Bagian IV: Ungkapan dan Permohonan
Itu bukan bagian yang menyenangkan untuk di ingat. Namun Baekhyun ingin mengenang selamanya, mengingat betapa beruntungnya ia memiliki Chanyeol sebagai pasangan hidupnya.
Wajah lelap Chanyeol tak bosan Baekhyun lihat sejak tadi. Malam sudah semakin tinggi dan deru nafas Chanyeol menenangkan Baekhyun tanpa alasan yang bagus.
Sudah 4 tahun berlalu sejak hari kelam itu terjadi. Baekhyun sudah terbiasa dengan keadaannya, ia sudah bisa menerima keadaannya yang lumpuh. Hanya dirinya... mungkin Chanyeol tidak.
Baekhyun yang bodoh sampai tak bisa menyadari jika jenuh mungkin Chanyeol rasakan terhadap dirinya.
Chanyeol takkan bisa sepenuhnya hidup dengan janji, "aku akan berusaha keras untuk terapi agar bisa berjalan lagi." nyatanya 4 tahun sudah berlalu dan Baekhyun masih membutuhkan kursi roda sebagai kakinya yang baru.
"Mengapa belum tidur?" Kelopak mata Chanyeol terbuka dan segera bersibobrok dengan bening milik Baekhyun. Ia menyentuh wajah Baekhyun sesaat lalu menarik selimut untuk menutupi pundak Baekhyun yang telanjang.
"Aku membuatmu kesakitan?" Tanyanya lagi.
Baekhyun menggeleng cepat. "Aku baik-baik saja."
"Lantas?" Kejar Chanyeol.
Baekhyun menghela nafas berulang seolah itu mampu melonggarkan sesak dadanya.
"Chanyeol..." ia memanggil nama pria itu.
"Hm?" Chanyeol menjawab.
Pelupuk mata Baekhyun menguap lagi dan beningnya menyapa pipi kembali.
"Baekhyun." Chanyeol terkesiap melihat Baekhyun yang lagi menangis. "Ada apa?" Ia beringsut lebih dekat dan menyeka buliran air mata itu dengan segera.
"Tak apa Chanyeol, kau bisa mengatakannya padaku." Suara itu pelan menguar namun nyatanya mampu menyentak rongga dada Chanyeol dengan keras.
"Hanya jangan menutupinya dariku..."
"Baekhyun..." Chanyeol tertegun. Ia menarik Baekhyun segera dalam pelukan dan mendapatkan tangisan suaminya itu di atas dadanya.
"Aku tau aku adalah suami yang buruk, aku adalah bebanmu selama ini. Aku takkan menyalahkanmu Chanyeol hanya saja-"
"Kumohon hentikan," Chanyeol memotong. "Kau tidak seperti itu. Kau adalah suami terbaik dan kau tak pernah membebankanku selama ini. Jangan pernah mengatakan hal itu pada dirimu sendiri Baekhyun, jangan pernah." Chanyeol menekan semua katanya dengan penuh penegasan.
"Aku tau kau akan menceraikanku..."
DEG
Namun kalah dengan dengungan lirih untuk menciptakan dentuman keras yang menyapa rongga Chanyeol. Matanya melebar sedang lidahnya berubah kelu dalam sahutan.
Baekhyun mendengus pelan, perlahan menarik dirinya dalam pelukan pria itu. Ia menatap Chanyeol terluka dan itu mengingatkan Chanyeol akan tatapan serupa sejak Baekhyun dinyatakan lumpuh beberapa tahun silam.
"Aku tidak akan menceraikanmu Baekhyun..." Chanyeol menutur akhirnya. "Aku takkan."
"Jangan menabur obat di atas luka yang belum terbuka Chanyeol." Lirih Baekhyun. "Itu takkan menghasilkan apapun."
Chanyeol tergugu. Ia hilang kata dan Baekhyun perlahan menarik tatapannya kembali.
"Maafkan aku," katanya nyaris tak terdengar. "Kau pasti sangat lelah tapi aku malah membebankamu lagi."
"Baekhyun..." Chanyeol menariknya lagi dalam pelukan. "Maafkan aku." Dan hanya itu yang dapat Chanyeol lakukan.
