'Tokyo Ghoul' © Sui Ishida

Warning! Baya typo dan karakter yang tidak sesuai dengan aslinya. Selebihnya mohon maaf~


LAST CHAPTER

"Tidak usah kau pikirkan. Yang penting sekarang kita harus memprioritaskan kesembuhan aniki."

'Niisan baik-baik saja! Niisan tidak sakit! Cedera otak? Hah! Dokter itu pasti bercanda! Niisan benar-benar sehat!'

"Sudah cukup, Shiro! Kau jelaskan saja sekarang! Kenapa niisan tidak mengingat semua kejadian di foto itu?"


POV. SHIRO

Sudah dua hari sejak aniki pingsan, dan sekarang dia sudah sadar. Keadaannya? Entahlah. Menurutku, keadaan aniki justru semakin memburuk dari sebelumnya. Kemarin aku bertanya kepada dokter mengenai penyakit aniki. Dan dokter itu bahkan tidak tahu penyakit apa yang sebenarnya dialami aniki. Dia hanya mengatakan bahwa aniki terkena amnesia, dan itu aku sudah tahu sejak tiga tahun yang lalu. Tapi, dokter itu juga mengatakan hal lain.

"Saudara Haise menunjukkan gejala pengidap skizofrenia. Tapi saya tidak bisa memastikan apakah benar atau tidak karena ada beberapa hal yang seharusnya tidak termasuk gejala ini."

Kurang lebih sang dokter berkata seperti itu. Dia bilang itu hanya pendapatnya saja. Aku tahu seperti apa penyakit itu, dan memang aku sudah menduganya juga. Kau ingat saat aku menunjukkan sesuatu pada Kuro di ponselnya? Ya! Aku memberitahukannya tentang penyakit ini. Dan apa kau juga ingat bagaimana reaksi adikku itu? Dia memarahiku. Dia tidak percaya aniki mengidap penyakit ini, begitupun denganku.

"Apakah saudara Haise adalah seorang self injury?"

Aku sangat ingat ketika dokter itu bertanya demikian. Apa karena aniki terlihat melukai dirinya sendiri jadi dokter itu menyimpulkan seperti itu? Aku tahu penyakit tersebut menciptakan keinginan untuk melukai diri sendiri dari si pengidap akibat tekanan emosional yang dirasakannya. Tapi aku berani bertaruh, aku tidak pernah melihat sebuah lukapun pada tubuh aniki! Walaupun aku tidak yakin dengan apa yang ada dibalik kemeja yang selalu digunakan aniki untuk bertugas. Apa menurutmu kemeja dan jas itu menyembunyikan sesuatu? Sebuah luka ditubuhnya yang tidak ingin diketahui baik olehku maupun Kuro? Tidak mungkin! Aniki tidak mungkin menyembunyikan sesuatu dari kami!

Saat pertama kali aku membawa aniki kerumah sakit karena insiden pisau itu, dokter Kanou mengatakan bahwa ada 'sesuatu' yang ikut campur dalam keadaan aniki sekarang. Dokter itu mengatakan bahwa ia tidak bisa menjelaskan karena hal itu diluar ilmu kedokteran. Aneh? Ya! Apa maksudmu aniki tidak terkena penyakit apapun, tapi sesuatu dari 'luar' yang membuatnya begitu? Ini aneh! Apa aniki tidak cukup menderita kehilangan ingatannya? Bahkan sampai takdir harus memberi aniki sesuatu yang lebih berat lagi untuk ia tanggung sendiri? Sungguh. Aku benar-benar ingin mengutuk siapapun atau apapun yang bernama takdir itu!

"Niisan, ayolah... Beberapa sendok saja."

Sekarang aku dan adikku berada di kamar aniki. Kuro masih berusaha membujuknya untuk makan. Sejak sadar delapan jam yang lalu, aniki memang belum memakan apapun. Aku dan Kuro sudah membujuknya dengan segala cara supaya aniki mau makan, tapi tetap saja ia menolak. Kadang hanya dengan diam saja, kadang dengan menggelengkan kepalanya, bahkan dia juga pernah memukul piring yang disodorkan Kuro hingga makanan diatasnya tertumpah di lantai.

