"Kau tidak boleh melakukan ini padanya! Demi Tuhan, dia itu adikmu! Adik kandungmu!"

PLAAAK!

Suara tamparan keras menggema di dalam ruangan itu. Seorang bocah berusia tiga belas tahun tampak diseret dari dalam kamar oleh ibunya, mengabaikan seorang anak laki-laki lain yang masih berusia lima tahun. Anak kecil itu menangis histeris memeluk kaki ibunya, memohon agar kakak laki-lakinya tidak disakiti.

"Jangan pukul nii-chan! Kaa-chan jahat!"

Anak laki-laki yang lebih tua memberontak dari cekalan ibunya, untuk menggapai adiknya yang menangis keras. "Jangan menangis, Sayang. Nii-chan di sini."

Belum sempat dia mencapai adiknya, adik kecilnya itu keburu diangkat oleh sang ayah. "Jangan mendekat!"

Bocah laki-laki itu menggeram, dia tidak suka adiknya dijauhkan darinya. "Aku tidak peduli dia adik kandungku atau bukan. Aku sama sekali tidak peduli. Yang jelas, aku mencintainya. Dan dia akan tetap menjadi milikku sampai kapanpun. Tidak ada yang bisa memisahkan aku darinya, bahkan Tou-chan dan Kaa-chan sekalipun!"

"Sadarlah! Kau tidak boleh bersamanya! Tidak sepantasnya kau memandang adikmu sendiri seperti itu! Kau menjijikkan! Pergi kau! Keluar dari sini!"

Bocah itu membelalak mendengar seruan ibunya, "Kaa-chan mengusirku?" tanyanya dengan nada tidak percaya. Dia tidak menyangka ibunya setega itu. "Aku ini anakmu!" Bocah itu menggertakan giginya, berusaha menahan air mata dan amarah yang membuncah di dadanya.

"Aku tidak punya anak sepertimu! Kau menyentuh adikmu sendiri, benar-benar menjijikkan! Sudah untung aku tidak melaporkanmu ke polisi!"

"Tenanglah. Jangan seperti itu padanya." Sang suami berusaha meredam emosi istrinya. Biar bagaimanapun, masalah tidak akan selesai jika melibatkan emosi.

"Diam kau!" hardik sang istri, membuat sang suami bungkam. "Anak ini tidak pantas tinggal di rumah ini!" sang istri menunjuk wajah anak sulungnya dengan geram.

Bocah itu menyeringai. "Baiklah. Aku pergi. Tapi suatu saat nanti, aku akan kembali untuk mengambil adikku, aku akan memilikinya untuk diriku sendiri! Dan jika saat itu tiba, aku akan melakukan apapun, membunuh kalian pun tidak jadi masalah buatku!"

"Anak sialan! Pergi kau!"

Bocah itu menjauh dari ibunya yang mengepalkan tangan menahan emosi, dan ayahnya yang hanya bisa diam, tidak berani menginterupsi ibunya jika sedang emosi. Bocah itu menuruni tangga dengan cepat, tidak memperdulikan teriakan adiknya yang memanggil-manggil namanya.

"Nii-chaaaaaan!"

Brak! Bruk! Brak!

"NARUTOOOOOO!"

Teriakan ibunya membuat bocah yang hampir menggapai pintu itu menoleh, dan apa yang dilihatnya membuat kaki bocah itu melemas, seolah otot kakinya kehilangan tenaga. Adiknya, satu-satunya orang yang dia sayangi dan cintai … jatuh dari tangga, bersimbah darah.

"Lihat apa yang sudah kau lakukan padanya, KURAMA!"

.

Disclaimer : Naruto BUKAN punyaku. Udah pada tau lah ya, Naruto punya siapa?

.

Old Grudges Die Hard © Vandalism27

.

Warning : YAOI, SASUNARU, incest (mungkin?), alur kecepetan, ngalor ngidul, typo(s), dan seabrek kekurangan lainnya. Aku mah apa atuh, cuma remah-remah rengginang (enak :p)

.

RATE : M; untuk adegan dan hal-hal lain yang tidak sesuai untuk anak-anak.

.

Sinopsis:

Dulu, aku dan kau bersahabat. Kita tidak terpisahkan. Tapi semenjak kejadian itu, kau berubah. Benar-benar berubah hingga aku tidak bisa mengenalimu lagi. Apakah tidak ada kesempatan kedua bagiku, meskipun aku menerima semua perlakuanmu padaku? Ataukah aku harus memberikan nyawaku, agar kau mau memaafkan aku, Sasuke?

.

.

Selamat Membaca!

.

.

Hari ini aku dan Sasuke sudah bisa melakukan aktivitas seperti biasanya, kami sudah diijinkan pulang dari rumah sakit sejak tiga hari yang lalu. Aku ingin ke sekolah, tapi Kaa-san menyuruhku untuk istirahat dulu di rumah.

Meskipun tidak bisa mengusiliku gara-gara tangannya sakit, tingkah Sasuke tetaplah menyebalkan. Bahkan seratus kali lipat lebih menyebalkan dari biasanya. Dia tak mau makan jika aku tidak menyuapinya, dia tak mau mandi jika aku tak ikut ke kamar mandi bersamanya–yah, kalian tahulah apa yang dia lakukan padaku.

Aku mengetuk meja makan dengan ujung jemariku, merasa bosan menunggui Sasuke yang sedang makan siang. Aku menghela napas ketika kulihat Sasuke tidak menyentuh makanannya. "Sasuke, makanan itu tidak akan berpindah ke perutmu kalau kau hanya menatapnya seperti itu." kataku.

Sasuke menatapku datar, kemudian berdecak. "Kau tidak lihat tanganku seperti ini? Ini semua gara-gara kau, tahu!" Dia kembali membentakku. Duh, aku tahu dia terluka gara-gara aku, tapi tidak perlu sampai begini, kan?

