Multiverse Love

Chapter 3

By : arelaiphy

a/n : Fiuuuh, akhirnya chapter ini kelar juga. Terimakasih untuk review, fav dan allert nya. Happy reading!

Disclaimer : you-know-who , right?

Rate : T


Apa kau tau Malfoy, jika keadaan tergelap sepanjang malam adalah sesaat sebelum fajar?


"Granger, kumohon buka matamu."

"Seorang Draco Malfoy memohon padaku" tubuh yang berbaring di lengan Draco itu bersuara, matanya masih menutup, bibirnya berkedut membentuk senyum.

"Sialan!" Draco melepaskan tubuh Hermione dari lengannya dan membiarkan gadis itu terjatuh ke tumpukan rumput. Hermione sedikit mengaduh ketika tubuhnya berdebum menyentuh rumput namun seketika langsung tertawa terbahak-bahak. Draco menyipitkan matanya terganggu.

"Lucu sekali, Granger. Tertawalah sepuasmu"

"Kau mudah sekali ditipu, Malfoy" ucap Hermione masih disela tawa, keningnya sedikit menjengit namun Draco tak melihat itu.

Draco hanya mendengus, namun ia merasakan kelegaan yang luar biasa. Dia bersumpah gadis itu benar-benar tak sadarkan diri beberapa saat yang lalu, dan tubuh itu benar-benar membeku. Kenyataan Hermione sadar dan dapat tertawa begitu keras membuat seluruh kata-kata pedasnya menguap.

"Kau membeku" adalah kata-kata yang akhirnya keluar.

"Oh ya? Jubahku tertinggal" jawab Hermione asal.

Draco melepaskan jubahnya dan menyelimutkan di tubuh terbuka Hermione. Gadis itu terlihat benar-benar kedinginan, tubuhnya menggigil dan embun berhembus saat ia bernafas.

"Makanya gunakan otakmu sebelum membuka pakaian untuk sembarang pria"

Hermione tak bisa menahan diri untuk tidak memutar bola matanya. Draco menggumamkan mantera penghangat diantara mereka, dan merasakan kulitnya yang meremang karena dingin terasa kembali nyaman.

"Ayo pergi" ucap Draco sambil meraih tubuh Hermione bermaksud membantunya berdiri. Kulit Draco terkejut ketika merasakan suhu tubuh Hermione yang terbalut jubahnya tidak berubah, malah semakin dingin seakan mantera penghangat tidak berpengaruh sedikitpun.

"Kau masih membeku. Granger, apa yang terjadi?" Tanya Draco

"Aku tidak apa-apa" ucap Hermione terbata, tangannya berusaha melepaskan tangan Draco di tubuhnya.

"Kau kenapa-kenapa, Granger" Draco kembali menyentuh Hermione dengan tergesa-gesa saat tiba-tiba perasaan yang sangat tidak enak menjalari sampai ke pembuluh darahnya.

Hermione tiba-tiba menjerit kesakitan yang membuat Draco refleks melepaskan sentuhannya. Apakah ia mencengkram tubuh gadis itu terlalu kuat? Rasanya tidak. Hermione terlihat menahan rasa sakit yang teramat sangat namun tidak mengeluarkan suara, dia berusaha tidak mengeluarkan suara lebih tepatnya. Draco akan mengira gadis itu di crucio jika saja ada orang lain selain mereka di sana, tangannya tergantung bergetar diudara, matanya memandang gadis itu horror.

"Aku, tidak apa-apa. Cukup jangan menyentuhku dulu, oke?" ucap Hermione. Rasa sakit sepertinya sudah mereda namun ia masih meringis.

"Jelaskan padaku apa yang terjadi , Granger. Apa kau menerima mantera untukku?" Draco berhasil menemukan suaranya, sekilas kejadian sebelum mereka ber-apparate ke tempat itu teringat di kepalanya. Kilat perak, jeritan Hermione, apparate dan tiba-tiba Hermione yang membeku.

"Lukamu" ucap gadis itu, mengangkat tangannya dengan susah payah kearah pelipis Draco. Tangan Draco mengikuti arah gerak Hermione dan merasakan darah yang menggenang. Dia bahkan tidak menyadari lukanya telah menjadi semakin parah, separuh kemeja putihnya sudah berubah warna menjadi merah. Rasa sakit yang seharusnya Draco rasakan seakan menguap dan bergabung menjadi buih sebab ia sama sekali tidak merasakan apa-apa kecuali rasa tidak enak yang terus menjalari setiap jengkal tubuhnya sejak melihat keadaan Hermione.

