Preview Chapter 3

"tinggalkan ahra dan bayinya. Beri saja dia uang yang banyak agar tidak mengganggu kita. Kita tinggalkan korea dan mulai hidup baru, hanya ada kau dan aku!"

Tittle : The Reason Of My Husband

Author :BabyLuluBoo

Cast : *Kim JaeJoong

*Jung Yunho,

(Go Ahra,Kim Junsu, Park Yoochun, Kim Heechul, Tan Hangeng, Choi Siwon, Kim Kibum, Kim Hyung Joon, Kim SoHee, Xi Luhan, Oh SeHoon)

Summary: Ini bukanlah negeri dongeng dimana pernikahan adalah akhir cerita bahagia daro sang pangeran bersama tuan putrinya, Pada kenyataannya pernikahan adalah awal dari dua orang dengan kepribadian yang berbeda dipersatukan untuk menghabiskan sisa hidup yang dipenuhi dengan cobaan-cobaan yang menanti pasangan tersebut. (GS, Hurt, Marrieage, Angst)

Chapter 4

Happy Reading!

"Jika kau ingin tahu itulah yang sangat ingin kuucapkan saat ini yun."

Aku beranjak meninggalkannya yang masih diam membisu.

Jika saja ahra tidak mengandung anak suamiku, dengan egois aku akan mengambil keputusan tersebut serta membuat yunho meninggalkan wanita itu bagaimanapun caranya, meski dengan cara kotor sekalipun.

Pada kehidupan nyata seorang wanita bisa berubah menjadi monster paling menakutkan untuk melindungi keluarganya, tak tarkecuali aku!

Ingat ini bukan kisah dalam drama dimana pelaku utama selalu memiliki hati yang suci dengan rela berkorban untuk kebahagian orang lain hingga mengorbankan kebahagiaannya sendiri.

Hari ini kedua mertuaku memintaku untuk bertemu, aku yakin berita tentang kisruh rumah tanggaku ini pasti sudah sampai ke telingga mertuaku.

Aku sudah tidak lagi bisa pura-pura baik-baik saja, di depan kedua mertuaku aku menangis tersedu-sedu melampiaskan rasa sesakku, sakit hati, kecewa bahkan menyesal.

"eomma… Eom- eom-ma… eotto-ke eo-ttoke? Hiks hiiks" tangisku sambil memukul-mukul dadaku yang sesak.

Di depan yunho mungkin aku bisa bersikap seolah-olah aku baik-baik saja, karena aku tidak mungkin menangis meraung-raung seperti ini di depannya, dia adalah orang nomer satu yang tidak bisa melihatku menangis.

Dia selalu panik jika aku menangis,

dimasa lalu dia bahkan pernah koma setelah mengalami kecelakaan lalu lintas karena panik saat seseorang menelponnya dan mengatakan bahwa aku menangis di kampus karena seorang sunbae menamparku. Dan aku sudah berjanji tidak akan menangis didepannya mulai saat itu.

Melihat aku menangis seperti itu, eomma mertuaku ikut menangis dan memelukku erat, ini adalah pertama kalinya mereka melihatku sehancur ini.

Selama ini mereka hanya tahu aku adalah gadis cantik yang menjelma menjadi wanita sukses yang anggun dan tenang, tapi kali ini apakah aku masih bisa bersikap tenang saat aku merasa gagal, aku gagal menjaga suamiku.

Aku tidak menyadari bahwa sedari tadi yunho mendengarkan tangisanku dari luar gazebo restorant jepang ini, tiba-tiba saja dia masuk dan menerjang tubuhku dengan pelukan yang sangat erat,

Sembari melafalkan kata maaf berulang-ulang, ternyata mereka juga meminta yunho untuk datang, mungkin mereka merasa masalah ini harus diselesaikan secara kekeluargaan.

Setelah tenang akulah orang yang pertama bersuara

"appa-eomma" cicitku menunduk kepada mereka membuat semua mata menatap kearahku

"mianhae, yunho-ah mari kita berpisah!" ucapku tegas dan tepat menatap kedua bola matanya yang tampak marah.

"KAU BERGURAU! KEMARIN KAU MEMINTAKU MENIKAHI AHRA DAN SEKARANG KAU MEMINTA BERPISAH DENGANKU! KAU MEMPERMAINKANKU! DIMANA PERASAANMU JUNG JAEJOONG!"

"JUNG YUNHO! ABOEJI TIDAK MENGAJARIMU UNTUK MEMBENTAK ISTRIMU" suara appa mengintrupsi,

aku hanya memejamkan mataku menahan air mata saat yunho membentakku, mungkin ini akan menjadi bentakan pertama sekaligus terakhir yang aku dapatkan dari suamiku.

Mengabaikan ketegangan diruangan ini, aku mengeluarkan selembar surat cerai dari dalam tasku yang membuat mereka semua terbelalak lebar.

