Because Of A Child?!

Cast : Baekhyun, Chanyeol, Seojun, and

Others.

Pair : Chanbaek and maybe other.

Genre : Humor, Romance

Length : Chapter

Disclaimer : Cast bukan milik saya. Tapi cerita murni hasil imajinasi saya yang aneh kkk

Warning : GS for Uke. Typo(s).

.

Enjoy

.

Baekhyun menemukan seorang anak tanpa orang tua dan hidup di jalanan di taman malam itu. Dan memutuskan untuk membawa anak itu ke rumahnya. Tapi kenapa ia juga membawa seorang lelaki yang baru dikenalnya ke rumahnya?

.

Kai mengangguk, "eee.. Baek, aku—" Kai nampak merogoh kantung jaket yang dikenakannya, ia akan melanjutkan kalimatnya ketika Baekhyun memotong kalimatnya, "Kai, kau bawa jaket lagi kan? Bolehkah aku meminjamnya?"

Kai berkedip lalu menganggukkan kepalanya, "Ya, ada di jok mobilku di depan sana. Itu kuncinya." Ia menunjukkan kunci mobilnya yang tadi ia letakkan di atas meja ke Baekhyun dengan tatapan matanya.

Gadis itu mengambil kuncinya dengan kecepatan seperti kilat, "Baiklah, anjingku pasti kedinginan sekarang Kai, aku akan kembali dalam waktu 5 menit, okay!" dan gadis itu menghilang dengan kecepatan badai.

"Sejak kapan ia punya anjing? Dan apa perlu jaketku ia pasangkan ke... anjing?" Kai menggeleng, lalu wajahnya berubah masam, melirik ke bawah, ke arah kantung jaketnya. Ia mengeluarkan sesuatu dalam kantung itu...

Cincin yang terukir nama Baekhyun di sana.

.

Chapter 4

.

"Yeol hyung, kita mau kemana? Seojun lapar sekali..." bocah setinggi paha orang dewasa itu mendongak menatap lelaki tinggi yang saat ini tengah menggandengnya, tangannya yang bebas mengusap perutnya yang sedari tadi terasa panas karena lapar.

Chanyeol menatap Seojun dengan tatapan bersalah, "Maafkan, hyung. Kita akan beli makanan sekarang, oke?" Chanyeol mengulurkan tangannya ke arah Seojun lalu dengan satu kali hitungan ia berhasil menggendong bocah itu di dadanya.

Seojun mengeluarkan tawanya yang lucu lalu mencubit pelan hidung Chanyeol, "Mengapa Yeol hyung tidak pulang saja? Hyungkan punya—" cubitan di bibirnya dari Chanyeol membuatnya menghentikan ucapannya.

"ssstt... Seojunnie tidak boleh bicara apa-apa tentang hyung saat kita berada di luar seperti ini, mengerti?"

Seojun mengangguk lalu kembali tertawa lucu sambil mengeratkan kedua lengannya yang melingkari leher Chanyeol. Terlihat akrab sekali.

"PARK CHANYEOL!"

"Eh?" Chanyeol menoleh segera ketika telinganya menangkap sebuah suara yang meneriakkan suaranya dari belakang. Dan ia mendapati seorang gadis yang dikenalnya sedang berlari tergopoh-gopoh kearahnya dengan sebuah jaket di tangannya.

"Eh, Baekhyun? Kenapa kau berlari seperti itu? Dan bagaimana kau tau aku dan Seojun di sini?" Ia bertanya dengan heran ketika gadis itu kini sudah berdiri terengah-engah di hadapannya dan Seojun.

Baekhyun –gadis yang berlarian mengatur nafasnya sebentar lalu menjawab, "Kau itu sebenarnya berjalan atau berlari sih?!"

"Berjalan kok!" Chanyeol menatap Baekhyun polos sambil menurunkan Seojun dari gendongannya, "Memang kau kenapa mengejarku?"

Baekhyun menyisir rambutnya yang berantakan menggunakan jarinya, "Ini." Lalu mengulurkan jaket yang ia pinjam dari Kai ke arah lelaki jangkung itu.

Chanyeol berkedip dan menerima jaket yang diulurkan Baekhyun, "Apa ini?"

"Kau bodoh apa?! Jelas-jelas itu jaket!" gadis itu berseru gemas.

"Maksudku kenapa kau memberikannya padaku huh?"

Chanyeol terkekeh melihat gadis di depannya terlihat gugup, "K-kau pasti kedinginan. Bukankah jaketmu kau pakaikan ke Seojun? Udara hari ini sangat dingin."

