Gekkan Shoujo Nozaki-kun

©Izumi Tsubaki sensei

.

.

A/N: Humor is more difficult than romance. And romance ain't as easy as humor. General is little safe. Romance with a little bit humor, and overall it's general. Well, enjoy it.

.

WARNING! : Promosi fict dalam fict! Baca yah, Hahapis!

.

Hubungan Kita

by shirenihime

.

Chapter 4

[ Pesan Rahasia ]

.

.

.

Di tengah ruang yang temaram, sebuah cahaya bersinar cukup terang. Sepasang netra ungu bergeming pada cahaya yang berasal dari sebuah layar ponsel. Jemari mungilnya naik-turun untuk membaca setiap kalimat demi kalimat. Ibu jarinya yang mungil menggeser layar ke kanan dan kiri.

Sesekali uap menghempaskan dirinya dari bibir tipis itu, dan netra yang mulai kelelahan sedikit mengerjap beberapa kali. Pandangannya teralih pada sudut kanan atas layar ponselnya, "Ha! Ini sudah larut," gumamnya agak terkejut. Chiyo menarik tubuhnya yang tertelungkup hingga terduduk sempurna. Tangannya kembali meraih ponsel yang sempat ia letakkan di atas bantal. "Satu chapter terakhir!"

.

.

.

Kaki-kaki jenjang melangkah tidak begitu cepat, tidak juga begitu lambat. Pemiliknya menelisik ruang kelas 2—A dengan sangat teliti. Hitam kecil itu tidak bisa menemukan sang pemiliknya. Ia hanya menangkap siswa lain, dan seorang berambut cokelat dengan mata amber yang kian mendekat.

"Chiyorin?" tanyanya pada Nozaki. Pria itu mengagguk, mata hitamnya tak terlalu jatuh memandang. Yuzuki sedikit menggaruk kepalanya, "Dia di ruang kesehatan," jelasnya agak sedikit bingung.

"Sakura sakit?"

Yuzuki menaikan bahunya, pandangannya terlempar pada langit-langit kelas. "Katanya dia—"

Belum selesai Yuzuki menjelaskan, langkah Nozaki sudah menjauh, meninggalkan dirinya di daun pintu. "Ada apa dengan mereka? Aku selalu di tinggal seperti ini," gumamnya. "Ah, jangan-jangan mereka..." Yuzuki melebarkan matanya. Menatap jauh sosok jangkung yang telah hilang dari pandangan.

"Mereka ingin makan siang tanpaku! Licik sekali si Nozaki itu!" dengus Yuzuki.

.

.

.

"Sakura."

Kepala oranye menoleh, cahaya ungunya menangkap sosok yang ia nanti sejak tadi pagi. Tidak, tapi sejak kemarin. Sejak sekolah libur karena hari Minggu. Tak ada alasan untuknya pergi ke apartemen Nozaki di hari Minggu.

"Nozaki-kun?" Chiyo meletakkan ponselnya di sisi paha kanan. Ia menarik tubuhnya hingga terduduk dan dapat melihat dengan jelas pria jangkung itu semakin mendekat ke sisi ranjang.

"Berbaring saja, Sakura. Tidak apa-apa." Nozaki duduk di sisi ranjang, mengabaikan sebuah kursi di samping ranjang yang dengan manis menanti di duduki oleh seseorang.

"Eh? Kenapa?"

"Berbaring saja, kataku."

"Iya, tapi kenapa, Nozaki-kun?"

"Ber—ba—ring." Nozaki meletakkan jemari besarnya di bahu Chiyo, penuh. "Berbaring, Sakura," ujarnya lagi sedikit pelan.

Tubuh mungil Chiyo tidak dapat menahan dorongan tangan Nozaki, kekuatan Chiyo tak sebesar itu untuk mengalahkan mantan atlet judo yang dulunya pemain basket.

BRAK!

Ranjang kesehatan itu sedikit berdecit.