Memangnya, apa artinya semua itu?
:::
Pagi menjadi canggung tanpa perencanaan. Baekhyun bangun lebih cepat-ia bahkan tak tidur semalam dan mulai menyiapkan sarapan di dapur.
Hari senin adalah hari yang sibuk. Chanyeol akan berangkat ke kantor dan Jackson dan pergi ke sekolah. Baekhyun sudah menyiapkan air untuk mandi Chanyeol juga setelan yang akan pria itu kenakan.
Baekhyun kemudian menuju kamar anak-anak. Jackson berada di kamar mandi dan Jesper memilih melanjutkan tidur dengan duduk di atas paha Baekhyun.
"Njes bangun sudah pagi, saatnya cuci muka dan gosok gigi." Baekhyun membangunkan si bungsu.
"Njes masih mengantuk." Anaknya itu merengek. Matanya seberat lemari, kembali terpejam.
"Lihat Njek hyung bahkan sudah mandi." Baekhyun menunjuk Jackson yang baru saja keluar dari kamar mandi. Handuk melilit pinggangnya yang kurus dengan harum sabun anak-anak menguar seisi kamar.
Jesper melirik dan memperhatikan saudara tertuanya itu berbenah. Jackson telah belajar mandiri dengan memakai seragamnya sendiri, ia bahkan bersikeras bisa menyisir rambutnya pula walau dengan gaya kacak kabul.
"Kemari sayang," Baekhyun memanggil sulungnya itu. Jackson datang menghampiri, menyerahkan sisir miliknya kepada Baekhyun dan berdiri di depan orangtuanya itu.
"Njek semakin tinggi," kata Baekhyun, menyadari Jackson tak lagi harus berdiri di atas tempat tidur untuk menyamai tinggi mereka.
"Aku tinggi seperti Dadda." Jackson menyahut dengan riang.
Baekhyun tersenyum sebagai tanggapan, "Ya, Njek akan tinggi seperti dadda."
"Juga tampan seperti dadda!" Sambungnya.
"Njes juga!" Jesper menyeletuk.
"Njes bahkan tak mau cuci muka," Baekhyun mengejek main-main. Si bungsu mendengar hal itu dengan tak suka segera bangun dari paha Baekhyun dan berlari masuk ke kamar mandi.
"Njes akan cuci muka sekarang!"
"Jangan lupa gosok gigi juga." Baekhyun menyambung. "Pastikan untuk tidak menelan pasta giginya, oke?"
"Njes tidak!" Geleng Jesper sebelum menghilang di balik pintu.
Baekhyun tersenyum lebar mendengar hal itu sebelum memfokuskan dirinya pada Jackson kembali. Rambut si sulung telah tersisir rapi dan Baekhyun beralih pada seragam Jackson. Ia memperhatikan dan semuanya sempurna kecuali sabuk yang belum terpasang.
Baekhyun membantu memakaikan ikat pinggang itu setelahnya. Terakhir membubuhkan bedak tabur dan minyak telon pada lehernya.
"Aku tidak mau pakai minyak telon." Tolak Jackson. "Baunya seperti Jesper."
Baekhyun menahan tawa, "Mengapa tidak?" Tanyanya.
"Aku sudah besar Papa. Aku akan berumur 8." Ia menunjukkan 8 jarinya pada Baekhyun.
"Benarkah? Anak Papa ini sudah besar?" Baekhyun menarik ujung hidungnya dengan gemas.
"Aku sudah besar dan tinggi seperti dadda! Aku juga tampan seperti dadda." Serunya.
"Benar," Baekhyun mengangguk. Ia menatap menyeluruh wajah anaknya itu dan kembali membenarkan apa yang si sulung katakan. "Njek semakin mirip dengan Dadda."
Jackson kembali berseru senang tak benar menyadari bagaimana suara Papanya itu berubah rendah. Pun tak menyadari adanya sosok lain yang memperhatikan mereka sedari tadi.
Chanyeol.
:::
Teriakan membahana menyambut Chanyeol yang memasuki dapur.
"Dadda pulang!" Itu adalah Jackson yang segera melompat turun dari kursi dan berlari menuju Chanyeol.
