"Pacaran? Denganku? Pffftt kau sudah gila ya Akashi-kun? Tapi kalau memang kau mau aku tidak keberatan, kau bisa jadi model yang bagus." Kataku sambil mengacungkan jempol.

"Ugh kalau untuk model terdengar mengerikan." Balas Akashi lemas.

"Maka dari itu hati-hati dengan ucapanmu. Aku hanya akan jatuh cinta dengan orang yang mau menerima fujoshi otaku tidak berguna seperti ini. Dia juga harus menerima pembagian cintaku."

"Tapi itu tidak masalah, kau boleh membuatku menjadi modelmu sesuka hati."

"Ha? Kau yakin?" Tanyaku sambil membulatkan mata. Kata-katanya sulit dipercaya.

"Ya. Jadi sepakat?" Dia mengulurkan tangannya untuk mengajak berjabat tangan. Aku memberikan tanganku. Kami berdua bersalaman.

"Mohon bantuannya seme-kun." Aku tersenyum lembut, tiba-tiba dia menarik tanganku. Dan tak dipercaya bibir kami saling bertemu. Aku masih belum bisa memutar otak dengan apa yang terjadi. Aku masih terdiam. Ku pikir dengan mendiamkannya dia akan melepaskan dengan sendirinya, tapi ternyata lebih dalam.

"Buaaaaaaaah apa yang kau lakukan dasar otaku mesum… Ciuman pertama yang seharusnya milik Matoko, Unyui, dan Elis. Gyaaaaaaaaahhhhh masa depanku menghilaaang…" kataku berteriak sambil melepaskan ciuman maut itu. Mata semua orang tertuju pada kami. Rasanya sangat memalukan.

"Bukankah sepasang kekasih harusnya melakukan sesuatu yang seperti itu?" Akashi tersenyum licik. Jadi dia punya maksud tersendiri hah. Jadi dia menginginkan aku menjadi pacarnya hanya untuk memuaskan napsu bejadnya. Aaaahhhh Tetsuna kau bodoh. Aku masih tak bisa percaya, ternyata Akashi seperti itu.

"Ayo kita pulang, ini sudah hampir jam 8 malam." Kata Akashi yang menyeretku keluar dari maid café itu dalam keadaan galau nan risau.

"Jadi ini alasanmu memacari seorang fujoshi?" kataku sambil berjalan sempoyongan.

"Hahahaha bagaimana? Seorang otaku sepertiku bisa meluluhkan hati seorang fujoshi. Aku bukan hanya penakluk galge 2D tapi 3D Huahahaha." Ucapnya bangga. Apa dia gila? Batinku. Yah tapi kalau tujuan dia seperti itu aku akan ikut. Biar ku tunjukkan kehebatan seorang otaku penakluk 100 pria di otome game.

"Kenapa kau tersenyum seperti itu? Aura mu mengerikan." Kata Akashi. Maafkan aku Matoko, dan semuanya. Bibir suciku sudah bukan yang pertama untukmu.

Akashi mengantarkanku sampai ke depan rumah. Saat diperjalanan tadi kami dengan cepat melupakan kejadian menjijikan itu dan berbicara seperti biasa. Yah aku tidak menganggap sesuatu yang 'romantis' karena Akashi memang tidak punya tujuan seperti itu.

Sesampainya dirumah aku bergegas berendam untuk menenangkan diri. Setelah selesai berendam aku mengeringkan rambutku. Ternyata memang sudah sangat panjang. Sudah melebihi pinggang. Aku bermain sedikit dengan rambutku, poni yang biasa ku biarkan acak-acakan kini ku sampingkan ke kiri. Rambut yang biasa ku ikat kini ku biarkan terurai. Dan aku juga melepas kacamata yang besar.

"Wooooaaaaahhhhh…." Teriak ku kagum. Dari luar pintu terdengar ibu yang memanggil namaku berkali-kali.

"Nacchan? Apa sesuatu telah terjadi?" kata Ibu.

"Tidak bu, anakmu hanya terkagum akan kecantikannya. Tapi kalau aku melihat tanpa kacamata, malah lebih buruk." Balasku.

"Ha? Kau memang cantik kalau menyingkirkan kacamata mu itu."

"Ohohoho kalau aku menyingkirkannya aku tidak bisa melihat bu."

"Kenapa tidak menggunakan kontak lensa saja."

"TIDAAAK! JANGAN!" Kini teriakan seorang lelaki yang sangat keras terdengar dengan lantangnya. Tak salah lagi itu ayah.

"Sudah dengar kan bu?" kataku.

"Ayahmu itu memang terlalu berlebihan. Kalau begini terus kau tidak akan punya pacar." Ucap ibu.

"Aku sudah punya pacar kok." Balasku sambil membuka pintu kamar mandi.

