Main Cast : ChanBaek *Chanyeol ( 34 Years Old) / *Baekhyun ( 16+ Years Old)

Other Cast : Yonghwa, Heechul, HunHan, Sooyoung (SNSD), Je Ni

Disclaimer : Cerita ini, HANYA milik Gloomy Rosemary

.

Previous Chapter

"Jangan menangis di hadapanku! Kau selalu melakukan kesalahan yang sama!" Sentak Chanyeol lagi.

Baekhyun semakin menunduk dalam, hingga air mata itu lolos cepat dari pelupuknya. Ia benar-benar takut kali ini.

"..."


Love Of Fallen Leaves (Season 2)

YAOI

CHANBAEK

FANFICTION

Gloomy Rosemary

Chapter 4

.

.


"Hks.."

Kembali terdengar isak lirih darinya, enggan mengangkat kepala dan lebih memilih berdiri tertunduk di sudut ruang perpustakaan.

Semua semakin ciut untuknya, setelah beberapa saat yang lalu Chanyeol membentak... meninggalkannya begitu saja, tanpa berniat sedikitpun mendengar atau bahkan menatap matanya.

"Ahjussi.." Lirihnya sambil mengusap air matanya.

.

.

"Ah Ya Tuhan.."

Hingga tiba-tiba saja terdengar pintu besar itu terbuka, dan seorang seperti berlari mendekatinya.

"Aku mencarimu... Syukurlah jika kau di sini" Bisik wanita itu, sambil memeluknya dari belakang. Besyukur menemukan bocah itu di tempat luas dan segelap ini.

"..." Baekhyun tetap tertunduk, bahkan terlihat enggan saat dayang Goryeo itu mencoba memutar tubuh mungilnya, untuk menatapnya

"Kau menangis?" Sooyoung kembali merunduk, berusaha melihat wajah anak itu.

Tapi semakin Sooyoung memaksa, semakin Ia merasa tangannya basah...

"Baekhyun?" Gumamnya lirih, sadari... anak itu benar-benar menangis di hadapannya.

"..." Baekhyun menggeleng pelan, lalu menyentak tangan Sooyoung dari wajahnya.

"Sssh... berhentilah menangis kumohon" Sooyoung membelai wajah pias itu, dan dibawanya untuk bersandar dalam dekapannya. "Apa kau memikirkan ucapan Yang Mulia Raja?"

"..."

Tak ada jawaban selain nafas yang tersendat, dan samar Ia merasakan bocah itu mengangguk pelan.

Sooyoung tersenyum, meski sebenarya tak sampai hati melihat Baekhyun seolah menyudutkan dirinya seperti ini.

"Yang Mulia hanya mencemaskanmu dan Pangeran Deokjun"

Baekhyun mendadak mengangkat wajah. "A—Ahjjussi benci Baek—hyun" Lirihnya terbata

membuat Sooyoung menatap getir, bahkan berulang kali menyeka air mata bocah itu. "Tidak..." Ujarnya sambil menyingkirkan helai rambut yang menjuntai di pipi Baekhyun. "Mengapa kau berpikir seperti itu hmm? Dia terlalu menyayangimu.. Baekhyun"

"Ah—jussi marah.. Ahjussi benci Baek—hyun" Masih saja anak itu menyimpulkan pemikirannya di sini

Dayang itu terlihat menghela nafas pelan. "Yang Mulia mungkin hanya lepas bicara, melihatmu membawa Pangeran Deokjun di tengah hujan salju seperti—

"D-Deokjun sakit. T—Tapi tak ada siapapun... Baekhyun ta—kut" gumam Baekhyun tersedak isakannya sendiri

Namun, ucapan terbata itu lekas membuat Sooyoung tertegun, menerka kemungkinan yang terjadi di sini. karena Ia tau benar bagaimana pribadi anak itu... tak ada satupun kebohongan dari sikap lugunya.

Mengapa Sang Raja sampai hati membuatnya terisak seperti ini, sementara Pria itu tentunya memahami bagaimana Baekhyun selama ini. Baekhyun hanya melakukan apa yang dianggapnya benar. Seharusnya mereka memberinya pengawasan.. dan tak seharusnya pula, Ia meninggalkan Baekhyun seorang diri kala itu.

"B-Baekhyun takut... Baek—hyun tak ingin Deokjun sakit"

"Semua ini bukan salahmu Sayang" Sooyoung kembali menangkup wajah Baekhyun, untuk menatap lekat kedua mata redupnya. "Sebaiknya lekas kembali ke dalam, udara semakin dingin .. dan—

Wanita itu mencoba merangkai kata untuk menenangkan namja kecilnya. "Yang Mulia Raja menunggumu di dalam, Dia mencarimu"

Baekhyun mengerjap. "Ahjjusi tidak marah lagi?"

"Tentu saja... Dia bahkan rindu ingin melihatmu" Ucap Sooyoung sambil terkekeh gemas.

"Cha.. kenakan pakaian ini, lalu temui Yang Mulia...mengerti?" Sooyoung beralih mengenakan sebuah mantel tebal di tubuh Baekhyun, lalu membimbingnya untuk lekas melangkah keluar dari perpustakaan itu.

.

.

.

.


"Masuklah..." Bujuk Sooyoung begitu keduanya berada di ambang pintu Kamar sang Raja.

tapi anak itu terlihat ragu, sesaat menatapnya lalu kembali tertunduk sambil menggigit bibir bawahnya.

"Percayalah padaku, Yang Mulia Raja benar-benar menunggumu"

Baekhyun terlihat mengerjap, lalu memberanikan diri membuka kamar yang sebenarnya miliknya bersama Raja Silla itu.

.

.

Pintu benar-benar terbuka...

"Ahjjussi.."

Disanalah Baekhyun melihat Chanyeol dan beberapa siluet di dalamnya, Ia mengulas senyum kecil .. lalu melangkah cepat ingin memeluk Raja Silla itu. Tapi—

"Dari mana saja kau sebenarnya?"

Urung Baekhyun lakukan, begitu Pria itu bicara demikian bahkan tanpa memutar tubuh untuk sekedar melihatnya.

Baekhyun kembali tertunduk, sesekali menoleh ke belakang ingin mencari Sooyoung, tapi dayang itu terlanjur pergi meninggalkannya. Mengapa Sooyoung berbohong padanya? Jika saja Baekhyun tau Pria itu masih semarah ini, tentu Ia tak ingin masuk ke dalam.

"Kau tak menjawabku?" Chanyeol kali ini memutar tubuh dan berjalan mendekati bocah yang tertunduk ciut.

"Kami semua mencemaskan Deokjun, tapi kau pergi bermain di luar tanpa merasa bersalah di sini?" Cerca Chanyeol lagi, semakin membuat Baekhyun meremas jemarinya gelisah... bahkan terlihat jelas bocah itu menahan tangisnya.

"..." Baekhyun menggeleng pelan, ingin mengatakan sepatah katapun rasanya terlalu kelu. Begitu melihat Chanyeol menatapnya setajam itu.

"M—Mohon ampun Yang Mulia"

Tiba-tiba saja Sooyoung memaksa masuk, meski Ia tau.. tak sepantasnya bagi abdi seperti dirinya memasuki kamar sang Raja.

"Hamba menemukan Yang Mulia Baekhyun dalam keadaan takut dan bingung di ruang perpustakaan, hamba mohon... Yang Mulia Raja bersedia mendengar penjelasan Yang Mulia Baek—

"Bukankah sudah kulakukan saat ini? untuk itu aku ingin mendengarnya... dari mana saja Dia dan apa yang Dia lakukan di saat Putranya sakit seperti ini?!" Sergah Chanyeol, masih terbawa emosi

"Hks..." Baekhyun tak sanggup menahan tangisnya lagi, lalu benar-benar tergugu di hadapan Chanyeol, Mengapa seberat ini...

Mengapa Raja Silla itu selalu melihatnya salah... bahkan Ia belum mengatakan apapun di sini.

.

.

"Chanyeol hentikan.." Ibu Suri itu meraih tubuh Baekhyun, lalu dibimbingnya untuk duduk di sisi ranjang. Sejenak Ia menangkup wajah Baekhyun lalu menyeka air matanya... tak sampai hati melihat bocah itu terlihat ringkih seperti ini.

Sementara Chanyeol hanya menghela nafas berat, sadar... Ia mungkin terlalu terbawa emosi. Hingga semua rasanya semakin pelik untuknya.

Tapi semua ini demi Baekhyun, semua orang di istana ini harus tau... Baekhyun bisa berubah dan memang sepantasnya layak sebagai pendampingnya. Hingga tak ada nada sumbang yang bicara buruk tentang permaisuri kecilnya itu. Ya.. Baekhyun tentu bisa menjadi seperti yang Silla inginkan.

Mungkin menyakitkan untuk anak itu...

namun Ia yakin... Baekhyun bisa melaluinya..

.

"Uh.."

Masih saja Baekhyun terisak lirih, sebanyak apapun Heechul membujuknya.. anak itu tetaplah terkunci dalam pemikiran ciutnya. Hingga membuat Chanyeol beralih mendekatinya.

"Berhentilah menangis, tak lama lagi para tabib akan datang untuk mengobati Deokjun, tak seharusnya kau menunjukkan wajah seperti itu" tegas Chanyeol, seraya menyeka air mata Baekhyun.

Tapi anak itu menyentak tangannya, lalu kembali menyembunyikan wajah di balik kesepuluh jarinya. "Ahjjussi membenci Baekhyun!" Seru Baekhyun tiba-tiba

Penguasa Silla itu sempat terbelalak, sebenarnya ingin memeluk tubuh kecil itu... tapi lekas tertahan begitu mengingat, tujuannya di sini ingin mendidik bocah itu. "Jangan mempersulit semuanya.."

"Ahjjussi selalu marah! Ahjjussi membenci—

"Lihat! Kau bahkan tak mendengarku dan menyimpulkan semuanya sendiri?!"

Bocah itu mengepalkan tangan kuat. Ingin berontak meski sebenarnya dadanya terasa sesak. "Jika Ahjjusi membenci Baekhyun! Mengapa Ahjjusi menikah dengan Baekhyun?! TINGGALKAN BAEKHYUN! DAN MENIKAH DENGAN ORANG—

'BRAKK'

Meja digebrak keras, hingga membuat beberapa sosok dalam ruangan itu terlonjak, terlebih untuk Baekhyun... ia menatap nanar Penguasa Silla itu, bahkan sepertinya kembali gemetar melihat Chanyeol mulai terengah menahan murka.

