Sinar matahari belum benar-benar menyibak langit fajar saat Bellona terbangun dari tidurnya. Pada hari-hari biasa ia tak pernah punya masalah dengan yang namanya imsomnia. Tapi sejak semalam matanya susah sekali untuk terpejam. Setiap kali ia mengatupkan kelopak matanya, saat itu pula wajah pucat Marius muncul. Hal ini membuat gadis itu tersiksa semalaman.
Di luar kebiasaannya yang lebih senang tidur dengan lampu padam, kali ini Bellona memilih untuk menyalakan semua lampu hingga kamarnya terang benderang. Kamar kecil di loteng toko Sihir Sakti Weasley itu pun seolah menjelma menjadi menara mercusuar saking terangnya.
Bellona benci mengakuinya, tapi urusan vampir ini membuatnya jadi paranoid. Gadis itu takut pulang ke rumahnya. Ia khawatir Marius akan datang ke rumahnya yang ada di Madrid dan menyerang orang tuanya. Bellona juga tak berani pulang ke rumah kontrakannya yang ada di pinggiran Hogsmeade. Di rumah kontrakannya itu dia hanya tinggal seorang diri setelah kematian Mickey. Tentu tidak lucu kalau mendadak Marius muncul di depan pintunya. Maka karena itulah Bellona memutuskan untuk menginap di tempat kerjanya, di toko Weasley bersaudara. Lagipula si kembar Weasley juga hampir selalu bermalam di toko mereka. Paling tidak, Bellona merasa ditemani.
Oliver pun mendukung keputusannya ini. Kalau saja Kiper Puddlemere United itu tidak sedang melakoni pertandingan antar-klub di tingkat Eropa, sudah pasti ia akan ada di samping Bellona sepanjang hari dan membuat Bellona bosan bukan main dengan semua celotehannya tentang strategi Quidditch.
"Pagi tuan Weasley dan tuan Weasley," sapa Bellona begitu menuruni tangga dan menjumpai kedua bosnya yang juga sahabatnya selama di Hogwarts sedang duduk-duduk santai di antara rak-rak penuh mainan dagangan mereka.
"Jus labu, Bellona," kata Fred sambil menawari segelas besar minuman yang dulunya jadi favorit mereka selama di Hogwarts. "Neville mengirim Dobby kemari tadi. Rupanya dia masih ingat kalau kita semua suka Jus Labu. Dia sih enak saja bisa minum sesukanya. Dia kan baru saja diterima mengajar Herbologi di Hogwarts…"
Bellona tersenyum lebar. Rasanya tak masalah minum-minum jus labu setelah melalui malam yang berat. Apalagi sudah lama sekali dia tidak minum itu.
"Hei, apa ini?!" teriak Bellona kaget.
Sesuatu yang penuh bulu mendadak bergerak-gerak saat ia memegangnya. Ternyata makhluk itu adalah seekor burung hantu dan Bellona tak sengaja sudah menarik ekornya terlalu keras. Bulu-bulu burung hantu itu kasar dan jabrik di bagian kepalanya. Seandainya burung itu adalah penyanyi rock, maka potongan bulu di kepalanya tadi biasa kita sebut dengan model 'Liberty Spikes'.
"Itu burung hantu kiriman Wood. Mungkin dia sampai di sini tengah malam tadi dan tak bisa masuk ke dalam toko. Jadi bulunya berdiri semua begitu karena kedinginan kelamaan menunggu di luar," jawab George asal. "Kami baru saja selesai memberinya makan."
"Oh astaga! Hampir saja aku memakai makhluk buruk rupa ini untuk membersihkan meja kasir. Aku kira dia kemoceng," balas Bellona. Seolah paham ucapan Bellona, burung hantu itu mendelik galak ke arahnya. "Err, dia membawa pesan untukku ya?"
"Yep. Dia juga membawa pesan dari Wood untuk kami. Wood meminta kami untuk menjagamu baik-baik. Permintaan yang sebenarnya tidak perlu. Kami akan tetap di sini bersamamu. Tak peduli ada vampir, banshee, manusia serigala, dan monster mengerikan lainnya. Kalau pun mereka semua benar-benar muncul, paling tidak kau sudah punya teman untuk kabur bareng, Bellona," kata Fred sebelum menegak gelas berisi jus labunya.
"Well, itu melegakan sekali," balas Bellona, memutar bola matanya, pasrah. Benar juga. Fred dan George mahir ber-apparate. Bisa dipastikan mereka juga mahir kabur, kan? pikir Bellona. Nah, sekarang apa isi surat dari Oliver? Semoga dia tidak menyuruhku menyikat sapunya atau mencuci sarung tangan kipernya begitu dia pulang nanti. Itu menyebalkan!
