BOY IN LUV
.
.
Yoongi membuka mata dan berusaha mengumpulkan nyawanya(?) setelah tertidur panjang semalaman. Melirik jam dinding yang ada di seberang tempat tidurnya..
07.15
Yoongi mengingat hari apa sekarang, dan kembali meringkuk di bawah selimut, memejamkan matanya untuk kembali tertidur saat sudah mengetahui kalau ini hari Minggu, jadi dia tidak perlu terburu-buru mandi karena terlambat datang ke sekolah.
Beberapa detik kemudian, Yoongi kembali membuka matanya dan menyadari tentang suatu hal.
Yoongi mengubah posisinya menjadi duduk, dan tangannya berusaha menggapai kemeja seragam sekolahnya yang dia gantung di dekat tempat tidur. Mengambil sesuatu yang dia lupakan kemarin.
Ya.
Surat yang Seokjin masukkan ke dalam saku kemeja Yoongi. Yoongi bahkan lupa untuk membacanya kemarin.
'aku senang kau seperti ini, tidak pemarah, tidak arogan'
Yoongi kembali memasukkan surat itu kedalam amplopnya dan melemparnya ke meja nakas yang ada di samping tempat tidur.
Yoongi menguap dan menggaruk kepalanya, berusaha membuka matanya sambil menatap ke depan dengan pandangan kosong.
"dia tahu kemarin aku tidak marah? Siapa dia?"
Yoongi kembali menguap dan menyibakkan selimutnya, beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke luar kamar, berusaha tidak ambil pusing dengan surat aneh itu.
Setelah keluar dari kamar, Yoongi berjalan menuju dapur rumahnya. Rumah yang tidak terlalu besar milik orangtua Yoongi. Rumah yang terbilang sederhana, yang diberikan untuk Yoongi karena orangtuanya harus pindah ke Daegu karena urusan pekerjaan.
Sudah dua tahun Yoongi tinggal di rumah ini. Dia memilih tidak ikut orangtuanya ke Daegu karena dia ingin hidup sendiri, dan bebas melakukan apapun yang dia mau tanpa halangan atau larangan apapun. Kalau sudah begini, orangtua Yoongi hanya bisa menuruti kemauan anaknya yang memang senang memberontak sejak dulu.
Yoongi melihat seseorang duduk di sofa ruang keluarga sedang asik dengan ponsel di tangannya. Sengaja Yoongi lewat di belakang orang itu sambil melirik ke arah ponsel untuk melihat apa yang dilakukan orang tersebut.
Chatting.
Itulah yang Yoongi lihat.
Setelah melihat nama dari lawan chatting di ponsel itu, Yoongi melanjutkan jalannya ke arah dapur dan menuang air putih ke dalam gelas.
"kau berpacaran dengan Taehyung?"
Yoongi berjalan ke arah ruang keluarga sambil membawa segelas air, dan ikut duduk di sofa panjang yang diduduki orang tadi.
"tidak, hyung. Bicara apa kau ini"
"kemarin dia menabrakku di tangga. Kalau aku tidak ingat kau menyukainya, sudah aku tinju mungkin wajahnya" ucap Yoongi datar setelah menegak habis minumnya.
"tapi nyatanya hyung tidak akan melukai orang yang aku suka, kan?"
Yoongi hanya melirik malas, dan mengambil remote tv yang ada di meja. Menyalakan tv, mencari-cari acara yang bagus di hari Minggu yang cerah ini. Memilih untuk tidak menanggapi pertanyaan adik sepupunya, Jungkook.
Ya.
Jungkook tinggal bersama Yoongi. Baru beberapa bulan memang, semenjak Jungkook sekolah di sekolah yang sama dengan Yoongi. Ibu Jungkook yang merupakan adik kandung ibu Yoongi meminta Yoongi untuk menjaga Jungkook selama dia bersekolah di Seoul. Karena sejak kecil, Jungkook memang selalu dekat dengan Yoongi. Selalu ikut Yoongi kemanapun, begitu juga Yoongi yang selalu menjaga dan melindungi Jungkook layaknya adik kandungnya sendiri. Sampai mereka sudah besar seperti ini, Jungkook yang sebelumnya melewati masa sekolahnya di Busan, merengek kepada orangtuanya untuk bersekolah di Seoul bersama Yoongi. Dan dengan senang hati Yoongi menerima ketika Jungkook akan ikut tinggal bersamanya.
