Let's Play The Game 2
Story by. Hitomi Shoyou

Naruto
Disclamier : Masashi Kisimoto

Genre : Crime, Humor, dan sedikit Romance (readers: mana?)

Warning: Typo, OOC, YAOI (biar aman), dan EYD buruk (untuk sekarang itu dulu deh. Hehe~)


Naruto terdiam menyaksikan acara televisi. Tapi sepertinya pikirannya entah kemana. Sakura baru kembali dari ruang perpustakaan membawa sebuah map file bersama Hinata, melewati Naruto yang berbaring di sofa.

"Kau tidak kuliah Naruto?" tanya kakak iparnya itu.

"…." Naruto hanya diam dan tidak ada ekspresi berubah dari sebelumnya.

Sakura memandang Sasori yang hanya mendapat respon mengangkat kedua bahunya dari Sasori. Itachi yang melihatnya kembali ingat kejadian tadi malam sambil mengaruk belakang kepalanya.

"Apa dia masih marah padaku ya?" gumam Itachi yang sedang berdiri di belakang Kyuubi.

Kyuubi yan pendengarannya cukup tajam menolehkan kepalanya kebelakang dan menghentikan aktivitasnya mengetik.

"Kau tahu, membuat kesalahan kecil terhadapnya ku lempar kau ke neraka," kata Kyuubi penuh penekanan.

"Hanya kesalahan kecil," kata Itachi sambil melambaikan kedua tangannya di dada.
'Mungkin,' lanjutnya dalam hati. Mengingat dia kemarin lupa dengan Naruto dan meninggalkan anak itu di pesta tadi malam.

"Heh, bodoh," panggil Kyuubi pada Naruto.

"…" Naruto tetap tidak merespon.

"Menurutku dia sedang ada masalah cinta," kata Shikamaru yang mendapat pandangan 'Tidak mungkin,' dari Itachi dan Kyuubi.

"Hey itu kan hanya pendapat, mendokusai," Shikamaru kembali membaca laporan-laporan.

"Naruto," kali ini Kyuubi memanggil adiknya dengan nama yang benar. Dan sudah menghampiri adiknya.
'Cih, melamunkan apa anak ini?' batin Kyuubi melihat Naruto ternyata melamun sambil memandang televisi jadi seakan-akan dia sedang menonton televisi.

"NARUTO ADA DISKON RAMEN BESAR-BESARAN!" teriak Kyuubi di dekat telingga Naruto.

Naruto POV

Orang itu… aku seakan tidak asing lagi jika melihat mata orang itu... Apa aku pernah mengenalnya? Haahhh... Entahlah. Ck, kenapa aku memikirkan si pantat ayam itu sih!

Dari sikapnya sepertinya dia arogan dan tidak pedulian, tapi kenapa repot-repot menolongku ya? Hahaha…
Ah lama-lama aku tertular sifat narsisnya Itachi-nii. Ngomong-ngomong soal itu, si pantat ayam itu sekilas mirip sekali dengan Itachi. Kebetulankah?

"NARUTO ADA DISKON RAMEN BESAR-BESARAN!".

Normal POV

"GYAAA!" Naruto berteriak karena kaget. Tidak menyadari sejak kapan kakaknya sudah berdiri di sampingnya.
"Eh? Tadi kau bilang apa? Diskon?! DISKON RAMEN?!" kata Naruto antusias sambil merenggut kerah baju Kyuubi.

"Aku tidak boleh kehabisan!"

BRUAK BLAM

Saking antusiasnya Naruto langsung mendorong Kyuubi tanpa sadar yang dia keluarkan kekuatan yang diluar kebiasaannya dan langsung berlari keluar. Semua orang di ruangan itu hanya sweatdrop tidak berniat pun menolong Kyuubi yang terlihat pingsan karena kepalanya terbentur dinding.

.

.

.

Itachi mondar mandir menunggu Kyuubi yang masih pingsan.

"Hanya terbentur saja lama sekali sih sadarnya," gerutu Itachi bosan juga tidak ada teman ngobrol karena yang lain sedang makan siang di luar.

"Haahhh... seperti putri salju yang menanti pangerannya datang...saja."
"!" sebuah ide gila terlintas di otak Itachi. Membuat Itachi mengeluarkan seringgainya.

"Ya memang hanya sang pangeran yang bisa membangunkan sang putri," kata Itachi menyeringgai. Dia kemudian melepas ikatan pada rambutnya sehingga rambutnya tergerai semakin membuatnya tampan (nambah 2%) kekeke...

Itachi mulai membungkuk mensejajarkan wajahnya dengan Kyuubi yang masih belum sadarkan diri. Wajahnya semakin dekat dengan wajah Kyuubi.

"Aku akan membangunkanmu putriku," ucap Itachi dengan ekspresi wibawa seperti pangeran.

Beberapa centi lagi Itachi bisa merasakan bibir yang selalu mengatainya keriput itu.

"Mati kau Uchiha..."

DUAK!

"Aaawwww!" Itachi membungkuk kesakitan.

"Tch, beraninya menyerang orang yang tidak sadarkan diri," Kyuubi mendudukkan dirinya di sofa setelah menonjok Itachi dengan cukup keras.

"Sakit tahu!" kata Itachi cemberut sambil mengusap-usap pipinya.

"Kemana semua orang?" tanya Kyuubi mengiraukan keluhan Itachi.

"Mereka sedang makan siang di luar," kata Itachi.

Itachi menyalakan televisi sambil memakan ramen instantnya setelah memberi ramen instant pada Kyuubi. Mereka sama-sama melihat televisi.

