Naruto © Masashi Kishimoto

Fanfic by JustDandelion

.

.

.

H. Sakura, U. Sasuke, U. Naruto

Dia

Drama, Romance

Rated T

.

.

.

Warning! OOC, typo bertebaran, don't like don't read.

Enjoy!

.

.

.

Keadaan ruang makan itu terasa hening. Dentingan sendok terdengar jelas ditelinga. Disaat Sakura sudah siap untuk melupakan segalanya, mengapa mereka datang kembali kedalam hidupnya. Membuat lubang harapan yang sudah tertutup kembali terbuka lebar. Ia tidak tau harus bersikap seperti apa. Berada ditengah-tengah keluarga Sasuke adalah impiannya sedari dulu. Namun semua sudah terlambat untuk saat ini. Harapan itu sudah sirna semenjak Sarada lahir. Setelah pertemuan tidak disangka kemarin, ibu Sasuke mengundangnya makan malam beberapa hari kemudian. Sakura merasa senang, karena dengan begitu ibu Sasuke berarti menerima Sarada sebagai cucunya. Menghilangkan ketakutan yang selama ini membayanginya—jika ibu Sasuke tidak akan menerima puterinya itu.

Untuk yang kesekian kali ia kembali melirik wanita berparas cantik itu. kacamata plus yang membingkai wajahnya dibenarkan ketika mulai merosot. Hatinya begitu hangat saat wanita itu tersenyum lembut menatap puterinya. Ia pun baru menyadari saat ini, bahwa ibu Sasuke terlihat begitu manis.

"Mama. Kenapa dari dulu tidak mengajakku makan bersama nenek dan papa?" Saat tangannya kembali menyuap Sarada berucap polos dengan mulut penuh makanan—membuat suapan itu tertunda—lalu menaruh kembali sendok keatas piring. Mengelus lembut rambut hitam Sarada. "Kalau sedang makan jangan sambil bicara, ya. Telan dulu makananmu." Tuturnya sambil memunguti remahan makanan diatas meja didekat piring Sarada—menaruhnya diatas tissue yang tersedia.

Mikoto menatap gantian Sakura dan Sasuke. Berdehem pelan untuk mencairkan suasana yang tercipta. Entah mengapa hatinya dirundung rasa bersalah untuk saat ini—tepatnya ketika Sarada berkata seperti itu. Ini semua salahnya. Andai saja saat itu mulutnya tidak berkata begitu lancang pada Sakura. "Malam ini kalian menginap saja."

"Sudah malam, kasihan Sarada." mata hitamnya menatap Sakura—seperti memohon untuk itu. "Sarada mau kan tidur disini malam ini?"

Sakura hendak menolak namun anggukkan cepat dan sahutan girang dari Sarada menghentikan niatannya untuk berucap. Ia kemudian menatap Mikoto yang sedang mengelus rambut Sarada. Tersenyum tulus saat mata hitam ibu Sasuke kembali menatapnya.

"Semenjak kepergian Itachi dan suamiku beberapa bulan lalu. Rumah ini terasa begitu sepi." Mikoto menghela napas. "Aku bahkan lupa bagaimana caranya tertawa lagi."

"Tapi ketika bertemu dengannya. Aku merasa seperti hidup kembali. Hatiku yang kosong terasa terisi kembali."

Sakura menatap Mikoto yang kini mengelus rambut Sarada. Sedikit iba melihat bola mata yang menyiratkan kesedihan. Ia tidak tau ketika insiden mengenaskan itu terjadi dan tidak ingin mengungkit kembali kenangan pahit saat ini—atau lebih tepatnya, ia tidak ingin membuat ibu Sasuke kembali bersedih. "Mungkin ini sedikit terlambat. Tapi, aku turut berduka cita."

"Terima kasih." Sakura tersenyum menyambut ucapan Mikoto. Memegang lembut tangan wanita paruh baya itu. Wanita yang dulu sempat dibencinya, namun begitu mengharapkan kasih sayangnya.

"Sakura. Menikahlah dengan Sasuke."

Sakura seakan berhenti bernapas saat ini. Oksigen yang masuk kedalam paru-parunya terasa menipis. Telinganya terasa berdengung mendengar kata yang diucapkan ibu Sasuke. Ia begitu senang mendengar penuturan ibu Sasuke tadi. Kata itu dulu ingin sekali didengarnya ketika mereka bertemu. Tapi untuk saat ini, Sakura tidak tau harus bagaimana. Menjawab apa. Semua terasa sulit untuk dicerna oleh akal sehatnya. Mengundang rasa sesak yang begitu menyayat hati ketika tersadar dengan kenyataan saat ini. Kenyataan bahwa ia sudah menjadi milik orang lain.

