.
.
.
.
.
Tidak bisa, tidak bisa!
Ia tidak bisa jika berhadapan langsung dengan Penyihir itu, ia akan bernasip sama seperti Jessica atau mungkin lebih buruk lagi. Ia tidak boleh gegabah dan memikirkannya dengan matang.
Jemari lentiknya menarik pena bulu dan kertas lalu dengan tenang menulis kata demi kata, memastikan semua isi pikirannya tersampaikan pada tulisannya. Selesai menulis, ia melipat kertasnya dan memasukkannya ke dalam amplop putih berukuran sedang. Mata beningnya menatap surat itu sejenak sebelum ia memanggil pelayan masuk ke kamarnya.
"Antarkan suratku ini pada ayahku di Irene, pastikan ayahku sendiri yang menerimanya."Pelayan itu menunduk patuh menerima surat itu lalu keluar dari ruangan meninggalkan majikannya yang kini meremas kedua tangannya.
Ia berharap penuh pada ayahnya.
.
.
Beautiful Witch
Chapter 4
Pair : Haehyuk
Rate: T
Warning: Genderswicth
Summary : Donghae akan melakukan apa saja agar kakaknya Donghwa lepas dari kutukan, bahkan jika ia harus memberikan jiwanya pada penyihir sekalipun.
.
.
"Aku masih tidak mengerti." Suara Yesung terdengar siang itu membuat Donghae menoleh padanya, mengesampingkan kertas-kertas yang harus ia baca hari ini. Mereka ada di ruang kerja Yesung, mengerjakan tugas mereka dengan sesekali bertukar pikiran.
"Tentang apa?"
"Kau bilang ia meminta jiwamu tapi kenapa kau bisa bebas berkeliaran?" Pertanyaan itu membuat Donghae menaruh kertasnya di atas meja, bernar-benar tak berniat meneruskannya. Moodnya langsung hilang begitu topic ini dibahas.
Ya, Donghae sudah mengatakan semuanya pada keluarga dan orang-orang terdekatnya tentang bagaimana ia membawa Hyukjae ke Roran. Dan ia tidak terkejut saat tatapan menyesa, kecewa, sedih dan marah yang ia terima. Ibunya menangis sambil memeluknya erat tak ingin melepasnya, Ayahnya menatapnya kecewa, dan Donghwa merasa menyesal atas semuanya. Mereka tak bisa berbuat banyak, membunuh Hyukjae pun tertalalu beresiko bagi keselamatan Donghae sekarang. Belajar dari pengalaman Donghwa.
"Aku tidak tahu Hyung, tanyakan sendiri padanya."
"Kau merasakan sesuatu yang aneh atau berubah dalam dirimu setelah Hyukjae meminta jiwamu?"
"Tidak."
"Kau bermimpi buruk atau bermimpi aneh?"
"Tidak."
"Kau pernah mengeluarkan benda aneh dalam tubuhmu? Memuntahkan sesuatu mungkin?"
"Itu menjijikan, Tidak! Dan tidak untuk pertanyaanmu berikutnya Hyung!" Serobot Donghae saat Yesung akan angkat bicara.
Mereka diam setelahnya, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Yesung masih merasa ada yang mengganjal dengan semua ini. Menurutnya, harusnya keadaan Donghae tidak sebaik ini. Bila jiwa yang Hyukjae minta, harusnya Donghae sudah mati sekarang karena jiwanya terambil bukan? Atau paling tidak Donghae akan seperti boneka karena jiwanya dikendalikan. Tapi ini tidak terjadi apa-apa dan hal justru membuat Yesung lebih khawatir. Ia takut bahwa Hyukjae sedang mencoba melakukan sesuatu yang berbahaya mengingat ia adalah Croi, mereka cenderung mengembangkan sihir yang mereka miliki.
"Tapi Hyung….." Suara Donghae mendapat respon penuh dari Yesung.
"Dia menandaiku."
"Menandaimu? Di mana?" Donghae memegang dada kirinya, tepat ditempat jantungnya berdetak.
"Di sini, tandanya seperti gambar kuncup bunga."Dahi Yesung mengernyit, ia belum pernah mendengar tentang hal ini sebelumnya.
Apa sebenarnya yang Hyukjae coba lakukan?
Yesung memegangi kepalanya, ia merasakan kepalanya berdenyut karena terlalu banyak berfikir.
.
###
.