"Dalam acara pembukaan rumah sakit di wilayah Oto sang pendiri sekaligus pemilik rumah sakit ingin menyampaikan rasa senang dan terima kasihnya pada semua pihak. Kami persilahkan Presdir Orochimaru,"

Itachi yang tadi sedang meniup ramennya langsung mendongakkan kepalanya. Wajahnya mengeras tanpa Kyuubi sadari, ekspresinya juga mendadak serius.

"Terima kasih Kabuto. Saya selaku Presiden Direktur Maro. Corp mengucapkan terima kasih pada semua pihak. Kami pasti akan melakukan yang terbaik dan bla bla bla…"

"Dia itu orang jahat," celetuk Kyuubi sambil kembali memakan ramennya.

Itachi menoleh ke samping kiri melihat Kyuubi, "Kenapa kau berpikir begitu?" tanyanya.

Kyuubi mengangkat kedua bahunya, "Entahlah… hanya saja aku merasa begitu," jawabnya.

'Dia memang orang jahat Kyuu jika kau tahu itu…' batin Itachi.

"Hoy keriput!" panggil Kyuubi. Itachi agak tersentak karena kaget.

"Ha?"

"Saat kejadian rumah sakit itu, tepatnya saat sebelum aku pingsan sepenuhnya apa ada hal lain yang terjadi padaku?" tanya Kyuubi.

"Tidak ada," jawab Itachi. Dia harus tetap menyembunyikan hal penyebab sakit kepala Kyuubi dari Kyuubi sendiri.
"Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?" kata Itachi kembali memakan ramennya seolah-olah topik yang mereka bicarakan tidak penting.

"Entahlah, hanya saja akhir-akhir ini kepalaku sakit sekali. Sial, merepotkan saja," kata Kyuubi.

Itachi menghentikan makannya, "Jangan-jangan kau…"

Itachi mengantungkan kalimatnya sengaja membuat Kyuubi penasaran.

"Aku kenapa?" tanya Kyuubi terkena jebakan Itachi.

"Terkena…" Itachi mendekatkan kepalanya ke Kyuubi dengan wajah seserius mungkin.
"Terkena serangan kepala karena terlalu banyak memikirkanku,"

BUAGH

"Mati kau Uchiha…mati kau Uchiha…" kata Kyuubi berulang kali seperti merapalkan sebuah mantra dengan aura hitam menguar dari tubuhnya.

Itachi? Jangan tanya. Dia sudah sekarat karena tinju Kyuubi.

.

.

.

Naruto terlihat menghentak-hentakkan kakinya. Saat ini dia sedang kesal.

"Apa-apan Kyuubi itu. Dasar tukang bohong," gerutu Naruto sepanjang jalan.

"Awas kau Kyuubi!"

DUK CLONTANG DUK

Kaleng softdrink yang Naruto tendang mengenai punggung seseorang.

'Gawat!' batin Naruto.

Orang yang terkena imbas kemarahan Naruto masih diam membelakangi Naruto.

"Ma-maaf! Sekali lagi aku minta maaf," kata Naruto membungkuk berulang kali. Orang itu membalikkan badannya melihat siapa penendang kaleng itu.

"Dasar Dobe," ucap orang itu.

CTAK

"Apa kau bilang-" belum selesai Naruto menyelesaikan kata-katanya karena melihat wajah orang itu.
'Orang yang tadi malam,' batin Naruto.

Orang itu hanya mendengus saat Naruto diam lalu pergi.

"Tunggu pantat ayam," panggil Naruto seenaknya. Dia mengejar pemuda raven itu. Tapi tidak di pedulikan pemuda itu.

"Kita pernah bertemu sebelumnya tidak?" tanya Naruto.
'Selain di pesta tadi malam maksudku,' batin Naruto. Dia masih sambil menyamakan langkahnya dengan pemuda raven itu.

"Tidak," jawabnya dingin.

"Kau yakin?" tanya Naruto lagi.

"Ya,"

"Bisa kau katakan kata lebih dari satu kata?" Naruto mulai jengkel dengan orang yang super stoic dan irit bicara itu.

"Tidak,"

"Ck, teme,"

Pemuda itu tidak merespon dan terus berjalan dan Naruto terus bertanya mengenai apakah mereka pernah bertemu sebelumnya tanpa bosan.

"Jangan menguntitku terus Dobe," kata pemuda itu.

"Aku tidak menguntit Teme. Aku hanya bertanya- Hey!" protes Naruto karena pemuda itu berhenti mendadak, hampir saja dia menabrak tubuh pemuda itu.

Pemuda itu berhenti tidak jauh dari sebuah toko, matanya agak menyipit melihat sebuah pantulan dari kaca toko. Lalu dia menoleh, berikutnya dia berlari bersamaan dengan tembakan pistol yang membabi buta. Naruto terkejut karena tiba-tiba pemuda itu menyeretnya dengan menarik jaket orangenya dan juga suara tembakan.

"Siapa mereka? Kenapa mereka mengejarmu? Dan kenapa kau menyeretku TEME?!" kata Naruto kesal.

"Refleks saja menarikmu. Kau mau aku melepaskanmu? Kurasa mereka sudah mengira kau ini temanku mungkin mereka akan menembakmu juga," jawab pemuda itu enteng.

'Kalimat terpanjangnya!' batin Naruto takjub, tapi sekarang bukan waktunya takjub hanya karena pemuda itu berbicara lebih dari 5-7 kata.

DOR DOR DOR

Tembakan semakin menjadi dan jalanan yang mereka lalui memang daerah sepi.

