Pathétique


3. Spinto


Terasa bagai keabadian ia telah menelusuri koridor-koridor Opera ini. Taruhan Nagisa semakin tinggi. Ia bisa merasakan suatu sosok tertawa di belakangnya; menertawakan perputaran nasib yang menimpanya.

Gakushuu dan Karma berada di Opera ini, dan concerto yang sedang bermain kali ini semakin timpang; sumbang, tak teratur, tak bisa diduga lagi.

Ia berhenti berjalan, dan mengeluarkan pistol selongsong panjang yang ia curi dari tas gitar Karma. Selongsongnya terisi. Isinya cukup untuk melakukan yang perlu ia lakukan.

Nagisa menarik napas, menguatkan diri.

"Aku harus menemukan Gakushuu-san sebelum ibu atau Karasuma-sensei menemukannya..."

~.X.~

Frustrasi dan ketegangan melanda Gakushuu Asano.

Ia tidak bisa mencari jalan keluar dari bangunan itu. Jendela maupun pintu, semuanya terkunci. Ia sudah berpindah ke gedung selatan, alias gedung pertunjukkan utama, dan sampai saat ini ia tidak menemukan satu pun personil opera maupun musikal.

Pintu utama maupun pintu menuju taman dalam terkunci, namun gedung itu menyala terang. Chandelier yang menggantung di tengah-tengah koridor besar itu terayun-ayun pelan, sedikit bergemerincing kristalnya; namun hanya suara samar benda itulah yang menemani gema langkah kaki Gakushuu.

Ia merasakan kesendirian pada saat yang bersamaan ia merasa tidak sendirian. Ia tidak bisa menjelaskan kegamangan ini, namun Gakushuu berusaha tetap tenang. Menurutnya bodoh jika ia harus naik ke lantai atas dengan seorang wanita pembunuh mengejar-ngejarnya. Jika ia benar-benar tersudut paling tidak ia akan melompat keluar jendela, dan ia ingin berada di lantai satu jika hal itu terjadi.

Namun saat ini ia tidak bisa keluar, baik karena perkataan Nagisa Shiota benar; bahwa ia berada di dunia yang berbeda, atau karena ada seorang berengsek yang mengerjai mereka, dan tentu saja itu pelaku pelenyapan tujuh puluh orang beberapa hari lalu.

Gakushuu tidak akan hilang akal apapun yang terjadi. Kepanikan bukanlah gayanya.

Daripada menyesali keadaannya yang terjebak, akhirnya ia mengambil jalan ke timur dari gedung itu. Lantai pertama gedung selatan adalah aula konser utama, kamar pribadi personel, ruang rias, dan fasilitas umum seperti toilet dan restoran, serta gudang alat musik. Mengingat ini, Gakushuu jadi memikirkan sudah berapa jam ia berjalan-jalan tanpa arah di dalam bangunan seluas ini, dan mungkin sedikit minuman akan menyegarkan otaknya dan menenangkan dirinya.

Lorong menuju restoran cukup panjang, diisi ruang rias dan ruang duduk tamu, semuanya kosong, jendela terkunci rapat, dan Gakushuu sudah tidak ingin menambah kepanikan dirinya dengan memeriksa satu-per-satu jendela-jendela itu.

Ia berhenti, karena semenjak ia tiba di gedung itu, Sonatine yang mengiringinya senyap. Jadi ketika ia mendengar suatu melodi flute dari ujung koridor, Gakushuu merasakan firasat yang tidak menyenangkan. Firasat yang mengingatkannya dengan bagaimana Hiromi Shiota berusaha membunuhnya dan Grave – Allegro mendadak bermain.

Dengarkan musik baik-baik.

Gakushuu ingat pesan Nagisa, karena meskipun rasanya sudah lama sekali sejak mereka berpisah jalan, rasanya baru saja ia membaca tulisan itu.