Bahkan eomma jung sudah menangis dan menjatuhkan diri disampingku memintaku agar membatalkan keputusanku tapi aku berusaha mengabaikannya

"yunho-ah mianhae, aku menggugatmu bukan berarti aku menyalahkanmu untuk kehancuran rumah tangga kita, akulah yang bersalah disini, andai saja jika dulu aku tidak megenalkanmu dengan ahra, andai saja jika dulu aku mau mengorbankan waktuku sedikit untuk mengatarkan sendiri makan siangmu kekantor, dan andai saja jika aku dulu menuruti perintahmu menjadi ibu rumah tangga saja dirumah dan tidak keras kepala untuk tetap berkarir.. andai saja yun, andai hiks hiiiks"

aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak menangis,

"maafkan aku jae, kumohon jangan menangis, aku juga bersalah jae, andai saja aku lebih setia kepadamu ini semua pasti tidak akan aku jae maafkan aku, tapi aku mohon jangan memintaku berpisah jae, aku akan mati jae jika berpisah denganmu,"

aku benar benar tidak tega melihat yunho seperti ini, appa bahkan menatapku dengan sorot mata kecewanya.

"yun, jika kita tidak berpisah, akan sulit bagimu untuk menikahi ahra-shi, anak ka-li-an sebentar lagi akan lahir, jangan sampai dia lahir tidak punya appa, maka dari itu secepatnya kau harus segera menikahi jika kita tidak ber-pisah, mungkin aku akan menjadi orang pertama yang menghalangimu menikahi ahra yun" jelasku

yunho benar-benar kehilangan kata-katanya,eomma jung masih berusaha membujukku tapi keputusanku sudah bulat.

"sayang kita akan selesaikan masalah ini bersama, kita hadapi bersama. Tapi tolong jangan pernah katakan untuk berpisah, itu akan menyakiti kalian berdua."

Aku hanya tersenyum kecut

"eommonim masih ingat, dulu aku banyak belajar dari eomma dan eommonim tentang bagaimana menjadi istri yang hebat seperti kalian, tapi satu yang aku lupakan eommonim, aku melewatkan pelajaran untuk rela membagi suamiku dengan wanita lain,"

"aku lupa meminta kalian mengajari bagaimana aku harus menyikapinya, karena eomma maupun eommonim tidak pernah mengalaminya, kalian tidak pernah berada diposisiku karena kalian sukses menjaga suami-suami kalian, tidak sepertiku! aku gagal eommonim, aku ga-gaaaal." Tangisku pecah

Aku menangis tersedu-sedu di dalam pelukan ibu mertuaku yang juga ikut menangis hebat.

"Maaf yunho, jika rumah tangga ini hancur, salahkanlah aku yunho, akulah yang meminta berpisah karena keegoisanku, aku benar-benar tidak bisa berbagi dengan ahra-sshi yunho"

"aku akan mati jika melihatmu setiap hari menatap wanita lain dengan tatapan penuh cinta yang selalu kau berikan hanya kepadaku, aku tidak bisa yunho, sungguh aku tidak setegar itu meskipun kau mencoba berlaku adil, aku tetap tidak bisa yun! aku sungguh tidak sanggup!" hatiku sakit sekali

"sekarang aku hanya punya 2 pilihan yunho, kita berpisah atau aku mati."

Yunho terkejut dengan tawaranku

"membagimu dengan ahra pun akan membunuhku secara perlahan, jadi maaf yunho kali ini aku benar-benar egois!" imbuhku lalu segera berlalu meninggalkan mereka.

Yunho benar-benar terlihat kalut saat ini hingga suara tuan Jung menyadarkannya

"Yunho, kau tau? Satu istri saja terkadang merasa diperlakukan kurang adil, jika kita terlalu sibuk bekerja atau terlalu asyik dengan suatu hal, apalagi dua istri? Aku tahu kenapa menantuku begitu egois dengan keputusannya! yang aboeji dengar, kau bilang kau juga mencintai nona go? Walaupun aboeji yakin kalau rasa cintamu pada jaejoong-ie lebih besar tentunya!" jelas aboejinya

"Apalagi sekarang nona go juga sedang mengandung anakmu, darah dagingmu, hal yang sampai saat ini belum dapat jaejoong-ie lakukan, nak! Dengan modal yang dimiliki nona go tersebut lambat laun akan membuat cintamu kepada jaejoong-ie mengikis! Nona go menawarkanmu rumah tangga yang terlihat sempurna dengan adanya keberadaan seorang anak yang kau impikan selama ini, dan kau tahu sendiri bukan? Bahwa dalam keluarga umum hanya ada appa, eomma, dan aegya, tidak ada eomma 1 atau eomma 2 yun, lalu jika kau sudah mendapatkan itu semua dari nona go, lantas dimana kau akan menempatkan jaejoong-ie kelak?" Tanya aboeji

Yunho hanya bisa diam menbeku mencerna nasehat sang ayah.