"Sebenarnya kau terlibat apa sih dengan mereka?" tanya Naruto yang terkenal cerewet kini mulai bertanya.

"Tidak ada. Mungkin mereka marah karena gadisnya menyukaiku," jawab pemuda itu santai padahal kalimatnya 100% bohong.

'Cinta memang kejam…' batin Naruto menelan bulat-bulat kebohongan pemuda raven itu.

Mereka berdua terus lari menghindari tembakan demi tembakan dari beberapa orang yang mengejar mereka. Mereka berbelok ke kanan dan…

"Ck," pemuda itu berdecak karena mendapat jalan buntu.

"Kau membawa kita ke gerbang kematian teme," kata Naruto.

"Aku tidak tahu jika jalannya buntu," kata pemuda itu mau berbalik arah tapi terlambat orang-orang itu terdengar sudah mulai mendekat.

"Kau tidak mau terlibat kan?" tanya pemuda itu tiba-tiba.

"Tentu saja. Memang siapa tadi yang menyeretku hah?!" kata Naruto kesal.

SYUU

Pemuda itu melompat dan berada di atas dinding.

"Saat mereka datang bilang saja kau bukan temanku," kata pemuda itu.

"O-Oy! Apa maksudmu! Turun kau!" kata Naruto.

'Sial sekali nasibku, sudah di bohongi Kyuubi. Bertemu dengan si pantat ayam yang menyebalkan yang tiba-tiba di kejar orang dan aku terlibat. Sudah sampai sini si pantat ayam itu berniat kabur? Jangan bercanda.' Batin Naruto kesal.

KLOTAK

"Kutinggalkan itu untukmu siapa tahu butuh," kata pemuda itu melemparkan pistol miliknya di dekat kaki Naruto.

"Teme turun kau!"

Menghiraukan ucapan Naruto pemuda itu pergi begitu saja di balik dinding.

"Kuso!"

DRAP DRAP DRAP

Langkah kaki orang-orang itu semakin terdengar. Naruto mengambil pistol itu dan menyembunyikannya di balik punggung.

Orang-orang itu akhirnya datang, sekitar 3 orang bertubuh besar.

"Kemana dia? Kenapa hanya temannya saja?" kata salah satu dari mereka.

"Dia pasti kabur. Kasian sekali kau di tinggalkan temanmu itu. hahaha…" ucap pria satu lagi.

'Memang teme menyebalkan!' batin Naruto dongkol.

"Hey kemana temanmu itu?" tanya pria ke tiga.

"Dia bukan temanku," kata Naruto.

"Heh? Sekarang kau sudah terkepung masih mau bilang dia bukan temanmu? Hahaha," orang itu tertawa.

"Aku bilang yang sebenarnya, dasar orang bodoh. Lagipula teme itu kabur," kata Naruto lagi.

"Teman yang setia ya. Berbohong demi menyembunyikan temannya,"

'Dasar bodoh, siapa yang menyembunyikannya, aku berkata jujur bodoh.' batin Naruto.

"Buat dia sekarat dan kita akan tahu kemana dia pergi," perintah salah satunya.

Dan ketiga orang itu bersiap menembak Naruto.

SET DOR DOR DOR

KLOTAK KLOTAK KLOTAK

"Fuuhh…" Naruto meniup moncong pistol yang di tangannya mengikuti gaya-gaya ala cowboy yang dia lihat minggu lalu bersama Lee.

Ketiga pria itu terkejut dengan kecepatan menembak yang Naruto lakukan. Tanpa meleset dan tepat ketiga tembakan itu berhasil melemparkan pistol mereka bertiga yang sekarang tergeletak di tanah agak jauh dari mereka.

Naruto mengacungkan pistol itu kearah orang-orang di depannya. Berniat menembak meleset beberapa centi dari kepala mereka jadi seolah-olah akan menembak kepala orang itu.

CKREK CKREK

"Eh?" Naruto mencoba menembak tapi tidak ada peluru yang keluar.
"Habis? Apaan teme itu meletakkan peluru hanya 3. Pelit sekali!" jerit Naruto.

"Kalian jangan banyak bengong. Hajar saja anak itu, tubuhnya kecil tidak mungkin menang jika berkelahi," kata salah satu orang itu.

Orang-orang itu mulai berlari kearah Naruto.

Pukulan melayang kearah kepala Naruto.

WUSH

Naruto menghindar dengan mulus seperti tarian.

"Wooowww hati-hati dengan tanganmu tuan," kata Naruto.

Pukulan kembali mengarah dari belakang Naruto menunduk dan melakukan spin sedikit melompat dan menendang kepala belakang salah satu pria itu. Orang yang dia tendang langsung pingsan.

'Seperti yang selalu Kyuubi katakan. Sebesar apapun musuhmu jika kau menyerangnya di titik tertentu bukan tidak mungkin kau bisa mengalahkannya. Dan serangan di kepala itu serangan fatal,' batin Naruto masih sambil menghindari pukulan demi pukulan dan sesekali tendangan. Tapi semuanya berhasil dia hindari.

"Kurasa kalian harus berdiet. Gerakan kalian lambat karena berat badan tuh," ejek Naruto mulai menyebalkan seperti Kyuubi jika sudah berkelahi.

"Sombong sekali kau bocah baru membuat pingsan teman kami satu orang saja," ucap salah satu orang itu terlihat sudah kelelahan.

"Eh? Kau meremehkanku? Aku bisa membuat kalian pingsan bersamaan lho~" kata Naruto.