"No—nozaki-kun," ujar Chiyo sedikit gugup. Rona merah mulai mencuat dari pipinya, netra ungu bergetar tat kala sang bola hitam yang kecil menangkapnya dari jarak lima sentimeter.

Nozaki masih menahan tangannya di atas bahu kecil Chiyo. Pria itu bergeming, ia tak ingin melepaskan pijaran ungu yang indah di bawah tatapannya. Kepalanya jatuh, kening itu terdampar pada helaian surai oranye di kening Chiyo. Nozaki bisa merasakan deruan hangat mengalir, menembus kulit wajahnya.

"Kau tidak demam, Sakura." Nozaki kembali menarik kepalanya. Jemari besar itu tak lagi merengkuh bahu Chiyo, ia berpindah pada tengkuk yang jenjang, mengusapnya perlahan. Ia sedikit malu dengan tindakannya sendiri. Sangat di luar ekspektasi.

"Ii..." Chiyo mengatur irama jantungnya yang hampir saja melompat. "...itu yang coba aku jelaskan padamu, Nozaki-kun," bela Chiyo. Wajahnya masih memerah sempurna, "Ku pikir dia akan menciumku."

"Tapi wajahmu sempat memerah, Sakura." Nozaki menatap lekat ungu yang masih bergetar.

"Ah, i...itu," Chiyo tak berani memandang mata hitam yang begitu tegas di hadapannya. Imajinasi liarnya tak mengijinkan. "Kau terlalu dekat, Nozaki-kun," lirih Chiyo kemudian. Ia menundukkan kepalanya, menatap seprai putih yang sudah agak memudar.

"A—apa ini sudah cukup, Sakura!" Nozaki sedikit berteriak. Chiyo kembali menatap sosok jangkung dihadapannya. Hilang. Oranyenya bergerak ke arah pintu masuk.

"Terlalu jauh!"

.

.

Nozaki kini lebih peka terhadap kursi di samping ranjang. Ia mendudukinya. "Jadi seperti itu," desahnya. "Kau hanya mengantuk. Aku mengerti."

"Hei, Nozaki-kun."

Pemilik rambut hitam itu kembali menatap wajah Chiyo. "Hari ini aku ingin ke apartemenmu," lanjutnya.

"Ingin tidur di pangkuanku, Sakura?"

"Terlalu memalukan!" Chiyo menggelengkan kepalanya kuat. "Aku ingin memastikan sesuatu."

"Memastikan? Apa?"

"Rahasia."

.

.

.

Sepasang manik ungu bergerak dengan cepat. Lembar demi lembar manga edisi lama milik Nozaki ia lahap. Pria bertubuh jangkung itu hanya menatap heran, ia duduk di belakang Chiyo. Menikmati teh yang sudah mulai kehilangan asapnya.

Keningnya sedikit berkedut karena tumpukan manga berserakan di lantai. Berantakan, berceceran, terhempas dan terlempar di udara.

"Sakura," panggilnya. Sang kekasih bergeming, ia masih sibuk dengan manga-manga Nozaki. "Sakura?"

Lenguhan terdengar di telinga Nozaki. Chiyo menyerah, ia tak dapat menemukan apa yang ia cari. "Tidak ada..." lirihnya kemudian. Tubuhnya terhempas memeluk tumpukan manga.

"Sebenarnya, apa yang sedang kamu cari, Sakura?" Nozaki berjongkok di sisi Chiyo. Menatap tumpukan manga dan seonggok daging yang lemas di hadapannya.

Chiyo menoleh, mata ungunya nanar seolah ingin menangis. "Apa kau tidak menyukaiku, Nozaki-kun?"

"A—apa maksudmu?" Nozaki gelagapan. Dia bingung, darimana munculnya pemikiran itu.

"Kau tidak memasukkan pesan rahasia dalam manga-mu," Chiyo menegakkan tubuhnya. Matanya tak lepas dari tumpukan manga. Kemudian ia menoleh, menangkap tatapan heran dari sang kekasih, "kau tidak menyukaiku, kan? iya, kan?"

