Oke aku tau ini update ngaret pake banget, dan aku tau readers benci itu.

Sekali lagi aku minta maaf, hampir dua minggu kemaren bener-bener ga bisa control perasaan. Mager buat apapun. Dibuat galau 4orang sekaligus dengan sifat yang amat berbeda. Aku suka mereka semua dengan perberbedaan sifatnya,sebut aku player. Ga bisa mencoba serius sama satu orang, Haha tapi gimana kalo kamu juga ada diposisi aku mencintai dan dicintai 4orang berbeda sifat dan itu buat kamu nyaman. Dan jujur aku benci akan perasaan semacam ini. Mana gue tukang nyakitin hati mereka kadang. Haha

Maaf lagi bener-bener baper *bahasa gaholnya* jadi bikin ngaret update ff, wkwk

Jadi curhat kan, haha

Gih monggo sekarang dibaca aja storynya.

~oOOo~

Jongin fokus pada suara kakinya saat menyentuh lantai treadmill, ritme dentuman menjadi sebuah soundtrack therapi pada hukuman yang ia berikan pada tubuhnya. Meskipun Jongin sudah mengatakan pada Sehun bahwa dirinya akan tidur, tak mungkin Jongin bisa melakukannya hingga ia mengeluarkan energi yang terpendam yang ia hasilkan dari pelajaran-pertama-yang-berubah kacau untuk Sehun.

Jongin tak bisa menghitung lagi sudah berapa sering ia memutar kejadian itu dikepalanya seperti DVD yang terjebak mengulang-ulang tanpa memiliki tombol off. Matanya tertutup hampir di sepanjang pengalaman itu, tapi Jongin tidak berbohong saat ia mengatakan bahwa tangannya akan menciptakan bayangan mereka berdua di dalam pikirannya. Sudah hampir satu dekade sejak tangannya menyentuh media pahat apapun, tapi tangan itu tidak pernah lupa bagaimana mengingat setiap detail dari sebuah subjek. Tidak lupa bahkan dengan pengaruh alkohol.

Saat keringat membanjiri tubuhnya, Jongin mencoba untuk memutuskan momen yang tepat saat pelajaran itu berubah menjadi sesuatu yang lebih dari sekedar gairah. Bahkan, jika dia harus jujur pada dirinya sendiri, itu mungkin sudah terjadi sejak ia menginjakkan kakinya di kamar itu dan melihat Sehun dalam pakaian renang yang seksi, mata Sehun yang tertutup, dan menunggu dirinya.

Sehun tak pernah menonjolkan tubuhnya seperti pria lain. Sehun sebenarnya lebih mirip kutu buku dan sepertinya lebih nyaman berdiri dibawah bayangan dari pada seseorang yang suka menjadi sorotan, sama seperti kakaknya. Saat remaja, Sehun sudah seperti adik laki-laki yang manis bagi Jongin, membayangkan seberapa sering waktu Sehun habiskan dirumah keluarga Kim. Jadi mengapa perasaan sayang seorang kakak tiba-tiba lebih terasa seperti gairah sepasang kekasih? Sial! Jongin harus memikirkan apa yang harus ia lakukan pada pelajaran yang ia janjikan pada Sehun atau ini akan menjadi beberapa bulan yang terasa seperti di neraka.

Melirik pada odometer di layar, Jongin memeriksa jaraknya untuk mengatur angka sepuluh dan membuat dirinya berjalan untuk pendinginan di atas treadmill.

Jarak. Itu dia. Jongin harus tetap menjaga jarak saat mengajari Sehun bagaimana menjadi dirinya yang baru. Mungkin selanjutnya Jongin akan menggunakan metode pengajaran profesional. Jongin bisa berdiri di sisi lain ruangan dan Sehun bisa duduk di sofa dan mencatat beberapa hal. Jongin tertawa keras saat ia membayangkan skenario menggelikan itu. Sampai saat Sehun di skenario menggelikan itu tiba-tiba memakai seragam sekolah yang ketat dan meminta bantuan di pelajaran Cara Menggoda nomor 101.

"Sial!"

Jongin memukul tombol STOP dan turun dari mesin itu. Bernafas cepat dan berat,membiarkan kesadarannya kembali dan menutup matanya, tapi memutuskan untuk membilasnya sebelum gambaran itu kembali. Sepertinya akan ada mandi air dingin sebelum Jongin tidur malam ini. Dan mulai besok, semua pelajaran akan benar-benar tidak ada sentuhan tangan dan setidaknya jarak diantara mereka berdua harus sejangkauan tangan Jongin.

~oOOo~

"Tentu saja tidak!"

Jongin terkekeh dari tempat duduknya di depan ruang ganti department store ketika Sehun mencoba pakaian kelima. Setelah sesi terapi pagi mereka dan tangan lumpuhnya sudah dilatih, mereka pergi keluar untuk makan siang. Melihat cara Sehun bersikap di depan publik adalah sebuah penyiksaan bagi Jongin.

Sehun itu orang yang cenderung bereaksi bukannya berpartisipasi di dalamnya, atau bahkan berinisiatif. Ketika diajak bicara, Sehun menjawab. Ketika diberi sesuatu, Sehun akan menerima. Tapi ketika dunia tidak berinteraksi dengannya, Sehun seperti berada di dalam gelembung. Sehun bahkan tidak melihat orang-orang di sekelilingnya ketika di restoran. Untuk alasan apapun, Sehun bersikap seolah-olah ia memang tidak perlu membuat riak ombak lagi di dalam kolam kehidupan ini.

