Disclaimer : as usual, i own nothing and there's no money making here.
a/n: haloo! yeah aku tau aku tau. udah lama banget sejak terakhir kali aku upload chapter . tapi yah, aku lagi benar-benar buntu untuk cerita ini tuh *sigh* karena itu akhirnya aku menerima bantuan dari salah satu temanku dalam menyelesaikan cerita ini. mudah-mudahan ke depannya lebih lancar hehe. anyway, maaf kalau chapter kali ini kurang memuaskan. *smile*
Chapter 4
Lucius berjalan cepat menyusuri lorong yang terlihat kelam. Wajahnya terlihat pucat dan cemas, tubuhnya pun kini jauh lebih kurus dibandingkan dulu. Lucius yang sekarang terlihat jauh berbeda dibandingkan Lucius yang dulu. Ia terlihat menderita.
"Pangeran Kegelapan sudah menunggu," ucap Severus Snape yang berdiri di depan sebuah pintu. Lucius hanya mengangguk dalam diam.
Severus mendeliknya, menatapnya dari atas ke bawah. "Kau terlihat berantakan Lucius," komentarnya.
Lucius berdecak pelan, "Diamlah Severus," ujarnya tajam.
Alis Severus naik sebelah. Tanpa banyak bicara, ia berbalik dan membuka pintu. Mereka berdua berjalan ke dalam. Ke arah seorang pria yang tengah duduk di sebuah kursi besar, bersama seekor ular.
"Aku sudah lama menunggumu Lucius," desis pria itu dingin.
Bulu kuduk Lucius meremang. Berapa lama pun ia mengabdi pada pria ini, tetap saja ia merasakan hal seperti ini. "Maafkan aku Tuanku, aku—tertahan oleh putraku,"
"Draco Malfoy muda? Apa akhirnya kau membunuhnya?"
Tubuh Lucius sempat menegang sebelum akhirnya ia menggeleng, "Tidak Tuanku—aku—dia kabur lagi,"
Lord Voldemort tertawa dingin, "Dia tidak kabur. Kau yang terlalu lemah! Kau yang tidak tega membunuhnya! Apa kau lupa Lucius? Semua pengkhianat harus mati!"
Lucius menunduk semakin dalam, tidak berani menatap atau pun membalas ucapan tuannya itu. "Mengecewakan," lanjut Voldemort.
"Tuanku," Severus angkat bicara, ia melirik Lucius sekilas sebelum melanjutkan kalimatnya, "Apa rencana anda selanjutnya? Apa—anda benar-benar berencana menyerang Hogwarts?" tanya Severus dengan hati-hati.
Voldemort diam, tangannya mengelus-elus Nagini yang tampak melingkar di pangkuannya. "Aku yakin Potter masih hidup. Dan aku yakin dia akan terpancing, aku tau betapa dia sangat menyukai sekolahnya itu," ujar Voldemort, ia tersenyum dingin. "Kau tidak menerima kabar apapun Severus?"
Severus menggeleng, "Tidak ada Tuanku, selain berita bahwa Italia sudah tunduk,"
Voldemort tertawa, "Italia itu mudah. Aku ingin segera menaklukan Prancis, tapi sebelumnya, aku ingin memastikan Potter benar-benar mati kali ini. Aku ingin melihat jasadnya di bawah kakiku baru aku akan mulai menaklukan semuanya, satu persatu, sampai semua orang tunduk padaku,"
Severus tidak menanggapi sedangkan Lucius tetap menunduk menatap lantai. Keringat dingin perlahan menuruni dahi dan lehernya.
"Ah Lucius, kumpulkan orang sebanyak mungkin untuk menyerang Hogwarts. Aku yakin orde bodoh itu akan segera tau dan bersiap untuk melawan. Kau boleh pergi," lanjut Voldemort. Lucius membungkuk dalam-dalam, lalu segera berjalan keluar ruangan.
"Dan Lucius," langkah Lucius terhenti, Voldemort menyeringai, "Lain kali, jika kau bertemu si Malfoy muda. Bunuh dia,"
.
Jubah kelabu Ron terlihat berkibar setiap kali ia melangkah. Ia melihat ke sekeliling, memastikan tidak ada yang mengikutinya sebelum ber-Apparate dan muncul di depan pintu Grimmauld Place. Ron menghela nafas, lelah. Ia pun membuka pintu dan melangkah ke dalam menuju ruang makan, dimana semua orang sudah menunggu.
