Arigatou minna-san buat yang udah review…

Chibi sampe tidak bisa berkata-kata…

Jadi langsung saja chapter selanjutnya #jduagh


Rated : M

Pair : GaaNaru

Warning : OOC, Yaoi, BL, MXM, Rape

Don't Like Don't Read

Disclaimer : milik Masashi Kishimotoseorang


Chapter 4

Awalnya Gaara ragu-ragu untuk pergi ke rumah Naruto. Namun, entah kenapa perasaannya tak bisa dibohongi. Ia telah jatuh hati pada pemuda polos itu sejak pertama kali mereka bertemu.

TING…TONG…

"Hai'." Iruka bergegas membuka pintu, "Ah, Gaara-kun. Ayo masuk kebetulan aku sudah selesai memasak sarapan. Kita sarapan bersama ya?"

"Sepertinya saya tidak ada alasan untuk menolak?" ujar Gaara yang disambut senyuman oleh Iruka

"Kaa-san."

"Tunggu sebentar, Naru." Menghampiri Naruto yang hendak menuruni anak tangga, "Apa kakimu sudah tidak apa-apa?"

"Ada apa dengan kaki Naruto, Iruka-san?" tanya Gaara

"Kemarin dia terjatuh dari tempat tidur."

"Pfftt…"

"Jangan tertawain Naru!?" ucap Naruto dari balik punggung Iruka

"Aku tidak menertawakanmu."

"Usotsuki…" gumam Naru

"Naru, sebaiknya hentikan pertengkaran ini. Kita sarapan dulu." Potong Kakashi yang keliatannya sudah amat lapar

"Baiklah, ayo Naru, Gaara-kun." Naruto dan Gaara hanya mengikuti ajakan Iruka tanpa ada sepatah kata yang terucap.

Suasana sarapan pagi itu, terasa ramai dan berisik namun begitu nyaman dan hangat. Membuat Gaara yang notabennya jarang tersenyum menjadi tertawa renyah ketika melihat adegan perebutan udang antara Naruto dan Kakashi.

"Ini punya Naru, Tou-san." Menarik ekor udang dengan sumpitnya

"Tidak bisa. Kau sudah makan hampir dua porsi, Naru. Jadi, ini punya Tou-san."

"Punya Naru."

"Punya Tou-san."

Acara tarik menarik itu berakhir dengan putusnya ekor dari badan udang (#poorshrimp). Ekornya di sumpit Naruto dan badannya di sumpit Kakashi.

"Yup ini punya Tou-san, aaaa…"

"Akkhhh… Uugghhh…" Naruto hanya mampu memasang wajah cemberut ketika melihat udang terakhirnya masuk ke dalam mulut Kakashi

"Yare…Yare… Kalian itu sama saja." Kata Iruka sedangkan Gaara hanya bisa tersenyum melihatnya

"Sepertinya keluarga ini tidak ada hubungannya dengan rencana ular busuk itu. Sebaiknya aku jauhkan mereka dari ancaman ular licik itu." Batin Gaara

"Ada apa, Gaara-kun? Apa makanannya kurang enak?" tanya Iruka

"Ah, tidak. Makanan ini amat lezat Iruka-san, hanya saja aku sedang memikirkan masalah lain."

"Apa ini tentang Orochimaru?" sela Kakashi

"Bukan. Tentu saja bukan tentang dia. Aku hanya memikirkan bagaimana cara menyembuhkan kepribadian Naruto."

"Oh, baguslah."

"Sudahlah, Kakashi. jangan membicarakan topik-topik berat di meja makan."

"Hai', hai'."

"Kau juga, Gaara-kun. Jangan berpikir saat makan."

"Baik, Iruka-san."


Selesai makan, Gaara mulai mencoba untuk mendekati Naruto. Namun, reaksi yang di dapat Gaara bermacam-macam. Mulai dari bersembunyi, berteriak hingga melemparkan apa saja yang ada di dekatnya. Bukan Gaara namanya kalau menyerah, sejak itu Gaara selalu dengan rutin mengunjungi Naruto. Entah untuk sekedar bermain atau mendekatkan diri pada Naruto. Bagi Gaara, Naruto adalah obat penenang dari segala kepenatan yang ada di rumah sakit. Tak jarang pula Gaara membelikan hadiah atau mengajak Naruto jalan-jalan. Disaat-saat tertentu, Gaara mencuri kesempatan untuk mencium, memeluk atau mengelus Naruto.