"Bukan saatnya mengkhawatirkan aku. Sialan Granger, katakan padaku apa yang terjadi. Apa kau benar-benar menerima mantera itu?"

Draco kehilangan kemampuan pengendalian dirinya yang biasanya tak bercela dan Hermione hanya tersenyum. Matanya kemudian beralih ke langit yang mulai berganti warna.

"Apa kau tahu Malfoy, keadaan tergelap sepanjang malam adalah sesaat sebelum fajar?"

"Pikiran sialan apa yang ada di otakmu sih? Siapa yang menyuruhmu bersikap sok pahlawan?"

Hermione kembali tersenyum "Ketika kau berada di titik paling rendah kadang itu adalah tanda bahwa keadaan akan menjadi lebih baik" matanya menerawang ke arah cakrawala dimana matahari mulai menunjukan semburat keemasan.

"Kau mulai ngelantur, sebaiknya kita pergi dari sini"

"Aku, aku tidak bisa ber-apparate lagi" ucap Hermione ragu.

Draco memberi pandangan bertanya dan Hermione mengangkat bahunya lalu tersenyum pahit. Draco tersadar, gadis itu terluka parah.

"Tunggu disini, aku akan mencari bantuan"

Draco baru akan berdiri ketika tangan Hermione menahannya,

"Jangan pergi" suara itu pelan pelan saja, namun memberikan Draco efek yang sama seperti kakinya baru saja dirantai ke tanah.

Gadis itu kemudian mengangkat tangannya yang menggenggam tongkat, tangan itu bergetar seakan untuk bergerak beberapa senti saja membutuhkan begitu banyak tenaga.

"Expecto Patronum" Hermione meneriakan manteranya, sebuah cahaya keperakan keluar dari ujung tongkat yang lama-lama memunculkan bentuk dari seekor berang-berang transparan keperakan. Berang-berang itu berputar mengelilingi mereka untuk beberapa saat dan melepaskan diri dari garis cahaya keperakan yang masih terhubung dengan tongkat. Hermione meletakkan tangannya yang bergetar di samping tubuh, Draco terlihat bingung.

"Harry aku membutuhkan bantuanmu, di dekat shell cottage. Datanglah secepat mungkin"

Berang-berang perak itu kemudian berputar sekali lagi mengelilingi mereka dan menghilang dibalik rumput setinggi betis. Hermione bernafas berat sekali-dua kali, sepertinya mantera yang baru saja ia gunakan menguras tenaganya begitu banyak.

"Bantuan akan segera datang" ucapnya kemudian.

Draco masih terlihat kebingungan.

"Aku mengirim Patronus" sebuah nafas berat, "mengapa kau tak bergabung denganku berbaring disini Malfoy, langitnya sangat indah"

Draco mematung tidak bergerak, otaknya sudah berkecamuk dengan berbagai sanggahan. Bukan saatnya untuk berbaring di tempat seperti ini sekarang, gadis itu membutuhkan bantuan secepatnya dan itu tak akan ia dapatkan jika terus-terusan berbaring disini. Namun Draco menyerah ketika memperhatikan senyum yang terukir di wajah Hermione. Bantuan akan segera datang, seperti katanya.

Draco kemudian melempar pandangan jauh, memperhatikan ujung langit yang mulai dihiasi warna keemasan. Suara ombak yang terdengar menenangkan dan sebuah pondok mungil dengan dinding-dinding yang ditempeli karang. Draco memusatkan pandangannya ke arah pondok itu berharap menemukan tanda-tanda kehidupan disana. Namun tak ada apa-apa , tak ada cahaya ataupun cerobong yang berasap.

"Maaf, tempat ini tiba-tiba terpikir olehku. Kau tau semua terlalu cepat dan aku harus memikirkan suatu tempat dan tiba-tiba—" Hermione melihat Draco memperhatikan ke arah pondok, "Itu rumah Bill, saudara tertua Ron. Aku lupa jika mereka pergi ke Prancis untuk menghadiri pernikahan kerabat Fleur" jelas Hermione

"Tempat yang indah bukan? Aku selalu menyukai tempat ini" lanjut Hermione ketika Draco sama sekali tidak bersuara, "bergabung denganku , Malfoy?" itu undangan yang kedua.