Malam itu di Grimmauld Place, para anggota Orde Phoenix kembali mengadakan rapat. Remus dan Minerva mengambil alih kepemimpinan Orde sejak Dumbledore meninggal dunia dan Harry menghilang.
Ron mengambil tempat duduk di samping Neville dan Draco. "Maaf aku terlambat," kata Ron.
"Tidak apa Ron, kami juga baru saja berkumpul," kata Remus, tersenyum.
"Ada berita tentang penyerangan?" tanya Charlie, membuka pembicaraan mereka malam itu.
Draco mengangguk, ia mengambil alih pembicaraan. "Aku dengar mereka sudah menaklukan Italia dan kabarnya mereka akan menyerang Hogwarts. Aku tidak tau berita ini benar atau tidak, tapi itulah yang aku dengar,"
"Hogwarts?" dahi Molly berkerut, "Apa yang mereka cari di Hogwarts? Apa mereka berencana untuk membunuh anak-anak?" suaranya melengking.
Draco menggeleng, "Jujur Molly, aku tidak tau," jawab Draco dengan suara yang tenang. "Tapi jika Hogwarts bisa mereka serang, berarti—tidak ada pertahanan yang tidak bisa mereka tembus bukan? Pertahanan Hogwarts sangat kuat, sampai saat ini belum ada yang bisa menandinginya,"
Mereka semua terdiam. Dinding pertahanan Hogwarts sangat kuat, yang terkuat di Inggris Raya. Dan jika mereka bisa melewatinya, jika mereka bisa menghancurkan Hogwarts. Benar kata Draco, tidak akan ada pertahanan yang tidak bisa mereka tembus. Dunia akan jatuh ke tangan Lord Voldemort.
"Mungkin mereka ingin memancing Harry," Luna angkat bicara. Semua mata kini tertuju pada Luna yang biasanya tidak mengucapkan apapun selama rapat. "Hogwarts adalah tempat yang berharga untuk Harry. Di sana dia merasa memiliki keluarga, di sana ia banyak menemukan cerita tentang kedua orangtuanya—"
"Kebanyakan kenangan indah Harry berada di Hogwarts," bisik Remus.
Luna tersenyum, "Tepat sekali. Aku juga sedikit yakin Harry akan muncul jika dia menyerang Hogwarts,"
"Maka kita harus mengumpulkan orang sebanyak mungkin untuk berjaga-jaga, kalau hal itu benar-benar terjadi," ujar Remus.
"Aku, Draco dan Neville sudah menghubungi beberapa orang yang kami pikir masih berada di pihak kita," kata Ron.
"Semua orang yang kami hubungi menyatakan setuju untuk membantu kita," sahut Draco. Ia menunjukkan surat-surat yang ia terima beberapa hari terakhir. Neville dan Ron mengangguk, mendukung pernyataan Draco.
"Aku juga sudah menghubungi kembali anggota Laskar Dumbledore dan mereka siap untuk—yang terburuk," sambung Neville.
"Perang," bisik Arthur.
Neville mengangguk, "Ya, perang,"
"Berapa banyak yang berhasil kalian kumpulkan?" tanya George.
"Apa itu bisa membantu kita?" sambung Fred.
Draco tersenyum kecil, "Menurut perhitungan awal kami jumlahnya sangat banyak dan ya, itu bisa sangat membantu kita untuk melawan mereka,"
"Kita bisa memenangkan ini," lanjut Neville. Seulas senyum kecil mengembang di wajahnya, tampak optimis akan pendapatnya.
Ginny menggeleng, "Tidak mungkin. Tanpa Harry—itu hampir tidak mungkin," ujar Ginny tiba-tiba. Semua mata kini beralih pada Ginny. "Kita tidak mungkin menang,"
Rahang Draco mengeras, ia menggebrak meja keras-keas, membuat semua orang terlonjak, "Cukup Ginny. Aku muak dengan sikap pesimismu itu," kata Draco dingin.
