Chapter 5 : Bersiaplah bertarung dan tersenyum
Di tengah area latihan tim 7 Boruto berlari mengikuti sumber cakra yang semakin jelas.
"Hah-hah...hah..."
"Akhirnya kau tiba, Boruto." Ucap Kakeknya di atas pohon.
"Iya tepat sesuai perkiaanku... ji-chan bangkit sebagai edo tensei... Siapapun yang menggerakanmu, aku akan menghentikanmu!."
"Hebat juga cucuku ini. Meskipun tandanya hampir sama, kamu bisa membedakan paggilan bicara dengan tantangan. Nah, sekarang pilihlah senjatamu, waktunya hanya 5 detik."
Selama 5 detik Boruto berusaha menggapai puncak pohon dan mengambil senjata yang menggantung. '1...2...3...' Senjata pertama Katana dengan panjang sedang berwarna hitam dan yang kedua... '4...5!'. Waktu habis Minato langsung menggunakan Hiraishin dan muncul di depan Boruto dengan jarak 1/2 meter.
'Sial, aku terlambat. Aku tidak bisa mundur.' Dengan terpaksa Boruto meningkatkan kecepatan dan menebas Kakeknya dengan Katananya.
"Tring..."
Suara besi kunai dan katana saling beradu hingga keduanya mundur. Namun kali ini wajah Boruto dihiasi seringai tajam, selama mundur menjadikan batang pohon di belakang tubuhnya untuk pijakan kakinya agar bisa bergerak cepat seperti melompat dan menebas Kakeknya dengan gerakan yang diajarkan Sasuke.
'Jreek... jreek...' "Bruk..." Suara tebasan Katana di tubuh Minato karena tidak sempat dihindari. Sementara itu Boruto langsung berdiri diatas dahan pohon yang lain. Dan saat berbalik ingin membalas serangan tadi tubuh Minato langsung jatuh ke yang melihat hasil kemampuan menebasnya, dengan seringai kemenangan dan secepatnya turun sebelum ia benar-benar beregenerasi. Tubuh Minato terbagi-bagi menjadi 6 bagian, tubuh atas dan bawah terpisah pergelangan tangan juga ikut terpotong. Boruto langsung mengacungkan Katananya di sekat leher Kakeknya namun dengan tatapan datar.
"Kau ini benar-benar hebat, Boruto..." Ucap Minato pasrah.
"Jangan langsung menyerah begitu. Ingatlah satu hal kita belum mengajukan peraturan permainan tantangan ini." Ucapnya datar lalu menarik kembali Katananya. "Mengapa?"
"Kalau begini aku tidak akan menunjukan semangat api yang kumiliki. Ini akan jadi pertarungan yang panjang, dan yang terlihat hanya kesadisan diri sendiri juga lawan. Dan pada akhirnya menjadi kesedihan, kalau bertarung tanpa target yang jelas... Oji-san harus mengajukan peraturannya." Jawabnya sambil tersenyum lalu kembali mengacungkan Katananya di wajah Minato.
"Begitu ya... Ternyata cucuku ini sangat sadis... Peraturannya apa ya...Tidak boleh salah satu dari kita mati. Mungkin itu saja." Minato terkekeh dibalik kenyataannya cucunya baik ternyata ada kesadisan.
"Huh, padahal Oji-san udah mati meskipun aku tebas terus pun kau tidak akan pernah berhenti. Kalau aku, pertarungan ini waktunya 45 menit dan tidak boleh pakai Hiraishin." Boruto menghela nafas lalu mengangkat Katananya.
"Setuju." Balas Minato.
"Ayo mulai."
'trinnk... trinnk... trinnk...' suara pedang katana dan kunai yang beradu menggema disekitar area pertarungan sudah 15 menit berlalu tidak ada yang mengalah. "Hah-hah... Hah."
"Apa kau mulai lelah?" Tanya minato yang tetap seperti biasa.
"Masih belum, perlu kuakui siapapun yang menggerakanmu punya pengalaman bertarung yang hebat."
'Trinnk...'
"Kau juga punya gerakan cepat tapi masih butuh waktu delay."
Keduanya saling mundur boruto mengambil nafas sebanyak banyaknya. 'Baiklah aku mulai recanaku.'