"KAU MENGERTI APA YANG KAU KATAKAN INI?!" Bentaknya keras, seraya menunjuk wajah Baekhyun. "MENGAPA KAU KEMBALI MENGATAKAN HAL TAK BERGUNA INI DI HADAPANKU?!"

tak pelak membuat anak itu semakin bergetar, bahkan perlahan merosot lemas

"AH! Apa karena kau seorang bocah laki-laki, lalu sifatmu seburuk ini?!" Semakin tak terkendali untuknya, Ia yang memang terbawa amarah... semakin gelap mata, hingga tak melihat Baekhyun kecilnya benar-benar terluka di sini.

"Cukup Chanyeol! Apa yang kau katakan ini?! Hentikan Ibu Mohon!"

Chanyeol masih terengah, sambil memejamkan mata. Berusaha menekan emosinya sendiri... lalu begitu ia menatap lebih lekat Baekhyun, barulah Ia sadari anak itu menangis hebat di depannya. Membuatnya menghela nafas getir.. lalu perlahan berjalan mendekati Baekhyun.

"Aku tak akan bicara seperti ini jika kau mendengarku" Pria itu mulai merunduk demi melihat wajah baekhyun. "Mengapa kau tak mengerti apa yang ku inginkan darimu sebenarnya? Cobalah untuk sedikit sa—

"..." baekhyun hanya menatap kecewa. lalu memilih memutar tubuh... dan berlari keluar meninggalkan kamar megah itu

"Baekhyun!" Seru Chanyeol hendak mengejar namja kecil itu, tapi Heechul menahannya. Hingga membuatnya berdecak keras.

"Mengapa Dia selalu seperti ini!" Gusarnya, tak habis pikir dengan sikap yang menurutnya kembali kekanakan itu. Ia tengah berbicara, tak sepantasnya Baekhyun bersikap demikian dan pergi begitu saja. Pikirnya tak terima

"Kau suaminya, seharusnya kata-kata itu tak terucap darimu" Sesal Heechul, mencoba meraih hati Pria itu.

"..." Chanyeol hanya diam, sambil memijit pelipisnya sendiri... merasa terlalu pening, memikirkan banyak hal dan kini Ia harus menghadapi masalah semacam ini.

"Sikapmu ini terlalu keras pada Baekhyun" ujar Heechul lagi, menyentuh bahu pria kekar itu

"Semua ini kulakukan agar Dia mengerti.. Tapi Lihat Ibu, Bahkan Baekhyun sama sekali tak merubah sikapnya meski aku seperti ini" tegas Chanyeol, tak membalas tatapan Ibu Suri itu dan lebih memilih mendekati Deokjun untuk membelai wajah putra kecilnya.

"Di luar sana... banyak bicara buruk tentang Baekhyun, aku tak ingin istriku dipandang sebelah mata oleh Rakyatku sendiri"

Semakin tak terjangkau, membuat Ibu Suri itu menghela nafas pasrah. Ia tau benar... Seberapa kuat dan keras pribadi Pria itu jika berkehendak.

Tapi... Ini tentang Baekhyun..

Anak yang sebenarnya terlalu rapuh dan Ia tau semua itu. Tentu tak semestinya, perangai itu berubah terlalu cepat. Atau...

Hanya satu hati yang kelak Chanyeol hancurkan di sini.

"Baekhyun hanyalah seorang anak yang masih membutuhkan perhatian dan kasih sayang darimu, jikapun kau ingin merubahnya lakukan secara perlahan sebagaimana kau menjaganya dulu"

"Aku menyayanginya Ibu... tidakkah semua yang kuberi selama ini tak cukup untuknya? Seharusnya Baekhyun mengerti. Sebaiknya Ibu tak perlu merisaukan permasalahan ini... Baekhyun tanggung jawabku"

Wanita itu lekas diam... Sebanyak apapun ia mencoba melugaskan pengertiannya di sini, sepertinya semua hanya akan semakin menyulut emosi Chanyeol.

"Ibu hanya mengingatkanmu.." lirihnya, dan lebih memilih memberi titah pada seorang dayang untuk membuka pintu, untuk para tabib yang baru datang.

.

.

.

"Pastikan apa yang terjadi pada Putraku. Mengapa mendadak demam seperti ini?" Titah Chanyeol pada seorang tabib paruh baya.

"Baik Yang Mulia..." Tabib itu mengangguk pelan, sedikit berhati-hati begitu memeriksa panas tubuh bayi yang kini terlelap di ranjang sang Raja.

.

,

Lama... Raja Silla itu bersidekap sambil mengamati bagaimana Tabibnya bekerja, hingga gerak tangan tabib yang terlihat meracik ramuan itu... lekas memberinya tanda untuk mendekat.

"Putraku baik-baik saja?" Tanyanya ... sedikit merunduk, mengimbangi tinggi tabib paruh baya itu.

"Ah... n-nde Yang Mulia Raja. Putra Mahkota dalam kondisi yang sangat sehat" Lugas sang tabib sambil mengulas senyum

Tapi Chanyeol mengernyit. "Bagaimana mungkin? Panas tubuh Putraku sangat tinggi... apa maksudmu baik-baik saja?!" Sergah Chanyeol, merasa cemas dengan penuturan tabib itu. Jelas.. Ia melihat dan merasakannya sendiri, Putranya demam tinggi.

"Istriku membawanya keluar di udara sedingin ini tanpa penghangat apapun, tidakkah itu yang membuat Deokjun demam?" Ujar Chanyeol lagi, masih meyakini pemikirannya kali ini... dan tak berharap tabib itu lengah memeriksa tubuh Putranya.

Sang tabib kembali membungkuk penuh hormat, namun tak segan untuk mengulas senyum hangatnya. Sebagai tanda... tak ada satupun yang harus Raja cemaskan dengan kondisi Putra kecilnya saat ini.

"Sebenarnya hal itu terjadi karena pangeran Deokjun meminum ramuan yang kami berikan sebelumnya, demam yang dirasakan Pangeran adalah efek dari ramuan yang telah bekerja sangat baik meningkatkan ketahanan tubuhnya, Yang Mulia" Jelas tabib Shin, seraya menunjukkan ramuan yang Ia minumkan paska Deokjun menegak susu mentah.

Tak pelak membuat Penguasa Silla itu diam tercengang, mengamati ramuan dan Deokjun bergantian. Terlihat raut sesal... mulai tergurat dari wajah tampannya.

"Jadi... bukan karena Baekhyun yang membawanya keluar di udara dingin?" Sela Heechul, berjalan tergesa mendekati keduanya.

"Benar Yang Mulia Ibu Suri, bukan karena udara dingin yang membuat Pangeran demam, tapi itu adalah efek dari ramuan yang terminum, hal ini suatu yang biasa terjadi ... Yang Mulia" Jelas Tabib itu lagi, membuat Heechul menghela nafas lega, dan tersenyum kala melihat Chanyeol.

"Chanyeol~ah... kau dengar itu? Baekhyun tak bermaksud mencelakai Putra kalian, anak itu mungkin hanya ingin mencari pertolongan hingga membawa Deokjun keluar" Heechul meraih lengan Pria itu, berharap ini dapat meluluhkan hatinya yang keras.

"Ah! Bukankah kalian kemarin bersamanya? " Tanya Heechul pada beberapa dayang yang membawa hidangan untuk sang raja

"S—saat itu, tak ada seorangpun dayang y-yang mendampingi Yang Mulia Baekhyun. Karena memasuki jamuan makan malam... i-ini salah hamba, tak di sisinya hingga Yang Mulia Baekhyun ketakutan mendapati Pangeran demam" Salah Seorang dayang pengasuh itu mulai membuka suara

"K—Kami berjanji tak akan mengulanginya lagi Yang Mulia... Kami t-tak akan membiarkan Yang Mulia Baekhyun sendiri saat bersama Pangeran" Sambung dayang pengasuh lainnya, sambil bersimpuh dengan kedua tangan terkatup

"..." Raja Silla itu lekas terdiam. lalu memejamkan mata... dengan tangan terkepal.

"Akan ada hukuman berat untuk kalian, jika hal ini terjadi lagi" Ujarnya sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan kamar itu, berniat menemui Baekhyun.

.

.

.


..

"Makanlah sedikit saja..." Ia kembali mengambill satu suapan itu, tapi masih saja... terbuang percuma begitu Baekhyun kembali menyentak tangannya.

"..." Bocah itu terengah, menatap nanar pada makanan yang tercecer di bawahnya. Tapi masih tak peduli, berulang kalipun Sooyoung membujuknya... semua tak akan membuat hatinya lebih baik.

"Baekhyun ingin sendiri... Sooyoung" Hingga gumaman dingin itu yang terdengar dari Baekhyun.

"Jangan seperti ini.." Sooyoung beralih ingin menyentuh wajahnya. "Aku tak bisa membiarkanmu seorang diri"

"S—Sooyoung berbohong.."lirih Baekhyun

Tak pelak membuat dayang itu terhenyak. "Ne..?"

"A—Ahjussi tak pernah mencari Baek—hyun. Ahjjussi membenci Baekhyun"

Sooyoung terdiam. inikah yang disimpulkan dari pemikiran lugunya? jika saja Ia tau semua akan kembali melukai hati Baekhyun ... tentu Ia tak akan membawanya menamui Raja Silla itu.

"Maaf.." Sooyoung meraih tangannya . "Maafkan Aku.." Ulangnya lagi, sambil menggenggam tangan anak itu.

"Baekhyun ingin sendiri.." pinta anak itu lagi, memaksa melepas genggaman tangan Sooyoung.

lebih dari siapapun, Ia tau... anak itu tentu kecewa. merasa dipermainkan dan tak pernah mendapatkan kesempatan untuk membela diri. Tapi Iapun tak bisa berharap lebih untuk menghibur Baekhyun. Sedari tadi Ia menemaninya, namun yang terlihat... Baekhyun sepertinya semakin tak nyaman.

Namja kecil itu benar-benar ingin sendiri.

