Disclaimer: Masashi Kishimoto. yang terimakasih sekali telah membuat chapter-chapter Naruto semakin SHO-AI.

Warning: Yaoi, MPREG, OC

My Litlle Uchiha

Chapter 4

-

-

-

"Kyou?"

"Hn."

Naruto mengamati tingkah putranya yang sejak tadi sama sekali tidak menyentuh makan malamnya. Adalah hal langka jika putranya ini sampai mendiamkan makanannya begitu lama. Apa lagi jika itu adalah ramen dengan irisan tomat segar yang baru dipetik dari kebun belakang. Biasanya tak sampai dua menit setelah disajikan makanan itu akan segera lenyap. Tapi kali ini sudah lebih dari lima menit Kyou belum juga menyentuh makanan favoritnya itu.

Naruto meletakkan sumpitnya, mengambil segelas air putih dan meminumnya beberapa teguk. Mata safirnya terus mengawasi Kyouru. Pasti ada sesuatu yang tidak beres. Tapi apa? Kyou membuat ulah lagi di akademi dan mendapat hukuman? Ah, tapi kalau hanya karena itu tak mungkin bisa membuat Kyou bersikap aneh seperti sekarang. Pasalnya hukuman sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Uchiha kecil putra tunggalnya itu.

"Ingat peraturan penting dalam menyantap ramen, Kyou.. Jangan biarkan ramenmu dingin."

Kyou mendongakkan kepala untuk menatap Kaasannya. Mempertemukan dua pasang mata langit yang begitu identik.

"Kaasan.."

"Ya?"

"Apa nanti aku juga punya Sharingan?"

Seketika itu juga sumpit yang dipegang Naruto terlepas dari genggaman tangannya dan terjatuh ke lantai.

-

"Hokage-sama?"

Tatapan khawatir terlihat jelas dari kedua mata Konohamaru. Jounin muda itu tidak melepaskan perhatiannya dari hokage pirang yang tengah duduk gelisah di hadapannya sekarang. Sudah hampir satu jam setelah Naruto tiba-tiba memintanya datang malam-malam untuk bertemu di kantor hokage, dan sampai sekarang ia belum juga berbicara satu patah katapun. Ia yakin, apapun itu yang akan dikatakan Naruto nanti, pasti bukan masalah kecil.

"Kyou.."

Naruto menghela nafas. Ia mengalihkan pandangan matanya dari jendela untuk menatap wajah jounin asisten pribadinya. Sosok yang sejak dulu selalu menjadi figure adik baginya. Menjadi salah satu orang yang paling ia percayai.

"Kyou mengetahui tentang sharingan."

Tidak ada yang bisa membuat Konohamaru lebih terkejut selain mendengar hal tersebut. Jika bisa memilih, mungkin ia lebih suka mendengar kabar ada ninja yang telah menyabotase Konoha daripada harus mendengar hal tersebut. Bukan apa-apa, tapi menghabisi ninja kelas atas lebih mudah dibanding mencari jalan untuk menyelesaikan masalah ini.

"Tapi bagaimana mungkin.."

"Dia membaca catatan peperangan Konoha. Katanya ia mendapatkan itu ketika membantumu membereskan dokumen di perpustakaan Hokage."

"Tapi.. bukankah semua semua dokumen dan buku yang berhubungan dengan sejarah konoha dan klan Uchiha telah dimusnahkan. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri ketika pemusnahan itu. Lalu bagaimana mungkin catatan itu masih ada?"

"Entah."

Naruto kembali mengarahkan pandangannya kearah jendela, dimana hampir seluruh bagian desa terlihat jelas dari sana. Malam telah sangat larut, meski begitu lampu-lampu yang menerangi di sepanjang jalan Konoha dan di teras rumah-rumah memperlihatkan gambaran jelas desa rimbunan daun itu.

"Sasuke. Apa kau akan berencana untuk memberitahu hal ini padanya?"