Chanyeol tertawa dan dengan sigap menyambut tubuh itu dalam gendongan. Ia melirik Jesper dan menemukan si bungsu duduk diam pada tempatnya; menerima suapan dari Baekhyun dan hanya menatap Chanyeol tanpa ekspresi apapun.
"Dadda mengapa tidak pulang? Rindu~" Jackson merengek.
"Maaf, dadda memiliki sedikit pekerjaan." Chanyeol meringis pelan mengatakannya. Ia menempatkan Jackson duduk pada tempatnya semula sebelum menempatkan dirinya pada kursi yang lain.
Chanyeol menatap Baekhyun dan menemukan suaminya itu menghindari matanya disana. Baekhyun tak melihatnya sama sekali sedang tangan lincah bergerak mendekatkan tiap mangkuk berisikan makanan itu kepada Chanyeol.
"Papa membuat kue yang sangat besar dan enak," kata Jackson lagi. Ia kemudian menceritakan apa yang terjadi selama Chanyeol tak berada di rumah, kegiatannya di sekolah juga apa yang ditontonnya di televisi.
"Njek makan sarapannya dulu sayang." Baekhyun menegur lembut. "Nanti terlambat ke sekolah."
"Tapi ada Dadda yang akan mengantar ke sekolah," Jackson membela diri. Ia mencondongkan tubuhnya pada Chanyeol dan kembali merengek. "Benar bukan Dda?"
"Tentu saja." Sahut Chanyeol cepat. "Tapi sebelum itu selesaikan sarapanmu, oke?"
"Oke!" Si bocah berumur 7 tahun itu berseru.
Meja makan kembali diam diantara sumpit yang beradu memecah sunyi sesekali. Chanyeol menatap Baekhyun berulang namun yang ia temukan lagi sifat acuh Baekhyun padanya.
"Yang ini?" Suara Baekhyun terdengar sesekali ketika Jesper menunjuk lauk yang diinginkan. "Enak?" Tanyanya kemudian.
"Selesaikan sarapanmu juga Baek." Chanyeol berucap akhirnya. "Sini aku akan menyuapimu." Chanyeol telah bersiap menyumpitkan segumpal nasi dan menyodorkannya kepada Baekhyun.
"Aku sudah sarapan." Baekhyun menolak dengan halus tanpa menatap Chanyeol sama sekali. "Ayo Njes, suapan terakhir." Baekhyun beralih kepada anaknya.
Chanyeol bukan tak tau bagaimana Baekhyun tengah menghindarinya. Baekhyun marah, tentu saja itu menjadi hal yang wajar. Hanya saja... Chanyeol tak siap menghadapi situasi ini. Ia bahkan luput memikirkan hal ini akan terjadi setelah apa yang tengah ia lakukan.
"Dda aku sudah siap." Jackson memberitau sekaligus membuyarkan lamunan Chanyeol. Chanyeol masih tak bereaksi saat Jackson turun dari kursi dan mulai memakai sepatunya.
"Bekalnya sayang." Baekhyun mendorong kursi rodanya keluar dari meja makan dengan kotak bekal milik Jackson di atas pangkuan dan menghampiri si sulung.
"Aku yang akan memberikannya." Chanyeol bangkit segera, mengambil kotak bekal itu dari paha Baekhyun tanpa melihat bagaimana Baekhyun bereaksi.
Punggung lebar Chanyeol, Baekhyun tatapi dalam diam dan disanalah Baekhyun sadar Chanyeol tak mengenakan setelan kerja yang telah ia siapkan. Chanyeol mengenakan sweater dengan jins gelap membuat penampilannya terlihat santai. Pikir Baekhyun, ini adalah senin, apakah Chanyeol tidak ke kantor?
Namun Baekhyun menyimpan pertanyaan itu dalam hati. Ia kembali ke meja makan, menata kembali alat makan itu dan ia bawa menuju wastafel. Jesper membuat pekerjaan Baekhyun menjadi mudah dengan membantu membawa beberapa.
"Njes ingin ikut mengantar Njek hyung ke sekolah?" Dari depan Chanyeol bertanya dalam teriakan.
Jesper reflek melihat Baekhyun, "Apa Papa ikut?" Ia bertanya.
