Hai... hai.. hai... saya kembali dengan chapter terakhir 'Death Game' ngehahahaha...

Adakah yang menunggu fic ini? (all: enggak.)

Arina: #pundung Yaudah nggak jadi update dehh.. #PLETAKKK

Mohon diabaikan

Saya kembali karena saya pengen cepet-cepet kelarin ini fic dan lanjutin secret world. Dan yang lain.. yo yo yo...

Selamat membaca.

.

.

.

.

"Selamat datang BoBoiBoy." Ucap Rin ketika melihat BoBoiBoy membuka pintu.

Seperti yang direncanakannya Game akan dimulai, atau diakhiri. Ia bersiap mengguanakan katana yang diambilnya dari almari. Katana itu cukup panjang dan terlihat sangat tajam. Yang diyakini dapat memotong kepala seseorang dalam sekali tebas. Ia bergerak maju kearah BoBoiBoy dengan mengayun-ayunkan katananya santai.

"Kau tahu. Aku masih ingin bermain denganmu lebih lama. Tapi sayang sekali game harus segera berakhir." Ucap Rin tenang. Mata BoBoiBoy berkilat marah. Ia tak bisa memaafkan orang yang ada didepannya. Ia sudah melihat banyak mayat di seluruh rumah. Yang dia yakini penyebab kematiannya adalah gadis didepannya itu.

"Kau sudah melihat semua koleksiku, kan?" tanya Rin lagi, yang tetap tak mendapat respon dari lawan bicaranya. "Huhh.. kau tahu aku sangat suka mendengar teriakan mereka. Melihat darah mereka. Mendengar jerit rintih mereka. Melihat wajah shock dan ketakutan mereka saat aku mengayunkan katana ke kepala mereka. Menyentuh organ-organ mereka dengan tanganku. Bermain main dengan jantung, hati, otak, dan lainnya. Kau tahu itu sangat menyenangkan. Dan yang paling menyenangkan adalah melihat wajah putus asa serta amarah mereka, ketika aku membunuh orang yang mereka sayang. Aku benar-benar ingin mengabadikannya. Dan sekarang aku ingin mengabadikan wajahmu." Ucap Rin yang dengan segera menerjang kearah BoBoiBoy.

Suara pedang dan katana beradu. BoBoiBoy yang sudah terlatih menggunakan pedang ketika bermode Halilintar, dengan cepat menebas dan menghindari serangan Rin. Ruangan yang cukup luas membuatnya mudah menghindari serangan Rin, meski tidak semudah ketika ia berada diluar. Rin menghunuskan pedangnya dan mengenai pipi BoBoiBoy hingga mengeluarkan darah. Namun dengan cepat BoBoiBoy menebas tangan Rin hingga terlempar keudara bersama dengan katananya. Rin bagai orang kesurupan melangkah mundur dengan tawa senang yang menghiasi wajahnya.

"Hahaha... Inilah yang kucari."

BoBoiBoy mengambil katana Rin dan mengayun-ayunkannya. Pedang yang digunakannya untuk melawan Rin tadi dibuangnya kesembarang tempat.

"Ini ringan." Ucapnya pelan.

"Kau boleh mengambil itu." ucap Rin yang dengan segera mengambil katana lain yang menjadi pajangan di kamar itu. Tak mempedulikan tangannya yang sudah putus dan mengeluarkan banyak darah. Rin menerjang BoBoiBoy dan bersiap untuk menebasnya. BoBoiBoy mengambil langkah mundur dan menangkis katana Rin. Suara katana kembali beradu. Saling menyerang dan menghindar, dengan amarah dan rasa senang mereka bertarung. Meski tanpa kekuatannya BoBoiBoy sudah terampil untuk menyerang. Ia sudah terbiasa melakukannya. Begitu pula dengan Rin di terus tertawa dan menyerang BoBoiBoy.