"Cih, banyak bicara,"

Salah satu orang itu siap memukul Naruto yang sedang sibuk menghindari serangan dari orang yang satu lagi. Sedikit melirik dari sudut matanya, Naruto menyeringgai lalu melakukan lompatan salto ke belakang. Pukulan yang mengarah padanya akhirnya mengarah pada rekan orang itu sendiri. Dengan cepat Naruto memukul tengkuk pria yang mau memukulnya.

HUP BRUK

Bersamaan saat Naruto mendaratkan kakinya ke tanah, kedua orang itu pingsan dan jatuh ke tanah bersama.

"Perkataanku benar kan, kalian seharusnya lebih mendengarkan saat orang lain berbicara. Ckckck," kata Naruto memasang wajah sok prihatin.

"Lumayan. Kukira kau tidak bisa apa-apa," suara seseorang di belakang Naruto membuatnya terkejut.

Naruto melayangkan tinju tapi berhasil di hindari orang itu dengan mudah.

"Brengsek! Untuk apa kau kembali, mau bilang mau membantuku?" ejek Naruto yang sudah dongkol.

"Memang. Aku mau membantumu meletakkan 3 ikan ini di kantor polisi," pemuda raven itu meraba salah satu tubuh pria yang tergeletak dan menemukan ponsel.

"Teme sialan! Mudah sekali kau bilang 'membantu' hah?! Aku yang hampir terbunuh, kau tahu?!" kata Naruto marah-marah.

"Hn. Aku tahu," kata pemuda itu.
Dia mengetik dengan cepat entah apa itu dan meletakkan ponsel itu pada tempatnya.

Naruto sangat kesal menghadapi orang satu itu. Ingin rasanya Naruto mencekiknya.

"Polisi sebentar lagi datang," kata pemuda itu.
"Jika kau tidak mau di introgasi karena hal yang tidak kau tahu sebaiknya pergi sekarang," pemuda itu memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

"Tunggu!" Naruto menahan pundak pemuda itu.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Naruto.

Pemuda itu terdiam lalu mendengus menahan tawa seakan pertanyaan Naruto itu lucu.

"Kenapa warga biasa sepertimu membawa senjata?" tanya Naruto.

"…" pemuda itu hanya diam dan kembali berjalan.

"Jawab pertanyaanku!" tegas Naruto kembali menahan bahu pemuda itu.

SET CRIK

Pemuda itu berbalik dan menarik bahu Naruto sehingga seakan mereka sedang berpelukan. Pemuda itu menempelkan moncong pistolnya di dada kiri Naruto.

"Kau tahu, pertanyaanmu itu memusingkan. Apa alasanmu tertarik dengan orang asing yang baru kau temui beberapa jam yang lalu hm?" bisik pemuda itu di telingga Naruto.

Naruto terdiam.

"Aku bisa membunuhmu sekarang jika aku mau tapi aku orang yang tahu diri juga. Kau sudah menyelesaikan 3 orang itu tanpa aku harus repot-repot," kata pemuda itu lagi.

Pemuda itu menjauh dari Naruto dan berbalik lalu pergi. Naruto masih belum bergeming. Tangannya dia masukkan ke dalam saku jaketnya menyentuh sebuah logam.

'Pistol orang itu,' batin Naruto melihat pistol yang dia pakai saat awal melawan ke-3 orang yang pingsan itu.

~Let's Play The Game 2~

Sore itu Itachi sedang berjalan di pinggir jalan. Ada tempat yang ingin dia kunjungi sebenarnya mengingat sudah cukup lama dia tidak mengunjunginya.

TAP TAP TAP

Itachi melangkahkan kakinya memasuki salah satu kedai yang cukup sederhana tapi cukup banyak yang datang. Terlihat para pegawai dan pelayan sibuk melayani pengunjung.

"Tobi anak baik~ Tobi anak baik~" seorang pelayan sekitar seumuran dengan Naruto membawa nampan dengan isi makanan pesanan pembeli. Dia mengantarkan pesanan dengan semangat dan entah kata-kata apa yang dia ucapankan sepanjang dia bekerja.

Itachi beralih ke meja bartender, cukup aneh di tempat kedai begini ada bagian bartender. Itachi melihat seseorang yang berjaga di sana karena terlihat sepi juga di bagian itu. Itachi melangkahkan kakinya ke sana, sedangkan seorang di sana belum menyadarinya karena dia membelakangi arah Itachi. Orang itu sedang sibuk menyusun gelas-gelas.

Itachi sampai di depan meja, "Aku pesan minuman seperti biasa," kata Itachi menyeringgai.

"!" orang itu sangat terkejut sampai menghentikan aktifitasnya karena mendengar suara yang sudah sempat tidak dia dengar beberapa tahun belakangan ini. Orang itu langsung berbalik bersamaan dengan…

SYUUU

Lemparan botol yang dia layangkan pada Itachi.

HUP

Itachi menangkapnya dengan mudah dan meminumnya.

"Sialan kau! Kemana saja kau selama ini hah?!" orang itu langsung melempar perabotan di sana tapi dengan sukses Itachi menangkapnya tapi cukup kewalahan karena banyaknya yang di lempar.

"Ho-Hoy! Hentikan ini Konan!" kata Itachi akhirnya yang mulai kewalahan hanya menghindar.

PRANG PRANG BRAK

Bunyi segala perabotan jatuh dan hancur ke lantai. Konan sudah tidak peduli jika tamu-tamunya sekarang melihat kearahnya.

"A-Ah, jangan pedulikan mereka ya. Mereka memang selalu begitu," kata Tobi pada para tamu yang mendapat anggukan. Lalu para tamu menghiraukan aksi Konan terhadap Itachi.