"Naru-chan." Panggil Gaara

"Gaara!" berlari menjauh

"Nee… Kenapa malah menjauh sih?"

"…"

"Naru." Berjalan mendekati Naruto, "Sebenci itukah kau padaku?"

Tanpa menjawab pertanyaan Gaara, Naruto segera berlari menuju kamarnya.

"Haah…" melihat sifat Naruto yang tidak berubah membuat Gaara hanya bisa menghela nafas panjang.

"Itu akibatnya kalau kau biarkan sifat mesummu keluar."

"Mesum?!" Gaara menoleh kearah suara itu

"Kau pikir aku tidak tahu? Beberapa kali kau memeluk dan menciumnya." Ujar Kakashi

"It…itu…Hanya sekali dan itupun di pipi. Bahkan aku menerima balasan berupa bogem mentah darinya."

"Pfffftt… Hahahaha… Kau memang pantas mendapatkannya. Yah aku rasa, aku perlu mengucapkan terima kasih."

"Eh?"

"Yaah kau seharusnya mengerti keadaan Naruto bagaimana? Tapi dua minggu ini kau selalu menemaninya. Aku rasa itu bisa sedikit mengembalikan semangatnya untuk berinteraksi dengan orang lain. Ah, aku mengatakan ini bukan untukmu tapi untuk Naruto."

"…" menatap Kakashi

"Apa yang kau lihat, Bocah?"

"Tidak. Hanya saja aku terkejut ternyata Anda adalah sosok ayah yang benar-benar pas untuk Naruto."

"Jadi menurutmu aku tidak pantas jadi ayah Naruto, begitu?"

"Pada awalnya, iya. Tapi, sekarang pandanganku berubah."

"Hoo…"

"Ah, sudah waktunya aku rapat. Kalau begitu aku permisi dulu, Kakashi-san." Bergegas keluar rumah Kakashi

"Ya, pergilah sana."

"Kelihatannya kau semakin akrab dengannya?" ucap Iruka tiba-tiba

"Benarkah? Aku hanya sedikit penasaran dengannya jadi aku ingin menyelidikinya lebih jauh. Itu saja."

"Ya, hati-hati saja kalau begitu."

"Eh, memangnya ada apa?"

"Tidak ada."

"Aku tahu."

"Apa?"

"Kau cemburu?"

"Ap… Ah, tentu saja tidak." Elak Iruka

"Ne ne kau cemburu kan?"

"Urusai."

"Mou~ Jujur saja."

Tanpa membalas perkataan Kakashi, Iruka melangkahkan kakinya pergi.

"Yare…Yare… Walau tanpa ikatan darah kalian berdua memang mirip. Membuat kalian berdua manis. Hehehe…" ucap Kakashi

Naruto POV

"Naru-chan." Suara yang membuat Naru takut datang lagi

"Gaara!" berlari menjauh

"Nee… Kenapa malah menjauh sih?"

"…" Naru tidak bisa mengeluarkan suara

"Naru." Berjalan mendekati Naruto, "Sebenci itukah kau padaku?"

"Ah, tidak dia mendekat!" teriak Naru dalam hati sembari berlari

Di dalam kamar

"Hah… Kenapa dia selalu mengikuti Naru? Apa dia ingin memukul Naru? Atau dia ingin membawa Naru pergi? Tidak! Tidak!" Kata Naru dalam hati sembari menggelengkan kepala

"Atau mungkin dia mau melakukan hal-hal seperti kemarin?" membayangkan kejadian saat Naru berhasil dipeluk dan dicium, "Hiii~ Semuanya bikin Naru merinding. Lebih baik Naru tidur saja."

Normal POV

Gaara melakukan pendekatan lebih intens ke Naruto. Hingga perlahan-lahan hati Narutopun mulai terbuka. Namun, saat ketenangan mulai dimiliki Naruto, Kimimaro datang untuk merusak hubungan tersebut.

Suatu hari, Kimimaro melihat Naruto yang sedang berjalan sendirian menuju sebuah minimarket kecil di pinggir jalan. Segera saja Kimimaro menghampirinya.

"Hey, Naruto." Sapa Kimimaro

"Kimi…maro?"

"Tumben kau keluar sendirian?"

"Na…Naru ingin membeli es krim."

"Oh, kebetulan aku punya langganan toko es krim yang enak. Kau mau?"

"Umh…" Naruto nampak berpikir

"Kenapa Naru?"

"Na…Naru tidak di…ijinkan ikut dengan o…orang asing oleh Kaa-san."

"Memangnya aku masih orang asing?"