Ryewook hanya melongo melihat strawberry di keranjang itu sudah akan habis, buah merah dengan rasa asam yang khas itu terus saja masuk ke mulut Penyihir didepannya. Tadi pagi saat ia menemui Hyukjae di kamar Pangeran Donghae seperti biasa mood gadis ini benar-benar buruk, bahkan sampai sore hari moodnya masih juga belum membaik. Entah apa yang terjadi pada Penyihir ini.
Lalu tadi tiba-tiba saja Hyukjae memintanya buah strawberry, merengek seperti anak kecil yang justru membuat Ryewook tambah binggung. Namun sekarang ia tahu kenapa. Hyukjae sedang mencoba mengembalikan moodnya dengan memakan makanan kesukaannya. Hal ini mirip seperti dirimya saat kesal.
Sadar atau tidak, selama ini secara tidak langsung Ryewook mempelajari perilaku Hyukjae. Menurutnya selain mempunyai kekuatan sihir Hyukjae selayaknya gadis biasa, emosinya wajar, perilakunya wajar, tidak ada yang istimewa. Insiden di perpustakaan beberapa hari yang lalu bukannya membuatnya takut tapi justru membuatnya merasa Hyukjae semakin manusiawi. Menurutnya respon Hyukjae wajar, hanya saja mungkin kekuatan sihir gadis ini yang terlalu besar. Ryewook berfikir sembari melihat bagaimana Hyukjae membuat teko, cangkir, dan gelas disampingnya bergerak meracik sendiri segelas teh.
Hyukjae melahap strawberry terakhirnya, pikirannya melayang. Beberapa hari ini Donghae menghindarinya dan ini membuatnya moodnya memburuk. Pangeran itu bahkan tidak menyentuh kamarnya sama sekali.
Ini tidak boleh dibiarkan.
Ia harus melakukan kontak fisik dengan Donghae tidak peduli apa. Ia sudah menanam bibitnya dan akan terancam mati jika keadaannya terus seperti ini. Hyukjae mendengus, ia kesal karena masalah kecil(menurutnya) di perpustakaan bisa mempertaruhkan apa yang coba ia bangun dengan segala usahanya selama ini. Ia akan membawa Donghae kemari, menyeretnya bila perlu. Ia tidak boleh gagal kali ini, bibitnya tidak boleh mati kali ini.
Deg
Prang
Teko yang menuang teh ke dalam cangkir itu terjatuh ke lantai seperti kehilanan pegangannya membuat Ryewook terkejut. Ia melihat ke arah Hyukjae yang terbelalak. Penyihir itu bangkit dari duduknya dan melihat kesegala arah secara acak, seperti mencari sesuatu. Hyukjae sempat berdiri diam dengan cemas sebelum perlahan duduk kembali di kursi.
"Hyukjae-shi, kau baik-baik saja?"
Hyukjae tak menjawab ia hanya melirik Ryewook sekilas dan kembali memikirkan firasat jelek yang ia rasakan barusan. Ia merasakan aura hitam sekilas tadi, ia tidak mungkin salah.
Ada sesuatu di istana ini, sesuatu yang berbahaya.
Hyukjae meremas pegangan kursi lalu bangkit dan berjalan keluar dari ruangan itu membuat Ryewook yang tak tahu apa-apa dengan panik mengikutinya.
.
###
.
Kotak berwarna cokelat di atas meja itu masih tertutup rapat membuat Yoona mengamatinya dengan penasaran.
"Ini dari ayah?"
"Iya, Putri. Beliau mendapatkannya dari seorang ilmuan sihir di Irene."
Yoona mengambil pisau buah, memotong tali yang menyegel kotak dengan rapat sebelum membukannya dan mengeluarkan isinya.
Sebuah guci.
Sebuah guci berwarna hitam tepatnya, pada tubuh guci terdapat ukiran-ukiran seni layaknya guci pada umumnya hanya saja terdapat tulisan-tulisan asing yang tidak di mengerti oleh Putri cantik itu.
"Beliau mengatakan guci tersebut dapat menyerap kekuatan sihir, yang perlu Putri lakukan adalah memastikan orang yang terkena sihir membuka gucinya."
Yoona mengerti sekarang, jadi menurut ayahnya Donghae sudah terkena sihir dari gadis itu. Benar, itu benar. kenapa ia tak terfikir tentang hal itu? Tentu saja Penyihir itu menyihir Donghae sehingga menjadi miliknya dengan begitu mudah. Membuatnya kehilangan sahabatnya sejak kecil sekaligus orang yang dicintainya.