"Sa—sakura," ujar Nozaki terbata. Ia sedikit melenguh, "Sebenarnya apa yang ingin kau pastikan?"

Chiyo mengambil ponsel dari saku rok navy-nya. Mengutak-atiknya sebentar, kemudian menyerahkan ponsel itu kepada Nozaki.

"A—apa ini? Ponsel ini untuk ku?"

"Nozaki-kun," lirih Chiyo. "Aku membaca itu." ia mendekatkan dudukannya di sisi Nozaki yang sudah bersila. "Namanya fanfiksi, cerita yang di buat oleh para penggemar suatu karakter atau animanga dan sebagainya."

"Oh," jawab Nozaki tanda mengerti. "Lalu, apa hubungannya dengan rasa suka ku padamu, Sakura?"

"Tentu saja ada!" Chiyo bersikeras. "Bacalah, Nozaki-kun."

"Baik-baik. Aku akan membacanya."

Nozaki menatap layar ponsel milik Chiyo, menatap awal bab dari fanfiksi tersebut. "Permainan hati, ya?" gumamnya seraya membaca judul fanfiksi tersebut.

"Semoga kau mengerti, Nozaki-kun."

"shirenihime," gumamnya lagi. Ia melemparkan tatapannya pada Chiyo. "Apa yang membuat ini seorang perempuan?"

"Baca saja, Nozaki-kun!"

Sementara Nozaki membaca bab demi bab isi fanfiksi tersebut, Chiyo memilih untuk bertanggungjawab atas kekacauan yang ia buat sendiri. Jemari mungilnya mulai bergerak untuk merapikan manga dan mengembalikannya ke tempat semestinya—rak buku.

Satu jam berlalu, Nozaki masih menatap layar ponsel milik Chiyo. Beberapa saat kemudian ia meletakkannya di meja, "Aneh," gumamnya setelah membaca fanfiksi tersebut. Tangannya menyentuh rahangnya yang tegas, lalu turun ke dagu, menggosoknya dengan konstan. "Kenapa seorang mangaka shoujo manga sangat tidak mengerti shoujo manga?"

"Kau membicarakan dirimu sendiri, Nozaki-kun."

"Tapi ini bukanlah pesan rahasia, Sakura."

"Eh?"

"Mangaka yang katanya tidak peka itu hanya mengutarakan perasaannya lewat manga, ia tidak menyisipkan pesan rahasia di dalamnya."

"Ah, benarkah?" lirih Chiyo. Padahal ia berharap menemukan sesuatu tentang perasaan Nozaki dalam manga-manga-nya, tapi tidak, tidak satupun dari semua manga Nozaki yang terdapat pesan rahasia.

Nozaki menangkap rona kekecewaan dari wajah Chiyo. Ia berdiri, meninggalkan Chiyo yang terduduk lemas.

"Ini," ujar Nozaki. Ia meletakkan sebuah manga di atas meja, menarik atensi iris ungu milik Chiyo. Tubuh kecil itu berputar, menghadap satu benda yang sama dengan Nozaki.

Chiyo masih bergeming. "Entah kau mengingatnya atau tidak," jeda Nozaki. Telunjuk panjangnya menyentuh kertas berisi gambar Mamiko yang sedang menampakkan tubuh belakang. "Pita ini, aku terinspirasi oleh mu."

"Eh?" suara Chiyo datar. Ia tidak mengerti, netra ungunya menatap iris hitam seolah tak percaya. "A—ku?"

Nozaki sedikit tersenyum, ia mengangguk halus. "Karakternya memang milik Mikoshiba, tapi pita ini, tetap milikmu. Apa itu bisa disebut pesan rahasia, Sakura?"

"Ah, aku tidak tahu, Nozaki-kun," jawab Chiyo. Suaranya masih lemah.

"Anggap saja pesan rahasiaku adalah, memperhatikanmu sejak dulu, sejak acara penerimaan murid baru, satu setengah tahun yang lalu."

