PRISON
DISCLAMER : MASASHI KISHIMOTO
STORY BY AZALEA RYUZAKI
PAIR: SASUHINA
RATED : M
WARNING: AU, OOC, BANYAK TYPO, BAHASA ANCUR, PLOT BERANTAKAN, ALUR CEPAT, IDE PASARAN, DLL
DON'T LIKE DON'T READ
.
.
.
Saat ini hari masih gelap, mentari bahkan belum muncul di ufuk timur dan taksi yang ku tumpangi masih melaju dijalanan yang sepi. Tapi aku sama sekali tidak bisa menghentikan diriku sendiri untuk menikmati rasa puas yang membanjiri seluruh sel dalam darahku.
Aku berhasil lepas dari Sasuke dan masih bertahan selama 2 jam dengan selamat setelah perpisahan itu.
Aku bebas!
Dan sekarang, di hari pertama kebebasanku, tempat tinggal bukan sesuatu yang buruk untuk dipikirkan. Kiba mungkin bisa merekomendasikan tempat tinggal kecil, nyaman dan murah padaku. Atau mungkin kami bisa berjalan-jalan mengelilingi Suna, berkunjung ke tempat-tempat wisata dan menyantap makanan khasnya. Mungkin juga Shino mau bergabung dengan kami untuk merayakan kebebasanku. Tapi setelah dipikir-pikir, Shino bukan tipe laki-laki yang suka menghabiskan waktunya untuk piknik. Jadi tentu saja, aku harus menghapus kemungkinan tersebut.
Memikirkan hal itu ternyata bisa mengalihkan perhatianku dari kesedihan karena harus meninggalkan nenek Chiyo untuk sesaat.
Wanita tua baik hati yang telah merawatku itu, entah mengapa memilih menolak ajakanku untuk pergi. Mungkin karena rasa pengabdiannya yang terlalu tinggi pada keluarga Uchiha yang membuatnya enggan untuk meninggalkan tempat itu, atau mungkin karena ia terlalu takut untuk pergi. Aku tidak tahu. Tapi yang pasti, mulai saat ini aku sendiri.
Dan hal itu sedikit membuatku takut.
Selama ini, aku hanya berharap bisa keluar dari rumah besar tempatku di besarkan dan menjalani kehidupan normal seperti orang-orang diluar sana. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya tentang apa dan bagaimana aku melakukannya? Dan apa yang akan terjadi setelah itu?
Bahkan kehilangan ini tidak pernah terlintas dalam pikiranku. membuatku ragu, apakah semua ini sepadan?
Aku bebas, tapi disaat bersamaan aku kehilangan sosok terpenting dalam hidupku.
.
.
.
Tepat pukul 8 pagi, aku sampai bandara Konoha. Disini suasananya lebih
ramai dan lebih bising dari yang kuperkirakan. Dengan sedikit canggung karena baru pertama kali menginjak bandara dan belum terbiasa dengan hiruk-pikuk orang-orang yang berlalu-lalang disana, akhirnya aku bisa ke counter check-in dan berdiri dalam antrian yang penuh sesak.
"Tolong tiketnya?" Pinta pemuda dengan tampang bosan yang duduk dibelakang meja sembari mengulurkan tangannya tanpa melihatku.
Meniru sikap bosannya, aku segera menyerahkan tiket dan kartu identitasku. Dalam waktu tak kurang dari 10 menit
ia memberikan boarding pass, masih dengan sikap menyebalkan yang sama.
Tanpa ambil pusing, aku berjalan menuju ruang tunggu sambil terus memikirkan rencanaku setelah tiba di Suna.
Anehnya, Kiba tidak membalas saat aku mengirimkan pesan singkat yang mengatakan bahwa aku sudah sampai di bandara dan akan segera berangkat. Ia juga tidak mengangkat ponselnya ketika ku hubungi sesaat sebelum pesawat yang kutumpangi lepas landas.
Apakah ia kembali tidur?
Ya, mungkin begitu. Karena setahuku, Kiba bukan orang yang akan mengacuhkan panggilan di ponselnya atau mengabaikan pesan yang masuk tanpa alasan. Ia mungkin hanya sedikit kelelahan setelah lembur semalaman sehingga membutuhkan tidur lebih. Lagipula sekarang hari minggu, ia selalu tidur lebih lama di hari ini.
Dengan pemikiran itu, aku mencoba mengistirahatkan mataku dan bertekad akan kembali mencoba menghubunginya setelah pesawat mendarat. Dan sampai saat itu tiba, aku akan menikmati setiap detik perjalanan ini selagi bisa.
.
.
.
Penerbangan pertamaku rasanya terlalu cepat berakhir. Saat aku mulai terbiasa dengan keadaan bangku yang sempit dan sedikit keras serta guncangan-guncangan kecil selama penerbangan, tiba-tiba aku sudah dibangunkan oleh pramugari yang menawariku air jeruk saat kami mulai mendekati Suna.