"kau mau kemana?" tanya Yoongi setelah menyadari penampilan Jungkook yang memakai kaus dilapisi jaket, celana training, serta tas ransel di sampingnya.
"berlatih futsal, hyung. Akan ada pemilihan untuk menjadi tim perwakilan sekolah. Jadi aku harus berusaha keras untuk bisa masuk ke tim perwakilan sekolah" ucap Jungkook riang.
Yoongi hanya melirik sebentar, dan melanjutkan acara menonton tv-nya dengan wajah datar seperti biasa.
"hyung. Ketika aku sudah di tim perwakilan sekolah, dan bertanding, hyung harus datang menonton ya. Seperti saat aku bertanding kemarin itu" Jungkook tersenyum lebar dan berkata penuh harap kepada Yoongi.
Yoongi hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Dia sangat menyayangi Jungkook, dan berusaha menuruti kemauannya, walaupun harus mengorbankan dirinya sendiri, karena dia yang memang tidak menyukai futsal. Seperti yang dia lakukan beberapa hari lalu, datang ke lapangan sekolah untuk menonton futsal, hanya demi menuruti kemauan adik sepupu kesayangannya ini.
.
"Jungkook? Apa yang diucapkan Taehyung itu benar?"
Jimin berjalan bolak balik di dalam kamarnya, memikirkan ucapan Taehyung kemarin.
"apa Jungkook juga menyukai Yoongi sunbae? Dan mengenai surat, apa Jungkook juga mengirimkan surat kepada Yoongi sunbae?"
Jimin terus bermonolog sambil berpikir, sesekali melirik kertas-kertas kecil yang ada di meja belajarnya. kertas yang selama ini dia gunakan untuk menulis pesan-pesan untuk Yoongi.
KLEK!
Jimin menghentikan langkahnya ketika mendengar pintu kamarnya terbuka –atau lebih tepatnya dibuka seseorang dari luar.
"Hei, Jim. Sudah mandi?"
Ternyata Taehyung yang membuka pintu kamarnya dan langsung masuk begitu saja ke kamar Jimin, tanpa menunggu persetujuan dari Jimin.
"mengagetkanku saja! Kenapa bertanya aku sudah mandi atau belum?" tanya Jimin sambil menyandarkan diri di meja belajarnya, dengan maksud agar Taehyung tidak melihat kertas-kertas yang ada di meja Jimin.
Bukan. Jimin bukan menyembunyikan apa yang dia lakukan selama ini kepada Taehyung. Jimin hanya takut jika Taehyung nanti akan menggodanya habis-habisan dan menganggap Jimin tidak gentle. Tapi Jimin berjanji akan mengaku dan berkata semuanya pada Taehyung, tetapi mungkin tidak sekarang.
"aku ingin mengajakmu ke sekolah" ucap Taehyung santai sambil mendudukan diri di ranjang Jimin.
"ke sekolah? Untuk apa?"
"melihat Jungkook berlatih futsal" Taehyung berkata sambil tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang putih di hadapan Jimin, membuat Jimin menautkan alisnya dan memasang wajah sebal.
"pergilah sendiri. Kan kau yang ingin mendekatinya, kenapa harus bawa aku?" Jimin melipat kedua tangannya di dada.
"ayolah, Jim~ temani aku~" Taehyung berkedip-kedip manja sambil memegang tangan Jimin. Biasanya kalau sudah begini, Jimin tidak bisa menolak permintaan Taehyung.
Kalau kalian berpikir Jimin melakukannya karena terbuai dengan keimutan Taehyung, tentu kalian salah besar. Jimin akan menuruti kemauan Taehyung karena merasa mual jika harus terus menerima perilaku sok imut dari sahabatnya ini.
"hah~ yasudah tunggu di depan. Aku akan mengganti pakaian"
Taehyung langsung berdiri dan memeluk Jimin sambil tertawa riang.
"kalau begitu... aku makan duluan ne. Sudah diajak makan dengan eommamu ketika aku datang tadi. Kau menyusullah kalau kau lapar" ujar Taehyung dengan cepat sambil melangkah keluar kamar Jimin.