Ginny menoleh, tidak percaya dengan kata-kata Draco, begitu pula semua orang yang ada di sana. Tapi pendapat Draco ada benarnya, Ginny selalu bersikap pesimis beberapa tahun belakangan. "Mungkin kau lupa, Malfoy. Bahwa hanya Harry yang mampu mengalahkan dia—"
"Itu hanya ramalan, kita tidak tau apa itu benar atau tidak. Ada dua orang yang lahir di akhir bulan ketujuh, itu adalah Harry dan Neville," potong Draco, "Bagaimana jika ramalan itu ditujukan untuk Neville, bukan untuk Harry?" Neville sedikit terlonjak dan terlihat bingung ketika namanya di sebut.
Wajah Ginny memerah, "Itu untuk Harry. Semua itu sudah jelas, ramalan itu di tujukan untuk Harry! Bukan Neville!"
Draco mengangkat bahu, lalu melipat kedua tangannya di dada. "Aku hanya mengutarakan kemungkinan yang ada," ujarnya tenang. "Jangan pernah bicara bahwa kita tidak bisa menang tanpa Harry. Di pihak ada banyak sekali orang dengan kemampuan luar biasa, kemungkinan kita untuk menang cukup besar,"
Ginny terlihat kesal, sifat keras kepalanya muncul. "Tetap. Tanpa Harry kita—"
"Harry tidak ada di sini Ginny!" seru Bill keras-keras.
"Harry pasti akan kembali!" jerit Ginny. "Dia pasti akan kembali untuk—"
"Untuk apa?" potong Bill lagi, dia terlihat kesal—sangat kesal. Sikap adiknya ini memang membuatnya kehilangan kesabaran. Situasi seperti ini membuatnya kehilangan kesabaran. "Untukmu? Untuk apa Harry kembali kemari hanya untukmu sementara dia punya Hermione?" tanya Bill sinis.
"Bill!" Molly tidak percaya kata-kata setajam itu dapat keluar dari mulut salah satu putra tertuanya yang biasanya terlihat tenang. Yang selalu berkepala dingin di antara saudara-saudaranya yang amat mudah naik pitam, seperti Ron. Yang lebih mengejutkan lagi, ia berkata seperti pada adiknya sendiri. Molly tau betapa Bill menyayangi Ginny, karena itu dia tidak pernah menyangka Bill akan berkata seperti itu pada Ginny.
Wajah Ginny semakin merah, "Apa hebatnya Darah-Lumpur itu dibandingkan denganku? Dia bahkan tidak berambut merah!"
Kali ini Ron bangkit dari kursinya, "Jaga mulutmu Ginny!" kecamnya sambil menunjuk Ginny. "Dia lebih baik dalam banyak hal dibandingkan denganmu!"
"Rambutnya?" Remus terlihat keheranan. "Ada apa dengan rambut merah? Dan apa hubungannya dengan Hermione?"
Ginny menoleh pada Remus, senyum kemenangan menghiasi wajahnya. Entah kenapa. "Seluruh Potter menyukai wanita berambut merah dan Hermione bahkan tidak berambut merah, karena itu, aku yakin, Harry akan kembali padaku," ujarnya yakin.
Remus melongo, semua orang melongo kecuali Molly. Bahkan kedua sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas, hanya sedikit, dan tidak ada seorang pun yang menyadarinya. Fred dan George bahkan saling memandang tidak percaya. Apa adik mereka begitu—emm—bodoh?
Rapat ini benar-benar sudah melenceng, pikir Draco, tapi ia sendiri tidak berusaha untuk menghentikan perdebatan itu. Terlalu seru untuk dihentikan.
Remus menggeleng, "Rambut merah bukan jaminan Ginny. Dan aku tau bukan itu yang membuat James menikahi Lily,"
Senyum itu langsung memudar begitu mendengar kalimat Remus.
"Apa yang keluarga Potter lihat dari seorang wanita bukanlah rambutnya, tapi otaknya, Ginevra," lanjut Remus dengan tenang tanpa menatap Ginny atau siapa pun yang berada di ruangan itu. Ia hanya menunduk menatap meja. Seberkas kenangan melintas di benaknya. Remus tersenyum.
