Warn: AU, ooc
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
"Kita dapat teman baru, perkenalkan namamu," kata Pak Guru.
Seisi kelas berubah hening.
"Ohayo. Aku Uciha Sasuke."
Lamunan Hinata berhenti.
.
.
Summer Love
.
.
"Pernah berpikir kenapa liburan musim panas selalu hadir di musim panas?"
"Tidak," Hinata menggeleng, "Memang kau pernah?"
Sasuke menggangguk cepat, "Tentu saja," katanya, "Aku ini pintar, jadi suka berpikir tentang banyak hal." dia berdiri dan mengulurkan tangan, mengajak Hinata pergi dengan menaiki sepeda.
"Jadi, menurutmu, kenapa?"
"Tentu saja karena dia adanya di musim panas. Kalau musim dingin namanya liburan musim dingin."
"Oh…" Hinata mengangguk-angguk paham, tapi kemudian bertanya, "Itu tidak adil, ya?"
"Hm?"
"Iya. Musim kan ada empat. Kemana musim semi dan musim gugur? Kasihan sekali mereka tidak punya hari libur."
Sasuke nampak berpikir, "Benar juga. Ah, sekarang aku jadi penasaran kenapa musim semi dan musim gugur tidak pernah liburan."
Hinata masih ingat dengan jelas bagaimana segarnya angin yang bertiup kala itu, langit yang biru, dan suara gowesan sepeda yang dikayuh Sasuke. Ah… dia bahkan masih ingat bagaimana rasanya duduk di besi antara setang dan Sasuke. Meski kejadian itu sudah lama, Hinata tidak lupa.
Waktu itu dia masih kelas lima SD. Sasuke adalah orang kota yang berkunjung ke rumah neneknya di Konoha saat liburan musim panas. Mereka bertemu karena Hinata dan neneknya bertetangga.
Mulanya Sasuke berpikir bahwa Hinata cuma anak perempuan biasa yang lemah, tidak pintar, dan takut pada serangga, tapi ternyata Hinata tidak begitu. Meski dia gampang lelah saat diajak bermain, sering jatuh waktu mengejar layangan putus, tapi Hinata tidak pernah menangis. Yang paling mengejutkan, dia justru berani bermain dengan ulat yang, menurut Sasuke, sangat menggelikan.
Dia… anak perempuan yang hebat.
Seminggu setelah mereka bertemu, Sasuke mulai menyamankan dirinya sendiri di rumah Hinata. Dia bisa muncul di suatu pagi dengan sepiring sarapan dan duduk di ruang tamu keluarga Hyuuga, dia juga bisa tiba-tiba ada di halaman belakang dan bermain rumah-rumahan dengan Hinata. Yang paling mengejutkan, Sasuke yang sangat mengagumi Itachi bisa marah besar dan bilang bahwa dia membenci kakaknya itu waktu Itachi menyapa Hinata dan menepuk pelan kepalanya.
"Dia membenciku…" kata Hinata yang matanya berkaca-kaca. Sasuke mendiamkannya setelah Hinata meminta Sasuke untuk tidak marah pada kakaknya.
"Tidak perlu kau ambil hati, Hinata," Itachi bilang sambil tersenyum, "Besok Sasuke pasti sudah baik." Untuk lebih meyakinkan Hinata, dia meraih kepala anak perempuan itu, mengajaknya mendekat dan berbisik, "Sasuke tidak benar-benar marah padamu, tuh, dia ada di balik pintu."
Hinata melirik ke arah yang ditunjuk Itachi, Sasuke kembali sembunyi.
"Sudah malam, aku antar kau pulang, bagaimana?"
Hinata mengangguk.
Saat mereka menjauh, Sasuke cemberut.
.
"Sasuke sudah tidak marah?"
"Sebenarnya aku masih marah padamu," mendengar ini Hinata tertunduk takut, "Tapi aku sudah akan pulang, jadi kita baikan," Sasuke menawarkan kelingkingnya, wajahnya masih masam, "Tapi itu kalau kau mau…" dia menambahkan.
"Tentu saja aku mau!" Hinata menyahut cepat, kelingkingnya dia kaitkan dengan kelingking Sasuke. Dia tersenyum dan pipinya memerah karena terlalu bersemangat. Kemudian, dia mendekat dan memeluk Sasuke.
Itachi bengong.
Sasuke sesak napas.
"Kapan-kapan main lagi, ya?" kata Hinata setelah kembali mundur, "Daa…"
Selama perjalanan, Sasuke tidak bicara.
.
Istirahat terasa tiba lebih lama bagi Sasuke hari itu. Dia yang berniat menemui Hinata harus menunggu dua setengah jam hingga suara bel berbunyi. Saat sebagian murid keluar untuk jajan di kafetaria, Sasuke berjalan ke meja Hinata.
"Apa kabar?" Hinata bertanya begitu sadar Sasuke berdiri di depan mejanya.
Sasuke menjatuhkan tubuhnya di kursi, kepalanya dia benamkan di antara lipatan tangannya di atas meja, "Apa ini sekedar basa-basi?"
"Hm?"
Sasuke melirik Hinata, "Kau tahu 'kan kalau nenek punya nomor telepon rumah kami?"
Hinata terlihat agak ragu sebelum menyahut, "Ya…?"
"Kau juga tahu bahwa aku tidak pernah tahu nomor telepon rumahmu."
"O… ke…?"
Sasuke mengangkat wajahnya tiba-tiba, pandangannya menatap tajam Hinata, "Kau masih tidak mengerti juga?"
"S-sorry…" Hinata ketakutan.
Sasuke mengibas-ngibaskan tangannya, "Sudahlah," dia bilang, "Tapi kalau kau memang penasaran dengan kabarku, kenapa tidak telepon saja dari dulu?" dia membuang muka ketika merasakan wajahnya panas. Sial! "Aku baik," katanya kemudian.
"A-aku juga… baik."
Sasuke melihatnya aneh, "Siapa yang bertanya kabarmu?"
Hinata gugup.
Sasuke mengusap kepalanya. "Kenapa kau masih bodoh?" katanya pelan sambil tersenyum.
.
Fin
.
A/n:
Terima kasih buat anak tetangga yang pagi ini lewat di depan rumah. Terima kasih untuk anak perempuan cengeng yang tertawa senang waktu anak laki-laki itu mengajaknya naik sepeda. Terima kasih juga untuk si anak laki-laki yang sangat terikat pada si anak perempuan dan selalu berdiri di dekatnya waktu mereka main dengan banyak orang yang menjadi sumber inspirasi kenapa saya menulis ini.
Terima kasih juga untuk para pembaca yang meninggalkan jejaknya di sini. Saya sangat menghargainya. Terima kasih.
Salam,
Marine.
.
.
"S-sas?"
"Hn…"
"Kenapa pindah sekolah ke sini?"
"Kau masih bertanya?!" Sasuke berdiri tiba-tiba membuat kursi yang tadi dia duduki terjatuh dan menimbulkan suara yang cukup keras, "Ish, dasar cewek lemot!" katanya sebelum pergi.
Hinata mengerutkan alisnya.
.