[i] Balona, mi amor, bagaimana keadaanmu di sana? Apa kau mulai takut pada sinar matahari dan bawang putih? Semoga jawabannya tidak. Seharian kemarin aku berpikir apa yang terjadi kalau mendadak kau… Ah, lupakan sajalah. Segera kirim balasan lewat burung hantu yang kubelikan untukmu ini. Dia belum kuberi nama.
P.S. Jangan namai dia Mickey II atau nama aneh-aneh lainnya!
Tu amor, Wooden. [/i]
"Burung jelek ini belum diberi nama ternyata," kata Bellona dengan tatapan bergairah setelah membaca surat dari Wood ini. Burung hantu yang ia maksud balas memandanginya dengan sorot cemas. "Well… karena bulunya berwarna kombinasi hitam, coklat, dan putih, maka dia kunamai… Robert!"
Sontak, Fred dan George tersedak berbarengan. Wajah mereka basah kuyup saat muncul dari balik gelas. Hidung George bahkan sudah kemasukan jus labu saking shocknya.
"Dia… dia betina, Bellona," protes George tersengal.
"Lagipula tidak ada nyambungnya deh antara nama Robert dengan warna burung nyentrik itu," timpal Fred sambil nyengir geli.
Seakan mendukung protes Weasley bersaudara, burung hantu Bellona mulai ber-uhu-uhu dengan suara paraunya yang menyayat telinga. Jelas saja dia tidak terima dengan pilihan nama majikan barunya ini.
"Wah, dia senang sekali dengan nama Robert," kata Bellona riang. Rupanya gadis itu salah menafsirkan protes burung hantunya ini. "Aww, dia mematukku! Robert, kau nakal!"
"Kalau aku jadi burung hantu itu, aku akan senang sekali andai kau bukan majikanku, Bellona," kata George. Kini dia berbalik pada si burung hantu dan berkata dengan penuh simpati, "Aku ikut berduka cita untukmu, Robert…"
"Nama Roberta akan lebih cocok," usul Fred.
Burung hantu Bellona mendadak mengibas-ngibaskan sayapnya dan mengangguk-angguk keras. Mau tak mau, Bellona jadi curiga.
"Jangan-jangan kau ini animagus ya, Robert?" tanya Bellona setengah mengancam, menodongkan tongkatnya ke wajah burung hantunya sendiri. "Hayo ngaku!"
Terang saja burung hantu itu menggeleng-geleng keras, membuat Fred dan George melongo. Entah mata mereka sudah berbohong atau apa, tapi burung ini cerdas sekali sampai bisa memahami bahasa manusia.
"Oh, baiklah, Robert. Namamu sekarang Roberta deh," kata Bellona setelah mempercayai gelengan Robert—alias Roberta. Burung hantu itu pun kembali bersikap tenang dan tak lagi melotot galak pada Bellona. Sementara itu Bellona hanya menuliskan kata 'aku baik' di balik surat Oliver tadi dan mengikatkan surat itu di kaki burung hantu barunya ini. "Kau mengingatkanku pada Mickey. Sepertinya dia juga selalu paham apa yang kuucapkan. Baiklah, ini suratnya. Tolong antarkan pada Oliver Wood ya, Robert—ta!"
Roberta mematuk pelan jari Bellona sebagai tanda kalau ia mulai menyukai majikan barunya ini, sebelum terbang melalui jendela yang terbuka. Bellona mengawasi kepergian Roberta dengan ekspresi tidak rela.
"Tadinya aku ingin menamainya Michael Jackson…" sesal Bellona.
"Mi—Siapa?" tanya George, berjengit. "Aku kira nama Mickey dan Robert saja sudah sangat parah. Ternyata ada yang jauh lebih mengerikan lagi."
"Michael Jackson. Kurasa dia itu seorang raja dari kerajaan apa gitu. Ayahku sering menyebutnya sebagai 'King of Poo', atau sesuatu yang kedengarannya mirip itu," jawab Bellona sambil mencoba mengingat-ingat. Ingatan gadis itu memang buruk sekali. Semoga saja Michael Jackson tidak bangun dari kuburnya begitu tahu kalau julukannya dipelesetkan parah di FF ini.
"Terdengar mirip dengan produk keluaran lama kita, [i] You-No-Poo [/i]. Apa—apakah raja Michael Jackson itu langganan setia kita?" tanya Fred antusias. Hebat juga produk mereka sampai bisa digemari seorang raja.
