Suatu malam di Uchiha mansion terlihat dua orang pemuda tampan berambut raven, keduanya tampak sedang duduk santai diruang keluarga sambil menonton televisi.
"Nii-san!" panggil si raven model chicken butt.
Orang yang di panggil Nii-san itu menoleh. "Hn. Ada apa Sasuke?"
Sasuke menyandarkan tubuhnya di sofa. Ia memejamkan matanya. "Aku tidak habis pikir dengan kelakuan teman-temanmu itu," ujarnya.
Itachi tersenyum tipis dan ikut menyandarkan tubuhnya di sofa tepat disamping Sasuke. "Jangan dipikirkan Sasuke, nanti kau pusing sendiri." Itachi terkekeh.
"Tapi Nii-san, teman-temanmu aneh."
"Memang."
Sasuke melotot kearah sang kakak. "Kau sendiri? Kenapa mau berteman dengan makhluk-makhluk absurd itu?"
Itachi menerawang, memandang langit-langit mansion mewah tersebut. "Hmm... punya teman itu tidak harus yang waras kan? Kami berteman karena kami saling merasa nyaman satu sama lain, itu saja." Itachi menjawab dengan tenang.
Sasuke memandang Itachi dengan pandangan aneh. "Itu saja?"
"Hn."
"Tapi kau jadi aneh, karena bergaul dengan makhluk aneh seperti mereka, Nii-san."
"Begitukah?"
Sasuke mengangguk mantap.
Itachi tersenyum. "Tak apa, yang penting kami masih berteman." Itachi menjawab enteng. "Oh iya, kamu jangan terlalu meremehkan Akatsuki otouto, nanti kalau kamu ingin bergabung ditolak loh," ujar Itachi dengan senyum menggoda.
"APA? BERGABUNG DENGAN AKATSUKI? ITU TIDAK MUNGKIN NII-SAN!"
Itachi semakin melebarkan senyumnya. "Jangan bilang begitu otouto nanti..."
"Cukup! AKU TIDAK AKAN DAN TIDAK MUNGKIN BERGABUNG DENGAN AKATSUKI NII-SAN!" teriak Sasuke sambil melengos pergi memasuki kamarnya, meninggalkan sang kakak yang masih tertawa.
"Jangan bilang begitu Sasuke, nanti..."
"TIDAAKKK!"
.
.
.
.
Disclaimer: NARUTO by Masashi Kishimoto
Rate: T
Genre: Friendship, Humor
Summary: Kisah mengenai persahabatan 11 orang dengan tingkah ajaib mereka. Akatsuki, geng yang katanya paling disegani di KSHS, tapi..
Siapa mereka?/Mereka Akatsuki. Geng paling terkenal disini./ Wah.. keren dong./ Heh..Kau belum tahu saja.
Nii-san./ Hn./Teman-temanmu aneh./Memang./
Warning: OOC, typo, EYD berantakan, no bashing chara, bahasa tidak formal.
.
.
.
.
'Mind'
"Talk"
.
.
.
.
Don't like, don't read
.
.
.
.
Happy reading
.
.
.
.
Chapter 3: Calon Anggota Baru
.
.
.
.
Seorang pemuda berambut raven sedang berjalan santai memasuki halaman KSHS. Ia terus berjalan dengan tenang sampai ia mendengar sebuah suara cempreng yang menggelegar memanggil namanya.
"Oy, Sasuke!" panggil seseorang dari arah belakang.
Pemuda berambut raven yang dipanggil Sasuke itu menoleh dan mendapati seorang siswa berambut kuning jabrik sedang berlari kearahnya.
"Ohayou Teme!" sapa pemuda berambut kuning jabrik yang bernama Naruto itu dengan senyum lima jarinya.
"Hn, ohayou dobe," sahut Sasuke singkat. Ia kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat terganggu akibat teriakan menggelegar barusan.
"Oy, teme!" panggil Naruto lagi sambil mensejajarkan langkahnya dengan Sasuke.
"Hn." Sasuke menjawabnya (?) tanpa menolehkan kepalanya.
"Kakakmu anggota Akatsuki kan?" tanya Naruto.
"Hn."
"Bagus, ini akan lebih mudah." Naruto kembali memperlihatkan senyum lima jarinya.
Sasuke yang merasa ada keanehan dengan sahabat pirangnya hanya dapat mengangkat alisnya bingung. "Apa maksudmu dobe?" tanyanya.
Naruto kembali tersenyum lebar sambil menghadap ke arah Sasuke. "Aku ingin menjadi anggota Akatsuki, teme."
Sasuke terdiam, ia mengedipkan matanya.
1 detik
.
5 detik
.
10 detik
.
30 detik
.
1 menit
.
5 menit
.
"APPAAA?!" Sasuke berteriak di depan wajah Naruto dengan OOCnya.
Naruto mengelap wajahnya yang terkena semburan hujan lokal Sasuke. "Ish... apaan sih teme? Memang ada yang aneh?" tanya Naruto dengan polosnya.
"Kau yang apa-apaan dobe? Masa mau bergabung dengan makhluk-makhluk absurd macam Akatsuki itu sih!" ujar Sasuke panjang lebar gak pake titik koma.
Naruto memiringkan kepalanya bingung dengan ucapan Sasuke yang menurutnya mirip kereta ekspress itu. "Apa maksudmu teme?" tanyanya polos.
Sasuke menggeretakkan giginya kesal, ia menghembuskan napasnya. "Sekarang kutanya padamu dobe, kenapa kau mau bergabung dengan mereka?" tanya Sasuke berusaha sabar.
Naruto menganggukkan kepalanya. "Mereka itu keren teme."
Sasuke membelalakan matanya. "APA KAU BILANG? KEREN?"
Naruto mengangguk dan tersenyum lebar. "Ya, dan AKU AKAN BERGABUNG DENGAN MEREKA! CAMKAN ITU SASUKE!" teriak Naruto dengan suara super soniknya.
Sasuke hanya mendengus. "Terserah kau, tapi jangan libatkan aku." Sasuke kembali melangkahkan kakinya meninggalkan teman kuning berisiknya itu.
"Eitss... tunggu dulu!" Naruto menarik tangan Sasuke, menahannya agar tidak pergi.
"Apa lagi dobe?"
"Hei, aku akan menjadi anggota Akatsuki begitu juga denganmu."
Sasuke memandang Naruto. "Apa maksudmu?"