Melodi yang bermain adalah suatu lagu yang familiar, dan Gakushuu, meskipun bukan penggemar musik rock, bisa mengenali bahwa itu aransemen flute di awal lagu Stairway to Heaven oleh Led Zeppelin.

Mendekati lirik pertama, melodi flute mengeras, dan Gakushuu merasa ia semakin mendekati sumber suara. Berbeda dengan Grave – Allegro maupun Sonatine yang tadinya bermain sebagai musik latar, musik kali itu memiliki sumber, seorang pemain.

Dan berdiri di salah satu kursi restoran itu, seorang anak yang tak lebih dari sekitar sepuluh tahun, bermain flute dengan sempurna, melodi Stairway to Heaven dengan mulus. Anak itu berambut hitam dengan sedikit semburat seperti pucuk di ubun-ubun kepalanya.

Gakushuu mendengarkan beberapa saat hingga anak itu menurunkan flute-nya karena pada saat itu seharusnya vokalis bernyanyi.

"Halo," katanya canggung, membuat anak itu sedikit terlonjak dan menoleh padanya. Matanya emas brilian, tampak terkejut melihatnya.

"Halo!" ia tersenyum lebar, tampak sangat lega, melompat turun dari kursi itu dan menghampiri Gakushuu. "Aku senang sekali ada orang lain! Tiba-tiba aku ada di sini dan tidak ada orang sama sekali...Aku takut!"

Gakushuu memandangi anak itu sejenak, mempertimbangkan.

"Apa kau habis menonton konser di lantai lima?"

Anak itu menggeleng. "Tidak, aku baru jatuh di kamar di lantai empat. Mungkin pingsan juga, sebentar. Saat aku bangun semuanya hilang! Lalu karena lapar, aku ke sini. Ternyata restorannya kosong, jadi aku tidak bisa beli apa-apa..." ia sedikit merengut mengatakan ini, memegangi perutnya.

"Aku Gakushuu Asano. Siapa namamu?"

Anak itu tampak sangat terkejut mendengar namanya.

"Asano!? Gakushuu Asano yang punya Opera ini? Kata ayah kau seumuran denganku, tapi kau besar sekali!" ia tertawa riang, dan sebelum Gakushuu bisa menanyakan perkara ini, ia berkata; "Aku Yuuma, salam kenal, Shuu-chan! Boleh kupanggil begitu?"

"Hm...terserah," Gakushuu mengangkat bahu, dan berjalan ke arah dapur di balik bar pemesanan. Yuuma mengikutinya takut-takut.

"Shuu-chan, jangan masuk ke situ! Tulisannya; selain staff dilarang masuk!"

"Aku pemilik tempat ini, jadi aku pemilik para staff, tentu saja aku boleh masuk."

"Oh...hebat! Shuu-chan keren!"

Mendengar argumentasi Gakushuu yang terasa masuk akal baginya, Yuuma pun tanpa ragu lagi mengikutinya ke dapur. Dapur juga kosong, tentu saja, tidak ada siapapun selain makanan dan minuman, dan mereka berdua saat itu. Gakushuu meminum air dari keran, sementara Yuuma membuka lemari es dan bertanya apakah ia boleh mengambil susu melon.

"Mungkin sekalian makan sebelum berkeliling lagi," gumam Gakushuu sementara Yuuma duduk di atas konter sambil meminum susu melonnya. Ia dengan penasaran memandangi akuarium di tengah konter yang berisi ikan mas, sementara Gakushuu mencari-cari bahan roti isi.

"Shuu-chan, jadi ke mana semuanya pergi?"

Gakushuu memotong keju, tanpa mengalihkan pandangan dari pekerjaan, menjawab pertanyaan Yuuma.

"Mereka tidak ke mana-mana, tapi kita yang pergi ke dunia lain,"

"Dunia lain?"

"Mungkin agak susah dimengerti...Apa kau tahu Petualangan Alice di Negeri Ajaib? Saat ini kita seperti Alice yang terjatuh ke lubang kelinci dan berada di Negeri Ajaib."