"Tidak. Kurasa tidak. Dia seorang Muggle sih," jawab Bellona menggeleng.
Suara daun pintu terbuka mengusik perhatian mereka bertiga. Ada beberapa orang yang menyeruak masuk ke dalam toko yang belum dibuka itu. Well, subuh-subuh begini harusnya belum ada orang yang berbelanja di Hogsmeade, kan? Namun Bellona dan Weasley bersaudara terkejut saat mendapati siapa yang baru saja datang ini.
Tak butuh waktu lama untuk menilai kalau orang-orang itu datang dengan maksud tidak baik. Terlihat dari ekspresi sangar mereka dan pakaian hitam-hitam tebal yang menyerupai jubah biarawan. Saat salah seorang yang berdiri paling belakang membuka tudung jubahnya, Bellona segera mengenalinya sebagai Marius.
"Dia itu vampir!" teriak Bellona pada Fred dan George.
Spontan, mereka bertiga mengeluarkan tongkat masing-masing. Ekspresi mereka semua tegang, tak menyangka vampir yang mereka bicarakan tadi akan benar-benar muncul. Di samping itu, lima orang yang bersama Marius itu pastinya juga vampir. Baru kali ini toko itu dikunjungi begitu banyak vampir seperti pagi ini.
"Terima kasih pada mendung tebal di fajar hari ini. Kau tahu kalau kami tak bisa berjalan di bawah sinar matahari," kata Marius tenang, tak terusik dengan todongan tongkat Bellona. "Sekarang, kau ikut kami, Saphirre…"
"Dia tidak akan kemana-mana!" tukas Fred. Dengan berani ia menghadang Marius. Tongkatnya sendiri sudah siap melancarkan kutukan bila diperlukan.
"Itu benar!" sahut George, mengikuti langkah Fred, ikut memblokir Bellona dari pandangan Marius dan anak buahnya.
"Aku juga tak mau main gameboy dengan kalian!" timpal Bellona tiba-tiba.
Kali ini spontan Fred dan George saling berpandangan, heran. Gameboy itu apa?
Marius masih bersikap tenang, bergeming di tempatnya. Sementara itu anak buahnya membuka tudung jubah mereka masing-masing untuk memperlihatkan taring mereka yang mampu menciutkan nyali.
"Kalian, monyet-monyet berambut merah, menyingkirlah dari hadapanku," kata Marius kalem.
Fred dan George tahu betul kalau di balik ucapan kalem ini terkandung sebuah gertakan. Benar saja. Karena Fred dan George tetap bertahan di posisi mereka, nekat melindungi Bellona, Marius pun mengibaskan kedua tangannya. Seketika itu pula tubuh Fred dan George terhempas kuat, seolah disibak paksa oleh terjangan angin topan. Keduanya jatuh berguling-guling. Bahkan Fred sampai menghantam rak berisi tumpukan kudapan kabur dan membuat semua isinya berjatuhan menimpanya.
"Astaga!" Bellona tertegun melihat apa yang terjadi pada kedua sahabatnya.
"Jadi, bagaimana? Mau ikut?" pinta Marius masih tetap sopan. Vampir itu mengulurkan tangannya yang seputih pualam dan berjari panjang-panjang.
Bellona menatap tangan Marius dengan penuh keraguan. Dia tak ingin pergi bersama geng vampir tanpa tahu apa yang akan terjadi kepadanya nanti. Tapi kalau dia tak mau ikut, maka Fred dan George berada dalam bahaya.
"Impedimenta!"
Mantra yang lantang diteriakkan oleh George ini mengenai Marius telak, membuat tubuh jangkung itu terlempar ke udara sebelum menabrak dinding dengan bunyi debum keras.
Kontan saja semua anak buah Marius mengamuk. Mereka mulai melompat dan menyerang George.
"Stupefy!" teriak Bellona dan George bersamaan.
Seketika itu dua buah sinar merah meluncur dan menghantam dua orang vampir tepat di dada mereka. Kedua vampir itu pun roboh dan tak sadarkan diri.
Tiga vampir sisanya masih mengeroyok Fred. Mereka terlihat semakin marah. Pukulan dan tendangan bertubi-tubi dihujamkan ke tubuh George yang kewalahan. Tongkat George sudah terlempar entah kemana dan ia tak bisa menghadapi semua vampir itu dengan tangan kosong. Apalagi gerakan ketiga monster bertaring itu cepat sekali, nyaris seperti bayangan yang tak terlihat. Anehnya, vampir-vampir itu mengabaikan Bellona, seolah sejak awal mereka diperintahkan untuk tidak menyakitinya.