Hermione memandang Draco dengan senyum seakan semua baik-baik saja, tak ada perampok, tak ada luka dan tak ada tubuh yang membeku. Pria itu masih terdiam beberapa saat, benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan wanita yang terbaring tak berdaya disampingnya. Namun senyum itu sama sekali tak berubah bahkan setelah beberapa saat Draco memberinya pandangan yang begitu dingin. Akhirnya Draco menyerah.

"Sayang sekali sudah terlalu pagi untuk melihat bintang" kata Hermione ketika Draco sudah berbaring disampingnya.

Langit diatas mereka sekarang sudah hampir kehilangan warna gelap, tak ada lagi bintang ataupun bulan. Angin laut berhembus meniup rerumputan yang mulai mengering. Kedua orang itu tak ada yang bersuara, hanya ada deburan ombak menghempas karang yang memecah kesunyian.

"Malfoy, apa kau percaya dunia parallel?" Tanya Hermione

Bibir Draco tertarik ke satu sisi, memperlihatkan senyum miring favoritnya.

"Kau yang mencekoki Daphne dengan ide absurd itu?"

Hermione pecah oleh tawa, "Aku tak bisa menyangkal itu" katanya, "Jika dunia itu memang ada, aku penasaran akan menjadi orang seperti apa aku. Akan menjadi tempat seperti apa disana. Apakah aku bahagia?"

Draco mengerutkan kening pada kalimat terakhir Hermione, "Bukan hal bijak berbicara seperti itu dengan orang lain, Granger. Kau akan dikira tidak bersukur"

Hermione tersenyum, "Apa terlihat seperti itu?"

Langit benar-benar sudah terang sekarang, Draco dapat merasakan hangat sinar matahari di wajahnya. Rasanya begitu nyaman. Draco tidak cukup senang posisi mereka sekarang yang membuatnya tidak leluasa memandang kedalam manik hazel Hermione.

"Apa lagi yang kurang dari hidupmu?" Tanya Draco kemudian.

"Daripada kurang bagaimana kalau aku sebut terlalu banyak? Terlalu banyak sampai terasa menyesakkan"

Sebuah senyuman tanpa bisa dikontrol muncul di bibir Draco, "Kerja yang bagus , Granger"

Hermione seperti mengalami trans beberapa saat, mencerna kata-kata Draco yang terdengar tidak singkron dengan arah pembicaraan mereka.

"Maaf?" ucapnya bingung, memutar kepala ke arah Draco. Sebuah desisan kesakitan lolos dari bibirnya.

Draco memutar pandangan kearah yang sama, sebuah senyuman yang langka melengkung indah dikedua belah bibirnya. Jantung Hermione berdetak terlalu cepat.

"Mengungkapkan perasaanmu sebagaimana adanya , tidak menyangkal dan tidak terus terlihat baik-baik saja. Kerja bagus"

Senyuman itu bertahan hanya beberapa detik sampai kalimat Draco selesai namun tidak meredakan detak jantung Hermione. Dia tidak pernah melihat Draco benar-benar tersenyum sebelumnya, kebanyakan hanya menyeringai atau tersenyum sinis. Tapi yang barusan itu benar-benar senyum yang lain, dan harus Hermione akui Draco Malfoy memiliki senyum yang bagus—tidak, senyum yang menawan. Hermione kembali berpikir bagian terkonyol dari ini semua, bagaimana Draco bisa dengan mudah mengetahui apa yang ada dihatinya, menyuarakan kebenaran-kebenaran dari perasaannya dan memaksanya mengakui setiap hal yang bahkan dirinya sendiri selalu coba sangkal. Terlebih lagi, mampu membuatnya kehilangan akal sehat hanya dengan sebuah senyuman.

"Malfoy, bisa kau peluk aku? Aku kedinginan" sudah Hermione katakan kan, ia sudah kehilangan akal sehat. Malfoy berefek sama memabukkannya dengan firewhiskey, bahkan lebih buruk.

"Hah? Kau, kau akan kesakitan" kata Draco setengah terkejut setengah bingung setengah salah tingkah—oh itu akan lebih dari satu tapi memang begitu kenyataannya. Ini terlalu banyak dan tiba-tiba.

"Tidak apa-apa, tubuhku bahkan sudah mati rasa" Hermione berbohong, bukan tubuhnya yang mati rasa tapi otaknya yang sudah mati dan tidak bisa berpikir.