"Aniki, kau harus makan. Satu sendok saja tak masalah. Aku mohon..."

Aku berusaha membujuknya untuk makan. Kuambil sendok berisi bubur yang dipegang Kuro lalu aku sodorkan kepadanya. Namun sekali lagi, aniki menangkisnya dengan kasar, membuat bubur itu tumpah diatas kasur biru langitnya. Kulihat Kuro memandang bubur yang tumpah itu dengan tatapan perih. Aku mengalihkan pandanganku pada aniki, dia bahkan tidak menunjukkan ekspresi apapun.

Setelah aku membersihkan bubur yang ditumpahkan aniki tadi, aku mengajak Kuro untuk keluar. Sebelum aku menutup pintu kamar, aku kembali mengamati aniki. Masih seperti tadi, ia duduk diatas ranjang dengan bersender pada kepala tempat tidurnya. Menatap kosong pada pohon-pohon di luar jendela yang ia tanam sendiri. Pohon-pohon yang telah tertutup salju putih. Sedih. Hanya itu yang bisa aku ungkapkan melihat keadaan aniki yang semakin memburuk. Aku menutup pintu itu perlahan dan menyusul Kuro ke dapur.

"Apa menurutmu niisan bisa sembuh?" Kuro yang sedang mencuci tangannya tiba-tiba bertanya hal itu padaku.

"Kau mau jawaban jujur atau bohong?"

Dan seketika itu juga dia menangis. Aku tahu seharusnya aku tidak merespon seperti itu, tapi coba saja kau pikirkan ini. Kau tahu kakakmu sakit dan kemungkinan sembuhnya tidak besar. Lalu seseorang yang sudah tahu datang padamu dan bertanya apakah kakakmu bisa sembuh atau tidak. Dia hanya ingin mengelak dari kenyataan yang sebenarnya. Apa kau akan menenangkan hatinya dengan berbohong atau mengatakan sejujurnya walau itu pahit? Dan itulah yang terjadi padaku dan Kuro. Apa aku harus berbohong agar suasana hatinya lebih baik atau aku harus mengatakan sebenarnya yang justru akan membuatnya semakin bersedih? Kau tahu, kadang seorang kakak memang harus dihadapakan pada pilihan yang sulit, bukan?

Aku memeluknya, berusaha menenangkannya. Dapat kurasakan jantungnya yang kian terpompa cepat menahan tangisan besar yang tak ingin diketahui orang lain. Hanya aku seorang. Hanya aku yang ia izinkan untuk mendengar tangisannya. Aku tahu Kuro sangat menyayangi aniki. Aku tahu Kuro menganggap aniki bukan hanya sebagai seorang kakak saja, bahkan sudah seperti orangtuanya —seperti okaasan! Aku tahu Kuro akan melakukan apapun hanya demi melihat aniki tersenyum. Seperti itulah sosok adik kembarku, dia sama sekali tidak ingin melihatku ataupun aniki bersedih.

"Aku hanya ingin niisan sembuh, itu saja..." ia berucap. Dapat kurasakan air matanya yang mulai membasahi pakaianku. Aku semakin erat memeluknya, membenamkan wajahnya pada leherku, mengelus rambutnya pelan.

"Aku juga ingin aniki sembuh, Kuro. Kata dokter asalkan aniki rajin meminum obatnya, masih ada harapan aniki akan sembuh," kini aku mengusap punggungnya. Cukup lama aku memeluknya hingga adikku ini berhenti menangis.

"Sudah, Kuro. Lebih baik kita ke kamar aniki sekarang, mungkin saja makanan yang kau tinggalkan tadi sudah habis," aku melepaskan pelukanku dan tersenyum.

"Kau benar. Mana mungkin niisan tidak lapar setelah delapan jam tidak makan? Mungkin saat kita ke kamarnya, dia justru akan meminta tambah," Kuro tertawa kecil. Aku kembali tersenyum dan mengajaknya untuk ke kamar aniki.

