DISCLAIMER: The VOCALOIDs and the DEPARTURES song aren't mine, I've said it. Neither the author's and titles I mentioned below. And all of those cool quotes belongs to Shakespeare, if I haven't make it obvious..
A/N: Ah I'm finally active again! as I've promised, I'm continuing again! Thank you for waiting, and sorry if you don't like my new writing style that's more serious.. Ugh, I hope I improved, so can you tell me if I do/do not?
*Rin*
Cowok pirang itu menuntunku, langkahnya anggun dan tidak terlihat dibuat-buat. Saat aku melangkah masuk, kesan pertamaku tentang restoran ini; keren.
Restoran Prancis ini benar-benar megah. Meja-meja bundar bertaplak putih sutra disusun melingkar, ditengahnya didirikan fountain minuman dengan cherub-cherub yang diukir dari es. Di depan platformnya, aku melihat sederet pemain violin dan pemain piano memainkan lagu yang aku pernah dengar di piringan hitam atau-apalah-itu. Apa namanya, 'Ne Me Quitte Pas'? Terdapat dua pilar yang menjulang ke langit-langit, ujung-ujungnya berkilau keemasan (aku penasaran kalau itu benar-benar emas, apa akan ada pencuri yang berusaha mengikis permukaannya. Daripada maling, mungkin bakal lebih mirip Fear Factor. Kalau jatuh dari situ, kau pasti bakal mati karena leher patah atau tengkorak pecah). Di atas, dibuat lukisan bertemakan langit malam. Tempat ini sendiri terdiri dari dua lantai, dengan balkon atas terbuka dan dapat dicapai dengan menaiki sebuah tangga melingkar yang tak kalah mewahnya. Dan kau harus lihat bangkunya. Aku pernah lihat bangku macam itu di TV, bangku buatan Jerman yang harganya bisa membuatmu menangis darah kalau anak bayimu tidak sengaja mengompolinya. Dinding-dindingnya dihiasi wallpaper ala Victoria yang mendukung suasana, sesuai dengan karpet Persia bermotif simpel yang berada di bawah kakiku. Aku mengedarkan pandangan ke arah sekitar, terpana. Tunggu, apa pria berambut hitam acak-acakan itu presenter acara musik yang terkenal? Dan itu, cewek pirang super cantik itu Miss Universe tahun lalu, kan? Semua tamu-tamu itu memakai baju semi-formal buatan desainer, membuatku nyaris minder. Aku melirik cepat ke arah cowok yang membuatku terjebak di kondisi seperti ini. Dia terlihat biasa-biasa saja, langkahnya pasti dan tanpa keraguan, ekspresinya tidak terlihat terkesan. Kecuali dia aktor Hollywood atau agen rahasia Inggris, dia pasti sudah terbiasa dengan ini. Alias; 'orang kaya lama.'
Seorang waiter dari ujung ruangan melihat kami datang dan dengan sigap menghampiri kami. Mau tak mau, aku terbelalak melihatnya. Rambut pirang pucat pria itu tidak terlihat teratur, tetapi rapi dan formal. Ia mengenakan waist coat hitam dan dasi yang serasi, lengkap dengan sarung tangan, kemeja putih, dan celana hitam model straight, khas waiter. Masalahnya, aku tidak menduga kalau orang yang bekerja di restoran bisa punya tampang imut seperti itu. Kalau aku menjumpainya di luar, mungkin aku sudah mengira dia itu model. Matanya berwarna hijau terang, dengan alis mata tegas yang mendukung penampilannya. Proposinya tegap namun ramping dan elegan, membuatnya terlihat sedikit feminim. Well, meskipun tidak terlihat sefeminim cowok di sebelahku ini, sih...
Waiter itu tersenyum padaku dan Len, menyapa kami dengan logat Inggris kental. "Selamat datang di Restoran Claire de Etoile, apa kalian sudah memesan tempat?"
"Mm-hmm, atas nama Aembrose," balas cowok yang baru kutabrak dua hari yang lalu di depan Sweet Heavens. Aku mendengar logat Inggris ala bangsawan yang sama dari mulutnya. Wajah waiter itu menjadi cerah. Ia melambaikan tangan ke arah kami, mengarahkan kami ke arah meja yang dimaksud.