"Ooh! Berarti ada Kucing Cheshire, Burung Dodo, dan Kelinci Putih?"

"Tidak juga," Gakushuu teringat Hiromi, dan merasa akan menjadi ide bagus jika Yuuma bisa sedikit waspada; anak itu terlalu polos. "Tapi ada Ratu Hati yang sangat marah. Kau harus hati-hati, ia akan mencoba memenggalmu jika melihatmu. Kau harus lari dan bersembunyi darinya, mengerti—apa yang kau lakukan?"

Gakushuu baru saja akan menghidangkan roti isi buatannya, dan saat melihat ke belakang, ternyata Yuuma baru saja memotong kepala salah satu ikan mas koki dari dalam akuarium. Anak laki-laki itu memegangi pisau yang matanya besar sekali, namun tersenyum heran pada Gakushuu.

"Aku mau roti isi ikan mas!"

"Mereka ikan hias, bukan untuk dimakan..."

"Memangnya ikan hias rasanya tidak enak?"

Remaja berambut aprikot itu terdiam sejenak, mempertimbangkan; ia tidak pernah berpikir untuk mencoba memakan apapun yang dalam kategori 'ikan hias' atau 'hewan peliharaan', apakah sedikit kebohongan akan berakibat fatal untuk anak ini?

"Tidak enak," dusta Gakushuu, mengernyit dan menyambar pisau daging dari tangan Yuuma, menggantungnya kembali di atas konter. "Nah, setelah kita makan dan minum, kita akan mencari jalan keluar dari sini."

"Oh, bisa kita cari ayah juga?"

"Mungkin, tapi aku yakin ayahmu berada di dunia yang sebenarnya,"

"Hmm...Jadi aku jatuh dari tangga dan masuk ke dunia ini...Shuu-chan juga jatuh seperti Alice dan aku?"

"Tidak..." Gakushuu menggeleng, dan menyuruh Yuuma berhenti berceloteh agar mereka cepat selesai makan.

Ia masih harus mencari Nagisa Shiota dan menanyakan caranya meninggalkan dunia ini, lalu menghindari Hiromi Shiota. Entah mengapa ia memiliki firasat bahwa semuanya berkaitan dengan artikel mengenai seorang maestro dari lima puluh tahun lalu, Maestro bernama Kouichirou. Ia baru bisa mengaitkan beberapa benang setelah berjalan sendirian agak lama.

Komposer Iblis yang melenyapkan tujuh orang personel opera. Tujuh orang itu bukan orang biasa, yang mana membuat berita itu menjadi menggemparkan, karena tujuh orang tersebut adalah bintang rumah opera ini pada lima puluh tahun lalu.

Namun ia masih tidak mengerti kenapa dan bagaimana. Yang ia mengerti, tujuh orang itu, pada lima puluh tahun lalu, pasti juga terjebak di dunia lain, seperti Gakushuu, Nagisa, Hiromi, dan Yuuma saat ini.

Banyak yang masih ia tidak mengerti. Bagaimana caranya keluar dari sini. Kenapa Hiromi Shiota berusaha membunuh tujuh puluh orang, sementara itu artinya juga membunuh dirinya sendiri. Kenapa Nagisa Shiota membuat mereka semua terjebak di sini.

"Shuu-chan...itu..." suara Yuuma membangunkannya dari pikiran. Anak itu tampaknya agak ragu, namun memberanikan diri berkata: "Bisa kita ke lantai empat dulu? Aku menjatuhkan kunci kamar ayah saat terjatuh..."

Gakushuu sudah berpikir bahwa ia tidak bisa terus menerus menghindari lantai atas, meskipun ia tidak ingin memikirkan betapa horornya dikejar oleh Hiromi, tapi ia punya firasat ia tidak akan bisa keluar jika tidak menjelajah.

Paling tidak, ia sudah bisa menentukan akan mulai dari mana. Dan paling tidak, saat ini ia tidak sendirian.