Bagaimana dengan Jongin? Ia lebih suka pendekatan yang agresif, tapi Jongin tahu hal itu bukan untuk semua orang. Jika Sehun ingin Dokter Park Chanyeol sialan itu memperhatikannya, biar bagaimanapun, Sehun harus membuat percikan kecil. Untuk itu, Jongin memulai dengan mengubah penampilan luar Sehun terlebih dulu.

Ketika mereka selesai makan siang, Jongin mengatakan pada Sehun tentang rencananya untuk membawa Sehun berbelanja pakaian baru. Tentu saja Sehun mengatakan tidak, tapi ketika Jongin mengancam untuk membakar setiap helai pakaian di lemarinya, akhirnya dengan enggan Sehun berubah pikiran.

Jongin sangat terkejut ketika tidak menemukan sehelai pun pakaian yang layak di lemari Sehun. Jelas terlihat Sehun memang memiliki masalah dengan tubuhnya, meskipun dalam pola pikir Jongin, ia masih tidak tahu mengapa. Tubuh Sehun ramping dan fit. Dadanya bidang seperti pria normal lainnya, dan Jongin harus menumbuhkan rasa percaya diri pada pria manis itu jika Sehun berpikiran bahwa setiap pria hanya ingin bermain dengan sepasang payudara Dolly Partons. Tapi Sehun adalah seorang pria manis yang sangat cerdas, sehingga seharusnya ia mengetahui bahwa hal itu konyol jika pesona dia tidak mempan, kan?

"Ayo Sehun, mari lihat ini." Asisten pria yang melayani mereka telah memilih semua pakaian yang menonjolkan tubuh Sehun dan bukan menyembunyikannya. Jongin menyetujui semua yang telah dicoba Sehun. Dari celana jeans untuk musim panas, Sehun terlihat menarik dalam setiap pakaian yang ia coba.

"Tidak. Ini berlebihan Jongin, aku akan melepasnya."

Karena asisten mereka sedang membantu pelanggan lain, Jongin mengasumsikan bahwa itu adalah kemeja baby blue yang Sehun bersikeras harus ada di setiap lemari setiap pria. "Entah kau keluar, atau aku yang masuk. Tidak masalah bagiku."

Sehun mendesah putus asa dan menggerutu menyuarakan nama Jongin bercampur ancaman yang sangat tidak menyenangkan pada kejantanannya. Namun Jongin tersenyum. Jongin tidak bisa menahannya; Sehun sangat menggemaskan ketika marah.

Akhirnya Sehun membuka pintu kamar ganti dan berjalan beberapa langkah hingga berdiri di hadapan Jongin, Sehun meletakan tangannya dipinggul dan menatap Jongin. "Ini tidak sopan."

Jongin mengamati dengan pelan dan tidak bisa melihat bahwa itu bisa dikatakan tidak sopan. Bahkan ia sangat kecewa. Meskipun bahan tipis kemeja itu membungkus tubuhnya seperti kemeja malam yang seksi untuk ukuran seorang pria.

"Itu bukannya tidak sopan sayang," kata Jongin sambil bersandar ke bantal dan menyilangkan tangannya di depan dada. "Itu disebut membosankan,"

"Oh, benarkah?" Sehun berputar,memunggunginya…dan Jongin lupa untuk nafasnya. Kemeja tipis itu benar-benar menunjukkan tubuh indah milik Sehun.

"Ya Tuhan." Sepertinya Jongin butuh Jas untuk tidak terlalu mempertontonkan indahnya tubuh Sehun dengan tidak mengurangi pesona yang ada pada Sehun

"Seperti yang kubilang…" Sehun berjalan kecermin tiga sisi, dan membiarkan tangannya jatuh di sisi tubuhnya. Jongin pindah berdiri di belakang Sehun. Jari-jarinya gatal untuk menelusuri lekuk tulang punggung Sehun.

Jongin tidak bisa menahan untuk bertanya-tanya bagaimana reaksi Sehun pada hal itu, dimana orang bisa melihat mereka, dan tidak pula sedang mabuk karena anggur. Apakah Sehun akan menarik diri dalam keterkejutan dan rasa malu? Atau apakah Sehun akan bergetar dan melengkung karena sentuhannya?

Ketika Jongin sadar bahwa ia menempatkan dirinya dalam bahaya mengalami ereksi meskipun percaya pada keyakinannya malam kemarin, Jongin membuang pikiran seksualnya dikepalanya, berharap membunuh pikiran itu sebelum merusak puasa yang ingin ia lanjutkan demi kepentingan Sehun.

Hentikan itu, Brengsek.

"Kau sedang tidak memberi pertunjukan striptease pada siapapun, Sehun."

"tapi—"

"Cukup. Tidak peduli kau percaya atau tidak, tapi kemeja ini seksi dan berkelas." Tatapan Jongin jatuh pada sosok Sehun di cermin yang terbuka untuk dipandang oleh seluruh dunia. "bagian belakang adalah salah satu favoritku dari tubuh wanita. Aku suka menelusuri dan menjilati garis dangkal tulang punggungnya, dari atas dan terus turun ke lekuk kembar di bagian di dasar punggung." Jongin nyaris tidak bisa menghentikan dirinya untuk menambahkan bahwa ia juga senang melihat gerakan tulang belikat kekasihnya ketika ia meletakkan tangan di atas kepalanya untuk disetubuhi dari belakang.

Jongin mendongak dan mendapati mata Sehun menyipit dan meneliti dirinya. "Maksudku, Sehun, punggung wanita sangatlah anggun. Bukannya memalukan. Dan kau tidak jauh beda untuk mempesona pria lainnya." Ketika Sehun mengucapkan uh-huh yang tak jelas, Jongin berdeham dan menyilangkan tangannya di depan dadanya. "Apa?"