.

.

.

Sakura melangkahkan kakinya menuju teras belakang rumah yang begitu sepi. Meski waktu sudah menunjukkan pukul dini hari, namun matanya belum juga dilanda rasa kantuk. Dengan membawa secangkir kopi digenggamannya, ia berhenti tepat diujung lantai. Menatap indahnya langit bertabur bintang.

"Kau belum tidur?" Sakura sedikit tersentak mendengarnya. Menoleh seketika pada lelaki itu. "Kau mengagetkanku. Ku kira hantu."

Sasuke sedikit tersenyum mendengarnya. Melihat kembali wanita yang kini menatapnya sebal. Wajahnya memanas, jantungnya berdebar kencang saat ini—lebih tepatnya saat melihat wanita itu tersenyum padanya. Namun dengan cepat ia bisa kembali mengendalikan diri, dan beralih menatap benda ditangan wanita itu. "Kopi?"

Sakura tertegun, ia mengangkat tangannya sedikit. "Ah, maaf bila aku lancang. Tapi aku tidak akan bisa terdtidur jika belum meminum ini. Mau ku buatkan?"

Sasuke menggeleng singkat. Sakura hanya mengangkat alisnya sembari meminum. Matanya kembali menatap langit bertabur bintang.

"Tidak apa. Anggap saja rumahmu sendiri." Sedikit menghela napas, ia beralih menatap langit yang juga ditatap Sakura. "Kurasa kau lupa kalau aku tidak menyukai yang manis-manis."

Sakura sedikit membelalakkan matanya—seakan teringat sesuatu. Seketika tertawa pelan lalu menatap Sasuke. "Kau tidak suka manis, ya. Aku lupa."

"Apa kau benar-benar sudah melupakanku. Hingga hal itu saja kau tidak ingat?" Sasuke menatap Sakura lekat. Hatinya kecewa mengetahui Sakura melupakan tentang dirinya. Segitu marah-nya-kah wanita itu pada dirinya? Tidak, seharusnya ia yang marah karena ditinggal begitu saja tanpa mengetahui kebenarannya.

Sakura berkedip beberapa kali sebelum akhirnya kembali menatap langit. "Bintang malam ini begitu banyak, ya." Ujarnya mengalihkan.

"Aku ingin minta maaf atas ucapan ibuku dimeja makan tadi." Tuturnya setelah beberapa menit terdiam. "Aku belum bilang padanya tentang statusmu saat itu."

Sakura tersenyum miris mendengarnya. "Aku mengerti."

"Sakura…"

Sakura beralih menatap Sasuke saat lelaki itu tak kunjung melanjutkan kembali kata-katanya. Lelaki itu menatapnya, lekat. Sakura menelan ludah akibatnya. Dadanya berdetak kencang saat ini—karena ditatap lelaki itu. Ingin sekali ia menjauhkan matanya dari mata kelam dihadapannya, namun ia tidak mampu. Seakan terkunci oleh netra hitam legam yang begitu dikaguminya. Mengapa ia mengharapkan Sasuke mengatakan hal yang sama seperti ibunya saat ini? Meskipun ia tau itu pengharapan yang bodoh, namun bila Sasuke benar-benar mengatakan seperti itu, ia pun siap meninggalkan ikatan yang saat ini membelenggunya.

"Tidurlah. Sudah malam." Sasuke berbalik. "Dan jangan terlalu sering meminum kopi ditengah malam. Itu tidak baik untuk kesehatan."

Sakura kecewa mendengarnya. Namun ia sedikit tersenyum saat mengetahui Sasuke masih menaruh perhatian padanya—terlihat sekali dari kata-kata yang diucapkannya.

.

.

.

Sakura menghempaskan punggungnya pada kursi putar. Tangannya memain pena yang sedari tadi dipegangnya. Untuk yang kesekian kali, ia menghela napas menatap benda diujung ruang dekat meja tamu. Rasa sesak kembali menghampirinya saat mengingat malam dimana ibu Sasuke mengatakan itu. Rasa bimbang yang begitu mengganggunya akhir-akhir ini. Ia tau seharusnya ia tidak boleh seperti ini. Mengingat naruto sangat mencintainya. Ya, seharusnya ia tidak perlu bimbang lagi. Namun, ia tidak bisa menampik rasa bahagiannya saat mengingat ibu sasuke sudah menyetujui hubungannya.

ketukan dipintu membuatnya beralih dari gaun putih disana. Berucap singkat mempersilahkan orang yang mengetuk pintunya untuk masuk.