Jimin hanya mencibir menanggapi ucapan Taehyung, dan memikirkan eommanya yang sangat menyayangi Taehyung, bahkan mengajak Taehyung makan lebih dulu, sedangkan Jimin tidak ditawari makan sejak pagi.
.
Yoongi berjalan seorang diri entah kemana. Moodnya sedang bagus hari ini entah kenapa. Dan dia sangat ingin keluar untuk berjalan-jalan, tapi dia juga tidak tahu ingin jalan kemana.
Yoongi melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 11.00. dan dia semakin bingung mau pergi kemana. Hoseok sedang tidak berada di rumahnya, dia pergi bersama kedua orangtuanya untuk bertamasya(?), sedangkan Namjoon dan Seokjin juga tidak bisa diajak main hari ini. Namjoon bilang tidak bisa diganggu. Yoongi berpikir mereka sedang berkencan dan Yoongi tidak berniat untuk mengganggu kencan mereka.
Oh, bahkan sahabatnya sudah berkencan satu sama lain.
Kau kapan Yoon(?)
Tiba-tiba Yoongi teringat Jungkook yang sedang berlatih futsal di sekolah. Kenapa tidak mengunjungi Jungkook saja dan menunggunya selesai latihan? Setelah itu bisa pergi berdua dengan Jungkook ke tempat-tempat yang indah(?)
Yoongi memutuskan untuk pergi ke sekolah akhirnya. Sebelumnya dia membeli minuman sebagai temannya dalam perjalanan menuju sekolah.
.
Taehyung tiba di sekolah bersama Jimin. Mendekat ke lapangan dan melihat tim kelas satu sedang diberikan arahan oleh pelatih. Taehyung bisa melihat Jungkook disana, dengan kaus berwarna putih polos yang satu ukuran lebih besar dari tubuhnya, dilengkapi dengan celana training. Taehyung juga bisa melihat bagian dada kaus Jungkook yang sedikit basah terkena keringat, semakin membuat Jungkook terlihat errr- seksi di mata Taehyung.
Jimin mengajak Taehyung menuju tepi lapangan menemui beberapa teman satu tim mereka yang juga ada di sana.
"oh,oh, aku rasa bola matamu akan menggelinding beberapa detik lagi" Jimin mengulurkan tangannya di bawah mata Taehyung ketika menyadari sahabatnya tidak berkedip melihat Jungkook.
"ya! Diamlah" Taehyung menepis tangan Jimin dan kembali melihat Jungkook yang mulai menggiring bola sekarang.
Jungkook memang belum menyadari keberadaan Taehyung di tepi lapangan karena dia terlalu fokus latihan.
.
Yoongi mendekat ke arah lapangan sekolah begitu tiba, dan langsung duduk di podium sambil menunggu Jungkook. Lumayan banyak orang di sana. Yoongi bisa mengenali beberapa wajah yang juga duduk di podium bersama dirinya.
Yoongi melihat ke arah lapangan dan melihat Jungkook sedang bermain disana. Yoongi memilih tidak terus menerus melihat Jungkook dan permainannya, karena Yoongi memang tidak berminat bahkan dia tidak tahu banyak soal futsal. Yoongi memilih untuk memainkan ponselnya sambil memegang kaleng cola yang dia beli sebagai teman di jalan menuju sekolah tadi.
Jungkook menyadari kehadiran Yoongi di tengah permainan, dan matanya melihat Yoongi duduk di podium sedang sibuk dengan ponselnya. Dengan adanya Yoongi disana, Jungkook menjadi lebih semangat dalam berlatih.
Ketika pelatih meniupkan peluit tanda istirahat, Jungkook langsung berlari ke tepi lapangan menuju podium untuk menghampiri Yoongi di sana.
"tumben hyung keluar rumah? Merindukanku ya?" goda Jungkook yang langsung duduk di samping Yoongi tepat.
Yoongi mencibir mendengar ucapan Jungkook, dan menjawab tanpa menoleh ke Jungkook.