"Bukankah itu Itachi?" kata Deidara yang baru saja mengantarkan pesanan.

"Kau benar… Itachi senpai~" Tobi langsung berlari mau menghampiri Itachi.

'Siapa saja tolong hambamu yang tampan ini,' batin Itachi narsis.

Menghindari amukan Konan dan aksi slow motion Tobi yang sebentar lagi akan memeluknya menginterupsi di otak Itachi, ini adalah situasi gawat.

"HENTIKAN KALIAN SEMUA!" seru seseorang penuh aura kemarahan.

"Kakuzu terima kasih…" kata Itachi merasa bersyukur dengan berlinang air mata buaya.

"Konan, apa-apaan ini! Kau membuat kedai rugi dengan tindakanmu. Aku pastikan kau tidak menerima gajimu dalam setahun kedepan," kata Kakuzu memencet-mencet kalkulator.

"Tapi kan aku pemilik kedai ini," kata Konan sweatdrop dengan sikap ke-mata-duitan temannya yang satu itu sebagai pengurus keuangan.

"Tobi!" Kakuzu menunjuk Tobi yang sudah berhenti berlari.
"Kau mengabaikan tamu. Waktu adalah uang Tobi! Waktu adalah UANG!" kata Kakuzu penuh penekanan. Membuat Tobi ciut bersembunyi di samping Deidara yang terlihat santai sambil melipat kedua tangannya di dada.

"Coba bayangkan jika setiap pergerakanmu yang sekitar…emm…5 menit untuk membuat gerakan tidak berarti kau sama saja membuang waktu untuk mengantarkan 1 pesanan. Bisa kau bayangkan jika setiap 5 menit itu kita rugi apa yang akan terjadi!" kata Kakuzu histeris.

Itachi dan yang lainnya sweatdrop mendengar ucapan Kakuzu. Itachi menatap Konan seakan berkata, 'Sifatnya tidak berubah malah makin parah,'

Seolah mengerti arti tatapan itu Konan membalas masih dalam tatapan mata, 'Seperti yang kau lihat,'.

"Dei senpai, aku tidak mengerti apa maksud Kakuzu senpai," bisik Tobi polos pada Deidara sambil mengaruk-garuk pipinya. Maklumi saja dengan tingkat kecerdasan bocah satu ini.

"Maksudnya kau tetaplah menjadi anak baik dengan melayani tamu dengan sebaik mungkin," kata Deidara.

"Itu bukan masalah!" Tobi mengacungkan jempolnya.
"Tobi anak baik~ Tobi anak baik~" Tobi segera melayani kembali pesanan dari para tamu.

Lagi-lagi semuanya sweatdrop, Deidara yang mendapatkan tatapan dari Itachi dan Konan hanya cengar-cengir dan langsung membantu Tobi melayani pembeli. Kakuzu? Dia sedang berlutut menangisi perabotan yang pecah belah sambil berkata, "Oh uangku~" berulang kali.

Konan menghela nafas, "Kita bicara di ruanganku," kata Konan yang langsung di ikuti Itachi.

Mereka berjalan masuk ke dalam ruangan yang cukup tertata rapi. Sepertinya itu ruangan kerja Konan. Konan menuju kulkas kecil di sudut ruangan.

"Kau masih bisa minum softdrink kan pak tua?" ledek Konan.

"Hey! Aku tidak setua itu!" protes Itachi.

"Hahaha," Konan melempar sebuah kaleng minuman pada Itachi lalu dia duduk bersebrangan dengan Itachi di sofa.

"Jadi menghilang kemana saja kau?" kata Konan.

"Aku masih berpijak di bumi," kata Itachi tersenyum jahil.
"Sepertinya aku tidak melihat Hidan dan Pain dari tadi," kata Itachi.

"Hidan menjadi pendeta," kata Konan.

"Oh pendeta… APA?! Di..Dia… menjadi pendeta?" kata Itachi tidak percaya.

Konan mengangguk.

"Lalu Pain?"

"Sedang keluar tadi,"

Itachi menghela nafas sesaat lalu meminum kembali softdrinknya, "Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian semua," kata Itachi terlihat serius dari nada bicaranya.

"Bagaimana kalau kita bicarakan di kuil api tempat Hidan berada," usul Konan.

"Baik, aku setuju," kata Itachi.

"Nanti malam setelah restoranku tutup, kita semua kesana," kata Konan.

Sementara di tempat lain…

Orochimaru sedang memijat pelipisnya. Tidak habis pikir dengan anak didiknya yang super susah di atur satu itu.

"Bagaimana bisa kau meninggalkan pistolmu begitu saja?" kata Orochimaru.

"…" sedangkan lawan bicaranya tidak merespon, dia hanya duduk berhadapan dengan Orochimaru dengan wajah datarnya.

"Jika kau berpikir kita masih punya segudang pistol kau benar tapi pistol itu berbeda dengan pistol kebanyakan. Bagaimana jika pistol itu jatuh pada orang yang curiga dengan pistol itu dan mulai menyelidikinya?" kata Orochimaru.

"Orang itu bodoh. Kau bisa tidur tenang," akhirnya pemuda raven itu bersuara.

"Sudah aku sering katakan jangan terlalu sering menganggap enteng seseorang!" Orochimaru sepertinya sudah mulai pada batasnya.

"Tenangkan diri anda Tuan Orochimaru," kata Kabuto berdiri tidak jauh dari Orochimaru.

Orochimaru menghela nafas lalu beranjak dari sofa single-nya, "Kuberi waktu malam ini kau harus mengambil pistol itu lagi. Jika tidak kau harus menjalani hukumanmu," lalu Orochimaru pergi tidak lupa Kabuto di sampingnya.