Sooyoung beralih bangkit, mencoba memberi sekat untuk Baekhyun menenangkan dirinya sendiri.

"Baiklah... berjanjilah untuk makan, jika kau merasa lebih baik" pesannya, lalu melangkah pergi, meski tak rela.

.

.

.

.


Sesekali terlihat jemari mungilnya memainkan jendela bertapiskan rotan itu,

terlalu lama Ia termenung seorang diri di sini, memang tak berharap lebih Chanyeol lekas datang untuk menemuinya.

Baekhyun tau... sepertinya itu tak akan terjadi lagi padanya.

Ia kembali memandang langit senja di atas, terlihat samar... begitu hanya awan tebal dan salju yang tampak olehnya.

Membuatnya, mengingat Deokjun .. Bagaimana kondisi bayi kecilnya itu?

Lalu Baekhyun putuskan untuk berlari keluar dari Pavilun itu.. berharap, Deokjun tak lagi demam tinggi seperti sebelumnya.

.

"Apa yang terjadi sebenarnya?"

Namun tiba-tiba saja baekhyun menghentikan langkah, dan bersembunyi di balik dinding begitu mendengar suara dan derap langkah tak jauh darinya, terlihat dari celah sempit itu... Dua Pak Tua berpakaian mewah saling berjalan beriringan. Membuat bocah itu kembali berjongkok untuk bersembunyi. Baekhyun ingat benar... Dua Pria tua itu yang menyudutkannya saat Ia membawa Deokjun keluar.

"Kau benar-benar tak tau apa yang terjadi di istana ini?" sambung Menteri tambun merasa heran. "Bahkan Rakyat Silla pun telah mendengarnya" Lanjutnya sambil berdecih.

"Tentang Yang Mulia Raja?" Menteri yang lebih kurus mencoba menerka.

"Ahahaha... seharusnya kau tau tentang kabar baik ini, Yang Mulia Raja ingin mencari pendamping dan menikah lagi" Menteri tambun bernama Song itu mulai berkelakar

"K-Kau bercanda?"

"Bukankah sudah kukatakan, bahkan Rakyat Silla sudah mendengar hal ini. Kedatanganku kemaripun karna hal ini... Para Saudagar China memintaku menyampaikan suka cita mereka pada Sang Raja" Ujar Menteri Song semakin percaya diri.

"T-Tapi bagaimana dengan Yang Mulia Baekhyun?"

Menteri Song, mulai melirik ke sekitar. "Apa kau pikir seorang Pria seperti Yang Mulia Raja, hanya akan puas dengan satu pendamping saja? lagipula permaisuri itu hanyalah seorang bocah ingusan yang tak tau apapun, sekedar mengganti pakaiannya saja Dia tak becus. Dia mungkin hanya akan menjadi permaisuri yang terbuang" Bisiknya mulai mendelik picik

"Hm.. kau benar, Permaisuri kecil itupun selalu berulah... haha bahkan siang tadi Dia membuat Putranya sendiri sakit. Hingga Yang Mulia raja marah besar padanya" Menteri kurus itu tergelak dalam tawanya.

"Aku sudah menduganya, hal semacam ini sudah pasti terjadi. Permaisuri Raja masih seorang bocah bahkan Dia sebenarnya tak pantas mendampingi Raja Chanyeol. Anak itu hanyalah sarat untuk kekuasaannya" Menteri Song menyipitkan mata, melugaskan jika Ia tak sependapat jika Baekhyun menjadi Ratu.

"Karna Silla hanya menginginkan Bayinya.." Imbuhnya lagi, mengeratkan pakaian tebalnya lalu kembali melanjutkan langkah yang sempat tersendat.

.

.

.

Tanpa tau.. seorang bocah kini berdiri lemas di balik dinding bertapiskan rotan

Nyata mendengar bahkan mengerti apa yang kedua menteri itu bicarakan. Ia lekas meremas dadanya sendiri, kembali mengingat ucapannya beberapa saat lalu pada Chanyeol.

Benar...

Ia memang meneriakkan semua kata itu, meminta Chanyeol meninggalkannya.. lalu menikah dengan orang lain. Tapi... baekhyun hanya ingin mengancam Pria itu, bukan dalm artian yang sebenarnya ... karna sungguh Ia tak rela jika sampai semua itu benar-benar terjadi.

Seiring semakin samarnya langkah dua menteri itu, air mata yang sempat tertahan olehnya... kini benar-benar lolos dari pelupuknya. Baekhyun menggeleng pelan... berusaha menyangkal, namun semakin Ia berbesar hati atau bahkan menguatkan diri untuk tak percaya. Kalimat yang terdengar itu tetap saja membuatnya gemetar

Seorang bocah seperti dirinya mungkin benar tak tau apapun di sini..

Tapi Ia mengenal cinta...

Baekhyun tau benar makna mencinta dan dicintai...

hingga kata 'terbuang dan menikah lagi', tentu saja menikam perasaannya.

"A—Ahjjussii..." Panggilnya terbata,

Baekhyun mungkin kembali menangis, tapi tak satupun tau... seberapa besar amarah dalam dirinya. Hingga membuat anak itu berlari dengan tangan terkepal, tak peduli betapa miris dirinya kali ini, Baekhyun hanya ingin berlari mencari Chanyeol dan memastikan semua ini tak benar.

.

.

.

"A—Andwae! ANDWAEEE!" jeritnya histeris, masih dengan berlari kacau... merangsak para dayang dan pelayan yang di laluinya.

.

.

.

.


Di sudut istana megah itu, tampak seorang Pria tengah memberi titah pada beberapa petinggi kerajaan. Terlihat menawan begitu sebagian rambut hitam panjangnya terhempas tiupan angin.

"Pastikan ... Baekhyun menyukai semua hidangan ini" Ujar Chanyeol, memandang lekat pada berbagai hidangan yang memang Ia siapkan untuk namja kecilnya, paska mendengar... Baekhyun selama seharian ini tak ingin menyentuh makanan apapun. Chanyeol akui.. semua ini sebagai permintaan maafnya atas sikap kerasnya. Tapi sekali lagi... Ia hanya ingin mendidik Baekhyun.

"Dia masih di Paviliun barat?" Tanya Pria itu pada Sooyoung

"Ah.. Nde. Tapi Yang Mulia Baekhyun terlihat sangat murung"

Penguasa Silla itu sejenak memejamkan kedua matanya. Tak mengucap sepatah katapun tentang permaisuri kecilnya, meski Baekhyun menangis sekalipun... Ia tetap tak menginginkan siapapun memanjakannya. Masih bersikeras... Baekhyun harus merubah sikapnya di sini.

"Aku akan menemuinya.." Gumam Raja Silla itu, seraya membawa langkah menuju Paviliun Barat.

Namun tiba-tiba saja...

"Yang Muliaaa"

Seorang menteri mendadak muncul, di hadapannya... tentu membuat Sehun lekas menghadang Pria Tua itu, agar menjaga jarak dari Rajanya.

"Tak ada pertemuan petinggi kerajaan, untuk apa anda kemari?" Sentak Sehun, masih menjadi tameng untuk Pria tinggi di belakangnya

"Ahh mohon maaf atas kelancangan hamba yang datang mendadak seperti ini. Tapi hamba membawa berita penting yang harus disampaikan pada Yang Mulia" Ujar Menteri itu, tersenyum semanis mungkin.

"Apa yang ingin kau sampaikan?" Chanyeol mulai membuka suara, dan terlihat memberi sekat untuk Menteri itu.

Pak Tua itu mulai menyerahkan gulungan kertas untuk Chanyeol. Tak berpesan apapun... karna semua memang tersirat dalam gulungan menyerupai surat itu.

Sejenak menunggu, Menteri itu tampak mengulas seringai samar. Menyadari Chanyeol sepertinya mulai larut dalam surat penuh dengan guratan huruf China itu. Lalu—

"Masuklah.." Titahnya kemudian, membawa langkahnya bertolak menuju singgasana miliknya

Tentu diikuti Menteri itu, dan Sehun yang mengawalnya.

.

.

.


"Hhh! Hks"

Ia masih berlari tanpa tujuan, membuka kasar setiap pintu Istana demi mencari Chanyeol.. mengabaikan dirinya yang mulai payah ... terengah. kedua tangannya masih terkepal, menahan amarah ... meski sebenarnya Ia belum mendengar penjelasan apapun dari Raja Silla itu.

Tapi tetap saja, Baekhyun merasa tak bisa menerima apa yang Ia dengar sebelumnya.

Bagaimana jika semua itu memang benar adanya?

"A—andwae" Baekhyun menggelengkan kepala kasar, tak mungkin Chanyeol melakukan semua itu. Masih lekat dalam ingatannya bagaimana Pria itu selalu membisikkan semua janji untuknya.

Dirinya adalah satu-satunya cinta yang Ahjjusi miliki...

Bertahun-tahun berselang, sejak Ia hanya tau cara memainkan busur panah kecil dan ketapel di tangannya hingga dirinya beranjak menjadi seorang yang bertahta sebagai Permaisuri Raja... Chanyeol selalu mengatakannya 'Ia hanya mencintainya seorang'

Bahkan Chanyeol lebih memilih dirinya dibanding wanita yang sempat menjadi Ratu Negeri ini

Semata karna Pria itu hanya mencintainya seorang.

Ya...

Tak mungkin jika Chanyeol memilih menikah kembali, membagi tubuh dan cintanya. Semua itu tak mungkin terjadi. Kedua Pria tua itu pasti tengah berbohong! Yakin Baekhyun ... membiarkan amarah itu terus membawanya berlari secepat yang ia bisa

.

Gelapnya malam membuat siapapun tak menyadari langkah kecilnya, hingga temaram cahaya di ruang utama itu... membuat Baekhyun yang masih menyeka mata piasnya itu. Lekas mempercepat langkah.. ingin mengadu, dan memastikan semua yang terdengar olehnya hanyalah suatu kebohongan. Bahkan yakin, Chanyeol akan menghukum dua kakek yang menurutnya jahat itu.

.

"Ahjjussi..." Panggilnya sambil berlari mendekati jendela besar yang terbuka, sliuet Chanyeol pun semakin terlihat di dalamnya.

.

.