"Lalu aku harus melakukan apa? Apa kau menyuruhku duduk disini hanya untuk menemanimu memandang makanan? Itu makanan, bukan lukisan!" kataku, dengan nada yang tanpa aku sadari terdengar kesal.

"Suapi aku."

"Hah?" Aku melongo mendengar perkataan Sasuke. "Suapi?"

"Iya, suapi aku. Kau tuli? Tangan kananku sedang sakit." Ulangnya.

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, "Bukan begitu maksudku, tapi bukankah kau dominan tangan kiri?" tanyaku bingung. Seingatku, Sasuke itu dominan tangan kiri. Lalu, apa susahnya makan pakai tangan kiri?

Spontan aku melindungi kepala dengan kedua lenganku ketika melihat Sasuke mengangkat ponselnya, hendak melemparku, "Kalau kau banyak bicara, aku tidak akan segan melempar kepalamu!" hardiknya.

Tanpa diperintah dua kali, aku langsung meraih sumpit yang tergeletak di samping mangkuk nasi. Aku menyumpit makanan itu, lalu mengarahkannya pada mulut Sasuke, tanganku sedikit bergetar karena aku takut pada ancamannya.

Aku suapi dia dengan perlahan, tidak ingin membuatnya tersedak. Setelah Sasuke menelan suapan terakhirnya, aku mengambilkan air minum untuknya, kemudian membereskan bekas makan Sasuke untuk ku letakkan di bak cuci piring. Aku berbalik ketika merasakan seseorang menarik lenganku.

"Ikut aku."

Aku membelalak kaget, jantungku berdetak keras karena takut. "Sasuke … err, kita mau kemana?" tanyaku, sambil berusaha mengimbangi langkah Sasuke yang lebar. Kenapa dia suka sekali menyeretku? Memangnya aku sapi?

Sasuke tidak menjawabku, dia terus berjalan. Aku mengerut bingung, ternyata dia membawaku ke kamarku. Aku pikir dia mau mengajakku ke kamarnya untuk ... Aduh, mikir apa sih aku ini? Sejak kapan pikiranku mulai mesum begini?

Sasuke membuka pintu kamarku, lalu mendorong bahuku agar aku segera masuk ke dalam kamar, "Ganti bajumu, kalau sudah selesai langsung turun ke bawah. Kita pergi."

Tanpa repot-repot menunggu jawabanku, Sasuke langsung menutup pintu kamarku dengan bantingan, membuatku berjengit kaget. Dasar, menutup pintunya biasa saja kan bisa, tidak perlu dibanting segala.

Aku berjalan ke lemari pakaianku sambil menghembuskan napas karena kesal. Aku buka pintu lemari berwarna cokelat muda itu sedikit kasar. Aku pandangi seluruh isi lemari itu. Ku tarik sebuah kaus warna putih dari tumpukan baju, lalu beralih ke tumpukan celana. Aku menarik satu celana jeans warna hitam. Setelah mendapatkan apa yang aku mau, ku tutup pintu lemari, segera mengganti bajuku sebelum Sasuke mengamuk. Ku sambar hoodie warna biru gelap yang ku gantung di belakang pintu, sebelum keluar dari kamar.

Aku turun ke ruang tamu, ternyata disana sudah ada Sasuke, sedang duduk sambil menelepon seseorang. "Sasuke? Kita mau kemana?" tanyaku, ketika Sasuke sudah selesai menelepon.

Dia menoleh, "Kaa-san menyuruh kita ke butiknya. Kau sudah siap?" Sasuke memperhatikan penampilanku dari atas ke bawah, lalu kembali lagi ke wajahku, "Not bad. Ayo."

Aku mengikuti langkah Sasuke dalam diam. Bahkan ketika masuk ke mobilnya pun aku diam, tidak berusaha membuka obrolan. Aku takut Sasuke akan marah lalu memukulku. Masih untung kalau dia hanya memukulku. Kalau dia membunuhku, lalu membuang mayatku di tengah hutan? Aku belum siap, aku masih ingin hidup.

Sasuke memacu mobil hitamnya dengan kecepatan sedang. Diam-diam aku melirik Sasuke dari sudut mataku. Dia terlihat santai, padahal biasanya kalau aku berada dalam jarak pandangnya, wajahnya selalu terlihat seperti gunung berapi dengan status awas. Tinggal tunggu waktu saja kapan meletusnya.

Aku menghela napas, lalu membuang pandangan pada jendela di sampingku. Aku melihat gedung-gedung tinggi yang berjejer rapi, dan juga berbagai macam toko yang menjual berbagai macam barang. Banyak juga pejalan kaki, entah kemana tujuan mereka. Kalau hari ini aku sekolah, aku juga biasanya ada di antara kerumunan pejalan kaki itu.

Mobil Sasuke berhenti ketika lampu lalu lintas menyala merah. Tanpa sadar, tubuhku yang sedang bersandar langsung duduk tegak ketika aku melihat seseorang yang terasa familiar, dengan rambut oranye kecoklatannya yang mentereng … "Kyuubi-san?" gumamku pelan, sedang apa dia berjalan kaki di daerah ini?

"Apa yang kau lihat?" Aku menoleh ketika mendengar pertanyaan Sasuke. Dia menaikkan kedua alisnya, membuat aku tertegun. Biasanya dia selalu kasar dan membentak, tapi tadi ekspresinya terlihat … normal? Entahlah, aku tidak tahu harus menyebutnya seperti apa.

"Mmm, tidak. Hanya melihat … temanku." jawabku. "Tadi sepertinya dia lewat sana." kataku, sambil menunjuk trotoar di seberang jalan.