"Kage-bunshin non jutsu." Seru boruto lalu muncul 10 bushin. Boruto memberi kode lalu mengangguk paham. "Baiklah ayo serang!" Seru semua 8 bushin menyerang Minato termasuk Boruto yang asli, sementara 3 lainnya kepuncak pohon atas membuat perangkap.
'Trink... Trinnkk...' Banyak sekali suara adu senjata jarak dekat. Tidak ada bushin yang hilang semuanya bergerak sangat cepat, Minato yang bertarung 10 menit dengan bushin dan Boruto yang asli sedikit kewalahan.
"Hah-hah..."
'trinnk...'
"Baik kita mulai...!" Seru seluruh bushin dan yang asli. Semua bushin menyiapkan kawat dari besi tipis dan mulai menjerat Minato, dan yang asli membuat cidori yang dialirkan ke pedang katana bersiap untuk menebas. Minato sudah hampir terjerat sepenuhnya, beberapa bushin menghilang karena harus melambat saat mengikatkan kawat ketubuh Minato. Minato sedikit kesal karena semuanya ternyata bushin, hingga tinggal 1 bushin tersisa Minato tidak bisa bergerak lagi.
"Terima ini hujan senjata." Boruto melempar katananya bersamaan dengan pedang dan kunai yang berjatuhan dari langit.
'Jleb-jleb... Jleb...' Banyak pedang, kunai, suriken menancap di tubuh Minato. Namun, adapula yang menancap di tanah sekitar kawat. Minato yang baru membuka mata terkejut melihat pedang listrik yang dilemparkan kepadanya. Karena peraturannya tidak bisa mengunakan hiraisin membuatnya terpaksa menerima tusukan pedang yang diarahkan padanya.
'Jleb. Criiikkk... Criiikkk...'
Ternyata semua senjata dan kawat yang menancap di tubuh Minato membuat jurus itu bertahan lebih lama dan tubuhnya tidak bisa bergerak. "Ayo kita akhiri...! Ucap Boruto yang asli bersama 4 bushin yang tersisa menggumpulkan cakra di tangan lalu melompat tinggi. Semakin lama bola Rasengan semakin besar, 3 bushin menghilang untuk memperbesar jutsu tersebut. Tersisa 1 bushin dan Boruto yang asli jatuh dengan membawa Rasengan hampir seukuran Ao Dama Rasengan.
Mata Minato terbelak melihat ukuran Rasengan yang dibuat Boruto, tidak sadar kalau efek pedang listrik sudah hilang dan tetap mematung di tempat.
"Terima ini ji-chan. Rasenggaan...!"
'Doomm' Minato menahan Rasengan dengan kedua tangannya.
"Haaahhh..." Namun Boruto menambah cakranya dan memutarnya berlawanan arah. Lalu Rasengan meledak di tempat dan Boruto terpental, tanah retak bersamaan dengan hancurnya pelindung yang dibuat. Efeknya masih berlangsung hingga membuat cahaya kilawan seperti suriken dan gelombang angin yang bisa terasa sampai keluar pelindung (sama kayak Canon).
"Hah...Hah...hah... Membuat, Rasengan sebesar itu membuat lenganku kaku. Tebassa..." "Boruto..."/"Onii-chan." Seru Tou-san, Okaa-san, juga Imuto ku. "Boruto. Kau baik-baik saja?" Tanya Hinata. "Ha'i. Aku tidak apa-apa. Tapi yang tadi itu, tidak akan membuat gerakanya berhenti lama."
Perlahan-lahan tubuh Minato mulai bergenerasi hingga seluruh tubuhnya utuh.
"Tou-chan?!" "Selamat malam, Naruto." Balas Minato sambil mencabut semua senjata juga lilitan kawat.
"Kenapa tidak bilang kalau Tou-chan yang merencanakan ini. Tebbayo?" "Sekali-kali membuat kejutan dan ujian dadakan tidak masalah kan?"
"I-tu benar... Tebanee...!" Ucap Kushina dengan suara seram memegang bahu Naruto dengan kostum sandoko.
"Hoaa... App-a itu?" Kaget Naruto.
"Obaa-chan... hentikan itu." Ucap Boruto bosan. Sementara Kushina tertawa kecil lalu melepas rambut palsu dan menghapus make up yang ia kenakan.
"Okaa-chan." "Kenapa terlalu menakutkan ya?"
"Ini tidak lucu. Lalu kenapa Tou-chan dan Kaa-chan datang tiba-tiba begini?" Tanya Naruto.