Terus terang saja, aku merasa bersalah. Bagaimana tidak? Keadaan aniki semakin memburuk seperti ini karena aku meminta Touka ke rumah dan menunjukkan foto-foto itu. Seharusnya aku tahu aniki belum siap mengingat semuanya! Tapi aku sadar, nasi sudah menjadi bubur. Aku tidak bisa mengelak dari kenyataan ini. Dan sekarang disinilah aku, berjalan menuju kamar aniki, berharap keadaannya membaik dan membuatku tidak menyesal. Namun saat kami hendak membuka pintu kamarnya, terdengar suara aneh dari dalam.

("Apa maksudmu, Kaneki?")

Eh? Bukankah itu suara aniki?

"Shiro, itu suara niisan 'kan?" Kuro menahan pergerakan tangannya yang siap menurunkan tuas pintu itu.

"Ya, itu suara aniki," aku menempelkan telingaku pada daun pintu, berusaha mendengarnya lebih jelas lagi.

("Selama itu? Bukankah tidak menyenangkan? Mulai sekarang, kau boleh datang kesini kapanpun kau mau.")

Suara aniki! Sepertinya dia sedang mengobrol dengan seseorang!

"Shiro, apa ada orang yang bersama niisan didalam?"

"Tidak mungkin. Dirumah ini hanya ada kita bertiga. Pagar dan pintu rumah juga telah aku kunci."

"Jadi, niisan bersama siapa didalam?" aku hanya menggeleng tidak tahu.

Kaneki? Siapa dia? Kenapa orang itu bisa berada di kamar aniki? Bagaimana caranya masuk?

"Aku buka?" Kuro menoleh padaku, meminta persetujuan. Aku mengangguk.

KLEK!

"Niisan?"

Kuro masuk terlebih dahulu, aku menyusulnya dari belakang setelah menutup pintu. Aniki memandang kami dengan tajam, seolah tidak menginginkan kehadiran kami. Jujur saja, kami sedikit merasa risih dengan tatapan itu, tapi kami berusaha untuk tidak menghiraukannya. Kami langsung menginterogasi kamar aniki dengan iris kami, tidak ada siapapun. Jadi, siapa yang diajak aniki mengobrol tadi?

"Maaf niisan, tadi kau berbicara dengan siapa?" Kuro membuka suaranya, dan saat itu juga ekspresi aniki berubah.

"Kaneki," dia menjawab singkat sambil tersenyum, namun senyum itu jelas tidak untuk kami. Niisan tersenyum pada tembok di depannya!

"Niisan tersenyum pada siapa?" Kuro bertanya lagi.

"Kaneki," aniki kembali menjawab dengan senyum yang tak pernah lepas dari tembok di depan ranjangnya!

"Niisan?" Kuro mendekati aniki, kepalanya dimiringkan untuk melihat wajahnya. Kuro mengibaskan tangannya di depan aniki begitu dia tidak merespon pertanyaan Kuro.

"Aniki, siapa itu Kaneki?" kini giliranku bertanya. Semakin kesini tingkah aniki semakin aneh.

"Kaneki," ia hanya bergumam sambil tetap tersenyum.

"Kaneki?" aku dan Kuro saling menatap. Aneh. Kenapa setiap kali aniki menyebut nama 'Kaneki', dia pasti akan menghadap tembok di depannya dan tersenyum sendiri? Dengan inisiatif, aku berjalan menuju sisi depan ranjang aniki dan berdiri di hadapannya. Bukannya tersenyum padaku, ia justru memarahiku.

"Apa yang kau lakukan, Shiro! Kenapa kau menabrak Kaneki?! Cepat minta maaf padanya!"

Aku dan Kuro tercengang. Minta maaf padanya? Siapa? Kaneki? Dimana? Aku tidak melihatnya!

"Aku menabrak Kaneki? Dia dimana, aniki?" aku linglung sendiri.