Draco terlihat ragu-ragu, tak terlihat terlalu percaya tapi kemudian kedua lengannya perlahan-lahan (benar-benar perlahan) melingkari tubuh Hermione. Ia berusaha menggunakan tenaga seminimal mungkin seakan dengan satu sentuhan yang salah tubuh itu bisa pecah berkeping-keping. Nafas Draco terdengar terlalu cepat dan ia yakin Hermione bisa merasakan detak jantungnya yang tak kalah cepat karena ia juga mampu merasakan detak jantung gadis itu di perutnya. Tubuh Hermione membeku membuat Draco merasa seperti memeluk patung es. Namun dingin itu sama sekali tidak menggangunya bahkan membuatnya semakin ingin mengeratkan pelukan jika saja itu tidak akan menyakiti tubuh Hermione.

"Malfoy" Hermione bersuara dibalik dada Draco, ia bisa merasakan nafas hangat pria itu di rambutnya dan wangi musk, vanilla dan darah dari tubuh Draco.

"Hmm"

"Kau ingin tau apa yang kupikirkan saat membuat patronus tadi?"

Tak ada jawaban, Draco terlalu takut untuk mendengarnya. Ia tahu bagaimana cara kerja mantera itu hanya belum pernah mencobanya.

"Akan kukatakan saat aku bangun, aku agak sedikit mengantuk"

Draco merasakan nafas teratur Hermione beberapa saat kemudian, dan memutuskan untuk menyusul gadis itu kealam mimpi.

Interlude

Tubuh berbalut gaun putih itu membeku dan memucat sewarna salju seakan darah telah meninggalkan pembuluh dibawahnya. Jika saja tak ada deru nafas berat yang terdengar siapapun akan mengira gadis itu telah mati.

Draco merasakan berat tubuh seseorang di lengannya dan merasakan wajah yang ia lihat terasa sangat familiar dan sangat asing pada saat yang sama. Matanya menangkap kalung berwarna merah yang melingkari leher gadis itu, dan yakin pernah melihat hal yang sama di suatu tempat. Tubuh itu sama sekali tidak bergerak dan kelopak yang menutup memberi Draco kerinduan yang amat sangat untuk melihat iris hazel dibaliknya. Entah kenapa ia begitu yakin jika ada dua buah manik indah berwarna hazel jika kedua kelopak itu terbuka.

Perlahan Draco seperti merasakan sesuatu menariknya menjauh dari tubuh yang sebelumnya ada di pelukannya. Visi di sekitarnya seperti lenyap oleh suatu tirai berwarna abu-abu, namun tubuh itu masih disana hanya saja jauh dari jangkauannya. Draco mengulurkan tangan kearah gadis itu, namun kekuatan yang menariknya seakan tidak mengizinkan. Perasaan putus asa itu kembali dirasakan Draco dan membuatnya merasa menjadi orang paling tidak berguna. Semuanya kemudian blur dan menghilang. Sekali lagi, batinnya bertanya. Siapa itu Draco?

Sebuah sentakan membangunkan Draco dan membuatnya kembali menggapai kesadaran yang tercerai-berai. Ia menghirup oksigen banyak-banyak seakan baru saja menyelam dari kedalaman air. Ini kali ketiga ia bermimpi tentang sesuatu yang asing, ia tidak mampu mengingat apa hanya terasa sangat asing. Paru-parunya masih memaksa untuk menghirup oksigen sebanyak mungkin seakan sudah lupa bagaimana rasanya bernafas. Keadaan disekitarnya terlalu putih dan berbau tidak enak, seperti rumah sakit? Ya, Draco mengenali tira-tirai dan ranjang-ranjang kosong disekelilingnya.

"Anda sudah bangun tuan? Sebaiknya anda kembali berbaring, anda kehilangan banyak darah dan.."

"Dimana Granger?" potong Draco.

Wanita itu terhenti dan memandang Draco terlihat tersinggung. Draco tidak ambil pusing dengan ekspresi itu dan mengulangi pertanyaannya dengan lebih keras sambil turun dari ranjang.

"Anda tidak bisa.." Wanita yang berumur sekitar tiga puluh tahunan itu kembali terhenti oleh acungan tongkat sihir Draco.

"Cukup katakan dimana Granger, dimana gadis yang datang bersamaku?" Draco mengucapkannya dengan mengeram.