Sasuke mengerutkan keningnya, lalu mendengus mengejek, "Teman? Memang sejak kapan kau punya teman?" tanyanya, yang lebih tepat disebut hinaan.

Aku tidak menjawab. Lebih tepatnya sih, malas menjawab. Sasuke kembali menginjak pedal gas ketika lampu lalu lintas menyala merah. Mobil ini melewati beberapa blok pertokoan, lalu berhenti di sebuah butik yang memajang pakaian dengan berbagai macam model dan warna yang terlihat cantik–dan tentu saja, mahal.

Sasuke melepas sabuk pengamannya, mengernyit ketika melihat aku tidak bergerak, "Ada apa? Kita sudah sampai." Tanyanya. "Apa kepalamu masih sakit?"

Aku yang sedang melamun, tersentak kaget, "O-oh, aku tidak apa-apa." Jawabku sedikit terbata, "Aku hanya sedang memikirkan sesuatu." Kataku lagi. Lalu aku segera turun dari mobil, mengabaikan tatapan bertanya Sasuke.

Kami berdua masuk ke dalam butik mewah milik Kaa-san. Beberapa karyawan wanita menundukkan kepala untuk menyapa, beberapa pengunjung wanita menatap kami–terutama Sasuke–dengan tatapan memuja yang kentara. Aku merengut sebal, kenapa banyak sekali wanita yang melirik Sasuke, sih?

"Di mana Kaa-san?" tanya Sasuke dengan nada datar pada salah satu karyawan wanita.

"Mikoto-sama ada di dalam, Sasuke-sama." Jawab karyawan wanita itu dengan sopan.

Karyawan yang terlihat senior itu membimbing kami menuju ke ruang kerja Kaa-san. Karyawan itu mengetuk pintu, lalu membukanya setelah mendengar sahutan dari dalam. Dia mempersilahkan kami untuk masuk, kemudian pamit pergi setelah aku mengucapkan terima kasih dengan ramah.

"Ada apa Kaa-san menyuruh kami ke sini?" tanya Sasuke, sambil duduk di sofa empuk di dalam ruang kerja itu.

Kaa-san terlihat sumringah, "Kaa-san ingin mengajak kalian makan bersama teman lama!" jawabnya. "Dia punya anak gadis yang sangat cantik. Aku yakin, kalian pasti akan menyukainya."

Aku pura-pura antusias, "Benarkah?" jawabku. Aku tak mungkin mengecewakan Kaa-san. Meskipun aku harus menahan rasa takutku. Dapat kurasakan Sasuke kini tengah menatapku dengan tajam.

"Oh, tentu saja! Dia gadis yang cantik dan juga lembut, dan dia pasti akan menyukai pemuda tampan sepertimu, Naruto!"

Suara ketukan di pintu mengalihkan perhatian kami bertiga. Karyawan yang tadi mengantar kami, mengatakan kalau ada orang yang sedang menunggu Kaa-san di luar.

"Baiklah, Kaa-san ada urusan sedikit, kalian bersantailah dulu di sini. Kaa-san segera kembali." Katanya, lalu pergi mengikuti sang karyawan. Tinggallah aku berdua dengan Sasuke di ruangan ini.

Ku dengar Sasuke mendengus, "Heh, wanita cantik mana yang akan naksir pemuda lemah sepertimu? Yang benar saja." Katanya. "Kalau kau berani macam-macam, aku tak akan segan mengulangi kejadian di kamarku itu. Kau mengerti, Naruto?" ancaman Sasuke membuatku merinding.

Aku takut, tapi aku berusaha bersikap berani, "Kau tak berhak mengaturku." Jawabku.

Aku lelah. Aku tak ingin hidup dalam penderitaan seperti ini. Akhir-akhir ini, aku belajar untuk menerima kenyataan kalau Sasuke yang sekarang, sama sekali berbeda dengan Sasuke yang dulu. Dan Sasuke-ku yang manis itu tak akan pernah kembali.

Sasuke mencengkram lenganku kuat, mengabaikan aku yang meringis kesakitan. "Kau bilang apa barusan?" desisnya. Cengkramannya semakin menguat ketika aku tak menjawab ucapannya.

"Lepaskan aku, Sasuke. Aku lelah menjadi mainanmu!"

"Kau sudah bosan hidup?" desisnya. "Kau ingin aku memperkosamu disini, sekarang juga? Aku tidak masalah sekalipun Kaa-san memergoki kita. Siapa tahu dia akan membuang orang tidak berguna sepertimu ke jalanan." dia kembali menebar ancaman. Tapi aku tak akan gentar.

"Lepas!" Aku menyentakkan lengan Sasuke, dan kali ini berhasil.

Sasuke hendak menerjangku, tetapi urung dilakukan ketika pintu kerja Kaa-san terbuka. Wanita cantik itu berjalan ke arah laci meja mengambil kunci mobil, lalu memandang kami sambil tersenyum manis, "Maaf menunggu. Ayo, kita berangkat. Teman Kaa-san sudah menunggu!"

Aku berlari mengekor Kaa-san, berusaha menghindari amukan Sasuke. Setan labil dan emosian itu berjalan di belakangku sambil menatap punggungku dengan tajam. Aku yang sangat kesal padanya, menoleh ke belakang.

"Weeeek!" Aku menjulurkan lidahku.

Sasuke melotot, dia hanya bisa menggertakkan giginya. Dia tidak akan bisa menyakitiku kalau ada Kaa-san. Ingin rasanya aku tertawa sekeras-kerasnya!

Kami mengendarai mobil sedan mewah milik Kaa-san ke sebuah restaurant terkenal di tengah kota. Sasuke yang membawa mobilnya, Kaa-san duduk di samping Sasuke sedangkan aku duduk di belakang.