Sehun menggelengkan kepalanya perlahan, tidak yakin apa yang akan ia katakan pada Jongin. "Ada sesuatu yang lebih darimu, bukankah begitu?"

Jongin tersenyum dan mengangkat alisnya. "Aku bukan Trasformer, jika itu yang kau maksud."

Setidaknya hal itu membuat Sehun tertawa ringan ketika ia berbalik menghadap Jongin. "Tidak, maksudku, kau bukan hanya seorang petarung. Kau melihat sesuatu dari sisi yang berbeda dari kebanyakan orang. Ada sisi yang sangat artistik dalam dirimu,"

Tidak ada yang pernah mengatakan hal itu kepada Jongin sebelumnya. Ini seperti seluruh aspek kehidupannya sudah menghilang sejak ia melakukan apapun kecuali bertarung. Bukan berarti Jongin tidak mencintai olahraganya, tapi terkadang Jongin berharap itu bukanlah satu-satunya yang ia lakukan.

Jongin mengangkat bahu. "Mungkin aku memang pernah. Ketika SMA aku mencoba untuk mengambil mata pelajaran pertokoan, tapi karena beberapa kesalahan aku ditempatkan di kelas seni. Aku tidak bisa melukis dengan baik, tapi aku belajar bagaimana membuat sketsa dan menggambar dengan cukup baik. Dan kemudian kami memahat patung…" Jongin menegang ketika mengingat ketidak setujuan ayahnya saat itu membanjiri kepalanya.

Sebenarnya sedikit sulit untuk Jongin mengingat tentang pahatan itu tanpa kenangan tentang ayahnya yang mengacaukan semua perlengkapan dan studio sederhana buatannya sendiri.

"Jongin?"

Jongin tersentak dari pikirannya, matanya mengerjap.

"Bagaimana dengan patung itu?"

"Sudahlah, itu tidak penting." Jongin berbalik untuk memanggil pelayan untuk mengumpulkan pakaian tersebut, tapi Sehun meraih lengannya untuk menghentikannya, menempatkan dirinya di garis pandang Jongin lagi.

"Ya itu penting. aku bisa melihatnya di matamu. Ini sangat penting untukmu. Please, katakan padaku." Kata-kata Sehun dikombinasikan dengan jemarinya yang menekan telapak tangan Jongin, seperti infus hormon costisone secara mental. Ini sama sekali tidak memperbaiki masalah, tapi membuatnya mati rasa sudah cukup untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Jongin menghela nafas dalam-dalam dan menceritakan kisah yang hanya pernah ia ceritakan pada Suho. "Aku menikmati memahat. Aku menyukainya karena aku bisa membuat sesuatu dengan tangan yang sama untuk menghancurkan lawanku di ring. Kau betul. Aku melihat hal-hal secara berbeda. Aku tidak hanya melihat sebuah apel, tapi aku memperhatikan lekuk dan garis-garis yang membentuk apel itu sendiri. Termasuk memar di satu sisi yang membuat sedikit datar seukuran sebuah sidik jari. Tapi orang-orang tidak mau tahu sisi itu dalam diriku. Mereka ingin mengetahui apa yang kulakukan untuk menurunkan berat badan, rutinitas baru apa yang aku dan pelatihku lakukan, dan kurasa, aku akan pulang dengan tangan terangkat di pertandingan berikutnya. Itulah keahlianku. Itulah diriku."

"Tapi kau salah," kata Sehun, melangkah sedikit kedepan. "Siapakah dirimu bukan hanya satu hal. Ini adalah semua yang kau sukai. Kau bisa menjadi pematung Jongin, dan sekaligus menjadi petarung jika itu yang kau inginkan."

Kelembutan dari keyakinan Sehun membuat Jongin ingin memeluk Sehun dan mencium bintik berbentuk hati di sudut bawah mata cokelatnya yang lembut. Mata yang menembus segala omong kosong dirinya dan melihat jiwanya secara sekilas.

"Kau tahu apa yang kuinginkan? Aku ingin makan." Jongin memanggil seorang pelayan wanita dengan tangannya. "Tolong bantu dia dengan label kemeja yang satu ini. Dia akan langsung mengenakannya keluar toko. Kemudian kami akan mengambil semua yang sudah dicobanya. Terima kasih."

Ketika Jongin menyerahkan kartu kredit, Sehun terbelalak menatapnya. Jongin sangat senang Sehun mengenakan kontak lensanya hari ini. Sehun terlihat seperti pustakawan seksi dengan kacamatanya, tapi Jongin lebih suka ekspresi mata cokelat Sehun tanpa terhalang. Bahkan meskipun ekspresinya tengah menunjukan rasa marahnya.

"Apa lagi yang salah?"

Sehun menyilangkan tangannya didadanya dan mengangkat dagunya. "Aku mungkin bukanlah selebriti besar UFC sepertimu, tapi aku tidak semiskin itu. aku akan membayar untuk pakaianku sendiri."

Jongin tidak pernah mengira Sehun akan mengatakan hai itu. Jongin tidak terbiasa dengan orang yang bersikeras membayar barang-barang mereka sendiri ketika bersamanya. Jongin mempunyai banyak uang lebih yang Jongin sendiri tidak tahu harus digunakan untuk apa semua hasil pertarungan dan produk pendukungnya. Bahkan pria manis itu bersikeras untuk membeli pakaiannya sendiri yang Jongin pilihkan menegaskan karakternya.