"Kau bingung bukan! Kau juga egois karena ingin memiliki keduannya tanpa memikirkan perasaan keduannya. Disatu sisi jaejoong-ie pasti tidak ingin menyerahkanmu begitu saja pada nona go, dan aboeji rasa dia memang sudah mengambil keputusan secara matang-matang"

"istrimu memikirkan anakmu yun, istrimu perduli dengan nasib anakmu! Meskipun keputusan yang di ambil ini akan membuat dirinya yang paling terluka, karena aboeji tahu seterlukanya kau karena berpisah denganya, aboeji yakin lambat laun nona go dan calon anak kalian bisa menyembuhkan lukamu berbeda dengan luka istrimu yang bisa sembuh atau tidak? Tapi bagaimana jadinya jika dia memintamu meninggalkan nona go? Bukan hanya nona go saja yang terluka, tapi juga kau, anakmu bahkan jaejoong-ie sendiri akan terluka melihatmu hancur karena berpisah dengan darah dagingmu." Tuan jung menghela nafas

"Nak, sekarang atau pun nanti, pada akhirnya jaejoong pasti akan meninggalkanmu karena tersakiti, istrimu hanya wanita biasa pada umumnya yang akan tersakiti jika disakiti! Apa kau ingin menyakitinya terlalu dalam jika saat ini dia tetap berada disisimu?"

"Aboeji menyayangimu dan juga jaejoong, aboeji tidak akan menyalahkan siapa-siapa disini, ini semua takdir tuhan! Jadi aboeji harap kau bisa memilih jalan yang tepat."

Nasehat tuan jung panjang lebar, dia menepuk pelan punggung sang putra menyalurkan kekuatan sebelum beranjak meninggalkan ruangan.

"eomma tahu, appamu benar yun. Meskipun kami juga menanti kehadiran anakmu yang ada di perut nona itu, tapi sungguh demi tuhan, menantu eomma hanya jaejoong-ie! Jika kalian benar-benar berpisah, tidak perduli siapapun istrimu kelak, menantu eomma hanya jaejoong, jung jaejoong!"

"Jadi sebelum kau menyalahkan eomma kelak karena tidak bisa bersikap baik pada istrimu seperti sikap eomma pada jaejoong-ie, eomma minta maaf mulai dari sekarang. Dan itu adalah keegoisan yang eomma pilih yun!"

Permintaan atau lebih tepatnya ancaman dari nyonya jung lah yang mengakhiri semuanya. Meninggalkan yunho sendirian dengan segala kemelut beban dipundaknya.

JaeJoong POV

Sepanjang jalan aku seperti orang linglung, supir taxi tersebut terus bertanya kemana tujuanku? Dimana alamat rumahku? Apa aku baik-baik saja?

Aku bingung aku tidak bisa mengingat apapun selain wajah ahra dan suamiku bahkan aku lupa jalan pulang, aku sudah tidak tahu harus pergi kemana.

Ini membuat kepalaku berdenyut, aku benar-benar pusing sekarang dan tubuhku terasa lemas sekali hingga tanpa sadar semua menggelap.

"kau sudah sadar jae? Astaga tekanan darahmu rendah sekali, apa yang kau rasakan sekarang, hmm? Pusing? Mual? Atau kau lapar?"

aku tidak tahu apa yang terjadi pandanganku masih kabur, saat aku berusaha mendudukkan tubuhku kepalaku berdenyut, tapi aku tahu suara itu adalah suara Park Yoochun sahabatku.

"Jae, gwenchana?" tanyanya memastikan yang aku jawab dengan anggukan pelan

"bagaimana aku bisa ada disini, chun?"

"Kau pingsang didalam taxi, lalu supir taxi itu membawamu kemari karena dia tidak tau arah tujuanmu, sebenarnya kau kenapa? Kau merasa tertekan?" ucapnya sambil mengelus pucuk kepalaku,

Melihatku hanya diam dia menghela nafas.

"jae, jangan pikirkan hal-hal yang berat, itu bisa memperburuk kondisimu dan juga putramu!"

Aku abaikan nasehat idiotnya, aku tidak dalam suasana yang baik untuk bercanda, tapi melihat raut wajahnya yang sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia sedang bercanda membuat kedua alisku bertaut

"apa? Jangan menatapku seperti itu bodoh! Kau pikir aku takut dengan tatapan bodohmu itu?"

ia mendecih karena tatapan mengintimidasiku.

"Kenapa tidak cerita kemarin saat kita berkumpul, eoh? Junsu senang sekali saat kukabari tadi. Kau menganggap kami ini apa, eoh? Sampai kabar bahagia seperti ini saja tidak kau sampaikan kepada kami? Aissh jinjja!"

Yoochun terlihat lucu saat mulai menggerutu

"Sebenarnya apa yang kau bicarakan, jidat! Kau membuatku bertambah pusing saja"

aku semakin bingung dengan arah pembicaraan si jidat ini

"Yak pabbo! Apa maksu- aah jangan katakan kau belum menyadari keberadaannya?"

"Nugu?" tanyaku bosan

"yak! Kim jaejoong! Neo micheosseo! Putramu ada didalam sini sudah berusia 4 bulan dan kau belum mengetahuinya? Aigoo.. Kau benar-benar eomma yang tidak peka eoh?"

Mendadak aku tidak bisa mencerna ucapan yoochun

"mak-maksudmu aku ham-mil?" tanyaku pelan

"tentu saja pabbo, bahkan aku dan junchan sudah melihat hasil USGnya! Kau mau melihatnya? Dia laki-laki! Dia pasti kelak akan tampan seperti appanya"

kekeh yoochun sambil menerawang tanpa menyadari perubahan raut wajahku.