Salah satu dari vampir itu meninju wajah George, membuat hidung pria itu mengucurkan darah segar. Keluarnya darah dari hidung George ini membuat para vampir itu semakin beringas. Mereka serta merta berubah liar, seolah sedang kelaparan. Kini mereka bertiga mencoba menerkam George yang langkahnya mulai terhuyung.
"Jangan!" teriak Bellona panik. Salah seorang vampir sudah hampir menancapkan taringnya ke leher George. "Impedimenta!"
Sayangnya mantra Bellona ini meleset. Namun Fred ada di saat yang tepat untuk melemparkan Bubuk Kegelapan Instan ke tengah arena pertarungan. Dalam sekejap seisi ruangan dipenuhi kabut tebal berwarna hitam kelam. Sulit sekali untuk melihat dalam suasana seperti ini.
"George, cepat kabur!" teriak Fred di tengah kegelapan.
Bellona merasakan tangan hangat menyambar tangannya dan menariknya. Gadis itu sadar kalau Fred sedang mengajaknya berapparate, sama halnya dengan apa yang mungkin sudah dilakukan oleh George di saat yang bersamaan. Namun Bellona belum bisa merasa lega saat merasakan cengkraman tangan dingin di kakinya. Ada salah satu vampir yang menangkapnya!
"Fred!" jerit Bellona.
Tapi terlambat. Mereka sudah terlanjur berapparate. Detik berikutnya, Bellona merasakan seluruh tubuhnya seolah dibelit dan ditekan dari segala arah. Perasaan tidak nyaman yang biasa ia rasakan saat diajak berapparate oleh Oliver. Tapi yang membuat perjalanan kabur ini semakin tidak nyaman adalah karena ada seorang vampir yang ikut terbawa bersama mereka. Bellona masih bisa merasakan cengkraman di kakinya, bahkan cengkraman itu semakin kuat dan menyakitkan.
Beberapa saat kemudian Bellona merasakan keadaan berangsur-angsur berubah. Tak ada lagi perasaan seperti terbelit dan tertekan. Bahkan ia jadi jauh lebih lega. Apalagi setelah merasakan kedua kakinya sudah menginjak tanah yang padat dan kering. Suasana di sekitarnya tidak terlalu terang karena langit tertutup awan tebal. Namun sesekali sinar matahari mengintip di sela-sela tirai awan.
Bellona memutar kepalanya sebentar dan mengenali tempat di mana mereka berada ini sebagai halaman belakang keluarga Weasley. Tentu saja tempat inilah yang terpikirkan pertama kali oleh Fred dan George saat kabur, rumah mereka sendiri.
"George! Kau tak apa-apa?" tanya Fred sambil melepaskan Bellona.
Kini ia beranjak menghampiri George yang terbaring di atas rerumputan kering, wajahnya penuh lebam dan hidungnya masih mengucurkan darah.
Namun pertanyaan Fred justru dijawab George dengan pertanyaan lain. "Hei! Kenapa makhluk itu bisa sampai ikut terbawa?!"
Refleks, Bellona berpaling ke arah yang ditunjuk George dan mendapati Marius terkapar kesakitan di dekat kakinya. Vampir itu tak tahan dengan sinar matahari yang kali ini bersinar tidak seterang biasanya. Asap tipis menguar dari tudung jubahnya. Bellona yakin asap itu berasal dari kulit Marius yang terbakar. Berada dalam posisi lemah begini membuat kondisi Marius terlihat menyedihkan. Bellona jadi tak tega. Apalagi saat gadis itu mendengar teriakan tertahan dari Fred. Bukan teriakan ketakutan, melainkan lebih terdengar seperti teriakan gusar.
"Dia menangkap kakiku…" jelas Bellona lamat-lamat. "Aku berusaha memberitahumu, Fred. Tapi sudah terlambat. Maaf…"
"Tidak, bukan salahmu. Makhluk ini yang akan membayar semuanya. Dia sudah memporak-porandakan tokoku, lalu anak buahnya melukai George, dan yang pasti, dia juga ingin menculikmu, Bellona."
Fred menodongkan tongkatnya dengan mantap. Sementara Marius hanya menatapnya dari balik tudungnya, asap putih tipis yang keluar dari tudung jubah itu tak juga berkurang. Vampir itu terlalu lemah untuk menyerang.
