MIHARU KAZUHIME™ PROUDLY PRESENT
"OPPA, SARANGHAEYO~!"
©2013
A fanfiction written by : Miharu Kazuhime™
Disclaimer : Masashi Kishimoto *sejauh ini nggak ada tanda-tanda mau diberi alih ke siapapun, apalagi Kazu -_-*
Starring : Sakura H. & Sasuke U.
Warning : OOC, gaje, typo selalu ada, jangan lupa sedia plastik sebelum membaca
Genre : Romance/General
Rated : T
Summary Chapter 3 :
Sakura menghela nafas, mati-matian menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak terjatuh, tapi rasa pusing itu sudah tidak bisa ditolerir lagi.
"Karena tidak sesuai dengan..."
"BRUKK!"
Ino memekik, tapi seseorang di sebelah gadis pirang itu lebih sigap.
"Sakura!"
"OPPA, SARANGHAEYO~!"
Chapter 4 Present
"Sakura!" pekik Ino, seseorang di samping Ino dengan segera AKAN menahan badan Sakura agar tidak terjatuh, tapi... Ino ternganga. Orang di sampingnya kalah cepat dengan orang di samping Sakura, yang lebih dulu menahan Sakura dan membopong Sakura yang pingsan itu menuju UKS, dengan dipandangi siswa di sekitar mereka yang sedikit panik dengan apa yang sedang terjadi.
"Sakura..." bisik Ino khawatir, tapi gadis pirang itu segera kembali ke barisannya, sedikit mencuri pandang ke sosok pemuda di sampingnya, pemuda dengan tattoo segitiga di kedua pipinya, yang sedang memandang ke arah UKS.
'Kiba... kenapa dia kelihatan sedih?' pikir Ino, tapi sedetik kemudian pikirannya kembali terfokus pada upacara.
.
.
.
"Astaga... ada apa dengan Sakura? Cepat baringkan dia!" seru Shizune, perawat di UKS sekolah, masuk mengikuti Sasuke yang membawa Sakura ke dalam kamar UKS lalu dengan segera perawat muda itu menuangkan teh hangat ke dalam sebuah cangkir, dan meletakkannya di meja di samping ranjang yang dipakai Sakura. "Kenapa dia bisa pingsan, Sasuke-san?" tanya Shizune pada pemuda yang tadi membopong Sakura ke UKS. Sakura adalah wakil ketua PMR di sekolah itu, jadi Shizune mengenalnya dengan baik.
"Aku melihatnya memegang dahinya terus-menerus dan menghela nafas. Shizune-sensei, kurasa Sakura sakit," jawab Sasuke, onyx-nya melirik Sakura yang wajahnya pucat dan keringat mengalir di pelipisnya.
"Ya, suhu badannya sangat tinggi, dia demam," ujar Shizune di samping Sakura sambil mengoleskan minyak angin. "Kau tidak di sini saja menunggunya sadar?" tambahnya.
Sasuke mengangkat alisnya. "Kurasa aku akan menunggunya di depan," Sasuke keluar dari kamar UKS, tapi dia masih tetap berada di UKS.
"Baiklah," kata Shizune.
.
.
.
"Ngh,"
"Sakura, kau sadar?" Shizune mengambil cangkir dengan teh hangat di meja, dan meminumkannya pada Sakura.
"Arigatou. Shizune-sensei, apa... aku pingsan?" tanya Sakura lirih, kepalanya masih berdenyut-denyut.
"Kau ini! Sudah pingsan selama 20 menit kenapa masih tanya. Apa kau sudah sarapan tadi?"
Sakura menggeleng lemah. Shizune menghela nafas, "Lain kali tidak boleh begini... Sarapan itu penting, Sakura-chan," ujar Shizune. Sakura mengangguk.
"Anoo... Shizune-san. Ino kah yang membawaku kemari?"
Shizune memandang Sakura sebentar, "Bukan, bukan Ino,"
Sakura mengangkat sebelah alisnya, "Lalu?"