"Andwae, tidak mungkin! Kau pasti sedang bercanda kan chun-ah? Aku tidak mungkin hamil kan?"

aku sungguh tidak ingin mempercayai berita baik ini,

'apa yang harus aku lakukan? Sebentar lagi aku akan berpisah dengan suamiku, tapi saat ini juga aku sedang mengandung putranya, andwae.. aku tidak bisa membiarkan putraku tumbuh tampa seorang ayah, eottokhe?'

otakku tidak bisa berfikir dengan benar saat ini, aku benar-benar bingung saat ini aku pasti seperti orang gila yang menangis dan meraung-raung karena syok, bahkan aku mengabaikan yoochun yang sedari tadi mencoba menenangkanku,

"mianhae jaejoong-ah"

dia bahkan tidak bisa mengendalikanku hingga pada akhirnya dia menyuntikku dengan obat penenang karena saat itu juga aku merasa lemas dan jatuh tertidur.

Beberapa hari kemudian, keadaanku sudah mulai stabil, aku sudah bisa menguasai emosiku sendiri.

Aku masih tinggal dirumah sakit karena yoochun bilang aku perlu di opname untuk beberapa hari, lagi pula saat ini aku juga tidak tahu harus kemana, aku tidak punya siapa-siapa di seoul selain suamiku.

Untuk pulang kerumah suamiku atau sekedar memberitahunya bahwa aku masuk rumah sakit itu rasanya sudah tidak mungkin menginggat kemarin pengacaraku mengatakan bahwa akhirnya suamiku menanda tangani surat cerai yang ku ajukan.

Apa aku harus senang? Memangnya perceraian ini yang aku harapkan? Tidak! Aku memilih jalan tersebut demi anak suamiku yang ada di perut ahra, lalu sekarang bagaimana dengan putraku sendiri?

Aku benar-benar kalut, mungkin aku sudah bunuh diri beberapa hari yang lalu jika aku tidak pingsan di taxi dan di bawa ke rumah sakit hingga aku di beritahu bahwa ada malaikat kecil yang hidup di rahimku.

"Eomma akan kuat demi uri baby, terima kasih sayang karena telah berada disisi eomma!" gumamku lirih sambil meraba perutku yang sedikit menonjol.

Awalnya memang aku belum bisa menerima kehadiran putraku di saat rumah tanggaku sudah berada di ujung tanduk.

Tapi berkat kedua sahabatku yoochun-junsu yang menguatkanku untuk mensyukurinya akhirnya aku bisa berfikir waras!

Sekarang ini aku sangat bergantung kepada kedua sahabatku ini mereka sudah tahu tentang masalah rumah tanggaku dan berjanji akan membantu menjaga kehamilanku ini.

Bahkan mereka berencana menunda pernikahan mereka hingga bayiku lahir ke dunia ini, itu sungguh membuatku merasa sangat bersalah.

Karena saat ini kandunganku lemah dan yoochun melarangku untuk melakukan penerbangan karena terlalu beresiko maka aku berencana setelah putraku lahir aku akan segera membawanya ke jepang, lagipula minggu depan sidang perdana perceraianku dengan yunho akan segera dimulai.

4 bulan kemudian

Kehamilanku saat ini sudah menginjak bulan ke 8 dan selama ini yoochun menjagaku dengan sangat baik.

Yah hanya yoochun, karena junchan bebekku harus melanjutkan studi doktornya di new york,

Ternyata inilah alasan mereka menunda pernikahannya, awalnya si bebek ingin menolak beasiswa itu dan berkeras ingin berada disamping menghadapi masa-masa sulitku,

Aku mengancam akan terbang ke jepang saat itu juga jika dia tetap ngotot, aku tidak mau dia mengorbankan beasiswa yang sedari dulu di impikannya demi aku.

Akhirnya dia menuruti permintaanku dan yoochun untuk tidak melepaskan beasiswa itu.

Yoochun benar-benar protective dengan kehamilanku, dia sangat cerewet, apalagi saat memaksaku meminum susu ibu hamil yang rasanya benar-benar tidak enak.

Dia juga sangat baik menuruti keinginan mengidamku yang aneh-aneh, dan saat yoochun memperhatikanku seperti itu terkadang aku menangis karena merindukan suamiku.

Demi tuhan aku selalu berharap suamikulah yang ada di posisi yoochun saat ini.

Untuk masalah perceraian kami, sidang berjalan sangat alot karena kami tidak bisa membohongi hakim tentang perasaan kami sesungguhnya.

Apalagi semenjak aku tahu jika aku hamil aku benar-benar tidak ingin berpisah dengannya.

Sidang kami di tunda selama 3 bulan untuk kami introspeksi diri dan kemungkinan kembali rujuk.

Dan saat itu juga yunho langsung memintaku kembali kerumah, dia frustasi karena tidak tahu selama ini aku tinggal dimana.

"Sayang ayo kita pulang, mungkin pak hakim benar, kita bisa rujuk jika kembali bersama, ayo sayang, kau tinggal dimana selama ini, aku hampir gila karena tidak bisa menemukanmu"

aku hanya menangis dan terus menggeleng membuat yunho naik pitam.

"KAU TIDAK PUNYA SIAPA-SIAPA DI SEOUL SELAIN AKU! KEHIDUPAN SEPERTI APA YANG KAU JALANI SELAMA SEBULAN INI!"