"aku hanya bosan dan ingin berjalan-jalan. Lalu aku kesini. Setelah ini temani aku berjalan-jalan ya" ucap Yoongi dengan ekspresinya yang datar, yang hanya dijawab anggukan serta senyuman manis dari Jungkook.
Jungkook melihat kaleng cola yang Yoongi pegang, mengambil kaleng itu dan meminumnya dengan santai. Bahkan saat Yoongi bersiap untuk memarahinya, Jungkook tidak peduli.
"salahmu, hyung! Kenapa tidak membeli untukku juga. Aku kan haus" Jungkook membela diri sambil mengerucutkan bibirnya, dan memberikan kaleng cola yang sudah kosong ke Yoongi.
"aish!" Yoongi melirik sebal ke arah Jungkook, dan kemudian tersenyum lebar sambil mengacak rambut Jungkook bagian depan yang sedikit basah karena keringat dengan sayang.
Tanpa mereka sadari, dua pasang mata melihat ke arah mereka dengan tatapan yang sangat sulit ditebak.
.
"Taehyung sunbae~" nada suara ceria menyapa telinga Taehyung di pagi hari. Membuat Taehyung menghentikan langkahnya yang baru saja akan menaiki anak tangga menuju kelasnya untuk belajar seperti biasa.
Taehyung tersenyum kecil dan berjalan menghampiri Jungkook –yang memanggilnya tadi- yang sedang berdiri tak jauh dari tangga.
"ada apa?" tanya Taehyung setelah mengambil posisi berhadapan dengan Jungkook.
"tidak. Aku hanya menyapa, tidak bolehkah?" Jungkook refleks melebarkan senyumnya setelah bicara, membuat Taehyung benar-benar merasa gemas dengan adik kelasnya –pujaan hati lebih tepatnya- ini.
"boleh saja. Tapi jangan terlalu sering, nanti kekasihmu marah" jawaban Taehyung membuat Jungkook terdiam dan memasang wajah bingung.
"ne?"
Taehyung mengangguk dan masih berusaha mempertahankan senyumnya walaupun dengan terpaksa.
"sudah resmi memiliki kekasih kan?"
Jungkook semakin bingung apa maksud pembicaraan Taehyung.
"jangan terlalu sering menyapaku. Jangan selalu memberikan senyum indahmu kepadaku lagi. jangan seolah memberikan aku kesempatan untuk dekat denganmu. Aku pergi dulu ya" Taehyung memutar tubuhnya dan melanjutkan langkahnya yang tadi tertunda, meninggalkan Jungkook yang masih berdiri terdiam dengan berbagai pikiran di kepalanya.
Jungkook merasakan sesuatu yang sakit di dalam dirinya saat mendengar pernyataan dari Taehyung, orang yang sejak awal menjadi salah satu penyemangat dalam dirinya untuk menjalani hari. Orang yang Jungkook kagumi secara diam-diam. Orang yang membuat dirinya berlatih futsal secara sembunyi sebelum memutuskan untuk bergabung dengan tim futsal di sekolah. Orang yang membuat dirinya rela menunggu kedatangan Taehyung setiap pagi di depan kelas sekedar untuk melihatnya lewat. Orang yang membuat dirinya menahan lapar karena dirinya hanya akan makan ketika sudah melihat Taehyung pergi ke kantin bersama Jimin di waktu yang sangat mepet dengan bel masuk setelah istirahat. Sekarang orang itu memintanya menjauh karena alasan yang bahkan Jungkook tidak ketahui dengan jelas.
Jungkook melangkah dalam diam menaiki anak tangga satu persatu sampai dia tiba di lantai tiga. Wajahnya terus merunduk sampai dia tiba di depan sebuah kelas yang belum ramai.
"Aigo~ adikku yang manis~"
Jungkook mengangkat kepalanya ketika merasakan sebuah tangan menyapa pipi lembutnya.
"ne, Seokjin hyung~" jawab Jungkook lemah.
"masuklah. Yoongi ada di dalam. Aku ke toilet dulu ne" Seokjin kembali mengusap pipi Jungkook sebelum melangkah pergi.
Jungkook mengintip ke dalam kelas untuk melihat apa yang dilakukan Yoongi. Setelah dia melihat Yoongi sedang asik mendengarkan lagu melalui headset yang terpasang di telinganya, Jungkook melangkah masuk sambil tersenyum hormat ke beberapa orang di sana.
