Nah, ga kerasa udah chapter 4 nih! Semuanya enjoy aja yaa bacanya XD
DISCLAIMER : I DO NOT OWN VOCALOID
Chapter 4 : Masa Orientasi Sekolah (PART 3)
"Semuanya sudah selesai mandi kan? Nah kalian harus berkumpul di depan tiang bendera," Akaito menarik nafasnya dalam-dalam, "SEKARANG!"
Segera semuanya berkumpul merasa ketakutan dengan perubahan sikap Akaito. Kaito yang sudah tahu sedikit apa yang akan direncanakan kakaknya, berkat pendengarannya yang tajam saat kakaknya berbicara dengan Dell, hanya tersenyum kecil melihat teman-teman barunya yang menatap kakaknya dengan takut-takut layaknya orang-orang yang baru dimarahi oleh senpainya.
"Bergabunglah dengan kelompok kalian masing-masing. Jika kalian tidak cepat, kalian tidak akan mendapat tempat tidur dan makan malam untuk malam ini," seringainya kejam. Segera semuanya berkumpul menurut kelompoknya masing-masing. Kelompok 1 berada di sisi kiri Akaito diteruskan dengan kelompok 2 dan kelompok 3 yang berada di sisi kanan Akaito.
"Nah, sekarang," Akaito tersenyum manis, "karena kalian telah melaksanakan perintahku dengan baik, maka senpai kalian ini akan memberikan hadiah yang menarik."
Akaito memimpin 3 kelompok tersebut menuju lantai 2 lewat tangga yang berada di sisi kiri. Seivoca memiliki 3 tangga, tangga kiri, tangga tengah, dan tangga kanan. Rin dan yang lainnya mengenali lantai ini sebagai daerah kekuasaan untuk anak kelas 8, karena di lantai itu hanya terdapat kelas untuk kelas 8.
Seluruh anak terpana. Tadi di lantai 1, mereka sudah melihat laboratorium komputer, sains, bahasa inggris, UKS, perpustakaan, gymnasium, ruang musik, dan toilet untuk cewek dan cowok. Dan sekarang, mereka melihat ruangan-ruangan yang sama lagi? Sekaya apa sekolah ini sebenarnya? Tidak usah dipikirkan kalau begitu. Untung ruang guru dan ruang kepala sekolah hanya ada di lantai 1. Semua orang memikirkan hal yang sama. Penderitaan hanya ada di 1 tahun pertama di sekolah ini.
Kemudian Akaito merasakan ada sesuatu yang berada di bagian paling belakang barisan. Rahang Akaito mengeras melihat sosok di belakang kelompok 3 yang notabene merupakan kelompok yang ada di barisan paling belakang. Melihat ekspresi Akaito yang sedemikian rupa, seluruh anak mengedarkan pandangan mereka ke belakang dan menemukan sesosok besar yang wajahnya dipenuhi darah.
Rinto yang ada di paling belakang barisan kelompok 3 menemukan bahwa sosok yang tidak dikenali rimbanya itu masih menapak di lantai.
"Kau bukan hantu kan? Kau adalah manusia," Rinto menjelaskan dengan gayanya yang seperti sensei, "kakimu masih menapak di lantai."
Sosok itu mengeluarkan geraman keras dari mulutnya. Tangannya yang bebas mengambil semacam benda tajam seperti kapak yang tadinya diikatkan dengan tali di punggungnya.
"O-ow, atau mungkin tidak. Lariiiiii!" Rinto memberi aba-aba kepada teman-temannya untuk lari. Mereka mulai berlari bertepatan saat sosok itu mengayunkan kapaknya ke arah Rinto yang sekarang sedang sport jantung.
Lenka yang tadinya berada di belakang Akaito menyadari keanehan. Mengapa sejak mereka melihat sosok itu, Akaito tidak ada dimana-mana lagi? Lenka mulai merasakan curiga kepada anak-anak OSIS. Namun, melihat kakak kembarnya yang terlihat pucat itu, dia mau tak mau mengikuti permainan ini sampai selesai.
Rin yang tadinya berada di barisan kelompok 2, sambil menghela nafas, berpindah ke belakang dan menghadapi makhluk yang tidak diketahui asalnya itu. Makhluk itu menggeram kepada Rin dan hanya dibalas tatapan sinis olehnya.
Makhluk itu mengayunkan kapaknya kepada Rin. Len sudah berteriak panik meminta pertolongan sedangkan Rin hanya menatapnya dengan pandangan diamlah-kau-atau-kau-kubunuh. Tiba-tiba, Rin mengangkat tangannya ke atas seperti hendak menahan ayunan kapak itu.
"RIN! TANGANMU BISA PATAH!" Rin berdecak kesal mendengar teriakan panik Len.