"Tidak. Dia bahkan belum tahu kalau aku..."

"Jadi, dia masih menganggap kau belum tahu tentang perjanjiannya dengan para tetua mengenai Kyou?"

Helaan nafas berat keluar dari sang hokage. Kepala pirang miliknya mendarat di atas meja dengan bunyi debuman yang cukup keras.

"Naruto-nii."

"Aku ini payah!"

Konohamaru mengeryitkan dahinya, bingung mendengar perkataan Naruto barusan.

"Aku ini hokage, tapi menyelamatkan nyawa keluargaku saja tidak bisa."

"Nii-chan.."

-

Kyouru berulangkali mendengus dan menendang benda apa saja yang kebetulan berada dekat dengan kaki kecilnya. Jalan dari mansion Uchiha ke akademi rasanya tidak pernah sejauh ini. Sekali lagi Uchiha kecil itu membuang nafas berat. Ia benar-benar kesal dengan kaasannya yang seperti sengaja menghindarinya sejak kejadian tadi malam, tapi ia lebih meras kesal pada dirinnya sendiri. Andai saja ia tidak dengan bodohnya bertanya soal Sharingan, mungkin kaasannya tidak akan pernah mengacuhkannya dan ia akan tetap bisa membaca buku catatan itu sampai selesai. Ia memang tidak meminjamnya dengan benar, tapi ia tidak bermaksud untuk mencurinya. Toh, ia juga akan mengembalikan buku catatan itu kalau sudah selesai ia baca. Pertama kali melihat buku catatan itu meringkuk di balik tumpukan buku-buku tua di perpustakaan Hokage, Kyou merasa penasaran dengan isinya. Dan ketika ia membaca kata Uchiha di dalamnya, ia merasa semakin penasaran dan bersemangat untuk membaca buku itu. Selama ini entah kenapa kedua orangtuanya selalu menghindar dan mengalihkan pembicaraan jika ia bertanya tentang nama belakangnya itu. Karenanya, Kyou selalu penasaran dan ingin tahu apa sebenarnya yang ada dibalik nama Uchiha. Sebenarnya apa yang salah?

"Pagi Kyouru-kun!!"

Kyou menoleh kearah suara yang menyapanya tadi dan langsung memutar bola matanya. Sekumpulan anak perempuan yang baru beranjak remaja tengah menatapnya dengan mata berbinar. Serius, ia tidak mengerti kenapa makhluk-makhluk menyebalkan macam mereka terus saja mengganggu hidupnya. Padahal ia sudah berusaha membuat berbagai macam ulah untuk dicap sebagai biang onar agar bisa lepas dari gadis-gadis kecil itu. Tapi nyatanya jumlah fans gilanya semakin bertambah setiap hari. Dan semakin tidak mengenal gender. Yeah.. kalian tahu apa yang kumaksudkan.

Satu tepukan mendarat dipundak Kyou, membuatnya refleks menoleh. Senyum hangat segera menyambut Uchiha kecil itu dan menghapus sedikit kekesalannya sejak tadi.

"Iruka-sensei!"

Kyouru langsung menghambur memeluk sensei tercintanya itu erat-erat.

"Kenapa misimu lama sekali? Apa saja yang terjadi?"

Sambil mengacak-acak rambut Kyou, sensei yang memiliki bekas luka di hidungnya itu semakin tersenyum lebar.

"Nanti aku ceritakan sepulang sekolah, tapi sebelum itu jangan sampai aku mendengar kau berulah lagi hari ini!"

"YA!"

Setidaknya Kyou tahu siapa yang bisa ia ajak bicara dan tanyai sekarang.

