LAST CHAPTER
Disclaimer: Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi
"Ah, Momocchi! Di sini!" suara Kise terdengar nyaring di depan pemakaman yang sepi tersebut.
"Maaf, maaf, aku terlambat!" Momoi terlihat berlari-lari kecil menghampiri teman-teman semasa SMPnya dulu.
"Kise, kita berada di pemakaman. Diam -nanodayo." Midorima berkata sambil menaikkan kacamatanya, tak lupa lucky itemnya yang berupa papan Ouija(?) menempel dengan setia di tangannya.
"Semuanya sudah berkumpul kan? Ayo, kita jalan." Akashi berjalan paling depan diikuti yang lain.
"Ehhh….Kuro-chin mana?" terdengar Murasakibara bertanya dengan malas.
"Aku di sini, Murasakibara-kun." Kuroko muncul di samping Akashi.
"Tetsu –kunnnnnnnn!" Momoi langsung memeluk Kuroko seperti biasanya.
"Lama tak berjumpa, Momoi-san." Kuroko menjawab dengan sopan.
Mereka tampak berbincang seperti mereka tak pernah pisah sekolah. Berbincang mengenai kabar mereka masing-masing, sedikit menyinggung masa-masa Teiko yang tentu saja menyangkut 1 orang yang mereka kunjungi ini.
"Ah, kita sudah sampai. Doumo, Aomine-kun. Kuharap engkau sedang tidak menggoda wanita di atas sana(?)"ujar Kuroko, tampak membungkuk sedikit.
"Aominecchi! Kamu pasti rindu padaku kan?" seperti biasa, Kise, satu-satunya manusia narsis di antara mereka menunjukan dia sangat percaya diri.
"Lucky item untuk Virgo hari ini adalah bola basket. I-ini kebetulan saja ada di rumah! B-bukannya aku peduli padamu-nanodayo." Midorima tampak menoleh sedikit sambil menaikkan kacamatanya yang tidak turun, khas sekali untuk orang tsun.
"Mine-chin, aku membawakanmu Maiubo. Tapi, aku lapar jadi kumakan, jadi lain kali ya." sapa seorang Murasakibara, yang bahkan pada saat ini masih memakan Maiubonya.
"Aomine, lama tak berjumpa." Akashi menyapa dengan sopan.
Momoi berjongkok kemudian membersihkan sedikit debu yang menempel pada batu nisan tersebut. "Dai-chan, kami semua baik-baik saja. Aku…juga baik-baik saja. Jadi, Dai-chan juga harus baik-baik ya di sana!", semua anggota Generation of Miracles tersenyum mendengarnya. Iya, tentu saja Midorima tersenyum juga.
"Momocchi, yakin tidak ikut dengan kami?" Kise bertanya dengan muka memelas.
"Aku ada urusan sebentar. Nanti aku menyusul saja!"
Momoi memejamkan mata, merasakan hembusan angin yang menerpa rambutnya, sensasi yang sama dengan yang ia rasakan saat terakhir ia di tempat itu.
Ia masih dapat mengingat rasanya saat Aomine mendekapnya, memukul kepalanya, mengelus kepalanya.. dan senyumannya yang terakhir.
Momoi membuka mata, mendongakan kepala menatap langit
"Hari yang cerah, ya, Dai-chan?" sapa Momoi, "Semua berjalan baik-baik saja di sini, kau tidak perlu khawatir di sana. Kau tahu? Aku berhasil diterima universitas di Kyoto! Aku semakin mendekati cita-citaku! Meski itu berarti aku harus pergi dari Tokyo.."
Momoi terdiam sejenak, diserbu kenangan-kenangannya bersama Aomine untuk sesaat. Ia kemudian mengeluarkan handphonenya, membuka kembali pesan terakhir dari sahabat masa kecilnya. Sebuah senyuman terukir pada bibir Momoi.
Angin berhembus semakin kencang. Momoi memandang bunga Ambrosia* di genggamannya. Satu persatu kelopaknya terlepas tertiup angin.
Momoi lalu mengangkatnya, dan perlahan melepaskan genggamannya pada bunga itu. Ia kemudian membalikan badannya, memandang tempat itu untuk terakhir kali sebelum ia pergi, melihat angin membawa bunga itu terbang semakin tinggi, menyampaikan pesannya kepada orang yang dicintainya.
"Selamat tinggal, Dai-chan.."
To : Momoi Satsuki
From : Aomine Daiki
Sub : -
"Aishiteru"
End
*Ambrosia = reciprocated love
Author's note
Teman Ginpachi-sensei disini~ hijacking the account for the last chapter
Sebut saja saya... Author #2, seorang yang digeret Ginpachi-sensei buat collab fanfic dan akhirnya nulis fanfic untuk pertama kalinya, mengenai OTP author #2, dan genrenya angst pula(?)
Untuk chapter 3 + ending ff ini author #2 tulis sambil dengerin Kimi no Shiranai Monogatari (atmosfirnya pas banget menurut author #2) *penting
Mewakili author Ginpachi-sensei yang entah sedang apa sekarang, terima kasih bagi para readers yang menyempatkan diri membaca fanfic ini, baik silent readers, yang review, maupun yang mengfollow (author sungguh terharu), mungkin banyak kesalahan-kesalahan dalam EYD, banyak editan-editan meski ini fic udah dipublish, mohon bimbingannya dalam penulisan fanfic2 selanjutnya.
