a n s w e r m e

...

He has a smile that never reaches his eyes yet I feel like I am absorbed into it.

...


Pelajaran Sejarah Eropa adalah pelajaran yang paling Lu Han benci, dan ia akan selalu menghabiskan waktunya untuk mencoret-coret buku tulisnya dengan doodle atau bermain ponsel yang ia sembunyikan di laci mejanya.

Hari itu adalah hari Rabu, dan Sejarah Eropa yang sangat membosankan itu kebetulan berada pada jam terakhir, dan yang bisa Lu Han lakukan adalah meletakkan kepalanya keatas meja, mencoba untuk beristirahat dan mengabaikan celoteh Mr Jung di depan sana.

Ia memejamkan matanya, berusaha untuk tertidur sejenak sebelum kelas berakhir namun sayang, suara teman perempuannya yang sedang bergosip di depannya mengganggu telinganya.

"Bukankah itu Sehun?" Sebuah suara yang ketika Lu Han pastikan adalah suara milik seorang perempuan bernama Yoo Hae terdengar lirih, mencoba berbisik dengan rekan sebangkunya. Yee Rin kalau ia tak salah ingat.

Lu Han menegakkan duduknya dan diam-diam ia mengamati kedua perempuan di depannya tersebut.

"Dia sudah bosan sekolah, rupanya." Yee Rin menimpali.

Yoo Hae mengangguk, dan matanya tak pernah lepas memandang jendela di sisi kiri mereka—tepat di mana Lu Han bisa melihat sosok Sehun yang sedang duduk di salah satu bangku lapangan.

"Kudengar dia di detensi lagi. Kali ini dua minggu."

Yoo Hae menoleh kearah teman sebangkunya, keningnya berkerut bingung. "Ada apa memangnya?"

"Kudengar anak senior mencoba balas dendam dengannya, atau apalah itu—aku tak begitu tahu. Yang kudengar dari temanku adalah, anak senior tersebut berusaha membuang buku yang selalu Sehun bawa itu."

"Oh! Aku tahu! Buku tebal yang selalu dia baca itu, kan?"

"Mhm, dan kata temanku, itu bukanlah sebuah buku, melainkan album foto. Katanya juga, Sehun langsung menghajar senior tersebut saat ia tahu bahwa anak senior tersebut mencoba untuk mengambilnya dari loker."

"Kau tahu, aku dulu sempat tertarik dengan Sehun, namun setelah ada kasus Joohyun, kupikir aku harus mundur teratur," kata Yoo Hae sambil mendesah lelah.

Yee Rin tertawa kecil, menepuk pundak temannya. "Dia belum bisa melupakan Joohyun, sepertinya. Ada yang bilang bahwa album tersebut album foto Joohyun."

Yoo Hae mendengus, kemudian ia meletakkan kepalanya keatas meja. "Mereka memang serasi. Sayang, tak ada yang mengetahui bagaimana sekarang nasibnya."

Yee Rin mengangguk, kemudian dengan pandangan terakhir, ia melirik keluar tepat kearah di mana Sehun masih duduk di lapangan. "Aku kasihan padanya."

Yoo Hae, yang rupanya telah malas dengan topik tersebut, hanya bisa mengangguk kecil menyetujui pikiran Yee Rin.

Suara Mr Jung terdengar begitu nyaring di telinganya, dan Lu Han ingin mengenyahkan hal itu. Yang ada dalam pikirannya sekarang hanyalah obrolan kedua gadis di depannya tersebut, dan tanpa diperintah oleh otaknya, reflek Lu Han langsung menoleh ke samping, tepat di mana jendela kelasnya di lantai dua. Lewat jendela tersebut Lu Han bisa melihat bagaimana Sehun terlihat begitu tenang sambil menikmati alunan musik lewat earphone miliknya, tak memedulikan cahaya mentari yang menerpa wajah pucatnya.


Sehari setelah ia mendengar kabar bahwa Sehun di detensi, kabar mengenai hal itu langsung menjadi topik hangat di kalangan siswa.

Dan hal yang membuat Lu Han semakin kaget adalah rupanya, anak senior yang mencoba mencuri buku—atau album foto—milik Sehun adalah Eric Nam.

Lu Han ingin mengetahui semuanya, dan kata Baekhyun satu-satunya orang yang mengetahui semua kisah tersebut tak lain dan tak bukan adalah Jongin sendiri yang pada saat kejadian pemukulan berada bersama Sehun, namun malang baginya—Jongin juga kena detensi selama seminggu.