"Aku akan mengajakmu untuk bergabung dengan Akatsuki juga," sahut Naruto sambil kembali tersenyum lebar tanpa menyadari aura di sekelilingnya yang mendadak suram.
"Dobe."
Naruto menoleh kearah Sasuke. "Ada apa teme?"
"Sudah kubilang..."
Naruto terdiam menunggu ucapan Sasuke selanjutnya.
"AKU TIDAK SUDI BERGABUNG DENGAN MEREKA, DOBE!"
.
.
.
.
NGINNGGG...
Pein dan antek-anteknya mengorek-ngorek telinga mereka yang terasa berdengung.
'Ada apa ini? Seperti ada yang membicarakan Akatsuki,' batin para anggota Akatsuki bersamaan.
.
.
.
.
Waktu istirahat di KSHS, para anggota Akatsuki sedang berkumpul di markas mereka yaitu berkat gudang penyimpanan alat olahraga yang telah disulap menjadi ruangan layak huni lengkap dengan berbagai fasilitasnya.
Tok... tok...
Terdengar pintu markas mereka diketuk.
"Nagato, buka pintunya!" perintah Pein seenak jidatnya.
"Ogah. Siapa loe?" sahut Nagato nyolot, ia kembali melanjutkan permainan PSnya yang sempat tertunda.
"Kisame..."
"Males."
Sebuah perempatan muncul di dahi Pein, ia menghembuskan napasnya pelan.
"Hidan, buka pintu..."
"Tanggung leader, lagi seru nih."
Pein menggeretakkan giginya, ia hendak menggebrak meja saat tangannya ditahan oleh Konan.
"Gak usah ngerusak properti markas, biar aku yang buka." Konan menatap Pein tajam.
Glek.
Pein menelan ludahnya susah payah. "Ba-baik Konan-chan."
Konan melagkah ke arah pintu dan membukanya perlahan.
"Selamat siang senpai!" sapa orang diluar.
Konan memperhatikan tamunya, dua orang siswa yang satu berambu pirang dengan cengirannya dan yang satunya berambut raven dengan aura suramnya.
"Siapa dan ada perlu apa?" tanya Konan ramah.
"Namaku Naruto dan dia Sasuke," sahut Naruto sambil memperkenalkan dirinya dan ayam (?) disebelahnya. "Dan kami ada perlu dengan Pein senpai," sahut siswa bernama Naruto.
Sasuke mendelik tajam kearah Naruto. "Kami? Hanya kau dobe, aku tidak sudi," ujarnya tajam.
Konan membuka pintunya lebar-lebar, mempersilakan tamunya masuk. "Masuklah, Pein dan yang lain ada didalam."
"Terima kasih senpai," ujar Naruto sopan sambil menarik tangan Sasuke.
Sasuke menyentakkan tangan Naruto. "Sudah kubilang, aku tidak sudi DOBE!"
Naruto kembali menarik tangan Sasuke, kali ini lebih kuat. "Aku tidak mau tahu teme, kau harus menemaniku."
Akhirnya Naruto berhasil membawa Sasuke masuk walau dengan 'sedikit' paksaan. Sasuke memalingkan wajahnya enggan melihat segala hal absurd (menurutnya) yang akan ditemuinya di dalam.
"Konichiwa senpai!" sapa Naruto sambil membungkukan tubuhnya.
Mendengar suara cempreng Naruto membuat Sasuke akhirnya menolehkan kepalanya dan ia terbelalak seketika melihat ruangan yang dimasukinya tersebut. Isi ruangan tersebut jauh dari bayangannya. Gudang bekas tempat penyimpanan alat olahraga itu behasil disulap menjadi sebuah markas layak huni yang cukup bersih lengkap dengan berbagai fasilitasnya.
Sasuke mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan tersebut. Ditengah ruangan terdapat sebuah TV flat lengkap dengan DVD player dan perlengkapan playstation dengan Nagato dan Hidan yang sedang bermain PS disana. Dibelakang mereka digelar sebuah karpet lembut berwarna merah maroon yang menjadi alas dengan tiga pemuda beda warna rambut (merah, kuning, hitam) yang sedang berbaring seperti ikan cuwe di atas karpet tersebut, dan sepertinya Sasuke mengenal baik pemuda berambut raven panjang tersebut.
Tak jauh dari ketiga ikan cuwe tersebut tedapat sebuah meja yang di kelilingi 3 buah sofa yang masih menghadap ke arah TV. Lalu di pojok kanan terdapat sebuah kulkas.
"Selamat datang, ada perlu apa kalian kemari?" sapa Pein, ia bangkit dari sofa dan mempersilakan tamunya duduk.
Itachi yang sedang menjadi ikan cuwe bersama Sasori dan Deidara menolehkan kepalanya karena mendengar suara yang familian di telinganya. "Lho Sasuke? Mau apa?" tanya Itachi kepada adiknya.
Sasuke hanya mendengus dan membuang wajahnya kesal.
"Kau kenal dengannya Tachi, un?" tanya Dei.
"Ya, yang berambut ayam itu adikku," sahut Itachi santai tanpa menyadari aura yang mengelilingi tubuh sang adik.
"Oh, jadi kau adiknya Itachi?" Pein kembali mendudukkan dirinya di sofa setelah kedua tamunya duduk. "Jadi ada perlu apa?"
"Umm.. Jadi begini senpai, kami datang kesini karena ingin berga..."
"SERANG, HAJAR DIA!" Terdengar suara teriakan yang menginterupsi pembicaraan 'penting' tersebut yang asalnya dari seorang pemuda berambut putih aka Hidan yang sedanga bermain PS.
"Ehem... silakan dilanjutkan!" ujar Pein setelah Hidan tidak bersuara lagi dan kembali serius dengan permainannya.
"Jadi senpai, kami ingin berga..."
"HEAHH... MATI KAU!" Terdengar suara teriakan lagi tapi kali ini berasal dari Nagato.
"Sila..."
"KAU YANG AKAN KALAH NAGATOOO!"
"Silakan dilan..."
"ITU TAK AKAN TERJADI HEAHH!"
DOR... DOR... DOR...
Ctak
Sebuah perempatan muncul di dahi Pein, ia menggeretakkan giginya geram. Pein melepaskan sepatunya.
GAME OVER
"TIDAKK... AKU KAL..."
DUAGH...
Sebuah sepatu mendarat dengan mulus mengenai kepala ubanan milik Hidan yang membuatnya tepar seketika, sudah jatuh tertimpa tangga, poor Hidan.
"HAHA... RASAKAN ITU. AKU MENA..."