Melompat, menangkis dan menghunuskan katana berkali kali mereka lakukan. Hingga Rin berhasil menghunuskan katananya dan mengenai bahu BoBoiBoy. Bahu BoBoiBoy mengeluarkan darah yang tidak sedikit. Namun dia tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Kembali tangan Rin terpotong oleh katana BoBoiBoy.

"Akh.." rintih Rin ketika merasakan tangannya terpotong.

BoBoiBoy mencabut katana yang masih menancap dibahunya dan menggunakan katana itu untuk menusuk dada Rin.

"AKKHHH.." teriak Rin ketika dadanya ditusuk oleh BoBoiBoy.

"Sakit?" ucap BoBoiBoy pelan.

Ia memutar katananya yang membuat Rin semakin kesakitan. Rin mencoba menendang BoBoiBoy, namun dengan cepat kaki yang digunakan Rin putus hingga se lutut ketika BoBoiBoy mengayunkan katana yang ada di tangan satunya.

"Akhh.."

Tubuh Rin semakin melemas ketika darah mengalir dari seluruh bagian tubuhnya. BoBoiBoy kembali menebas kaki Rin yang masih tersisa hingga ke pangkal paha. Tak ada rasa takut atau kasian sekarang. Hanya amarah dan benci yang ada dipikirannya sekarang. BoboiBoy menarik katana yang menusuk dada Rin dan mengayunkannya untuk menebas tangan Rin yang masih tersisa. Tubuh Rin jatuh lemas tak bernyawa. Badannya bersimbah darah dan begitu pula sekelilingnya. BoBoiBoy menendang tubuh Rin pelan agar terlentang. Ia menghunuskan katananya ke mata Rin yang dengan cepat mengeluarkan darah. Ia menariknya lagi dan kembali menghunuskan pedangnya ke mata Rin yang satunya.

Yaya yang melihat BoBoiBoy tak mampu berbuat apa-apa. Dia terlalu shock dan bahkan tak bisa mengeluarkan suaranya. Ia hanya bisa menutup matanya ketika BoBoiBoy kembali menghunuskan pedangnya kemulut Rin.

Berkali-kali BoBoiBoy menghunuskan pedangnya. Tubuhnya sudah penuh dengan darah dari Rin. Begitu pula wajah Rin yang sudah tak berbentuk karena BoBoiBoy menusuk wajahnya berkali-kali. BoBoiBoy meletakkan katananya disamping leher Rin dan memotongnya hingga putus. Kepala Rin yang berbalut helai rambut yang telah basah oleh darah menggelinding pelan. BoBoiBoy mendekati kepala Rin dan membelahnya menjadi dua.

"Hmph... kau pantas mendapatkannya. Kalau begitu sekarang." gumamnya pelan dan kembali mendekati tubuh Rin. Dihunuskannya lagi pedang di tangannya dan membelah tubuh Rin. Meski ia tak yakin apakah benar kunci itu ada ditubuh Rin, tapi ia akan tetap menebaskanya. Ia duduk jongkok didekat tubuh Rin dan mulai membukanya. Tubuh itu kembali memuncratkan darah ketika tangan BoBoiBoy merobek kulit dengan paksa. Namun ia masih tak bisa mengambil lambung dari Rin. Ia mengambil katananya lagi dan memotong tulang rusuk Rin.

Tangannya bersimbah darah dan begitu pula tubuh dan wajahnya. Namun entah mengapa tak ada perasaan jijik ataupun takut ketika ia memegangnya. Ia kembali menarik dengan paksa tulang rusuk Rin. Tubuh tak berbentuk itu semakin mengeluarkan darah kala BoBoiBoy menggenggam jantungnya erat dan menghancurkannya. Ia mengambil organ dalam Rin dan melemparkannya keluar tubuhnya. Setelah menemukan lambung Rin BoBoiBoy menariknya hingga putus dan menyayatnya dengan katananya. Cairan dari lambung Rin keluar namun tidak dengan kuncinya. Ia menyerngit heran ketika tidak menemukan kunci itu.