Yoongi menyadari kedatangan Jungkook langsung melepas headsetnya dan melihat wajah Jungkook yang tidak besemangat.
"ada apa? Bukankah uang jajanmu sudah aku beri tadi di rumah?"
Jungkook mengerucutkan bibirnya lucu setelah mendengar pertanyaan Yoongi.
"aku datang bukan untuk meminta uang jajan seperti biasanya" jawab Jungkook dengan suara yang lemah.
"lalu?"
Yoongi menarik kursi Namjoon menggunakan kakinya untuk lebih mendekat dengan dirinya, dan menyuruh Jungkook duduk disana.
.
[sunbae, apa aku melakukan kesalahan padamu?]
Taehyung menghela napas panjang setelah membaca pesan yang datang ke ponselnya, ditengah pelajaran.
[kalau memang iya, tolong katakan]
[jangan memintaku untuk melakukan hal-hal yang tidak bisa aku lakukan seperti itu]
Taehyung melirik Jimin yang ada di sampingnya, yang ternyata juga memperhatikan dirinya sejak tadi.
Jimin melihat Taehyung dan ponsel yang ada di tangan Taehyung secara bergantian, dan dibalas dengan tatapan sendu dari sahabatnya. Jimin tahu apa apa yang sedang dilakukan Taehyung dengan ponselnya. Dan itu pasti berkaitan dengan Jungkook –pikir Jimin.
"menjauhlah dariku—" Taehyung mengetik balasan untuk Jungkook, tetapi dia hapus kembali.
"jangan hubungi aku-" Lagi-lagi Taehyung menghapus apa yang sudah dia ketik.
"kau menyukai Yoongi sunbae kan?" Akhirnya Taehyung menekan tanda send untuk membalas pesan Jungkook.
[ne?]
[Yoongi sunbae?]
"tidak usah berpura-pura. Aku tahu kau selama ini menyukai dia kan? Kau mengirim surat kepadanya setiap hari kan? Dan kemarin aku melihatmu dengan dia sangat dekat. Selamat Jungkook ah~"
Taehyung melempar ponselnya dengan pelan ke atas buku tulisnya di meja, dan berusaha mengatur napasnya yang tidak beraturan. Taehyung ingin menangis sekarang. Sungguh.
Jimin kembali menoleh ke arah Taehyung dan melihat betapa kalutnya sahabatnya ini. Jimin hanya bisa melihat sambil menggigit bibir bawahnya, karena diapun merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan Taehyung. Terlebih Jimin melihat senyuman indah dari Yoongi saat Yoongi berdua dengan Jungkook sambil bercanda di podium lapangan kemarin.
.
Seokjin mengajak Yoongi menemaninya ke loker untuk mengambil sesuatu di sana saat jam istirahat.
"kenapa tidak dengan Namjoon saja~?" ucap Yoongi dengan nada malas.
Bagaimana tidak? Yoongi sedang asik memejamkan matanya di meja untuk menghabiskan waktu istirahatnya, tapi tiba-tiba Seokjin menarik tangannya.
Yoongi memang memberontak pada awalnya, tetapi dia akan ikut juga pada akhirnya, jika Seokjin yang meminta.
"sudahlah~ kau juga biasanya senang kan jika ke loker? Pasti ada surat untukmu lagi, Yoongi~"
Yoongi hanya diam dan mengikuti langkah Seokjin yang sekarang sudah masuk ke ruang loker. Dan matanya langsung tertuju ke arah loker miliknya. Tidak ada apa-apa disana. Tidak ada amplop dengan warna yang selalu berbeda setiap harinya.
"eh?! Tidak ada surat, Yoon? Tumben sekali" ujar Seokjin sambil membuka loker miliknya yang tidak jauh dari loker milik Yoongi.
"entah. Mungkin dia sudah bosan" Yoongi hanya menghela napas panjang, tetapi pandangannya tidak terlepas dari loker miliknya.
Entahlah..
Yoongi diam-diam bertanya apa orang itu benar-benar bosan karena tidak pernah mendapat respon dari dirinya? Dan diam-diam juga Yoongi berharap hal itu tidak terjadi.