Chanyeol menyeringai mendengar jawaban gadis pendek itu, "Jadi... kau mengkhawatirkan ku?"

Baekhyun terbatuk dan mengalihkan pandangan ke arah Seojun, "Annyeong, Seojunnie! Seojunnie sudah makan siang?"

Bocah kecil itu menggeleng, "Belum, noona.. Seojun lapar sekali.." jawab bocah itu.

"Yak! Kenapa kau tak mengajaknya makan, Park Chanyeol?!"

Chanyeol terbatuk ketika Baekhyun melotot mengerikan ke arahnya.

"Aku sekarang mau mengajaknya makan kok! Kau saja yang datang tiba-tiba sebelum kami makan!"

Baekhyun menghela nafas lalu kembali menatap Seojun, "Ayo kita makan siang, Seojunnie. Noona akan membelikan Seojun makanan yang enak."

"Yeay!"

Baekhyun menggandeng tangan Seojun lalu berjalan meninggalkan Chanyeol yang menatap gadis itu dengan heran –lagi.

"Yak! Kau akan membelikanku makanan juga kan, Byun-ssi?" ia bertanya sambil meraih tangan Seojun yang bebas lalu berjalan beriringan bertiga.

"Tentu saja.." Chanyeol tersenyum lebar, "—tidak." Dan senyumnya luntur seketika ketika gadis itu melanjutkan perkataannya.

"Ahh.. ayolah..."

.

.

Los Angeles, America

Wanita berumur itu duduk di sebuah kursi putar dengan pandangannya menghadap jendela yang menampakkan pemandangan kota terkenal di Eropa, Los Angeles. Pandangannya menerawang, nampak sekali ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

"Apa yang kau pikirkan, sayang?"

Pertanyaan dari suaminya menyadarkannya, ia mengalihkan pandangan ke arah suaminya yang kini berdiri tepat di sampingnya, "Aku hanya..."

"Kau merindukan putra kita?"

Wanita itu mengangguk, pandangannya kembali menerawang, "Sudah beberapa bulan ini dia pergi ke Seoul. Dan beberapa hari ini dia sama sekali tidak memberitahukanku keadaannya. Apa dia baik-baik saja?"

Jung Yunho menatap istrinya dengan prihatin, "Tentu saja dia baik-baik saja. Dia sudah besar. Lagipula Seoul adalah kampung halamannya. Kau terlalu memikirkannya, sayang."

Jaejoong –wanita itu menghela nafas, "Tapi dia sudah lama sekali meninggalkan Seoul, dia tidak mengingat siapa-siapa di sana, bagaimana jika—"

"ssstt.. Kau terlalu mencemaskannya, hanya itu. Dia pasti akan menemukan apa yang dicarinya segera."

Jaejoong tersenyum ke arah Yunho lalu mengangguk pelan, "Kau benar."

"Lagipula bukan hanya putra kita yang berada di Seoul. Putri kita juga berada di sana, dia pasti akan membantu kakaknya dan hidup dengan baik di sana."

.

Because of A Child?!

.

Chanyeol memandang burger miliknya dan milik Seojun bergantian, matanya menyernyit lalu mengalihkan pandangan ke arah Baekhyun dengan tatapan menuntut, "Byun, apa punyaku dengan punya Seojun tertukar?"

Baekhyun yang sedang duduk dengan melipat kedua lengannya di perut menggeleng yakin.

Chanyeol mendesah, matanya melirik Seojun yang kini sedang melahap burgernya dengan lahap di samping lelaki tinggi itu.

"Bukankah ini sangat sangat dan sangat tidak adil? Bagaimana mungkin kau memberikan bocah kecil itu makanan sebesar itu sedangkan lelaki sebesar ini kau berikan porsi makan seperti bayi huh?" Chanyeol mengeluarkan protes dengan tangannya yang menunjuk-nunjuk –mini- burger nya.

Gadis di depannya kembali menggeleng lalu memindah lipatan lengannya ke atas meja, "Tidak, Park. Anak kecil membutuhkan banyak makanan untuk pertumbuhan. Sedangkan kau? Wahh.. hidupmu pasti enak hingga bisa setinggi itu."

Chanyeol berdecak lalu menunjuk-nunjuk badan Baekhyun, "Wahh.. berarti hidupmu pasti menyedihkan sekali hingga menyusut seperti itu."

"A-APA KATAMU?!"

"Eiit.." Chanyeol segera mendahului Baekhyun yang hendak mengambil vas bunga di atas meja, "Kebiasaanmu melempari barang-barang ke orang lain harus dihentikan, Nona Byun."