Ketika kami sampai di restaurant itu, Kaa-san turun dari mobil dengan anggun, sementara aku turun dari mobil dengan terburu-buru, bahkan membanting pintu mobil malang itu. Aku tidak ingin berduaan dengan Sasuke saat ini. Aku tidak berani menatap wajah Sasuke, karena aku sadar pemuda itu sedang marah padaku.

Di dalam restaurant, Kaa-san melambai pada seorang wanita cantik berambut gelap. Wanita itu balas melambai sambil tersenyum. Wajah cantiknya mengingatkan aku pada seseorang, siapa ya? Rasa-rasanya pernah lihat wajah seperti dia.

"Sudah lama menunggu, Hikari*?"

(*Sorry, gue nggak tau siapa nama ibunya Hinata. Ada yang tahu? Nanti gue koreksi. Gue keliling google tapi cuma nemu "Ibunya Hinata dan Hanabi" nama macam apa itu?)

Wanita bernama Hikari itu tersenyum lembut, lalu menggeleng, "Sama sekali tidak. Aku juga baru sampai." Katanya.

Kaa-san menoleh kesana kemari, seolah sedang mencari sesuatu. "Mana putrimu?"

"Dia sedang ke toilet–oh, itu dia!"

Kepalaku otomatis menoleh ke balik punggungku, penasaran juga dengan anak perempuan wanita cantik ini. Mata biruku otomatis membelalak.

"Selamat sore, semuanya." Gadis itu menyapa dengan ramah, "Hai, Naruto-kun," dia menyapaku sambil menunduk malu-malu. Wajahnya memerah entah karena apa.

"Hai, Hinata-chan." Sapaku balik. Pantas saja aku seperti pernah melihat wajah cantik wanita itu. Ternyata, dia ibunya Hinata, toh? Aku melirik Sasuke. Dia kan tidak suka dengan Hinata. Dan benar saja, tatapan Sasuke sangat tajam dan dingin, dia seperti ingin menerkam Hinata lalu mencabiknya.

"Wah, kalian sudah saling kenal?" Kaa-san menepuk bahuku, lalu berbisik dengan cukup keras, "Apa dia gadis yang kau sukai?" tanyanya, dengan seringai jahilnya.

Aku menggeleng kaku, dan tidak sengaja mataku bertatapan dengan mata tajam Sasuke. "B-bukan, Kaa-san. Kami hanya teman satu sekolah." Aku menjawab dengan cepat. Aku mengalihkan mataku dari Sasuke, lalu menatap Hinata-chan yang kini menunduk dengan wajah yang terlihat … kecewa? Dia kenapa?

Kaa-san menyuruh aku dan Sasuke untuk duduk. Aku terpaksa duduk di sebelah Sasuke karena kursi sudah terisi oleh Kaa-san, Hikari-san dan Hinata-chan. Kami mengobrol tidak jelas. Kaa-san dan Hikari-san lebih banyak membicarakan hal-hal yang menyangkut urusan wanita, Hinata-chan kadang-kadang menyahuti obrolan mereka. Sasuke sedang sibuk dengan ponselnya, entah dia sedang apa. Mungkin chatting dengan gengnya?

Tiba-tiba Kaa-san menyenggol lenganku, "Naruto, kau sudah punya pacar?"

Sebelah alisku terangkat, "Belum, kenapa, Kaa-san?"

"Kenapa tidak berpacaran dengan Hinata-chan saja? Ku lihat Hinata-chan sangat cocok denganmu, dia manis dan pendiam, sedangkan kau selalu ceria dan baik hati. Kaa-san sangat setuju kalau kau berpacaran dengan Hinata-chan! Kalau Sasuke sih, dia terlalu pendiam untuk Hinata-chan." kata Kaa-san. Hikari-san tertawa mendengar perkataan Kaa-san, sementara Hinata-chan tersenyum malu-malu sambil menunduk.

Aku meringis ketika mendengar ucapan Kaa-san. Bukan, bukan karena ucapan Kaa-san aku meringis ngilu, tetapi karena ada seseorang yang menginjak kakiku dengan keras. Kalian tahu kan siapa? Ya, siapa lagi kalau bukan Sasuke, si iblis bermuka dua?

Ku lirik pemuda yang duduk dengan tenang di sebelahku itu. Wajah pemuda itu terlihat datar, tetapi aku bisa melihat jelas amarah dari tatapan matanya. Well, mata Sasuke adalah salah satu bagian yang tidak pernah bohong. Amarahnya, kesedihannya, dan emosi lainnya selalu tergambar jelas di sana, biarpun wajahnya kadang sedatar tembok.

Aku menyentakkan kakiku, lalu meminta ijin ke toilet. Aku pura-pura ingin buang air kecil, padahal aku hanya ingin menghindari amarah Sasuke yang kadang dilampiaskannya padaku. Untunglah kami berada di tempat umum, dia tak akan menyakitiku di sini.

Ketika aku hendak kembali ke dalam restaurant, Kaa-san mengirimiku pesan untuk segera ke mobil. Hikari-san ada urusan mendadak jadi dia terpaksa meninggalkan restaurant lebih dulu. Ketika aku hendak berjalan ke mobil, aku tidak sengaja melihat Sasuke sedang memepet Hinata.

Tunggu … dia menyukai Hinata-chan? Jangan bilang dia cemburu melihat gadis itu malu-malu menatapku? Aku memberanikan diri mendekati mereka, lalu bersembunyi di antara pilar restaurant itu. Aku berusaha mencuri dengar pembicaraan Sasuke dan Hinata-chan yang terlihat mencurigakan itu.

Diam-diam aku berdoa dalam hati, semoga Sasuke tidak sedang mengungkapkan perasaannya.

"Kau mengerti? Kalau kau berani menggoda Naruto, aku tidak akan segan membully-mu sampai kau menangis lalu berharap malaikat maut datang menjemputmu. Paham?"