"Lewat sini, Monsieur, Mademoiselle," ujar waiter-tampang-supermodel itu. Parasnya terlihat sedikit resah ketika menyebutkan istilah Prancis itu, tapi aku memutuskan untuk tidak membahasnya. Aku tersentak kaget saat cowok di sebelahku meraih tanganku. Melihat kekagetanku, ia menjauhkan tangannya dan tersenyum minta maaf. "Maafkan aku, kebiasaan buruk. Mmm, kau tidak takut ketinggian, kan? Miss..."
"Rinatta. Panggil Rin saja. Aku juga tidak berminat memanggilmu Mr. Aembrose. Oh, aku nggak takut ketinggian, kok." Mendengarnya, Len mendesah lega, meskipun ia terlihat malu. Untuk ukuran cowok seumuranku, dia jelas tipikal British Gentleman sejati.
...dengan mengabaikan tampang feminimnya.
Aku segera menyadari alasan Len menanyakannya barusan. Waiter itu mengantar kami ke balkon bagian dalam ruangan yang menghadap ke sebuah jendela luas yang dibingkai ukiran-ukiran dari kayu mahogany. Ketika waiter itu berlalu, aku menatap keluar, terpana. Dari sini, aku bisa melihat pemandangan kota London pada malam hari. Di sampingku, Len memandang ke arah yang sama sambil tersenyum.
"Kau tidak keberatan di tempat seperti ini, kan? Soalnya aku suka pemandangan dari atas. Kalau kau mau, aku bisa menukar─" Aku menggeleng cepat bertepatan dengan kembalinya waiter itu.
"Aku suka, kok. Tenang saja."
Waiter itu kembali dengan serbet, daftar menu, dan notes di tangannya. Ia menarik bangku untuk kami berdua dan menyodorkan menu. "Apa yang ingin Anda pesan, Monsieur et Mademoiselle?"
Len memandang menu itu sambil berpikir, jemarinya menyibakkan poninya, kebiasaan yang sama dengan yang sering kulakukan saat berkonsentrasi. Saat aku membaca menunya, mau tidak mau aku terbelalak. Harga apaan ini?! Aku bisa makan seminggu penuh dengan harga appetizer-nya! Hebatnya, cowok di depanku itu bahkan tidak mengerutkan dahi melihat harganya. Entah dia mencoba menyembunyikan kekagetannya, atau sudah pernah pergi kemari. Mungkin yang pertama.
"Aku pesan beluga caviar untuk appetizer, feulitte of salmon and lobster sauce, baby mixed salad with Spanish olive oil and white vinegar, buffalo tenderloins with red bell pepper bernaise, puree of potatoes, green beans, dan dessert banana split. Oh, kalian punya wine tahun 1875?"
Waiter itu terbelalak sebelum menjawab, "Maaf, tapi wine terbaik disini Schramsberg Reserve Magnum tahun 1987. Tapi saya menjamin rasanya, kualitas satu tentu saja. Apakah anda puas dengan itu?"
Len berpikir sejenak sebelum mengangguk. "Baiklah kalau begitu."
Mendengar makanan-makanan yang dipesannya, aku langsung pucat saat mengkalkulasi jumlahnya di otakku. Ketika dua pasang mata cowok di depanku dan menanyakan pilihanku, diam-diam aku menelan ludah. Aku jelas-jelas dihadapkan dengan pilihan:
a) Memesan makanan yang paling murah yang ada disini. Kedengaran kampungan sih, tapi aku sama sekali tidak enak merepotkan cowok yang baru dua kali kulihat. Paling murah, berarti aku harus puas dengan roti dan air, uh (airnya masih seharga koleksi buku Shakespeare-ku. Demi Tuhan, airnya terbuat dari apa, sih, embun surga yang ditampung dari gunung Everest?)
b) Memesan makanan paling mahal disini, hahahahaha, mampus cowok itu.
c) Memesan menu standar, seakan aku tidak melihat harganya. Oh, oh, yang ini harus ada choco-orangettenya!
d) Katakan padanya, 'Aku nggak jadi makan, deh!' dan berlari keluar dengan panik seperti orang gila. Kujamin besoknya aku bakal ditampar Teto. Tiga kali.
e) Memesan menu yang sama dengannya. Tipikaaaaaaaal.
f) Memesan yang kusuka dan bersumpah padanya setelahnya kalau aku akan menggantinya.
g) Bunuh diri di tempat. Di hadapanku ada sederet perlengkapan perak, mengambil pisau daging perak itu terlihat menggoda iman.
h) Mendorong meja ke bawah balkon sambil menyerukan 'Screw it, restoran ini mahal banget, sih?' dan membakar restoran ini. Setelah membakar restoran ini dengan aromaterapi yang berada di meja, aku bakal menarik Len dan waiter ganteng ini pulang. Pilihan yang menarik. Dan amat sangat keren.