"Aku yang membawamu ke sini," Sasuke masuk tanpa mengetuk pintu sebelum Shizune sempat menjawab, dan duduk di samping Shizune. Sakura TERNGANGA memandang Sasuke.
"Tutup mulutmu," ujar Sasuke dan Sakura segera mengatupkan bibirnya sambil tersipu. Shizune tersenyum lalu meninggalkan mereka diam-diam.
"Ehm," Sasuke duduk di samping tempat di mana Sakura duduk. Sakura tak bisa memandang Sasuke saking malunya.
"Sa-Sasuke,"
"Hn,"
"Te-terima kasih ya..." Sakura masih duduk di ranjangnya, menunduk.
"Hn. Anytime," Sasuke mengalihkan pandangannya, tapi kemudian menatap Sakura, membuat gadis pink itu gugup. "Apa hari Sabtu kemarin kau kehujanan?"
Sakura tersentak, lalu mengangguk pelan. Sasuke menghela nafas, "Sudah tahu lelah kau memaksakan diri," kata Sasuke.
Sakura merengut, tapi sedetik kemudian tersenyum, "Kenapa kau bisa tahu kalau aku kehujanan?"
"Itu... aku hanya menebak. Kau benci olahraga tapi setelah lari 20 kali putaran kau malah pulang di saat hujan," kilah Sasuke, pipinya yang biasanya pucat kini sedikit berwarna.
Senyum Sakura semakin lebar, "Begitu? Lalu bagaimana kau tahu aku benci olahraga?"
Wajah Sasuke makin memerah, "Kau pikir aku nggak mendengar suaramu yang berisik itu saat kau bilang hal yang paling kau benci adalah olahraga?"
Sakura tertawa lemah, Sasuke tersenyum tipis memandang Sakura, dan Sakura menyadarinya, dengan segera Sasuke mengalihkan pandangan. 'Sasuke-kun tersenyum padaku. Aku!'
"Hn. Pelajaran kedua Ibiki-sensei," Sasuke melirik jam di tangannya, "5 menit lagi,"
Mata Sakura membulat, "Apaaah? Dan kamu baru bilang sekarang? Ah nggak, aku harus ikut, aku udah ketinggalan pelajaran pertama tadi, pelajaran Anko-sensei!" seru Sakura.
"Kurenai-sensei," ralat Sasuke.
"Ah ya itu lah! Ki-kita harus kembali ke kelas, Sasuke-kun!" Sakura bangkit dari ranjangnya dan mencoba berjalan, tapi gadis itu terlalu lemah untuk melakukannya, dan dengan sigap Sasuke meraih lengannya saat Sakura hampir terjatuh.
'Apa? Sasuke-KUN?' Sasuke tersenyum geli tanpa disadari Sakura yang masih sibuk blushing dengan Sasuke yang saat ini sedang memegang lengannya.
"Sa-Sasuke..."
"Kau masih terlalu lemas, biar kubantu jalan ke kelas," ujar Sasuke santai. Dan entah sudah keberapa kalinya Sakura tersipu.
"Baiklah," setelah memakai sepatu, Sakura dibantu Sasuke menuju ruang kelas mereka yang jaraknya lumayan jauh dari UKS.
Selama perjalanan, tak ada seorangpun yang memulai pembicaraan, sampai..
"Ano... Sasuke, tadi... kau baris di mana, kenapa kau yang membawaku ke UKS?" Sakura akhirnya memulai pembicaraan.
"Aku di sebelahmu," jawab Sasuke tetap memegang lengan Sakura, KHAWATIR gadis itu akan terjatuh karena masih lemas.
"Apa?" Sakura sedikit terkejut. 'Gimana aku bisa nggak nyadar Sasuke-kun tadi baris di sebelahku?' pikirnya.
"Kauu terlalu pusing dan memegang dahimu terus jadi nggak sadar kalau aku di sebelahmu. Ada masalah dengan itu?"
"Eh, apa? Ah, nggak kok, sama sekali nggak," ujar Sakura gugup. 'Kenapa orang ini bisa tahu apa yang aku pikirkan, ya?'
"Sudah sampai," kata Sasuke.