"Kau terlihat semakin kurus, jae. Kau juga pucat sekali! Demi tuhan jae kita harus pulang!" yunho melunak.

"Sungguh aku tidak pernah membawa ahra atau siapapun masuk ke istanamu, bahkan aku mengusir eomma yang selalu ingin masuk! Kau pernah bilang rumah kita adalah istanamu yang selalu berusaha kau buat nyaman untukku- untuk kita berdua dan kau tidak mengijinkan sembarang orang masuk! Aku menjaganya dengan baik saat ini sayang, apa kau tidak merindukan rumah kita? Bagaimana aku mengurusnya jika tidak ada kau sayang!"

yunho benar-benar putus asa hingga tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi, sungguh saat itu aku sangat ingin memeluknya.

-skip-

Sidang ketiga yang sempat tertunda selama 3 bulan akhirnya hari ini di lanjutkan, aku sungguh tidak ingin menghadiri persidangan kali ini, lihat perutku sudah membesar!

Kehamilanku sudah berjalan 8 bulan, 3 bulan lalu bayiku memang tidak sebesar bayi berusia 5 bulan pada umumnya karena perkembangannya kurang stabil akibat stress dan tekanan yang aku alami.

Tapi sekarang perutku sangat besar, dia tumbuh dengan sangat baik karena ajjusshi jidatnya yang menjaga kami dengan baik.

Dan hari ini jika aku datang dengan perut sebesar ini, aku akan mengejutkan semua orang.

Tapi jika aku tidak datang dengan alasan apapun hari ini maka kami akan batal bercerai, itulah permohonan yang diajukan yunho saat sidang kedua 3 bulan yang lalu, dan sialnya itu di setujui oleh hakim-nim.

Aku masih sibuk berkutat dengan fikiranku hingga yoochun mengetuk pintu kamarku dan menyadarkanku.

"jae aku masuk ya!"

"ne!"

Dia mendekatiku yang masih duduk di depan meja rias

"Kau tidak lupa kan bahwa hari ini adalah sidang akhir perceraianmu."

"a-ah ne- ne" ucapan yoochun membuatku gelagapan

"kajja kita berangkat! Kita sudah sangat terlambat asal kau tahu!" dia mengomel sambil mengulurkan tangannya untuk membantuku yang kesulitan berdiri.

Diperjalanan yoochun menyadari kegugupanku dan berusaha menenangkanku

"jae! Dengarkan aku! Keadaan memang tidak berjalan sesuai rencanamu!"

"aku tahu" jawabku lemah,

Rencanaku adalah membuat sidang perceraianku berakhir 3 bulan yg lalu saat semua orang belum menyadari kehamilanku.

Tapi keputusan hakim tidak sesuai rencanaku.

Aku hanya menghela nafas mendengarkan kalimat yoochun berikutnya

"Ku pikir kau cukup paham bahwa tidak ada pengadilan manapun yang menyetujui perceraian saat sang wanita sedang MENGANDUNG, apalagi wanita tersebut sedang mengandung anak SUAMINYA!" yoochun menyindirku.

"Jadi kau harus menerima apapun keputusan hakim hari ini! Karena datang atau tidaknya kau ke persidangan ini, keputusannya kurasa akan sama saja!" tambahnya

Ia mulai menggenggam tanganku dengan tangan kirinya yang tidak sedang menyetir.

"Dan kumohon jae! Untuk hari ini bertindaklah egois sekali saja! Demi PUTRAMU! PUTRA KALIAN!" imbuhnya dengan penekanan disetiap kata,

Dari awal yoochun memang tidak menyetujui aku menggugat yunho,dia memaksaku egois dan dia selalu memintaku menjadi jahat untuk mempertahankan yunho.

Karena yoochun memikirkan putraku, 4 bulan ikut andil dalam merawat dan menjaga tumbuh kembang putraku sedikit banyak membuatnya memiliki ikatan dengan putraku.

Dia selalu mengutamakan bayiku!

Dia selalu berkata 'untuk apa memikirkan anak orang lain! Kau hanya cukup memikirkan anakmu!

dalam hati aku menyetujui hal tersebut karena aku hanya perlu memikirkan kebahagiaan putraku (titik).

Hari ini untuk pertama kalinya aku dapat memandang kembali wajah suamiku yang begitu aku rindukan!

Yunho lebih berbinar di banding 3 bulan yang lalu.

Aku bisa melihatnya tersenyum bahagia saat seorang wanita menyerahkan seorang bayi kecil ke dalam gendongannya!

Itu ahra!

Bayi itu- bayi itu pasti anak yunho!

Ternyata anak mereka sudah lahir!

Pantas jika yunho terlihat bahagia.

Hatiku seperti tercubit saat melihatnya rasanya sakit sekali, bahkan putraku menendang perutku begitu keras hingga membuatku memekik keras, dan sontak membuat yoochun khawatir

"gwenchana? Yak jaejoong-ah kau baik-baik saja kan?"

aku hanya mengangguk lemah sambil mengelus perut buncitku untuk menenangkan bayiku.

'sayang, jangan menendang perut eomma sekeras ini sayang! Ini sakit sekali'.