~Let's Play The Game 2~

Tanpa terasa sore sudah berlalu dan berganti malam. Keadaan kantor Namikaze Detective dari luar terlihat lampunya masih menyala.

"HAHAHA! Dasar bodoh…"

Naruto sedang membaca sebuah komik sambil tertawa karena komik itu. Berbeda dengan Kyuubi yang memakan apelnya dengan kasar sambil sesekali melihat ponselnya berulang kali lalu meletakkannya lagi.

"Heh, dia tidak bilang padamu dia kemana?" kata Kyuubi.

"Aku kan sudah bilang tadi dan jawabannya tetap sama yaitu tidak," kata Naruto.
"Tidak biasanya kau menanyakan Itachi-nii jangan-jangan yang di bilang Shikamaru senpai mengenai dirimu dan Itachi-nii benar ya," kata Naruto mengangkat dan menurunkan kedua alisnya dengan cepat sambil menyeringgai jahil.

"Wow wow wow, apa kau bilang? Hentikan pikiran bodohmu itu bocah," kata Kyuubi.
"Tadi kau bilang rusa hibernasi itu yang bilang padamu? Akan aku hajar orang itu besok," kata Kyuubi penuh dendam.

"Lalu kenapa kau terlihat khawatir begitu saat Itachi-nii belum pulang juga malam ini hm?" kata Naruto mulai mengintrogasi kakaknya.

"Aku mau menyuruhnya membersihkan toilet," jawab Kyuubi asal.

'Kena kau!' batin Naruto menyeringgai.
"Kau takut malam ini dia tidak kesini ya? Xixixi," kata Naruto.

"Cukup dengan ucapanmu bocah! Memangnya aku ini apa hah? Aku masih normal, aku masih cukup waras melihat Ino itu cantik dan memilik tubuh bagus," kata Kyuubi.

"Kau hanya kagum saja dengan penampilan Ino-san tapi kau tidak menyukainya. Berbeda dengan kau menyukai Itachi-nii," kata Naruto terkikik.

"Kau mengetes kesabaranku rupanya," kata Kyuubi mengeluarkan aura suram.

"Kyuu, apel?" Naruto menyodorkan apel.

Kyuubi sepertinya tidak terpengaruh kali ini, "Bawa apel itu bersamamu ke neraka. Khu khu khu…" kata Kyuubi mulai tertawa iblis.

BRUAK BRAK PRANG JDAR

"GYAAA! KAA-SAN! TOU-SAN! SELAMATKAN AKU!" lolong Naruto terdengar sampai keluar gedung.

KLOTAK

Sebuah pistol terjatuh ke lantai, menghentikan aksi Kyuubi yang mengunci pergerakan Naruto.

"Pistol?" Kyuubi mengambilnya.
"Sejak kapan kau punya pistol?" kata Kyuubi meliat detail pistol yang terbilang keren dari ukirannya. Berbeda dengan pistol pada umumnya.

"Bukan punyaku, tapi punya si teme itu," kata Naruto mendudukkan diri di lantai.

"Teme?" kata Kyuubi menatap Naruto.

"Iya. Tadi siang aku bertemu dengan orang asing ya si teme itu lalu…"

Naruto mulai menceritakan kejadian tadi siang yang dia alami dan juga menceritakan dia mendapatkan pistol itu. Setelah mendengarkan cerita Naruto, Kyuubi mengelus dagunya seperti sedang berpikir ala detective.

"Hmm… aneh juga orang seperti dia memiliki senjata. Tapi itu bukan hal ganjil juga sih, sebenarnya jika kau mau tahu banyak warga sipil yang memiliki senjata dari pasar gelap jadi aku sih tidak heran," kata Kyuubi.

"Kenapa kau tidak bilang?! Aku mengintrogasinya sudah seperti orang bodoh saja," kata Naruto sewot.

"Makanya isi otakmu dengan dunia luar jangan hanya ada ramen saja di sini," kata Kyuubi mendorong-dorong kening Naruto dengan jari telunjuknya.
"Tapi aku merasa pistol ini cukup unik. Ukirannya berbeda dari pistol yang selama ini aku tahu, seperti di buat khusus," kata Kyuubi.

"Masa? Aku tidak perhatikan tuh," kata Naruto beralih mengambil pistol itu dan melihat secara teliti.

"Iya, aku yakin. Kau tahu tentang orang asing itu? Namanya? Tempat tinggalnya? Profil keluarganya? Latar belakangnya?" kata Kyuubi.

"Hey hey hey, aku bertemu orang asing bukan bertemu dengan kawan lama. Jadi mana aku tahu," kata Naruto.

"Akan sulit menyelidikinya kalau begitu," kata Kyuubi menghela nafas.

"Tapi aku sempat bertemu dengannya beberapa kali dan semua pertemuan hanya singkat saja. Entah itu aku sekilas melihatnya atau tanpa sengaja bertemu dengannya," kata Naruto.

"Baiklah lain kali jika kau bertemu lagi dengannya sebisa mungkin tanyakan identitasnya. Aku pergi dulu," kata Kyuubi menyambar jaket merahnya.

"Kau mau kemana?" tanya Naruto.

"Ke tempat Kakashi, mungkin dia tahu mengenai pistol ini," kata Kyuubi menunjukkan pistol yang tadi di tangan Naruto.

"Malam-malam begini?" kata Naruto.

"Sekalian mencari udara segar. Sudah ya,"

BLAM

Pintu tertutup.