Yoona dan Donghae adalah kerabat jauh karena itu sejak kecil mereka sudah mengenal satu sama lain. Yoona begitu menyukai sosok Donghae yang baik dan begitu ceria, Pangeran itu selalu berhasil menghidupkan suasana dan dicintai semua orang. Beranjak dewasa perasaannya berubah menjadi sesuatu yang lebih. Perasaan cinta yang membuatnya belajar begitu keras hingga ia bisa menjadi salah satu calon tunangan Donghae. Ia hanya perlu menunjukkan pada Permaisuri bahwa ia lebih cantik, lebih pintar, dan lebih anggun dari Jessica maka ia bisa memiliki Donghae. Hanya tinggal satu langkah lagi, Tapi segalanya berubah karena kedatangan Penyihir itu.
Penyihir tak tahu diri yang merebut seluruh perhatian Donghae dalam sekejap.
Ia begitu marah saat mendengar bahwa penyihir itu tidur satu ranjang dengan Donghaenya, ya Donghae pasti sudah menjadi miliknya kalau Penyihir itu tidak ada. Mata bening itu kembali melihat guci di tanganya, menguatkan tekadnya.
"Katakan pada Pangeran Donghae aku ingin membicarakan sesuatu, katakan ini sangat penting dan mendesak"
"Baik Putri."
Yoona tersenyum, ia hanya perlu menghilangkan sihir dalam diri Donghae, membuatnya sadar bahwa ia adalah takdirnya.
.
###
.
Malam ini bulan terlihat sempurna sebuah pemandangan yang indah, seharusnya. Namun entah kenapa Donghae merasa hal ini justru sedikit menyeramkan. Sejak ia melangkahkan kakinya mengikuti pelayan Yoona yang menemuinya tadi, jantungnya terus berdebar membuat perasannya tidak enak. Ia ada di istana Permaisuri sekarang, tempat para Putri Roran dididik dan tinggal. Yoona memangilnya karena ada sesuatu yang penting untuk di bicarakan dan tentu saja Donghae menurutinya. Yoona gadis yang baik dan sopan dan ia mengenalnya dengan baik sejak kecil, bisa dikatakan satu-satunya Putri di Roran yang tidak membuat Donghae canggung. Ia berbelok di tikungan dan berhenti di pintu cokelat besar itu, Donghae segera masuk saat pelayan membukanya.
Di sana, di dekat jendela kamar terlihat Yoona yang berjalan mondar-mandir cemas.
"Ada apa? Apa sesuatu yang buruk terjadi?" Kebiasan Donghae, ia tidak suka basa-basi.
Putri itu tiba-tiba saja memeluk Donghae, membuat Pangeran itu terkejut tentu saja. Mereka memang dekat, tapi mereka bukan sepasang kekasih.
"Syukurlah kau baik-baik saja, aku sangat khawatir saat mendengar tentang Penyihir itu."
"Aku baik-baik saja, Hyukjae tidak melakukan apa-apa padaku."Donghae melepaskan pelukan Yoona, tidak menyadari bagaimana bencinya gadis itu saat ia menyebut nama gadis lain di depannya.
"Dia adalah penyihir yang jahat, dia tidak seharusnya di Roran."
"Dia disini untuk menyelamatkan Donghwa Hyung."
"Itu tidak mengubah fakta bahwa ia penyihir, dia harus dileyapkan."
Dongahe menatap tajam kearah Yoona, ia tidak menyukai ide melenyapkan Hyukjae. Hyukjae memang selalu berbuat semaunya, namun lepas dari segala penjanjian Hyukjae tetap saja berjasa pada Roran.
"Kalau cuma ini yang ingin kau bicarakan, aku pergi." Donghae sudah akan beranjak namun urung saat suara Yoona kembali terdengar.
"Kau sudah di sihir olehnya Pangeran Donghae."
"Apa?"
Donghae melihat raut wajah Yoona yang berubah, berubah menjadi ekspresi yang tak dikenalnya. Gadis itu berjalan menuju kaca besar yang ada dinding, di depannya guci hitam itu bertengger di atas meja. Tangan lentiknya mengambil guci itu, lalu berjalan menghampiri Donghae.
Dapat Donghae rasakan jantungnya berdetak makin cepat di setiap langkah yang Yoona ambil, matanya focus melihat guci hitam itu di tangan Yoona.
"Sekali ini turuti permintaanku, buka guci ini Pangeran agar sihir penyihir itu lenyap. Kau harus sadar Pangeran!"