Suasana mendadak berubah hening saat aku dengan perut buncitku berjalan memasuki ruang persidangan.

Banyak mata yang memandangku dengan tatapan kaget dan tanda tanya besar di atas kepala mereka, tidak terkecuali yunho!

Aku dapat melihat raut wajah yang menuntut minta penjelasan darinya.

Aku juga sempat melirik ahra yang menatapku dengan ekspresi sangat terkejut.

Sidang segera dimulai saat hakim memasuki ruang persidangan, aku juga menyamankan diri dengan mengeratkan mantelku!

Yunho adalah pihak pertama yang diberikan kesempatan untuk berbicara, sedari tadi dia terus menatapku tajam,

"ITU ANAKKU!" kalimat yunho membuatku tercekat,

Bahkan sang hakim yang sedari tadi tidak dipandangnya hanya mengernyit bingung.

"apa yang anda bicarakan tuan jung yunho-sshi? Kami memintamu menceritakan perkembangan 3 bulan terak-"

"JAWAB JUNG JAEJOONG! APA ITU ANAKKU!"

Aku takut sekali, yunho tidak pernah semarah ini bahkan ia mengabaikan keberadaan hakim di depan sana.

Aku menegang saat dia berjalan cepat kearahku.

"AKU -BERTANYA SEKALI LAGI! APA BAYI YANG ADA DI PERUTMU ADALAH ANAKKU!" yunho mulai tersulut emosi.

"nnn-ne!" aku menjawabnya dengan jujur, tubuhku bergetar karena ketakutan.

"KI-TA TI-DAK A-KAN BER-PI-SAH!"

Yunho berdesis tajam di depanku sebelum berbalik menatap sang hakim.

"hakim-nim! Kita akhiri semua sampai disini! Istriku sedang mengandung anakku! Dan aku tidak ingin bercerai dengannya apapun alasannya!"

Sang hakim terlihat bingung dengan ucapan yunho hingga ia melirik pada perut buncitku dan mengeluarkan pertanyaan padaku.

"nyonya jung jaejoong! Apakah saat itu anda menggugat suami anda dalam keadaan hamil?" aku gugup sekali,

"tidak hakim-nim, sungguh aku benar-benar tidak tahu saat itu aku sedang hamil"aku menyuarakan pembelaanku

"dan nyonya Jung tahu, wanita hamil tidak diijinkan bercerai, meskipun jika jalan tersebut tetap kalian inginkan! Kalian harus menunggu sampai anak kalian lahir!" jelas sang hakim

"Saya tah-hu hakim-nim" cicitku sambil menunduk!

"Baiklah! Seperti yang sudah kalian lihat! Sidang tidak bisa dilanjutkan dengan alasan apapun! Demikian sidang kali ini kami tutup"

Putus sang hakim menggetok palu dan segera meninggalkan ruangan persidangan, selanjutnya orang-orang juga mulai membubarkan diri meninggalkan aku dan yunho sendirian disini dalam keheningan.

Keputusan hakim sudah ditetapkan, dan hal tersebut tidak bisa diganggu gugat, jalan lain adalah menunggu putraku lahir kedunia jika kami tetap ingin berpisah.

Tapi saat ini aku benar-benar tidak mau berpisah dengan yunho, aku ingin yunho selalu berada bersama kami! Cukup aku, yunho, dan putra kami!

Saat selesai persidangan yoochun memintaku untuk pulang! Bukan pulang kerumahnya yang selama 4 bulan terakhir aku tempati, tetapi pulang kerumahku kepada suamiku!

"Jae, aku harus segera kerumah sakit sekarang! Kau pulanglah! Pulang kepada suamimu!"

Aku ingin menyanggah tapi yoochun masih terus mengoceh

"jae, bukankah kau selalu berdoa agar yunho ada disisimu saat waktu bersalin nanti, sekarang tuhan mengabulkannya! Jadi sudah cukup pelariaanmu saat ini." yoochun mengingatkan.

"Yunho adalah appa dari anakmu jae! Dia berhak menyaksikan tumbuh kembang putranya! Sudah cukup waktu yang terbuang selama 8 bulan ini, jangan sampai membuat presdir Jung menyesal seumur hidup jika harus melewatkan 1 bulan kedepan untuk merasaka euforianya seorang calon ayah!" nasehatnya.

Aku hanya mengangguk membenarkan ucapan yoochun bahkan genggaman tangan yunho terasa semakin mengerat membuatku menoleh kesamping, dia terlihat sangat sedih sekali mendengar ucapan yoochun.

'maafkan aku yunho'

Membuatku semakin merasa bersalah kepadanya

"baiklah, aku sudah sangat terlambat! Jangan lupa besok adalah jadwal kontrolmu kerumah sakit, arraseo!" yoochun menginggatkan

"ne, jidat cerewet!" dia mendengus sebal dan beranjak menuju yunho

"Eoh yunho-ah, kau harus memastikan sendiri apakah si kitty nakal ini menghabiskan susunya atau tidak! Dia sering menipuku dan membuang susunya!" cerocosnya pada yunho

"Lain kali luangkan waktumu untukku presdir Jung, kita minum kopi bersama! Kau harus traktir aku secangkir kopi karena sudah menjaga kedua hartamu selama ini, kau juga harus tahu kebiasaan aneh istri dan anakmu selama ini! Baiklah aku pergi dulu!" ujar yoochun sambil menepuk pelan bahu yunho sebelum benar-benar meninggalkan kami berdua.