~.X.~

Langit-langit krem dengan bordiran malaikat, berbentuk kubah. Karma mengerjap lemah, masih ingat jelas ia berada di dalam ruang latihan paduan suara, tidak jauh dari area gedung selatan. Entah bagaimana Nagisa melakukan itu padanya; membuatnya lumpuh dengan sedikit sentuhan.

Sedikit menggeram, mulai merasakan kakinya, Karma bangkit untuk duduk, bersandar dinding tepat di sebelah pintu yang dikunci Nagisa dari luar. Ia agak lama memandang pegangan pintu itu dengan tatapan kosong, lalu terbesit sebuah ide.

Dirogohnya tas gitarnya. Matanya terbeliak, dan ia harus mengeluarkan isinya, menjungkir tas itu, namun ia tidak menemukan pistol yang ia simpan.

"Nagisa...sialan..." geramnya lagi, mendecakkan lidah, dan dengan kesal melempar tas gitarnya. Biola-nya terkapar di sisinya, seakan mengejeknya.

Sudah berapa lama ia tak sadar, atau berapa lama ia ada di dunia itu, Karma tidak tahu, karena dari jendela, langit tetap menunjukkan malam. Ia tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan Nagisa. Bagaimana jika Hiromi membunuh Nagisa, dan Karma tidak akan pernah tahu jika ia terjebak di dalam kamar ini?

Ia memaksakan tubuhnya yang terasa berat untuk bangkit, dan mendekati jendela. Terkunci, tidak mengejutkan. Jendela itu berkaca stainless steel tebal karena ruangan itu adalah ruang kedap-suara. Bahkan jika ia melemparkan kursi pada jendela itu, tidak akan retak, mungkin sedikit tergores. Karma harus memutar otak.

Di dalam ruang latihan itu masih ada beberapa pintu lain, terhubung ke ruang lain; mungkin ia bisa keluar jika melewati ruang lain? Di sisi kiri dan kanan masing-masing ada satu pintu. Pintu di sisi kanan terkunci.

Tik-tok...tik-tok...

Tiba-tiba metronome di belakang piano latihan bergerak ke kiri dan kanan. Karma menautkan alis, lalu menghampiri pintu di sisi kiri ruangan.

Pintu di sisi kiri juga tidak bisa dibuka...

Pegangannya tersangkut. Tapi Karma bisa membukanya kalau ia bisa menemukan obeng...Malah, jika ia bisa menemukan obeng, ia bisa membuka semua pintu yang terkunci.

Dan alangkah kebetulannya! Di bawah rak metronome terdapat kotak besar peralatan pertukangan. Namun Karma tidak bisa membuka kotak itu.

"TA-DA!"

Karma terlonjak mundur, melihat sekeliling dengan was-was. Seorang pria berambut hitam dengan jas resmi duduk di depan piano berkursi putar, bersorak dengan tangan melambai ke udara, tangan kirinya memegangi pena bulu.

"Kau menyelesaikan komposisi baru, Kou-sensei?" Karma mengerjap dan berjalan mundur, seorang gadis berambut hijau mendekati piano dan sedikit membungkuk di dekat pria itu.

Remaja berambut merah itu seketika paham ia sedang menyaksikan memori lagi; ia hanya tidak paham kenapa ia terus-menerus melihat semua ini.

"Ini hanyalah bagian pertama dari aransemen terbaruku, Akari-chan," pria itu, Kou-sensei, melayangkan senyum riang pada si gadis.

"Ada berapa bagian?"

"Tiga, seperti Pathétique, bukan? Ini baru bagian pertama,"

"Apa judulnya?"

"Deathwish," mata pria itu berkilat, dan si gadis itu tampak sedikit terkejut. Kou-sensei tersenyum lembut memandang partitur di hadapannya, dan Karma baru menyadari bagaimana tulisan tangan itu begitu familiar.

"Ini akan menjadi karya-ku yang paling luar biasa, Akari-chan. Karya ini punya nyawa—aku hidup dalam aransemen ini. Seluruh hatiku ada di dalamnya."