"Bodoh, aku tahu apa yang aku lakukan," seketika itu juga, kapak itu berayun ke lengan Rin. Namun, saat kapak itu mengenai tangan Rin dengan kencang, kapak itu hancur dan menjadi butiran-butiran kecil yang terlihat seperti sterofoam.
"Eh?"
"EEEHHHHHHH?!" Rin menggelengkan kepalanya frustasi. Bisa tidak teman-temannya ini diam hanya dalam waktu satu menit saja?
Makhluk itu melepas topengnya dan menunjukkan senyuman puas yang ditujukan kepada Rin. Lui-senpai.
"Hebat," Lui bertepuk tangan dan anggota OSIS yang lain yang ternyata bersembunyi di kelas dekat situ juga ikut keluar dan bertepuk tangan yang ditujukan kepada Rin. Akaito yang tadi sudah bersembunyi pun ikut keluar dan tertawa keras.
"Kalian harus lihat saat bocah kagamine itu pucat pasi," lanjut Akaito yang mengundang death glare dari Rinto.
"Kau hebat Rin, pikiranmu masih bisa berjalan di saat genting seperti ini. Kami akan memberikan hadiah spesial untuk kelompok 2," Lui berjalan ke arah Rin dan memberikannya 5 potong tiket untuk makan malam di restoran Vocaliod. Restoran bintang lima.
"HOREEEE. RIN PENYELAMAT KAMI!" Rin menjitak orang yang menjadi sumber teriakan tadi.
"Len, boleh tidak mulutmu kusumpel dengan tissue bekas kotoran hidung Gakupo?" Rin manjambak rambutnya frustasi. Sementara Gakupo pindah ke pojokan dan menatap rin dengan tatapan kenapa-harus-aku-lagi-yang-kena.
"Darimana kau tahu kalau tadi merupakan kejadian bohongan, Rin?" Lui mengacuhkan Gakupo yang masih sibuk dengan penggalauannya.
"Tuh," Rin dengan acuhnya menunjuk ke kapak atau yang lebih tepat dibilang mantan kapak, "tadi saat Lui-senpai mengayunkan kapak itu berulang kali ke arah Rinto, ada beberapa serpihan seperti serpihan gabus jatuh ke bawah."
"Yah, berarti kita buatnya kurang bagus tuh," Ring membuka suaranya, "seharusnya seperti kataku, kapak itu seharusnya kapak asli biar tidak mudah ketahuan."
"KAU SERIUS MAU MEMBUNUHKU, YA?!" Rinto menjerit frustasi ke arah Ring yang mengundang tawa dari teman-temannya.
"Tidak kok," Ring menahan tawanya, "hanya percobaan apakah kapak itu akan terlihat asli atau tidak."
"YAIYALAH ASLI! ORANG PAKE KAPAK ASLI!" Rinto menjambak rambut ungu panjang milik Gakupo yang berada di sebelahnya. Gakupo melotot ke arah Rinto dengan tatapan tuh-kan-selalu-aku-yang-kena-sama-kalian.
Akhirnya malam itu berakhir damai. Tidur mereka pun damai. Walaupun ada seseorang yang menderita sengsara dalam tenda saat tengah malam. Kaito yang terjebak (atau lebih tepatnya terjepit) oleh Len dan Gakupo. Len yang tidurnya mendengkur dengan kencang. Kalau agak jauh sih it's okay buat Kaito. Tapi ini dengan kaki Len menimpa perut Kaito beserta tangannya yang berada di dada Kaito, jarak mereka menjadi tidak jauh. Bahkan sangat dekat sehingga bibir Len yang mengeluarkan suara dengkuran itu berada di dekat telinga Kaito. Sedangkan Gakupo yang terus-menerus mengigau seperti, "Aku adalah korban bully" atau, "Tuhan, ampunilah dosa mereka yang telah jahat padaku" serta, "Aku tidak boleh jahat pada Miki atau aku tidak dapat terong dari ibunya lagi". Kaito sweatdrop.
.
.
.
.
.
Akhirnya 3 hari MOS sudah hampir selesai dijalani oleh calon-calon siswa-siswi baru Seivoca Junior High School. Mereka sudah menyelesaikan tugas-tugas yang harus mereka emban yang telah diberikan oleh kakak-kakak OSIS yang dengan setia menemani mereka semua.
3 hari telah dijalani dengan mayoritas kemenangan game oleh kelompok 2. Setiap game diberikan hadiah untuk masing-masing kelompok yang memenangkan game tersebut. Seperti Rin yang sudah membuat kelompoknya memenangkan berbagai voucher makan gratis di berbagai restoran yang sebagian terkenal dan sebagian biasa saja. Walaupun ada satu hadiah yang kelompok 2 dapatkan, namun mereka memberikan hadiah tersebut kepada Lenka dengan suka rela. Foto-foto eksklusif Akaito.