Yunho membawaku kembali ke apartement kami, aku takut sekali jika harus melihat keberadaan ahra dan putrinya disana,.

Aku bahkan mengeraskan tubuhku saat yunho menggandengku masuk ke dalam, sepertinya dia mengerti akan kekhawatiranku.

Dia hanya tersenyum menenangkan

"ahra tidak tinggal disini sayang! Aku sudah mengatakannya padamu bahwa aku tidak mengijinkan siapapun memasuki rumah kita." aku mendongak menatapnya

"tapi maaf, jika rumah kita sedikit berantakan ne! Kau tahu bukan? Aku sangat buruk dalam hal merapikan" imbuhnya dengan mempoutkan bibir hatinya itu membuatku terkekeh geli.

Saat memasuki ruangan ini, hanya satu kata yang ada diotakku 'INI BERANTAKKAN SEKALI'

Bagaimana tidak? Baju kotor berceceran di lantai, sepatu berada tidak pada tempatnya, bungkus camilan, ramen, bahkan kaleng-kaleng beer menggunung di meja ruang tengah, dan lagi bak cucian dapur terlihat seperti pelabuhan padat dari sini.

Sebenarnya kehidupan seperti apa yang di jalani suamiku selama ini, ia berucap lirih

"selama ini kau yang selalu mengurusku! Aku tidak bisa masak, mencuci, menyetrika dan membersihkan rumah. Saat kau tidak ada, apa yang bisa aku lakukan sayang? Bahkan setiap hari aku hanya memakan ramen" ia memelas dan itu lucu sekali.

Sekilas aku meliriknya tajam sebelum aku mulai berjongkok mengumpulkan pakaian kotor yang berserakan di lantai tidak perduli dengan perut buncitku yang membatasi pergerakanku, aku masih berusaha membereskan kekacauan ini, saat tiba-tiba lengan suamiku mencekalku.

"aku tidak membawamu pulang untuk membersihkan rumah, sayang! Istirahatlah! Kau pasti lelah! Aku yang akan membersihkan kekacauan yang aku buat!"

Aku hanya menatapnya tajam dan menepis lengannya.

"kau pikir aku bisa istirahat jika rumahku seperti kapal pecah! Baiklah jika kau ingin membantu, segera kumpulkan sampah-sampahmu dan buang ke bak sampah serta susun sepatumu seperti biasa aku menyusunnya! Aku akan memasak untuk kita setelah mencuci! Arraseo!" titahku telak.

Dan beranjak menuju ruang pencucian untuk menggilas pakaian kotor ini di mesin cuci, lalu segera beralih pada bak cuci piring sembari memperhatikan suamiku yang sedang menyusun sepatunya di rak dengan teliti setelah sebelumnya tadi membuang kantong sampah ke bawah.

Saat aku membuka kulkas hendak memasak, yang ku temukan hanya berkaleng-kaleng beer disana, aku berteriak memanggilnya hingga dia kalang kabut

"JUUUUNG YUNHOOOOOOOOOOOO"

"i-iya sayaaaang, ada apa berteriak-teriak seperti itu?" dia bertanya dengan wajah polosnya membuatku gemas

"buang semua isi kulkas! Kita pergi ke supermarket!" titahku

"kenapa kita harus membuangnya? Aku menyukainya jae! Aku membelinya bukan untuk dibuang! Aku akan menghabiskannya, tenang saja!" dia masih saja beralasan

"ooh,, begitu yah! Kau menyukainya, eoh? Dan seingatku kau juga tahu bahwa aku juga sangat menyukai minuman sejenis ini! Baiklah jika kau tak mau membuangnya! Kita habiskan bersama!" ancamku sembari membuka sekaleng beer yang membuatnya terbelalak

"ANDWAEEE.. AN- ANDWAE.. jangan sayang kumohon jangan meminum itu! Kau sedang hamil! Baiklah- aku akan membuangnya –sekarang!"

Dia mengalah dan segera mengumpulkan minuman itu ke kantong sampah, membuatku tersenyum menang.

"baiklah, kau begitu ayo kita pergi membeli makanan sehat untuk kita!" ajakku dengan antusias menggandeng tangannya.

Di supermarket kami benar-benar sibuk memilih bahan-bahan makanan serta kebutuhan lainnya karena kami sudah tidak menemukan apapun dirumah.

Aku berusaha mengabaikan ingatanku dulu disini yang membuat rumah tanggaku hampir berada di ujung tanduk!

"Yunho-ah bisakah kau mengambilkanku susu ibu hamil" pintaku karena masih sibuk memilih sayur-sayuran.

"tentu sayang!" dia segera beranjak menuju rak susu.

Aku sudah selesai dengan segala urusan bahan makanan lainnya tetapi kenapa suamiku belum juga menunjukkan batang hidungnya sejak aku memintanya mengambil susu ibu hamil.

Karena penasaran akhirnya aku menghampirinya di rak khusus susu ibu hamil, aku mengerutkan dahiku karena melihatnya melamun disana.