-

Sasuke Uchiha sedang dalam misi. Misi personal yang hanya bisa ia lakukan sendiri. Misi yang sangat beresiko dan bahkan bisa berakibat fatal. Ya, misi Sasuke Uchiha kali ini adalah menyelinap diam-diam ke dalam kantor Hokage untuk menangkap Hokage pirang miliknya dan melakukan hal-hal 'menyenangkan' bersama di atas meja Hokage. Memikirkan hal-hal apa saja yang bisa ia lakukan pada 'istrinya' sebentar lagi membuat seringai setan tercetak di bibir Ketua Anbu itu dengan jelas. Siapa peduli jika setelahnya ia akan mendapat hukuman menyakitkan seperti tidur di sofa atau apa. Yang jelas sekarang ia hanya ingin menuntaskan rasa frustasinya. Tiga bulan meninggalkan desa untuk menjalani misi yang melelahkan tanpa bisa merasakan sentuhan lembut Naruto membuatnya hampir gila. Dan orang yang bertanggungjawab atas semua ini tidak lain dan tidak bukan adalah sang Hokage yang ironisnya adalah suaminya sendiri. Maka misinya kali ini harus berhasil bagaimanapun caranya.

Sasuke mendarat dengan perlahan di atas atap kantor hokage, mencoba menyembunyikan cakranya. Dengan hati-hati ia melihat keadaan di dalam kantor Hokage. Naruto tengah duduk bersandar di meja Hokagenya. Mata biru miliknya tertutup. Sepertinya tertidur. Seringai kembali terbentuk di bibir Sasuke. Dalam hitungan detik, Sasuke telah berada di belakang kursi Hokage melingkarkan lengannya ke leher Naruto.

"Dobe."

Sasuke berbisik di telinga Naruto memakai nada ranjang kebanggaannya. Sasuke berpindah ke depan Naruto yang sepertinya masih belum rela meninggalkan alam mimpinya. Sekali lagi Sasuke mendekatkan bibirnya ke telinga Naruto, memberi gigitan kecil disertai jilatan panjang di daun telinga Naruto. Kali ini Sasuke mendapat lenguhan lirih dari targetnya. Puas dengan reaksi yang ia dapat, Sasuke semakin berani menyusuri leher tan Naruto. Memberi kecupan-kecupan kecil dengan variasi jilatan lidah yang menggoda.

"Uughh.. Suke.."

Mendengar namanya terucap dari bibir kekasihnya, Sasuke berhenti seketika. Ia memandangi wajah tan Naruto yang sekarang terlihat memerah. Bibirnya sedikit membuka. Dan rambut yang menutupi dahinya terlihat basah oleh peluh. Tapi hal itu malah membuat Hokage pirang itu semakin terlihat bersinar. Jika ada yang tahan dengan pemandangan seperti itu pastilah bukan Sasuke. Maka tanpa membuang waktu lagi, Sasuke segera membungkam bibir penggoda itu dalam ciuman yang dalam dan tergesa-gesa. Naruto yang merasa konsumsi oksigennya diblokade, segera membuka matanya lebar-lebar dan menendang apapun itu yang telah membekapnya.

BUG! CRAK!

"SHIT!"

"Gah! Sasuke?!'

-

"Gezz, pelan-pelan Dobe!"

"Diam, Teme! Aku sedang berusaha mengompres kepalamu!"

Sasuke menatap tajam suaminya yang tengah sibuk menempelkan plastik berisi es ke belakang kepalanya. Tendangan Naruto ke perutnya tadi membuat Sasuke kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Sialnya kepala bagian belakang yang kembali menjadi korban meja Hokage yang cukup keras.

"Jangan melihatku begitu, teme! Ini bukan salahku. Siapa juga yang menyuruhmu menyerangku saat tidur."

Naruto meletakkan plastik pengompres di pangkuan Sasuke dan beranjak ke arah meja kecil di samping sofa untuk mengambil segelas air.

"Minum ini. Mau aku ambilkan obat penghilang rasa sakit?"

"Tidak perlu."

Naruto menghela nafas dan kembali duduk di sebelah suaminya.

"Jadi, bagaimana misimu?"