Ibu yang tengah memilih pakaian kotor di depan kamar mandi tercengang. Aku hanya terheran dan melewatinya pergi. Aku duduk disamping nenek yang tengah asyik menunggu menyantap makan malamnya.

"Nenek sudah menunggu lama ya? Maafkan aku, aku terlalu asyik jalan-jalan." Kataku. Nenek hanya menggeleng dan tersenyum.

"Ibu tidak makan? Biar aku yang memilih pakaiannya dan mencucinya nanti." Tambahku lagi.

"Ayah? Apa ada yang salah dengan wajahku? Kenapa kau memandangku terus-terusan?" Aku merasa heran dengan ayah, dia memandangku terus-terusan dengan secangkir teh ditangannya.

"Aaahhh sudah kita bahasnya nanti saja ya yah.. Sekarang makan dulu haha.." ucap ibu yang kelihatan sangat terkejut dan tidak nyaman itu. Aku tidak mengerti apa yang sedang mereka bahas.

Setelah menyantap makan malam aku membantu ibu mencuci piring. Ayah masih berada di tempat duduknya, sedangkan nenek sudah pindah untuk menonton acara tv kesukaannya.

"Nacchan, maksud perkataan kau sudah punya pacar itu apa?" Tanya ibu.

"Aku sudah punya pacar sungguhan, walau sebenarnya yang kucintai hanya kekasih ku di dunia yang berbeda." Balasku.

"Laki-laki itu siapa?" Tanya ibu lagi, dia terlihat sedikit canggung dan tidak enak untuk bertanya. Ibu sering kali melihat ke ayah, aku yang mulai curiga melihat ke arah ayah juga.

"Akashi-kun, lelaki yang kemarin ku bawa ke rumah." Jawabku datar.

"Brak!" ayah beranjak dari kursinya, dia terlihat sangat marah.

"Ibu?" panggilku.

"Iya?" jawabnya.

"Apa ayah marah?" tanyaku kembali. Ibu hanya tersenyum lembut.

"Dia hanya khawatir, serahkan saja semua pada ibu." Katanya sambil mengusap kepalaku dan pergi menyusul ayah ke kamar.

Selesai mencuci piring aku memilih pakaian kotor untuk dicuci setelahnya pergi ke kamar untuk mengerjakan beberapa tugas sekolah. Di dalam kamar niat mengerjakan tugas sekolah berujung pada gambar sesat. Tapi tentu saja tugas sudah ku selesaikan. Aku menggambar hingga menghabiskan kertas dan tinta yang cukup banyak. Setelah puas menggambar, aku membaca beberapa manga yang kubeli hingga tengah malam. Masih belum puas akhirnya aku menonton anime lama yang belum ku tonton, hingga pukul 3 pagi. Setelah kantuk benar-benar merasuk akhirnya aku menyerah dan pergi ke tempat tidur.

"Nacchan bangun. Sudah pagi. Jangan bilang kau begadang lagi… Ayo bangun." Samara-samar aku mendengar suara ibu.

"Baiklah ibu akan membuka korden." Saat sinar matahari masuk kedalam kamar dengan cepat aku beranjak dari tempat tidur dan menutupnya kembali.

"Matahari itu musuh ibu, musuuuuuh bukan sahabat." Kataku dengan nada tak santai.

"Musuh musuh matamu. Cepat mandi." Ucap ibu yang keluar kamar terlebih dahulu diikuti olehku. Selesai berdandan aku segera menyantap sarapan. Hari ini aku tampil berbeda karena mengubah gaya rambutku agar wajahku lebih kelihatan.

"Nacchan hari ini biar ayah yang antar." Ucapan ayah barusan membuatku tersedak hebat.

"Ha? Tapi kantor ayah berlawanan. Jangan bercanda yah, nanti ayah bisa telat." Balasku.

"Tidak. Ayah sudah bilang pada atasan kalau ayah akan mengantarkan putri kesayangannya dulu ke sekolah."

"Yah… Jangan menakutiku."

Di dalam mobil aku hanya membolak-balik buku pelajaran, sampai akhirnya ayah mengajakku berbicara.

"Kakakmu. Dia akan pulang." Aku mendongak.

"Serius? Ada apa? Kenapa tiba-tiba? Kalau begitu aku akan membereskan ruangannya." Jawabku bersemangat.

"Laki-laki yang waktu itu kau bawa ke rumah.. Siapa namanya?" kini arah pembicaraan ayah mengarah ke Akashi.

"Akashi Seijuro. Tahu tidak yah, dia mempunyai hobi yang sama denganku."

"Ayah sudah tahu." Jawabnya datar. Dia terlihat lesu setelah mendengar kata-kataku. Apa sebenarnya ayah punya dendam dengan Akashi? Atau jangan-jangan ayah menyukai Akashi-kun?