"I…Iya."

Jawaban polos dari Naruto menarik beberapa urat kemarahan Kimimaro

"Kalau kau tidak ingin secara baik-baik, bagaimana kalau ku paksa saja?" tanya Kimimaro sembari mencengkram erat tangan Naruto

"Le…Lepaskan Naru!" teriaknya

"Tidak akan."

"Lepaskan Dia!" teriak seseorang dari belakang Kimimaro

"Oh, kau rupanya. Ada perlu apa, Gaara-kun?"

"Aku yang seharusnya bertanya seperti itu! Apa yang kau lakukan pada Naruto? Lepaskan dia! Kalau tidak…"

"Kalau tidak apa?"

"Kau akan menyesalinya, Ki-mi-ma-ro!" ujar Gaara sambil mengepalkan kedua tangannya kuat

"Hai', hai' sepertinya ini sudah tidak akan menarik jika kau ikut campur." Melepaskan Naruto

Setelah dilepas Naruto segera bersembunyi, sementara itu Kimimaro berjalan mendekati Gaara dan berbisik, "Seharusnya kau lebih berhati-hati jika berbicara denganku. Kau tahu apa akibatnya jika Tuan Orochimaru mengetahuinya kan?"

"…!"

"Hahahaha… Bagus sekali… Aku sangat suka dengan ekspresi wajahmu saat ini." Berjalan menuju mobilnya, "Oh ya, aku rasa tanpa diberitahupun Tuan Orochimaru sudah tahu."

"APA!"

"Jaa… Ganbatte Kudasai. Hahahahaha…" dengan tertawa keras, Kimimaropun menghilang dari hadapan Gaara

"Ciih…" tanpa membuang waktu Gaara berjalan menuju tempat Naruto bersembunyi, "Kau tidak apa-apa, Naruto?"

"…" Naruto diam tanpa kata dengan badan gemetar

"Lain kali, jangan pergi seorang diri. Lebih baik sekarang kita pulang."

Gaarapun menuntun Naruto dan mengajaknya pulang setelah melihat kondisi Naruto yang ketakutan itu. Sesampainya dirumah…

"Iruka-san."

"Iya?" melihat Gaara membopong Naruto, "Naruto?! Kau kenapa? Dia kenapa, Gaara?"

"Tidak apa-apa. Tadi dia tidak sengaja diganggu preman. Kebetulan aku sedang lewat daerah itu, jadi aku segera menolongnya."

"Begitukah? Maafkan Kaa-san karena tidak bisa menemanimu pergi, Naruto." Memeluk Naruto

"Sebaiknya biarkan Naruto istirahat dulu, Iruka-san."

"Ah, kau benar. Aku akan membawanya ke atas. Silahkan kau tunggu di ruang tamu."

"AH, sebenarnya aku ada keperluan jadi aku langsung pamit pulang saja."

"Begitukah? Sayang sekali. Terima kasih banyak untuk hari ini, Gaara-kun."

"Sama-sama. Oh ya, jika memang lain kali, Iruka-san tidak bisa menemani Naruto, aku bersedia menggantikannya."

"Benarkah? Wah, itu akan sangat membantu sekali, Gaara-kun. Arigatou."

"Iya, aku juga tidak akan tega membiarkannya sendirian." Iruka dan Gaara memandang Naruto

"Iya, kau benar."

"Kalau begitu, saya permisi dulu."

"Baiklah, hati-hati di jalan."

"Hai'."

Setelah keluar dari rumah Naruto, hp Gaara bergetar.

DRRRTTT…DRRRTTT…

Melihat hp sebentar, "Ckk! Dasar mereka semua sama saja!" umpat Gaara kesal

Segera Gaara pergi melaju kencang dengan mobil silvernya.


Sementara itu, Orochimaru dan Minato bersiap untuk kabur dari penjara. Bagi Orochimaru, penjara itu tak khayal seperti lubang tikus, yang artinya dia bisa keluar kapan saja.

"Kau yakin ini semua akan berhasil?" tanya Minato

"Hahahahaha…"

"Kenapa kau malah tertawa? Menjijikkan."

"Maaf. Hanya saja kau bertanya tentang keberhasilan rencana ini?" berjalan mendekati Minato, "Aku adalah Orochimaru. Penguasa dunia kegelapan. Penjara seperti ini hanyalah lubang tikus bagiku. Jadi, aku bisa keluar masuk sesukaku kapanpun aku mau. Mengerti?"