"Hun," kata Jongin, menarik tangan Sehun kebawah hingga Jongin bisa menggenggam tangan pria manis itu, dengan efektif memecah bahasa tubuh yang menunjukan kemarahannya. "Aku tahu kau bisa membeli pakaianmu sendiri. Kau sukses, kuat, pria mandiri yang tidak memerlukan orang lain untuk merawatnya."

Api dimata Sehun sedikit meredup ketika ia berusaha untuk tetap bertahan. "Kau benar. Aku memang tidak butuh."

"Tapi, pakaian baru ini adalah ideku, jadi aku yang akan membelikan pakaianmu dan membawamu pergi makan malam."

Sehun baru saja akan berkomentar—ini seperti hal kesukaan seorang Oh Sehun yang keras kepala, ya tuhan—kemudian Jongin menempatkan jarinya di bibir Sehun dan berkata. "Tidak ada komentar. Aku akan pergi ke bagian departemen store untuk pria sebelah sana, dan mencari sesuatu yang lebih tepat dari pada celana pendek kargo dan polo ini. Dan beberapa ibuprofen (obat anti peradangan) untuk bahu sialan ini. Tunggu disini dan aku akan segera kembali untuk menjemputmu."

Jongin menurunkan jarinya dan berbalik untuk pergi ketika ia mendengar, "Tapi—"

Dengan geraman frustasinya, Jongin meraih tengkuk Sehun dan menarik tubuhnya ketika ia menanam bibirnya pada bibir Sehun. Tubuhnya kaku, lengkingan kaget keluar dari suatu tempat di dalam tenggorokannya. Tapi sedetik kemudian lengkingan kecil Sehun berubah menjadi sebuah erangan dan tubuhnya meleleh diatas tubuh Jongin. Di suatu tempat di dalam pikiran Jongin, hari kecilnya meneriaki kata-kata 'pendekatan tanpa intervensi' tapi dengan cepat libidonya menjatuhkan hal itu ke matras, membuang segala pengingat yang tak diinginkan dengan tiba-tiba.

Bibir Sehun terasa hangat di bawah bibir Jongin dengan rasa manis dibibirnya. Jongin yakin lidahnya akan terasa ranum dan manis juga, tapi nalurinya mengatakan jika Jongin menyebrangi garis itu maka ia tidak akan bisa berhenti. Sebelum Jongin lepas kendali terhadap kebutuhan primernya dan mendesak Sehun ke ruang ganti terdekat dan menunjukan padanya seberapa bagus jika kemeja itu tergeletak dilantai, Jongin menghentikan ciumannya untuk melihat tatapan kebingungan di wajah Sehun.

"Dasar keras kepala, apakah kita harus terus berdebat? Cukup ikuti rencanaku atau taktik yang selanjutnya adalah tamparan pantat di depan umum."

Sehun terkesiap dan menjauh dari Jongin dengan pipi memerah untuk menyesuaikan dengan bibir warna rubi yang baru-saja-dicium. Rupanya gambaran tangan Jongin di pantat Sehun adalah satu-satunya hal yang Jongin butuhkan untuk menakut-nakuti Sehun. Benarkah hanya itu? Setelah melihat lebih dekat Jongin bersumpah melihat kilatan birahi di mata Sehun. Mungkinkah Sehun yang polos memiliki setan kecil didalam dirinya?

Sialan. Hanya pikiran itu saja sudah membuat penis Jongin mengeras di balik celananya. Jongin harus keluar dari sana. Cepat.

Ketika Jongin bicara, ia terkejut mendengar getaran di suaranya. "Aku tidak akan lama," kemudian Jongin berputar dan melangkah keluar untuk menemukan toko pakaian pria lain yang terdekat…dan sedikit waktu untuk menghilangkan ereksinya, dan sekarang Jongin benar-benar sedang terangsang pada adik sahabatnya.

~oOOo~

Sehun tak bisa mengingat kapan terakhir kali merasa segugup ini sebelumnya. Perutnya terpilin luar dalam ia pikir untuk memastikannya jika melihat ke bawah ia dapat melihat kekusutan dimana normalnya ada perut yang rata.

Jongin menuntun Sehun pelan dengan tangan yang besar pada punggungnya melalui labirin restoran sampai pemilik menunjukkan meja mereka. Setelah memegang bangkunya dan duduk sendiri, Jongin berjalan dekat meja persegi berlinen pada bangkunya yang berseberangan dengan Sehun.

Sehun heran dengan cara bergerak Jongin yang anggun dan dengan mudahnya memakai pakaian mahal yang Jongin beli saat mereka keluar. Kemeja putihnya pas memeluk tubuh Jongin, menempel pada otot-ototnya setiap kali bergerak. Meskipun mereka berada di hotel bintang lima, ia senang karena Jongin tidak benar-benar menggunakan pakaian resmi, membiarkan kancing atasnya tidak terkancing dan membiarkan kemejanya terbuka di atas jins gelapnya.

Dengan rambut Jongin yang disisir ke atas, menunjukkan garis depan kepalanya, dan tatonya terlihat melalui kemejanya, Jongin adalah simbol seorang bad boy. Jelas merupakan kebalikan dari tipe pria kesukaannya. Meskipun entah bagaimana Sehun menemukan fakta bahwa Jongin benar-benar mempesona. Seperti ciumannya.

Sehun dengan cepat mengambil menu untuk menyembunyikan panas di seluruh wajahnya saat mengingat bibir Jongin di bibirnya. Sehun tahu Jongin melakukannya untuk menutup mulut Sehun—tidak secara seksual—tapi saat mulut Jongin menyentuh miliknya dunia disekitarnya menjadi terlalu fokus hanya pada bibir Jongin. Sedikit reaksi, gerakan intim membuat Sehun terkejut, setidaknya begitu.