"Apa anda memanggil ku?" tanya orang itu saat atasannya menatapnya semenjak ia memasuki ruangan itu.

Sakura kembali menghela napas ketika beralih menatap gaun itu lagi. Gaun putih brokat yang indah. "Ayame.."

Wanita yang dipanggil namanya itu hanya bergumam pelan. "Menurutmu, apa yang harus ku lakukan?" ia ikut menatap kearah gaun yang ditatap atasannya itu. mengerutkan dahi dalam.

"Maksud anda?"

"Aku terjebak disituasi yang tidak ku inginkan." Sakura memajukan badan, memangku dagu ditangannya. "Disatu sisi, aku masih berharap pada masa lalu ku. Tapi disisi lain ada seseorang yang mengharapkanku."

Ayame menunggu kata yang akan diucapkan lagi oleh atasannya. "Aku tidak bisa memilih diantara mereka." Matanya beralih pada wanita berambut mencolok itu. "Jika aku memilih masa laluku, maka dia akan tersakiti. Aku ingin melupakan masa laluku, dengan memilih dia. Tapi entah mengapa hatiku terus menolak. Menolak rasa yang diberikan olehnya."

Sakura kembali menatap Ayame yang berdiri disisi kanannya. "Menurutmu, siapa yang harus ku pilih. Dia yang menjadi masa laluku atau dia yang saat ini disampingku?"

Ayame sedikit menghela napas. Masih memandang atasan yang memang selalu meminta pendapatnya itu. "Jika aku yang berada diposisi anda saat ini. Aku akan memilih dia yang saat ini disampingku."

"Tapi aku tidak mencintainya, Ayame.." Sakura Menumpukkan wajahnya kedalam lipatan tangan diatas meja kerjanya.

"Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu." Sakura kembali mengangkat kepalanya, menatap wanita disampingnya. "Jangan sia-sia kan dia yang saat ini disamping anda. Cinta itu bukan hanya tentang rasa yang timbul dihati. Tapi belajar menghargai rasa yang diberi."

.

.

.

Sakura berjalan keluar setelah mengunci pintu butik. Berjalan santai menghampiri sebuah mobil diseberang jalan. Matahari sudah menghilang dari tempatnya, menyisakan angin yang diam-diam menyentuh lembut kedua kakinya. Ia membuka pintu mobil yang langsung disambut dengan sapaan sang pengemudi.

"Kau pandai sekali mengalihkan duniaku." Sakura mengangkat alis tidak mengerti, kemudian ia tersenyum saat Naruto tertawa melihat ekspresinya. Dipukulnya pelan lengan berbalut kemeja ungu itu. "Sudah cepat jalan."

"Kereta akan melaju tuan puteri."

Mobil sport itu membelah kota dengan lajunya. Sakura tampak terdiam semenjak memasuki mobil, berbeda dengan sang pengemudi yang kini tengah membuat ketukan pelan pada stir mengikuti alunan musik yang terputar sambil ikut menyanyikan liriknya.

"Sampai kapan Sarada disana?" tanya Naruto disela lantunan lagu romance yang terputar dalam mobil tersebut.

Sakura merotasikan kepala, menjawab pertanyaan yang dilontarkan lelaki disampingnya. "Besok, mungkin. Entah, kurasa ia sangat suka tinggal disana." ia tersenyum miris mengingat anak satu-satunya itu tidak memberi kabar apapun semenjak dua hari berada disana. Tiga hari ini memang sekolah Sarada sedang diliburkan untuk persiapan anak kelas 6 ujian nasional. Maka dari itu anaknya mengambil kesempatan untuk bermain kerumah neneknya disana.

Anak itu sering sekali menginap semenjak malam dimana Sakura membawa Sarada berkunjung ke rumah Sasuke dikota seberang. Awalnya karena ibu Sasuke meminta Sarada untuk main disetiap hari weekend, yang memang merupakan hari libur untuk anak sekolah. Namun diminggu ketiga setelah mereka berkunjung kesana Sarada tidak mau pulang setelahnya, bahkan sampai Sakura bujuk dengan berbagai cara anak itu tetap kekeuh untuk tetap berada disana. Pastinya untuk satu hari itu ia absen dari waktu sekolahnya.