"Apa kau tidak punya pertanyaan lain selain itu pada suamimu yang baru pulang misi?"

"Aku kan Hokage, Teme!"

"Baik," Sasuke menghadap ke arah Naruto disertai sikap formal. "Semua berjalan lancar Hokage-sama. Semua selamat dan hanya ada satu anak buahku yang terluka, tapi bukan luka serius. Besok aku akan memberikan laporan resmi dan dokumennya padamu."

Naruto tahu, jika Sasuke sudah memakai nada formal padanya, itu berarti Sasuke benar-benar sedang kesal. Dan beruntung ia sangat tahu cara paling jitu untuk masalah seperti ini. Tapi sekarang ia benar-benar tidak memiliki keinginan untuk melakukan itu. Pikirannya masih dipenuhi dengan perkara Kyou. Ia masih belum bisa memutuskan untuk memberitahukannya pada Sasuke atau tidak. Naruto hanya tidak ingin membuat Sasuke kembali merasakan rasa bersalah yang hampir menggerogoti habis jiwanya dulu. Tidak, sudah cukup bagi Sasuke menanggung semua tudingan demi menyelamatkan nyawa Kyou dan dirinya. Sekarang gilirannya untuk melindungi keluarga. Melindungi Sasuke dan putra tercinta mereka.

"Sebaiknya kau pulang dan istirahat, teme. Aku tidak bisa bekerja kalau kau terus menggangguku di sini."

Naruto memberikan kecupan kecil di bibir Sasuke dan segera beranjak kembali duduk di kursi Hokagenya. Tangannya kembali sibuk mengecek dokumen dan memberi stempel pada beberapa laporan.

"Apa apa, Naruto?"

Sasuke menatap Naruto dengan tatapan serius. Ia yakin. Ada sesuatu yang terjadi ketika ia pergi. Dan sesuatu itu pasti bukan hal sepele. Ia bisa merasakan dengan jelas perubahan sikap Naruto. Karena ketika matanya menatap ke dalam mata langit itu, terdapat awan hitam yang menggantung di sana. Mengurangi cerahnya. Meredupkan cahayanya. Dan ini, bukanlah hal yang bisa begitu saja ia biarkan.

"Naruto, kau tidak bisa berpura-pura padaku. Apa yang terjadi? Kau tidak akan bisa selamanya menyembunyikan sesuatu dariku."

Gerakan Naruto terhenti. Cukup lama keduanya terdiam.

"Nanti.. nanti aku akan mengatakannya padamu setelah tugasku selesai. Kau bisa pulang sekarang, Sasuke."

Sasuke ingin menyanggah, tapi ia kemudian mengurungkan niatnya. Sudah, jika Naruto memang membutuhkan waktu, ia akan berikan. Seberapa lamanya pun itu.

"Sampai jumpa."

"Ya."

-

Kyou berjalan pulang dengan senyum mengembang. Berbeda dengan ketika berangkat ke akademi tadi, kini rasa kesal Kyou telah menguap dan hilang sepenuhnya. Makan siang di Ichiraku bersama Iruka-sensei tadi benar-benar menyenangkan. Ia memang belum sempat berbicara tentang masalahnya, tapi cerita Iruka-sensei tentang misinya membuat Kyou melupakan semua kekesalannya. Bagi Kyou, Iruka-sensei lebih dari seorang guru. Ia lebih seperti kakek baginya. Kakek yang selalu menuruti apa saja kemauannya dan menceritakan hal-hal yang menarik dengan penuh kehangatan. Sosok kakek yang tidak pernah ia miliki.

"Berikan!!"

"Tidak! Lepas!"

Langkah Kyou langsung terhenti mendengar teriakan tadi. Ia mencoba memasang telinganya lebar-lebar dan mencari arah sumber suara itu berasal.

"Gyaahhh!!!"

"Dapat!"