"Jadi apa yang kau inginkan?" kata Sehun membersihkan tenggorokannya dengan hati-hati menurunkan menu dan memilih yang pertama yang ia lihat. "Chicken Marsala terlihat enak."

"Itu terlihat enak, tapi aku pria penyuka steak."

Pelayan datang dan meminta pemesanan minuman.

"Whiskey sour untukku dan sebotol wine Moscato untuk adikku."

Pelayan itu terlihat tidak lebih tua dari dua puluh dua tahun untuk Sehun yang dua puluh sembilan, tapi pelayan itu memberikan Sehun senyum mengundang, kedipan, dan berkata, "Dengan senang hati. Saya akan kembali dengan wine Anda."

Diam, Sehun menungu sampai pelayan itu keluar dari jarak dengar sebelum berkata, "Jika ini terlalu memalukan terlihat di tempat seperti ini denganku, kau seharusnya tidak membawaku."

Tangan yang sedang memegang gelas yang setengah di mulut Jongin menegang dan alisnya naik. "Kenapa aku harus malu terlihat dengan pria manis sepertimu?"

"Ya, benar." Sehun mendengus dan menyibukkan dirinya dengan membuka lipatan serbet gelap dari desain mustahil gaya origami. Kenapa restoran ini membuat orang merasa tidak layak sebelum minuman mereka datang?

"Aku melihat jenis wanita yang kau dan Suho kencani. Mereka setara dengan fans wanita di rodeonya MMA. Bom seks berdada besar yang memiliki gelar master dalam Acrobat di kamar tidur." Setelah meletakkan serbet yang tak terlipat di pangkuannya, Sehun melihat Jongin yang tetap terlihat bingung. Sehun menghela nafas dan menjelaskan, "Kau memutuskan memanggilku adik di depan pelayan karena kau tidak ingin kencanmu ternoda dengan Plain Jane sepertiku."

Sehun bersumpah ia mendengar Jongin menggeram dan jika wajahnya menunjukkan sesuatu, itu terlihat seperti ia mungkin sedang membangunkan beruang tidur.

"Mari kita perjelas satu hal," kata Jongin, meletakkan gelas. "Aku tak ingin mendengar istilah Plain Jane yang mengacu padamu lagi. Pria manapun, termasuk aku, akan bangga memilikimu dipelukannya."

Meskipun Sehun tahu reaksi Jongin sebagai suatu hal yang protektif, lebih seperti yang akan Suho lakukan, ketulusan dalam suaranya menyentuh dirinya...sampai pikiran lain dikepalanya muncul setelah sekian lama bersembunyi.

'Chanyeol tidak memandangnya seperti itu.'

Seperti membaca pikiran Sehun, Jongin berkata, "Dan segera dokter Park milikmu akan mengeluarkan kepala dari pantatnya dan menyadarinya, juga." Jongin berhenti untuk mengibaskan serbet dipangkuannya dengan mudah. "Tapi untuk sekarang, kau harus main mata tanpa malu-malu dengan pelayan itu."

"Apa?" Sehun berbisik sambil bersandar di meja. " Kau pasti tidak serius."

"Aku sangat serius. Kau lihat caranya melihatmu berubah ketika ia tahu bahwa kau bukanlah teman kencanku? Dia gay dan dia hampir berliur di meja kita."

"Kau pasti sudah gila. Tidak," Sehun menggelengkan kepalanya.

Ketika Jongin hanya memberikan tatapan menyebalkan Oh, benarkah Sehun langsung menghentikan diri untuk tidak menancapkan garpu di kepala Jongin saat ini juga.

"Demi Tuhan, apa tujuannya main mata dengan orang asing?"

"Bermacam-macam, tapi pertama dan paling penting adalah, itu akan menunjukkan pada teman kencanmu bahwa kau menggairahkan orang lain. Ini pelajaran kedua: Pria selalu menginginkan apa yang tidak bisa mereka dapat, atau apa yang diinginkan pria lain. Itu adalah fakta ilmiah."

"Tidak."

" Well, seharusnya seperti itu," Jongin berkata menyeringai.

"Sekalipun kau benar, aku tak tahu bagaimana caranya menggoda,Jongin. Jadi ini tidak akan berhasil."

Tidakkah restoran ini dingin? Sehun hampir terbakar. Mungkin akan reda dengan sesuatu. Sehun mengambil air dinginnya dan menelan beberapa tegukan, mencoba menenangkan perasaannya luar dalam.

"Itulah gunanya aku disini, Sayang. Sekarang, ada dua jenis pendekatan. Bahasa tubuh dan kata-kata. Malam ini aku hanya ingin kau mencoba menggunakan bahasa tubuh. Kau bisa menceritakan cerita anak-anak Ibu Angsa, tapi jika kau memberikan sinyal yang benar, seorang pria tidak punya kesempatan."

Dengusan kecil keluar, tapi Sehun segera menenangkan dirinya. Membersihkan tenggorokannya Sehun berkata, "Jadi apa yang seharusnya kulakukan? Merapikan rambutku dan terkikik dengan nada tinggi pada apapun yang dia katakan?"

"Hanya jika kau berniat akan mendekati kapten tim football diSMA."

Sehun memberikan evil eye terbaiknya, berharap Jongin menghentikan gagasan anehnya. Kesempatan kecil.

