Ajari Aku Matematika!
Rate: T
Bungou Stray Dogs credits to Asagiri sensei.
Author tidak mengambil keuntungan apapun selain mendapat asupan tuk diri sendiri.
Ff ini ditulis untuk ikut meramaikan event #shinsoukokuweek
Day 4: BEAST/(other) AU(Disini aku akan ambil Highschool AU. Dan siapkan mental kalian jika kalian tak suka matematika karena kemungkinan akan ada banyak rumus rumus matematika yang masuk dalam ff ini.)
.
.
.
Detik jam terus berlalu, menghadirkan tetes keringat yang segera disapu oleh lengan gakuran hitam yang dipakai. Semua murid sibuk menulis dan berbisik. Terkadang pula melemparkan kertas kecil berisi jawaban yang dipertanyakan.
Ulangan Akhir Semester. Tentu saja mau tak mau hal itu akan terjadi.
Atsushi mendesah lelah. Ulangan sejarah kali ini cukup mudah. Ia sudah belajar semalaman dan untungnya hal itu cukup ampuh.
Yang menjadi masalah adalah ulangan besok.
Ya, besok. Ulangan matematika.
Niat hati ingin meminta bantuan Dazai-senpai. Tapi sepertinya mumi hidup itu tidak berminat mengajarinya secara sungguh sungguh. Bisa bisa lingkaran merah tergores indah di kertas ulangannya nanti.
Lalu siapa yang bisa dimintai tolong olehnya? Kyouka-chan anak IPS, pastinya dia tidak mempelajari matematika peminatan seperti anak IPA pada umumnya.
Meminta tolong pada Kunikida-sensei atau Ango-sensei pun percuma. Mereka berdua pasti banyak menyindirnya dan memarahinya (walau Ango lebih lembut dari Kunikida.)
KRIIINGGGG!
"Baik, kumpulkan semua lembar jawaban kalian! Jangan ada yang menulis lagi!" Mori-sensei, guru Biologi yang bertugas menjaga kelasnya hari ini mulai mengambil kertas jawaban para murid. Membuat bisik bisik terhenti dan hening mengudara.
Oh tentu saja mereka takut.
Mori-sensei terkenal hangat namun mematikan. Dia bisa saja memberi toleransi diawalnya dan kau dapat menghembus nafas lega. Namun jangan harap nilai mata pelajarannya pada raportmu selamat.
"Kau bisa mengerjakannya tadi, Nakajima Atsushi-kun?" Mori-sensei berbasa basi dengan senyuman hangat, namun tentu saja Atsushi dapat melihat imajiner aura gelap dibaliknya.
"Ah, iya sensei, saya bisa mengerjakannya."
"Bagus." Mori mengambil lembar jawaban Atsushi, menepuk kepalanya dan mulai mengambil lembar jawaban anak lainnya.
"Sst, Nakajima-kun, kau kenal cowok yang bernama Akutagawa-kun?" Naomi, anak perempuan yang duduk di seberang kirinya bertanya tiba tiba. "Tadi pagi, mendadak dia mendatangiku dan memintamu untuk pergi keperpustakaan sepulang sekolah."
"Eh? Akutagawa? Untuk apa dia mencariku?"
Naomi mengangkat bahu, "aku tak tau, bagaimana jika kau pergi saja keperpustakaan sesuai permintaannya?"
Atsushi mengangguk, toh sebentar lagi mereka akan pulang. Selepas ujian semester memang mereka biasanya akan langsung pulang kerumah tanpa ada pelajaran tambahan kecuali ada yang memintanya.
"Baik, kalian dipersilahkan pulang. Selamat siang." suara Mori menariknya dari pertanyaan yang berputar di otak. Dengan cepat Atsushi membereskan alat tulisnya dan memasukkannya kedalam tas.
"Sampai jumpa besok!" Naomi melambaikan tangannya didepan pintu, tunggu, sejak kapan ia ada disana? "semoga beruntung!"
Sebenarnya Atsushi ingin bertanya maksud dari perkataannya jika saja sangat empunya suara sudah keburu menghilang.
"Apa apaan itu..." Atsushi mendesah lelah dan berjalan keluar kelas. Menuju perpustakaan.
.
.
.
"Kau datang juga, Jinko." Akutagawa duduk dengan beberapa buku yang terbuka diatas meja. Sepertinya pemuda itu belajar untuk ulangan besok. "Cepat duduk. Kuajari kau matematika."
Seketika Atsushi melongo.
Darimana Akutagawa tau bahwa ia tak memahami materi matematika untuk ulangan besok?
"Shibusawa-san memberitahuku. Cepat duduk. Mana yang tak kau mengerti?"
Oh, kakaknya. Seharusnya Atsushi dapat menduga. Cepat cepat ditariknya kursi dan duduk disamping Akutagawa, mengambil buku paket milik teman sekaligus tetangganya itu dan menunjuk beberapa bab. "Ini, aku tak mengerti. Bagaimana maksudnya."
Akutagawa melirik, ah, bab trigonometri.
"Ini mudah." diambilnya pensil mekanik dan mulai menggores beberapa angka. "Kau ingat derajat sin cos tangen bukan?"
Atsushi mengangguk, "aku ingat beberapa."
Lagi lagi Akutagawa menghembuskan nafas lelah. "Kau harus hafal. Aku akan mulai dari yang paling mudah. Berapa sin 90?"
"Errr... Satu?"