Karena aku harus memutuskan semuanya dengan cepat (pilihan terakhir itu harus disingkirkan!), aku memilih pilihan yang paling tipikal. Aku bersumpah dalam hati akan membayarnya suatu saat.
"Aku sama dengannya saja. Oh, banana split itu diganti choco-orangette tidak masalah?" tanyaku.
Waiter itu mengangguk dan menyelesaikan catatannya. "Mohon tunggu sebentar lagi," katanya sebelum meninggalkan kami berdua.
Uh, diantara semua keadaan, saat-saat seperti ini yang paling kuantisipasi.
Len, dengan santainya tersenyum menatapku sebelum menatap ke arah luar jendela. Aku mengangkat alis. Bukan tipe yang suka mengajak orang bicara ya? Oke. Kabar baik: itu memastikan dia bukan playboy. Kabar buruk: makan malam ini akan berjalan dengan sangaaaaat awkward. Tidak punya pilihan, aku ikut-ikutan menengok ke luar jendela. Setelah diperhatikan lagi, pemandangan luar sebenarnya benar-benar indah. Cahaya kota London waktu malam terlihat seperti lautan bintang. Bahkan dari sini, aku bisa melihat Big Ben dan London Eye yang melingkar dari kejauhan. Kadang-kadang aku suka keluar ke jendela apartemen untuk melihat pemandangan yang mirip seperti ini, tapi sejak ada bapak-bapak yang tinggal selantai di atasku jatuh dari atas balkon dan meninggal, aku jarang melakukannya lagi.
Tatapanku beralih ke arah cowok yang memperkenalkan dirinya sebagai Len Aembrose. Tatapannya tidak beralih dari pemandangan yang berada di luar, matanya mengerjap penuh kekaguman. Mata birunya terpaku pada jendela, dengan ekspresi seakan rindu akan sesuatu. Aku menghela napas. Hening juga ada batasnya.
"Tempat yang bagus," komentarku singkat. Duh, sejak kapan kalimat itu menjadi pengawal pembicaraan terbaik sih, Rinatta Sanders?
Cowok yang memanggil dirinya Len itu menoleh padaku dan tersenyum kecil. Matanya masih memiliki binar yang sama seperti saat aku pertama kali menemuinya. Seperti binar mata anak kecil yang ingin tahu dan terkagum-kagum. Bukannya aku tidak kagum dengan pemandangannya sih, tapi duh, aku kan tinggal di London, pemandangan ini paling tidak kan kulihat seminggu sekali! Well, di tempat yang berbeda, sih...
"Iya, kan? Aku sengaja memilih restoran ini karena aku pernah melihat foto meja yang menghadap kota ini," ia menangkap tatapan bingungku dan segera menambahkan, "di internet."
"Maksudmu, kau belum pernah datang ke sini sebelumnya?"
Ia mengangkat bahu. "Aku selalu ingin. Selain itu, namanya bagus. Kau tahu? 'Clair de Etoile.' Cahaya bintang. Kedengaran seperti salah satu puisi Charles Baudelaire atau kutipan dari Shakespeare, ya?" Cowok berambut pirang keemasan itu terlihat bingung dengan ekspresi wajahku. "Kenapa?"
Aku mengulang kembali kata-katanya di benakku pelan-pelan, kalau-kalau aku salah dengar. "Jadi..." aku memulai. "Kau memilih restoran (Prancis termahal di London) ini karena kau... suka dengan namanya... dan pemandangannya?"
Wajahnya yang putih nyaris pucat itu merona. "A, aneh, ya? Mungkin aku terlalu banyak membaca buku-buku sastra itu, duh. Maaf kalau kau tidak su─" Kata-katanya disela oleh suara tawaku. Ia terlihat kaget. Aku bersumpah kalau dia bisa lebih merah dari ini, mukanya pasti meneteskan darah.