"Papa tidak ikut. Pergilah." Baekhyun menjawab.
"Njes tidak ikut." Jesper menjawab dalam teriakab pula agar Chanyeol dapat mendengarnya. Ia melanjutkan langkah membawa mangkuk kotor terakhir ke dalam wastafel tanpa tau lagi kecewa menyusupi Chanyeol untuk penolakan berulang dari anak keduanya itu.
Baekhyun mengetahuinya dan tau betul bagaimana perasaan Chanyeol. Jackson melakukannya dulu dan Baekhyun pun tak pernah merasa sekecewa itu ketika buah hatinya sendiri menolak semua yang hal yang ingin ia lakukan.
"Mengapa Njes tidak ikut?" Baekhyun bertanya disela pekerjaannya.
"Papa tidak ikut." Jesper menjawab dengan alasan serupa.
"Tidakkah Njes suka jalan-jalan? Dadda bisa membelikan kue kesukaan Njes juga." Baekhyun mulai merayu.
Namun Jesper menggeleng, "Jika Njes ikut, Papa akan sendiri di rumah."
Baekhyun terenyuh hanya dengan ungkapan polos tanpa dosa dari bungsunya itu. Baekhyun tau jika Jesper sangat manja padanya namun tak pernah menyadari bagaimana Jesper sepeduli itu, seperhatian itu terhadapnya.
Baekhyun merasa buruk. Ia akan selalu menghabiskan waktunya di rumah, tahun depan Jesper akan masuk sekolah namun sampai sekarang Jesper seolah tak ingin lepas darinya. Bagaimana jika apa yang Jackson pikirkan dulu kembali terulang pada Jesper?
"Apa Njes membuat Papa sedih?" Jesper bertanya tiba-tiba.
"Huh?"
"Papa menangis." Tangan kecilnya terulur pada wajah Baekhyun dan menemukan sebaris bening meluncur jatuh pada kulit wajah itu.
Baekhyun terkesiap. Ia menjadi lebih sensitif akhir-akhir ini dan kembali menangis di depan anak-anak.
"Ini hanya air." Baekhyun menyangkal. "Lihat," ia menjentikkan kecil air keran yang tengah mengucur kepada Jesper. Bocah itu sontak tertawa dan berlari menghindari serangan air yang Baekhyun lakukan.
"Papa membuat hujan!" Teriaknya dalam gelak tawa. "Njes basah."
"Setelah ini kita mandi bersama bagaimana?"
"Mau!" Jawab Jesper dalam seruan. "Yeayy mandi bersama Papa."
:::
"Belajar yang rajin, oke..." Chanyeol berujar sembari mengusap puncak kepala Jackson.
"Dadda akan menjemput bukan?" Jackson bertanya sebelum turun dari mobil. Mata bulat serupa akan miliknya itu tertaut dalam harapan dan kontak menyipit dalam lengkungan ketika kepala Chanyeol terangguk dalam persetujuan.
"Yeay! Bersama Papa juga?" Tanya Jackson antusias.
"Hanya jika Njek menjadi siswa yang rajin."
"Aku akan menjadi rajin dan baik hari ini!" Seru Jackson senang. "Sampai bertemu nanti Dadda!" Ia membuka pintu mobil dan bergegas turun. Tangannya melambai dua kali kepada Chanyeol sebelum menghilang di antara siswa-siswa yang lain.
Dan Chanyeol mulai memikirkan bagaimana cara membujuk Baekhyun kali ini.
Nafasnya terbuang dalam deru berat sebelum kembali berbaur dengan jalanan. Ponsel bergetar di dalam saku jinsnya dengan sebuah panggilan masuk disana.
Nama Yoojung tertera sebagai pemanggil benar melenyapkan seluruh sisa senyum milik Chanyeol seketika.
"Kau tidak masuk kantor hari ini?" Itu adalah sambutan yang Yoojung berikan saat sambungan itu Chanyeol terima. Nada bicaranya datar terdengar dan Chanyeol tau wanita itu tengah memendam kesal padanya.