Aku mengerutkan keningku. Eh, kenapa Sasuke mengancam Hinata-chan?

"K-kenapa kau mengancamku? Seperti Naruto-kun pacarmu saja." Hinata-chan terlihat kesal, dia menatap Sasuke dari balik poni ratanya. Wah, berani juga dia. Aku saja tidak berani melawan Sasuke.

Sasuke mendengus, "Naruto bukan pacarku, aku tidak sudi pacaran dengannya. Tapi dia milikku! Aku akan menghancurkan siapa saja yang berusaha mendekatinya, termasuk kau!"

Aku tertegun. Jadi, bukan Hinata-chan yang disukainya?

Aku segera pergi dari tempat persembunyianku sebelum Sasuke menyadari keberadaanku. Aku meremas dadaku yang entah mengapa terasa sakit. Sasuke bilang dia tidak sudi berpacaran denganku. Apa aku semenjijikkan itu?

Aku menghela napasku untuk menahan air mataku yang nyaris tumpah. Aku masuk ke dalam mobil, mengabaikan Kaa-san yang sedang menunggu Sasuke di dalam mobil, lalu pura-pura tertidur. Aku malas menatap wajah Sasuke sekarang.

.

.

.

Aku menghela napasku. Mata biruku memperhatikan kumpulan awan yang berderet di langit melalui jendela kelas. Saat ini aku sedang belajar matematika. Salah satu mata pelajaran yang paling tidak aku kuasai. Aku tahu, seharusnya aku menyimaknya dengan serius. Tetapi aku sedang tidak mood belajar.

Mataku melirik bangku Sasuke yang kosong. Dia sedang membolos bersama temannya, entah kemana. Hanya ada Neji di bangkunya. Tumben-tumbenan Neji tidak ikut membolos bersama Sasuke dan gengnya yang lain.

Aku melirik Gaara yang sedang menggambar karakter komik kesukaannya. Aneh, dibalik wajahnya yang seram, Gaara sangat menyukai karakter perempuan yang berwajah imut. Dan itu membuatku ingin tertawa.

"Kenapa?" Gaara berbisik, membuatku menoleh.

"Gambarmu bagus." Pujiku. Gambar Gaara memang bagus, serius. Sepertinya dia berbakat menjadi mangaka.

Dia tidak menjawab, hanya tersenyum tipis sekilas lalu melanjutkan gambarnya.

Mataku kembali memandang ke depan, dimana Anko-sensei sedang menjelaskan sebuah soal matematika yang dipenuhi rumus dan angka. Perutku mual melihat deretan angka-angka itu, jadi ku putuskan untuk memandangi langit saja.

Satu jam kemudian, pelajaran matematika itupun berakhir, dan berakhir pula kegiatan belajar mengajar hari ini. Keningku mengerut heran, kemana perginya Sasuke? Dia membolos dua mata pelajaran sekaligus.

Aku memekik ketika seseorang menarik tanganku, "Neji?"

"Kau ada acara setelah ini?" tanyanya, yang aku balas dengan gelengan. Aku memang tidak ada jadwal apapun hari ini. "Mau ikut aku menonton film? Ini film horror keren! Dan aku tidak menerima penolakan, bagaimana?"

Aku menggeleng. Tanpa sadar aku bergidik ngeri ketika membayangkan reaksi Sasuke kalau tahu aku pergi bersama Neji. Dia pernah mengancamku untuk menjauhi Neji, kan?

Tetapi Neji ini benar-benar tipe manusia keras kepala yang tidak bisa ditolak. Dia terus saja memaksaku untuk ikut menonton bersamanya.

"Waaaah~ nonton film! Aku juga mau ikut!" tiba-tiba Gaara merangkul bahuku, dia menatap Neji sambil menyeringai.

Neji mendengus sebal, "Dasar perusak suasana! Pergi sana! Kau kencan saja sana dengan Sasuke!" katanya. Neji menarik tanganku agar aku menjauh dari Gaara.

Gaara tidak mau kalah, dia menarik tanganku yang satunya, "Kau saja sana yang berkencan dengan Sasuke! Kau kan selalu berduaan dengannya! Dasar bintang iklan sampo! Rambutmu saja yang bagus, wajahmu seperti hantu!"

"Kau tidak pernah berkaca?! Wajahmu lebih seram dari hantu yang muncul dari kuburan!" bentak Neji.

"STOP!" aku merentangkan kedua tanganku di antara dada kedua pemuda sableng ini, "Kita menonton bersama, bagaimana? Kalau tidak setuju, kalian saja yang kencan berdua." Kataku, berusaha menengahi. Bukan apa-apa, tapi aku malu setengah mati karena kami menjadi tontonan murid-murid yang lain.

Mau tidak mau, Neji dan Gaara akhirnya menuruti ucapanku. Mereka berdua jauh lebih gampang dijinakkan dari pada Sasuke. Well, mumpung Sasuke tidak ada, lebih baik aku bersenang-senang saja.

Kami sampai di gedung bioskop dengan menumpang mobil Neji. Gaara lebih suka naik bus kemana-mana, dia tidak bisa mengendarai mobil, dia lebih suka motor.

Kami duduk bersebelahan, Neji di sebelah kanan, sedangkan Gaara di sebelah kiri. Mereka sempat berdebat ingin duduk di sebelahku, jadi aku putuskan untuk duduk di tengah-tengah. Kedua pemuda ini kekanakan sekali.

Selesai menonton film, Neji pamit pergi ke toilet. Dia bilang sudah tidak bisa menahannya. Aku mendengus geli. Ternyata, Neji tidak seburuk yang aku pikirkan. Dia sangat baik padaku. Tidak seperti anggota geng Sasuke yang lainnya.