Donghae mengernyit, Hyukjae memang menandainya tapi ia yakin gadis itu tidak menyihirnya, ia masih sadar seratus persen.
"Apa itu, kenapa aku harus membukanya?"
"Hanya membukannya Pangeran dan sihir yang memengaruhimu akan leyap!" Yoona memaksa Donghae memegang guci hitam itu tapi Donghae terus menolak, ia tidak ingin memegangnya. Yoona tidak ingin menyerah ia mendorong guci itu ke dada Donghae yang membuat Pangeran itu reflek melempar guci itu jauh darinya, terlempar jauh hingga menghantam lantai dan hancur.
Donghae dan Yoona terdiam melihat guci yang hancur itu, mereka dapat melihat didalamnya keluar serangga-serangga kecil satu-persatu. Semakin lama semakin banyak serangga yang keluar, mereka berkerumul menjadi satu membentuk gumpalan yang semakin lama semakin besar. Gumbalan itu membentuk sesuatu seperti kaki manusia, terus naik keatas membentuk tubuh, tangan, leher dan terakhir kepala. Kumpulan serangga itu memadatkan diri, membuat sosok laki-laki berumur itu sekarang jelas terlihat. Seorang laki-laki dengan pakaian serba hitam dan aura hitam berbahaya itu menyeringai di depan mereka. Donghae masih terpaku melihat penyihir didepannya.
Ya, seorang penyihir.
Hyukjae menghentikan langkahnya tiba-tiba, ia menengok kebelakang mengejutkan Ryewook yang masih setia mengikutinya memeriksa setiap ruangan di istana sejak tadi. Ia merasakannya sekarang, tidak salah lagi. Aura ini berbahaya, begitu kental dan pekat hingga membuat Hyukjae hampir lupa bernafas.
Ada penyihir lain di sini, dan yang satu ini sangat kuat.
Barthe yang berbahaya.
Dan yang paling Hyukjae benci, bibitnya berada begitu dekat dengan Barthe. Hyukjae meneruskan langkahnya dengan cepat. Ia harus cepat menjauhkan bibitnya dari sana sebelum Barthe itu menyadarinya.
"Panggil bantuan!"Perintahnya pada Ryewook.
Donghae dan Yoona merapat ke meja tepat di depan kaca besar yang tergantung di dinding. Mereka dapat mendengar tawa keras penyihir itu.
"Tak kusangka cara ini begitu efektif untuk masuk ke Roran, manusia memang bodoh." Suara berat itu terdengar, Yoona tahu ayahnya yang penyihir itu maksud. Gadis itu ketakutan, ia ingin menyingkirkan penyihir tapi justru membawa masuk penyihir lain ke Roran.
Donghae waspada, ia mengumpat karena tidak membawa pedangnya di situasi seperti ini, dan di ruangan ini tidak ada yang bisa dijadikan senjata yang berguna.
"Tidak usah repot-repot mencoba melawan." Kata penyihir itu seperti mengetahui isi kepala Donghae. Ia menggerakan jemarinya memutar, menciptakan sebuah gelombang hitam yang berkumpul di telapak tangannya.
"Aku akan membuatnya cepat, sehingga rasanya tidak akan menyakitkan." Donghae tebelalak saat pengyihir itu mengarahkan kekuatannya padanya dan Yoona, ia akan lari menghindar namun tiba-tiba saja ia merasa tubuhnya ditarik kebelakang. Tersedot kaca di belakangnya dalam sekejap sebelum jatuh terlempar ke karpet tebal.
Donghae melihat di sekitar dan terkejut saat sadar ia sekarang ada di kamarnya, sedangkan satu detik yang lalu ia masih di kamar Yoona. Dapat ia lihat Hyukjae yang terengah beberapa meter darinya, bola mata mereka sempat bertemu sesaat sebelum Hyukjae berbalik berjalan menuju pintu.
"Tetap disini!" Nadanya begitu memerintah sebelum gadis itu meninggalkan ruangan begitu saja.
Donghae melihat kaca besar di kamarnya, ia yakin Hyukjae menariknya dari sana. Membuatnya dan Yoona melewati antar kaca dalam hitungan detik. Ngomong-ngomong soal Yoona, gadis itu tergeletak pingsan di atas karpet sekarang.
Hyukjae berjalan cepat di istana permaisuri, ia harus meleyapkan penyihir itu. Harus. Kalau tidak segala kerja kerasnya terancam hancur. Langkahnya terhenti saat melihat ribuan lipan merayap di lantai dan dinding lorong sanping taman itu, semua mahkluk itu merayap menuju kearahnya. Hyukjae berguman mantra, mengarahkan tangannya kearah ribuan lipan itu. Api biru itu muncul begitu saja, membakar satu lipan dan menyalur dengan cepat membakar habis lipan-lipan itu tak bersisa.