Tak peduli jika Chanyeol mungkin masih marah dengannya, karena Ia hanya ingin bertemu dengan Pria itu.

Tangan kecilnya terlihat meraba-raba teralis jendela... berniat ingin meraih bahu Chanyeol, tapi lekas terdiam, begitu melihat seorang Pria Tua yang sempat dilihatnya beberapa saat lalu, kini tengah berbicara dengan Chanyeol.

"Kami... Para menteri, mendengar kabar dari saudagar-saudagar China di seberang. Yang Mulia Raja ingin memperluas kekuasaan perdagangan Silla dengan mempersunting, seorang Puteri dari Negri China. Jika benar adanya... ini sungguh suatu kabar yang sangat baik, selain membuka kerja sama antar Negara... keturunan yang kelak terlahir, tentu akan membawa kejayaan yang melimpah untuk Tanah Silla"

"..." Pria itu hanya diam mendengarkannya, bahkan membiarkan Menteri Song membuka gulungannya.. untuk ditunjukkan padanya.

Tapi masih tak sadari, seorang bocah di balik sudut jendela yang gelap itu... mulai gemetar mendengar kalimat demi kalimat yang terdengar di dalam sana.

"Hamba dan beberapa menteri yang lain, mencari banyak informasi mengenai puteri-puteri yang layak mendampingi Yang Mulia Raja, selain parasnya... wanita-wanita ini memiliki pengetahuan di atas rata-rata dari wanita pada umumnya. Mohon yang Mulia untuk melihat wanita-wanita pilihan ini" Ujar Menteri Song, kembali membuka gulungan yang lain dan Ia hadapkan di meja sang Raja.

Terlihat... Chanyeol mulai mengambil salah satu dari gulungan itu, mengamatinya dengan seksama sebelum akhirnya kembali melihat sketsa wajah yang lain.

"Wanita-wanita ini... yang nantinya akan kupilih menjadi istriku?"

DEG

Baekhyun mendadak lemas, terbelalak nanar... mendengar Chanyeol seakan membenarkan semua ini.

"Mereka cantik.." Gumam Chanyeol lagi.

Bocah itu meremas dadanya sendiri, tak tau sebabnya... Baekhyun merasa ini sakit, bahkan terlalu sakit untuknya

Menangispun, sepertinya tak mampu mengukur betapa remuk dirinya kali ini...

Nyata mendengar... Pria yang diyakininya menyayangi dirinya sepenuh hati, kini memuji sosok yang lain.

Sang Raja rupanya tak lagi sama seperti yang dulu. Chanyeol yang sebelumnya penuh kasih, bahkan tak sekalipun membentak dirinya... kini benar-benar bertolak jauh. Semakin lugas untuknya... mengapa sikap itu berubah padanya, tak lain... karna Dia ingin mencari pendamping yang lain.

.

.

"A—Ahjjussi" Gumamnya terisak payah sambil membawa langkahnya pergi dari tempat itu, tak sanggup mendengar lebih jauh... atau bahkan jika sampai melihat Pria itu benar-benar memilih pendampingnya kelak.

Ia terus berjalan gontai... membiarkan dirinya tenggelam di balik petangnya malam. Masih saja tak seorang pun menyadari dirinya..

Mungkin hanya kelip api penerang yang nyaris redup terpapar salju, menjadi saksi bisu... isakkan lirihnya.

.

.

.

"Dan Kau memintaku untuk memilihnya bukan?" Raja Silla itu beralih menatap tajam sang Menteri.

Menteri Song menyeringai, tentu saja hal ini akan menarik untuk Chanyeol. Pria mana yang tak tergoda wanita-wanita secantik ini. terlebih imbalan yang kelak di terimanya dari Kaisar dan para bangsawan China itu bukan main nilainya, jika Raja Chanyeol benar-benar menerimanya. "Benar Yang Mulia... hamba yakin Yang Mulia akan sangat menyukai—

Menteri itu mendadak bungkam, melihat Chanyeol tiba-tiba meremas sketsanya.

"Bagus sekali hn?" Lirih Chanyeol kembali meremas sketsa yang lain, bahkan benar-benar Ia koyak di hadapan sang Menteri.

BRAKKKK

Meja digebrak keras, semua sketsa yang tersisa tak luput dari hempasan tangannya... hingga sebagian mengenai wajah Mentri Song.

"Beraninya kau merendahkanku?!" Sentak Chanyeol tiba-tiba.

"Y—Yang Mulia hamb—

"Apa kau pikir aku tak menyadarinya?! Siapa yang mulai menjadi pengkhianat di sini!" Seru Chanyeol semakin tersulut.

"Y-Yang Mulia... H-Hamba tidak—

"Pria Tua sepertimu, mudah sekali terbaca olehku. Dua wajah... demi imbalan yang membutakan kesetiaanmu!"

Menteri Song terperanjat hebat, Ia bersimpuh... menyatukan kedua tangab di atas kepalanya untuk memohon ampun, tapi percuma Ia lakukan begitu Sehun mencekal kedua tangannya.

"Tahan Dia! dan pastikan... Apa dia berhubungan dengan mata-mata China"

"Tidak! Tidak Yang Mulia!"

Chanyeol lebih memilih memutar tubuh membelakangi Menteri itu, tentu titah tersirat itu lekas membuat Sehun menyeret Menteri Song beranjak pergi dari hadapannya.

"Keluar..." Tegas Sehun

"Tidak! semua ini salah! Yang Mulian Salah Paham! Hamba mohon dengarkan Hamba Yang Mulia!"

.

.

.

Semua kembali tenang untuk sang Raja, membuat Sehun memutuskan untuk melangkah ke dalam... memandang seorang Pria yang masih berdiri memandangi salju di luar.

"Aku merasa sangat ingin menemuinya, setelah apa yang terjadi dan apa yang kukatakan padanya" Gumam Pria itu kemudian.

Panglima kerajaan itu terlihat menghela nafas pelan, lalu berjalan mendekati Chanyeol. "Akan lebih baik jika Yang Mulia Baekhyun berada di Istana Utama, sepertinya malam ini akan terjadi badai salju"

"Baiklah.. Perintahkan semua dayang untuk menyiapkan pakaian hangat untuk—

.

.

"YANG MULIA!"

Dua orang dayang tiba-tiba merangsak masuk ke dalam ruangan besar itu, terlihat terengah payah dan salah seorang darinya menangis kacau.

Chanyeol lekas bangkit dari duduknya, menyadari firasat lain akan kedatangan dayang yang kerap bersama Baekhyun itu.

"Apa yang terjadi? mengapa kalian berlari seperti itu?" Sehun berjalan mendekati keduanya

"Yang Mulia Baekhyun t-tidak ada di kamarnya, K-kami sudah mencarinya kemanapun... dari Paviliun Barat hingga Istana utama, tapi Yang Mulia Baekhyum tidak ada di sana" Hanya Je Ni yang mampu melugaskan situasi, sementara Sooyoung terlihat payah menangis ... menyesal Ia kembali membiarkan Baekhyun seorang diri.

"Apa?"Raja Silla itu terlihat terperanjat, sejenak menatap jendela dan berdecak keras melihat angin mulai berhembus kencang.

"Perintahkan pada semua prajurit dan pengawal untuk mencarinya! CEPAT!"

.

.

.

.


"Yang Mulia Baekhyun!"

.

.

.

"Yang Muliaa"

Sesekali terlihat temaram api penerang, redup lalu terang... seiring dengan bagaimana teriakan demi teriakan itu memanggil namanya.

Ia memang tak melangkahkan kakinya kemanapun, selain meringkuk di bawah lorong paviliun itu.. kembali bersembunyi dan melihat semua orang dewasa di luar, tampak panik menyisir setiap tempat.

"Yang Muliaa... anda di mana Yang Muliaa?"

Lagi...

Mereka kembali memanggilnya, tapi rasanya... kedua kaki itu terasa berat, hingga Ia lebih memilih mengabaikannya untuk terisak di tempat ... yang bahkan tak seorang pun tau, kecuali dirinya.

Ya.. satu-satunya tempat yang kerap Baekhyun gunakan untuk bersembunyi dari Seulgi semasa Ia kecil.

Berapa lama Ia ingin menyendiri...

Semula, anak itu memang merasa ciut... tersudut akibat cara bicara Chanyeol yang mungkin terlalu kelas. Tapi.. Kini kembali tak seorang pun tau, Baekhyun semakin terpuruk, menyadari sebab perubahan dari perangai sang Raja.

Ia hanya tau tentang Chanyeol... dan tak seorang pun bisa mengganti peran Pria itu dalam hidupnya.

Baginya, Chanyeol lebih dari seorang Pelindung, lebih hangat dari sosok ayahnya ... Dan Dia kekasih untuknya.

"Nnh.." Baekhyun mengusap kasar linangan air matanya sendiri. Nyaris merintih begitu rasakan dadanya sesak akibat terlalu banyak terisak.

Tapi, Iapun tak bisa berbuat apapun selain menangis

Masih lekat dalam ingatannya, bagaimana Chanyeol setiap harinya memberinya kecupan manis itu.. membisikkan kata cinta yang bahkan tak seorangpun bisa memilikinya. Bertahun-tahun lamanya, hingga dirinya memilki seorang bayi mungil. Hanya Pria itu yang memiliki hatinya

Tentu bagaimana bisa bocah itu menepikan sebagian hatinya, jika semua dunianya hanya terpaut pada sosok Chanyeol. Mendengar Pria itu akan mencari pendamping yang lain... tentu bukan main lagi, betapa Ia merasa sendiri dan terbuang.

Baekhyun kembali meremas kepalanya sendiri, kemana Ia harus mengadu?

Hingga sosok Ayahnya mendadak hadir dalam benaknya.

Ia memaksa beringsut keluar dari celah itu, meski sebenarnya... beberapa batuan di bawah menggores siku dan lututnya.

"Ah.. ssh" Desisnya , reflek memegangi sikunya. Lalu terbelalak melihat tangannya benar-benar berdarah

.

.

.


Ruangan hangat, penuh dengan aroma harum yang menenangkan...

Disanalah Baekhyun kini berdiri, mengamati sekelilingnya.

Tak ada seorang pun yang terjaga... selain lilin kecil yang berpendar di setiap sudut ruang.