Aku menghirup jusnya perlahan-lahan, masih sedikit pusing dan luar biasa lelah. Tapi senang. Sayangnya, aku harus menunggu bagasi cukup lama di konveyor. Sebelum akhirnya dapat menikmati keindahan Suna dengan leluasa.
Suna memang indah, kalau saja udaranya tidak sepanas dan sekering ini. Fakta kecil yang selalu kulupakan.
Sambil menenteng sebuah koper kecil, aku menunggu Kiba disekitar terminal kedatangan sebelum akhirnya memutuskan untuk memasuki sebuah café terdekat setelah lelah menunggu hampir 30 menit.
Laki-laki itu tidak mungkin masih tidur. Sekarang sudah tengah hari dan dia sudah menelpon pria itu lebih dari 10 kali.
Pasti ada sesuatu yang terjadi. Dan apapun itu, jelas sesuatu yang buruk karena Kiba bukan orang yang bisa lepas dari ponselnya. Karena sepanjang yang kutahu, ponsel merupakan nyawa ketiga Kiba setelah Akamaru, anjing kesayangannya.
Dengan sedikit putus asa, aku bergegas keluar dari café, melupakan makan siangku untuk mencari taksi menuju kediaman Inuzuka. Berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk menimpa sahabatku itu.
Tapi sebelum hal itu terjadi, aku melihat dia. Pria yang menjadi alasan utamaku kemari ada disini.
Sosoknya yang memakai kemeja putih tampak membaur dengan orang-orang yang masih sibuk berlalu-lalang. Untuk sesaat ia tampak tersembunyi. Bahkan sekilas, sulit membedakannya dengan orang-orang disekitarnya.
Namun tubuhnya yang tinggi tegap, rambutnya yang berantakan dan mata kelamnya yang selalu membuatku ketakutan tidak bisa diabaikan begitu saja.
Ia berjalan kearahku, melewati kerumunan dengan sikap tenang dan tidak menarik perhatian. Jantungku makin berdebar kencang saat jarak kami semakin menipis. Raut wajahnya sulit di tebak. Tanpa ekspresi seperti biasa.
"Hinata." Sapanya dengan keramahan yang mencurigakan. Jemarinya yang terasa besar dan kasar membelai pipiku lembut. Perlakuan lembutnya itu membuatku kembali waspada.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanyaku dengan sikap kaku dan defensif, yang sepertinya tidak mengganggu pria itu sedikitpun.
"Hubungan kita sudah berakhir. Aku tidak punya hutang apapun lagi padamu." Lanjutku lagi sembari mundur selangkah untuk menghindari sentuhannya. Sasuke tampak terdiam sejenak sebelum akhirnya merogoh saku celananya dengan malas.
"Maksudmu ini?" Tanyanya sambil menunjukan selembar cek yang ku tinggalkan di meja kerjanya kemarin malam. Cek yang kudapat dari Karin dengan mengorbankan harga diri yang tersisa. Dan tanpa kuduga, pria itu langsung merobek kertas berharga itu menjadi lembaran-lembaran kecil yang tidak berguna.
Membuatku harus menahan napas sejenak untuk tidak meledak saat itu juga.
"kenapa kau merobek cek itu?" tanyaku gugup, takut pada suasana hati lelaki ini yang sulit di tebak. Dan kembali menjauh dengan sikap waspada saat pria itu melangkah mendekat.
"Aku tidak akan melepasmu semudah itu." Gumam Sasuke dengan tatapan menantang sambil tersenyum sinis padaku. "Begitu juga dengan temanmu."
"Kiba?" Tanyaku sedikit tidak percaya. Rasa takut dan was-was yang menyerangku beberapa saat lalu kembali datang. "Apa yang kau lakukan padanya?"
"Kau tidak ingin tahu." Sahutnya dengan nada kemenangan yang kentara. Jemarinya kembali meraihku, menarik tubuhku yang tanpa perlawanan mendekat padanya.
"Tapi ia akan kubiarkan hidup jika kau menuruti perintahku." Bisiknya di telingaku yang kembali membuat tubuhku gemetar ketakutan. Aku bisa merasakan senyum di bibir pria ini ketika ia mencium sisi kepalaku. Kedua tangannya mendekap tubuhku erat, membuatku sedikit kesulitan manarik napas.
Dengan ragu dan berat hati, aku mengangguk. Sadar sepenuhnya akan konsekuensi dari tindakanku ini tidak akan pernah menyenangkan.
Siapapun, tolong bunuh aku.
.
.
.
a/n: rush. mulai rutin update lagi.
smoga kalian tidak bosan melihatku.
special thanks for:
Moku-Chan, Dewi Natalia, Twins Shinobi, Nivellia Neil, Livylaval, Hirano Lawliet, Megurine Nagareka, Hazena, Guest, Sasuhina lover, Goodnight, Pororo, IndigOnyx, Permanentt, Sasu hina-chan, Hinatauchiha69, , Lacie.
.