"Yaya dimana makanan sebelum berada di lambung?" ucap BoBoiBoy pelan. Tak ada jawaban. Ia menatap Yaya yang bergetar dan menutup erat matanya. Mungkin apa yang dilakukannya membuat Yaya takut. Ia kembali mencari.

"Leher." Ucap BoBoiBoy pelan. Ia kembali mengambil katananya dan membelah leher Rin. Darah kembali memuncrat mengotori tubuh BoBoiBoy. Ia kembali menarik tubuh Rin dan mencarinya dileher Rin.

"Ketemu." Ucapnya pelan ketika menemukan sebuah gundukan kecil di sebuah benda menjijikkan seperti pipa. Ia menarik benda itu dan memotongnya dengan katananya. Ia bisa melihat sebuah kunci kecil yang berbalut darah segar. BoBoiBoy berdiri dan memutus tali yang mengikat Yaya dengan katananya. Di lihatnya luka ditubuh Yaya. Ada dua bekas luka yang cukup dalam disana. Ia menyentuh tangan Yaya yang dingin. Ia tahu bahwa Yaya sangat ketakutan sekarang. Ia berdiri dan berbalik menuju ruangan dimana ia disekap tadi. Lalu langsung mendatangi brankas kecil tadi. Ia membuka brankas itu dan menemukan jam tangannya dan beberapa kunci serta beberapa jari disana. Ia mengambil jamnya dan memakainya kembali. Lalu ia mengambil kunci-kunci itu. Sekarang tinggal mencari jalan keluar dari tempat mengerikan itu.

Ia berubah menjadi tiga agar ia bisa menemukan pintu keluar dengan mudah.

"BoBoiBoy kuase tiga." Gumamnya pelan. Sekarang telah ada 3 orang yang berwajah sama dengannya.

"Kalian cari jalan keluar dari sini, aku akan ke ruangan Yaya." ucap Gempa dingin.

Halilintar dan Taufan mengangguk mengerti dan mencari jalan keluar. Gempa berjalan pelan kekamar Yaya dan membuka brankas di ruangan Yaya yang sama seperti brankas di ruangannya tadi. Ada jam tangan Yaya, namun ada 4 bola mata disana. Gempa mengambil jam kuasa Yaya dan menyerahkan padanya. Ia menggendong tubuh Yaya dan membawanya keluar. Bersamaan dengan Halilintar dan Taufan yang sudah selesai memeriksa tempat ini.

"Aku menemukan ruangan tempat Rin meminta kita menunggu disana." Ucap Halilintar dingin. Gempa mengangguk dan berjalan mengikuti Halilintar. Sampailah mereka di pintu besar rumah ini. Gempa melemparkan kuncinya kearah Taufan, yang dengan sigap menangkapnya dan membuka pintunya.

Semua hanya terdiam selama dijalan. Hingga sampai dirumah, Tok Aba yang melihat kedatangan mereka dengan wajah panik. Para BoBoiBoy memandang Tok Aba dingin. Semua yang terjadi hari ini membuat pikiran BoBoiBoy kacau dan menutup semua ekspresinya. Tak menghiraukan kekhawatiran atoknya, BoBoiBoy langsung membawa Yaya kekamarnya dan langsung diobati oleh Tok Aba. BoBoiBoy kembali bersatu, setelah membersihkan badan dan mengobati lukanya. Ia pergi ke kamar dan melihat kondisi Yaya. Pertanyaan dari sang kakek sama sekali tak di tanggapi olehnya.

OoooooO

Dua hari telah berlalu sejak kejadian itu. BoBoiBoy sama sekali tak berubah. Tetap dingin bahkan sangat jarang berbicara. Ia selalu mengurung diri dikamarnya dan sama sekali tak mau keluar kecuali jika ia mandi. Makan pun ia dibawakan oleh Ochobot. Namun tak ada yang tahu apa yang terjadi dirumah itu. Yaya pun tetap bungkam dan sama sekali tak mau menceritakan apa yang dialaminya. Sementara pembunuhan tetap merajalela tanpa tahu siapa pelaku selanjutnya. Tubuh-tubuh tergeletak tak bernyawa setiap malam. Dan di setiap tubuh tergeletak itu. Seorang anak bertopi dinosaurus selalu memandangnya dingin dengan darah yang mengotori tanggannya.