"Ahahahaha! Maaf, bukannya mau membuatmu tersinggung, tapi kau itu... lucu sekali!" akuku di sela tawa. Aku menarik napas dalam, berusaha untuk tidak tertawa lagi, lalu berdeham. "Maksudku, kupikir kau mengajakku kesini karena... tahulah, pamer atau semacamnya."
Ia menggelengkan kepala. "Tidak ada maksud begitu, kok! Selain karena itu, aku juga ingin minta maaf soal kemarin. Waktu itu aku tidak membawa dompet, jadi aku tidak bisa ganti rugi. Lagipula, pergi ke sini sendirian kan, menyedihkan..."
Aku menaikkan alis. "Memangnya kau tidak bisa pergi dengan... siapa lah, orangtuamu, saudaramu? Atau bahkan pacarmu?"
Ia menggaruk kepalanya gelisah. "Mmm... Bagaimana, ya? Dad terlalu sibuk dengan urusan kerjaannya bahkan saat akhir pekan. Mum juga sibuk karena, uh, alasan lain. Aku punya dua orang yang bisa kuhitung saudara, sih. Adik angkatku cowok, dan pergi berdua dengan seorang cowok yang lebih muda akan menjadi skandal. Sedangkan satu lagi sepupuku, seorang cewek sekaligus tun─eh, teman dekat, tapi kalau disuruh diajak kemari," ia terlihat menggigil, "sebaiknya jangan, deh. Kau sendiri? Bagaimana dengan keluargamu?"
Aku menimbang-nimbang sesaat. Rasanya tidak enak kalau aku menolak, soalnya dia sudah memberitahuku soal keluarganya. Masa sih, aku menolak untuk memberitahunya? Aku akhirnya memutuskan untuk memberitahunya. Kelihatannya dia bisa dipercaya.
"Nenek dan kakekku yang dari pihak ayah tinggal di Amerika. Tahu, kan? Sanders bukan nama khas Inggris. Orangtua ibuku sudah meninggal sebelum aku lahir, entah karena kejadian apa. Mungkin sakit. Kedua orang tuaku... meninggal karena kecelakaan kereta api," aku menyadari Len sedikit mencondongkan tubuhnya, "saat umurku baru sebelas tahun. Aku punya seorang saudara kandung, kakak perempuan dan dia juga ada di kereta itu saat kecelakaan. Sempat selamat sih, tapi ternyata seminggu kemudian dokter baru menyadari adanya pendarahan otak dan dia... well... tidak tertolong. Jadi aku tinggal sendiri di apartemen. Aku punya bibi, yang adalah saudara jauh ibuku. Kepala sekolah Crypton, kau tahu? makanya sekarang aku sekolah disitu."
Len terlihat makin gelisah. Aku sempat melihatnya bereaksi ketika mendengar nama 'sekolah Crypton', tapi aku tidak menanyakan lebih jauh. "Maaf, aku tidak tahu kalau─aku bodoh sekali, seharusnya aku tidak bertanya..." suaranya semakin memelan.
"Tidak masalah. Lagipula, aku tidak keberatan, kok." Kami berdua sama-sama terdiam. Aku menelengkan kepala ke samping, menatapnya penasaran. Ia menyadarinya dan menengadah. "Kenapa?" Aku menggeleng.
"Tidak, aku menunggu reaksi yang biasa diberikan orang kalau aku memberitahu soal itu." Len mengerjap, menatapku dengan mata biru cerahnya.
"Maksudmu, 'Oh, kasihan sekali kau nak, memiliki nasib buruk semacam itu saat kau masih muda. Kuberikan rasa simpatiku yang paling mendalam. Dan oh, kalau kau butuh konsultasi, telepon aku karena aku punya kenalan pendeta terkenal yang bisa membuatmu lebih baik'?" ia mendengus. "Jangan tersinggung, ya. Menurutku kau bukan orang yang suka perhatian macam itu. Bukannya aku mau terlihat sok mengenalmu, tapi aku bisa menilai orang dari tingkah lakunya. Mungkin terdengar aneh, tapi aku suka membaca buku fiksi misteri atau psikologi di waktu luang." Ia menunjuk ke arah tas tangan yang barusan kutaruh di meja dengan penuh keyakinan. "Misalnya tas itu."
Aku mengerinyit. "...Tas ini?"