"Hoo~ Jadi kau mau mengatakan bahwa kau sengaja tertangkap begitu?"

"Yah, bisa dibilang begitu." Menjauhi Minato

"Alasannya?"

Orochimaru menoleh dan memandang tajam pada Minato namun Minato tetap memandangnya seolah dengan itu dia bisa menelanjangi Orochimaru.

"Aku sedang memberi pelajaran pada anak buahku yang berkhianat. Itu saja. Yosh, dengan ini semua siap. Ayo kita keluar dan mencari tempat yang cocok untuk mendiskusikan rencana selanjutnya."

Beberapa jam kemudian, penjaga yang memeriksa sel Orochimaru juga Minato terkejut karena sel mereka kosong. Dengan pintu sel yang tetap terkunci dan tidak ada satupun jalan keluar lain membuat kedua sosok itu seolah-olah lenyap ditelan bumi. Berita kaburnya Orochimaru membuat kepolisian, terutama Kakashi menjadi lebih sibuk dan jarang dirumah.

"Aku berangkat dulu." Pamit Kakashi

"Sepagi ini?" tanya Iruka

"Ya, mau bagaimana lagi?"

"Setidaknya katakan sesuatu pada Naruto. Beberapa hari ini, ia terlihat kesepian?"

"Baiklah." Kakashipun pergi ke kamar Naruto

TOK TOK TOK

"Naruto…" berjalan masuk, "Naru." Panggil Kakashi sembari mengelus-elus Naruto

"Umh…"

"Maaf, Tou-san membangunkanmu."

"Tou-san mau kemana?" tanya Naruto sambil mengucek matanya

"Tou-san mau pergi menangkap Orochimaru. Kau tahu sendiri kalau beberapa hari yang lalu dia kabur bersama…" Kakashi tidak melanjutkan kata-katanya ketika melihat Naruto yang tiba-tiba gemetar ketakutan

"Ne, tenang saja. Tou-san janji akan segera menangkapnya dan kita akan berlibur bersama."

"Honto?" tanya Naruto yang hanya dibalas anggukan oleh Kakashi

"Kalau begitu, Tou-san pergi dulu."

"Hati-hati Tou-san."

"Iya." Melangkah pergi dari kamar Naruto


Munafik namanya kalau Naruto mengatakan dia tidak kesepian, meski sudah ditemani oleh Iruka tetap saja sepi. Disaat seperti itulah Gaara selalu menemaninya hingga Naruto bisa menerima kehadiran Gaara sepenuhnya. Bahkan tanpa ia sadari hatinya telah terpaut pada sosok pemuda merah yang selalu ada di sampingnya.

"Ohayou, Naru." Sapa Gaara dari luar gerbang

Naruto yang sedang menyiram bunga segera meletakkan slang air dan membukakan gerbang utnuk Gaara.

"Ohayou." Balas Naruto dengan senyum yang membuatnya semakin manis

"Ugh…" Gaarapun menutup hidungnya dan membuang muka kea rah berlawanan

"Ga…Gaara? Gaara tidak apa-apa?"

"Tidak. Aku tidak apa-apa."

"Honto?"

"Hu_um." Jawab Gaara, "Kepolosanmu itulah yang lama-lama bisa membunuhku." Gumam Gaara

"Apa yang Gaara katakan?" tanya Naruto yang kembali melanjutkan aktifitasnya

"Ah, tidak apa-apa."

"Gomen."

"Eh, untuk apa?" Gaara yang hendak dudukpun kaget dengan permintaan maaf Naruto

"Naru pasti sudah menyusahkan Gaara. Naru tahu Gaara sibuk, tapi Gaara tetap menemani Naru di rumah saat Kaa-san pergi."

Gaara berjalan mendekati Naruto dan memeluknya dari belakang, "Kau tahu, Naru? Hal yang paling membuatku bahagia?"

Naruto hanya diam dan mencoba meresapi kehangatan dari tubuh Gaara.

"Hanya dengan berada di dekatmu, memelukmu seperti ini sudah membuatku bahagia. Aku senang jika harus menemanimu sepanjang waktu. Aku akan menjagamu, menemanimu sampai kapanpun."

Melihat tidak ada reaksi dari lawan bicaranya, Gaara segera membalikkan badan Naruto kearahnya. Betapa terkejutnya Gaara ketika melihat Naruto menangis.

"Hey, kenapa kau menangis?" tanya Gaara sambil mengusap kedua mata Naruto

"Naru takut." Ucapnya

"Takut apa, Naru?"