Kepalaku menoleh menatap Gaara yang baru saja menghela napasnya, "Kau baik-baik saja, Gaara?"

Gaara mengangguk, "Ya, aku baik-baik saja."

"Kalau kau ada masalah, kau bisa menceritakannya padaku, kau tahu? Mulutku aman," kataku, sambil melakukan gerakan mengunci bibir.

"Ayahku, dia tiba-tiba mengajakku bicara setelah sekian lama dia mendiamkan aku."

"Mendiamkanmu? Kenapa?

Gaara menghela napas lagi, "Aku ini anak yang bandel dan tidak tahu diri. Kerjaanku cuma makan, tidur, sekolah, berkelahi. Tidak ada yang lainnya. Ayah sangat dingin padaku. Hanya kedua kakakku yang mau berbicara padaku di rumah."

Aku tertegun mendengar cerita Gaara. Ternyata, bukan cuma aku saja yang memiliki masalah. Orang sekuat Gaara pun punya masalah.

"Ibumu kemana?"

"Aku tidak punya ibu, Naruto. Ibuku sudah meninggal ketika melahirkan aku."

Aku menggigit bibirku yang dengan lancangnya bertanya seperti itu, "M-maaf, Gaara. Aku tidak tahu. Eh, tapi kau jangan sedih, aku juga sudah tidak punya ibu dan ayah, mereka sudah meninggal." Kataku, mencoba menghibur.

Gaara mendengus, lalu menepuk kepalaku, "Kita senasib," katanya, "Tapi Naruto, ayahku ingin memindahkan aku ke luar negeri, katanya perilaku ku tidak ada bedanya dengan saat masih di Suna. Menurutnya, aku masih bandel."

Aku buru-buru menggeleng, "Tidak! Kau tidak bandel, kau bahkan sangat baik padaku. Kau juga tidak pernah berkelahi di sekolah, kan? Kau juga pintar menggambar, pintar matematika juga. Meskipun Bahasa Inggrismu sangat payah." Kataku, berusaha menghiburnya tetapi aku malah tertawa sendiri ketika ingat betapa payahnya Gaara dalam pelajaran Bahasa Inggris.

Gaara tersenyum simpul, "Terima kasih sudah mau mendengarkan ceritaku, Naruto."

"Ya, sama-sama."

Percakapan kami terhenti ketika ponsel Gaara bergetar, menandakan satu panggilan masuk. Ternyata dari ayahnya. Gaara menjauh untuk mengangkat telepon itu. Sementara itu, Neji baru selesai dari toilet.

"Kenapa lama sekali? Kau buang air besar?" tanyaku.

"Tidak, aku buang air kecil, kok. Mana bisa aku buang air besar di tempat umum." Jawabnya dengan santai.

Aku tertawa dalam hati. Perasaan, kemarin Neji adalah salah satu orang yang paling aku takuti di sekolah. Tapi sekarang, kami malah membicarakan masalah ia buang air kecil atau buang air besar di toilet. Benar-benar aneh!

"Naruto?"

"Ya?"

"Apa Sasuke masih sering memukulimu? Termasuk di rumah." Neji mengangkat tangannya ketika aku hendak membantah. Biar begini, aku bukan orang yang suka mengumbar keburukan orang lain, apalagi keburukan Sasuke. "Jangan bohong, aku tahu kalau kau berbohong."

Aku menghela napas, percuma juga berbohong, "Iya. Dia kadang masih suka memukuliku. Bahkan di rumah, ketika kami cuma berdua."

Neji mendecakkan lidahnya, "Manusia satu itu memang menyebalkan. Aku sudah tidak pernah bergaul dengannya lagi. Kau lihat sendiri, kan? Aku sudah jarang ikut membolos, ikut berkumpul pun aku malas. Lebih baik aku pergi kencan bersamamu saja." Kata Neji. Dia tergelak melihat ekspresi wajahku.

Aku merengut masam. Dia tidak tahu sih, apa yang sudah dilakukan Sasuke ketika melihat Neji mengantarku pulang. Manusia sakit jiwa itu benar-benar keterlaluan!

"Kenapa tidak pergi dari rumah saja? Dari pada kau tersiksa. Aku bisa memberimu tempat tinggal kalau kau mau. Atau kau bisa tinggal di rumah kerabatmu yang lain."

Aku menggeleng, "Aku memiliki hutang budi pada keluarga Uchiha, tahu. Dulu, kakeknya Sasuke meninggal gara-gara menyelamatkan aku yang nyaris diculik."

Neji melotot, "Kau pernah diculik?"

"Hampir." Koreksiku.

Percakapan kami terhenti ketika Gaara datang menghampiri. Dia meminta maaf karena tidak bisa mengantarku pulang, lalu dia memerintahkan Neji untuk mengantarku sampai di rumah. Gaara ada urusan mendadak bersama ayahnya.

Neji tidak keberatan mengantarku pulang, dia justru terlihat senang. Dia bahkan mengajakku bercanda. Dibalik sikap dinginnya, ternyata Neji cukup humoris dan enak diajak bicara. Aku tidak keberatan berteman dengannya. Dia juga bukan orang yang kasar. Kalau aku pikir baik-baik, dulu Neji jarang memukulku, paling dia hanya akan menatapku dengan tajam, atau mendengus mengejek.

Mobil Neji berhenti di depan rumah. Dan saat itulah bencana di mulai.

Sasuke juga baru saja sampai rumah. Pemuda itu keluar dari mobil sambil menatap aku dan Neji dengan garang. Dia membanting pintu mobilnya, menghampiri aku, lalu mengusir Neji dengan kasar.

Sasuke menarik tanganku untuk masuk ke dalam rumah. Aku berdoa dalam hati. Semoga tidak terjadi apa-apa, karena rumah sedang kosong. Itachi-nii masih di kantor bersama tou-san. Kaa-san juga masih sibuk di butik.