"Kau buta ya, Shiro?! Dia terjatuh dihadapanmu! Bantu dia berdiri dan cepat minta maaf!" aniki justru membentakku. Ini benar-benar tidak masuk akal. Kuro bingung menatap tingkah aniki, sementara aku juga ikut bingung, siapa yang harus aku bantu? Namun tiba-tiba saja aniki turun dari tempat tidurnya, membuat Kuro tersentak dan langsung memegangi kedua lengannya.

"Niisan kenapa? Perlu sesuatu? Biar aku yang ambilkan!" adikku menghentikan pergerakan aniki.

"Niisan mau membantu Kaneki berdiri! Shiro tidak mau menolongnya!" aniki menepis tangan Kuro. Aku yang melihat itu langsung berpura-pura menolong 'sosok' yang dipanggil Kaneki itu berdiri. Aku mengulurkan tangan ke ruang hampa dibawahku, seolah-olah sedang menunggu sambutan tangan 'sosok' tak kasat mata untuk kubantu berdiri.

"Sekarang minta maaf padanya," aniki kembali duduk diatas ranjang seperti sebelumnya. Aku kembali bingung. Sepertinya aktingku tadi benar-benar bagus. Atau aku sebenarnya memang membantu 'sosok' itu berdiri secara tidak sadar? Mendadak aku merinding dengan prasangka tadi. Namun aku segera menepis pikiran itu dan langsung membungkukkan badan yang sebenarnya aku sendiri tidak tahu apakah itu arah yang benar atau tidak.

"Maafkan aku, Kaneki-san."

Kutunggu beberapa lama lalu kembali menegakkan badanku. Kulihat Kuro yang menatapku aneh dan aniki yang kembali tersenyum. Namun sedetik kemudian senyum itu sirna.

"Kau mau pergi sekarang?" tiba-tiba aniki berbicara sendiri.

"Pergi?" Kuro menatap aniki.

"Baiklah. Tapi kembalilah besok, aku menunggumu."

Tunggu! Jangan katakan 'sosok' Kaneki itu benar-benar ada disini dan sekarang dia akan pergi! Oke, ini mulai tidak masuk akal. Apa aniki sedang berhalusinasi? Tolong sekali lagi jangan katakan aniki sudah gila! Atau jangan-jangan sebenarnya aku yang sudah gila? Tunggu, pernyataan yang terakhir itu tidak mungkin. Jadi sebenarnya, siapa itu Kaneki?

.

POV. KURO

Aku berjalan mendekati Shiro yang masih duduk disamping ranjang niisan. Saat kami masuk ke kamarnya tadi, piring berisi bubur yang kutinggalkan disana sudah habis, mungkin niisan memakannya sambil berbincang dengan Kaneki-nya sebelum 'sosok' itu pergi. Shiro yang melihat itu langsung meminta niisan untuk meminum obatnya. Awalnya niisan menolak, namun akhirnya ia meminumnya. Dan beginilah efek obat itu, membuat niisan mengantuk dan tertidur.

Jujur saja, aku cukup takut saat mendengar niisan berbicara sendiri seperti tadi. Bukankah itu terlihat seperti seorang yang sedang mengalami halusinasi visual? Ah, tidak! Bukan hanya visual! Tapi audiovisual! Niisan mendengar seseorang yang berbicara dengannya juga bukan? Mengapa niisan menunjukkan gejala seorang pengidap skizofrenia? Oh, ayolah! Niisan tidak gila! Tapi apa kau dengar siapa yang disebut niisan tadi? Kaneki? Terdengar seperti nama seseorang. Dan rasanya... nama itu tidak asing. Aku yakin pernah mendengar seseorang menyebut nama itu. Tapi siapa ya?

15 detik...

30 detik...

45 det—Oh, aku ingat! Nishiki-nii! Waktu itu Nishiki-nii pernah mengobrol tentang orang yang bernama Kaneki itu bersama obasan! Ya, aku ingat sekali! Aku harus memberi tahu Shiro tentang hal ini!

"Shiro, ada yang ingin aku bicarakan," aku menepuk pundaknya pelan.

"Katakan saja disini," dia menjawab.