Chanyeol memang berencana untuk tidak masuk kerja hari ini dan akan menghabiskan waktu seharian di rumah. Rasanya sudah lama sekali sejak ia menggunakan waktu liburnya dan melihat bagaimana antusiasnya Jackson membuat Chanyeol semakin urung untuk berangkat pergi.
"Tidak," Chanyeol menjawab singkat.
"Mengapa?"
"Aku memiliki hal yang harus kukerjakan di rumah." Chanyeol memberi alasan.
"Jadi kau akan berada di rumah seharian ini?" Yoojung membuat kesimpulan. "Baiklah." Ia memutus panggilan sepihak tanpa niatan memberikan Chanyeol respon yang lain.
Chanyeol menyimpan ponselnya kembali dan sebenarnya tak benar peduli akan Yoojung.
:::
Yerin merupakan asisten rumah yang datang setiap jam 9 pagi dan selesai setelah jam makan siang berakhir. Ia bekerja membersihkan rumah, belanja mingguan dan mencuci juga menyetrika pakaian setiap 3 hari sekali. Tadi pagi, gadis yang masih mengenyam pendidikan kuliah itu menghubungi mengatakan datang sedikit siang karena memiliki kelas pagi dan mengujarkan maaf karena telah merepotkan.
Sejak lumpuh dan semua kegiatan Baekhyun menjadi terbatas, Chanyeol memperkerjakan seorang asisten rumah namun Baekhyun menolak jika memasak tidak lagi menjadi tanggungjawabnya.
Baekhyun bercita-cita menjadi koki. Ia telah berencana untuk masuk jurusan Culinary Art namun hanya menjadi rencana ketika ia harus menikah dengan Chanyeol.
Chanyeol memberikan ijin untuk Baekhyun masuk Universitas impiannya, namun tak sampai setahun ketika ia mengandung Jackson dan Baekhyun memutuskan untuk berhenti dan memfokuskan diri menjadi seorang suami juga Papa untuk anak-anaknya saja.
Namun Baekhyun belajar banyak melalui internet, ia senang bereksperimen terhadap menu baru dan Chanyeol selalu menjadi juri dadakan mengomentari masakannya.
Semua adalah sempurna, Chanyeol bahkan menganjurkan agar Baekhyun membuka restoran saja namun ia tolak dengan alasan bayi yang akan lahir.
Dan ketika telah memiliki Jackson juga Jesper, maka kesukaan Baekhyun mengolah makanan juga hidangan pemanis beralih kepada Jackson juga Jesper yang dengan senang hati menghabiskan semua itu.
Baekhyun selalu mengisi waktu luangnya di dapur dan bergelut dengan seluruh bumbu-bumbu hidangan. Namun tidak dengan hari ini, penat tubuhnya memenuhi setelah ia selesai mandi bersama Jesper dan Baekhyun hanya ingin berbaring saja di kamar.
Baekhyun tak tidur semalam dan pikirnya itulah alasan mengapa kantuk juga pusing menyerangnya kini. Baekhyun memutuskan untuk tidur di kamar dengan Jesper yang bermain seorang diri di ruang tengah. Baekhyun juga telah mewanti-wanti agar Jesper tidak mendekati dapur dan si bungsu mengangguk mengerti lalu tenggelam bersama tumpukan mainannya disana.
Chanyeol pulang dan mendapati Jesper bermain seorang diri di ruang tengah tanpa adanya sosok Baekhyun di sekitar bocah itu.
"Hei Jagoan." Chanyeol menghampiri Jesper dan menempatkan dirinya di samping anak keduanya itu. "Apa yang sedang kau lakukan?"
"Memasang lego." Jesper menunjuk kumpulan berbahan plastik itu kepada Chanyeol.
"Benarkah? Apa kali ini, kastil?" Chanyeol menebak.
"Kastil Njes sudah selesai minggu lalu. Sekarang Njes membuat tank."
"A-ah seperti itu..." Chanyeol merutuki dirinya sendiri atas hal yang luput ia ketahui.
"Omong-omong dimana Papa?"
"Papa tidur. Papa pusing."
"Papa sakit?" Chanyeol terkejut diikuti khawatir menyusupi dengan cepat. "Selesaikan tankmu sayang, Dadda akan menemui Papa, hm?"
Jesper memberikan anggukan pelan dan kembali bersama dengan potongan-potongan lego miliknya.