Baekhyun mendelik ke arah Chanyeol, "Kebiasaanmu mengata-ngatai orang lain benar-benar harus kau lanjutkan, Tuan Park."

"Tentu saja!"

Sungguh! Baekhyun benar-benar ingin melipat-lipat tubuh Chanyeol dan menjadikannya ganjalan pintu kamarnya sekarang.

Chanyeol mengendikkan bahu, lalu melahap burger mini miliknya dengan terpaksa, mungkin nanti ia tetap harus mengeluarkan uang untuk membeli ramyun.

"Ngomong-ngomong, Park Chanyeol. Apa kau benar-benar tak punya tempat tinggal? Lalu bagaimana dengan orang tuamu?"

Chanyeol melahap sisa burgernya lalu memandang Baekhyun yang kini juga tengah memandangnya, "Aku datang dari jauh, tentu saja aku tak punya tempat tinggal disini."

Baekhyun menyernyit, "Tempat yang jauh?"

Chanyeol mengelap bibirnya dengan tangannya membuat gadis di depannya melempar sapu tangan ke arahnya, "Terimakasih." Lalu ia mengelap bibirnya menggunakan sapu tangan Baekhyun yang berbau sangat harum –menurutnya-

Baekhyun menatap Chanyeol dengan tatapan mendesak, memaksa lelaki itu melanjutkan ceritanya.

"Kau tidak perlu tau aku datang darimana okay."

Baekhyun berdecak kesal, "Baiklah-baiklah. Lalu orang tuamu?"

"Aku tidak tau. Aku datang kesini untuk mencari mereka." Dan seorang lainnya –lanjut Chanyeol dalam hati.

"Mencari orang tuamu? Bagaimana bisa? Lalu selama ini kau tinggal dengan siapa sebelum pergi ke sini?"

Chanyeol melipat kedua lengannya di atas meja dan menatap Baekhyun yang juga melipat lengannya di atas meja membuat jarak mereka lebih dekat, "Untuk sekarang itu saja yang bisa kuceritakan padamu, Nona Byun."

"Aduh!" Baekhyun mengaduh ketika Chanyeol membenturkan dahi mereka, "Kenapa begitu? Paling tidak ceritakan padaku agar aku percaya padamu dan tetap memperbolehkanmu tinggal di rumahku."

Chanyeol menunjukkan wajah berpikir, "Mungkin jika kau memperlakukanku dengan lebih baik aku akan menceritakan semuanya padamu, bagaimana?"

"Padahal kau yang selalu saja mengata-ngatai orang yang memberikanmu tempat tinggal ini."

Chanyeol tertawa melihat Baekhyun yang cemberut, "Maafkan aku, tak akan ku ulangi deh."

DEG DEG DEG

Baekhyun secara diam-diam memegang dadanya yang entah mengapa berdebar keras ketika Chanyeol mengacak-acak rambutnya tadi. Apa ini?

"Seojunsudah selesai?"

Gadis itu kembali sadar ketika suara Chanyeol terdengar lalu memandang Seojun yang mengangguk ke arah lelaki itu dengan bibir yang belepotan saus.

Chanyeol tertawa –lagi lalu mengelap bibir Seojun dengan sapu tangan milik Baekhyun tadi.

DEG DEG DEG

Bagaimana rasanya jika Chanyeol mengelap bibirku seperti itu? Bukankah itu romantis sekali? Aku selalu ingin diperlakukan seperti itu ketika aku melihat adegan itu di drama-drama. Apalagi lelaki tinggi dan tampan sepertinya...

"Baek? Baek? Kau kenapa?" Chanyeol yang telah selesai mengelap bibir Seojun memandang bingung ke arah Baekhyun yang kini tengah melamun. Ia mengibaskan tangannya di depan gadis itu, "Baek?"

"Eh? Ahh.. Apa yang kupikirkan?!"

Chanyeol tertawa ketika melihat Baekhyun sudah tersadar dari lamunannya dan membentur-benturkan kepalanya ke meja.

"Kau memikirkan hal yang kotor ya?"

Baekhyun kembali duduk tegap dan menatapnya dengan serius, "Ya. Pikiran yang saaaaaangaaat kotor!"

Chanyeol kembali tertawa mendengar jawaban gadis itu.

"Tapi ngomong-ngomong, Baek, itu kunci apa?" Chanyeol bertanya sembari menunjuk kunci yang tergeletak di depan Baekhyun, "Seperti kunci mobil? Kaukan tidak bawa mobil tadi?"