.
Jimin membuka ponsel Taehyung yang dia pegang untuk melihat percakapan Taehyung dengan Jungkook.
Taehyung sedang tidak di kelas sekarang. Dia diminta oleh guru untuk ikut ke ruang guru, dan memberikan ponselnya pada Jimin.
Jimin kaget membaca percakapan antara sahabatnya dengan Taehyung. Dan Jimin lebih kaget ketika Jungkook kembali mengirim pesan pada Taehyung.
[surat? Surat apa? Aku tidak tahu maksud sunbae]
Jimin mengunci ponsel Taehyung dan meletakkannya di atas meja.
"Jungkook tidak tahu soal surat itu? Lalu?" Jimin memutar kedua bola matanya untuk berpikir apa yang sebenarnya terjadi.
.
Taehyung berjalan menuju kelasnya dengan tidak bersemangat.
"sunbae~ Taehyung sunbae"
Taehyung mendengar panggilan itu, dan dia tahu siapa pemilik suara itu. Tapi Taehyung tidak menghentikan langkahnya, justru semakin mempercepat langkah kakinya menuju kelas.
"sunbae, biar aku jelaskan" Taehyung tersentak dan terdiam saat Jungkook tiba-tiba sudah ada di hadapannya dengan napas yang terengah.
Taehyung terdiam dan melihat arah lain, yang penting tidak melihat Jungkook. Karena dengan melihatnya saja, Taehyung bisa semakin sakit hati.
"aku tidak mengerti maksud ucapanmu, sunbae. Soal surat itu, aku tidak mengerti. Serius. Dan soal Yoongi hyung..." Jungkook bicara dengan cepat dan berhenti untuk mengatur napasnya.
Taehyung masih diam dan memberanikan diri untuk menatap mata Jungkook.
"Yoongi...'hyung'? sudah sejauh itukah? Kau memanggilnya dengan sebutan 'hyung'? dan setelah itu kau seolah memberiku harapan untuk dekat dengan dirimu?" Taehyung bersiap akan melanjutkan langkahnya kalau saja Jungkook tidak berbicara—
"Yoongi hyung itu kakakku. dia yang mengurusku sejak aku bersekolah disini. dan kemarin dia memang datang untuk mendukungku supaya aku bisa masuk ke tim perwakilan sekolah, supaya aku bisa satu tim denganmu"
Taehyung terdiam. Mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Jungkook. Begitu juga Jimin. Yang entah sejak kapan dia berdiri tidak jauh dari Taehyung.
"kakak?" gumam Taehyung sambil bertatapan dengan Jimin yang melangkah mendekat ke arah Taehyung.
"dia kakak sepupuku sebenarnya. Tapi kami sudah seperti saudara kandung kalau sunbae ingin tahu" jelas Jungkook sambil melihat ke arah Jimin juga, yang sekarang sudah bergabung dengan mereka.
"jadi kau tidak berpacaran dengan Yoongi sunbae?" tanya Jimin menyelidik, dan dijawab anggukan polos Jungkook.
"dia kan sudah bilang Yoongi itu kakaknya, kenapa kau masih bertanya juga?" Taehyung menatap sebal kepada Jimin, yang dibalas cengiran lebar di wajah Jimin.
"terimakasih atas penjelasannya, aku pergi duluan ya" Jimin berbicara dengan semangat dan melangkah pergi meninggalkan Taehyung yang masih berdiri berhadapan dengan Jungkook, membuat Jungkook menatap Jimin tidak mengerti.
"dia menyukai kakakmu" bisik Taehyung kepada Jungkook setelah melihat ekspresi bingung Jungkook.
"ne? Jimin sunbae menyukai Yoongi hyung? Serius?"
Taehyung mengangguk sambil tersenyum dengan lega.
"mianhe ne. Aku sudah salah paham"
Jungkook mengangguk sambil menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan senyuman manisnya ketika mendengar ucapan Taehyung dengan nada suara yang lebih rendah dan tenang.
"Jungkook ah, boleh aku mengenalmu lebih jauh?"
Jungkook mengangkat kepalanya dan menatap wajah Taehyung tidak percaya.
Oh Tuhan, Taehyung bisa melihat semburat merah itu di pipi Jungkook.