"sayang, apa yang kau lalukan disini! Kenapa melamun?"

"Jae! Aku sungguh binggung, kenapa ada begitu banyak pilihan untuk susu ibu hamil?" aku menanggapi pertanyaannya dengan tersenyum maklum

"biasanya yoochun membelikanku yang ini, rasa stroberi!" jelasku sambil mengambil salah satu produk!

"dan kau juga harus tahu sayang, yoochun hanya memberiku susu setiap bagun dan menjelang tidur!, yoochun juga tidak mengijinkanku memakan beberapa makanan semenjak hamil karena alergi" imbuhku menjelaskan.

"aku tidak tahu bahwa yoochun tahu banyak hal tentang kehamilan!" dia berkata dengan dingin.

"sayang! Yoochun itu dokter! Jadi dia pasti tahu mana yang baik untukku ataupun tidak! Apalagi selama 4 bulan ini dialah yang merawatku! Kau tidak boleh salah paham dengannya! Jika bukan karena dia yang menjaga kami, mungkin aku sudah kehilangan anak kita karena tertekan! Kita harus berterimakasih padanya" aku meminta suamiku tidak salah paham,

"sepertinya kita sudah selesai dengan belanjaan kita! Ada yang masih ingin kau beli?" suamiku hanya menggeleng

"baiklah kalo begitu ayo kita bayar dan segera pulang! Aigoo aku lelah sekali" gerutuku sambil menggandeng tangannya antusias menuju kasir yang lumayan sepi antrian, kami segera membayarnya dan pulang.

Malam ini adalah pertama kalinya kami kembali tidur seranjang dengan ditambah keberadaan putra kami, entah mengapa rasanya sulit sekali untuk memejamkan mata!

Apalagi sedari tadi yunho benar-benar keasikan mengajak anak kami mengobrol, aku juga merasakan bahwa putraku tidak kunjung terlelap karena beberapa kali aku merasa dia menendang-nendang halus perusku yang membuat yunho kembali kegirangan.

"Yun berapa usia putrimu saat ini? Siapa namanya?"
Aku tidak bisa lagi membendung rasa penasaranku pada putri suamiku tersebut membuat raut muka suamiku berubah.

"kenapa kau membahas hal itu saat kita berdua! Namanya Se Na, Jung Se Na, sayang! Dia baru berumur sekitar 5 bulan."

"kau pasti bahagia sebelumnya! Maafkan aku yunho-ya! Ini sungguh diluar kehendakku mengacaukan semuanya karena kehamilanku! Aku kembali membuatmu berada diposisi yang sulit! Aku sungguh-sungguh menye-"

"Cukup sayang! Berhenti menyalahkan dirimu sendiri! Asal kau tahu kelahiran putra kita lah yang sangat-sangat aku impikan dari dulu! Seharusnya aku dulu lebih bersabar! Karena kau istriku! Nyonya Jung!"

"yun, bagaimana dengan ahra-sshi? Kau bilang ka-u men-cint"

drrrrrt drrrrrt drrrrrt

getar ponsel yunho mengintrupsi pembicaraan kami

"sebentar sayang! Ini eomma!" aku hanya mengangguk mengijinkan.

Aku hanya melamun memperhatikan yunho yang bertelepon dengan eommonim, aku bahkan tidak sadar saat yunho mengisyaratkanku untuk menyapa eommonim.

"aah ne! an- annyeonghaseo eommonim!" terdengar suara mertuaku dari ujung line

"aigooo… menantuku! Apa kau sehat sayang!"

"ne!" aku mengangguk lucu seolah mereka bisa melihatku membuat yunho terkekeh

"sayang! Besok pagi datanglah berkunjung kerumah! Appamu ini ingin kita semua bersenang-senang, ayo kita pergi ke jeju-do! Kau pasti menyukai suasana disana!"

"Eommonim! Tapi- maaf aku benar-benar tidak diperbolehkan naik melakukan penerbangan sedekat apapun! Apalagi melihat perutku yang sebesar in-i apa tidak apa-apa?"

"ah kau benar! Bagaimana kalau kita sekeluarga barbeque-nan saja ditaman!"

"Ide bagus eommonim! Baiklah kami akan datang!"

Yunho masuk ke kamar dengan segelas susu di tangannya dan segera merampas telepon di tanganku.

"Dan aku pastikan eomma! Aku dan jaejoong-ie akan menjadi yang paling awal datang kesana! Bey!" dan langsung memutus sambungan.

Dia menggiringku ke ranjang dan segera memintaku menghabiskan susu buatannya sembari menyelimuti dan menyamankan posisiku.

"Baiklah sayang sekarang waktunya kita tidur, kajja!"

"Yunho, kau memperlakukanku seperti layaknya anak usia 7 tahun saja!"

Dia hanya terkekeh saat mematikan lampu dan segera menelusup di dalam selimut untuk mendekapku erat, rasanya hangat sekali!

-TBC-

Hubungan YunJae udah membaik nih!

siapa yang enggak suka mereka enggak jadi cerai? hayooo?

panggil aja aku lu/lulu..

rada gimana gitu kalo di panggil thor! hehehe