Jongin bersandar, mengistirahatkan sikunya di meja dan menepuk tangannya ke depan. " Ini mudah Hun. Memulai pembicaraan seperti yang biasa kau lakukan, tapi tambahkan sesuatu. Buat kontak mata dengannya dan tahan. Ketika matamu mengarah kemana-mana itu memberitahu orang lain bahwa kau gugup atau tidak nyaman. Kau harus menunjukan rasa percaya diri."

"Itu saja? Kontak mata? Aku bisa melakukan itu."

"Tidak, itu belum semua. Kau butuh untuk mengarahkan perhatiannya pada seluruh aset menggoda yang kau punya." Sehun memutar matanya, tapi Jongin membiarkannya dan melanjutkan. "Untuk mengarahkan perhatiannya pada matamu, kau tahan tatapannya atau berikan dia sedikit pandangan di bawah bulu matamu. Pria maupun wanita manapun pasti akan gila ketika ada orang manis sepertimu bersikap malu-malu kucing."

Sehun berpikir tentang semua pria yang melakukan hal seperti itu ketika bicara dengan Chanyeol dan caranya membalas senyum sementara mereka sedang berpikir bagaimana berhubungan seks diotak mereka. Sehun tidak pernah berpikir untuk menggunakan bahasa tubuh. Sehun selalu menggunakan kepandaiannya dan berasumsi itu yang mereka bicarakan supaya terhubung.

Sehun hampir saja memukul kepalanya sendiri. Seperti orang idiot. Tapi tidak lama lagi. Tentu, itu agak membuatnya kesal bahwa dia harus menggunakan tipu daya fisik untuk mendapatkan perhatian seseorang. Toh, itu adalah hal-hal intelektual ia menghargai tentang Chanyeol, dan Sehun berharap itu akan sama baginya. Tapi begitu Sehun mendapat perhatian Chanyeol dan ia merasa bahwa ada percikan dengan dirinya, sisanya pasti akan berjalan dengan sendirinya. Ide bagaimana Sehun belajar menciptakan koneksi dengan Chanyeol mulai membuatnya bersemangat.

"Malu-malu kucing, aku mengerti. Apa lagi?

"Arahkan perhatiannya di mulutmu dengan senyum, makan, minum, menggigit bibir, menjilat bibirmu...sebenarnya itu tidak sulit untuk membuatnya fokus disana karena salah satu yang pertama seorang pria pikirkan adalah bagaimana mulut seorang saat berada disekitar—"

"Jongin!"

Jongin besandar dan tertawa, bersuara, serak yang tak bisa membuatnya tenang. Secara mental Sehun menambahkan tertawa sebagai cara mencari perhatian mulut seseorang saat mata Sehun terpaku pada bibir penuh milik Jongin yang terbingkai sempurna, gigi putih. Dan memperhatikan mulut Jongin hanya membuat Sehun ingat akan ciuman panas yang Jongin berikan padanya di toko, yang membuat suhu ruangan meningkat beberapa derajat. Sial!

"Oke, disinilah pria milikmu dengan minuman kita. Dia akan menunggumu untuk menerima wine. Aku ingin kau seperti Jessica Rabbit dan berikan dia pertunjukan."

Mulut Sehun ternganga lebar. "Kau menginginkan aku untuk bersikap seperti karakter kartun Who Framed Roger Rabbit?"

Ekspresi Jongin sebenarnya terlihat seperti dia tidak percaya keragu-raguannya pada pilihannya dalam dewi seks. "Dia seksi. Setiap pria ingin mendapatkan Jessica Rabbit."

Jongin benar-benar gila; pasti seperti itu. Lutut-berkedutnya bereaksi untuk membantahnya tapi terpotong karena pelayan sudah tiba. Pelayan itu menata minuman Jongin di depannya tanpa terlalu memperhatikan. Kemudian pelayan itu memberikan sebotol wine pada Sehun, menerocos tentang tahun pembuatan dan asal kebun anggur seakan Sehun tahu perbedaannya dan sesuatu yang keluar dari sebuah kotak, dan menuangkan sedikit untuknya untuk dicicipi dalam gelasnya.

'Oke, aku bisa melakukan ini. aku bisa. Jessica Rabbit...tenang, gerakan yang disengaja, tatapan di ranjang...tidak masalah. Oh, Tuhan, aku berkeringat.'

Mencoba yang terbaik untuk melupakan peluh yang jatuh didadanya, dengan pelan Sehun mengambil gelasnya, menahan pandangan pelayan itu, dan menyesap wine dengan ujung bibirnya. Rasa manis wine mengalir di lidahnya dan menyebar di tenggorokan dan perutnya. Sehun menutup mata dan mendesah puas sebelum meletakkan gelasnya. Membuka matanya lagi, Sehun tersenyum dan bertanya, " Maaf, siapa namamu tadi?"

"Minggyu." Dia menelan ludah dengan keras, jakunnya naik turun ditenggorokannya. "Nama saya Minggyu."

Sehun memberikan senyum yang ia harap memabukkan. " Well, Minggyu, winenya manis, terima kasih. Biasanya kakakku ini agak kikuk, aku yakin kakakku bisa mengisi gelasku sementara kau melayani pelanggan lain. Kami akan membutuhkan beberapa menit untuk memutuskan pesanan kami."

Minggyu membungkukkan tubuhnya dan tersenyum. "Tentu saja. Saya akan kembali sebentar lagi untuk mengambil pesanan Anda. Dan tolong, jika ada sesuatu yang bisa saya lakukan untuk Anda, jangan ragu untuk meminta."

Segera setelah Minggyu pergi, Sehun menghabiskan winenya dengan sekali teguk. Sementara itu, Jongin memberikan tepukan pelan.

"Bravo, Sayang. Kau bisa memintanya untuk menjilat sepatumu dan dia akan berterima kasih untuk kesempatan itu. Bagaimana rasanya?"