.
Bel pulang sudah berbunyi beberapa saat yang lalu. Tetapi suasana di kelas Jimin dan Taehyung masih ramai.
"tadi pagi aku melihat wajahmu murung seperti sedang ditagih hutang saat menatap ponselmu. Dan siang ini kau tersenyum-senyum seperti seorang idiot menatap ponselmu" ucap Jimin sambil melangkah mendekat ke arah Taehyung yang sedaritadi sibuk dengan ponselnya sambil tersenyum.
"hei, Jim-"
Taehyung meletakkan ponselnya di meja dan menatap Jimin dengan tatapan serius.
"—kalau begitu yang mengirim surat untuk Yoongi sunbae bukan Jungkook. Lalu siapa?" Taehyung menatap Jimin yang sekarang sudah duduk di sudut meja miliknya.
"aku" jawab Jimin santai sambil tersenyum.
"aish~ bicara apa kau~ aku serius, bodoh" Taehyung mendongak menghadap Jimin.
Jimin membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa amplop beserta kertas kecil.
"Jimin-kau-"
Taehyung beranjak dan mendekat ke arah Jimin, melihat lebih dekat apa yang Jimin pegang, lalu kedua telapak tangannya terulur untuk memegang kedua pipi Jimin, membuat Jimin memajukan bibirnya secara otomatis karena Taehyung menekan kedua pipinya sampai menggembung dan menatap kedua mata Jimin tidak percaya.
"w-wae?" tanya Jimin dengan suara yang tidak jelas.
"bodoh kau, Jimin~ bodoh~ sangat bodoh!" Taehyung menekan pipi Jimin lebih keras karena merasa sangat gemas, sampai membuat Jimin berteriak dan menendang tulang kering Taehyung supaya orang aneh di hadapannya ini menghentikan perlakuan terhadap kedua pipi kesayangan Jimin yang sekarang memerah.
"maaf. Aku tidak bermaksud menyembunyikan darimu, tapi-"
"bodoh kau, Jim! Sekarang temui saja langsung dan dekati langsung. Jangan melalui surat-surat begini. Kau seperti anak sekolah dasar, tahu?"
Jimin memajukan bibirnya lagi setelah mendengar ucapan Taehyung.
.
"temui dan dekati langsung? Kau pikir semudah itu?" Jimin berjalan sendiri di koridor sekolahnya untuk pulang sambil menunduk lesu.
"hoi, Park Jimin"
Jimin menoleh mendengar namanya dipanggil seseorang.
"dimana Taehyung?"
Jimin membulatkan matanya ketika melihat orang yang ada di belakangnya sekarang.
"T-Tae-Taehyung... Taehyung sudah pulang" jawab Jimin tergagap saat matanya bertemu dengan mata indah itu.
"aish! Kalah cepat aku" rutuk orang yang ada di depan Jimin dengan tatapan kesalnya.
"ada apa, sunbae mencari Taehyung?" tanya Jimin takut-takut karena melihat kilatan mata lawan bicaranya yang terlihat kesal.
Siapa lagi kalau bukan Yoongi.
Hening.
"tidak. Ada yang ingin aku katakan saja padanya" jawab Yoongi dengan nada santai dan tatapan kesalnya mulai menghilang entah kenapa.
Jimin hanya mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban.
"Yoongi sunbae bisa katakan padaku kalau mau, nanti biar aku katakan pada Taehyung" tawar Jimin sambil tersenyum kepada Yoongi.
"ah tidak usah. Aku akan melupakan hal itu juga nanti. Sudahlah aku jalan dulu" jawab Yoongi dengan nada santainya dan mulai melangkah mendahului Jimin.
Diam-diam Jimin tersenyum melihat punggung Yoongi yang berjalan beberapa langkah di depannya, dan tanpa menunggu lama, Jimin memberanikan diri untuk ikut melangkahkan kakinya dan mensejajarkan langkahnya dengan Yoongi.
"sunbae, bagaimana ponselmu? Sudah kembali hidup?" Jimin membuka pembicaraan sambil tersenyum hangat, tetapi dengan rasa sedikit takut juga kalau-kalau respon dari Yoongi tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan. Karena dia tahu betul Yoongi seperti apa.