BUAGH...
Lagi sebuah sepatu melayang dan kali ini megenai kepala merah Nagato dengan mulus yang membuatnya menyusul sang sohib.
"Ehem." Pein kembali berdehem. "Silakan dilanjutkan Naruto, itu namamu kan?"
Naruto mengangguk. "Jadi kami kesini karena kami ingin..." ucapan Naruto terputus, ia menelan ludahnya gugup.
Semua para anggota Akatsuki yang tersisa memusatkan pandangan mereka kepada pemuda pirang tersebut.
"... kami ingin bergabung dengan kalian." Akhirnya Naruto berhasil menyelesaikan ucapannya.
Sasuke kembali mendengus sambil membuang mukanya. "Kuralat, bukan kami tapi hanya kau dobe."
Hening.
Semua mata para anggota Akatsuki (minus Nagato dan Hidan) terbelalak, mereka sedang mencerna informasi yang baru mereka dengar itu.
1 detik
.
10 detik
.
30 detik
.
1 menit
.
5 menit
.
10 menit
.
"APPAAA?"
.
.
.
.
Suasana didalam markas Akatsuki itu masih hening, semua perhatian tertuju kepada kedua bocah tak diundang yang tiba-tiba datang dan mengatakan ingin bergabung dengan mereka.
"Ehem." Pein kembali berdehem sekaligus mencairkan suasana. "Jadi, kalian ingin bergabung dengan kami?" tanya Pein sok berwibawa.
Naruto mengangguk antusias. "Ya, senpai."
BRAK...
"SUDAH KUBILANG KALAU AKU TIDAK SUDI DOBEEE!" teriak Sasuke geram sambil menggebrak meja.
"Hei, hei, tenang dulu bro," ujar Kisame.
"Santai saja otouto. Jujur saja kalau kau memang tertarik dengan Akatsuki kan?" ujar Itachi dengan senyuman mengejeknya.
"DIAM KAU!" sentak Sasuke.
"Tidak usah gengsi Sasuke, akui saja kalau..."
Syuuttt...
Sebuah sepatu melayang ke arah Itachi yang bersumber dari sang adik.
"Ugh... dimana ini?"
BUAGH...
Namun sayang sepatu itu tidak mengenai Itachi karena si sulung Uchiha tersebut dapat menghindar, tapi sepatu itu tetap memakan korban, seorang pemuda berambut putih yang harus merelakan kepala putihnya mendapat ciuman mesra dari sebuah sepatu lagi. Poor Hidan.
"Ehem... simpan sepatumu Sasuke!" tegur Pein kepada Sasuke yang hendak melemparkan sepatu yang sebelahnya lagi ke arah sang kakak yang kini tengah memperlihatkan cengiran kemenangannya tanpa mempedulikan temannya yang tepar akibat ulah adiknya.
Sasuke mendengus dan memakai kembali sebelah sepatunya.
"Ehem... jadi kau serius Naruto?" tanya Pein.
Naruto kembali menganggukan kepalanya dengan penuh semangat #awasnanticopotlho#plak.
Pein mengusap dagunya seolah tengah berpikir serius, sedangkan anggota Akatsuki lainnya terdiam sambil melongo.
'Heh, Pein sedang berpikir? Tidak salah tuh?'
'Woah... ternyata leader bisa mikir, un.'
'Leader sedang apa ya?'
Kira-kira begitulah isi pikiran para anggota Akatsuki tersebut.
Pein nampaknya telah selesai berpikir, kini ia malah menyeringai sambil menatap bocah pirang di depannya.
"Baiklah Naruto, tapi kau harus melewati tes dahulu, baru kami bisa membuktikan apa kau layak atau tidak menjadi anggota kami."
Naruto mengangguk dengan wajah sumringah. "Yosh, baiklah senpai."
"Baiklah, hari minggu datang ke sekolah, kita bertemu lagi di markas ini," ujar Pein tegas dan sok berwibawa.
"Baik, arigato gozaimasu senpai." Naruto bangkit dari duduknya dan membungkukkan tubuhnya.
"Kalau begitu saya permisi senpai," ujar Naruto sambil berlari meninggalkan markas tersebut.
Sepertinya Naruto melupakan sesuatu ya...
"Hei otuoto!" panggil Itachi pada adiknya yang entah bagaimana caranya kini sedang bermain PS dengan Nagato yang sudah bangun dari teparnya tanpa menghiraukan temannya yang sudah pergi entah kemana.
"Hn," sahut Sasuke.
"Kau tidak berminat mengikuti jejak Naruto?" tanya Itachi.
Sasuke melirik kearah kakaknya. "Untuk apa?" Sasuke kemudian mengalihkan pandangannya kearah sang leader Akatsuki sambil menyeringai. "Lagipula aku tahu apa rencanamu.
Pein ikut menyeringai. "Hoo... kau tahu rupanya. Tapi kuharap kau tidak mengganggu kesenangan kami, atau kau akan tahu akibatnya, kehehehe," ujar Pein sambil tertawa laknat.
"Hn. Tenang saja aku tak akan mau ikut camput dengan urusan kalian." Sasuke menjawab tanpa menoleh dari game yang sedang dimainkannya. "Lagipula tanpa mengikuti rencana bodoh kalian aku sudah bisa masuk kesini toh. Lumayan numpang main game," ujar Sasuke santai.
"Ya, ya... terserah."
"Lalu apa rencana kita leader? Apa kau memang berniat merekrutnya menjadi anggota Akatsuki?" tanya Hidan yang sudah bangun dari teparnya.
Pein menyeringai "Tentu saja tidak ," ujarnya santai. "Aku hanya sedang bosan, apa kalian tidak ingin bermain sedikit dengannya?"lanjutnya.
Hidan akhirnya menyeringai diikuti anggota lainnya ,"Tentu, sepertinya menarik."
"Ya, hehe..."
"Oke, rencananya kita pikirkan nanti saja sekarang aku lapar. Siapa yang mau ke kantin?" tanya Pein kepada anggotanya.
"Biar aku saja," sahut Nagato sambil bangkit dari duduknya. "Ayo Sasuke!"
"Hn." Sasuke menghampiri Itachi dan mengulurkan tangannya.
Itachi menaikkan sebelah alisnya, tidak mengerti maksud adiknya. "Apa?" tanyanya.
Para anggota Akatsuki lainnya pun menoleh ke arah dua bersaudara itu penasaran dengan jawaban Sasuke.
"Minta uang," sahut Sasuke datar.