SET

Sekilas Naruto seperti melihat sekelebat bayangan dari jendela kantor ND. Naruto membuka jendela itu.

"Cuma perasaanku saja ya," Naruto mengangkat kedua bahunya lalu kembali menutup jendela itu dan mulai mematikan lampu kantor lalu beralih ke gedung sebelah (tempat tinggalnya).

Keluar dari gedung Kyuubi agak merapatkan jaketnya karena udara malam ini ternyata cukup dingin. Dia baru saja menghubungi Kakashi bahwa dia akan ke rumah orang itu. Kyuubi berjalan di trotoar sambil sesekali melihat toko-toko yang masih buka malam itu. Jalanan di malam hari tidak terlalu ramai. Kyuubi mendongakkan kepalanya ke atas melihat langit yang kelam.

"Keriput itu kemana ya?" gumam Kyuubi.
"!" Kyuubi terkejut sendiri.
"Haiss! Kenapa aku memikirkan orang itu!" Kyuubi mengacak-acak rambutnya semakin membuat penampilannya keren.

Kaos hitam bergambar kepala tengkorak di padu jaket merahnya dan celana jeans gelap. Tidak lupa dengan sepatu ketsnya yang berwarna hitam. Wajahnya jangan di tanya lagi, yang memang sudah tampan dengan mata ciri khas kucing tajam tapi terkesan…keren dengan warna merah ruby. Rambut spike acak-acakan berwarna orange kemerahan. Sebentar lagi pasti akan ada yang mengerubuninya.

"Namikaze-san?" kata seseorang dari belakang.

"Ya? Astaga!" kata Kyuubi saat berbalik dan mendapati beberapa gadis dan wanita berdiri di depannya dengan tatapan yang akan memakan Kyuubi.

"KYAA! Dia benar detective tampan itu!" kata salah satu wanita di sana histeris.

"Berfoto denganku sebentar ya,"

"Aku juga ya,"

"Kencan denganku malam ini ya," permintaan pertama masih sangat baik menurut Kyuubi.

"Menikahlah denganku," oke permintaan kali ini semakin konyol apalagi mereka makin genjar mengerubuni Kyuubi.

"La-Lain kali saja ya!" Kyuubi langsung lari secepat mungkin, para fansnya itu tidak tinggal diam. Mereka ikut mengejar Kyuubi. Dari kerumunan itu seseorang yang memakai topi melihat kejadian itu.

Kyuubi terus berlari menghindari para fansnya.

"Baru kali ini aku merasa tidak bersyukur memiliki wajah tampan," kata Kyuubi menyesali wajahnya yang memiliki dampak yang cukup mengerikan.
"Aku mulai mengakui wajah Lee adalah wajah impian," kata Kyuubi ngelantur.

"KYUUBI~ KAMI MENCINTAIMU~" kata para fansnya masih mengejar.

Kyuubi mencoba berpikir agar bisa lolos dari kejaran orang-orang itu. Dia melihat jalan lain yang terbilang kecil.

"Asal terhindar dari mereka," kata Kyuubi mulai mendekati jalan itu.

Kyuubi melewati jalan itu, belok kanan, kanan lagi, kiri, lurus, bercabang, ambil kanan. Kyuubi terus berlari. Karena sudah merasa sepi Kyuubi memelankan lajunya.

"Sepertinya berhasil," kata Kyuubi berhenti berlari, mengelap keringat di keningnya.

"Tapi…dimana aku sekarang?!" kata Kyuubi histeris melihat sekelilingnya.

TAP TAP TAP

Terdengar langkah kaki.

"Jangan katakan mereka berhasil mengejarku," kata Kyuubi miris sudah pasrah jika para fansnya benar-benar menemukannya.

Seseorang muncul berdiri di depan Kyuubi. Bukan fansnya atau wanita lainnya tapi seorang pria memakai topi. Tingginya kira-kira se-Naruto. Kyuubi mengangkat sebelah alisnya.

Kyuubi mengira orang itu juga melewati jalan itu, Kyuubi hanya berjalan biasa melewati orang itu.

SET

Tiba-tiba orang itu menarik bahu Kyuubi dan mengacungkan belati tepat di leher yang ada urat nadinya. Tidak ada yang bicara dari keduanya. Kyuubi juga tidak bisa melihat orang itu karena posisinya yang membelakangi orang itu.

"Aku tidak ada waktu jika untuk bermain-main," kata Kyuubi mau beranjak tapi orang itu menahannya dengan kuat. Belati sedikit mengores lehernya agak terlihat darah sedikit mengalir dari goresan itu.

"Berikan pistol itu," kata orang itu akhirnya berkata.

"Jadi kau teme teme itu, yang di maksud adikku?" kata Kyuubi.

"Pistolnya," orang itu mengabaikan ucapan Kyuubi.

"Kau meninggalkannya itu berarti kau tidak membutuhkannya,"

SET DASH

Kyuubi melepaskan diri dan coba menendang orang itu tapi gerakannya kalah cepat karena orang itu sudah menghindar.

Orang itu mengapai saku jaket Kyuubi untuk mengambil pistol itu.

GRAP

Kyuubi menangkap tangannya dan menariknya, baru saja Kyuubi akan menendang perut orang itu dengan lututnya orang itu berputar sehingga malah Kyuubi yang terpojok karena orang itu menahan lehernya dengan lengan orang itu yang sekarang malah memegang tangan yang di gunakan untuk menangkap tangan orang itu. Dengan gerakan cepat orang itu mengambil pistol di saku jaket kanan Kyuubi.