Chanyeol memasuki kamar, menemukan Baekhyun yang berbaring di atas tempat tidur dengan posisi memunggungi pintu. Dengan pelan Chanyeol menutup pintu dan melangkah mendekati Baekhyun.
Telapak tangannya menapak di atas kening Baekhyun dan bersamaan dengan itu Baekhyun terjaga dan sedikit banyak terkejut dengan kehadiran Chanyeol disana.
"Kau sakit?" Chanyeol bertanya khawatir.
Baekhyun menggeleng cepat, "hanya mengantuk."
"Jesper bilang kau pusing, sudah minum obat?" Kejar Chanyeol lagi.
"Aku tidak apa-apa," jawab Baekhyun pelan. Ia memejamkan matanya, berusaha menghindari Chanyeol dengan tidur kembali.
Chanyeol jelas tau hal itu. Baekhyun yang bersikap dingin bahkan tak ingin melihatnya sama sekali. Baekhyun bahkan tak bertanya mengapa Chanyeol masih berada di rumah bukannya bekerja seperti yang selalu pria itu lakukan.
Keterdiaman mengisi ruang kamar itu. Chanyeol masih berada pada tempatnya, duduk memperhatikan paras Baekhyun lekat sambil sesekali mengusap rambutnya dengan lembut.
"Kau tau aku sangat mencintaimu bukan?" Lirihan itu tertangkap halus oleh Baekhyun. Usapan telapak tangan besar itu ikut menyapu helai rambutnya pula namun bukan alasan membuat Baekhyun menatap pemilik tangan itu kembali.
"Kau adalah segalanya bagiku, kau tau hal itu 'kan?"
Chanyeol bukan pujangga yang pandai merangkai kata untuk sekedar menggoda. Chanyeol payah dalam hal itu namun apa yang tertuang dari lidahnya adalah apa yang menjadi benar adanya, perasaan miliknya dan sampai sekarang masihlah bergetar untuk satu orang yang sama.
Baekhyun. Hanya Baekhyun.
"Katakan sesuatu," Chanyeol meminta. "Jangan mendiamiku seperti ini."
"Kau ingin aku mengatakan apa?" Baekhyun bertanya diikuti mata terbuka dan segera bertemu pandang dengan Chanyeol disana. Beningnya sendu, menyedot Chanyeol dalam keterpakuan.
"Baek-"
"Aku hanya kecewa karena harus mendengar semua ini dari Ibu. Harusnya kau memberitauku sendiri,"
Baekhyun benci menyadari suaranya yang kembali bergetar. Ia benci ketika harus mengatasi perasaannya dengan hormonal yang tengah menghinggapi pula. Itu hanya akan membuatnya semakin menyedihkan, payah, si lemah yang tak bisa melakukan apapun.
"Aku tidak baik-baik saja Chanyeol." Dan tangis Baekhyun pun pecah.
Chanyeol terkesiap, cepat menumpukan lututnya pada lantai guna berhadapan dengan paras Baekhyun yang mulai basah. Ia menyeka buliran air mata itu hati-hati dan menyangkali semuanya walau ia tau semuanya tak memiliki arti apapun lagi.
"Maafkan aku..." Chanyeol menutur penuh sesal.
"Kau akan menceraikanku 'kan?"
"Baek-"
"Aku tau aku membebanimu selama ini, tapi kau tak pernah mengatakan bagaimana aku menyulitkanmu selama ini. Kau hanya perlu mengatakannya padaku dan aku akan mengerti, tidak seperti ini. Kau menyakiti dirimu sendiri juga aku."
"Baekhyun itu tidak benar." Chanyeol menggeleng menyangkali. Ia meraih jemari Baekhyun dan menggenggamnya dengan erat. "Kau tak pernah membebaniku, kau tak pernah menyulitkanku selama ini."
"Itu berarti kau sudah berhenti mencintaiku."
Chanyeol mencolos dengan apa yang didengarnya. Bola mata melebar seolah oksigen tercabut paksa dalam paru lantas di gantikan panah menghujam dalam dada.
"Aku sangat mencintaimu Baekhyun. Aku-" Chanyeol menggigit dinding mulutnya dengan gusar. "Aku hanya tidak memiliki pilihan."