Wanita itu mencicit tentang ruangan paling ujung di kanan lorong dan terlihat sangat shock. Draco segera berlari meninggalkan ruangan tak peduli dengan apapun, yang ada dikepalanya sekarang hanya bagaimana cara secepatnya melihat Hermione. Ia hanya ingin melihat gadis itu dan memastikan bahwa ia baik-baik saja.

Beberapa orang berkumpul di depan pintu yang menjadi tujuan Draco, tapi ia tak peduli siapa yang berdiri disana dan samar-samar mendengar seseorang memanggil namanya. Pintu itu tertutup namun sebelum Draco meletakkan tangan di gagang pintu, sebuah kepalan menghentikannya—tepat di hidung.

"Kau bajingan busuk, apa yang kau lakukan pada pacarku?"

Draco merasakan panas di puncak hidungnya setelah sebuah kepalan mendaratkan diri disana dengan begitu keras. Dengan masih sedikit meringis Draco melihat Ron dengan tinju di udara berusaha untuk mendaratkan benda itu di wajahnya lagi namun Draco sudah mendaratkan miliknya terlebih dahulu di rahang Ron. Pria berambut merah itu terhuyung ke belakang namun segera menghambur ke arah Draco sedetik berikutnya. Draco merasakan beberapa tinju mengenai wajah dan perutnya namun juga merasakan tinjunya sendiri bersarang di wajah Ron, ada darah yang berceceran di lantai entah itu miliknya atau Ron Draco sendiri tidak yakin.

"Lepaskan aku Harry, biar kubunuh keparat itu. Kau lihat apa yang sudah diperbuatnya pada Hermione"

Ron meronta dari cengkraman Harry dan berusaha menggapai-gapai kearah Draco. Draco sendiri pasti sudah akan menghambur mendaratkan beberapa tinju lagi padanya jika saja tidak ada tangan Daphne yang menahannya.

"Dia tidak akan berakhir seperti itu jika kau tidak memiliki kebiasaan meniduri setiap wanita yang bisa kau temui, Weasley" Draco menggertakkan giginya emosi.

Draco tidak memiliki keinginan untuk mengatakan hal itu terlebih didepan semua orang seperti sekarang, namun sikap sok suci Ron meledakan amarah didalam dadanya. Mata Ron terbelalak namun tidak menghentikan dirinya untuk menjadi semakin marah kepada Draco, kata-kata yang baru saja ia dengar justru malah membuatnya semakin murka.

"Cukup pergi dari sini Malfoy" teriak Harry yang semakin kepayahan memegangi Ron.

"Draco, ayo pergi dari sini" Daphne menarik-narik lengan Draco untuk mengikutinya.

Tidak, Draco tidak ingin pergi. Bukan dia yang seharusnya pergi, pria berambut merah seperti musang itu yang harusnya pergi. Dia yang membuat Hermione jadi begini, bukan Draco. Semua pasang mata yang berada disana memandang Draco seakan berkata "Kau yang harus pergi" tepat didepan hidungnya. Ya, sepertinya Draco lupa satu hal, ia adalah orang asing dan Weasley tidak jadi dia yang harus pergi.

Draco pasrah mengikuti seretan Daphne di lengan kirinya, menerima fakta yang baru saja ia sadari sendiri dengan sedikit tidak rela. Dia tidak benar-benar menyadari kemana Daphne membawanya karena pikirannya tertinggal di tempat tadi, tepatnya ruangan di balik pintu yang belum sempat ia buka. Hermione.

"Kau baik-baik saja?" suara Daphne terdengar begitu jauh bagi Draco, padahal gadis itu duduk tepat sejengkal disampingnya.

Pertanyaan itu hanya dijawab oleh anggukan oleh Draco.

"Kau bisa ceritakan padaku apa yang terjadi?"

Pertanyaan itu tidak menuntut jawaban dan nada bicara Daphne tidak menyiratkan ia ingin memaksa Draco untuk bercerita. Draco pun tidak sedang dalam mood untuk bercerita tapi akhirnya semua yang terjadi malam itu keluar dengan sendirinya—well, hampir semua. Draco tidak menceritakan detail yang akan membuatnya bertemu kematian yang beberapa saat lalu coba ia hindari, tentunya.

Daphne menarik nafas beberapa kali. Mendapatkan poin dari cerita Draco , dia dan Hermione hanya berada di tempat yang salah dan diwaktu yang salah. Akumulasi dari kesalahan tersebutlah yang mengantarkan mereka ke ranjang rumah sakit, yeah, Daphne cukup puas dengan hipotesisnya.