Krik... Krik...
GUBRAK...
Para anggota Akatsuki sweatdrop seketika sambil bergubrakan ria.
"Memang kau tidak bawa uang otouto?" tanya Itachi yang sudah pulih dari sweatdropnya sambil mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya.
"Bawa." Sahut Sasuke cuek sambil menerima uang dari kakaknya.
Itachi mengernyitkan alisnya. "Lalu?"
"Aku lebih suka ditraktir olehmu," sahut Sasuke enteng sambil melenggang pergi dari markas tersebut diikuti Nagato, meninggalkan sisa anggota Akatsuki yang masih sweatdrop.
.
.
.
.
Ceklek...
"Kami kembali!" seru Nagato setelah kembali dari kantin.
Nagato memasuki markas diikuti Sasuke dibelakangnya, ia meletakkan berbagai makanan pesanan para anggota lain di atas meja lalu ikut bergabung dengan para anggota lain yang sedang berkumpul di atas karpet.
"Kalian membicarakan apa?" tanya Nagato.
"Kami menyusun rencana untuk hari minggu, tentu saja," sahut Pein sambil menyerahkan selembar kertas ke arah Nagato.
Nagato menerima kertas tersebut dan mulai membacanya.
Nagato mengernyitkan alisnya, ia menatap Pein yang menyeringai, tak lama ia ikut menyeringai juga. "Ide bagus Yahiko.'
Pein tersenyum lebar. "Tentu saja," ujarnya bangga. "Dan kita akan bersenang-senang hari minggu nanti, khehehe..."
"Sudah, bahas rencananya nanti saja. Aku lapar nih," ujar Hidan.
"Iya, Tobi juga lapar senpai."
"Oke, sekarang kita makan. SERBU!"
.
.
Sementara itu di kantin terlihat seorang pemuda berambut kuning jabrik yang sedang makan ramen.
Naruto menghentikan acara makannya dan terdiam. 'Kenapa perasaanku tidak enak ya?' batinnya.
Namun Naruto hanya mengangkat bahu tak peduli. 'Masa bodohlah, mungkin hanya perasaan.' Batinnya cuek dan kembali melanjutkan acara makannya.
Bersiap-siaplah Naruto. Akan ada yang menyenangkan hari Minggu nanti. Khehehe...
.
.
.
.
Di hari minggu pagi yang cerah ini tampak seorang pemuda berambut pirang jabrik yang sedang berjalan dengan riangnyamemasuki halaman KSHS sambil menyeret seorang pemuda lain yang berambut raven chicken butt.
"Hentikan Naruto, aku bisa jalan sendiri. Lagipula untuk apa kau mengajakku? Sudah kubilang aku tidak ingin bergabung dengan mereka!" teriak Sasuke kesal.
"Ya sudah, kau cukup temani aku saja teme," sahut Naruto dengan puppy eyesnya.
Sasuke memalingkan wajahnya menghindari kebutaan sesaat apabila melihat wajah Naruto tersebut. "Berhenti memasang wajah menjijikkanbegitu dobe!"
Naruto hanya nyengir lebar menanggapi gerutuan sahabatnya sedari kecil itu.
"Kita sudah sampai," ujar Naruto bersemangat sambil mengetuk pintu markas Akatsuki di depannya.
"Hn," sahut Sasuke cuek. 'Tidak tahu saja dia apa yang akan mereka lakukan padanya nanti,' batin Sasuke.
Tok... tok...
Ceklek...
Pintu tebuka dan memperlihatkan satu-satunya gadis di Akatsuki. Konan membuka pintu markas dan keluarlah para penghuninya (?).
"Bagaimana, apa kau sudah siap Naruto?" tanya Pein.
"Siap senpai!" sahut Naruto dengan semangat 45nya.
"Yakin?" tanya Nagato.
"Kau meremehkanku Nii-san?"
"Nii-san?"
Ucapan Naruto yang memanggil Nagato dengan sebutan Nii-san membuat semua orang yang ada disana memandang bingung.
Pein menoleh ke arah Nagato seakan bilang 'Dia adikmu?'
Nagato yang menyadari kebingungan teman-temannya menjawab. "Dia adik sepupuku."
"Ohh..." sahut orang-orang disana serempak.
"Bisa kita mulai?"
Naruto mengangguk semangat. "Bisa!"
"Ikut aku!" titah Pein. Naruto mengikuti langkah Pein.
.
.
Kini dihadapan Naruto terdapat sebuah meja dengan sebuah mangkok err... lebih tepatnya baskom diatas meja tersebut. Naruto melirik baskom tersebut. 'Jelly?' batinnya bingung.
Pein menyodorkan sedotan ke arah Naruto yang diterimanya dengan bingung. "Ini tes pertamamu."
Naruto memiringkan kepalanya sambil menatap Pein bingung sementara Pein mulai menyeringai diikuti oleh teman-temannya bahkan Sasuke yang ikut hadir disana.
"Makan jelly pakai sedotan," ujar Pein enteng.
Naruto mengedipkan matanya.
Kedip
Kedip
Kedip
Ked...
"APPAAA?!"
.
.
.
.
Naruto meringis sambil terus berusaha menyedot jelly itu menggunakan sedotan yang masih setia menempel di mulutnya. Waktu sudah berlangsung selama 20 menit sejak ia mulai 'jelly'nya.
"Waktumu 10 menit lagi Naruto-kun," ujar Konan.
Naruto membelalakan matanya. 'Apa? 10 menit lagi? Setengahpun belum habis. Bagaimana ini?' batin Naruto frustasi.
Srutt...
Srutt...
Naruto semakin mempercepat 'memakan' jellynya, hingga...
Srutt...
Hik... hik...
'Sial... kenapa pakai acara cekukan segala?!' batin Naruto.
Hik... hik...
"Pelan-pelan dobe," ujar Sasuke cuek.
"Hik... waktunya... hik... mepet... hik... te... hik... me...hik..."
"Waktu habis."
"Hik... apa...hik...?"
Naruto hanya dapat membuang napasnya pasrah, ia gagal kali ini.
"Senpai!" panggil seorang 'bocah' bertopeng baygon sambil berlari-lagi membawa sebotol air bervolume 1 liter. Ia menyerahkan botol air itu kepada Naruto. "Ini senpai, minum dulu.
Naruto menerimanya dan membuka tutup botolnya dengan tergesa. "Terima... hik... kasih... hik..." ujar Naruto dan mulai menhabiskan isi botol itu dengan beringas.