"Hm. Kau dan aku itu ibarat sin 90. Dan cintaku ke kamu itu bisa diibaratkan tangen 90 yang jika dihitung dengan apapun pasti hasilnya tak terhingga."
Tunggu. Ini Akutagawa niat mengajarinya atau menggombalinya?
"Trigonometri 1 itu masih mudah. Rumusnya hanya itu itu saja. Kau belum masuk ke trigonometri 2 yang rumusnya lebih perlu ketelitian."
Atsushi menepis pikirannya tadi. 'Mungkin Akutagawa hanya ingin memecah ketegangan agar otaknya tak stress.'
"Oh begitu, berarti hanya perlu memasukkan derajat yang sudah diketahui kedalam rumus bukan?"
"Tepat sekali." Akutagawa kembali menulis beberapa rumus persamaan, "kau hanya perlu mencari himpunan. Aku punya cara mudahnya. Kau hanya perlu menambahkan derajat perkaliannya. Seperti ini."
"Ah! Jadi misalkan jika persamaan ini dibagi dengan 4, berarti akan ada 6 sampai 7 himpunan?"
"Hm. Tergantung jika itu sin cos atau tangen."
"Aaah! Berarti sama saja dong harus ngehafal rumusnya? Trus nanti jika aku salah rumus gimana? Rumusnya juga mirip mirip." Atsushi menggaruk kepalanya. Matematika memang membutuhkan ketelitian. Dan ia benci itu.
"Iya. Tapi sesusah susahnya, sebingung bingungnya rumus matematika, aku lebih bingung. Kok bisa sih kamu merebut hatiku?" Akutagawa berujar dengan wajah datarnya yang biasa, namun tidak dengan jantung Atsushi yang nyaris copot disebelahnya.
Blussshhhh!
"A-apa sih Akutagawa!" Atsushi memerah sepenuhnya disana. Yaampun, belajar darimana sih Akutagawa ini?
"Hmph, kau blushing hanya karena itu? Matematika itu sederhana, Jinko. Kau tidak sadar bahwa matematika itu sangat sederhana? Hidup lebih rumit dari matematika jika kau ingin tau."
"Y-ya aku tau itu! Su-sudah ayo kembali belajar!"
"Bagian mana lagi yang kau tidak mengerti?"
"Eehhh... Kenapa cos a tambah b dikurangi cos a kurang b bisa jadi minus dua sin a sin b??" Atsushi menunjuk pada rumus tetap di buku paketnya. Bagaimana bisa hasilnya minus sedangkan yang lainnya positif?
"Ini ada penjelasannya, sebenarnya rumus ini bisa dijabarkan seperti rumus awalnya..." Akutagawa melingkari rumus ketetapan sebelumnya dan menambahkannya kedalam rumus kedua.
"Semua kembali ke rumus awal?"
"Iya. Seperti aku yang selalu kembali kepadamu."
"Ap—jangan gombal, Akutagawa! Lagi pula, sejak kapan sih kau suka matematika?"
"Dulu. Sekarang sudah nggak. Kan sekarang aku sukanya sama kamu."
Aduh, Atsushi makin nggak konsen kan kalau begini.
"Kita lanjut lagi. Kau tau rumus yang paling sulit?" Akutagawa berhenti menulis rumus dan menatap langsung mata Atsushi, "rumus yang paling sulit adalah rumus menaklukkan hatimu."
Blusssshhh!
"Coba deh, kamu tulis 'i lebih kecil dari 3u' pake aturan matematika." Akutagawa seenak jidat menyuruh, kini dengan senyum kecil yang terbentuk. Membuat jantung Atsushi makin dag-dig-dug.
Mengambil pensil yang dipegang Akutagawa, Atsushi mulai menggoreskan tulisan yang diminta Akutagawa. Hasilnya membuatnya makin memerah hingga langsung menutup wajah dengan tangan.
"Bagaimana? Mau jadi pacarku?"
'BAGAIMANA BISA DIA BERTANYA HAL ITU DENGAN WAJAH TENANG SEPERTI ITU?!' batin Atsushi meratap malu. Namun pelan pelan ia mengangguk,
"Gradien 3 ditambah 0 koma 0." cicitnya pelan.
"Artinya 'Me too.' akhirnya kau mengerti caranya bukan?" tersenyum puas, Akutagawa mengusap usap kepala Atsushi yang tertunduk malu.
Rupanya cara yang Dazai ajarkan dulu padanya cukup berguna. Akutagawa membatin.
.
.
.
End.CIE YANG BAPER WKWKWKWKWK.
UPDATENYA MEPET TENGAH MALEM DONGG, AJARANNYA SIAPA INI XD
Ekhem.
Aku minta maaf atas keterlambatan updatenya, aku juga minta maaf belum dapat membalas review kalian satu persatu. Tapi aku baca semuanya kok! Terimakasih sudah membaca dan mereview! Aku sayang kalian!
.
.
.
Dazai berjalan dengan Chuuya yang mengumpat umpat disampingnya.
Pemuda cebol itu baru saja mendapat teguran dari Ango-sensei mengenai tugasnya yang belum dikumpul.
"Sialan. Masih ulangan juga! Kenapa sih harus dikumpul besok?!"
"Mau aku bantu?" Dazai menawarkan dengan baik hatinya. Hitung hitung pedekate.
"Gak sudi!" Chuuya membuang muka, membuat Dazai mau tak mau mendengus lelah.
"Dasar, kamu itu kayak antrian tiket. Kalau nggak sabar ya nggak bisa dapetinnya."