Sakura jadi ingat perkata Sarada ketika mereka sedang dalam perjalanan setelah berkunjung dari rumah Sasuke. Katanya, 'Enakan disana, ada nenek, ada bibi, ada paman tukang kebun. Sarada jadi punya teman main kalo lagi libur.' Sedikit mengiris hati, namun itu merupakan perkataan jujur hati seorang anak kecil yang hari liburnya dihabiskan ditempat kerja sang ibu. Sakura juga mengerti akan hal itu, dan ia tidak mempermasalahkan jika kali ini Sarada lebih suka jika hari liburnya dihabiskan bersama ibu Sasuke.

Sakura memejamkan mata, kepalanya disenderkan pada kaca yang mengalirkan rintik hujan. Akhir-akhir ini hujan memang selalu mengguyur kota tempatnya tinggal, meski belum waktunya musim penghujan datang. Sebaris kalimat yang dilontarkan ibu Sasuke kala itu masih terngiang ditelinga. Munafik sekali bahwa ia tidak menginginkan hal itu, namun bagaimana dengan lelaki disampingnya saat ini?

Pikirannya memutar menanyangkan kejadian saat ia pertama kali bertemu dengan Naruto. Seorang lelaki dengan senyum yang tidak pernah hilang. Seorang lelaki yang selalu ada dimana pun dan kapan pun ia butuhkan. Seorang lelaki yang sangat menyayangi puterinya juga mencintai dirinya. Semua kebaikan lelaki itu, mana mungkin Sakura membalasnya dengan kekecewaan?

Ia diam-diam menaruh harap pada perkataan Ayame siang tadi. Bahwa cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Ya, ia akan menantikan hari itu. Hari dimana ia benar-benar mencintai Naruto tanpa adanya bayangan seorang Sasuke.

.

.

.

"Hei, Nona Haruno."

"Kau terlihat sangat cantik."

"Jangan menangis. Dunia nanti akan ikut menangis juga."

"Bahkan, tidak ada bunga yang lebih indah dibandingkan dengan dirimu, Sakura."

"Aku tidak ingin itu. Itu sangat manis."

"Dasar, bunga manis."

"Nanti kalau kita menikah dan punya anak. Aku ingin anak kita seorang laki-laki. Supaya ia bisa jadi penerus keluarga Uchiha."

"Sakura, aku mencintaimu."

.

"Hei, kau tertidur?" Naruto mengelus pelan pipi Sakura. Sudah satu menit mobilnya terparkir dipelataran parkir kafe tempatnya ingin makan. Namun Sakura belum juga membuka mata. Pikirnya wanita itu hanya memejamkan mata saja.

"Ya..." Sedikit tersentak. Sakura mengangkat kepala agar posisinya sejajar dengan Naruto. "Sudah sampai?" Naruto bergumam. "Dari tadi?"

"Belum lama."

"Ahh, maaf. Aku ketiduran." Sakura menyentuh ujung mata yang mengeluarkan sedikit air juga merapihkan tatanan rambutnya sampai ia tidak menyadari bahwa lelaki disampingnya itu menatap setiap pergerakannya.

Tatapan mata Naruto begitu menyiratkan sesuatu hingga akhirnya tangan Sakura yang masih bergerak menyelipkan beberapa anak rambut ditangkap olehnya.

Tatapan mereka bertemu. Sakura yang baru menyadari merasakan keanehan dibalik tatapan itu. Ada apa? Tapi ia tidak bisa membaca apa yang dikatakan oleh kedua iris biru tersebut. kepala Naruto perlahan mendekat. Mendekat. Semakin dekat sampai-sampai wajahnya dengan wajah Naruto hanya berjarak satu centi. Ia bisa merasakan hangatnya napas Naruto. Wangi mint yang menguar membuat Sakura seketika memejamkan matanya refleks. Naruto menciumnya. Bibir lelaki itu kini sudah menempel diatas bibirnya. Bergerak, seakan mencari celah agar lelaki itu bisa menjarah bibirnya.

Awalnya Sakura mengunci, saat kilas-kilas memori tentang Sasuke dan pertemuan yang tidak diharapkan itu kembali mengisi pikirannya ia mulai melemaskan otot-otot bibirnya. Mempersilahkan lelaki dihadapannya ini mengambil alih atas situasi yang terjadi.

Air mata Sakura mengalir. Ia benci mengatakan ini. Ia benci mengetahui bahwa hatinya masih tetap memikirkan Sasuke saat Naruto menciumnya seperti ini.

Selang waktu beberapa detik mereka melepaskan ciuman tersebut. deru napas saling bersahutan dalam mobil itu. Tanpa berniat menjauhkan kepala, Naruto berucap disela-sela keheningan yang tercipta.

"Aku sangat mencintaimu."

.

.

.

a/n author

Hai... Udah lama gak bertemu.

Apa kabar?

Semoga sehat selalu.