END? Tidak juga

"Hiiii... serem wo." Kata seorang anak dengan logat cinanya, yang sedang mendengarkan salah satu temannya membacakan isi buku yang ditemukannya kemarin.

"Ish.. ini buku konyol. Mana mungkin ada orang yang mau menerima ajakan orang yang baru dikenalinya?" ucap seorang pemuda bersurai ungu.

"Tapi mengerikan la isinya." Ucap pemuda berbadan tambul gemetaran.

"Kayaknya orang ini ingin membuat cerita tentang kami berdua." Kata seorang berhijab pink, Yaya.

"Mungkin." Ucap BoBoiBoy menimpali.

Saat ini Fang, Ying, Gopal, BoBoiBoy dan Yaya sedang berkerumpul mendengar isi buku yang ditemukan bocah bertopi terbalik itu kemarin malam. Ia tak tahu bagaiman namanya menjadi tokoh utama dari cerita mengerikan itu. Hingga ia membacakan buku itu kepada teman-temannya yang lain.

Teng teng teng..

Bel tanda pelajaran pertama dimulai. Semua murid kembali ketempat duduk mereka masing-masing. Begitu pula BoBoiBoy dan kawan kawannya. Seorang guru dengan kostum aneh memasuki ruangan dengan gaya sama anehnya.

"Wahai anak muda. Sekarang kalian memiliki teman baru, kebenaran." Ucap guru itu.

"Hee.. anak baru.."

"Dikelas kita lagi?"

Krasak-krusuk kembali terdengar dikelas itu. Semua membicarakan tentang kehadiran anak baru itu. Begitu pula BoBoiBoy dan Yaya yang membicarakannya.

"Heyy.. Yaya siapa anak baru ini?" tanya BoBoiBoy penasaran.

"Entah aku tak tahu." Ucap Yaya kebingungan. Mereka terus berbicara tanpa mengetahui seorang gadis bersurai biru panjang diikat twintail, dengan rok mini, dan matanya berwarna biru gelap. Berjalan memasuki kelas mereka.

"Perkenalkan aku Touko Rin. Mohon bantuannya." Ucap Gadis itu ceria.

BoBoiBoy dan Yaya tersentak ketika mendengar namanya.

"Touko Rin?" ucap Fang, Ying, Gopal, Yaya dan BoBoiBoy bersamaan. Sang gadis yang melihat itu hanya tersenyum aneh.

END

Gyaaaaa... akhirnya end dengan GaJe nya... hue hehehehe...

Pengennya dibikin mimpi tapi nggak jadi takutnya sama kayak fic 'the teror' dari kak Chocolate Bubbletea (bener nggak tulisannya?) jadi dibikin nemuin buku dehh.. soalnya ini fic terlalu liar untuk jadi kenyataan. Itulah otak saya yang aneh banget.

Pendek ya? maaf. Soalnya nggak tahu apa yang harus aku tulis sihh... hehehehe...

Gorenya kurang? Maaf lagi. Saya nggak bisa bikin sihh... (tapi maksa) #pundungdipojokan.

Terimakasih banyak telah membaca dan mereview. Dan terimakasih juga telah memfollow dan memfavorit fic saya ini. nge hehehehe...

Oh iya.. untuk yang membaca 'Assassin's' maaf. Itu saya lanjutin kok nanti tapi, setelah saya remake ulang. Tapi janji saya lanjutin. Saya nggak tau konflik dan end yang cocok buat itu. tapi akan segera saya cari.

Okay sampai jumpa di fic saya selanjutnya.

Dan terimakasih banyak Aiko Chiharu, kakakmu ini benar benar mengucapkan terimakasih . (all: kakak? Siapa kau? #plakk )