"Ayah.. Jangan-jangan kau menyukai Akashi?!" kataku. Tiba-tiba ayah menghentikan mobilnya mendadak hingga aku terdorong ke depan.

"Ayah! Hampir saja.. Apa kau sudah tidak menyayangi putrimu lagi?" tambahku dengan nada kesal.

"Maaf nak, ayah hanya terkejut dengan kata-katamu." Balas ayah yang kembali menjalankan mobilnya.

"Jadi memang benar ayah menyukai Akashi-kun? Jangan khawatir ayah, kami berpacaran hanya karena alasan masing-masing. Dan aku tidak akan mengatakannya pada ibu, kalau sebatas suka saja sih." Lagi-lagi ayah rem mendadak.

"AYAH!" bentakku.

Sesampainya disekolah aku sedikit sempoyongan karena ayah yang berkali-kali mempermainkan mobilnya. Apa dia sangat takut kalau aku mengatakan rahasianya pada ibu ya? Tenang yah, aku akan mengancam Akashi kalau-kalau dia tidak bisa lepas kendali.

Aku berjalan menyusuri koridor, dan ada yang berbeda. Semua orang melihat ke arahku. Apa ada yang salah dengan penampilanku? Perasaan hanya tatanan rambutku saja yang berubah. Tapi kenapa mereka melihatku seperti itu, mengerikan.

Di dalam kelas ketika aku duduk, sebagian anak perempuan langsung mengerumuniku.

"Nacchan! Apa yang terjadi?" Tanya salah seorang wanita yang sebut saja namanya K.

"Kau terlihat sangat cantik. Rambutmu tertata dengan rapi, apa benar kau Tetsuna?"

"Dia memang benar Tetsuna dengan kacamatanya." tambah seorang wanita berinisial A.

"Oi oi oi sudah sudah jangan ganggu dia….. Jadi, apa yang terjadi?" kini giliran Momoi yang menghakimi. Mereka semua tidak berhenti berbicara. Apakah secantik itu diriku ahaha pantas semua lelaki digame tergila-gila padaku huehe. Aku mulai membayangkan para lelaki yang ada digame ketika mereka menyatakan perasaannya padaku.

"Tunggu…" Momoi melepas kacamataku. Aku hanya terdiam, mataku tak bisa melihat dengan jelas, bayangannya buram. Tak berapa lama dia memasangnya kembali. Lalu melepasnya lagi. Memasang-melepas-memasang-melepas.

"Bisa kau hentikan Momoi-chan? Kepalaku pusing kalian jadi sangat banyak." Kataku mengeluh.

"Tetsuna kau sangat cantik tanpa kacamata. Kenapa kau menyia-nyiakan wajahmu yang cantik iniiiiii?" ucap mereka semua heboh. Aahh aku sudah tau aku cantik, tapi wajahku ini hanya untuk kekasih 2D ku saja. Sejujurnya aku mengubah gaya rambutku seperti ini karena musim panas. Dengan gaya rambut yang biasa aku tidak akan dapat melawan musuh (baca: matahari).

Pelajaran telah usai, di klub basket tidak biasanya Kise dan yang lainnya mendekatiku.

"Kurokocchi hari ini kau berbeda, rambutmu terlihat sangat cantik." Kata Kise.

"Ya. Dia kini terlihat lebih rapi." Tambah Midorima. Ooh begitu, jadi Midorima menyukai tatanan rambut rapi. Hmm tsundere uke, mengerti.

"Kini kau sudah 10/10 untuk menjadi istriku Tetsu." Haaa? Istrimu? Jangan mimpi, jiwa dan ragaku hanya untuk Matoko, dan suami 2D ku yang lain. Tapi aku tidak mungkin mengatakan itu semua dan hanya bisa terdiam sambil mencatat data-data yang diperlukan.

"Kurochin aku hauuus~" ucap seorang lelaki bernama Murasakibara Atsushi. Postur tubuhnya tinggi tapi kelakuannya seperti anak kecil.

"Baik akan ku ambilkan pokuri untukmu." Aku berlari mengambil minuman dan handuk untuk Murasakibara. Setelah memberikan padanya dia terus memandangiku.

"Are Kurochin ternyata kau punya mata." Kata-katanya menyakitkan, tapi memang benar sih nyatanya aku tidak pernah menunjukkan dengan jelas wajahku pada siapapun.

"Jadi bagaimana? Apa kau suka?" Tanyaku sambil tersenyum.

"Uhm.. Kau kelihatan cantik, pipimu juga sedikit besar seperti bakpao aku jadi lapar." Ucapnya dengan nada malas, kalau nafsu makannya tidak dipenuhi semangatnya untuk berlatih turun secara drastis.