"Tidak. Aku ingin kita membicarakan ini diluar," aku sedikit memaksanya. Dia menoleh padaku. Dan mungkin karena aku terlihat serius, akhirnya dia mengangguk lalu berjalan keluar setelah mengecup kening niisan. Aku pun melakukan hal yang sama sepertinya.

"Apa?" dia langsung bertanya begitu kami duduk di ruang tengah.

"Kau tahu siapa itu Kaneki?"

"Tidak. Kau?"

"Tidak juga," aku menjawab dan saat itu juga Shiro memutar kedua bola matanya, mungkin dia mengira aku tahu siapa itu Kaneki.

"Tunggu Shiro. Apa kau ingat kalau Nishiki-nii dan obasan pernah mengobrol tentang orang yang bernama Kaneki?" aku menjelaskan, menghentikannya yang telah bangkit dan siap kembali ke kamar niisan. Shiro tampak mengernyitkan alisnya.

"Kapan? Aku tidak ingat," dia menjawab singkat.

"Saat kita berencana memberi niisan kejutan di ulang tahunnya yang ke-17. Kau ingat?" Shiro nampak mengingat sesuatu untuk beberapa lama.

"Oh, aku ingat. Kau benar, waktu itu Nishiki-nii dan obasan membicarakan seseorang bernama Kaneki. Mungkin mereka orang yang sama. Bagaimana kalau kita tanyakan saja pada Nishiki-nii?" Shiro berucap semangat, tidak seperti biasanya yang tampak dingin.

"Aku juga memikirkan hal itu. Jadi, apa kita akan menelpon Nishiki-nii sekarang?" aku meminta pendapat Shiro.

"Ya. Tapi sebelumnya aku harus memperingatkanmu," dia berucap serius, membuatku bertanya dalam hati.

"Jangan berharap terlalu banyak dengan jawaban Nishiki-nii tentang Kaneki itu. Kau tahu 'kan penyakit aniki membuat penderitanya mengalami halusinasi, termasuk halusinasi visual? Mungkin saja itu hanya ilusi yang diciptakan aniki. Biarkan aku yang menelpon Nishiki-nii. Kalau kau yang menelpon, aku yakin kau akan membuat Nishiki-nii khawatir. Kau tahu 'kan Nishiki-nii sangat menyayangi aniki?"

Aku mengangguk, cukup terkejut juga dengan kalimatnya yang panjang. Biasanya Shiro selalu berbicara seadanya, sesingkat dan seminimalis mungkin. Shiro yang melihat itu lantas mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, berniat menelpon Nishiki-nii sekarang. Shiro mencari nama Nishik-nii lalu menelponnya dan tak berapa lama kemudian, hubungan telpon itu tersambung. Shiro segera mengetuk kotak bertuliskan 'loudspeaker' pada ponselnya, bermaksud agar aku juga ikut mendengarnya.

("Moshi moshi. Konnichiwa, Shiro. Bagaimana kabarmu? Tumben sekali kau menelpon Nishiki-nii.")

"Konnichiwa, Nishiki-nii. Kabarku baik. Bagaimana dengan Nishiki-nii?"

("Nishiki-nii juga baik. Jadi ada apa, Shiro? Jarang sekali kau menelponku, biasanya 'kan Haise. Apa kalian sedang bertengkar? Lalu bagaimana dengan Kuro? Dia memilih ikut bersamamu atau Haise? Ahaha...")

"Berhentilah bercanda, Nishiki-nii."

("Ahaha... Gomen gomen, tadi Nishiki-nii hanya iseng saja. Jadi ada apa?")

"Aku ingin bertanya sesuatu."

("Bertanya? Oke oke, silahkan. Kau mau bertanya apa?")

"Siapa Kaneki?"

("Eh?")

"Siapa Kaneki?"

("...")

"Nishiki-nii?"

("...")

"Nishiki-nii, kau dengar?"

("...")

"NISHIKI-NII, INI SHIRO! APA KAU BISA MENDENGARKU?"