"Ah, iya,"
"Kalau kulepaskan lenganmu, kau masih sanggup melangkah sampai bangkumu, kan?"
"Te-tentu saja! Apa-apaan kau ini, aku kan nggak apa-apa..."
"Baguslah, ayo masuk," Sasuke melepas lengan Sakura, dan masuk, Sakura mengikuti di belakangnya.
"Gomenasai, Sensei," ujar Sasuke pada Ibiki.
"Dari UKS?"
"Hn,"
Ibiki memandang Sakura, "Kau nggak apa-apa? Bisa mengikuti pelajaranku?"
"Bi-bisa, Sensei," jawab Sakura.
"Baiklah, kalian berdua duduk,"
"Eciieeeeee... Prikitiuw... cekiwiiirrr..." anak-anak di kelas itu kompak bersorak meledek Sasuke dan Sakura. Sakura menunduk malu sambil tersenyum-senyum sedangkan Sasuke tetap berwajah datar dan langsung duduk di bangkunya.
Ino tertawa melihat Sakura, dan tanpa sengaja shappire-nya memandang Kiba yang duduk di depan Sasuke, di bangku samping bangkunya dan Sakura. Dan apa itu? Pemuda bertattoo itu ikutan tertawa meledek tapi sedetik kemudian air mukanya berubah datar. 'Sebenarnya ada apa dengan kembaran Naruto yang satu itu?'
"Forehead, kamu nggak apa-apa, kan?" Ino sibuk meletakkan punggung tangannya di dahi Sakura yang lebar.
"Aku nggak apa-apa, Pig. Kurasa Sasuke benar, aku sakit karena kehujanan Sabtu kemarin," jawab Sakura lirih tapi bersemangat.
"Lalu...gimana tadi di UKS? Wah, sepertinya dia cukup perhatian padamu!" Ino menyeringai.
Sakura bergidik, "Kamu mengerikan, Ino," Ino hanya tersenyum jahil, "Iya, gimana tadi?"
"Hmm jadi, tadi aku-"
"Yamanaka-san, Haruno-san, sedang apa kalian?" Ibiki tiba-tiba menudingkan penggaris besar papan tulis ke arah mereka.
"Anooo...Ibiki-sensei, tidak sedang melakukan apapun, sungguh, ya kan, Sakura?" ujar Ino. Sakura hanya meringis.
"Tolong jangan ramai saat sedang pelajaran saya," Ibiki kembali menulis di papan tulis.
"Kamu, sih!" bisik Sakura.
"Kamu juga!" bisik Ino.
"Sudah diam," bisik sakura.
"Kau yang diam," bisik Ino.
"Kau juga! Sudah," kata Sakura.
"Iya iya aku akan diam!" kata Ino.
Sakura hanya menghela nafas.
.
.
.
"Kau tahu, Ino, ini adalah hari yang bersejarah!" ujar Sakura berapi-api.
"Bersejarah apanya habis pingsan kok dibilang bersejarah.. Tadi pagi pingsan kenapa sekarang berapi-api begitu, ha? Nah nah... Sasuke kan?" Ino tertawa di seberang sana.
Sakura bergulingan di atas bed-nya, "Jangan begitu, dia kan hanya membantuku.."
"Hah, aku tahu saat ini kau pasti lagi blushing.. Beri aku nilai sempurna kalau aku benar," ujar Ino di seberang.
Gadis pink itu mengganti letak ponselnya menjadi di sebelah kiri telinganya, "Kuberi 80 saja ya,"
"Hih. Tadi katanya mau cerita..."
"Oh iya, kenapa pas baris di lapangan tadi kamu nggak bilang Sasuke-kun baris di sebelahku, sih?"
"Kamu nggak nanya," jawab Ino santai.
"Ih,"
"Oh ya Saku, kan udah kubilang waktu itu kamu jangan hujan-hujanan, kenapa kamu keras kepala banget, sih? Kan jadinya demam, sekarang masih nggak?" nada Ino sedikit khawatir.