"Bagaimana dengan, emm Granger?" pertanyaan itu keluar setelah begitu banyak pertimbangan. Draco hanya berharap suaranya tidak menunjukan kekhawatiran yang terlalu kentara.

Oh, ekspresi Daphne membuat Draco mengalami kesulitan bernafas. Gadis itu menunduk, memandang sedih dan menggeleng. Tidak, jangan bilang kalau—

"Dia masih belum sadar. Mantera yang mengenainya tidak terdeteksi, mungkin semacam mantera hasil modifikasi. Tubuh Hermione membeku seperti mengalami Hipotermia parah, suhu tubuhnya turun begitu drastis. Jika saja terlambat sedikit lagi—" Daphne memutuskan untuk tidak melanjutkan bagian itu, lalu "Para healer masih mencoba menyembuhkannya, namun tidak memberikan reaksi yang berarti. Dia masih bernafas, mungkin itu bagian terbaiknya" Daphne menyusut sudut matanya yang berair. Gadis itu sepertinya telah cukup banyak menangis, Draco menyadarinya ketika melihat matanya yang merah.

"kurasa ini milikmu" Daphne menyerahkan sebuah kotak beludru berwarna merah ke tangan Draco "Mereka menemukannya di tangan Hermione"

Sesuatu yang berat menindih dada Draco tiba-tiba. Kenyataan menabraknya seperti sekumpulan troll, mengobrak-abrik sampai porak-poranda. Draco tidak dapat bernafas dengan benar dan tiba-tiba merasa tuli karena ia tidak lagi mendengar perkataan Daphne. Hermione terluka parah, tidak bisa bangun, tidak ada kontra kutukan dan itu semua karena dirinya. Hermione terluka karena melindunginya. Kata-kata itu terus diputar berulang-ulang seakan ada seseorang yang menekan tombol repeat di kepala Draco. Ron memang benar, dia lah bajingan yang menyebabkan Hermione menjadi seperti sekarang.

Kotak beludru itu penuh debu namun tidak rusak sama sekali, sepertinya Hermione menjaga benda itu dengan sangat baik. Cincin yang terdapat didalamnya juga tidak tersentuh sama sekali masih berkilau seperti sebelumnya. Sebuah nafas berat dihembuskan Draco dengan susah payah.

Interlude

Disuatu tempat di alam semesta yang sangat jauh , jauh sekali sampai tak ada jenis satuan apapun yang pernah ditemukan mampu menyebutkan jaraknya dari tempat Draco berada. Disana seorang pria yang memiliki wajah yang sama dengan Draco terhisap dalam suatu medan gravitasi yang sangat dahsyat, dengan seorang gadis dipelukannya.

Draco tiba-tiba terjatuh dari kursi, rasa sakit menjalar disekujur tubuhnya dengan mengerikan. Dia tak mampu mendeskripsikan rasa sakit ini dengan benar, sekujur tubuhnya terbakar, tercabik-cabik dan ditarik-tarik pada saat yang bersamaan. Draco berada dititik dimana ia merasa mati jauh lebih baik dibanding harus menahan rasa sakit itu sedetik lebih lama saat melihat suatu cahaya terang. Cincin keluarganya berpendar terang dengan cahaya merah sebening kristal, cahaya itu lama kelaman semakin terang dan menyilaukan. Draco mengerang saat rasa sakit terasa berkali-kali lipat lebih hebat setiap kali cahaya itu berpendar makin terang. Tapi setiap jeritan yang keluar dari mulutnya sama sekali tidak mengeluarkan suara. Cahaya merah kristal tersebut menciptakan sebuah lingkaran yang berputar seperti pusaran air. Draco merasakan tubuhnya terangkat perlahan dan ujung sepatunya mulai terhisap kedalam pusaran itu. Dia kembali mengeluarkan jeritan tanpa suara, hal terakhir yang ia ingat sebelum tubuhnya menghilang adalah tubuh lain yang ia yakin merupakan tubuh miliknya tergeletak di lantai.

Draco pernah mendengar sesuatu mengenai kematian. Ketika arwah terpisah dari jasad, pada saat itu tubuhmu akan merasakan rasa sakit yang teramat sangat. Jiwamu akan diangkat menuju alam kematian, dan disanalah kau akan tinggal sebelum datangnya hari kiamat. Draco tidak pernah benar-benar mempercayai hal itu, terlebih kematian bukanlah topik favoritnya.