BRAK!

Sasuke menarikku ke kamarnya, lalu aku berjengit kaget ketika Sasuke membanting pintu kamarnya dengan keras. Dia menghempaskan aku ke sudut kamar. Aku beringsut mundur ketika Sasuke menatapku dengan tajam.

"Apa yang kau lakukan bersama Neji, hah?" desisnya. "Kau lupa dengan peringatanku padamu untuk menjauhi Hyuuga Neji? Kemarin kau menggoda adiknya, sekarang kakaknya! Dasar manusia rendah, tidak tahu diri!"

Aku meringkuk ketakutan di sudut kamarnya. Aku menunduk, tak berani menatap Sasuke yang berdiri angkuh sambil menatapku nyalang. Aku benar-benar takut, karena aku tak pernah tahu apa yang akan dia lakukan. Sasuke itu sulit ditebak. Satu detik dia bersikap baik, namun detik berikutnya dia bisa sangat jahat padaku, bahkan hanya gara-gara hal sepele.

Aku menggeleng kaku, "B-bukan begitu, Sasuke. Aku tak melakukan apapun dengannya. K-kami hanya pergi menonton film. Aku tidak sendiri, ada Gaara juga." Kataku, berusaha menjelaskan dengan hati-hati agar Sasuke tidak semakin emosi. "Kami tidak melakukan apapun. Sungguh."

Sasuke mendengus, "Lalu mengapa dia mengantarmu pulang segala?" Sasuke berjongkok, mensejajarkan tubuhnya denganku yang duduk ketakutan sambil memeluk lutut. Aku tak bisa menjawab, atau lebih tepatnya takut menjawab. Rupanya Sasuke tak sabar, dia menjambak rambutku sampai aku mendongak, "Jawab aku, sialan! Aku bicara padamu, bukan pada tembok!" teriaknya tepat di depan wajahku.

Air mataku mulai berkumpul di pelupuk mataku, tapi ku tahan mati-matian. "Dia memaksaku pulang bersamanya. Aku sudah menolak, t-tapi dia memaksa." Jawabku. Aku meringis ketika Sasuke mengeratkan jambakannya.

"Dasar bodoh! Apa susahnya menolak orang sok baik macam Neji?! Dasar tidak berguna!"

Aku mengerutkan keningku tak suka. Kenapa orang ini mengatai Neji sebagai orang sok baik? Neji itu benar-benar baik padaku!

"Neji bukan orang sok baik! Dia adalah orang yang baik, dia tidak pernah berbuat kasar padaku! Kalau ada orang jahat, itu kau! Sasuke!" teriakku. Dadaku naik turun karena emosi. Aku tak suka Sasuke menjelekkan Neji.

Sasuke menatapku tidak percaya. Sepertinya dia kaget, karena ini pertama kalinya aku membentak dirinya.

Ekspresi Sasuke berubah gelap. "Apa kau bilang? Aku jahat?" desisnya. "Dengar, kalau bukan karena aku dan keluargaku, kau sudah jadi gembel sekarang! Dan kau adalah orang yang membunuh kakekku! Bajingan!"

"Aku tidak membunuh kakekmu! Aku tidak berharap aku diculik waktu itu! Aku–a-aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi! Kalian semua seolah menutupi sesuatu dariku!" kataku. "Kau tahu bagaimana perasaanku, ketika orang yang peduli padaku, mati di depan mataku?! Apa kau tahu bagaimana hancurnya aku ketika kau, orang yang aku sayangi, malah memperlakukanku seperti ini, hah?!"

Sasuke membeku. Dia mengeratkan rahangnya sedetik kemudian. Pemuda itu menatapku seperti seekor macan yang siap mencabik leherku. Dia menyeringai. "Aku? Orang yang kau sayangi? Heh, Sasuke yang bodoh itu sudah mati sejak kau membunuh kakekku!" kata Sasuke.

Aku menggigit bibirku, kemudian terisak. "A-aku harus apa, agar kau mau memaafkan aku, Sasuke? Haruskah aku memberikan nyawaku padamu?" tanyaku lirih disela isak tangisku. Aku benar-benar lelah dan tak kuat lagi.

"DIAM!" bentak Sasuke. Dada Sasuke naik turun karena emosi. Tatapan matanya benar-benar membuatku takut. Aku semakin takut ketika dia menatapku dengan tatapan … mesum? "Sepertinya kau harus diberi pelajaran."

Sasuke menarik tubuhku, lalu menghempaskanku ke kasur. Kemudian dia menindihku. Tetapi aku berontak, aku tidak ingin diperlakukan seperti ini!

"Cukup, Sasuke! Aku bukan pelacurmu!"

PLAAAAK!

Tanganku terangkat, dan tanpa sadar aku menampar pipi Sasuke sekuat tenaga. Pipi putih itu memerah karena tamparanku. Sasuke terdiam selama beberapa detik, mungkin kaget karena ini pertama kalinya aku berani melayangkan tanganku padanya.

Sungguh, aku menyesal sudah menyakiti Sasuke. Dia adalah orang yang aku sayang. Tanganku sampai gemetar setelah menampar Sasuke.

"Dasar sialan, berani sekali kau menamparku?" Desisnya.

Sasuke berdiri sambil menarik rambutku. Kemudian dia menyeretku ke meja belajar, dan tanpa aba-aba dia membenturkan kepalaku ke meja.

BRUAGH!

"Akh!" Aku memekik, sambil memegangi kepalaku yang membentur pinggiran meja. Pandanganku berkunang selama beberapa detik. Aku meringis kesakitan. Tanganku terangkat, menyentuh pelipisku yang basah. Oh tidak, kepalaku berdarah!