Saat ini adalah malam ketiga mereka menjalani MOS. Saat ini adalah acara puncak MOS mereka. Akaito membuka ceramahnya sebagai ketua OSIS.
"Yah, tidak terasa sudah 3 hari kita bersama. Malam ini akan menjadi malam terakhir kalian di sekolah dan besok kalian sudah akan pulang ke rumah kalian masing-masing," Akaito berdeham-deham dan menunjuk kelompok 2 yang berbaris di tengah dengan jari telunjuknya, "juga selamat kepada kelompok 2 karena telah memenangkan banyak lomba pada MOS kali ini. Game pada malam ini merupakan puncaknya. Hadiah game malam ini adalah makanan."
Seluruh peserta MOS mengernyit heran. Kenapa harus makanan? Tidak ada yang lain yang lebih nikmatkah? Akaito menyeringai saat melihat para kouhainya itu mengernyit penuh tanya. Kemudian dia melanjutkan, "makanannya terdiri dari miso soup dengan ekstra daun bawang," Miku dan Mikuo berbinar penuh harap saat mendengar list makanan pertama dan kemudian melancarkan pelototan sengit kepada lawannya masing-masing.
"Kemudian ada jeruk dan pisang," Rin, Len, Rinto, dan Lenka mengerjap bahagia mendengar buah favorit mereka disebut-sebut. Rin dan Len melempar pandangan penuh kekompakan kepada kawannya masing-masing sesama kelompok 2. Jarang mereka dapat sekompak ini kalau tidak untuk mendapat tujuan yang sama. Sementara Lenka melempar pandangan kepada Rinto yang dapat diartikan mengalahlah-sebagai-kakak-kembar-yang-baik-Rinto-nii-chan. Rinto menggeleng dengan antusias. Mana mau dia mengalah demi jeruk kesukaannya.
"Ada es krim three scoop dengan rasa vannila, chocolate, dan strawberry," Kaito meneguk air liurnya. Kemenangan ini akan sangat berharga baginya. Akaito masih melanjutkan list makanannya, "ada carrot soup juga," katanya sambil menyeringai kejam ke arah Gumi. Gumi semakin antusias mendengar makanan favoritnya turut disebut.
"Kemudian cherry cake special juga telah kami sediakan dan turut serta di dalam list makanan," Miki menjerit bahagia sekaligus frustasi mengingat kemungkinannya kecil dia bisa memenangkan cherry kesayangannya itu.
"Ada baguette yang telah kami pesan jauh-jauh langsung dari Perancis," giliran Teto yang menjerit frustasi. Mengingat dia begitu mencintai baguette, roti dari negara Eiffell tersebut.
"Ada sandwich dengan ekstra tuna dan sekeranjang penuh tuna bagi kelompok pemenang," Luka dan Luki menatap satu sama lain dan menjawab keraguan dari mata mereka masing-masing. Gakupo melirik mereka entah kenapa dengan pandangan yang tidak dapat diartikan.
"Juga ada beberapa buah terong yang berasal dari kebun terbaik di daerah sekitar kita," Gakupo mengangguk antusias dan melirik ke arah Miki yang juga menatapnya antusias.
"Lalu untuk aku bagaimana? USB kan tidak dapat dimakan," Piko menatap Akaito dengan malas. Akaito menyeringai dengan licik.
"Untuk kau dan Neru, telah kami siapkan hadiah khusus, USB yang limited edition yang tidak dijual dimanapun, hanya satu di dunia ini. Buatan dari Seivoca Junior High School. Juga handphone terbaru, Samsung Galaxy Note 3 untuk kelompok yang jadi pemenang nantinya," Piko dan Neru terpekur membayangkan mereka akan mendapatkan hadiah semacam itu nantinya.
"Nah, bagaimana? Apakah game ini cukup menarik? Fufu..." Akaito masih menyeringai dengan liciknya sementara para peserta sudah mengangguk dengan antusias.
"Nantikan kelanjutannya, kawan-kawanku yang tercinta. Mari kita makan dulu untuk menenangkan pikiran kita," Akaito merentangkan tangannya lebar-lebar.
Dan hampir semuanya makan seperti orang yang tak bernafsu karena tidak sabar untuk mengikuti permainan yang akan ada hadiah bermacam-macam makanan yang sudah disediakan oleh anak-anak OSIS.
TO BE CONTINUED
Yak, tunggulah Chapter 5 nya :3 chapter 5 akan menjadi last part dari Masa Orientasi Sekolah Seivoca Junior High School! Kira-kira siapa yang memenangkan game terakhir yaaa? XD
ARIGATOU! RATE AND REVIEW PLEASE~
Dan author mau minta maaf untuk beberapa hal berhubungan dengan long hiatusnya. Author sedang sibuk sesibuk-sibuknya. Gomenasai T_T tapi cerita ini gak akan discontinue kok~ keep follow this story ya~ XD