Dahi Molly berkerut dalam, "Tapi—James menikahi dengan gadis berambut merah. Begitu pula dengan Charlus dan—"
Remus berdecak pelan, "Memang, para pria dari keluarga Potter selalu memilih gadis berambut merah selama beberapa generasi. Tapi keluarga Potter selalu memilih penyihir terpintar di generasinya. Seperti Charlus, James dan mungkin Harry,"
Remus masih tetap tersenyum, "Ada bagian dalam diri Hermione yang mirip sekali seperti Lily. Bagian yang membuat James tergila-gila pada Lily sejak mereka masih kelas tiga. Harry mungkin memiliki selera wanita yang sama dengan James, tapi dengan kepribadian Lily yang Harry punya membuatnya terlihat lebih tenang dan dewasa dibandingkan dengan James,"
"Ada sesuatu yang berbeda pada tatapan Harry saat Harry memandang Hermione," bisik Ron, matanya memandang meja. "Sikap Harry pada Hermione juga sangat berbeda jika dibandingkan dengan sikapnya pada Ginny—atau Cho—" Ron terdiam.
"Sikap Hermione pada Harry juga berbeda," dahi Neville berkerut saat ia berkata dengan pelan, "Dan Hermione memilih Harry saat Ron meninggalkan mereka berdua,"
Ron menoleh pada Neville dan Neville pun menoleh padanya, mereka berdua saling memandang. Mata keduanya mengisyaratkan hal yang sama. Mereka berdua sadar akan sesuatu.
Senyum Remus terlihat semakin lebar, "Ternyata dia memang anak James,"
"TIDAK!" Ginny menjerit keras-keras, "Harry akan kembali padaku! Dia berjanji!"
"Dia berjanji pada semua orang!" Bill mendengus, "Dewasalah Ginny, berhenti hidup di dunia mimpi," ujarnya tajam.
Ginny terlihat kehilangan kesabaran, ia membanting kursinya sebelum berlari keluar ruang makan. Molly bangkit dari kursi, hendak mengejarnya, tapi Arthur menahan tangannya. "Biarkan dia sendiri, dia bukan anak-anak lagi,"
"Tapi—"
"Duduklah Molly," kata Remus. Molly menatap Remus sejenak, tanpa ekspresi, lalu kembali duduk di kursinya. Pikirannya berkecamuk. Bagaimana jika Bill benar? Bagaimana jika Harry dan Hermione—tidak. Harry akan kembali untuk Ginny, untuk putrinya. Dan Hermione akan kembali untuk Ron.
Mungkinkah?
0ooo0ooo0
Tonks masih dan merasa sangat yakin bahwa James Evans memanggilnya 'Tonks' beberapa hari yang lalu. Fleur memintanya untuk melupakan hal itu dan berkata itu hanya perasaannya, tidak ada satu orang pun yang mengetahui identitas asli mereka. Memang benar apa yang Fleur katakan, tidak ada seorang pun yang mengetahui siapa mereka sebenarnya.
Hari ini Tonks kembali mengunjungi toko Bari untuk berbelanja lagi, kali ini ia membawa Victoire dan Teddy serta. Tonks melirik rumah keluarga Evans saat mereka melewatinya, terlihat Jean Evans sedang asyik membaca buku di sebuah ayunan. Ekspresi Jean mengingatkan Tonks pada Hermione. Tonks menghela nafas, dimana Hermione sekarang? Apa dia dan Harry masih hidup? Apa mereka baik-baik saja? Mengapa mereka pergi?
"Mummy? Kita sudah sampai," Teddy menarik-narik baju Tonks, menyadarkannya dari lamunan. Tonks mengerjap beberapa kali.
"Mummy apa kau baik-baik saja?" tanya Teddy khawatir.
Tonks tersenyum, Teddy mewarisi sifat-sifat Remus dan itu terlihat sangat jelas di setiap tindak tanduknya. "Aku baik-baik saja Teddy. Bagaimana kalau kau dan Victoire berkeliling? Mungkin kalian menginginkan sesuatu,"
Mata Teddy berbinar, begitu pula dengan Victoire, "Kami boleh mengambil sesuatu yang kami inginkan?" tanya mereka bersamaan.
Tonks mengangguk, "Hanya satu dan tidak lebih,"
Kedua anak itu mengangguk dengan semangat. "Ayo Teddy!" ajak Victoire, ia meraih tangan Teddy dan segera mengajaknya berkeliling.