Senyum pria itu berubah sendu, dan Akari dengan hati-hati meletakkan tangannya yang lentik di atas bahu pria tersebut, menepuknya pelan.

"Itu...luar biasa, Kou-sensei." Akari berkata, lalu berusaha tersenyum lebih cerah. "Tapi aku menyukai semua aransemen-mu! Bagiku, mereka semua juga hidup, karena semua perasaanmu tercurah di dalamnya,"

Kou-sensei tertawa kecil dan menatap Akari dengan hangat. "Begitu? Apa kau punya aransemen favorit dari karyaku?"

"Hmm, pertanyaan yang sulit! Tapi yang paling menyentuh bagiku adalah Memory dan Last Goodbye..."

Sret...

Kou-sensei menepis tangan Akari dari bahunya dengan pelan, namun cukup tajam untuk mengungkapkan sedikit emosi. Akari mengepalkan tangannya, matanya menatap ke arah lain, senyumnya berubah menjadi tidak nyaman.

Keheningan menyapu ruang latihan paduan suara itu.

"Sebentar lagi..." Akari memecah keheningan tersebut, "...Sebentar lagi kelompok paduan suara akan ke sini untuk latihan."

Kou-sensei tersenyum lagi dan beranjak, menutup buku aransemennya, menyambar benda itu dan berjalan menjauhi piano, menghentikan pergerakan metronome di atas rak. Pria itu tak sengaja menendang kotak peralatan mekanik.

"Apa ini?"

"Ah, pintu ke ruang rekaman agak rusak. Seharusnya tukang reparasi akan datang hari ini, jadi aku meletakkan kotak itu di sini untuknya nanti."

"Hmm, beritahu aku jika tukang reparasi itu sudah datang—aku butuh bantuannya juga," pria itu mengangguk pada Akari yang mengikutinya di belakang. Mereka bersikap biasa lagi, Akari menanyakan ada perlu apa, dan Kou-sensei menjawab bahwa jendelanya tersangkut. Keduanya meninggalkan ruangan itu seakan pintu tidak pernah terkunci, dan Karma buru-buru mengejar mereka.

BRAK!

Namun ia malah menabrak pintu yang dengan cepat ditutup, seakan memang dengan sengaja memerangkapnya di situ.

Karma mendecakkan lidah, mengusap dahinya yang nyeri, lalu kembali ke rak di bawah metronome.

Kotak alat mekanik itu terbuka. Ada lima obeng dengan ukuran berbeda, sebuah tang, gunting besar, dan palu berkarat. Karma mengutip tas gitarnya lagi, memasukkan biolanya, dan hati-hati memasukkan semua alat-alat itu ke kantong depan tas gitarnya, kecuali untuk satu obeng berukuran sedang yang pas untuk pintu di kiri ruangan.

Ia memutar sekrup pengunci di pegangan pintu; butuh dua menit baginya hingga ia bisa melepas pegangan pintu tersebut. Ternyata ada sesuatu yang menahan perputaran pegangan pintu di dalam benda itu; segumpal kertas. Karena celahnya begitu sempit, Karma menggunakan obeng itu untuk mengait dan menarik benda tersebut keluar.

Krak!

Saat gumpalan kertas itu jatuh ke lantai, obeng yang digunakan Karma patah. Remaja berambut merah itu mendecakkan lidah, namun ia berdiri, mengutip kertas tersebut, dan berhasil membuka pintu menggunakan apa yang tersisa dari pegangan obeng.

Sebelum itu, ia mengambil tas gitarnya dan membuka gumpalan kertas tersebut.

Ada sebuah potongan not balok—tentu saja, partitur itu sepertinya tidak lengkap. Karma mengantongi kertas tersebut.