"Kau bisa langsung tanya padanya saja," kata Baekhyun saat mereka duduk di kafetaria untuk makan siang. "Jongin dan Sehun tetap pergi sekolah—walau mereka hanya akan bermain basket saat pelajaran telah usai."

Lu Han mengangguk sambil berterimakasih pada Baekhyun, mencatat dalam hati jika ia harus pergi ke lapangan basket sehabis pulang sekolah nanti.

Sorenya, tepat pada pukul empat ketika bel terakhir berbunyi, Lu Han langsung melesat pergi ke lapangan basket untuk melihat apakah Sehun ada di sana seperti kata Baekhyun.

Dan benar saja, hari itu Lu Han kembali melihat sosok Sehun yang duduk seorang diri di sudut lapangan. Kali ini ia tak membawa buku tebal, ia hanya melihat teman-temannya—atau hanya Jongin?—berlatih basket. Ia masih membawa earphone yang selalu tergantung di kedua telinganya.

Dari kejauhan, Lu Han bisa melihat bagaimana mata Sehun mengamati permainan yang berlangsung dalam diam.

Matanya bergerak ekspresif, penuh cahaya dan Lu Han tahu akan bahaya baginya jika ia terus memandang kedua manik Sehun dari kejauhan seperti ini.

Lu Han bertanya dalam hati—apakah ia memang harus bertanya tentang kasusnya bersama Eric pada Sehun? Karena ia berpikir bahwa di satu sisi, pasti Eric melakukan hal tersebut karena Sehun dan Jongin telah membelanya beberapa hari yang lalu di kafetaria. Namun di sisi lain ia tak ingin terlalu ikut campur dalam urusan orang lain.

Maka hari itu, dengan berat hati, Lu Han beranjak dari sana tanpa berani menghampiri Sehun dan bertanya.

Terhitung sudah lima hari Lu Han berlagak seperti penguntit Sehun yang bersembunyi untuk melihatnya duduk-duduk saja di lapangan basket, namun Lu Han tak peduli.

Keinginannya untuk bertanya tentang Eric Nam menguap seketika dan terganti dengan rasa ingin tahu tentang sosok Sehun yang dari dulu ia coba pendam. Sehun memang menarik, dan apa yang membuat Lu Han semakin ingin mengetahui tentangnya adalah matanya. Matanya terlihat ekspresif namun seakan berusaha menyembunyikan banyak hal. Dan Lu Han tak bisa berhenti merasa ingin tahu.

Lu Han tahu apa yang ia lakukan terdengar begitu lucu namun ia tak bisa menyuruh dirinya sendiri berhenti. Sore itu adalah hari kelima baginya memandangi Sehun di lapangan basket. Dan seperti biasa, ia akan mengendap-endap sambil bersembunyi di belakang pohon besar di sana dengan matanya yang memicing tajam mencoba mencari sosok Sehun.

Lima, sepuluh, hingga lima belas menit ia menunggu, akhirnya tim basket sekolahnya datang bergerombol lengkap dengan pakaian basket masing-masing. Ia melihat Jongin datang dan itu berarti akan a—

Lu Han mengedarkan pandangannya sekali lagi, menganggap bahwa ia kurang jeli karena hari ini Jongin datang dengan seorang siswa bernama Myungsoo dari kelas sebelah. Ia menjinjitkan kakinya untuk mendapat pandangan yang lebih baik namun nyatanya Sehun tak ada di sana.

Lu Han tak tahu mengapa ia menyesal dan kecewa, namun saat ia memastikan untuk yang ketiga kalinya bahwa Sehun tak ada di sana seperti biasa, Lu Han memutuskan untuk pergi dari sana sebelum—

"Mencari seseorang?"

Lu Han terperanjat, dan saat ia menoleh kebelakang untuk mengetahui siapa yang berada di sana, ia bertemu dengan sosok yang ia cari di detik sebelumnya.

Oh Sehun.

Lu Han melihat Sehun berdiri tepat di depannya, menatapnya terhibur namun wajahnya tak menunjukkan satu ekspresi apapun walau Lu Han tahu sorot matanya sudah mengekspresikan segalanya.

"Halo?" Sehun mengibaskan tangannya di depan wajah Lu Han, menatapnya bingung. "Kau masih ada di sini?"