"Mengerikan," Sehun menggerutu sambil mengisi gelasnya.

"Ayolah. Aku tahu itu bukan kebiasaanmu, tapi jujurlah padaku." Jongin bersandar, lengannya berada di meja. " Jujurlah dengan dirimu sendiri."

Sehun minum beberapa tegukan wine dan merasakannya mengalir dipembuluh darahnya, mengendurkan ketegangan tubuhnya. Menempatkan gelas di meja Sehun bertemu pandang dengan Jongin dan memikirkan apa yang ditanyakannya. Jongin benar. Sehun tidaklah jujur.

"Itu...mengesankan. Menghanyutkan."

"Tepat sekali. Ingat, bahkan jika kau berkencan dengan Dokter Park itu, tidak ada salahnya dengan sedikit rayuan diluar untuk mengingatkannya bahwa dia bukan satu-satunya ikan di laut. Sekarang, bawa mainanmu kembali kesini, karena aku lapar."

Sisa malam berlalu dengan percakapan yang ringan dan tawa rahasia dengan kekaguman Minggyun pada Sehun. Ketika Minggyu memberi Jongin tagihan, Minggyu menyelipkan kartu namanya dengan nomor tertulis dibelakangnya. Memang gila seperti kedengarannya, rasa pusing mengalir di dalam Sehun. Ini adalah pertama kalinya seseorang secara langsung tertarik padanya.

Sehun akan menyimpan kartunya, mungkin melaminating dan menempelkannya ke dalam frame di cermin kamar tidurnya, tapi Jongin mengambilnya, melemparnya, dan meninggalkan di piringnya.

Sehun ingin membantah ketika Jongin berkata, " Kita sedang mengail si dokter orthopedik, ingat? Hal kecil seperti seorang pelayan, kita buang saja. Selain itu, dia tidak lulus inspeksi kakaknya."

Sehun tidak bisa menahan tawanya. Apakah itu makanan yang enak, wine yang bagus, perusahaan yang bagus, atau kombinasi dari ketiganya, Sehun merasa sangat tenang. Sesuatu yang jarang Sehun rasakan di luar. Mengeluarkan sedikit kepercayaan diri membuat ketagihan dan Sehun tidak sabar menginginkan lebih.

Jongin berdiri dan memegang tangan Sehun. "Ayo, pergi dari sini."

Sehun tersenyum dan menyelipkan tangannya pada Jongin dan melangkah menuju pintu keluar. Saat mereka berjalan di area tunggu Sehun mendengar seorang anak berseru, " Ayah, lihat! Itu Kim Jongin!"

Berbalik Sehun melihat seorang anak laki-laki tidak lebih dari sepuluh tahun berlari di tempat mereka dengan pandangan kagum di wajahnya. Jongin mengepalkan tangannya pada anak itu untuk mengadu telapak tangannya. "Hei, pria kecil, bagaimana kabarmu? Kau penggemar UFC?"

"Benar! Kau adalah petarung favoritku!"

Kemudian Ayah anak itu datang. "Maaf mengganggumu, . Saya pikir Austin hanya melihat sesuatu, tapi ternyata memang Anda. Kami adalah penggemar beratmu."

"Tolong panggil aku Jongin. Aku selalu senang melihat penggemarku. Kau berlatih Austin?"

"Uh-huh. Sekarang aku sabuk ungu di Tae Kwon Do, tapi aku ingin belajar bela diri yang lain sehingga aku bisa menjadi sepertimu saat besar nanti."

"Well, kau teruskan latihanmu dan berusaha keras dan aku tidak ragu kau akan menjadi seperti itu. Hanya ingat keahlian yang kau pelajari harus digunakan dengan bertanggung jawab dan jangan pernah menggunakannya untuk melawan orang lain di luar dojo."

"Aku tahu. Senseiku mengatakan pada kami hal yang sama. Aku tidak percaya ini benar-benar kau! Man, aku harap temanku ada disini. Mereka tidak akan percaya aku bertemu danganmu."

"Begini saja, biarkan teman kencanku yang manis ini memotret kau, aku, dan ayahmu. Dengan cara itu kau bisa mendapat bukti yang kuat."

"Ya!"

Sehun sangat kagum dengan cara Jongin menuruti anak kecil itu,Sehun hampir tidak menyadari Jongin sedang bicara dengannya.

"Oh! Ya, itu ide yang bagus. Bolehkah aku menggunakan ponselmu?" Sehun meminta sang Ayah.

Muka ayahnya murung saat ia melihat anaknya. "Maaf, Nak, aku meninggalkan ponselku di rumah supaya kita tidak terganggu saat makan." Dia menjelaskan kepada Jongin," Saya hanya mengajaknya setiap minggu jadi saya tidak mau apapun mengganggu makan malam bersama kami."

Pandangan kecewa yang terlihat di wajah anak itu membuat Sehun sedih. "Bagaimana kalau aku memotretnya dengan ponselku dan nanti aku akan kirimkan lewat e-mailmu. Bisa?

"Ya, bisa. Terima kasih banyak."

Jongin berpose dengan anak dan ayah itu dengan gambar yang bagus di depan aquarium ikan raksasa, dan Jongin menyarankan pose lucu hanya dia dan Austin. Sehun tertawa saat Jongin membungkukkan badan setara dengan Austin dan mereka berpegangan tangan dan membuat wajah petarung dengan hidung mereka mengerut dan lidah terjulur.

Setelah mendapatkan alamat e-mail dan memastikan kedua foto terkirim, mereka berpisah pada Austin dan ayahnya dan meninggalkan restoran.