"Iya. Saat kita berjalan kemari, aku memerhatikan kau memindahkan tas itu ke tangan kanan dan tangan kiri, terlihat gelisah. Sesekali kau menaruhnya di bahu, tapi kau menurunkannya lagi. Aku melihat sekilas isinya karena tas itu memang tidak bisa ditutup, dan ternyata isinya buku karangan Shakespeare, Macbeth. Kau tidak terbiasa dengan tas jenis itu, kemungkinan besar kau suka ransel. Orang yang memakai ransel biasanya orang yang efisien dan mandiri, dan untuk kasus tertentu tomboy. Kau tidak suka menaruh tasmu di sisi tertentu juga, artinya kau orang yang teratur dan tidak terlalu berminat pada gaya dan fashion. Lalu dress itu. Kau kelihatan risih memakainya, berarti mungkin salah seorang teman dekatmu, kurasa cewek, menyuruhmu untuk memakainya. Saat kau berjalan juga, kau sering melirik ke pantulan bayanganmu, tetapi dengan tatapan yang lurus sambil mengerinyit. Asumsiku adalah, kau tidak suka memakainya karena kau terlihat kecil dan rapuh, seperti cewek feminim yang terlalu centil. Pandanganmu tidak menengadah seperti arogan, tidak juga menunduk seperti minder. Dari semua gerak-gerikmu, aku yakin kau tipe cewek yang tidak ingin bergantung pada orang lain, apalagi menerima belas kasihannya," cowok itu seakan tersadar dan menggigit bibir. "Maaf, aku tidak bermaksud menyinggungmu, cuma... kebiasaan. Maaf kalau aku salah─"
Aku menggeleng, tersenyum. Awalnya tadi, kupikir dia cowok pemalu antisosial. Ternyata dia bukan pendiam seperti yang kukira. Dia diam karena mengamati, tapi selain itu juga karena dia tidak terbiasa dengan orang lain. Justru karena tidak terbiasa itu, ia mengobservasi orang lain, untuk meyakinkan dirinya untuk menaruh kepercayaan. Singkatnya, menarik. Aku mulai menyukai cowok ini. "Aku tidak marah, kok. Malahan, seperti yang kau bilang. Aku bukan tipe orang yang menyukai belas kasihan. Pengamatanmu hebat, seperti detektif saja. Ngomong-ngomong, kau bilang kau suka psikologi dan misteri? Berani bertaruh, dari cara analisamu, kau penggemar Agatha Christie. Kau terdengar seperti Miss Marple."
Ia tersenyum lebar, rasa canggungnya hilang seketika. Hapus kata-kataku soal awkward tadi. Dugaanku jelas-jelas meleset. "Aku memang lebih suka Agatha Christie daripada Sir Arthur Conan Doyle. Secara kasus dan diksi, dan plot twist tentu saja, Christie benar-benar hebat. Mungkin karena beda era, tapi kalau aku disuruh memilih, pilihanku jatuh pada si Ratu Misteri. Meskipun begitu, aku juga suka John Grisham dan Connolly. Apalagi Monseiur LeCoux. Dan ada satu lagi... apa namanya, The Innocence of Father Brown kalau tidak salah. Aku juga suka buku-buku misteri buatan Jepang. Penulis thriller Jepang benar-benar brillian, meskipun aku tidak keberatan dengan Amerika. Melihat buku Macbeth-mu tadi, kau pasti suka sastra." Aku tertawa kecil.
"Sebutkan sebuah larik Shakespeare dan aku bisa menebaknya," tantangku. Len berpikir sejenak. Ia sempat membuka mulut dan dengan segera aku menyela. "Jangan 'To be or not to be,' tolong. Bahkan seorang balita juga tahu kalau itu Hamlet Act III scene I." Len tersenyum lebar sebelum kembali berpikir.
"'Mislike me not for my complexion, The shadow'd livery of the burnish'd sun'," tuturnya dengan nada menantang. Aku tersenyum kecil.
"Merchant of Venice, Quote Act II scene I. Ayo Len, kau bisa lebih baik dari itu."
"'The true beginning of our end'."
Aku mengangkat alis. "Aku tak tahu kalau kau juga suka Shakespeare. Dan romance pula. A Midsummer Night's Dream Act V Scene I."
Ia mengangkat bahu. "Lumayan suka sastra, terutama bahasa. Romance atau tidak, itu tetap mahakarya. Hmm, coba yang ini. 'I see you stand like greyhounds in the slips, Straining upon the starts'."