("Ah iya, Shiro! Maaf! Bisa kau ulangi? Nishiki-nii tidak mendengarnya.")

"Siapa itu Kaneki?"

("Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?")

"Jawab saja, Nishiki-nii!"

("Siapa yang memberitahumu tentang Kaneki?")

"..."

("Apa okaasan yang memberitahumu?")

"Obasan tidak mengatakan apapun tentang Kaneki. Aku mengetahuinya sendiri."

("KAU BOHONG! CEPAT KATAKAN SIAPA YANG MEMBERITAHUMU?!")

"Sebenarnya siapa itu Kaneki? Kenapa Nishiki-nii justru berteriak? Aku 'kan hanya bertanya."

("Maaf Shiro, Nishiki-nii kelepasan.")

"Tidak apa-apa. Jadi, siapa itu Kaneki?"

("Maaf Shiro, Nishiki-nii ada urusan mendadak. Lain kali saja ya, sampai jumpa.")

"TUNGGU NISHIKI-NII! JAWAB AKU DU—"

PIP PIP PIP...!

"Dimatikan ya?"

"Ya."

"Sepertinya ada yang disembunyikan Nishiki-nii."

"Mungkin."

Aku menatap Shiro yang masih terpaku dengan layar ponselnya. Sorot matanya jelas menunjukkan kekecewaan. Tentu saja kecewa! Kau menelpon seseorang untuk menanyakan sesuatu. Bukannya mendapatkan jawaban, kau justru dihindari oleh orang yang bersangkutan. Apa tidak aneh?

"Apa kita tanya obasan saja?" aku bertanya pada Shiro, mencoba memberi alternatif lain untuk mendapatkan informasi tentang 'sosok' Kaneki.

"Jangan!" tiba-tiba saja dia berbalik menatapku tajam.

"Kenapa?"

"Nishiki-nii saja tidak mau memberitahu kita, bagaimana obasan?"

"Tapi 'kan kita belum mencobanya," aku berusaha meyakinkan Shiro.

"Kalau kau bertanya pada obasan, dia justru akan mencurigai Nishiki-nii. Kau dengar sendiri 'kan tadi Nishiki-nii mencurigai obasan?"

Ya. Kalau dipikir-pikir, apa yang dikatakan Shiro itu benar. Jadi, siapa itu Kaneki? Kenapa niisan sepertinya menyukai kehadiran 'sosok' itu? Dan kenapa aku dan Shiro tidak bisa melihatnya?

Mengingat keterkejutan Nishiki-nii mendengar Shiro yang bertanya tentang 'sosok' Kaneki tadi, aku bisa menyimpulkan bahwa itu bukanlah halusinasi niisan. Itu pasti murni benar-benar ada! Kaneki bukanlah khayalan niisan, tapi lebih kepada 'sosok' tak kasat mata yang mungkin saja sungguh ada pada saat itu, dan memang hanya niisan yang bisa melihatnya. Sekarang pertanyaannya adalah, siapa sebenarnya Kaneki? Apa hubungannya dengan niisan sampai Nishiki-nii tidak mau membicarakannya?

.

POV. NORMAL

Seminggu telah berlalu. Kondisi Haise bisa dikatakan semakin memburuk. Ia menjadi pribadi yang pendiam namun cenderung agresif, sering gelisah tanpa sebab, berbicara sendiri dengan 'sosok' Kaneki-nya, bahkan suka berhalusinasi ada orang yang memanggil-manggil namanya di waktu malam, membuatnya harus berteriak ketakutan sembari menjambak surainya.

Kedua adik pemuda ini semakin khawatir dengan sikap si sulung. Mereka tak henti-hentinya merawat sang kakak dengan telaten. Menyuapi makan, membersihkan tubuhnya, mengambil apapun yang diperlukan sang kakak dan sebagainya. Kondisi Haise memang tidak seperti dulu lagi yang sangat sering berteriak atau melukai diri sendiri. Tapi tetap saja sifat diamnya membuat suasana rumah menjadi sepi dan aneh. Bagaimana tidak, kehilangan sosok kakak yang ceria dan selalu bertingkah layaknya anak kecil tentu membuat kedua adiknya mengalami sedikit kekosongan dalam diri mereka.