Saat mereka berjalan ke mobil Sehun memperhatikan Jongin dengan ujung matanya. Tiba-tiba Jongin berhenti dan mengambil tas makanan dari tanah yang akan ia injak. Mengatakan pada Sehun untuk berhenti, Jongin berjalan kembali ke jalan dan melemparkannya ke tempat sampah.

Ketika Jongin kembali, Sehun berkata, "Itu adalah hal yang baik darimu, Jongin."

"Apa, itu? Aku tidak mau kau menginjaknya. Selain itu, aku tidak menyampah. Itu malas, dan aku benci orang yang, misalnya, menolak untuk mengeluarkan sedikit tenaga untuk berusaha membuang sesuatu dengan benar."

"Aku bicara tentang apa yang kau lakukan pada Austin dan Ayahnya."

"Oh, itu." Jongin berkata, tersenyum. "Aku tidak sebaik seperti yang kau pikir, Hun. Aku hanya sedikit bertemu mereka seperti yang mereka lakukan padaku. Terutama anak-anak."

"Tidak khawatir tentang bagaimana kesan seorang petarungan ekstrim bagi anak-anak?"

Jongin menyelipkan tangannya padanya dan Sehun terkejut betapa alaminya itu. "Banyak orang punya masalah dengan MMA. Mereka bilang itu adalah pertarungan kejantanan manusia. Tapi mereka tidak memperhatikan pada ekstrimnya aspek disiplin dan teknik dari apa yang mereka lakukan, atau betapa luar biasanya olahragawan yang dikeluarkan untuk menjabat tangan orang yang hanya ingin mengalahkanmu. Selama anak-anak peduli, seperti Austin yang memang melakukannya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Jongin mengangkat bahu. "Banyak orang yang tidak mengerti. Tapi aku senang berpikir kalau mereka orang minoritas."

Mereka sampai di mobilnya dan seperti seorang pria sejati, Jongin membuka pintu. Sebelum naik Sehun berbalik, memiringkan kepalanya sedikit sambil memperhatikannya. "Kau sangat menyukainya kan?"

"Aku selalu menyukai olahraga." Selama beberapa saat Jongin mengarahkan tatapannya ke langit sebelum kembali memperhatikan Sehun dengan senyum sedih. " Seberapa aku menyukainya itu akan terlihat."

Itu mengganggunya melihat Jongin diluar kebiasaannya setuju untuk memberi ciuman. Sehun seharusnya mendaratkan di pipi Jongin, tapi wine pasti mambuatnya kacau karena Sehun mendaratkannya ke bibir Jongin yang lezat.

Selama beberapa detik mereka tetap seperti itu, waktu berhenti, bibir saling menekan, sampai suara alarm mobil orang lain berbunyi membuat akalnya kembali. Sehun menarik diri dan menyentuh jarinya ke bibir seperti ia sedang berbuat sesuatu yang memalukan.

"Aku tidak mengeluh," Jongin berkata, "tapi untuk apa itu?"

Sehun menguatkan kakinya sebelum menatap Jongin di bawah bulu matanya. "Karena kau pria yang baik dan ucapan terima ksih untuk hari yang indah."

Senyum nakal Jongin membuat nafas Sehun berhenti di bawah cahaya bulan. "Kalau begitu Mr Oh Sehun, aku akan pastikan kau selalu mendapatkan hari yang indah."

Sehun tertawa dan naik ke dalam mobil, tapi kesenangannya berhenti mendadak bahkan sebelum Jongin memutari mobilnya, 'jika itu bukan karena pelajaran yang baru saja ia terima, ia tidak tahu apa itu.' Ya, Sehun baru saja memberikan bukti rayuan masternya berhasil. Dan benar-benar menelannya mulai dari kail, senar, dan pemberatnya sekaligus.

Sekarang Sehun mengetahui apa yang dirasakan para wanita maupun pria yang menerima pesona Chanyeol. Sehun tidak bisa menunggu untuk mendapatkan senyum lesung pipinya. Satu-satunya yang mengatakan Sehun tidak bisa menunggu untuk melahap tangkapan terakhirnya malah pertemanan yang ia peroleh. Ya, tuan, dokter itu tidak tahu apa yang sedang menimpanya saat dia melihat Sehun nanti.

Sehun tidak sabar menunggunya.

~oOOo~

To. Be. Continued.

~oOOo~

Gimana? Haha

Nyambung kan ya? Otak lagi konslet ga konsen garap ini soalnya, hehe

Jadi gimana kelanjutannya? Ditunggu aja next chapternya yaaa~

Oh ya, buat readers yang kemaren kontak2an sama aku. maaf lupa ga kabar-kabar kalo line aku yang itu udah ga aktif, kalo mau add line aku yang satunya '0420_cha' , nanti kita ngefangirl ChanHun,KaiHun,story dsb. Kalo mau curhat juga bisa, gini-gini aku pendengar yang baik kok. Wkwk

Oke Pai~~

.

.

Thanks to review CH 2 :

Damchuu93 , faul, YunYuliHun , Sekar Amalia , KJISH ,parkcheonsafujoshi, Castan ,gladisoler4, utsukushii02, fitrysukma39 ,Haemi Wytha Kim444, GYUSATAN ,exolweareone9400, KaiHunyehet ,Keteknyakai, auliavp, izzsweetcity ,Kim Jonghee ,ohhanniehunnie ,dialuhane, vitangeflower ,HilmaExotics, sehuniesm ,bottomsehunnie ,ParkJitta, Jongin's Grape, Zelobysehuna, bibblebubblebloop, ,VampireDPS