Kuakui, lumayan mengejutkan kalau cowok ini tahu banyak soal sastra, apalagi ternyata dia Shakespearean. Kebanyakan cowok yang kukenal cuma pintar bicara tapi berotak kopong. Duh, coba semua cowok imut seperti cowok di hadapanku ini. Pasti dunia akan menjadi lebih baik. Aku mengerutkan dahi. Len ternyata pintar memilih yang sulit.
"Aku tahu ini... pasti dari The Play King Henry V. Mmm..Quote Act III Scene II?" tebakku sedikit ragu. Ia menggeleng sambil tersenyum.
"Meleset tipis! Itu sih, 'Men of few words are the best men.' Yang benar itu─"
"King Henry V Act III Scene I," putus waiter yang mendekati kami tiba-tiba. Kami berdua menoleh ke arahnya, setengah terkejut. Ia tersenyum lebar kepada kami. Bukan jenis senyum 'hei-aku-waiter-hebat-ganteng-dan-profesional', tapi senyum tulus. Ia mengerjap ke arah Len. "N'est-ce pas, Monseiur?" Yang ditanya mengangguk.
"Je suis désolé, Monseiur, karena menyela pembicaraan anda dengan Mademoiselle, tapi saya tak dapat menahan diri. Senangnya masih ada anak muda yang menghargai sastra Inggris!" Waiter itu mendesah. "Seharusnya remaja-remaja itu meniru kalian! Saya sendiri sebagai seorang English Gentleman merasa malu saya harus memakai aksen Prancis karena pekerjaan di tengah kota London! Ada apa dengan penghinaan ini?" Ia menggeleng kesal sebelum menaruh nampan berisi makanan yang sedari tadi dibawanya ke hadapan ini. "Ini appetizer anda, beluga caviar. Bon appetite," ucapnya sebelum membungkuk dan kembali ke dapur bawah.
Kata-katanya lumayan membuatku terkesan. Maksudku, 'seharusnya remaja-remaja itu meniru kami.' Yah, tentu saja. Membaca Shakespeare kan membuat dirimu terkenal di kalangan teman-temanmu dan kau bakal diperebutkan cowok-cowok di prom-nite. Mungkin. Tiga ribu tahun lagi. Setelah kiamat.
Cowok di hadapanku mengangguk sesaat sebelum menyuapkan sendok demi sendok beluga caviar ke mulutnya. Melihatnya makan seperti itu membuatku malu sendiri. Maksudku, ya ampun, cowok ini punya table manner yang bisa membuat Lady Diana menjatuhkan garpunya! Dengan gaya canggung karena tidak biasa, aku menyuapkan beluga caviar itu ke mulutku. Aku menahan napas ketika rasanya yang khas menggelitik pengecap rasaku. Empat kata. Restoran. Mahal. Memang. Beda.
"Waiter itu kelihatan tidak pada tempatnya. Kau tahu? Sangat-sangat Inggris dan punya logat ala keluarga kerajaan," aku mengutarakan isi pikiranku. Len menggumam setuju.
"Pastinya. Dan kau lihat ekspresi terpaksanya setiap kali harus mengucapkan kalimat dalam bahasa Prancis? Ya ampun," cowok itu menggeleng kecil, membuat rambutnya terkibas mengikuti gerakan kepalanya. Aku bersumpah rambutnya terlihat seperi baru keluar dari iklan sampo.
"Ngomong-ngomong, kau ternyata tahu banyak soal sastra. Itu hobimu?" tanyaku penasaran. Ia kembali menggeleng. Kibas, kibas. Jangan mengikuti gerakannya, Rin. Rambut itu bahkan jauh lebih menghipnotis daripada pendulum.
"Hobiku terutama musik. Aku main violin sejak, entahlah, 5 tahun? Aku bisa alat-alat musik lainnya, tentu saja, tapi tidak ada yang membuatku lebih mencintainya dari violin. Aku tidak ahli, hanya suka saja. Mengisi waktu luang dan lainnya. Aku punya hobi lain sih..." volume suaranya mengecil, "...seperti fotografi. Bagaimana denganmu?" tanyanya balik, membalikkan pembicaraan.
Aku mengangkat bahu. "Aku bisa piano dan gitar, tapi aku lebih suka menyanyi. Hobiku bukan musik, sih. Terutama sastra, tapi kadang aku suka olahraga. Kegiatan outdoor seperti travelling. Yah, aku jarang mendapat kesempatan seperti itu sih, tapi pokoknya aku suka sesuatu yang benar-benar 'menggerakkan badan.' Semacam itulah."