Lu Han terperanjat dan kembali dari angannya. Ia mundur satu langkah kebelakang dan keningnya mengerut melihat Sehun.

"Kau—kenapa kau ada di sini?" tanya Lu Han.

Alis Sehun bersatu dan ia berjalan mendekat, membuat Lu Han mau tak mau ikut berjalan mundur untuk menciptakan spasi di antara mereka berdua.

"Harusnya aku yang bertanya begitu," kata Sehun. "Apa yang kaulakukan di sini? Bahkan kau bukan anggota tim."

Lu Han memandang Sehun dengan pandangan datar. "Apa perlu menjadi anggota tim untuk datang kesini?"

Sehun terlihat berpikir sebentar sebelum ia kembali menatap Lu Han dan membuka kembali mulutnya. "Tidak juga," katanya sambil mengelus dagunya, terlihat berpikir.

"Tapi karena aku sekarang sudah ada di sini, kau bisa mengatakan apa tujuanmu kemari," lanjut Sehun, menatap Lu Han tepat di kedua matanya.

Si pemuda China di depannya terkejut, membuat matanya membesar dan Sehun menganggapnya lucu.

"Apa maksudmu berkata seperti itu?" Lu Han bertanya, mengalihkan pandangannya pada apapun kecuali Sehun.

"Ah, ayolah. Kaupikir aku tak tahu jika kau sudah lima hari berada di sini, memandangiku diam-diam seperti penguntit?"

"Aku tidak menguntitmu!"

"Yah, benar. Kau mungkin tak menguntitku tapi kau memperhatikanku diam-diam," kata Sehun, memajukan mukanya hingga kini ia bisa lebih dekat memandang wajah Lu Han yang terlihat terkejut bukan main. "Sekarang kau bisa mengatakan padaku ada apa."

Lu Han berjalan menjauh meninggalkan Sehun namun sialnya, pemuda Oh tersebut takkan membiarkannya lari begitu saja. Ia berjalan mengekor Lu Han namun terus diabaikan.

Merasa risih diikuti seperti itu, Lu Han akhirnya berhenti tepat di depan ruang praktek biologi di ujung area selatan sekolah. Ia berhenti lalu membalikkan badannya, membagi pandangan datar pada Sehun yang masih di sana, berdiri tanpa dosa sambil menatapnya tepat di kedua matanya. Lu Han benci mengakui namun ia tahu bahwa ia merasa kedua mata Sehun sangat indah—bersinar tanpa ragu seakan mencoba menyentuh sebuah hal.

Namun di sisi Lu Han, ia merasa muak saat melihatnya.

"Apa yang kauinginkan?" Lu Han bertanya.

Sehun mengernyit. "Seharusnya aku yang bertanya seperti itu."

Lu Han mendesah, sudah hapal benar akan orang tipe seperti Sehun yang takkan melepaskannya sebelum ia mendapatkan sebuah jawaban.

"Apa yang ingin kauketahui?"

"Kenapa kau memperhatikanku terus-menerus diam-diam?"

"Karena aku ingin."

Sehun memutar matanya malas lalu kembali menatap Lu Han. "Kukira kau bisa mengarang jawaban yang lebih hebat dari itu."

Lu Han mengangkat bahunya, merasa bahwa sebenarnya ia juga tak punya jawaban atas pertanyaan tersebut karena—well, karena ia juga tak tahu mengapa.

"Entahlah," jawabnya. "Aku hanya ingin melakukannya saja. Mungkin hanya penasaran."

"Penasaran?"

Lu Han mengangguk. Ia menatap Sehun dan kembali, ia terjerat dalam kedua matanya.

"Akan hal...?"

Lu Han tersenyum dan Sehun merasa bahwa senyumnya terlalu palsu sehingga hal itu menimbulkan rasa kasihan pada sosok di depannya tersebut.

"Banyak hal," jawab Lu Han. Nadanya lirih namun Sehun masih bisa mendengarnya. "Seperti hal mengapa kau selalu ada di sana, tepat di tempat yang sama berhari-hari. Seperti hal mengapa kau selalu duduk di sana dan hanya melihat temanmu bermain. Seperti hal mengapa kau selalu membawa album foto. Seperti hal mengapa kau berhenti bermain basket. Seperti hal apakah yang sedang kaupikirkan setiap saat. Seperti hal..."