"Niisan, sekarang waktunya makan."

Kuro berjalan memasuki kamar sang kakak dengan nampan berisi sepiring nasi beserta lauknya, tak lupa segelas air putih disampingnya. Haise menatap sengit sang adik yang mendekatinya, membuat si surai hitam itu sedikit bergidik ngeri dengan tatapan yang didapatnya.

"Ada apa, niisan?"

Kuro meletakkan nampan itu di meja kecil samping ranjang dan berjalan mendekati sang kakak. Begitu ia sampai disisi tempat tidur tersebut, dengan tidak terduga, Haise bangkit dari kasurnya dan langsung menerjang Kuro hingga membuat pemuda itu terjungkal ke belakang!

"HWAAAAAAAA...! NIISAN...! ADA APA...?!"

Kuro mendarat mulus di lantai dengan Haise berada di atasnya, menindihnya. Kuro yang panik dengan sikap tak terduga sang kakak lantas mencoba bangkit, namun kedua tangannya justru ditahan oleh pemuda bersurai abu-abu itu di atas kepalanya. Ia mencoba menggerakkan kakinya, menendang ke segala arah. Namun naas, dia hanya menendang angin yang tak terlihat. Pergerakannya sia-sia. Melihat kondisi yang tak mungkin baginya untuk bangkit, Kuro menegak ludahnya.

"Niisan... kau kenapa?" suaranya terdengar gemetar.

Hening.

"Niisan... bisa kau berdiri? Tubuhmu berat..." Kuro berusaha tersenyum walau merasa perih di perutnya karena diduduki sang kakak. Ia menatap pemuda diatasnya, nampak iris asap yang sama dengannya itu berkilat marah.

"APA KAU YANG MENGUSIR KANEKI?!"

Haise berteriak kejam, Kuro terlonjak diam. Ia tak menyangka apa yang baru saja keluar dari mulut kakaknya. Mengusir Kaneki? Ia bahkan baru saja tiba di kamar ini. Lagipula bagaimana mengusirnya kalau 'sosok' itu saja bahkan tidak mampu dilihatnya?

"JAWAB! APA KAU YANG MENGUSIR KANEKI?!"

Kali ini Haise menarik ujung leher baju adiknya, menepis jarak antara kedua wajah mereka. Tentu saja dari jarak yang sedemikian dekat ini Kuro dapat melihat dengan jelas setiap inci bagian dari wajah kakak tersayangnya. Namun bukan itu yang menjadi perhatian Kuro, ia justru sedang ketakutan tak kala wajah tampan sang kakak menunjukkan mimik kemarahan yang tidak pernah dilihatnya!

"A—aku tidak mengusir Kaneki-san," Kuro menjawab tergagap.

"KAU BOHONG?!" Haise semakin geram. Ditariknya ujung leher baju itu lebih tinggi, membuat sang adik mengerang kesakitan.

"A—aku tidak berbohong. A—aku tidak akan berbohong pa—pada niisan. To—tolong lepaskan a—aku, aku ti—tidak bisa berna—fas."

Kuro menjawab sembari menahan sakit pada perut dan tenggorokkannya. Haise sendiri tidak bergeming. Ia justru terlihat senang melihat penderitaan adiknya. Ia tersenyum. Haise tersenyum melihat Kuro yang semakin kesulitan bernafas!

'Tolong Shiro! Tolong aku! Niisan aneh! Aku mohon, cepatlah pulang Shiro!'

Dan mungkin inilah yang disebut dengan telepati sepasang kembar, Shiro secara mendadak muncul di ambang pintu. Ia menatap sang kakak dengan pandangan tidak percaya sementara Haise balik memandangnya dengan seringai kejam menghiasi bibirnya, sukses membuat si surai putih yang terkenal dengan sifat dinginnya itu merasa takut.

"Kau sudah pulang dari rumah temanmu itu, hmm?" Haise tersenyum miring.