"Kelamaan kalau seperti itu!" teriak Hidan dari arah belakang ia membawa sebuah pemukul baseball.
"APA YANG MAU KAU LAKU..." teriak para anggota Akatsuki serempak, namun..
BUAGH...
"WADAUWWW!"
Pemukul baseball itu mengenai tepat di punggung Naruto, yang sontak membuat si empunya berguling-guling kesakitan.
BLETAK...
Sebuah jitakan mendarat manis di kepala Hidan. "Apa yang kau lakukan BAKA?!" teriak Konan kesal.
Hidan mengelus-elus kepalannya yang terdapat benjol sebesar bola baseball. "Aduh lihat dulu Konan, dia sembuh toh," ujar Hidan sambil menunjuk ke arah Naruto yang kini sudah duduk sambil mengelus punggung tanpa bunyi cekukan lagi.
"Sudah sembuh Naruto?" tanya Pein watados.
"Su-sudah senpai," sahut Naruto sambil meringis.
"Kalau begitu berarti kau siap dengan tes keduannya?"
Naruto mengangguk semangat, sepertinya ia melupakan rasa sakitnya. "Siap senpai dan apa tes keduanya?"
Pein kembali menyeringai, sepertinya kau harus bersiap-siap lagi Naruto.
"Tes keduanya adalah..."
.
.
"... kau harus menangkap semut minimal 1000 ekor dalam waktu 1 jam!"
Pein melemparkan sebuah toples kearah Naruto. "Gunakan ini!?
Naruto menangkap tosples itu, ia menatap Pein yang sedang menyeringai setan. Naruto mengedipkan matanya.
Kedip
Kedip
Ked...
"APPAAA?!"
.
.
.
.
Naruto kini sedang berjongkok di depan sebuah semak-semak sambil memegang toples berisi semut-semut kecil di dalamnya. Ia mengais-ngais pasir mencari makanan #eh salah#plak# mencari semut.
"Aduh dimana lagi ya semutnya, waktunya tinggal 10 menit lagi. Bagaimana ini?"
Naruto terus merangkak melewati semak-semak itu hingga ia menemukan sebuah gundukan tanah yang kecil dengan lubang di tengahnya.
"Ah, itu dia. Sarang semut!" teriak Naruto girang.
Naruto mencari ranting dan mulai menyodok-nyodokkan ranting itu pada lubang di sarang semut tersebut. Ia tampak serius memancing semut-semut itu agar keluar, hingga...
"NARUTO, CEPAT, WAKTUMU 10 MENIT LAGI LHO!" teriak seseorang dari arah belakangnya
"HUWAA..."
BRUK...
Naruto yang terkejut kehilangan keseimbangannya dan jatuh menimpa sarang semut tersebut. Dan kalian tahu apa yang terjadi? Tentu saja semut-semut itu berhamburan keluar dari sarangnya dan menyerang Naruto. Kini tubuh Naruto sudah dirubungi oleh ratusan semut. Berasa manis deh lo Nar #plak.
Sasori yang merupakan tersangka pengagetan(?) Naruto tadi hanya mampu terbengong, ia terdiam memperhatikan Naruto yang di kerubungi semut hingga ia menyadari beberapa dari kerumunan semut itu menghampirinya. Sasori yang merasa nyawanya terancam #lebaymodeon# segera berlari menjauh.
"HUWAA... TOLONGGG... SEMUTNYA MAU MAKAN NARUTO!" teriak Sasori OOC.
Para anggota Akatsuki yang mendengar teriakan Sasori langsung berlari menghampiri TKP, mereka terkejut melihat keadaan Naruto yang sudah dirubungi semut-semut tersebut.
Mereka meringis sambil memejamkan matanya, berdoa untuk keselamatan Naruto.
"AWAS SENPAI!" tiba-tiba terdengar suara teriakan yang menginterupsi acara doa bersama mereka.
Reflek, para anggota Akatsuki itu memberi jalan kepada si topeng lolipop, yang sedang membawa-bawa ember besar itu.
BYUURRR...
Tobi menumpahkan air di dalam ember itu kepada Naruto, membuat seluruh tubuh pemuda naas itu basah kuyup, namun semut-semut tersebut berhasil di singkirkan.
"Hehehe... Tobi pintar kan?" ujar Tobi sambil tersenyum bangga.
"Kau jenius Tobi," puji Zetsu.
"Err... Naruto. Kau baik-baik saja?" tanya Sasori, ia meringis melihat keadaan bocah kuning yang naas itu. Seluruh tubuhnya di penuhi oleh bentol-bentol merah.
"Hah... hah... tak apa, lebih baik kita lanjut saja tesnya senpai," ujar Naruto yang telah kembali bersemangat. Ia langsung berdiri dari posisi berbaliknya sambil menghormat ke arah Pein (Pein dihormatin #plak)
"Baik, ikuti aku!" titah Pein.
Pein berhenti di depan sebuah pohon besar yang lumayan lebat, ia menunjukkan tangannya ke arah pohon tersebut. "Ini tes ketigamu."
Naruto memiringkan kepalanya, bingung. "Apa tesnya senpai?"
Pein kembali meyeringai. "Menghitung jumlah daun di pohon ini," ujar Pein santai sambil menunjuk pohon dibelakangnya.
Naruto terdiam.
Naruto mengedipkan matanya.
Naruto menggaruk pipinya.
Naruto...
.
.
.
.
"APPAAA?"
.
.
.
.
Naruto sedang bertengger (?) di atas sebuah pohon, tangannya menunjuk-nunjuk daun-daun yang ada di sana, bermaksud menghitungnya. Hari sudah beranjak siang, suasana siang yang panas ini mulai diisi oleh bunyi perut yang minta diisi.
"Senpai, Tobi lapar," rengek Tobi sambil menarik-narik kaos Deidara.
"Hei, memang aku ibumu,un?" teriak Dei sambil menarik bajunya yang ditarik Tobi..
Tobi menoleh ke arah Pein. "Leader," panggil Tobi sambil mengeluarkan puppy eyesnya (emang keliatan?).
Pein yang mulai mual melihat ekspresi Tobi akhirnya membuka suara. "Baiklah, kita cari makan. Itachi, Deidara kalian jaga Naruto!"
"Hei, kenapa aku, un?"
"Jangan banyak protes!" bentak Pein yang membuat Deidara langsung kicep.
"Baiklah, tapi bawakan kami makanan, un," pinta Dei.
"Hn."