Setelah kegiatan klub bubar aku mulai membersihkan lapangan, kali ini klub berakhir lebih malam dari biasanya. Aku bahkan tidak membicarakan anime dengan Akashi hari ini. Dia kelihatan lebih sibuk dengan klubnya, kapten yang baik. Aku membersihkan setiap sudut lapangan, saat sedang asyik bersih-bersih orang yang baru dipikirkan muncul.

"Kau memang benar-benar manager yang hebat." Katanya.

"Oh sudah pasti. Yosh tinggal memindahkan ini dan selesai.." ucapku sambil menggiring tumpukan bola basket ke gudang.

"Yang lainnya sudah pulang?" Tanya Akashi.

"Sudah, mereka sangat membantu." Balasku.

"Membantu tapi kau yang jadi pembantu."

"Enak saja! Aku melakukannya karena suka." Ya, suka. Suka bersih-bersih maksudku. Masalah kamar itu pengecualian. Kalau kamar ku bersih malah akan jadi masalah besar. Selesai memasukkan tumpukan bola basket ke gudang, aku segera mengunci pintunya. Dan memutuskan untuk bernafas sejenak di bench dimana Akashi sedang duduk.

"Tetsuna, hari ini kau berubah." Katanya.

"Oh kau menyadarinya, aku tidak tahan dengan musim panas jadi aku memodelnya seperti ini. Bagaimana apa cocok?" balasku sambil tersenyum pamer.

"Tidak. Aku lebih suka twintail! Kau tau, kekuatan mereka itu sangat besar. Apalagi seorang tsundere, membayangkannya saja sudah membuatku ingin memilikinya sepenuhnya. Lain kali cobalah twintail."

"Kutolak."

"Ha? Kenapa? Apa kau butuh baju maid juga? Baiklah biar ku sewakan."

"Kutolak."

"Ha? Lagi? Apa yang salah?"

"Otakmu."

"Kau….." Kami berdua terdiam setelah perdebatan tidak penting itu. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Minggu depan akan ada seiyuu event, dan aku punya 2 tiket yang akan ku berikan pada Akashi kalau dia memang suka dengan acara seperti itu.

"Akashi-kun apa kau suka dengan seiyuu?" tanyaku.

"Tentu saja. Kau pikir kau bisa menyebut dirimu otaku tanpa mencintai orang yang menimbulkan suara rangsangan yang mengagumkan?"

"Ya benar! Mereka yang tidak mencintai seiyuu bukan manusia."

"Tepat! Semua karakter loli hanyalah loli tanpa seiyuu, namun bila seiyuu yang mengisi suaranya tepat maka loli itu akan menjadi 'justice'."

"Pasti. Seorang seiyuu yang bisa membuat suara smexy milik Matoko, Unyui, dan Elis itu adalah suara dari surga. Hidup Seiyuu!"

"Hidup!" kami berdua berteriak bersama-sama sambil merangkul satu sama lain.

"Pfffttt…. Wahahahahaha…." Tiba-tiba Akashi tertawa lepas. Aku yang terkejut tidak menyangka dan merasa heran. Namun ini pertama kalinya aku melihatnya tertawa seperti itu.

"Syukurlah…" kataku sambil memandangi lelaki yang masih tertawa sambil memegangi perutnya itu.

"Untuk apa?" tanyanya.

"Untuk melihatmu tertawa, setiap hari aku perhatikan wajahmu sangat menakutkan dan selalu memperlihatkan kesan 'jangan dekat-dekat' tapi ternyata kau bisa tertawa lepas seperti ini. Syukurlah aku salah mengiramu haha." Ucapku dengan tawa kecil.

"Tetsuna…" panggilnya.

"Ya?"

"Jangan tunjukkan ekspresi itu pada siapapun kecuali aku. Kau mengerti?" tiba-tiba raut wajahnya berubah serius.

"Kutolak. Jiwa dan ragaku hanya untuk pangeran 2D bukan untukmu. Kau mengerti?" aku tertawa lagi. Akashi memalingkan wajahnya, aku melihat pipinya memerah. Aneh, bagaimana bisa ayah menyukai orang sepertinya? Jangan bilang kalau dia berpacaran denganku untuk mendekati ayah?


SUMPAH GAJE BANGEEEET WAKAKAKAKA TERIMA KASIH BUAT YANG KEEP READING... AI LAV YUUUU 3
Oh iya niatnya di chapter selanjutnya itu 'kakak' Tetsuna bakal keluar dan 'kencan' diacara seiyuu huehe

Terus note buat husbennya Tetsuna itu Makoto, Usui, sama Sebastian wakakak ngawur banget namanya /lek

Maaf kalau banyak typo dan EYD yang berantakan -/\-

Terima Kasih