Ia memasuki kamar yang baru terbuka, dan langsung disambut oleh sebuah gramofon antik dan dinding yang dipenuhi piringan rekaman, mulai dari yang hitam klasik hingga piringan emas. Selain untuk gramofon itu, ada sebuah ruang kecil berlapis kaca, jelas ruang rekaman, melihat mikrofon-mikrofon dan beberapa instrumen di dalamnya.

Jelas tidak ada jalan keluar dari ruang itu. Namun tidak ada salahnya ia melihat-lihat sebentar. Karma memandangi lagi sobekan not balok yang ia temukan tadi, dan memasuki ruang rekaman. Ada sebuah piano elektrik di situ. Mengingat seluruh gedung menyala, ia yakin ia bisa menyalakan instrumen tersebut.

Benar saja, setelah memastikan steker terpasang, menekan tombol adaptor, lampu tanda benda itu menyala. Karma mencoba menekan satu tangga nada, yaitu nada dasar.

BLAM

Pintu tertutup seketika. Karma terbeliak tidak percaya, dan kembali menekan nada dasar. Namun pintu tidak terbuka. Ia pun dengan gigi bergemeretak berjalan menyeberangi ruangan untuk membuka pintu, namun percuma—pegangan pintu itu rusak, tidak ada gunanya menarik-narik benda tersebut.

"Sial..." geramnya, lalu mengusap kepala merahnya.

Saat ia berbalik, seseorang sudah berdiri di sebelah gramofon.

Si gadis berambut hijau; Akari.

"Tentu saja kau tidak boleh ke mana-mana, Michel," kata gadis itu, tampak sedikit galak meski wajahnya lucu.

"Kembali ke dalam, dan kalau kau memainkan lagu favoritku, akan kubiarkan kau bermain dengan Pierre."

Karma menoleh ke kanan dan ke kiri dengan bingung.

Akari menatapnya galak.

"Jangan bercanda tidak sopan seperti itu, tentu saja aku bicara padamu, anak muda!"

Dengan makin bingung, Karma memandangi Akari, yang balas membelalak padanya seakan menantangnya untuk membantah. Sepertinya Akari menganggapnya orang lain. Namun ia memiliki firasat ia harus mengikuti apa yang sedang terjadi, dan kembali memasuki ruang rekaman.

Karma memandangi piano elektrik itu dengan diam, lalu memandang Akari di luar ruang rekaman.

"Jangan bilang kau lupa. Kau akan terus di situ sampai ingat."

Yakin gadis itu akan mengurungnya di ruangan ini sampai ia bisa mengingat apa yang bahkan ia tidak tahu, Karma berusaha memutar otak. Lagu favorit Akari, baru saja gadis itu menyebutkannya pada Kou-sensei. Last Goodbye dan Memory. Tapi ia bahkan tidak pernah mendengar kedua lagu tersebut...

Kecuali...

Karma terdiam, mengingat sesuatu yang lain. Buku aransemen yang tadi ia lihat di piano, adalah milik Kou-sensei. Buku itu adalah buku yang sama dengan yang ia temukan di kamar Nagisa, sebelum ia dikejar oleh Nagisa palsu dan dijebak oleh Nagisa yang asli. Ia meletakkan tas gitarnya dan mencari-cari di kantong depan.

Buku aransemen berdarah itu masih ada. Karma mencocokkan tulisan tangan di potongan kertas yang baru ia temukan dengan partitur-partitur di dalam. Ia cukup yakin lagu yang diminta oleh Akari bukanlah ASRIEL, dan segera ke halaman yang sebelumnya ditulis dengan tinta transparan.

Karma hanya baru-baru ini bermain instrumen; itu semua karena ia berteman dengan Nagisa. Bahkan biola yang ia bawa saat ini, benda itu pemberian Nagisa untuk ulang tahunnya. Ia sudah cukup lihai membaca not balok, namun ia masih belum ahli dalam bermain.

Potongan lagu yang ia temukan cocok dengan lagu berjudul Memory.