"Naru takut kalau Tou-san dan Kaa-san tidak ada, Gaara juga tidak ada. Naru takut sendiri lagi. Naru takut bertemu Tou-san lagi. Naru tak…" belum sempat selesai berbicara bibir Naruto dikunci oleh Gaara

"Umh…nnnhhh…aahhhnnn…mmmnnhhh…"

Ciuman itu terus dilancarkan Gaara hingga kebutuhan oksigen mendesak sehingga dengan amat tidak rela ia melepaskan ciumannya.

"Hah…haaaahhhh…Gaa…Gaara mau…Mau…bunuh…Naru?" tanya Naruto ngos-ngosan

"Gomenne. Aku kelepasan. Bukankah aku sudah berjanji akan selalu ada disampingmu, Naru? Lalu untuk apa kau takut? Tidak peduli seluruh dunia memusuhimu, aku akan selalu ada disampingmu."

"Honto ni?"

"Hu_um."

Mereka berduapun tersenyum dan kembali berpelukan

"Naru, sebaiknya kau jangan sering-sering memelukku."

"Eh? Kenapa?" Narutopun memasang wajah cemberut

"Ughhh! Hah… Ikut aku." Gaarapun menarik Naruto

"Ittai na. Mau kemana?" tanpa menghiraukan teriakan Naru, Gaara membawanya ke kamar

"Duduk." Narutopun menurut duduk di atas kasur

"Mau apa?" tanya Naruto ketika Gaara mendekat

Tanpa menjawab Naruto, Gaara mendekatkan wajahnya pada Naruto. Naruto hanya memandangnya bingung, tapi ia tidak melawan saat bibir Gaara menyentuh bibirnya. Naruto kemudian secara insting ikut menggerakkan bibirnya. Gaara menyentuh pipinya, menuntun kepalanya agar berada di posisi yang lebih nyaman. Sementara tangan Gaara yang lain memeluk pinggang Naruto.

Naruto mulai merasakan paru-parunya meronta akan udara, Gaara mundur untuk menarik napas kemudian menciumnya lagi. Lagi dan lagi.

Naruto kehilangan hitungan ciuman mereka, namun bibirnya mulai bengkak dan jantungnya berdebar makin kencang. Semakin lama ciuman Gaara makin mengganas. Naruto yang belum mengerti apa-apa hanya berusaha untuk menikmati kegiatan yang sedang dilakukan Gaara. Gaara menyapukan lidahnya di bibir Naruto.

"Buka mulutmu, Naruto." Naruto hanya mengangguk

Saat lidah Gaara menyapu bibirnya lagi, ia membuka mulutnya kali ini.

"Mmph...Umh…nnnhhh…aahhhnnn…mmmnnhhh…" Naruto mengerang saat Gaara memasuki mulutnya dengan lidahnya.

Lidah Gaara bertemu dengan lidah Naruto, segera saja lidah Gaara mengajaknya menari di dalam mulut Naruto. Ciuman mereka makin dalam dan basah, rasa panas mulai berkumpul di selangkangan Naruto.

Saat akhirnya Gaara berhenti menganiaya lidahnya, Naruto sudah kehabisan napas dan wajahnya sangat merah. Gaara memandang wajah wajah Naruto yang membuatnya semakin turn on (Nah, Gaara kaya' saklar #dikuburpasir).

"Naruto, apa kau membenciku?"

"Em…Tidak. Naru tidak membenci Gaara. Malahan Naru berterima kasih karena Gaara mau menemani Naru." Jawabnya sambil tersenyum

"Kalau begitu, Naru sayang Gaara?"

"Sayang. Sama seperti Naru sayang Tou-san dan Kaa-san." Jawab Naruto dengan penuh kepolosan

Mendengar jawaban Naruto hampir saja Gaara jatuh terjerembab.

"Bukan sayang seperti itu, Naruto."

"Eh, lalu sayang yang bagaimana?"

"Seperti ini."

Gaara kembali melumat bibir ranum Naruto yang membengkak karena terlalu banyak dihisap oleh Gaara.

"Umh…Ngghh…"

Gaara segera melepaskan ciumannya dan memeluk Naruto

"Aku mencintaimu, Naruto." Bisiknya ditelinga Naruto

TBC


Kyaa minna-san chibi kehabisan ide…

Chibi gak bisa buat yang panjang-panjang lagi…

Gomenne…

Gomen Chibi updatenya lama, Chibi bingung sih kebanyakan kerjaan hehehehehehe…
#bow…

Review-review please…