Bellona melihat kulit wajah Marius terkelupas-kelupas dengan sendirinya dan terbakar. Dia tahu kalau ini salah, tapi gadis itu tak bisa menahan diri. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat dia melepaskan baju hangatnya dan mengerudungkan baju hangat itu ke kepala Marius. Baju hangat Bellona efektif melindungi wajah Marius dari sinar matahari. Namun tindakan Bellona ini diprotes Fred.
"Ka—kau? Apa yang kau lakukan, Bellona?!"
"Aku tak bisa membiarkannya terbakar habis oleh sinar matahari. A—aku pinjam gudang sapu keluargamu sebentar…" pinta Bellona sambil memasang tampang memelas. "Kumohon…"
Di saat yang bersamaan, gadis itu merasakan tatapan tajam Marius dari balik baju hangat yang menutupi wajahnya. Sama seperti Fred, mungkin Marius juga heran kenapa Bellona melindunginya,
Butuh sekitar dua menit bagi Fred untuk memutuskan. Tapi akhirnya ia menurunkan tongkatnya tanpa banyak bicara. Sedangkan George di belakang sana hanya memandangi Bellona dengan sorot penuh tanda tanya.
"Ayo, Marius!" kata Bellona, dengan sigap membantu Marius berdiri dan memapahnya menuju ke sebuah bangunan batu yang digunakan keluarga Weasley untuk menyimpan sapu mereka.
Bellona masih sempat mendengar perintah Fred kepada George sebelum pria itu mengikuti mereka berdua. "Kau masuk ke rumah dan minta Mom mengobatimu. Aku akan menjaga Bellona."
Gudang sapu keluarga Weasley memang lumayan gelap, tanpa jendela dan hanya ada satu pintu. Walau disebut gudang, namun tempat itu sebenarnya hanya seluas lemari pakaian. Kalau dipaksakan, mungkin bisa dimasuki dua orang dewasa sekaligus. Di sanalah Bellona membaringkan Marius. Vampir itu sendiri tampak tak banyak protes. Dia memang butuh tempat bersembunyi terdekat dari sinar matahari di luar sana.
"Well, kau… Kau aman sekarang. Aku tak tahu bagaimana harus mengobati luka vampir, tapi akan kuusahakan. Tunggu ya…"
Bellona terkejut saat Marius menangkap tangan kanannya. Namun kali ini ia tidak digigit. Marius hanya mengucapkan 'terima kasih' dengan suara lemah, membuat Bellona agak tersipu.
"Jadi, maksudmu apa? Aku tak mengerti," tanya Fred saat Bellona menutup pintu gudang rapat-rapat, memastikan tak ada cahaya matahari yang bisa masuk. "Kuharap kau sengaja menyimpannya di sana supaya kita bisa menyerahkan makhluk bertaring itu kepada Auror siang ini."
"Entahlah. Aku sendiri tidak yakin kalau dia jahat…"
"Apa?"
"Maksudku, kau tak lihat dia saat pertama kali kami bertemu dulu. Ekspresinya seperti menyimpan sesuatu yang membuatnya begitu sedih."
"Kau sendiri tak lihat ekspresi sadisnya tadi saat membenturkan kepalaku ke rak," bantah Fred, memamerkan dahinya yang benjol seukuran bakso. "Yang jelas, dia jahat. Oke? Vampir itu jahat, Bellona. Jangan terpengaruh film vampir berciuman di bioskop Muggle itu. Jelas sekali fakta sudah diputar-balikkan."
"Bukan! Ini lebih seperti intuisiku. Kau tahu, kan? Intuisi wanita hampir selalu benar."
"Hanya 'hampir'. Itu tidak berarti selalu benar. Kami akan melaporkannya kepada Auror, kepada Harry atau Ron. Mereka yang jauh lebih berwenang dengan makhluk sejenis ini," kata Fred ngotot.
"Baiklah. Terserah kau saja, ayah!" balas Bellona kesal, menabrak Fred keras-keras saat ia berjalan melewatinya. "Pokoknya aku akan mengobatinya sekarang!"
"Wanita... Selalu saja punya cara untuk meruwetkan setiap masalah," keluh Fred sambil mengawasi kepergian Bellona.
Dia sendiri memutuskan untuk tetap berjaga di luar gudang sapu. Kalau-kalau Marius mencoba untuk kabur atau apa, meski Fred tidak terlalu yakin Marius bisa senekat itu. Sebagaimana yang dipahami banyak orang tentang vampir, Fred tahu bahwa sinar matahari bisa membunuh Marius dalam sekejap mata.