"Tak kusangka akan melihat api biru ini lagi." Di sana, di ujung lorong laki-laki penyihir itu berbicara.
"Harusnya kau mati bersama semua klanmu. Bagaimana kau bisa bertahan hidup?"
"Bukan urusanmu." Kekehan itu terdengar saat mendengar jawaban sang Croi. Hyukjae mengayunkan tangannya memisahkan sebongkah tembok dari bangunan utama tepat di samping penyihir itu, menimpanya dengan keras. Debu berterbangan di mana-mana, terlihat tembok itu kini berlubang memperlihatkan kamar Yoona yang kosong.
Tumpukan batu bata itu bergerak sebelum penyihir tadi keluar dari sana. Hyukjae tidak terkejut, penyihir sekuat itu mana mungkin mati hanya karena tertimpa batu bata. Dapat ia lihat tubuhnya penuh dengan debu, di kepalanya mengucur darah segar mengalir hingga ke lehernya.
Lagi-lagi kekehan itu terdengar.
"Ternyata kau cukup agresif juga, Cantik. Sebenarnya aku tidak punya urusan denganmu di sini, tapi karena kau mengganggu apa boleh buat. Kau perlu didik supaya patuh." Gelombang hitam itu terkumpul dan menyerang Hyukjae begitu cepat.
BLUAR
Gelombang kekuatan itu bertabrakan, gelombang hitam itu bertabrakan dengan gelombang berwarna biru milik Hyukjae tepat pada waktunya. Mencegah Isis itu terkena serangan. Hyukjae tiba-tiba menyadari sesuatu. Ia melihat sekitar.
'Kemana semua orang?'
"Kenapa, kau mencari bantuan? Percumah, semua orang di sini sudah tertidur lelap dan tak akan bangun tanpa mantraku, Cantik." Barthe itu menyeringai, kembali menciptakan gelombang hitam dan menyerang Hyukjae.
Kali ini Hyukjae menghindar, ia harus menghemat kekuatan dan menciptakan serangan yang lebih efektive dan efisien.
Menangkap Croi di depannya lengah, Barthe itu membuat dua gelombang hitam di kedua telapak tangannya, melemparnya satu membuat Hyukjae menghindar. Ia akan melemparnya satu lagi tepat saat Hyukjae menghindar agar Isis itu tak bisa mengelak namun anak panah yang tiba-tiba menembus tangannya menhentikan segalanya.
Barthe itu mengerang kesakitan, membuat Hyukjae menengok ke sumber anak panah tadi. Di sana, di seberang taman terlihat Donghae yang menggenggam busur panah dan siap menarik anak panah lagi.
Shut
"AARGK!" Kali ini tepat mengenai dada Barthe itu. Marah karena serangan Donghae, penyihir itu mengarahkan gelombang kekuatannya ke arah Pangeran itu namun sayang, gelombang berwarna biru keburu menghantamnya membuatnya terlempar menabrak tembok di ujung lorong.
Barthe itu mencoba bangkit, ia terbatuk mengeluarkan darah dari mulutnya. Matanya menatap tajam ke arah Croi di depannya. Beraninya anak kecil ini menyerangnya. Aura hitamnya keluar menciptakan kabut tipis berwarna hitam di sekitarnya. Sihir khas klan Barthe.
Batu bata itu tiba-tiba saja bergerak berkumpul menjadi satu seperti tertarik oleh magnet, menciptakan sebuah bola batu raksasa. Mata mengerikan itu mengunci mata Hyukjae saat bertemu pandang, membuat gadis itu tak bisa bergerak.
'Sial, ia menahanku dengan sihirnya!' Hyukjae hanya bisa berteriak dalam hati sedangkan tubuhnya serasa menjadi batu, diam tak bisa bergerak. ia tak bisa berbuat banyak saat bola batu itu terlempar kearahnya.
BRUUULK
Dua tubuh itu berguling di tanah setelah berhasil menhindari hantaman batu besar di lorong sana. Yaris saja. Donghae meraih tubuh Hyukjae tepat pada waktunya, lagi-lagi mencegahnya terkena serangan sekaligus memecah kontak sihir yang memengaruhi gadis Croi itu.