Baekhyun mencoba membawa langkahnya mendekat... sesekali menoleh ke belakang, memastikan tak seorangpun melihat dirinya kini menyelinap ke dalam kamar Deokjun.

Tatapannya berangsur redup begitu melihat seorang bayi kini terlelap di atas ranjang, sadari nalurinya yang berbisik ... membujuknya untuk membelai kepala Deokjun.

"Deokjun~ah.." panggilnya ... sangat lirih. Tak berharap seorang dayang yang kini jatuh tertidur di sisi ranjang itu terbangun karna dirinya.

Baekhyun tersenyum, memandangi lekat paras bayi mungil itu. walau sesekali sambil menyeka air matanya. "Jangan sakit... nee?" bisiknya, kembali membelai wajah Deokjun.

"A—aku tak ingin membuatmu sakit. M-Mianhae Deokjun~ah" Namja mungil itu mencoba menyandarkan kepalanya di sisi Deokjun, dan memejamkan mata.. merasa tenang mendengar nafas teratur bayi kecilnya.

"Aku tak ingin A—Ahjjussi marah. Aku—

Ia tercekat isakkannya sendiri, kembali mengingat apa yang sempat terdengar olehnya.

"Sakit.. hks" Lirih Baekhyun sambil meremas dadanya sendiri.

Tak banyak yang ingin Baekhyun lakukan... Ia hanya ingin melihat paras bayi kecilnya.

Mencium keningnya lama... sebelum akhirnya benar-benar beranjak dari ranjang Deokjun.

Tapi sedikiit sentuhan darinya itu, sebenarnya membuat Deokjun terjaga... bahkan bayi itu mulai membuka kedua mata bulatnya.

"Uhnn..." Gumamnya dengan kedua tangan menggapai-gapai ke atas

tapi sayang,

Baekhyun sepertinya tak mendengar... dan tetap berjalan meninggalkan kamar itu.

"Ung~cha"

Deokjun kembali beringsut-ingsut... tengkurap lalu mengerjap melihat siluet Baekhyun semakin menjauh.

"Cha.. " Rautnya berangsur pias dan tak lama setelahnya—

"UWAAAAAAAAAAAA~" Deokjun menangis keras, hingga membuat dua dayang yang tanpa sengaja tertidur itu benar-benar terlonjak ..

"A-Ah... P-Pangeran" Dayang-Dayang itu mulai terbangun

.

.

.


Malam sepertinya benar-benar merajut kelamnya di atas sana..

terasa jelas begitu semilir angin yang semula berhembus tenang, kini mendadak menderu membawa hempasan salju..

Sepertinya.. Badai benar-benar terjadi malam ini.

Membuat siapapun yang melihat, tentu merasa cekam...

Terlebih untuk beberapa sosok yang kini menunggu resah di dalam Istana Megah itu, sebagian terlihat cemas mencari keberadaan Baekhyun.. sementara sebagian yang lain terlihat berusaha menenangkan emosi sang Raja.

Penguasa Silla itu benar-benar tak tenang, mendapati Permaisuri kecilnya pergi entah kemana... dan kini Ia harus memikirkan banyak cara untuk meredam desas-desus dirinya yang ingin mencari pendamping lain. Sejak kapan ini terjadi? entahlah... rumor itu mendadak muncul, tanpa sebab.. dan semua akan benar-benar buruk jika sampai Baekhyun mendengarnya.

.

.

"Yang Mulia Ibu Suri" Seorang dayang terlihat berjalan mendekat. "Kamar Yang Mulia telah kami persiapkan... yang Mulia bisa—

Tapi dayang itu lekas terdiam, begitu Heechul tiba-tiba mengalihkan pembicaraan dengan memandangi jendela di luar.

"Baekhyun belum juga kembali?"

Dayang itu hanya menggelengkan kepala pelan, terlihat sedih melihat Heechul kembali menghela nafas berat.

"Sesuatu yang buruk, sepertinya benar-benar terjadi" Ibu suri itu lekas beranjak, merasa tak tenang.. bahkan memutuskan untuk pergi ke Pavillun Barat. Barang kali Baekhyun bersembunyi di sana.

Apa yang sebenarnya Chanyeol rencanakan saat ini?

Istrinya belum juga kembali dan Pria itu hanya menunggu sambil memberi titah pada prajuritnya untuk mencari Baekhyun?

Tidakkah Chanyeol merasa cemas, jika seseorang mungkin saja mencelakai anak itu atau bahkan menculiknya?

Karna mustahil Baekhyun hanya bersembunyi jika sampai larut malam seperti ini anak itu belum juga kembali.

"Ya Tuhan... Dimana Baekhyun kami sebenarnya?" Gumam Heechul, sedikit menjinjing gaunnya .. demi bisa berjalan lebih cepat.

.

.


Rautnya tak lagi tenang seperti sebelumnya,

semakin gelisah bahkan terlihat Ia benar-benar mencemaskan sesuatu di sini, terlalu berat Ia memikirkannya... baik dari apa yang Ia katakan hingga sikapnya pada Baekhyun, sebelumnya. Ia sepenuhnya tau... dirinya telah melukai hati anak itu,

mungkin karenanya... anak itu enggan bertemu dengannya dan memilih menyembunyikan dirinya dari siapapun

"Yang Mulia..." Seorang Tabib berjalan mendekat, sadari ada yang berbeda dari raut Raja Silla itu. "Mohon ampun Yang Mulia Raja... tapi Yang Mulia terlihat terlalu lelah, hari inipun Yang Mulia melewatkan makan anda"

Chanyeol kembali memijit pelipisnya, sejak pagi ini Ia memang merasa pening... tapi kali ini sepertinya semakin memburuk.

"Aku baik-baik saja"

Tabib itu membungkuk penuh hormat, sebenarnya merasa riskan membiarkan Chanyeol seperti ini. tapi Raja itu tengah berkehendak... sepertinya Pria itu memang akan tetap terjaga hingga Permaisuri kecilnya lekas kembali

.

.

"Dimana Kau sebenarnya?" Gumam Chanyeol lirih.

Berulang kali ia memanggil salah satu utusan... berharap akan terdengar kabar baik mengenai Baekhyun.

Tapi rupanya... hingga saat ini, tak seorangpun tau dimana Baekhyun sebenarnya.

.

.

"Yang Mulia... Tuan Han ingin—

"MASUK!" Teriak Chanyeol, menyela ucapan seorang penjaga pintu itu.

Dan tak lama berselang, Pria besar sebagai utusan Sehun terlihat berjalan menghadap singgasanannya, diikuti prajurit yang lain

"Kau menemukan istriku?"

Pria itu tak bernyali menatap Chanyeol dan hanya tertunduk di hadapan Raja . "M-Mohon ampun... k- kami b-belum menemukan jejak Yang Mulia Baekhyun"

.

Raja Silla itu terbelalak lebar, menggebrak meja sebelum akhirnya menatap nanar pada badai salju di luar istana.

"Di mana Sehun?" Geramnya, nyaris tak bisa menahan amarahnya sendiri... hingga terdengar hela nafas yang memburu darinya.

"Tuan Sehun beserta Prajurit yang lain, masih melakukan pencarian di perbatasan Istana"

"CARI HINGGA KALIAN MENEMUKANNYA! JANGAN BIARKAN ISTRIKU MENGGIGIL DI LUAR SANA!" Gertak Raja Silla itu, membuat semua pengawal dan prajurit perang itu kembali tergopoh ... demi titahnya.

"B—Baik Yang Mulia"

.

.

Chanyeol kembali memandang jendela, badai turun dengan lebatnya di luar sana. Tapi di mana Baekhyun sebenarnya?

Jika saja Ia tau, Baekhyun akan melakukan semua ini... tentu Ia tak akan membiarkan anak itu seorang diri, bahkan bersikap sekeras itu padanya

Semua semakin pelik untuknya, niatan untuk mendidik Baekhyun... rupanya berujung pada kekacauan semacam ini.

Raja Silla itu mulai memejamkan mata, meredam pening yang sedari tadi berdenyut. Tapi Ia mulai menyadari pemikiran yang lain di sini.

Mungkinkah Baekhyun pergi mencari Ayahnya?

.

.

"Tidak.." Gumam Chanyeol, seraya membawa langkahnya beranjak dari singgasananya.

Ia harus memastikannya di sini...

dan berharap Baekhyun benar berada di Negri Goryeo, meskipun kecil kemungkinannya.

Karna anak itu tak tau arah... menuju Tanah Goryeo.

.

.

Tapi tiba-tiba saja, Raja Silla itu berjalan terhuyung. Bahkan terlihat payah memegangi kepalanya sendiri... sebelum Ia bisa memberi titah.

"Y—Yang Mulia Raja.." Panik beberapa petinggi kerajaan yang memang tengah mendampinginya malam itu.

Mereka, bergerak cepat menahan tubuh sang Raja... sebelum Pria itu benar-benar terjatuh.

"Anda baik-baik saja Yang Mulia?" Ujar Ahli perbintangan itu, sambil memegangi lengan Chanyeol.

"..." Chanyeol hanya mendesis, menyipitkan mata... berusaha memperjelas pandangannya yang berkunang.

"B-Baringkan tubuh Yang Mulia Raja" Panik Tabib Shin, memandang cemas pada raut Chanyeol yang pucat. Ia sebenarnya tau, hal ini akan terjadi... semenjak menyadari perubahan raut Pria itu.

Disibukkan dengan semua urusan kekuasaannya, lalu pikiran yang terbebani karena permaisuri kecilnya... tentu menguras tenaga Raja muda itu

"Cari tau... mungkinkah Baekhyun bersama Yong—

Tak sempat terusai olehnya. Chanyeol mendadak tumbang tak sadarkan diri... beruntung, beberapa Pria paruh baya itu menahannya.. meski terlihat payah kala membawa tubuh Sang Raja.

"Yang Muliaa!"

.

.

.

"Apa yang sebenarnya terjadi pada Putraku?" Heechul menghambur cepat ke dalam kamar megah itu, lalu membelai wajah seorang Pria yang terbaring di ranjangnya.

"Yang Mulia Raja... terlalu lelah. Beliau tidak mendapatkan tidurnya dengan baik dan melewatkan makannya hari ini. Tapi kami telah memberi ramuan untuk mengembalikan staminanya" Ujar Tabib Choi, sementara Tabib Shin di seberang tengah.. menyalakan lilin aroma therapi.