Lu Han berhenti berkata dan Sehun memandangnya tanpa ekspresi.

Dan Lu Han kembali memandang kedua manik Sehun seperti ia iri akan kedua matanya.

"...seperti hal mengapa kau memiliki kedua tatapan itu."

"Itu?"

Lu Han terdiam. Ia tak tahu mengapa ia bisa melihat apa yang ingin ia lihat di dalam sosok Sehun namun tak berani ia raih.

"Tatapan seolah kau punya semua rasa cinta dan harapan di dunia ini."

Sehun membatu.

"Tatapan seolah kau hanya butuh cinta untuk hidup. Tatapan seolah kau mengekspresikan semuanya hanya dengan sekali tatap."

Ia tak tahu apa yang membuatnya berkata seperti itu, bahkan saat keduanya tidak pernah berbicara lebih jauh semenjak Lu Han berada di sana namun saat itu Lu Han merasa bahwa ia ingin mengatakan itu semua. Bagaimana ia merasa terkesima namun juga jijik melihat seseorang yang memiliki tatapan seperti itu. Tatapan penuh cinta seakan cinta adalah hal sakral yang membuat hidup bisa lebih panjang seribu tahun. Hal persetan semacam itu membuat hatinya berdenyut sakit, entah mengapa.

"Apa hal itu membuatmu tak nyaman?" Sehun bertanya.

Lu Han mendongakkan kepalanya dan ia mengerutkan keningnya. "Aku tak berkata seperti itu."

"Lucu," kata Sehun. "Ketika aku melihatmu tersenyum untuk yang pertama kali pada Baekhyun dan kami semua, aku merasa bahwa kau tersenyum namun senyummu tak bisa menjalar ke matamu. Senyum yang sangat palsu dan aku hampir tak bisa membacamu. Namun saat kau berkata barusan, aku akhirnya bisa melihatmu menampakkan setidaknya satu ekspresi."

Lu Han terkejut dan ia tak bisa menahan dirinya untuk tak menatap Sehun yang sedang tersenyum padanya.

"Aku—"

"Lucu," kata Sehun sambil berjalan sampai ia mendahului Lu Han, membuat sang pemuda China harus ikut berjalan menyusulnya. "Ketika ini adalah pertama kalinya kita berbicara dan topiknya seperti ini."

Ah—bahkan Lu Han baru sadar akan hal itu.

"Katakan padaku, Lu Han."

Lu Han mendongak, menyejajarkan langkahnya hingga ia bisa melihat Sehun.

"Apakah kau benar-benar ingin mengetahui semua hal itu?"

Lu Han berpikir sejenak, mengingat-ingat hal apa yang dimaksud Sehun dan akhirnya ia tahu apa yang Sehun maksudkan.

"Entahlah," jawab Lu Han. "Mungkin aku ingin mengetahuinya, namun aku tahu aku tak bisa mengetahui lebih banyak."

"Bagaimana jika kau bisa?"

Lu Han berhenti di tempatnya berdiri, berhenti berjalan dan mematung, membuat Sehun ikut berhenti dan membalikkan badannya hingga mereka berdua lagi-lagi saling berpandangan.

Sehun tersenyum mengetahui apa yang sedang Lu Han pikirkan.

"Bagaimana jika kau bisa?"

"Kau—"

"Kau ingin mengetahui tentang mengapa aku berhenti bermain, dan kuasumsikan bahwa kau sudah mendengar cerita orang-orang tentang seorang gadis bernama Joohyun?"

"Aku—Sehun aku—"

"Jika kau mau mengetahui lebih banyak, mengapa kau tidak mencoba mencari tahu?"

Lu Han terlihat bimbang dan heran, namun saat ini ia tak bisa berkata apa-apa kecuali—"Tak ada yang tahu tentangmu, aku sudah berusaha mencari tahu. Baekhyun dan Minseok hanya tahu sedikit hal."

"Kurasa mereka menyebut tentang Joohyun yang mengalami kecelakaan?"

Lu Han mengangguk dan ia tak ingin menatap Sehun. Ia takut apa yang Sehun pancarkan dari kedua matanya adalah sorot yang sama yang ia miliki. Menyedihkan.

"Kau berkata bahwa tak ada yang tahu, begitu?"

"Ya."

"Aku tahu semuanya. Jika kau ingin mengetahuinya, kenapa kau tak menjadi kekasihku saja?"


tbc