"Ah.. ini?" Baekhyun mengangkat kunci itu, "Kunci mobil milik teman –eh.. jam berapa ini, Yeol?"

Chanyeol menyernyit bingung tapi tetap melihat ke arah jam tangannya, "Jam 02.35,"

Baekhyun melotot, "Astaga! Aku meninggalkannya satu jam!" gadis itu dengan tergesa mengambil tas selampangnya dan berdiri, "Kutinggal dulu okay? Seojunnie, kalau Chanyeol hyung memperlakukanmu dengan buruk beri tahu noona nanti okay? Bye.."

Chanyeol menatap kepergian Baekhyun, "Dia berlagak seperti kakak kandung saja." Lalu menyunggingkan senyum menawan miliknya.

.

.

Lelaki berparas tampan itu meletakkan sikunya di atas meja lalu menyangga kepalanya di telapak tangannya. Matanya menatap prihatin makanan di depannya yang sudah dingin. Sekali lagi ia melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 02.40 dan menghela nafas. Mungkin orang yang ditunggunya tak akan kembali.

"Kai! Maafkan aku! Tadi ada sesuatu yang tak bisa kutinggalkan. Maafkan aku."

Kai –lelaki tadi- mendongak mendapati gadis yang sedari tadi ditunggunya terengah-engah di depannya. Rambutnya berantakan dan ia melihat banyak keringat di kening gadis itu. Ia berdiri memutari meja dan berdiri tepat di samping gadis itu lalu mengambil sapu tangannya.

"Kau tidak perlu berlarian seperti ini."

Baekhyun terdiam ketika lelaki itu mengelap keringat di keningnya dan merapikan rambutnya, "Lagipula kau tau pasti aku tak akan meninggalkanmu."

Ucapan lelaki itu membuatnya tersenyum, ia berjinjit lalu melingkarkan kedua lengannya ke leher teman baik –yang disukainya- itu, memeluknya.

"Terimakasih. Dan maafkan aku, Jongin-ah."

Kai tersenyum lantas balik memeluk Baekhyun dengan melingkarkan kedua lengannya di pinggang gadis itu, "Aku lebih suka kau memanggilku begitu."

"Kenapa?"

"Karena yang memanggilku Jongin hanya orang-orang yang benar-benar dekat denganku."

"Jadi aku termasuk orang-orang yang sangat dekat denganmu?"

"Tentu saja. Setelah keluargaku, kau yang paling dekat denganku. Lalu Sehun dan Luhan noona."

Baekhyun melepas pelukan mereka tanpa mengetahui perubahan ekspresi dari Kai, "Tapi kenapa Sehun dan Luhan eonnie tetap memanggilmu 'Kai'?"

Kai mengendikkan bahu, "Entah. Aku hanya suka kau yang memanggilku Jongin."

Baekhyun tertawa, "Baiklah. Aku akan memanggilmu Jongin mulai sekarang."

Kai tersenyum lalu ia melingkarkan kedua lengannya ke bahu Baekhyun, memeluknya kembali, "Bukankah sudah lama kita tidak seperti ini? Aku kangen saat-saat seeperti ini."

Baekhyun tertawa dengan lengannya berada di pinggang Kai, "Tapi ini di tempat umum, Jongin."

"Aku tidak peduli. Ini gara-gara kau yang terlalu sibuk di dunia perkuliahan hingga melupakanku."

Baekhyun kembali tertawa, "Maafkan aku."

BRAAAKK!

"PANAASS!"

"MAAFKAN AKU!"

Kai dan Baekhyun sontak melepakan pelukan keduanya ketika mendengar suara barang yang jatuh dan teriakan orang. Keduanya mendapati seorang pegawai restoran dengan panik mengelap baju seorang lainnya yang nampak basah. Di lantai tergeletak nampan dan juga sebuah gelas minuman dan sebagian minumannya yang tumpah.

Dia...

.

.

To Be Continued

.

.

A/N :

Annyeong~ I AM BACK kkk

Di chapter kemarin maaf sekali, TYPO yang author tulis benar-benar keterlaluan ._. Terimakasih yang sudah memberitahu saya.. *bow di chapter kemarin harusnya saya tulis Luhan eonnie. Jadi Luhan itu GS karena dia itu uke. Tetep Sehunnie kok yang seme =D Maafkan author. Gomawoyo~ ^^

Gimana chapter ini? =D apa tambah membosankan? Bisa tebak siapa yang dilihat Baekhyun dan Kai di restoran itu?

Saya tunggu Review kalian!

Yang sudah Review, Fav dan follow FF ini, Kamsahamnida~

Review lagi?

See Ya Next Time ^^