.

.

"Semua ini tak harus terjadi" Gumam Heechul, semakin menatap getir. Menyadari perbedaan usia itu, sebenarnya tengah mematik permasalahan pelik di antara Chanyeol dan Baekhyun.

Perlahan Ia membelai wajah Chanyeol. Ibu Suri itu memang tau seberapa hebat Pria itu berkuasa, semua hal selalu bisa Ia perhitungkan meski dirinya masih semuda itu untuk merengkuh tahtanya.

tapi Chanyeol berusaha terlalu keras di sini, memikirkan semua hal... yang Bahkan seharusnya tak menjadi beban untuknya.

Ibu Suri itupun mengerti apa yang mengusik pikiran Chanyeol hingga membuatnya mendadak tumbang seperti ini.

Dirinya yang terlalu mencintai anak itu, tak menginginkan Rakyatnya memandang Baekhyun sebelah mata karena kondisinya saat ini... yang dianggap masih terlalu kecil dan Dia seorang bocah laki-laki. Semua orang tau, Baekhyun belum sepenuhnya mampu menyadari perannya sebagai Permaisuri Raja... kerap bermain sesuka hati, terlalu ceroboh bahkan kerap berulah di manapun Ia berada.

Hingga membuat rakyat Silla merasa ragu dan takut, Sang Raja hanya akan memperhatikan permaisuri kecilnya itu saja dibandingkan dengan memikirkan pemerintahan Silla.

Tapi Chanyeol tak menginginkan semua Rakyatnya berpikir buruk tentang Baekhyun..

Hingga Ia putuskan, memikirkkan segala cara untuk merubah pribadi Baekhyun... meski terpaksa Ia lakukan dengan cara sekeras ini, demi anak itu dan demi rakyatnya bisa melihat Baekhyun mampu dan pantas menjadi satu-satunya pendamping untuknya.

"Ibu tau... kau menyesalinya" Lirih Heechul, sambil meraih tangan Chanyeol. "Kau terlalu memikirkan Baekhyun... dan menyesali sikapmu bukan?" Lanjutnya lagi, meski ia tau.. Chanyeol yang terpejam itu tak mendengarnya.

"Terima istrimu apa adanya.. Ibu tau kau sangat mencintainya" Heechul kembali tersenyum, mengerti maksud Chanyeol di sini ingin mendidik Baekhyun. Tapi sikapnya terlalu keras untuk bocah berperangai lembut seperti Baekhyun, tentu semua ini akan menjadi sekat bagi keduanya... jika Chanyeol ataupun Baekhyun tak saling memahami.

.

.

Ibu suri itu beralih memandang dua orang tabib di sisinya. "Aku mencemaskan kondisinya... apa ini buruk?" Ujar wanita itu.

"Tidak Yang Mulia... sang Raja hanya membutuhkan istirahat yang cukup" Lugas tabib Choi.

.

.

Heechul menghela nafas pelan. "Baiklah... Biarkan Raja tidur dengan tenang. Shin.. kau pergilah bersamaku.. menemui Yong Hwa. Kita harus sampaikan kabar ini pada Raja Goryeo" lanjut Heechul kemudian, bangkit meninggalkan ruangan megah itu.. diikuti Tabib Shin di belakangnya.

.

.

.

.

.

"Yang Muliaaa!"

"Yang Muliaaa Baekhyuuunnn!"

"Anda di Mana yang Muliaaaa"

Hampir dini hari...

Orang-orang itu, terlihat lelah... mulai tak sanggup bertahan di udara sedingin ini untuk mencari Baekhyun, bahkan beberapa di antaranya terpaksa berteduh dan melanjutkan pencarian jika situasi sudah memungkinkan.

Tapi sebenarnya, semua orang itu masih tak menyadarinya..

bocah yang sedari tadi dicari... sebenarnya masih berada di dalam istana.

Menyembunyikan tubuhnya yang kecil di balik gelapnya malam... dan berjalan perlahan menuju sebuah ruangan dengan tubuh bergetar karena menangis.

,

,

Hingga langkah mungil itu benar-benar membawanya tepat di sebuah ruangan, dengan beberapa pengawal yang berjaga di depannya.

"Y—Yang Mulia Baekhyun?" Gagap prajurit penjaga itu, mengucek mata nyaris tak percaya... bocah yang masih di cari itu rupanya berada di depan mereka.

"Semua pengawal tengah mencari Yang Mulia—

"A—Ahjjussi di dalam?" Lirih Baekhyun dengan wajah tertunduk.

Tak pelak membuat beberapa Pria sempat saling melempar pandang tak mengerti. "Y—Ye, Yang Mulia Raja tengah beristirahat di dalam" Jawab seorang darinya.

"Aku ingin ma—suk" Gumam Baekhyun lagi. Tentu membuat penjaga itu saling menyingkir, memberi sekat untuk Baekhyun melangkah masuk.. karena memang ini kamar miliknya bersama Sang Raja.

Selepas pintu besar itu tertutup rapat, para penjaga itu kembali saling melempar pandang. "Yang Mulia Baekhyun telah kembali"

"Mungkinkah semua orang itu sudah mengetahuinya?" Timpal penjaga yang lain.

"Sebaiknya sampaikan kabar ini pada yang lain dan Tuan Sehun"

"Baik..."

.

.

.

.

Langkahnya terlihat tersendat... semakin lemah, begitu hanya siliuet Pria itu yang terpaut dalam pandangannya.

Baekhyun mungkin enggan untuk mendekat, tapi entahlah sebagian darinya memaksa membawa langkah itu terus mendekat... meski Ia tau, dirinya kembali menangis tergugu di sini.

Hingga kedua tangan mungil itu benar-benar menyentuh tepian ranjang, tak banyak yang Baekhyun lakukan selain berdiri memandang Pria yang masih terlelap itu.

"Ahjjussi.." Lirihnya, memandang pias... bahkan bayangan Chanyeol semakin kabur, tersamar dalam air matanya sendiri.

"Ahjussi benar-benar meninggalkan Baek—Hyun?" Ia tercekat gumamannya, kembali mengingat bagaimana Chanyeol memilih sketsa perempuan lain ... beberapa saat lalu.

"Waeyo... Ahjjussi?" Bocah itu mengusap kasar linangan air matanya.

"..."

"A—Ahjjussi mengatakannya... Ahjjussi hanya mencintai Baek-Hyun" Bocah itu kembali meracau lirih, tapi Ia hanya menelan getir... karna Chanyeol tetap terdiam dalam tidurnya.

Terasa semakin berat untuknya, Pagi yang semula tenang dan menyenangkan untuknya kini berangsur menjadi mimpi buruk... kesalahan bertubi darinya dan berujung dengan isak tangis yang tak terdengar oleh Pria itu.

"Baek—Hyun membencinya, jika Ah—Jjusi menikah lagi"

"..."

Baekhyun kembali menghela nafas panjang, semakin sesak dan sakit.. hingga mungkin merasuk di sekujur tubuhnya. Ia mencoba memberanikan diri untuk menatap lebih lekat, bahkan mulai membawa wajahnya untuk mendekat.

Tak peduli sebagian air mata itu kembali mengalir dan menetes di wajah Chanyeol, Ia hanya ingin menyentuh wajah tegas yang selalu dirindukannya itu.

Membelainya perlahan... hingga Ia puas memandang untuk dirinya sendiri. Sempat tertegun kala melihat bibir Chanyeol

Kecupan dan kata manis pernah Ia dapatkan darinya

baekhyun mengulas senyum tipis, sbeelum akhirnya mengikis jarak... dan menyesap bibir bawah Pria itu.

ini terlalu sakit untuknya, Hingga Baekhyun memilih menjauhkan wajahnya. "Saranghae... Ahjjussi" Bisiknya

sembari beringsut dari ranjang itu, kembali memandang wajah Chanyeol

Lalu memaksa memutar tubuh, menuju jendela besar di sudut kamar untuk dipanjatnya. Tak terdengar derap langkah darinya... semua begitu lirih, hingga tubuh mungil itu benar-benar lenyap dari balik jendela.

.

.

.

.

.

"Saranghae... Ahjjussi"

Bisa Ia rasakan betapa manis kecupan kecil itu, tapi mengapa bayangan Baekhyun mulai menghilang

"Ahjjussi..."

Terdengar samar, namun bisa Ia lihat anak itu tersenyum sambil menangis

"Baekhyun?" Ia berlari... mempercepat langkah, berharap lekas merengkuh tubuh mungil itu.

"Saranghae..." Tapi suara Baekhyun kembali menggema, terasa jauh untuk diraihnya

"B-baekhyun!" Ia menggeleng kasar. "Tidak! J-Jangan pergi!"

.

.

"Baekhyun!" Raja Silla itu terlihat gelisah dalam tidurnya.

"BAEKHYUN!" Lalu mendadak terbangun dengan nafas tersengal, membuat para tabib dan penjaga lekas merangsak masuk ke dalam.

"Y-Yang Mulia... anda terbangun?" Ujar Tabib Choi, mendekat demi menyeka keringat di pelipis Chanyeol

"BAEKHYUN! DI MANA BAEKHYUN? DI MANA ISTRIKU?!" Racaunya tiba-tiba, membuat tabib itu berjengit... terlebih untuk beberapa prajurit penjaga di sekitarnya. Bukankah bebrapa saat yang lalu Baekhyun masuk ke dalam kamar? tapi kemana perginya namja kecil itu.

.

"K—Kami melihat Yang Mulia Baekhyun masuk ke dalam kamar" gagap seorang penjaga.

"Apa?" Tabib Choi mulai menatap penuh selidik.

Lalu tak berselang lama setelahnya Sehun dan para pengikutnya datang dengan nafas terengah. "Yang Mulia Baekhyun sudah kembali?" Tanyanya tak sabaran, Ia lekas bertolak dari perbatasan istana begitu mendapat kabar... Baekhyun telah kembali.

tapi hanya ada Chanyeol yang tersengal di dalam kamar itu. "Di Mana Yang Mulia Baekhyun?" Sehun beralih menatap beberap prajurit penjaga itu.