Tonks segera menghampiri Bari yang langsung menyambutnya hangat. "Apa yang kau butuhkan hari ini?" tanya Bari sembari tersenyum lebar. Tonks memberi tau Bari barang apa saja yang ia butuhkan, lalu ia berkeliling toko mengambil berbagai bahan makanan sementara menunggu Bari mengumpulkan barang yang ia perlukan.
"Hanya ini?" tanya Bari setelah ia dan Tonks menyatukan semua barang yang Tonks butuhkan.
"Ya, hanya ini," jawab Tonks. Pikirannya berkelana sementara ia menonton Bari menghitung semua barang belanjaannya. James sangat mirip dengan Harry, sedangkan Jean sangat mirip dengan Hermione. Mereka menamakan anak mereka Rose. Dari apa yang Tonks dengar dari Remus, keluarga Lily, ibu Harry, menamai setiap anak perempuan mereka dengan nama bunga. Hermione adalah penyihir terpintar di generasinya jadi—
"Apa yang kau tau tentang keluarga Evans, Bari?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Tonks sebelum ia sempat mencegahnya.
Bari mendongak, menatapnya dalam diam. Mendadak ia tersenyum lebar, "Mereka sudah tinggal di sini selama beberapa generasi. James dan Jean Evans menikah disini dua tahun yang lalu, lalu mereka tinggal di Paris. Mereka memilih untuk kembali tinggal di sini setelah orangtua Mr Evans meninggal tahun lalu," jawab Bari. Ia terlihat sangat mengenal keluarga Evans dan jawabannya pun terdengar meyakinkan.
Tapi Tonks tetap merasa ada yang janggal.
"Siapa nama kedua orangtua Mr Evans?" tanya Tonks lagi.
Bari terdiam, dahinya berkerut dalam. "Kalau aku tidak salah—nama mereka Alexander dan—Susan," jawabnya tidak yakin.
Tonks tersenyum, "Kau terdengar tidak yakin,"
Bari terkekeh, "Aku selalu memanggil mereka dengan Mr dan Mrs Evans sejak aku kecil, aku juga jarang mendengar orang-orang memanggil nama depan mereka. Jadi sepertinya wajar jika aku tidak terlalu mengingatnya,"
Masih terdengar ganjil. Tapi Tonks tidak berkomentar banyak. Ia berniat mencari tau sendiri.
0ooo0ooo0
"Kita sudah terlalu lama bersembunyi,"
"Aku tau. Tapi—tapi ini sama sekali di luar perkiraan kita,"
"Keadaan semakin tidak terkendali di luar sana dan—ini salahku,"
"Harry! Jangan pernah berkata ini salahmu! Aku yang mengusulkan ini padamu dan—"
"Tapi aku setuju kan?"
"Tetap, ini bukan salahmu,"
"Aku harus kembali,"
"Maksudmu, kita harus kembali?"
"Tidak. Aku. Kalian tetap di sini,"
"Lagi-lagi kau mau bersikap seperti itu! aku tidak akan membiarkanmu kembali ke sana sendirian Harry, tidak akan pernah!"
"Hermione, dengarkan aku. Aku tidak ingin kehilanganmu, aku tidak ingin kehilangan kalian, aku ingin memastikan kalian selamat,"
"Tapi Harry—"
"Tidak ada tapi Hermione. Kali ini kita tidak bisa memikirkan diri kita sendiri kan?"
"Aku tau. Tapi aku sangat ingin ada di sana, aku sangat ingin bersamamu,"
"Aku mengerti itu, Hermione, aku benar-benar mengerti,"
"Kita bahkan belum menghancurkan semua Horcruxnya,"
"Hanya tinggal Nagini dan aku kan?"
"Kau yakin kau adalah Horcrux? Kalau itu benar berarti—"
"Aku harus mati. Ya, aku yakin aku adalah Horcrux,"
"Pasti ada jalan lain Harry, pasti ada cara untuk menghancurkan Horcrux itu tanpa harus membunuhmu!"
"Aku tidak yakin—"
"Aku akan mencari cara itu,"
"Hermione—"
"Jangan membantah! Aku pasti akan mencari cara itu,"
"Aku tidak mungkin menang melawanmu ya?"
"Tidak. Tidak akan mungkin dan aku pasti akan menemukan caranya,"
need your review here *puppy eyes* ini pertama kalinya aku bekerja berdua dalam menyelesaikan sebuah cerita hehe.