Akhirnya semua anggota Akatsuki pergi mencarai makan, meninggalkan Itachi dan Deidara yang sedang mengawasi calon anggota baru mereka.
.
.
.
.
Dua jam sudah berlalu, namun para Akatsuki itu tak kunjung kembali, Naruto pun tak kunjung menyelesaikan tugasnya. Deidara bersandar di pohon dengan wajah madesu, ia menoleh ke arah Itachi yang duduk disampingnya.
"Aduh... laper, un,"
Itachi madesunya menoleh yang tak kalah madesunya menoleh ke arah Deidara. "Sama Dei,"
"Kemana sih mereka, un?" tanya Dei yang mulai kesal.
"Entahlah,"
.
Sementara itu di sebuah restoran
"Wahh... tobi kenyang banget!" teriak Tobi dengan suara super soniknya.
"Iya, mantap dah pokoknya," sambung Hidan.
Saat ini para Anggota Akatsuki minus Itachi dan Deidara plus Sasuke sedang berada di sebuah restoran yang tak jauh dari sekolah mereka. Mereka duduk di sebuah meja bundar yang diatasnya bertumpuk piring=piring bekas makanan mereka yang jumlahnya sangat banyak. Saat ini mereka telah selesai makan dan tengah bersantai.
"Hm... indahnya hidup," ujar Sasori.
"Ya, kau benar," sahut Nagato. Duo merah itu saling berangkulan (?)
Sepertinya ditengah suasana yang menyenangkan ini mereka melupakan kedua anggotanya yang tengah kelaparan dengan wajah madesu di lain tempat.
"TUNGGU!" teriakan Kakuzu mengganggu acara makan siang mereka.
"Apa?" sahut Pein.
"Heh, kalian makan sebanyak ini siapa yang mau bayar?" tanya Kakuzu sewot sambil memeluk erat koper uangnya.
Pein dengan santainya menunjuk ke arah Sasuke. "Tenang saja, Sasuke sudah menyanggupi akan membayar semuanya kok,"
Sasuke menyeringai, ia merogoh sakunya dan meletakkan sebuah dompet bewarna hitam yang cukup tebal di atas meja. "Ya, tenang saja."
Kakuzu yang memang gila uang langsung menyambar dompet hitam itu. "Wah... ternyata kau banyak uang ya," ujarnya dengan mata yang berbinar-binar. 'Sayang dia tak sekelas denganku. Coba sekelas, akan kumintai uang kas setiap hari,' batinnya sambil tersenyum laknat.
Kakuzu membuka dompet hitam tersebut, matanya semakin berwarna hijau saat melihat isi di dalamnya. Beberapa kartu kredit, dan sejumlah uang dengan nominal yang cukup besar. 'Wahh... banyak sekali,' batinnya girang. 'Eh, tapi tunggu,' kakuzu melirik sebuah kartu pelajar yang terselip di dompet tersebut dan meliriknya keluar. Ia mengamati foto dan nama yang tertera disana.
Uchiha Itachi
Kakuzu menolehkan kepalanya ke arah Sasuke yang masih meyeringai.
Sasuke yang menyadari tatapan Kakuzu makin melebarkan seringainya. "Kenapa? Itu memang punya Nii-san," ujarnya enteng.
Kakuzu langsung memasukkan kartu pelajar milik Itachi. "Masa bodohlah, yang penting bukan aku yang harus mengeluarkan uang," gumamnya sambil tersenyum licik dibalik cadar buluknya.
"Tapi bagaimana cara kau mandapatkannya Sasuke?" tanya Sasori.
Sasuke kembali menunjukkan seringaiannya. "Itu mudah. Tinggal tunggu dia lengah, lalu tarik," sahut Sasuke enteng seolah tanpa beban yang diangguki oleh makhluk-makhluk abstrak itu.
.
Kembai ke Itachi dan Deidara
"Dei laper unnn," rengeknya sambil menarik-narik jaket Itachi.
"Ya sudah sana beli makanan biar dia gue yang jaga!" ujar Itachi yang merasa jengah dengan kelakuan Deidara. Namun bukannya senang Dei malah makin cemberut.
"Kenapa lagi?" tanya Itachi yang sudah mulai kesal.
"Dei gak bawa uang, unnn," sahut Dei.
Itachi menghela napasnya, ia merogok saku celana belakangnya bermaksud mengambil dompet miliknya, namun ia terkejut saat didapatinya benda itu tak ada disana. Ia merogoh saku lainnya, namun nihil benda itu tidak di temukan. Itachi kembali mencoba, kali saku jaketnya, namun tetap saja benda itu tidak di temukan.
Deidara yang menyadari temannya, tampak kebingungan bertanya pada Itachi. "Kenapa Tachi, un?"
"Dompetku hilang Dei," sahutnya sambil menunjukkan wajah panik.
"Apa? Bagamana bisa, un?"
"Aku tidak tahu,"
"Kalau begitu ayo kita cari, un!"
"Hn,"
Akhirnya kedua pemuda tampan itu menyusuri sekitar guna mencari dompet yang menurut mereka amat berharga itu karena akan berguna bagi kelangsungan hidup keduanya. Sudah lebih dari setengah jam mereka mencari, namun benda itu tak juga di temukan. Mereka akhirnya menyerah dan kembali duduk dibawah pohon dengan ekspresi madesunya.
"Ngomong-ngomong bocah itu lama sekali di atas," ujar Itachi.
"Kau benar, un apa yang ia lakukan?" Deidara beranjak dan mendongakkan kepalanya ke atas diikuti Itachi.
Kedua pasang mata itu membelalak, emosi yang sedari tadi sudah meluap kini semakin meluap-luap dan siap untuk ditumpahkan kala dilihatnya pemuda berambut pirang jabrik yang diawasinya itu malah tertidur dengan pulasnya di salah satu batang pohon.
Deidara mengepalkan tangannya erat, ia mulai mengambil napas dan Itachi mulai menutup telinganya.
"WOY BOCAH PIRANG PIRANG BANGUN LOE!" Teriakan membahana itu akhirnya dikeluarkan.
Naruto yang terkejut dengan serangan (?) mendadak itu terlonjak bangun, namun ia tak dapat mempertahankan keseimbangannya. Naruto oleh dan terjatuh dari pohon, ia menutup matanya, bersiap diri menerima benturan setelah ini.
BRUKKK...
Terdengar bunyi bedebum yang cukup keras. Naruto masih memejamkan matanya 'Eh, aku sudah jatuh? Kok gak sakit ya?' batinnya.