*Len*
Pembicaraan kami terus berjalan sampai kami selesai dengan dessert kami. Harus kuakui, cewek yang bernama Rin ini ternyata teman ngobrol yang keren. Aku memang suka mengobrol dengan orang yang punya pandangan yang mirip, tapi bisa diajak berdebat. Misalnya orang macam Ted. Panggil aku cowok sok dewasa, tapi pembicaraan yang berbobot itu menyenangkan. Aku tidak serendah itu sampai menyukai orang yang hanya bisa mengiyakan kata-kataku. Aku menyodorkan kartu kredit (disimpan di lemari untuk keadaan darurat, misalnya kalau aku harus masuk rumah sakit dan orang tuaku tidak ada di rumah) dan menyelipkan tip £30 pada si waiter. Entah deh terlalu banyak atau tidak, tapi aku melihat Rin terbelalak melihatku. Masa bodoh. Toh aku tidak akan menggunakan uang itu. Saat kami berdua keluar dari restoran, aku berdeham canggung.
"Um, Rin?"
Ia berhenti melangkah dan menoleh ke arahku. "Hm?"
"Kau tahu... mungkin kita bisa bertemu lagi... kapan-kapan?" tanyaku sedikit ragu.
Ia menimbang sebentar. "Kau masih ingat dimana Sweet Heavens?" Aku mengangguk. Aku ingat dia sempat menyebutkan kalau itu nama toko tempat ia bekerja sambilan. Kalau tidak salah, disitu tempat kami pertama bertemu dua hari yang lalu, saat aku bertabrakan dengannya yang sedang membawa loyang berisi muffin. Sampai sekarang, aku masih menyesal karena muffin yang kelihatannya enak itu mendarat di trotoar. Yah, setidaknya masih ada burung merpati yang... oh sudahlah.
"Aku tidak mau bertemu disini lagi, oke? Bagaimana kalau kita bertemu disana, dua atau tiga hari lagi? Aku kerja disana setiap hari kecuali hari Minggu. Datang saja saat shift-ku selesai, sekitar jam setengah 6 sore. Kecuali kalau kau mau menentukan tempat dan waktunya sendiri?" tanyanya, nadanya sedikit menyelidik. Uh-oh. Kuharap dia tidak mencurigai beberapa kebohongan soal diriku yang kuberitahukan padanya.
"Tidak usah, aku saja yang datang ke tempatmu. Boleh minta alamat emailmu? IM?"
"Kalau mau menghubungiku, email saja di 'yummy_orangetteXXXXXXX'. Nanti kuberitahu IM-ku kapan-kapan. Emailmu?"
" 'captive_arieraXXXXXXX'. Sampai ketemu ya, Rin," ujarku tersenyum sambil melambai ke arahnya. Ia menghentikan sebuah taksi dan bertanya apakah aku mau ikut.
Tentu saja aku mau ikut. Mum kan harus tahu kalau aku menyelundup keluar dari mansion tanpa bodyguard hanya untuk ketemu cewek. Apalagi Nell. Kenapa tidak sekalian saja kukenalkan Rin padanya?
"Nggak usah, tapi terimakasih, Rin. Rumahku dekat, kok!" Iya, saking dekatnya sampai-sampai aku butuh 20 menit berlari.
"Yakin?" Aku mengangguk. Cewek berambut pirang pendek itu akhirnya menyerah dan menyuruh supir taksi itu berjalan. Setelah taksi itu tidak terlihat lagi, aku menoleh ke arah jalan tempat aku datang, yang berada di arah yang berlainan. Aku menghela napas panjang.
Duh, semoga saja Doberman-doberman terkutuk itu sedang tidur...
Some translations:
Mademoiselle = miss
Monseiur = mister
N'est-ce pas? = Am I right?
Bon appetite = ...I guess you all know...
Je suis désolé = I'm sorry
AAN: Yeah, and that's how they started that frienship, man! Btw, can you guess who the waiter actually is?He is a male character from certain anime, so could you mention the name and which anime he is from? Well, any of you could answer, except your penname is Shiecchan, Sora Ai-chan, PALS, or Arsa Stanleia (if you know what I mean). And it's 1 in the morning, so I should stop now before I go insomnia. RnR! w)/