Tapi saat ini, Draco Malfoy merasa dirinya sudah mati dan berada dialam kematian. Ia mengingat rasa sakit yang ia rasakan secara tiba-tiba , tubuh yang tergeletak dilantai, dan dirinya yang terhisap oleh sesuatu. Draco masih mengumpulkan ingatan satu demi satu dengan mata tertutup, dia belum berani membuka mata sejak ia merasakan sesuatu yang lembut menopang tempatnya berbaring dan rasa sakit yang mengerikan tadi berangsur hilang.

Oke jadi dia mati. Kenapa? Itu adalah pertanyaan pertama yang muncul dikepalanya. Ya, tentu saja. Jika dia mati pasti ada alasannya. Draco ingat dia terluka cukup parah namun yakin sekali dia merasa baik-baik saja setelah terbangun di rumah sakit. Karena serangan Ron? apakah dia sekuat itu sampai bisa membunuh Draco? Draco segera menolak mentah-mentah ide itu tak terima bisa mati di tangan seorang Weasley. Draco terus berspekulasi dengan dirinya sendiri, menemukan penyebab kematiannya.

Draco masih sibuk menerka-nerka saat ia merasakan sesuatu yang berat menimpa perutnya. Apakah sudah saatnya, malaikat akan menghitung dosa-dosanya sekarang dan ia akan dijebloskan keneraka?. Entah kenapa Draco langsung terpikir tentang neraka. Well, Draco tidak berpikir dia adalah tipe "penghuni surga" mengingat dosa-dosa yang ia lakukan. Draco ketakutan sekarang, kenapa dia tidak menjadi orang-orang baik-baik selama hidupnya sehingga bisa masuk surga.

"Hmm . . iya aku akan bayar, aku akan bayar . tutup mulutmu pria gendut . hmm"

Gumaman itu menginterupsi seluruh monolog yang Draco lakukan, gumaman itu tidak terdengar seperti suara malaikat. Perlahan Draco mencoba meraba benda yang masih menindih perutnya, keras , kasar dan hangat, ini lengan seseorang , seorang pria. Kemungkinan apa yang bisa menyebabkan lengan seorang pria berada diatas perutnya?

"mendekat sayangku, hmm kau wangi sekali"

Mata Draco langsung membelalak terbuka saat lengan itu menariknya mendekat. Dengan cepat dihempaskannya menjauh dan langsung berdiri diatas kedua kakinya dengan tongkat teracung pada pria brengsek yang sudah berani-berani merangkulnya. Draco merasakan kepanikan menjalar dari ujung kaki sampai kepalanya. Sialan, sialan, sialan. Situasi sialan macam apa ini, dan demi nama leluhurnya dia mengenal suara pria brengsek itu. Katakan dia salah, itu tidak mungkin terjadi.

Draco memperhatikan pria yang tertidur di ranjang itu dengan seksama. Untuk pertama kalinya Draco menyadari tempatnya berada, dia sedang berdiri disuatu ruangan persegi berwarna kelabu. Terdapat dua buah ranjang berukuran sedang di sudut ruangan. Draco tidak mengenali tempat ini, terasa asing dan aneh. Namun ia tak punya waktu untuk bereksplorasi, perhatiannya kembali tertuju pada pria yang tertidur menelungkup di ranjang. Posisi tidurnya ini membuat Draco tidak dapat melihat wajah pria itu. Tapi dari postur tubuhnya, dan rambut itu, sialan, itu tidak mungkin dia. Draco masih mengacungkan tongkatnya defensif, berpikir mantra apa yang sebaiknya ia gunakan ketika orang ini bangun. Tapi pria brengsek itu sepertinya takkan bangun dalam waktu dekat dan masih menggumam tak jelas sambil memeluk dan mencium guling yang berada dipelukannya. Merasa melelahkan hanya berdiri, Draco akhirnya mencoba membalikkan tubuh yang tertelungkup itu.

"POTTER!"

FUCK! FUCK! Bloody fuck!. Dunia pasti sudah kiamat. Tidak, dia mungkin memang sudah mati dan berada di neraka sekarang.

Pria yang Draco panggil Potter itu menggeliat tak nyaman dan tersenyum bodoh melihat kearah Draco. "Sayang, ini masih terlalu pagi. Kembalilah tidur, sini " pria itu menepuk bagian tempat tidur disebelahnya mengisyaratkan Draco untuk mengambil tempat disana.