Naruto mencoba membuka matanya perlahan, ia kini telah terduduk dibawah pohon. 'Tapi kok gak sakit ya? Padahal pohon itu lumayan tinggi loh,' batinnya sambil mendongakkan kepalanya.
Naruto mencoba menundukkan kepalanya dan didapatinya dua benda berwarna kuning dan hitam dibawahnya. Naruto masih mengamati dua 'benda' itu hingga..
"WOY BOCAH, BANGUN LOE. BERAT TAU!" Teriak Itachi dan Deidara yang ternyata tertindih oleh tubuh Naruto saat jatuh tadi.
Naruto yang terkejut langsung melompat bangun sambil membungkukkan tubuhnya. "Huwaa... gomennasai senpai,"
Tak ada jawaban, Naruto mengangkat kepalanya dan ia langsung berdigik ketakutan. Di hadannya kini berdiri dua orang dengan aura iblisnya. Seorang pemuda berambut pirang dengan aura merahnya dan seorang pemuda berambut hitam dengan aura hitamnya. Naruto semakin bergidik saat mereka mulai menampilkan seringainya.
"HUWAA... AMPUN SENPAI!" Naruto kembali bersujud di hadapan kedua senpainya itu.
"Tak akan semudah itu bocah," ujar Dei dingin.
"HUWAAA..."
"Kalian berisik sekali," ujar sebuah suara yang menginterupsi dari arah belakang.
Itachi, Deidara dan Naruto menolehkan kepalanya ke asal suara dan mendapati teman-teman Akatsukinya.
"Kemana saja kalian?" tanya Itachi dengan pandangan menusuknya.
"Makan," sahut Pein santai.
"Lalu mana makanan buat kami, un?" tanya Deidara masih dengan mode iblisnya.
"Oh iya, lupa," sahut Pein enteng tampa menyadari aura suran yang kembali menguar dari tubuh Itachi dan Deidara.
"Oh ya Nii-san, nih," Sasuke melemparkan sesuatu ke arah Itachi. Itachi dengan reflek langsung menangkapnya.
Itachi dan Deidara menoleh ke arah benda yang di lempar Sasuke tadi. Tak butuh waktu lama aura suram itu kembali menguar, namun kali ini lebih pekat.
"Jadi kau yang mengambil dompetku Sasu?" tanya Itachi sambil tersenyum setan yang membuat semua orang yang ada di sana bergidik.
Sasuke yang belum menyadari senyuman maut kakaknya hanya menjawab cuek. "Ya. Tadi dipakai untuk membayar makan, tapi bukan hanya aku saja yang memakainya kok, karena teman-temanmu juga ikut makan," sahut Sasuke sambil menoleh ke arah Itachi dan ia langsung ciut seketika saat menyadari senyuman maut Itachi.
"Ni- Nii-chan," cicitnya lirih.
Itachi menoleh ke arah Deidara sambil menyeringai disambut oleh seringaian yang sama menyeramkannya dari Deidara.
"Sepertinya sedikit bermain akan menyenangkan Dei," ujar Itachi sambil mengeluarkan sebuah kapak yang entah di dapatnya darimana.
"Ide bagus Tachi, un," sahut Dei sambil mengeluarkan sebuah gergaji mesin yang entah di dapatnya darimana juga
Kini keduanya menghadap ke arah teman-teman laknatnya sambil memperlihat senyuman manis milik mereka. Para Akatsuki plus Sasuke pun semakin bergidik saat menyadari apa yang dibawa ItaDei terlebih lagi dengan senyuman 'manis' mereka yang dianggapnya sebagai senyuman milik shinigami.
Glek.
Para Akatsuki menelan ludah mereka dengan pasrah.
.
1 detik
.
5 detik
.
10 detik
.
1 menit
.
"LARIII!" komando Pein pada semua anak buahnya.
"JANGAN LARI KALIAN HAHAHA...!"
"AYO KITA MAIN KAWAN-KAWAN!"
.
.
.
.
Hari sudah beranjak sore saat permainan yang ketuai oleh Itachi dan Deidara berakhir dengan kedua orang itu menjadi pemenangnya. Kini kita lihat kondisi para Akatsuki tersebut yang hampir semua anggotanya telah terkapar tidak berdaya di tanah dan jangan lupakan juga luka-luka hasil kekerasan yang menghiasi tubuh mereka.
Sementara itu Itachi dan Deidara sedang berdiri di depan tumpukkan 'mayat' tersebut sambil tersenyum dan tertawa puas.
"Tachi, Dei jadi lapar nih setelah bermain un," ujar Dei.
"Aku juga lapar Dei, bagaimana kalau kita cari makanan?" usul Itachi.
"Ide bagus, tapi uang darimana un?"
Itachi menatap tumpukkan 'mayat' teman-teman lalu ia menyeringai saat melihat sebuah benda berbentuk kotak berwarna hitam tergeletak di sana. "Jangan pikirkan itu Dei, ayo."
Itachi berjalan menghampiri benda yang ternyata adalah koper tersebut dan membukanya. "Lihat Dei, uangnya banyak!" Itachi kembali menyeringai.
"Kau benar un, yeeyyy... kita bakal mekan besar nih un,"
"Tentu saja, ayo!" Itachi kembali menutup kopernya lalu berjalan menjauhi tumpukkan 'mayat' itu diikuti Dei di belakangnya.
Sementara Kakuzu hanya dapat meratapi uang-uangnya tanpa bisa melakukan apa-apa, begitu juga para Akatsuki lainnya.
Umm... sepertinya kita melupakan satu hal.
Kita kembali ke bawah pohon di mana terduduk seorang pemuda berambut pirang jabrik yang terdiam sejak permainan ItaDei berlangsung.
"Oy dobe," hinggan sebuah suara membuyarkan lamunannya.
Naruto menghampiri tumpukkan 'mayat' yang kini telah bangkit dari kubur (?).
"Jadi bagaimana senpai? Apa aku di terima?" tanya Naruto dengan semangat 45 yang tidak tau situasi dan kondisi.
"Bagaimana Pein?" tanya Konan yang kini sedang duduk manis di atas tubuh Sasuke tanpa luka sedikitpun. Tunggu... bukannya para Akatsuki sudah di habisi? Tenyata tidak semua readers, Konan berhasil lolos kali ini.
Lho kok bisa?