"Kau baik-baik saja?" Hyukjae dapat melihat tatapan khawatir dari Pangeran yang ada di atasnya. Hyukjae tak bisa menjawab, rasa terkejutnya masih melanda emosi gadis itu.
"Ck ck ck, manusia dan penyihir? itu kolaborasi yang buruk." Suara itu langsung membuat Hyukjae bangkit dari posisinya.
"Apakah menjadi satu-satunya yang tersisa membuatmu begitu putus asa, Cantik? Sehingga kau bersekutu dengan mahkluk menyedihkan seperti mereka?" Mata Barthe itu melirik ke arah Donghae. Ia mengerakkan tangannya, membuat tubuh Donghae melayang dan mendekat ke arahnya dalam sekejap, mengejutkan dua orang yang ada di sana.
Dapat Donghae rasakan tubuhnya seperti diperas tangan raksasa yang tak terlihat, membuatnya mengerang kesakitan.
"Lihat mereka, mereka begitu lemah dan tak berguna. Apa yang kau harapkan darinya?" Barthe itu semakin menekan tubuh Donghae membuat Pangeran itu berteriak.
"Akan lebih baik jika kau mati bersama klan mu yang bodoh itu, Cantik. Begitu bodoh karena menolak tawaran kami hanya karena teori bodoh kalian. Dan coba lihat sekarang, bukankah menjadi satu-satunya yang tersisa sangat menyedihkan. Tak ada siapapun yang akan peduli padamu." Tawa itu terdengar setelahnya membuat Hyukjae mengepalkan tangannya.
Ia tidak ingin diingatkan tentang semua itu, ia tidak ingin diingatkan saat keluarganya mati di depannya, klannya hancur di depan matanya. Ia tidak ingin mengingatnya lagi!
Iris sehitam malam itu bertemu dengan iris cokelat Donghae. Hyukjae melihat bagaimana tatapan sayu itu ditujukan padanya, seakan Donghae tahu gejolak hati yang ia rasakan.
Kenapa Donghae menatapnya seperti itu?
Kenapa tatapannya terkesan peduli padanya?
Tatapan mereka terputus saat Barthe itu mendekatkan tubuh Donghae padanya, berniat menghabisi nyawa Pangeran itu namun tiba-tiba saja ia menyadari sesuatu.
Manusia didepannya ini terasa berbeda, ada sesuatu yang melingkupinya. Sesuatu yang dulu pernah ia rasakan pada salah satu klan Croi. Ia merobek baju Donghae tanpa menyentuhnya, matanya melebar saat melihat tanda di dada manusia itu. Ia menatap tajam kearah Hyukjae.
"Kau-"Belum sempat ia berbicara tumbuhan mawar itu melilitnya ketat, duri-duri tajamnya menembus kulit dengan meyakitkan. Terus melilit seluruh tubuhnya tanpa memberi kesempatan padanya untuk bergerak.
Donghae yang terlepas dari gengaman sihir lantas menghunuskan pedangnya ke perut penyihir itu, menanamkannya begitu dalam sebelum memutarnya mencoba menciptakan lubang yang besar di sana. Namun apa yang terjadi, bukan darah segar yang keluar dari lubang itu melainkan ratusan serangga yang tumpah begitu saja.
"Pergi dari sana Donghae!" Teriak Hyukjae, gadis itu mengarahkan tangannya sambil berguman, membuat air kolam terangkat dan bergerak mengalir kearah Sang Barthe, membungkusnya dengan ketat. Tangan putih itu mencengkram membuat tekanan air itu makin bertambah, menghancurkan apa saja yang terperangkap di dalamnya. Terus ditekan dan ditekan sebelum gumpalan air itu meledak, meyebarkan air di mana-mana.
Donghae membuka matanya, seluruh area itu basah oleh air bahkan tubuhnya juga. Ia dapat melihat di tengah taman tubuh laki-laki penyihir itu tergeletak tak berdaya dan Hyukjae yang berjalan mendekatinya.
Sososk bergaun hitam itu kini berdiri tepat di samping Barthe sekarat itu, ia membuka lima jemarinya tepat di depan wajah laki-laki di bawahnya.
"Semuanya sudah dimulai, Cantik."Dengan susah payah Barthe itu berbicara.
"Kami tidak akan bisa dihentikan. Bahkan jika kau mencoba kembali melakukan apa yang klan mu lakukan untuk mencegah kami. Semuanya akan hancur sebentar lagi…hanya tunggu sebentar lagi." Tawa itu terdengar.