Aku mendongak, menatap Sasuke. Pemuda itu terdiam, matanya membelalak melihat kepalaku berdarah-darah. Aku tidak tahan lagi. Air mataku tumpah detik itu juga.

Kepalaku sakit, tetapi hatiku lebih sakit lagi. Selama ini aku selalu bertahan, diam dan selalu menerima perlakuannya padaku. Sepertinya kata-kata Neji tadi akan aku pertimbangkan. Sasuke-ku yang dulu sudah mati, dia tak akan pernah kembali lagi.

Aku berdiri sambil terhuyung-huyung karena kepalaku terasa pening. Aku menatapnya sejenak. Berusaha memberitahunya kalau aku hancur, sedih, kecewa dan sakit hati atas perlakukannya padaku.

"Baiklah, Sasuke. Aku tidak akan pernah menginjakkan kakiku di rumah ini lagi. Aku, Uzumaki Naruto yang kau anggap lebih menjijikkan dari sampah, tidak akan pernah mengganggu ketentraman keluarga Uchiha dengan bau busukku!"

Aku mendorong bahu Sasuke keras sampai dia terjengkang ke lantai, lalu berlari sekuat tenaga, keluar dari rumah Keluarga Uchiha. Maafkan aku, Kaa-san, Tou-san, Itachi-nii, aku tidak bisa menjadi anak yang baik bagi kalian. Aku benar-benar tidak tahan lagi.

"Naruto! Kembali kau! Aku tidak akan pernah memaafkanmu kalau kau berani pergi dari rumah!" teriak Sasuke. "Naruto! Kepalamu berdarah, sialan! Kembali!"

Aku mengabaikan Sasuke yang memanggil-manggil namaku di belakang punggungku. Dia terus mengerjarku sampai di lampu merah dekat rumah. Aku berlari begitu saja menerobos lampu merah, beberapa kali nyaris tertabrak mobil.

Aku menghela napas lega ketika Sasuke sudah tidak terlihat lagi. Aku berjalan kaki sambil menangis. Beberapa orang menatapku heran, beberapa menatapku dengan tatapan kasihan. Aku tidak peduli. Mungkin mereka menganggapku sebagai pasien rumah sakit jiwa yang kepalanya terbentur aspal ketika berusaha kabur.

Aku duduk di sebuah bangku taman yang untungnya sedang sepi. Aku menangis sendirian sampai sebuah suara menginterupsi isak tangisku.

"Naruto? Astaga! Apa yang terjadi padamu? Kenapa kepalamu berdarah-darah seperti ini?"

Aku mendongak, mataku yang basah menatap matanya, "Kyuubi-san?" gumamku. Aku semakin terisak, lalu mencengkram kedua lengannya, "Kyuubi-san, bawa aku. Tolong bawa aku pergi dari rumah itu. Aku tidak mau pulang!" Rengekku padanya.

Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Kepalaku pusing luar biasa, dan tiba-tiba kegelapan yang pekat mengambil alih kesadaranku.

.

.

.

Seorang pria sedang mengelus rambut pirang seorang pemuda yang tidak sadarkan diri dengan sebelah tangannya. Gerakannya lambat dan perlahan. Dia tidak ingin menyakiti kepala pemuda itu yang kini sedang terbalut perban.

Rahang pria itu mengeras. Dia akan mematahkan tangan siapapun yang berani menyakiti pemuda ini!

Sebelah tangannya yang bebas meraih ponselnya, menghubungi seseorang. Dering ketiga, telepon itu diangkat.

"Halo?" sapa seseorang di seberang sana.

"Kerja bagus, Neji. Kau berhasil memancing Naruto agar mau keluar dari rumah Uchiha sialan itu. Dengan ini, hutangmu ku anggap lunas. Aku tak akan mengganggu adikmu lagi. Senang bekerja sama denganmu."

Neji mengangguk di seberang telepon, "Baiklah, Tuan. Terima kasih atas bantuan Anda untuk keluargaku. Kalau Anda memerlukan bantuanku, dengan senang hati aku akan membantu." Katanya.

Pria itu tidak merespon. Dia mematikan sambungan telepon itu seenaknya.

Pria itu beralih menatap wajah Naruto. Dielusnya pipi tan pemuda itu, lalu dikecupnya dengan sayang. Dia tertawa pelan, ia terdengar seperti seorang psikopat gila sekarang.

"Akhirnya kau menjadi milikku, adikku sayang." Gumamnya, entah pada siapa.

.

.

TBC

.

.

Halo? Masih ada yang ingat FF ini? Semoga aja masih ada yang mau baca ya.

Mohon maaf updatenya super duper telat. Udah berapa tahun, ya? Aku nyari mood buat ngetik ini tapi susaaaaaah banget. Soalnya aku kadang nggak tega bikin Naruto tersiksa. Iya kan, aku ngerasa Naruto tersiksa banget di sini. Padahal aku yang nulis eh malah aku yang galau -_-

Kadang aku tuh bisa merasakan apa yang lagi dirasain karakter yang lagi aku ketik, kadang aku ketawa-ketawa sendiri kalo karakter itu lagi yayang-yayangan, eh tapi kalo lagi sedih aku bisa ikutan nangis. Iya, tau, gue emang alay XD

Jadi intinya, Sasuke itu dendam ama Naruto karena kakeknya meninggal, tapi Sasuke itu juga sayang sama Naruto, dia galau antara dendamnya atau rasa cintanya, makanya dia kayak roller coaster gitu. Sedangkan Kurama, yaaa bisa ditebak kalo dia itu dendam karena apa. Dendam-dendaman udah kayak sinetron aja dah wkwkwkwk…

Oke, sampai ketemu di chapter selanjutnya! *ga akan lama kok, karena sudah diketik sebagian.

Adios!