Baekhyun terdiam dalam ketidakpahaman atas apa yang Chanyeol katakan. Ia menunggu sedang retina mengikuti bagaimana resah Chanyeol terpampang jelas disana.
Chanyeol memaki dirinya sendiri. Si pengecut yang bahkan tak bisa berbicara sedikitpun kecuali mengumbar kalimat basi yang tak bisa membantu apapun.
"Aku tak memiliki pilihan selain melepasmu Baekhyun."
Baekhyun melihat tombak berkarat itu lagi terhunus pada dadanya. Baekhyun tak tau rasanya bisa sesakit ini, pikirnya ia akan siap ketika Chanyeol mengatakan semuanya. Berbicara jujur dan Baekhyun pikir lagi ia memiliki hati selapang itu untuk menerima semuanya.
Chanyeol menumpu wajahnya di atas tangan mereka yang tertaut. Pria itu menangis disana dan pundaknya bergetar tertangkapi jelas oleh Baekhyun.
"Apa dengan melepasku kau akan lebih baik?"
Sesenggukan Chanyeol terhenti ketika pertanyaan Baekhyun kembali menguar.
"Apa kau akan bahagia?"
Chanyeol menarik wajahnya cepat dan menatap Baekhyun tak percaya. "Baek-"
"Kalau begitu, ayo kita bercerai Chanyeol."
Retakan terdengar bersahut. Suaranya mengerikan sampai merampas pita suara bahkan untuk satu kalimat saja.
Baekhyun memaksa senyum, memaksa ujung bibitnya berkedut walau itu membuat retak hatinya menganga dalam luka semakin lebar.
"Aku tak ingin bertanya alasannya karena itu hanya akan membuatku terlihat tidak berguna." Baekhyun menjatuhkan pandangannya pada tangan mereka yang tertaut lalu perlahan menarik jemarinya, membuat logam serupa milik mereka bergesekan dalam halus dentingannya.
"Apa kau sudah memiliki surat pengadilan yang bisa kutanda tangani-"
"Aku tidak akan pernah menceraikanmu Park Baekhyun." Berat suara Chanyeol memecah kalimat Baekhyun seketika. "Kau adalah sumber kebahagianku, kau adalah segalanya bagiku jadi berhenti mengatakan omong kosong-"
"Maka berhentilah mengatakan omong kosong juga Chanyeol," Baekhyun memaksa dirinya bangun dari posisi berbaringnya lalu beringsut pada pinggir tempat tidur dan menggapai kursi rodanya.
Chanyeol meraih lengan kurus itu cepat, mencengkramnya dalam tekanan lalu menarik tubuh mungil itu dalam dekapan.
"Perasaanku padamu bukanlah omong kosong." Ucap Chanyeol.
Baekhyun tersedat hanya dengan menyadari posisi mereka juga bagaimana Chanyeol berulang menguraikan perasaannya. Baekhyun tak bisa berpikir jernih, apakah itu sebuah kebohongan atau hanya sekedar kain kasa yang menghentikan rembetan darah sesaat.
"Bisakah aku tetap bertemu anak-anak setelah kita bercerai nanti." Baekhyun mengigit bibir kuat. "Bisakah kau biarkan mereka tinggal bersamaku?"
"Park Baekhyun..." Chanyeol meraung dalam frustasi.
"Kumohon..."
:::
Yerin baru saja hendak menutup pintu pagar ketika sebuah mobil berhenti tepat dikediaman majikannya itu. Ia urung masuk dan menunggu pemilik mobil keluar.
Seorang wanita berada di balik kemudi, keluar dan menutup pintu mobilnya dalam satu dorongan. Matanya menerawang, menatap kediaman itu menyeluruh sebelum berhenti pada Yerin.
"Apa benar ini kediaman Park Chanyeol?" Ia bertanya.
"Ya, benar. Ada yang bisa saya bantu?" Yerin bertanya sopan.
"Katakan padanya jika aku datang."
"Maaf dengan siapa?"
"Choi Yoojung."
bersambung
Hai, bertemu lagi hehe... terima kasih udah baca ff ini juga memberikan review.
