, mungkin karena sekarang banyak sekali author2 bagus yang membuatku minder. Wkwkwk, yah dan aku suka sama review kamu yang jujur itu XD
ChocoKim Cullinan, udah terkuak lah yah sedikit… misterinya… wkwkwkw.
FefeM, udah mulai nih, ketemu satu-satu petunjuknyaaa :v
ORUL2, kalau soal yang ilang kenapa yang hanya punya sodara, nanti akan dijelaskan di chap selanjutnya. Dan tidak ada yang menyulik disini… hanya ada penjualan anak saja. XD
Ngengngeng, udah lanjutt~~ apa masih penasaran? Sedikit lah yah penasarannya… kwkwkwkw.
Ravoletta, udah lanjutt yeayyyy *sorak sorak*
Mphiihopeworld, EMMAAAAKKKKK RINDUUUUUUUUU. Ada project terbaru, tapi yoonmin mak itu loh beauty and the beast. Untuk sementara masih fokus ke situ dan a mask season 2 yang bakal apdet minggu depan (gak janji) wkwkwk, aku juga rindu emak astaga! Sudah lama kita tidak berciuman /eh bercengkrama maksudnya… wkwkwkwkwkwk
Jiminyangpetjahh, udah lanjutttt sayangkuuu
Rizkah Hijriyah, siap! Aku akan semangat! yeay!
AKHH, aku suka review kalian semua!
Saranghae~~
Love and peace :3