"Oh, aku ingin bertanya padamu. Apakah kau yang mengusir Kaneki? Yang melarangnya untuk berkunjung kesini?"

Masih dengan seringai kejamnya, Haise bangkit dari atas tubuh si bungsu yang tengah terbatuk-batuk mencari oksigen untuk mengisi paru-parunya, berjalan mendekati Shiro yang masih berdiri di depan pintu.

'Dia bukan aniki!'

"ANIKI! APA YANG KAU LAKUKAN PADA KURO?!" si surai putih berteriak.

'Dia bukan aniki!'

"Daripada itu, lebih baik kau menjawab pertanyaanku tadi. Apa kau yang mengusir Kaneki, hmm?" pemuda itu semakin mendekati Shiro, seringainya bahkan bertambah lebar dari sebelumnya!

'Dia bukan aniki!'

"ADA APA DENGANMU, ANIKI?! KURO ITU ADIKMU! KENAPA KAU MENYIKSANYA?!"

Shiro menatap Haise berang. Tak peduli pemuda di depannya ini lebih tua darinya dan harus ia hormati. Yang Shiro ketahui hanyalah satu, 'Itu bukan kakaknya!'. Dan begitu Haise hanya berjarak sekitar satu meter dari tempatnya berdiri, Shiro langsung maju untuk meninju sang kakak. Tangan kanannya terkepal kuat siap menghajar wajah pemuda itu. Dan ketika tangannya tinggal berjarak beberapa sentimeter...

GRAP!

"Eh?!"

"Kau harus berlajar sopan santun, Shiro. Jangan pernah melawan kakakmu."

Haise menahan tinju Shiro yang kuat hanya dengan satu tangan! Kemudian dengan cepat ia memutar tangan adiknya itu kebelakang lehernya sendiri, mengunci tangan itu agar tidak melakukan perlawanan.

"Aku tidak menyiksanya. Ini baru yang disebut dengan menyiksa."

BUAGH!

Shiro tersungkur di lantai. Haise baru saja melayangkan bogem mentahnya tepat pada ulu hati sang adik! Shiro mengeluarkan darah segar dari mulutnya, sukses membuat Kuro yang melihat itu dari jauh berteriak histeris.

"SHIROOOOO...!"

Kuro yang berusaha merayap menuju sang kembar berteriak keras ketika surai hitamnya dengan kasar ditarik oleh Haise yang selanjutnya menyeretnya menuju tempat si surai putih. Dan sama seperti sebelumnya, Haise juga menarik rambut sang adik dengan kasar.

"Sekarang kalian berdua akan mendapat hukuman karena melarang tamu niisan berkunjung ke rumah."

Haise kembali dengan seringainya. Ia berjalan keluar dari kamar sambil menyeret dua adik kembarnya, Kuro di sebelah kanan dan Shiro di kirinya. Keduanya mengaduh kesakitan saat rambut mereka tertarik dengan paksa yang justru hanya dibalas dengan tawa menggelegar oleh si sulung. Keduanya dibawa menuju gudang di belakang rumah. Setelah sampai, Haise dengan tidak sopannya langsung mendorong kedua adik kembarnya masuk ke dalam ruang gelap itu.

"Diamlah disini dan belajarlah sesuatu."

Dan Haise-pun meninggalkan mereka, menutup pintu gudang dan menguncinya dari luar. Tak peduli dengan Kuro yang berteriak atau Shiro yang memukul pintu, seakan-akan Haise sengaja membuat telinganya tuli dan tersenyum miring meninggalkan ruangan itu.

To be continue...


Author no comment-lah untuk chapter ini *tepar mengenaskan setelah bingung mau ngelanjutin kayak gimana*

Silahkan bagi yang kurang paham untuk bertanya dan maaf kalau updatenya lama, media penyalur fic ini (baca:laptop) lagi rusak jadi perlu waktu untuk diperbaiki *padahal biasanya juga lama banget updatenya* :v

Akhir kata, bagi yang berkenan bolehlah meninggalkan jejak di fic ini. Arigatou~