"Aku ambil punyaku," kata orang itu. Tapi dia belum pergi dia mengeluarkan sebuah pistol lain dan mengarahkan pada punggung Kyuubi.

SHYUU CTIK

"Apa yang kau-"

BRUK

Kyuubi sudah terjatuh ke tanah sebelum menyelesaikan kalimatnya. Terlihat di punggung Kyuubi terdapat jarum, orang itu mengambil kembali jarum itu. Setelah di rasa tidak ada benda atau apapun yang menjadi hal-hal tidak dia inginkan, dia pergi meninggalkan Kyuubi yang pingsan karena jarum biusnya.

.

.

.

Sudah hampir 1 jam yang lalu Kakashi menunggu Kyuubi yang tidak kunjung datang.

"Hey ayolah… jarak dari rumahnya ke sini tidak terlalu jauh kenapa dia terlambat sekali," kata Kakashi agak kesal karena sudah malam seharusnya dia beristirahat tapi karena Kyuubi akan kerumahnya dia menunda kegiatannya semula.

"Kau sudah coba menelponnya?" kata Iruka yang baru masuk keruang tamu membawa 2 cangkir kopi.

"Sudah dan tidak diangkat sama sekali," kata Kakashi.

"Coba kau tanya Naruto," kata Iruka.

"Untuk?"

"Ya memastikan saja. Siapa tahu Kyuubi tidak jadi kesini karena ketiduran atau hal lain," kata Iruka.

Kakashi melakukan saran Iruka lalu mulai menelpon Naruto. Tidak lama ponselnya tersambung dengan Naruto.

"Naruto, Kyuubi sudah berangkat ke tempatku kan?" kata Kakashi.
"Sudah 1 jam yang lalu?" kata Kakashi mengerutkan keningnya.
Lalu ekspresinya agak gugup, "Ah tidak! Tadi aku sempat menyuruhnya membeli sesuatu sebelum kerumahku, mungkin sebentar lagi dia sampai. Kau tidak perlu cemas. Dan juga Kyuubi sepertinya akan menginap di sini," kata Kakashi.
"Baiklah selamat malam," Kakashi menutup telponnya.

Iruka yang ikut mendengarkannya agak aneh dengan percakapan Kakashi barusan.

"Ada apa, rasanya aneh sekali percakapanmu dengan Naruto," kata Iruka.

"Seperti terjadi sesuatu pada Kyuubi," kata Kakashi langsung bersiap-siap, meraih jaket, pistol.

"Apa maksudmu?" kata Iruka mulai cemas.

"Naruto bilang Kyuubi sudah berangkat sejak 1 jam yang lalu. Sangat aneh jika sampai sekarang dia belum sampai. Perjalanan dari rumahnya ke sini paling hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit, jikapun ada keperluan sebelum kesini pasti tidak akan memakan waktu lama," kata Kakashi sudah berada di ambang pintu.

"Aku pergi dulu," kata Kakashi membuka pintu dan segera menutupnya.

"Kyuubi… Semoga dia baik-baik saja," gumam Iruka.

To Be Continue...


Hitomi: Yo minna! A-Ah! Gomen gomen! Saya tahu saya sangat sangat sangat sang-*bletak* telat update *bungkuk-bungkuk*
Ya...bisa dikarenakan beberapa faktor ._.
Ok, lupakan curhatan ga penting author ini.
Hm hm *ngangguk-ngangguk* saya juga merasa chapter kali ini agak gaje ya .v
Tapi biarlah para reader yang berkomentar.

Yosh, saya bingung mau bilang apa lagi. Langsung balasan review di chapter sebelumnya saja ya bagi yang login maupun tidak.

Untuk yang perta- *dzing (dapat serangan mendadak)*

Tobi: Yo minna~ saya yang akan membalas review mewakili Ito-chan

Hitomi: Hitomi oy! *dibekap lagi sama Kakuzu*

Pain: yare yare...baiklah yang pertama dari Kyuubi TheDemonFox, maaf karena kelalaian author baka yang satu itu (Hitomi: hoy!) tidak bisa memenuhi keinginan Kyuubi-san. Oke next

Itachi: berikutnya dari siihat namikaze natsumi mengenai kenapa my little brother (Sasuke: hooeekkk!) masih hidup karena aku kangen banget lho sama dia~ rasanya sepi deh ga ada dia :3

Sasuke: minta dichidori ya? *senyum berkilau kearah Itachi*
mengenai aku masih hidup bisa kamu ikutin terus cerita ini sampe aku nikahin Naru (Kyuubi: kubunuh kalian para Uchiha)

Kyuubi: next dari minae cuteu, kau mengharapkan aku jadian dengan keriput tua itu heh?! Sampe keriput itu hilangpun aku tidak sudi!

Itachi: eh Kyuu-chan tidak boleh gitu lho~ kita harus makasih banget sama minae-san soalnya dia ngedukung pair kita. Hahaha *duak*

Hitomi: kyaaa! Arigatou Zora Fujoshi-san

Kyuubi: siapa suruh author ini dilepas. Ikat, gantung sampai 10 tahun

Hitomi: nooooo!

Naruto: yosh! Terakhir dari Yukihana Nokawa hahaha... arigatou atas reviewnya. Ficnya keren karena ada aku kok *senyum narsis*

Sasuke: kalo aku ga suka dia udah aku chidori *bisik-bisik*

Kyuubi: kalo ga inget Kushina udah aku panggang ini anak *ikutan bisik-bisik*

Itachi: kalo bukan karena adeknya Kyuubi udah aku amaterasu *bisik-bisik juga*

Naruto: sampai berjumpa di chapter selanjutnya minna~