Karma pun meletakkan buku aransemen itu di atas penampa partitur piano elektrik dan dengan pelan-pelan memainkan melodi sederhana tersebut. Musik itu begitu singkat dan melodinya berulang-ulang, namun ada suatu perasaan nostalgik yang dipancarkan olehnya.

Suatu perasaan nostalgik, seperti anak-anak, tanpa dosa.

Karma melirik Akari sejenak, dan gadis itu tersenyum, memejamkan mata, tidak menyuruhnya berhenti bermain. Merasakan perasaan nyaman memainkan lagu itu, Karma sendiri, yang jari-jarinya mulai hapal dengan melodi itu, memejamkan mata. Terseret dalam kenangan yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari masa kini.


"Aku selalu bosan jika ayah dan ibu mengajakku kemari."

"Kenapa?"

"Mereka selalu memaksaku diam dan menonton opera-opera atau orkestra membosankan."

"Oh...Karma-kun bosan juga jika aku bermain?"

"Tidak, kalau kau bermain sendirian. Kalau kau bermain dengan orkestra, kau sama seperti semua pianis. Kalau kau bermain sendirian, musik yang kau mainkan lucu dan menyenangkan."

"Hehe...Jangan beritahu ibuku atau Karasuma-sensei, ya? Mereka pasti marah jika mendengar permainanku yang seperti ini..."

"Berarti mereka membosankan juga kalau melarangmu bermain seperti yang kau sukai."

"Eh...?"

"Kenapa? Aku benar, kan? Nagisa-kun, kau lebih suka bermain seperti ini, kan? Kau selalu tersenyum saat bermain dengan bebas."

"B-Benar begitu...? Aku tidak tahu...Aku kan, tidak main piano sambil bercermin."

"Haha! Aku juga lebih suka kalau kau bermain dengan bebas."

"..."

"Ada apa? Tiba-tiba diam."

"Mm...Hanya saja, Karma-kun orang pertama yang berkata begitu. Jadi aku merasa, kalau aku menjadi diri sendiri, Karma-kun tidak akan membenciku. Aku kan jadi senang..."

"Heh...tentu saja. Nagisa-kun temanku. Aku akan jujur, tapi kau temanku yang pertama."


Saat Karma dengan perlahan ditarik keluar dari memori itu, ia menyadari bahwa sekelilingnya gelap, dan piano elektriknya mati. Tidak ada melodi yang keluar dari benda itu, dan pintu ruang rekaman terbuka. Akari tidak ada di ruangan.

Mendadak ia merasakan sesuatu yang mencekam. Karma menenangkan diri, memasukkan buku aransemen ke tas gitar dan menyisingkannya ke bahu. Kali ini ia berjalan ke arah pintu tanpa suara.

Sebuah sosok melintas di ruang latihan paduan suara, dan Karma segera menempel ke dinding, bersembunyi.

Semuanya gelap, ia tidak bisa terlalu melihat sosok itu, dan Karma yakin sosok itu tidak bisa melihatnya. Ia berusaha menahan napas, namun jantungnya seakan bertalu di telinga—rasanya pergerakan sekecil apapun akan mengungkap keberadaannya. Dan itu adalah hal terakhir yang Karma inginkan.

Karena Karma tahu, dari benda yang berkilat mengerikan yang dibawa oleh sosok itu—pisau yang sepertinya baru beberapa menit lalu mengejarnya dan Nagisa.

Jantungnya berdegup begitu kencang seakan mau melompat. Kepalanya panas.

Hiromi.

Wanita itu berhasil memasuki ruangan—apa itu artinya ia memiliki kunci...?

Jangan...jangan bilang kalau ia sudah menghabisi Nagisa...

Wanita itu tampak berhenti di belakang piano, memandangi jendela. Karma tidak sebegitu bodohnya untuk tidak mengerti trik ini; Hiromi sedang mengamati pantulan yang dihasilkan oleh jendela tersebut. Remaja berambut merah itu sangat yakin, jika ia bergerak sedikit saja, Hiromi bisa melihat pergerakannya dari pantulan kaca jendela.