"Hehe, gomen Ino-pig, bukan keras kepala lagi, tapi-"
"Kepala batu!" potong Ino. Sakura nyengir, tentu tak kelihatan oleh gadis pirang itu.
"Yah, apapun itu. Sejak hari Minggu sudah mulai pusing, tapi kukira nggak apa-apa, aku kan sering kehujanan," bela Sakura.
"Tapi yang kemarin-kemarin itu kamu kehujanan nggak setelah lari 20 kali putaran!" bantah Ino.
"Iya iya, aku salah, deh," Sakura masih nyengir.
"Tapi kamu diuntungkan,"
"Hn?"
"Jangan mengelak, apa yang kalian lakukan di UKS?" giliran Ino nyengir.
"Eh, apa? Nothing, aku dirawat Shizune-sensei kok, lagian Sasuke-kun cuma nemenin, tapi..."
"Tetep aja seneng, kaaann?"
"Tentu, kamu tahu, kan, Sasuke-kun itu orangnya tertutup dan dingin banget, kukira dia nggak akan mempedulikan apapun selain pelajaran," ujar Sakura sambil menerawang.
"Tapi buktinya dia baik kan, mau menggendongmu ke UKS," celoteh Ino lagi.
"Haaah... ya sih. Itu nilai plusnya,"
"Hahaa... Eh eh, Saku... aku ingin mengatakan sesuatu... emmm..." Ino mulai gagap.
Sakura menaikkan alisnya, "Ingin bilang apa?"
"A-ano... Nggak. Gwaenchana yo," ujar Ino sambil tertawa. Sakura bingung tapi terdengar ikut tertawa juga. 'Bilang tentang Kiba nggak ya ke Sakura?' batin gadis bermata shappire itu. "Eh Saku, bagaimana kepalamu? Masih pusing nggak?"
"Ya..sedikit tapi sudah nggak apa-apa. Baiklah Ino, sudah jam 9 aku harus minum obat dan tidur. Sampai besok di sekolah yaa.."
"Baiklah. Jaa.."
Klik.
Sakura memandang langit-langit kamarnya. 'Sebenarnya apa yang ada di pikiran cowok bernama Sasuke?' memijat pelipisnya, dan dia beranjak.
.
.
.
Suasana kelas sudah ramai. Tentu saja ramai, jam pelajaran pertama ini sang guru sejarah yaitu Jiraiya-sensei absen. Dan tidak ada guru piket datang untuk memberi tugas. Jadilah surga bagi para siswa, ada yang ngeloyor ke kantin, ngobrol di kelas, tidur, dan sebagainya. Sakura memilih menapakkan kakinya ke perpustakaan, mencari novel atau komik baru. Perpustakaan terletak di lantai dua, sebelah ruang tata boga. Sakura sedikit mengintip ke dalam ruang tata boga untuk melihat apa ada kelas yang sedang praktek pagi itu, tapi ternyata tidak.
Setelah mendapatkan buku yang ingin dibacanya, Sakura duduk di salah satu bangku, dekat sebuah jendela kaca besar. Perpustakaan sepi, hanya ada sua orang penjaga yang sedang ngobrol, satunya lagi terkantuk-kantuk di sudut ruangan. Beberapa siswa terlihat berkumpul mendiskusikan sesuatu. Dan Asuma-sensei membaca koran di sofa dekat pintu. Sakura mulai membaca, hingga 15 menit kemudian seseorang menyapanya, "Boleh duduk disini?"
Gadis berambut pink itu mendongak. Ekspresi sedikit terkejut namapak di mata emerald-nya. "Sasuke?" mengerjapkan mata, dia berujar kembali, "Tentu saja boleh!"
Sasuke menduduki bangku di depan Sakura. Antara bangkunya dan Sakura dibatasi oleh sebuah meja berukuran sedang. "Hn."
Lama mereka terdiam. Sakura yang gugup tidak lagi bisa berkonsentrasi terhadap apa yang dibacanya. "A-ano... kamu sendirian saja, Sasuke?"
"Begitulah." Tanpa melihat, Sasuke menjawab. Tampaknya ia tekun sekali membaca bukunya.