"sudah. Sangat baik sekarang. Yah walaupun aku harus tidak jajan selama dua hari untuk mengganti biaya service-nya"
Jimin terkekeh kecil mendengar jawaban Yoongi karena merasa sangat bahagia mendengar Yoongi berbicara dengan nada yang santai dan kalimat yang diucapkan sangat panjang(?) –menurut Jimin.
"kenapa tertawa?" tanya Yoongi sambil melirik Jimin dan tetap melangkah.
"tidak. Ah sunbae, apa kau lapar? Bagaimana kalau kita makan siang di kantin?"
OH!
Jimin ingin meninju mulutnya sekarang. Kenapa kalimat itu keluar dari mulutnya begitu saja tanpa menunggu otaknya menyaring apa yang harus diucapkan.
Jimin meringis dan menggigit bibir bawahnya, bersiap untuk menerima apa yang akan diberikan oleh Yoongi setelah ini. Entah itu pukulan, tendangan, teriakan, makian, atau-
Sebuah anggukan.
Wait!
Sebuah anggukan.
Ya.
Yoongi mengangguk pelan sambil menghela napas.
"Ayo ke kantin. Kebetulan aku sangat lapar"
Jimin merasa tidak ingin bangun dari tidurnya kalau ini hanya sebuah mimpi. Berjalan beriringan dengan seorang Min Yoongi yang sangat menarik perhatiannya semenjak dia masuk di sekolah ini.
Berjalan sambil mengobrol menuju kantin untuk makan siang, layaknya sepasang kekasih –harapan Jimin.
"oh, sebentar" Yoongi menghentikan langkahnya dan membuat Jimin ikut berhenti melangkah ketika melihat dua orang yang berjalan dari arah berlawanan.
Jimin melihat Taehyung sedang berjalan dan sesekali tertawa bersama Jungkook. Mereka berjalan berdampingan, seperti yang Jimin lakukan bersama Yoongi.
"hyung~" suara ceria Jungkook terdengar bersamaan dengan dirinya dan Taehyung yang berjalan semakin dekat dengan Jimin juga Yoongi.
Taehyun menatap Yoongi dan Jimin bergantian, dan berakhir dengan menatap Jimin tidak percaya.
"sebentar. Aku ada perlu dengan Jungkook"
Yoongi menarik tangan Jungkook dan membawanya menjauh dari Taehyung dan juga Jimin.
"aku tidak salah lihat? Kau dan Yoongi sunbae-"
Taehyung menghentikan ucapannya ketika merasakan wajah Jimin mendekat ke telinganya.
"aku akan makan siang dengannya"
"jinjja?!"
Taehyung membuka mulutnya dan menatap Jimin tidak percaya.
.
Yoongi membawa Jungkook agak jauh dari Taehyung juga Jimin.
"ada apa hyung?" tanya Jungkook bingung.
"sudah baikan dengan Taehyung?" Yoongi menatap lekat mata Jungkook, dan Jungkook tertawa sambil melirik Taehyung diam-diam.
"hanya kesalahpahaman biasa, hyung. Nanti aku ceritakan di rumah" jawab Jungkook sambil tersenyum riang.
"ah iya terserah kau saja. Hei! Kau mau ke toko persimpangan jalan lagi tidak?" Yoongi hampir lupa tujuannya membawa Jungkook kesini.
"toko persimpangan jalan? Memang kenapa? Hyung mau meminta aku membeli amplop dan kertas surat lagi? aku tidak mau" jawab Jungkook enteng sambil melipat kedua tangannya di dada.
"eh? Kenapa tidak mau?" Yoongi memajukan bibirnya kesal karena Jungkook tidak menuruti keinginannya.
"karena saat aku membelinya, readers mengira aku yang mengirim surat untukmu dan mengira aku menyukaimu!"
-TBC-
Ucapan jungkook yg terakhir ga benar-benar keluar dari mulut dia kok, kerjaan authornya aja memang :D
Well, dichap ini banyak taekook ya? Next chap dibanyakin minyoon kok, atau full minyoon?^^
Terimakasih para readers yang sudah setia baca sampai sini kekeke
Jangan lupa review ya~ author tunggu reviewnya^^