"K—Kami bersumpah... Yang Mulia Baekhyun masuk ke dalam kamar ini sebelumnya"

tak pelak membuat beberapa pria dewasa di dalamnya terhenyak, dan makin terperanjat hebat begitu sadarai jendela kamar Chanyeol terbuka lebar.

Sehun berlari menuju jendela itu. dan berdecak keras... begitu menyadari satu hal di sini. "Baekhyun sepertinya keluar dari jendela ini.."

.

.

"Baekhyun!" Raja Silla itu tiba-tiba memaksa bangkit. Menyentak beberapa tabib yang menahannya untuk berlari keluar.,

mengikuti naluri yang semakin tak tenang , sadari Baekhyun benar-benar tak di sisinya.

.

.

.

Sehun berusaha menarik tangannya, begitu berhasil mengejar Pria tinggi itu. "Hyung... kau tak harus melakukan semua ini, biar kami yang mencarinya. Tubuhmu—

"Apa kau pikir aku akan tenang menunggu, dan membiarkan Baekhyun kedinginan di luar sana?" Sergah Chanyeol, sambil menarik pelana kudanya. "HAKK!" Lalu kuda besar itu benar-benar menyentak, dan beralri cepat membawa Sang Raja di tengah kegelapan.

.

"Bawa semua Pasukan utama... untuk mengawal Yang Mulia Raja. CEPAT!" Titah Sehun, pada beberapa Pria di depannya...

berusaha bergerak secepat mungkin, sebelum kehilangan jejak Penguasa Silla itu.

.

.

.


Tak jauh dari perbatasan Istana itu, terlihat puluhan Prajurit tengah mengawal Ibu Suri.

Beruntung, badai mulai mereda hingga memudahkan mereka melanjutkan perjalanan menuju Negri Goryeo.

Tepat di depan tandu Ibu Suri, dua orang tabib begitu tenang menunggang kudanya, hingga salah seorang yang lebih muda terlihat gelisah... bahkan tak tenang ingin lekas menghentikan kudanya.

"Changmin?" Panggil sang Ayah begitu menyadari perubahan sikap Putranya.

"A-Aku tak bisa melanjutkan perjalanan ini Ayah" Ucap pemuda itu tiba-tiba, tak pelak membuat sang Ayah terperanjat mendengarnya.

"Apa maksudmu? kita harus mengawal Ibu Suri menuju Negri Goryeo"

Changmin menggeleng pelan, sedari tadi Ia hanya memikirkan seseorang. Lalu dirinya benar-benar mengikuti kata hatinya untuk lekas bertolak dari kawanan pengawal.

"Aku harus mencari Yang Mulia Baekhyun... Ayah"

Tabib Shiin semakin terperanjat. "CHANGMIN!" Teriaknya keras...

tapi percuma, pemuda itu benar-benar pergi meninggalkannya. Dan Ia tak bisa melakukan apapun untuk mengejar pemuda itu... demi melanjutkan perjalanannya mengiring Ibu Suri.

.

,

sementara itu, di hamparan salju yang sebenarnya padang ilalang itu. Seorang namja mungil terlihat tertatih membawa langkahnya

Dinginnya malam, kian memburuk kala deru angin beserta salju itu menghujam tubuh kecilnya.

Tak tau kemana Ia harus melangkah, Baekhyun hanya ingin kedua kaki itu membawa tubuhnya menemui Yong Hwa.

"Ayah..." Lirihnya, mengedarkan pandangan ke sekitar... berharap menemukan jalan. Tapi... sudah selama ini ia berjalan, semua yang dilihatnya hanya timbunan salju.

"Uh—" Namun tiba-tiba saja, langkahnya melemah, terlalu berbayang... hingga mungkin membuatnya pening.

Baekhyun menggigil,tak sanggup untuk sekedar memeluk tubuhnya sendiri... lalu terakhir,

Tubuh mungil itu benar-benar limbung, jatuh terjerembab di antara timbunan salju yang tebal.

.

.

.

.


Ringkikkan kuda berbaur dengan derap langkah menembus salju,

semakin teredengar cekam, begitu malam itu hanya bertemankan dengan suara ranting yang berderak

"BAEKHYUN!" Teriak Pria itu, terlihat terengah... nyaris putus asa melihat ke sekelilingnya, Karena Ia benar-benar tak berbekalkan petunjuk apapun selain penyesalan miliknya.

"BAEKHYUN KAU MENDENGARKU?!"

.

.

"BAEKHYUN!"

Raja Silla itu kembali berteriak, semakin kebas... begitu mengingat Baekhyun telah pergi terlalu lama. bagaimana jika sesuatu yang buruk itu benar-benar terjadi.

Hingga tiba-tiba saja, pandangannya menyipit begitu mendengar derap langkah kuda yang lain. Dan Jauh di seberang pepohonan itu, ia melihat sesosok Pria berkuda... tengah menyisir malam, sama seperti dirinya.

Ia mendadak memiliki firasat yang lain di sini, merasa... jika Pria itu mungkin menjadi ancaman untuknya, hingga membuatnya menarik pedang ... lalu membawa kudanya mendekati Pria itu.

.

.

.

"Jika memang Dia pergi dari Istana, seharusnya tidak akan terlalu jauh. Sisa badai Salju... jalanan ini tentu akan sulit di lalui oleh bocah sekecil dirinya" Gumam changmin, kembali menerka, dan membuat perhitungan sendiri.

Hingga tiba-tiba saja Ia dikejutkan dengan pedang yang bertengger di pundaknya, siap menebas kepalanya dari belakang.

"kau.."

Suara Seorang Pria terdengar berat, bahkan menusuk. Changmin seperti mengenal benar pemilik suara itu, tapi... sejak kapan Dia datang.

"Orangku ataukah penyusup" Lanjutnya lagi, masih menekan pedangnya sendiri di leher Changmin.

"Yang Mulia..." tabib muda itu setengah terkekeh, lalu beralih memutar haluan kudanya, tanpa sedikitpun merasa takut jika Raja itu menebas kepalanya.

Chanyeol terbelalak geram, melihat wajah Changmin ... kembali membuatnya mengingat... betapa lancang pemuda itu menyentuh tubuh istrinya.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Gumam Chanyeol menahan amarah.

"Hamba rasa, apa yang hamba lakukan di sini... sama seperti Yang Mulia lakukan" Sahutnya santai

Perangai itu semakin tak biasa, merasa tersulut bahkan... seakan memiliki hasrat untuk menebas kepala Tabib muda itu. "Kau tak memiliki hak, untuk mencampuri urusanku!"

"Tidak.." Changmin beralih menatap tajam Raja Silla itu.

"Hamba hanya ingin melakukan yang terbaik untuk Yang Mulia Baekhyun, sebelum semuanya terlambat" tabib itu memilih memutus kontak, dengan membawa kudanya pergi. meninggalkan Penguasa Silla yang terlihat murka dengan cara bicaranya.

"Yang Mulia, hamba pernah mengatakan ini sebelumnya. Hamba akan mengambilnya... jika Yang Mulia Raja menyakitinya"

DEG

Semua ini terdengar seperti bukan lelucon, Pemuda itu cukup dewasa untuk bermain dengan ucapannya. Hingga amarah itu semakin menggila... dan Chanyeol tak bisa berpikir apapun selain cemburu.

"KEPARAT! KUBUNUH KAU!" Ia memacu kudanya, memaksa berlari lebih cepat ingin menebas tubuh Tabib itu dengan pedangnya

KLANKK

Tapi rupanya, tabib muda itu lihai membaca serangannya..

Ia terlihat memcingkan mata, begitu menahan tebasan pedang Chanyeol dengan pedang miliknya.

"Jika bukan karena Ayahmu! Kau mungkin hanya menjadi tulang belulang tak berguna!"

"Tsk!" Tabib itu menyeringai. "Hamba tak pernah berlindung di bawah nama sang Ayah"

"AAAUUUUUUUUUUU!"

Hingga tiba-tiba saja, keduanya dibuat terperanjat hebat begitu mendengar lolongan hewan malam.

"Serigala salju.." Gumam Changmin tak tenang.

"Serigala?" Chanyeol terlihat menerka raut Tabib Muda itu.

"Lolongan panjang itu tanda, mereka menemukan mangsa"

Chanyeol terbelalak lebar. "Apa maksudmu?!" Sentaknya, tak berharap perasangkanya ini benar.

"ini masih wilayah istana, mustahil rusa berkeliaran di sini. Serigala itu mungkin menemukan mangsa yang lain, mungkinkah itu Yang Mulia Baek—

Changmin tak sempat mengusaikan kalimatnya, begitu melihat Raja Silla itu mendadak memacu kudanya... sama seperti halnya dirinya, Ia beralih membawa lari kuda hitam itu, mencari-cari darimana lolongan itu berasal. Berharap jika dugaannya kali ini salah...

"AUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU!"

Lolongan itu semakin panjang, tak ingin menerka... tapi pemikirannya terlanjur memberinya isyart jika serigala itu tengah memanggil kawanan yang lain untuk mencabik tubuh mangsanya.

Sejak kecil Ia diajarkan berburu di malam hari... bagaimana Ia membidik dan bagaimana Ia menghidari bahaya hewan malam, tentu hal semacam ini mudah untuk dipahaminya.

.

.

Tiba-tiba saja kuda keduanya meringkik tak tenang, dan enggan melanjutkan langkahnya

Chanyeol terlihat geram... tak seharusnya hewan itu membangkang di saat genting seperti ini. Lalu Ia putuskan untuk mengambil jalan yang lain.. tapi—

"jangan merubah haluan!" Tabib itu berseru keras, tetap membawa kudanya melangkah lurus meski Ia tau... Hewan besar itu berusaha menolak.

"Perilaku kuda ini, mungkin menunjukkan... serigala itu tak jauh dari jalan ini" gumam Changmin kemudian

Hanya kali ini saja, Ia bersedia mendengar Tabib itu. Semua demi Baekhyun, dan Ia benar-benar memaksa memacu kudanya melalui jalan penuh dengan salju yang tebal itu.

.

.

"GRRRRR!"

Benar saja...

terlihat puluhan pasang mata yang berkilat... tengah berlari dari ujung hutan. Terdengar erangan dan derap kaki binatang malam itu, seakan haus akan darah dan daging segar.

dan tak jauh dari kawanan serigala itu, sesosok tubuh tengah meringkuk di tengah hamparan salju.