Tanpa pikir panjang Kyou melesat ke arah sumber suara berasal. Tepat di bagian dalam gang kecil yang kotor dan tersembunyi di sudut desa. Di sana seorang bocah laki-laki kecil tengah meringkuk ketakutan sambil mendekap erat sesuatu ke dadanya. Punggung bocah itu terus mendapat tendangan dari tiga orang laki-laki bertubuh besar yang mengelilinginya.

"Hey, kalian! Lepaskan anak itu!"

Ketiga laki-laki tadi berbalik melihat siapa yang berani mengganggu acara mereka.

"Cih! Bocah ingusan."

Orang yang berdiri paling kiri dan memiliki bekas sayatan di dahinya menghampiri Kyou.

"Cepat lari dari sini atau kau juga mau menjadi seperti dia!"

Tangannya menunjuk ke arah bocah yang masih meringkuk dengan darah segar menetes keluar dari mulut dan hidungnya.

"Tunggu!"

Salah satu yang paling besar di antara ketiganya mengamati Kyou cukup lama, ia seperti mencari-cari sesuatu di otaknya yang berhubungan dengan anak laki-laki yang tengah ia amati itu. Kemudian, ketika sesuatu yang ia cari itu telah ia dapatkan, matanya terbelalak. Tapi kemudian sebuah seringai setan muncul di wajahnya. Tatapan matanya seakan bertambah tajam dan menusuk.

"Lihat, apa yang kita dapatkan ini."

"Kenapa ketua?"

Kedua temannya nampak kebingungan dengan sikap ketuanya.

"Bodoh! Apa kalian tidak tahu, siapa bocah ini?"

Kyou menatap jijik ke arah orang itu yang tengah menjilati bibirnya sendiri.

"Bocah ini, adalah anak dari siluman rubah yang tak tahu malu itu."

"Mak..maksudmu Hokage-sama?!"

"JANGAN PANGGIL DIA HOKAGE DI DEPANKU!! Aku tidak pernah mengakui monster seperti dia!"

"IBUKU BUKAN MONSTER, KEPARAT!"

BRUAG!

Sebuah pukulan telak mengenai perut Kyou. Tubuh kecilnya yang tak mampu menahan dorongan terlempar menabrak tembok. Kepalanya terbentur, darah mengucur membasahi rambut biru gelap miliknya.

"Bangsat! Ugh!"

Kyou berusaha berdiri, tapi kembali tubuhnya dihujam dengan tendangan bertubi-tubi. Rasa sakit menjalar melalui seluruh saraf tubuhnya. Matanya berkunang. Udara yang ia coba hirup seakan tercekat di tenggorokan membuatnya sulit bernafas.

"Anak siluman! Harusnya kau mati! Kau pantas mendapatkan ini!"

Pukulan, hantaman, tendangan. Semakin keras. Semakin intens. Seperti tidak akan ada habisnya.

Sakit. Dadanya terasa begitu sakit. Tubuhnya panas. Degup jantungnya melambat tapi terasa begitu keras menghantam tulang rusuknya.

"Monster! Ibumu itu PEMBUNUH!"

DEG!

Tubuh Kyou menegang. Pancaran cakra yang kuat keluar dari tubuhnya, membuat ketiga laki-laki yang menyerangnya terjungkal ke belakang. Perlahan, Kyou mencoba berdiri. Kakinya masih goyah, tapi ia tetap berusaha berdiri.

"Sudah ku bilang, JANGAN PANGGIL IBUKU MONSTER!"'

Biru berganti merah. Tiga titik muncul berputar dalam lautan merah darah.

Bangkit. Kutukan.

TBC

Maaf, lama gak apdet dan sekali apdet langsung angst begini. Tapi, yah My Little Uchiha memang bukan fic humor sejak awal. Berbeda dengan Amazing Household atau sekuelnya. Sekali lagi maaf jika membuat reader kecewa. Salam hangat.. Nazuki Kyou Rin.