"Sebenarnya..."
- Skip Time pukul 21.15 -
Di area pemakaman dinyalakan api ungun kecil untuk menghangatkan suasana dan memberikan penerangan di sekitar.
"Ternyata cuma karena masalah itu..." Ucap Naruto sweetdrop mendengarnya.
"Ini penting! Aku ingin bertemu cucu dan menantu perempuanku. Tebaa-nee..."
"Aku juga ingin menguji Boruto dan memberinya hadiah." Sambung Minato.
"Lalu kenapa kau mengabulkan permintaan mereka Sensei?" Tanya Naruto pada Kakashi.
"Itu semua karena ancaman Kushina. 'Akan kuhantui kau Tebanee!'. Aku terpaksa melakukannya." Jawab Kakashi.
"Hah... Ini membuatku hampir panik." "Tou-chan. Ayo foto bersama." Ajak Hima menarik lengan baju ayahnya. Lalu dijawab anggukan.
"Onii-chan... Ojii-chan... Ayo foto bersama..." Seru Hima pada kakak dan kakek nya yang sedang bicara berdua di dekat pohon.
"Oh, ha'i"
Semua orang mengambil posisi Hinata paling pinggir sebelah kiri, kemudian Himawari, Kushina, Minato, Boruto, Naruto, lalu Kakashi. Yang mengambil foto bushin Naruto.
"Chise..." Terambil 5 foto dengan berbagai gaya mulai dari senyum biasa, berpelukan, bercanda, tertawa sampai Kushina marah pun terambil.
Hari ini sangat menyenangkan sekarang pukul 21.45 saatnya kami pulang...
"Baiklah, pertemuan kita sudahi." Ucap Minato.
"Sayonara Baa-chan." "Sayonara Himawari, Hinata."
"Naruto dengar ini... Cepat selesaikan perkerjaanmu, dan seringlah latih Boruto. Jangan pulang terlalu malam, dan jangan biarkan Kage bushin mu berkeliaran di luar lingkungan kantor Hokage untuk keperluan yang tidak penting." Tegas Kushina. Naruto sweetdrop melihat Kushina yang masih cerewet. Namun, pernyataan yang terakhir membuatnya bingung.
"Yang terakhir itu maksudnya apa?"
"Naruto Kage bushin memang memudahkan pekerjaanmu. Tapi jangan gunakan untuk keperluan lain." Jelas Minato.
"Dari mana tou-chan tau aku menggunakan kage bushin untuk tugas Hokage?" Tanya Naruto.
"Boruto memberi tahu."
Semua pendangan dialihkan ke arahku. Lalu aku menghela nafas 'sepertinya perlu kuberi penjelasan'.
"Dari yang kulihat, saat siang kage bushin membeli barang belanjaan mereka membeli dengan ceroboh dan orang lain jadi tidak mendapatkan barang yang mereka inginkan. Lalu ada yang berdebat bila pilihan mereka berbeda, mungkin itu menggangu pengunjung toko lain." Hening sejenak. "Bagaimana menurutmu?" Tanyaku balik.
"Kalau begitu aku tidak akan menggunakan cara itu lagi... Gomen-nasai."
"Tidak apa-apa ini bisa jadi pelajaran." Balas Minato.
"Baiklah waktu habis." Kakashi lalu membuat segel membatalkan jutsu Edo tensei. Lalu tubuh Kushina dan Minato bercahaya lalu perlahan lahan menghilang.
Suasana hening karena tidak ada yang bergerak atau bicara. Hingga aku mulai melangkah pergi.
"Ayo pulang ini sudah larut." Ucapku langsung melangkah pergi.
To Be Continue...
Huh... update juga! Entah kenapa jadi sepi yang review dan cerita ini mulai sulit untuk di tuangkan ke dalam tulisan, karena daya hayal Author yang tanpa batas. Maaf karakter Mitsuki belum muncul sampai sejauh ini, nanti di chapter 6 baru muncul. Ini dia balasan review untuk para pembaca:
R1:lanjut aku penasaran siapa hantu ketiga selain kedua boneka kagutsu.
AU: Emm... Sebenarnya hantu cuma 2. pertama boneka kukutsu yang digerakan Kakashi dan kedua, Kushina yang nyamar jadi sandoko.
Review and Perview Please!