Chiyo selalu mengingatnya, tidak hanya kejadian itu, bahkan ketika ia tak sengaja membuat lidahnya terpleset. Ia mengingat setiap detail kejadian-kejadian aneh, unik, mendebarkan, menyenangkan, menyakitkan, bersama Nozaki. Ia mengingat semua itu.

"Bakatmu memang sangat luar biasa, aku terus mengincarnya, Sakura."

"Nozaki-kun," lirih Chiyo. Debaran jantungnya berhenti tiba-tiba, mengusir rasa bahagia yang tak terhingga.

"Aku akan menyisipkan pesan rahasia untukmu di edisi bulan depan, bagaimana?"

"Wah... Benarkah, Nozaki-kun?"

Nozaki mengangguk lembut, "Ah, berhentilah berkata bahwa aku tidak menyukaimu, Sakura." Chiyo menatap lekat wajah tegas itu. "Rasanya sedikit mengganggu telingaku," gumam Nozaki kemudian.

"Hn!"

Sejak saat itu wajah Chiyo tak pernah berhenti bersinar. Senyumnya selalu merekah sempurna, ia menanti dengan tidak sabar manga Nozaki edisi bulan depan.

.

.

.

[ Satu minggu kemudian, meja editor ]

"Ah, Yumeno sensei?" sapa seorang pria bertubuh tambun kepada seseorang di balik ponsel. "Aku sudah menerima naskah bulan ini, aku juga sudah membacanya. Bisakah kau sedikit lebih serius?" tanyanya agak keki.

"Apa ada yang tidak sesuai, pak Ken?"

"Tentu saja ada!" tegasnya. "Ini romance, bukan humor. Kenapa kau sisipkan percakapan lubang hidung disini?"

"Ah, itu pesan rahasia, Pak Ken!"

Mendapat jawaban tak logis sudut kening Pak Ken semakin berkedut, menampakkan siku-siku yang tertekan.

"Perbaiki!" tegasnya lagi. Pak Ken menekan tombol end call dengan tergesa. "Apanya yang pesan rahasia?" ia memangku wajah suramnya dengan sepasang lengan tambun. Kacamatanya sedikit turun menatap naskah Nozaki di atas meja. "Kenapa aku harus berurusan dengan mangaka sepertinya?"

[ Saat terbit... ]

"Waaaa... edisi bulan ini benar-benar romantis, manis sekali!" seru seorang anak perempuan di sisi bangku Chiyo.

"Benar. Lihat bagaimana Suzuki menyentuh hidung Mamiko dengan mesra, sambil berkata, 'kecantikanmu memang menakjubkan', benarkan Chiyo-chan?"

Chiyo yang sedang menikmati makan siangnya melemparkan senyum kaku, ia tahu bukan itu maksudnya. "Jadi, pesan rahasianya lubang hidungku yang menakjubkan, ya?"

Chiyo mengunyah makanan dengan malas, ia tak pernah menyangka Nozaki begitu menyukai lubang hidungnya.

.

.

.

[ Chapter 4 ]

Pesan Rahasia

[ End ]

.

Maaf author-nya belum bisa move-on dari lubang hidung:"]

Huhu, maafkeun author juga yang promosiin fict sendiri. Itu fict lama sih, fict pertama pula:"] nista banget kerapian, eyd, typo(s), delelel-nya:"] Isinya cuma meluapkan kekesalan kpd tuan Nozaki yang amat tidak peka:/ dan ending animenya yang menyebalkan dari Izumi Tsubaki-sensei:x

yaaa tapi, siapa tahu ada yang berkenan baca cerita lawas nan amburadul itu :"]/puk!author-san

OKEW!

Bersambung sih sepertinya, banyak ide yang mencuat tapi bingung kapan waktunya/author sok sibuk o.O

Oya, biar nggak syok buat yang setia baca fict author yang (tengah) galau ini, author mau ganti penname, huhuuu :"D/gapenting.-.