Hyukjae mengucapkan satu mantra dan tubuh itu mengurai menjadi serangga kecil yang perlahan mati dengan sendirinya.
Rombongan pasukan itu berhasil masuk ke istana permaisuri dan terkejut dengan keadaan di sana. Kangin menghampiri Donghae, menepuk pundak namja itu.
"Kau tak apa?" Donghae hanya bisa mengangguk tanpa melepaskan tatapannya pada Hyukjae.
.
###
.
Ruang pertemuan kerajaan itu terlihat begitu riuh, insiden penyerangan penyihir tempo hari membuat seluruh Roran panik.
"Ini tidak hanya terjadi di Roran tapi terjadi hampir di seluruh negeri. Mereka mencoba membunuh para raja di setiap negeri. Hargon dan Serna bahkan harus kehilangan raja mereka." Kangin selesai melaporkan informasi yang ia dapatkan.
"Para penyihir itu mulai melakukan penyerangan terselubung. Mereka bahkan sudah berani meyelinap masuk ke istana sekarang." Raja melihat ke seluruh jajaran manteri dan pimpinan pasukan di depannya.
"Aku yakin mereka merencanakan sesuatu yang besar di balik ini semua, Ayahanda. Tidak mungkin mereka berani mempertaruhkan nyawa mereka masuk ke kandang singa jika tidak ada alasan yang kuat."Pendapat Donghwa ada benarnya.
"Mereka tidak menggunakan sembarang penyihir, mereka mengirim penyihir-penyihir istimewa."Donghae menambahkan.
"Gadis penyihir itu pasti tahu alasannya, kita paksa saja ia bicara!"Pendapat salah satu menteri itu membuat Donghae menggebrak meja.
Semua orang terdiam.
"Dia adalah orang yang mencegah kematian raja, bagaimana mungkin kau melakukan sesuatu seperti itu pada orang yang berjasa pada Roran!"
"Maafkan saya Pangeran, tapi ia adalah salah satu dari mereka. Kita tidak boleh mengambil resiko, bisa saja tiba-tiba ia juga menyerang kita. Akan lebih baik jika kita mengamankan dia."
"Tidak ada yang boleh menyentuhnya, di adalah urusanku. Siapapun yang berurusan dengannya akan berurusan denganku."Nada bicara Donghae berbahaya. Tatapan tajamnya terkesan begitu dingin.
Raja menghela nafas, anak bungsunya memang keras kepala.
Pertemuan itu hanya menghasilkan perintah untuk memperkuat pertahanan, memperketat pengawasan, serta keputusan untuk memulangkan Yoona ke tempat keluarganya di Irene. Ayahnya pun sekarang sedang diperiksa karena terlibat insiden penyerangan penyihir itu. Selebihnya semua berjalan seperti biasa tidak ada yang berubah.
Oh, ada satu yang berubah. Pandangan Donghae terhadap Hyukjae sekarang berubah total.
Pangeran itu melangkahkan kakinya menuju kamarnya sembari memikirkan apa yang penyihir laki-laki itu katakan. Hyukjae adalah satu-satunya Isis yang tersisa, klannya sudah habis mati terbunuh oleh penyihir lainnya. Benar juga, bukankah ia hanya bertemu Hyukjae di Hutan Terlarang. Tidak ada penyihir lain di sana kecuali Hyukjae. Selama ini ia tidak pernah memikirkan masa lalu Hyukjae, apa yang telah dialami gadis itu sebelum bertemu dengannya. Donghae tidak pernah repot-repot untuk bertanya. Pangeran itu terus berjalan sambil membawa sekeranjang buah strawberry ditangannya.
Yah di berniat minta maaf pada Hyukjae atas perlakuannya tempo hari, dan strawberry adalah satu-satunya saran terbaik dari Ryewook.
Donghae masuk ke dalam kamarnya, dan seperti dugaannya Hyukjae ada di sana. Duduk di kusen jendela yang terbuka menghadap pepohonan dan langit biru diluar. Tangan gadis itu terulur memberikan remahan roti di telapak tangannya pada beberapa burung yang bertengker di sampinya. Senyum manis terukir, begitu hangat.
Hyukjae terlihat cantik di mata Donghae sekarang, cahaya dari luar membuat Donghae tak bisa menyangkalnya. Sosoknya sekarang terlihat begitu lembut dan apa adanya seakan melupakan fakta bahwa ia adalah penyihir.