Sakura melirik, "Kau.. baca buku apa?"
Pemuda itu membalik bukunya hingga cover-nya terlihat lalu memandang Sakura yang tampaknya berusaha membaca judulnya. "Sejarah Kekaisaran Jepang," ejanya. "Kau menyukai sejarah?" Sakura menatap Sasuke heran. Yang ditanya hanya menggedikkan bahu. Lalu mereka kembali pada posisi mereka masing-masing, dan diam.
'Kami-sama. Dari sekian banyak bangku kosong di ruangan ini, kenapa Sasuke-kun memilih duduk bersamaku? Bukankah orang seperti dia lebih suka ketenangan? Memangnya dia nggak mendengar degup jantungku yang udah nggak karuan ini dari tadi?' Sakura merutuk.
"Sakura."
Yang dipanggil tersentak, "A—ya?" berusaha terlihat normal.
"Demammu kemarin.. apa sudah sembuh?" tanya Sasuke, matanya masih tetap membaca.
"Ah.. ya, kurasa. Sudah lebih baik. Arigatou, Sasuke."
"Syukurlah."
Dan kedua manusia itu kembali terdiam. Keheningan yang tidak nyaman.
"Ano, Sasuke..." Sakura terkejut kenapa tiba-tiba memanggil pemuda itu.
"Hn?" Sasuke mendongak, wajahnya tetap datar.
"Aku.. tiba-tiba ingin bertanya sesuatu padamu. Boleh nggak?"Sakura tidak tahu kekuatan dari mana dia berkata seperti itu.
Sasuke mengangkat alisnya heran. "Tanyakan saja."
Sakura menelan ludah. "Apa.. apa kau pernah mempunyai hubungan khusus dengan.. uhm, Karin?" Sakura benar-benar tidak tahu apa yang mendorongnya bertanya lebih jauh.
Sasuke memandang heran dan sedikit terkejut pada gadis bermata emerald di depannya.
"Eto... maksudku, aku nggak bermaksud— aku cuma ingin—"
"Pernah." Sakura melongo dengan sukses. 'Dijawab ternyata pemirsah.'
"La—lalu?"
"Memang kenapa bertanya seperti itu?" Sasuke balik bertanya. Sakura menggigit bibir.
"Yaaa nggak apa-apa sih cuma..."
"Kau tahu darimana?"
"Eh?"
"Tentang aku dan Karin?"
Mereka berdua sepenuhnya beralih dari buku bacaan masing-masing. Sakura berkeringat dingin. "Dari sumber yang terpercaya, kurasa," ujarnya lirih.
Sasuke menghela nafas. "Aku nggak yakin apa itu bisa disebut pacaran atau nggak." Sakura menatap Sasuke, mata onyx itu memandang keluar jendela. "Terlalu singkat. Terlalu tidak berguna."
Sakura merutuki dirinya sendiri. 'Sakura no baka kenapa harus bertanya sih!'
Lalu didengarnya Sasuke melanjutkan. "Aku hanya pernah tertarik padanya karena dulunya dia cerdas dan pendiam, kukira tipe yang menyukai ketenangan. Tapi ternyata sikap orang begitu cepat berubah."
Sakura mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Kami pernah sekelas, dan pernah satu kelompok belajar. Kami sering mengunjungi perpustakaan ini, sampai suatu hari Tayuya memberiku surat cinta yang ditulis Karin. Karena nggak tega, aku menerima pernyataannya. Tapi bahkan aku nggak pernah menganggap aku berpacaran dengannya. Kau boleh berpikir aku pemuda yang jahat, tapi aku baru sadar aku nggak benar-benar menyukainya saat dia mulai berubah."
"Artinya kau menyukainya sebelum dia berubah?"
"Nggak juga. Hanya perasaanku lebih baik sebelumnya. Dan setelah mengetahui sifat aslinya... aku memutuskan hubungan."
Sakura hanya manggut-manggut.
"Aku bercerita terlalu banyak, gomen." Kata Sasuke, lalu dia beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja, meninggalkan sakura yang memandanginya dengan perasaan tak enak.