"Diam kau brengsek! Lebih baik kau jelaskan apa yang sedang terjadi disini sebelum aku meledakkan mulut busukmu itu" Draco mengacungkan tongkatnya tepat kearah hidung pria didepannya, matanya membulat murka.

"Hey mate, santai. Tenang, kau terlalu histeris" pria itu turun dari ranjang dan mencoba berdiri sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali. Tubuhnya terlihat limbung dan ia seperti tidak mampu untuk berdiri tegak.

Si brengsek ini mabuk?. Draco menyadari pria yang berdiri di depannya ini tidak mampu mengendalikan gerakannya.

"Berhenti disana kau sialan, jangan coba-coba mendekatiku jika kau masih ingin kepalamu berada ditempatnya" Draco mengacungkan tongkatnya dan siap mengirim kutukan sekarang.

"Haha, mengancamku dengan sebatang tongkat kayu? Kau mau mencolok mataku atau apa?. Hey man, sudah tenanglah, kau sepertinya baru saja bermimpi buruk. Sudah berapa kali kubilang untuk mematikan lampu sebelum tidur, itu membuatmu bermimpi buruk tapi kau tidak pernah mendengarkanku, . . ."

Apa yang dibicarakan pria sinting ini , batin Draco. Apa yang dia minum sampai terus berbicara ngawur seperti orang gila. Dia benar-benar sudah sinting.

"Sudahlah Dexter, sebaiknya kau tidur. Aku masih ngantuk, tadi itu pesta yang hebat sayang sekali kau tidak ikut. Banyak gadis sexy, berdada dan berbokong besar, benar-benar tipeku. Waah, aku tak bisa menjaga tanganku tetap ditempatnya. Selain itu, banyak minuman gratis. Aku membawakanmu satu disana"

Draco semakin tidak mengerti tapi tidak punya minat untuk terus mendengarkan ocehan tak berguna macam itu. Dia sudah berada di batas kesabarannya.

"Berhenti bicara omong kosong Potter! Sekarang lebih baik kau jelaskan padaku , apa yang kau lakukan disini dan dimana aku berada sekarang"

"Ada apa denganmu sih Dex, aku kira aku yang mabuk disini. Kenapa kau yang malah bicara ngawur, aku . . " pria itu tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Draco sudah melemparkan mantera dan menyebabkan dia terlempar kedinding dibelakangnya.

"Cepat jawab pertanyaanku, Potter"

"Sialan!" Pria berambut hitam itu memaki berkali-kali sambil meringis dan mencoba berdiri dikedua kakinya.

"Oke Dexter McFly. Kau mulai menggangguku. Kau mau jawaban? Oke . Apa yang kulakukan? Aku berdiri didalam flatku sekarang. Dimana kau berada? Kau sedang berdiri didalam flatmu juga, di Aluura Planet. Apakah itu cukup menjawab pertanyaan bodohmu? Sekarang turunkan tongkat sialan itu, dan satu lagi berhenti memanggil Potter potter potter. Itu semacam makian atau apa?"

Draco membeku di tempatnya dan memandang horror pada pria yang baru saja memanggilnya dengan nama yang sama sekali asing. Planet apa katanya? Lelucon macam apa ini. Tiba-tiba wajah Daphne muncul di pikiran Draco. Tidak mungkin.

"Kau memanggilku siapa?"

"Ayolah Dex, kau benar-benar ingin bermain tebak-tebakan denganku? Dexter McFly, kau Dexter McFly aku Tobias Lock, sahabat baikmu di seantaro galaxy. Ingat? Serius, kau mulai membuatku khawatir "

Draco merasa otaknya sedang membeku, dia sama sekali tidak mampu berpikir apa yang harus dilakukannya saat ini. Jendela, Draco menemukan jendela besar di samping kirinya dan entah apa yang menggerakkan kakinya ia mulai mendekati jendela tersebut dan menyibak gorden yang menutupinya.

Oh Crap!


a/n : yap, akhirnya masuk juga ke bagian ini! Aku pengen nunjukin sedikit ikatan antara Draco sama Hermione, kerasa gak sih? Maaf untuk update yang sedikit lebih lama.

So, aku benar-benar pengen tau pendapat teman-teman. Masih penasaran sama lanjutannya?

Rnr pleaseee :)