Hiromi mendecakkan lidah. Ia berbalik ke arah ruang rekaman. Karma segera dengan hati-hati dan tanpa suara bergeser menjauh dari pintu.

Ia menahan napas ketika Hiromi melangkah memasuki ruang rekaman, berhenti tepat di sebelah gramofon, memandang tajam ke sekitarnya, menyapu ruangan.

Tiba-tiba pisaunya terangkat, dan wanita itu menoleh pada Karma dengan senyum lebar.

"Enam puluh delapan."

Karma menggigit lidahnya sendiri untuk menghindari beku oleh syok, sehingga ia bisa melesat keluar dari ruang rekaman dengan tiga langkah panjang. Hiromi tertawa melengking, dingin, dan jahat. Karma menggeretakkan gigi merasakan kibasan pisau dan bunyinya yang berdenging membunuh.

"Oh buatlah semua ini jadi lebih mudah," ujar wanita itu dingin, sedikit terengah mengejar Karma.

Karma segera keluar dari ruang paduan suara ke koridor.

"Yang mati seharusnya tetap mati!"

Karma terbeliak, dan sekali itu dia berbuat begitu bodoh, berhenti berlari, dan melihat ke belakang. Hiromi tersenyum lebar mengerikan padanya, berlari cepat, siap menikamnya. Dan dalam sepersekian detik itu, Karma berhasil berhenti berpikir dan kembali berlari.

Ia berada di lantai dua, dan ia melintasi koridor terbuka yang menampakkan lantai satu dan chandelier di koridor utama. Rasanya ia bisa melompat dari situ ke lantai satu.

Dipercepat langkahnya, dijatuhkannya vas-vas hias yang ia temui untuk memperlambat Hiromi.

Dan Karma melompat. Ia berhasil mendarat dengan lutut bertekuk, namun ia bersumpah pergelangan kakinya terkilir dengan bunyi 'krek' yang mengerikan.

Mendadak lampu chandelier menyala, meneranginya seorang diri.

Hiromi tertawa dari balkon atas, melambaikan pisaunya.

Dan Radetzky March pun bermain, seakan membuka suatu pentas seni dengan spektakuler.

"Dan lihatlah, mahakarya Nagisa Shiota!" seru wanita itu, merentangkan tangannya ke arah Karma, seakan mempersembahkan kepada para penonton tak kasat mata, suatu makhluk aneh.

"Lihatlah! Lihatlah!"

"Kau gila!" teriak Karma putus asa.

"Anak dan ibu sama saja!" jerit Hiromi histeris, menghujamkan pisaunya ke pagar balkon atas yang terbuat dari kayu.

"Kami berdua gila!"

"Nagisa bukan orang gila kendali sepertimu!"

Hiromi tertawa dengan suara yang membahana.

"Anakku yang tidak berguna menukarkan nyawanya untuk hal tidak berguna!" jerit wanita itu, mencabut pisaunya dari pagar balkon, menggunakannya untuk menuding Karma.

Rasanya sangat lambat ketika wanita itu membeliak mengerikan padanya dan berteriak;

"Untuk menghidupkan bocah tak signifikan sepertimu!"

Wanita itu membanting pisaunya ke lantai satu dan menjerit marah, sebelum menghentak pergi ke koridor lain di lantai dua. Hiromi dalam keadaan mental labil oleh syok dan frustrasi, namun yang dirasakan Karma bagai tertampar oleh ombak raksasa.

Perkataan Hiromi menjawab semua ketakutan Karma.

Semua ketakutan dan keresahan yang ia rasakan semenjak ia terbangun di rumah sakit tepat saat ia mendengar kabar bahwa Nagisa Shiota dan enam puluh sembilan orang lenyap dalam Quertus Opera.

Kenyataan mengerikan; bahwa ia sudah mati.

Dan kenyataan yang lebih mengerikan...

Bahwa Nagisa telah melakukan sesuatu untuk menghidupkannya kembali.