"A—iie. Betsu ni," kata Sakura lirih saat Sasuke sudah keluar ruangan. Menghela nafas, Sakura menutup bukunya. "Seenggaknya aku tahu dari Sasuke sendiri. Dan itu adalah kali pertamanya dia bercerita padaku. Aku nggak bisa lebih bahagia dari ini tapi...aku merasa bersalah karena membuatnya bercerita masa lalunya itu. Harusnya aku yang meminta maaf, bukannya dia. Dan dia malh meninggalkanku. Oh Kami-sama, semoga dia nggak ilfil sama aku deh. Tapi bagaimanapun juga aku merasa seneng banget dia mau berbagi sama aku. Dan—"
"Nona, kau bicara sendiri?" Sakura tersentak ke belakang saat di hadapannya persis seorang penjaga perpustakaan berambut oranye panjang memandangnya dengan heran, alisnya terangkat.
"A—iie, Sa—Sasame-san! Aku hanya... seperti ini? Seperti ini hm?" Sakura menggerak-gerakkan tangannya seperti menari. "Membaca dialog novel. Hehe." Dan gadis itu menunjuk novel yang telah tertutup di meja di hadapannya. Si penjaga—Sasame hanya mengangguk sambil berlalu. "Kuharap kau baik-baik saja..."
Sakura meringis dan segera beranjak, mengembalikan novel itu ke tempatnya, dan berjalan cepat keluar ruangan, khawatir dikira orang aneh lagi. 'Seenggaknya hari ini Sasuke bercerita padaku! Ya! Sasuke!' dan senyum terus mengembang di wajah Sakura.
To Be Continued
Author's Note :
Akhirnya... chapter ke 4 yang udah hiatus lama banget Kazu update juga, gomen yang udah nagih~ (eh ada kan? xD)
Iya, tadinya fic ini malah mau Kazu discontinued-in, tapi sayang jadi Kazu lanjutin lagi dengan ide baru haha, entahlah untuk ending juga masih random nih, untuk selese di chapter keberapa juga masih random, untuk update chapter 5 juga masih random *dibakar*
Oke balas review chapter 3 dulu~
Fiyui-chan : hmmm jadi sebenernya siapa tuh yang nolongin Saku? Yup betuuul! :D oke, ini udah ada scene dimana sasusaku berdua kan hihi. Arigatou for rnr ya, jangan lupa rnr lagi~
FoodiePrincess : annyeonghaseyo... mau panggil eonni mau panggil yeppeo juga gapapa *eh* waah makasih ya.. iya Kazu suka SNSD banget! Kamu juga? Arigatou for rnr ya, jangan lupa rnr lagi~ fighting!
Me : ini udah diupdate. Silahkan dibaca. Arigatou for rnr ya, jangan lupa rnr lagi~
Just Ana : waaah makasih pujian kerennya untuk fic ini, sasusaku dan authornya hehe. Siapa yang nangkep hayo? Silahkan dibaca. Arigatou for rnr ya, jangan lupa rnr lagi~
Eky-chan : silahkan dibaca. Arigatou for rnr ya, jangan lupa rnr lagi~
Anka-chan : sudah update, silahkan dibaca. Arigatou for rnr ya, jangan lupa rnr lagi~
Daevipiaa chimamoto : waah sudah update nih. Silahkan dibaca. Arigatou for rnr ya, jangan lupa rnr lagi~Fighting!
Yuri chinen : yoroshiku.. makasih ya, ini udah update silahkan dibaca, belum ubanan kan? O.o siapa yaaa? Udah baca kan? :D Arigatou for rnr ya, jangan lupa rnr lagi~
Sara BluePink27 : makasih ya.. ini udah lanjut, silahkan dibaca. Arigatou for rnr ya, jangan lupa rnr lagi~
Yosh, itu balesan review-nya. Untuk Silent Reader juga makasih loh ya, jangan sungkan-sungkan buat review deh, gratis kok haha.
Doain Kazu cepet update chap depan ya hihi *plak* jaaaaa see ya next chapter!
Fighting!