"Baekhyun!" Chanyeol terlihat menggila, begitu meyakini tubuh mungil itu pastilah Baekhyun. Penguasa Silla itu lekas menarik pedang... lalu memacu kudanya secepat mungkin ... sebelum binatang buas itu berhasil mengoyak tubuh namja kecilnya.

.

.

Liur menetes, mengiring betapa lapar insting itu ingin mencabik santap malamnya. Satu lompatan panjang siap menerkam tubuh manusia itu.. lalu—

SRAATTTTTT

Tubuh Serigala itu mendadak terbelah dan terlempar di sisi Baekhyun.

Chanyeol berteriak geram, begitu serigala yang lain datang... tak hanya satu bahkan lebih dari 10 binatang buas itu mengincar tubuh Baekhyun.

"ARGHH!"

SRAAT!

SRAATT!

Pedang yang lain turut menebas, menghalau beberapa Serigala yang ingin menerkam kuda Chanyeol, bahkan ingin menyerang tubuh Raja Silla itu

"CEPAT BAWA BAEKHYUN!" Teriak Changmin, menjadi tameng agar Chanyeol lekas turun untuk mengangkat tubuh Baekhyun.

"Aku akan menyelesaikan sisanya!" Pemuda itu kembali melayangkan tebasannya, tak peduli seberapa brutal Ia membunuh serigala itu. Ia hanya ingin memastikan, Chanyeol benar-benar membawa Baekhyun dengan aman, meski tak tau... bocah itu baik-baik saja atau tidak.

Raja Siilla itu sejenak memandang lekat, wajah bocah dalam rengkuhannya. Sempat terdengar hela nafas lega darinya, begitu masih meraakan denyut nadi dan nafas hangatnya.

ia beralih menoleh ke belakang, tepat pada Changmin yang masih menghalau serigala yang melompat ke arahnya.

Tak ingin mengakuinya... tapi Ia benar-benar berterima kasih kali ini.

.

.

"GRRR!"

SRAATTTTT!

Raja Silla itu sempat menusuk kepala Serigala yang berlari ke arahnya, lalu setelahnya memacu cepat kudanya... meninggalkan tempat penuh dengan aroma anyir itu.

Tak jauh darinya, Ia mulai kelip penerang yang lain... semakin Ia mendekatinya semakin jelas Ia melihat Sehun beserta puluhan pengawalnya.

.

.

"Hyung!" panggil Panglima itu, menghentak kudanya untuk lekas menghampirinya. Dan betapa terkejutnya Ia melihat Baekhyun dalam rengkuhan Raja Silla itu.

"Kau menemukannya... Apa Yang Mulia Baekhyun terluka?"

"Kuharap Dia baik-baik saja " Gumam Chanyeol, kembali memandang redup.. bocah mungil dalam dekapannya itu.

"Bawa pasukanmu mengikuti jalan ini, dan bantu seorang tabib di sana" Titah Chanyeol.

"Tabib?" Sehun mengernyit tak mengerti.

"Pemuda itu membantuku menyelamatkan Baekhyun" Pungkasnya sebelum akhirnya, mengerahkan kudanya untuk kembali menuju istana.

Panglima itu masih mengernyit, tapi tetap mengikuti titahnya... membawa semua prajurit itu menyusri jalan itu. Demi menemukan Tabib yang raja itu maksudkan.

.

.

.

.

"YANG MULIA RAJA TIBAAAAA"

Terdengar teriakan lantang dari penjaga gerbang itu,

mengiring gerbang besar yang mulai terbuka... detik itu pula Kuda perkasa itu membawa Sang Raja memasuki Istana Silla.

Terlihat para abdi Istana itu berlari tergopoh, ingin menyambut Penguasa Silla itu... dan sebagian terlihat menangis, melihat Baekhyun rupanya kembali dalam kondisi tak sadarkan diri.

.

.

"SHIN!" Chanyeol terlihat tergesa membopong tubuh Baekhyun ke dalam istananya, berulang kali Ia memanggil seorang Tabib... tapi Pria itu tak kunjung muncul

"SHIN! DI MANA KAU!"

Seorang Tabib Yang lain terlihat menghampiri, dan membungkuk penuh hormat. "Mohon ampun Yang Mulia... tabib Shin tengah mengawal yang Mulia Ibu Suri menuju kerajaan Goryeo" Ujar Tabib Choi

Chanyeol berdecak keras. "Persetan dengan alasan itu! Lakukan sesuatu... pada tubuh Istriku!" Paniknya, seraya mendekap tubuh Baekhyun yang semakin dingin itu.

"B-Baik Yang Mulia, mohon untuk membaringkan tubuhnya di ruangan yang hangat"

.

.

.


Lilin penerang... aroma yang menenangkan kbenar-benar menguar memenuhi kamar megah sang Raja.

Baekhyun yang sebelumnya terlihat kacau dengan pakaian tipisnya, kini terbaring di atas ranjang besar itu... tapi masih saja, meski Ia mengenakan pakaian tebal dan berlapis-lapis selimut tebal. Wajah anak itu tetaplah pasi, dan menggigil hebat.

"Y-Yang Mulia Baekhyun terlalu lama bertahan di tengah salju. Ramuan yang kami minumkan... sepertinya tak cukup membuat tubuhnya hangat" Sesal tabib Choi, kembali berusaha membubuhkan lumatan herbal penghangat di tangan dan kaki Baekhyun.

"Aku tak ingin kau banyak mengeluh! lakukan yang terbaik untuk menyelamatkannya!" Gusar Chanyeol, semakin habis kesabaran melihat paras bocah itu semakin membiru.

Tabib Choi terlihat ragu, tapi Ia tetap mencoba memberanikan diri untuk menatap sang Raja.

"Ramuan itu membutuhkan stimulus lebih. M-Mohon Yang Mulia Raja menghangatkan tubuhnya... agar ramuan itu bekerja dengan baik"

"..."

Pria itu lekas terdiam, tak banyak bicara karena memang Ia mulai mengerti maksud dari ucapan tabib itu.

.

.

.

"Pastikkan tak seorangpun masuk ke dalam" Titah Chanyeol pada tabib dan para pengawal itu, sebelum akhirnya menutup rapat kamar megah miliknya.

.

.

Sejenak menatap getir, pada Baekhyun yang masih menggigil di bawah selimutnya

lalu perlahan ia beringsut mendekatinya,

menyingkirkan semua selimut bahkan menanggalkan pakaian anak itu hingga telanjang seutuhnya.

Tatapannya lekas meredup, melihat... betapa pucat tubuh anak itu.

Tak ingin mengulur waktu lebih, Ia lekas menanggalkan pakaiannya sendiri... lalu memeluk tubuh anak itu tanpa selapis sekatpun, kecuali selimut tebal yang membungkus tubuh keduanya.

"Maafkan aku.."Bisiknya seraya mengecup ceruk lehernya, dan meniup bagian itu dengan nafas hangatnya.

Berkali-kali Ia mengecupi tubuh anak itu di bawah selimut, berharap panas tubuh dan peluhnya ... bisa menghangatkan Baekhyun.

Hingga bibir mungil yang pasi itu, tak luput dari ruamannya

Menghisapnya berulang... bahkan mengeratnya dengan giginya hingga perlahan terlihat merah dan basah

.

"Mnn~.." Baekhyun mulai melenguh.

"Baekhyun" Panggilnya lirih, mengamati raut wajah yang masih terpejam itu.

"Hks..."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

NEXT CHAPT

"Kau Permaisuriku, dan Aku hanya ingin menyentuhmu..."

"..."

Baekhyun tertunduk, terlihat pasif... bahkan saat Pria itu melumat bibir kecilnya.

"Ku mohon... katakan sesuatu" Pria itu kembali memohon

"..."


HAAPPY BAEK DAY

Yooo LOFL Update

Lanjut or gantung?

.

Yg mau lanjut repiew juceyoooo

LyWoo , ParkBaek267, kykykykykyk, JY01 , restikadena90 , IpahPyromaniac , byun minyoung , korocbhs6104, Chanyeolliee , Innocent Vee , Sparkbyunb, MeAsCBHS, veraparkhyun , Tiara696 , Yana Sehun, lee da rii , dytdyt , Riinnchan, yuanitadian , Poppy20, byunlovely, ByunSoo614 , channiebaek, socloverqua, dwi yuliantipcy , Hunnieh , Flowerinyou, Shengmin137, byun minyoung, derpwhiteboy , bejigurl , Retyass, Anuchanyeoltegan, Chanchan , Aisyah6104, TanClouds, Yeolliebee , bbhyn92 , Dsianz610494, AdisKMH, Byunsilb, ChaNeul , blankyoss , zahrazhafira335, Ray Umyeong , gajah cantik, LightPhoenix614 , baekachu, Jusniati EXO-L, dayahbyun, PureLight26, Incandescence7 , EvieBeeL , selepy, Loey761, YvkariKim, Markeu Noona , dianarositadewi4 , daebaektaeluv , luv110412, Sparkbyunb , khakikira, vryeol , minami Kz, BananaOhbanana, TobenMongryong , Park RinHyun-Uchiha, AlexandraLexa, istiqomahpark01, RatedMLovers614 , Nimas736 , sehunluhan0905, pongpongi , YuRhachan, baekbygirl, 270492 , Keiko Yummina , ChanBaekGAY , bblossom614 , elisabethlaurenti12399 , babymaghfiroh, Elputry , jeyjong , meliarisky7, B , stirhma, Whitetan, bbysmurf , Marshamallow614 , MadeDyahD, jakun nya baek , urib61, yousee, SMLming, vhyo3107 , eito8, sintaexolsinta1, daeri2124, phikhachu, alietha doll, chanbaek , PRISNA CHO, BaekHill , isnadhia, fitri azaly , aeriaa, korocbhs6104 , inchan88 ,Sobyeoool , Hyo luv ChanBaek , metroxylon, yellowfishh14, yun minyoung, Marsmallow , ,hulas99, Baby Loey, Nurul Qamariahsyarif, handahunkai, ChanBaek3769, dan All Guest (sorry kaga semua)

Thx A Lot...

review okay

kaga review apdet ngaret