Karena ia sudah berjanji akan membuatkan Itachi dango dan onigiri yang super lezat serta memberikan banyak tanah liat kepada Deidara. Akhirnya ItaDei menyetujuinya dengan syarat Konan harus menduduki tubuh Sasuke setelah 'dihabisi', karena Sasukelah biang kerok utama dari masalah kelaparan mereka.
Pein yang telah bangkit dari kuburnya memerintahkan teman-temannya untuk berkumpul. Kini para Akatsuki telah berkumpul membentuk lingkaran dengan Konan yang masih menduduki tubuh Sasuke.
Kira-kita sekitar 10 menit meraka berembug. Pein kembali membalikkan tubuh bonyoknya ke arah Naruto.
"Jadi, Naruto..."
"Ya senpai!" sahut Naruto semangat.
"Berdasarkan hasil tesmu tadi kami memutuskan bahwa..."
"Ya..."
"Kau..."
"Ya..."
.
.
.
.
.
"... kami TOLAK."
Naruto terdiam.
"Karena kamu tidak berhasil lolos dari semua tes yang telah kami berikan."
Naruto mengedipkan matanya
.
1 detik
.
10 detik
.
1 menit
.
5 menit
.
10 menit
.
"AAPPPAAA?" teriak Naruto histeris dan langsung tepar di tempat.
.
.
.
.
To be continued
.
.
Omake
Kini para Akatsuki masih terdiam di tempatnya masing-masing dengan seorang bocah kuning yang tengah tepar di antara mereka.
Sementara itu seorang pemuda raven chicken butt tampak makin madesu akibat hukuman dari kakak tercintanya.
"Konan senpai, kapan kau akan bangun dari tubuhku?" ujar Sasuke sambil memasang wajah memelas.
"Gomen Sasuke, tapi aku harus menunggu kakakmu kembali dulu," sahut Konan.
Sasuke menghela napasnya berat. Memang, Konan itu ramping, tapi kalau diduduki dengan kondisi seperti ini akan sangat menyakitkan juga. Dan Sasuke kini mendapat pelajaran, 'Jangan membuat Itachi marah atau kau tahu akibatnya,'
Tap.. tap..
Terdengar derap langkah kaki, para Akatsuki menoleh ke asal sumber suara itu dan mendapati dua orang pemuda tampan yang sedang berjalan ke arah mereka, dan membuat mereka bergidik saat mengingat kejadian beberapa saat lalu.
"Waahhh... kenyangnya," ujar Deidara dengan senyuman lebarnya.
"Hn," Itachi menghampiri Konan dan mengulurkan tangannya. "Ayo pulang, Konan!" ajaknya.
Konan menyambut uluran Itachi. "Oke," sahutnya sambil beranjak dari atas punggung Sasuke
"Ayo Dei!" ajak Itachi.
"Ayo, un!"
"Oh iya nih," ujar Itachi sambil melemparkan koper milik Kakuzu dan jatuh tepat di depan pemiliknya.
Kakuzu membuka koper itu perlahan, dan mata hijaunya langsung terbelalak melihat isi koper tersebut yang menjadi KOSONG MELOMPONG. "Kenapa kalian habiskan? Itu kan uang kas Akatsuki," ujar Kakuzu sambil mengeluarkan air mata buayanya.
"Disaat seperti ini saja kau baru bilang kalau itu uang Akatsuki, un," sahut Dei ketus.
"Masa bodoh," sahut Itachi dingin. "Dan asal kalian tau, uang yang kalian habiskan itu uang jajanku untuk sebulan tau," lanjutnya dengan pandangan menusuk yang membuat para Akatsuki yang hendak protes lansung kicep.
"HUAAA... UANGKU..." teriak Kakuzu lebay.
"Ugh punggungku sakit," rintih Sasuke.
"Apa kau bilang Sasuke?" tanya Konan dengan evil smirknya.
Sasuke yang melihat itu langsung kicep. "Ti-tidak senpai."
"Bagus. Kalau begitu lebih baik kita pulang sekarang," ujar Konan sambil merangkul lengan Itachi dan berjalan pulang diikuti oleh Deidara di belakangnya.
.
.
.
.
A/N:
Huaa... akhirnya kelar juga chapter ini setelah sekian lama.
Saya mohon maaf karena updatenya yang super ngaret, semoga masih ada yang tertarik buat baca fic ini ya...
.
.
.
.
Balasan review:
.
Kimoto Yuuhi
Mereka karena saking pinternya jadi keblinger hehe...
Mampir lagi ya...
.
Virgo Shaka Mia
Ini udah lanjut.. maaf klo lama...
Mampir lagi ya..
.
ayub.792
Ini udah lanjut..
Mampir lagi ya..
.
Uzumaki himeka
Makasih banyak buat pujiannya..
Itachi langsung merinding disko waktu di kasih tinta pink sama Yuki. Hehe...
Mampir lagi ya
.
I love erza
Gak papa kok, ada yang baca aja udah seneng banget hehe...
Iya kerena Akatsuki itu unik jadi segala hal yang mereka lakuin juga unik hehe..
Amin...
Mampir lagi ya...
.
Uchiha Konashi
Ini udah lanjut
Mampir lagi ya...
.
Anonim-san13
Makasih banya buat pujiannya
Maaf klo saya belom bisa update kilat.. hehe
Mampir lagi ya...
.
Sasha
Ini udah lanjut..
Mampir lagi ya..
.
Dream
Ini udah lajut..
Mampir lagi ya..
.
L
Makasih banyak buat pujiannya..
Ini udah lanjut, tapi maf klo updatenya agak lama hehe..
Mampir lagi ya..
.
Akira
Iya.. saya juga gak mau sampai hiatus
Makasih buat dukungannya
Mampir lagi ya..
.
AmnokiUzumakiNoki Ttebayou
Boleh. Boleh khehe..
Mampir lagi ya..
.
Ariyanata
Umm... mungkin saya pelawak yang lehilangan jati diri hehe... canda #plak
Mampir lagi ya..
.
Sasulvr
Makasih..
Ini udah lanjut..
Mampir lagi ya,...
.
Nyonya besar Gaara
Ini udah lanjut..
Mampir lagi ya...
.
Akai Hasu
Yap.. mereka akan sering kena hukum..
Di chap ini saya udah coba menistakan Itachi, gimana? #evilsmirk
Ini udah lanjut
Mampir lagi ya..
.
fukudafatima
ini udah lanjut..
mampir lagi ya..
.
.
.
.
Akhir kata
.
.
.
.
R
E
V
I
E
W
PLEASE
.
.
.