"Akan lebih baik jika kau mati bersama klan mu yang bodoh itu, Cantik. Begitu bodoh karena menolak tawaran kami hanya karena teori bodoh kalian. Dan coba lihat sekarang, bukankah menjadi satu-satunya yang tersisa sangat menyedihkan. Tak ada siapapun yang akan peduli padamu."
Ingatan itu begitu jelas di otak Donghae, matanya menatap sosok bergaun hitam di depannya. Tak ada siapapun yang menemaninya selama ini. Ia selalu sendiri. Bisa kau bayakan seluruh keluargamu meninggalkanmu? Seluruh orang yang kau kenal menghilang begitu saja. Bukankah rasanya pasti sangat kesepian? Belum lagi penolakan dari kaum manusia. Donghae tidak bisa membayangkannya.
Kenapa sosok itu terlihat begitu rapuh sekarang ?
Kenapa sosok itu terlihat begitu lemah ?
Hyukjae mendongak saat sekeranjang strawberry tiba-tiba saja muncul di depannya. Terlihat Donghae yang berdiri canggung di depannya. Namja itu mengelus tengkuknya sendiri sambil sesekali mencuri pandang padanya.
"Untukmu." Pangeran itu terus menyodorkannya sampai keranjang berisi buah asam itu kini ditangan Hyukjae.
"Maaf untuk perlakuanku tempo hari, tak akan kuulangi lagi. Tapi kau jangan melakukan hal-hal seperti itu juga, itu salah menyakiti…"Perkataan Donghae begitu pelan diujung kalimat dan tidak bisa meneruskan kalimatnya lagi saat bertatapan denga Hyukjae. Ia tak tahu harus berkata apa.
Hyukjae tertawa geli, geli dengan cara meminta maaf Donghae padanya. Gadis itu mengambil satu buah dan mengigitnya separuh sebelum menyodorkan setengahnya pada Donghae. Dengan ragu Donghae melahapnya, membuat air buah strawberry menetes di sudut bibirnya. Baru ia akan menyekanya namun tiba-tiba saja sebuah benda yang lunak dan basah mendahuluinya. Ia menengok kesamping terpaku menatap Hyukjae.
Gadis itu baru saja menjilatnya?
Hyukjae tertawa halus melihat wajah bodoh Donghae lalu mengkalungkan tangannya di leher Donghae dengan nyaman. Tak tahu jika jantung namja itu berdetak kencang, tak tahu jika rasa hangat mendesir di hati Pangeran itu.
.
###
.
Elf itu menjerit saat tubuhnya dicengkram oleh seseorang, ia baru saja kembali ke kediaman Hyukjae setelah berkeliaran di hutan. Dan betapa terkejutnya dia saat tahu siapa yang ada di hadapannya. Di depannya adalah seorang gadis dengan rambut hitam panjang, wajahnya nyaris sempurna hingga terlihat tidak manusiawi. Gaun hitamnya hanya sebatas lutut memperlihatkan sendi kakinya yang terbaut layaknya boneka. Tangan kerasnya mengetatkan cengkramannya membuat Elf itu berteriak keras.
"Kau menemukan sesuatu, Sayang?"Sosok lain muncul di belakang sosok gadis itu, kali ini laki-laki. Gadis itu berbalik dan menyodorkan Elf di tanganya dengan gerakan yang begitu kaku dan janggal.
"Katakan padaku di mana Hyuk Nonna?"Elf itu berkicau dengan takut-takut. Ia tahu siapa sosok didepannya dan tidak ingin mencari masalah.
Namja itu tersenyum saat tahu keberadaan orang yang ia cari. Melepas Elf itu begitu saja, ia kembali melihat gadis didepannya. Jemarinya menyentuh pipi putih dingin itu.
"Kita akan ke Roran, Sayang." Gadis itu memiringkan kepalanya. Tubuh ringannya terangkat kepelukan namja di depannya.
"Dan mungkin kita bisa sedikit bermain di sana."Seringaian itu terukir saat memeluk tubuh dingin kekasihnya. Tubuh dingin yang terbuat dari kayu yang begitu keras.
TBC
Ayo tebak siapa mereka? hahaha
Soooooo, gimana menurut kalian? silahkan kritik dan sarannya buat chapter depan.
Klo ada yg ngerasa Haehyuk momentnya kurang, tenang aja chapter depan bakal focus ke romansa Haehyuk (cie cie).
Makasih untuk review chapter sebelumnya, dan makasih juga yang udah baca. Maaf untuk typo dimana-mana hehehe
Pokoknya jangan bosen2 baca ya :D
Special Thanks :
