.:One Night With Arima:.
Summary:
"Katakan padaku, apa kau perawan?"
"Mh, pertanyaan macam apa itu?"
Pairing: ArimaxHaise/Kaneki
Warning: contains porn. NSFW. BoyxBoy. Arimas really OOC.
I would appreciate if you hit the back button instead of reading the whole fics.
-Chapter 4-
Haise memutar lehernya dan dengan bantuan tangannya ia berusaha meraih figur Arima dalam kegelapan, tak butuh waktu lama hingga jemari Haise meraih pipi kanan si tukang peluk. Dengan tangannya ia berusaha mempelajari bentuk pipi dan jemarinya berakhir di bibir pria berambut putih itu, ketika ia sepenuhnya menoleh bibirnya menempel dihidungnya dan tanpa aba-aba Arima segera menyingkirkan tangan itu dan mencium bibir Haise. Ia menekan bibir mungil Haise dengan lembut dan perlahan, ia tak ingin bibir imut "anak"nya ini terluka.
Haise mendesah saat merasakan bibirnya dipagut oleh Arima. Ia berusaha melepaskan tangannya dari tangan Arima yang menggenggamnya namun usahanya sia-sia. Bukan karena Arima. Mencengkeram tangannya dengan kuat melainkan ciuman ini yang melumpuhkan tubuhnya. Seluruh anggota tubuhnya terasa seperti jelly, lemah dan tak berdaya karena ciuman yang membawa jutaan sensasi yang tak bisa ia interpretasikan satu per satu. Haise pun membiarkan tangan kekar itu menahan tangannya. Ia tak peduli bila Arima menggenggamnya erat-erat hingga tangannya patah. Selama Arima yang melakukannya, ia rela menahan apapun rasa sakit yang diterima oleh tubuhnya. Namun hal itu tidak pernah terjadi karena Detektif Special Class ini memperlakukannya dengan lembut. Ia benar-benar beruntung. Mungkin satu-satu makhluk yang paling beruntung di dunia karena Dewa Kematian bersikap lembut terhadapnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa Haise adalah Ghoul berklasifikasi SS disini, bekas jahitan diperutnya adalah bukti yang nyata, Arima pernah membunuh Haise di kehidupan sebelumnya tanpa perasaan dan sekarang disinilah Arima, tanpa ragu mencium Ghoul tipe SS ini dan memperlakukannya dengan lembut seolah dia wanita.
Arima tidak sedang meracau, pun tidak sedang kerasukan atau hilang akal sehat. Ia mengerti betul bahwa apa yang dilakukannya ini adalah kesalahan besar. Ia BENAR-BENAR sadar bahwa pemuda yang tengah diciumnya ini adalah Ghoul, makhluk yang seharusnya berakhir di tangan Quinque-nya, bukan berakhir di bibirnya seperti ini, desakan nafsu mematahkan pemikiran rasional yang selama ini dibanggakannya. Dan Arima secara berbesar hati mengakuinya. Ia memang terobsesi dengan Haise. Bila dengan mencium Ghoul saja dia sudah dicap pengkhianat, maka Arima siap menerima konsekuensinya. Ia harus menjadi orang yang pertama yang merusak harga diri Haise, terdengar frontal memang, namun dengan cara itu semua orang bisa mengetahui bahwa Haise hanya miliknya seorang, kepunyaannya, urusan mati hidup Haise adalah haknya.
Haise secara paksa mengakhiri ciumannya karena lehernya sudah keram. Arima membiarkannya berbaring terlentang dan menarik napas dengan kepayahan. Mata Haise sudah mulai terbiasa oleh kegelapan, ia dapat melihat Arima yang terengah-engah akibat ciuman mereka. Sungguh pemandangan yang tidak biasa. Ia melihat sosok yang selalu kuat itu berantakan karena nafsunya sendiri. Bibirnya setengah terbuka dan ia tampak kesulitan mengatur napasnya, tanpa suara Arima menangkup wajah Haise dan langsung mencumbunya lagi. Kali ini Arima melumat bibir mungil Haise yang sudah setengah terbuka.
Haise bisa merasakan lidah asing menggeliat dimulutnya, merayu bibir imutnya untuk terbuka dan mengajak lidahnya menyamakan ritmenya. Haise begitu menikmati momen ini sampai-sampai matanya terpejam, desahan-desahannya terdengar semakin erotis, pakaian yang dipakainya terasa tak lagi nyaman dan bagian yang terbungkus celana itu semakin excited.
Arima masih menikmati bibir Haise, ia menyesap keseluruhan mulut Haise seolah mulutnya di penuhi dengan gula, sesekali ia memutus ciuman itu agar supaya Haise mencari bibirnya yang liar penuh sumber kenikmatan itu. Kesal karena Arima masih menggodanya, Haise mengalungkan lengannya pada leher Arima membuat cumbuan itu tidak bergerak di mulutnya. Haise mengutuki sistem pernapasan pada tubuh manusia, kalau saja bernapas tidak melalui hidung mungkin mereka bisa bercumbu selamanya. kebutuhan paru-paru akan oksigen membuat mereka berdua mengakhiri cumbuan panasnya. Mereka berdua terengah-engah. Arima masih bisa mengatur napasnya dengan baik, namun tidak begitu bagi Haise. Ia benar-benar terlihat kepayahan. Tubuhnya sudah diliputi peluh.
"Buka bajumu, Haise." Ujar Arima masih berusaha mengatur napasnya.
Tanpa menunggu lama Haise dengan patuh membuka bajunya. Ia tampak tak sabar menanti sentuhan Arima di tubuhnya yang sudah berkeringat dan diliputi gairah itu.
Haise tidak begitu rajin mengolah tubuhnya, maka tidak heran otot-ototnya masih tampak lembek, beberapa tulang ditubuhnya terlihat menonjol karena perawakannya yang kurus. Meskipun temaram Arima masih bisa melihat dada kurus Haise yang terbungkus kulit putih. Haise mengangkat kedua lengannya membuat otot-otot disekitar dadanya berkontraksi, kedua puting susunya tampak memanggil-manggil untuk dibelai. Haise menutup kedua matanya dengan tangan kiri, ia tahu bahwa Arima sedang memperhatikan dada telanjangnya, muka Haise sudah sangat memerah dan Haise bersyukur kegelapan menyembunyikan wajahnya.
Arima membetulkan posisinya, ia membuka paha Haise dan duduk di antara selangkangannya. Ia menyingkirkan tangan Haise sehingga ia bisa melihat iris kelabunya.
"Apa kau sangat membenci tindakanku hingga kau menutup mata seperti itu, Haise." Katanya sambil meletakkan tangan kanannya pada pipi Haise. Ia mendekatkan wajahnya sehingga hidung mereka bersinggungan.
Haise menelan ludah saking gugupnya. Melihat bagaimana kedua iris mata yang segelap malam itu menuntut jawaban di temaramnya cahaya, ia hanya menggelengkan kepalanya. Bukan ia tidak mau menjawab, hanya saja lidahnya tidak sanggup mengeluarkan kata-kata. Ia masih terkejut dengan apa yang sedang Arima coba lakukan pada dirinya, bukannya ia tak mau diperkosa Arima juga, namun kejadian ini terjadi diluar dugaannya. Mungkin akan memakan waktu sampai pada tahap berhubungan seperti ini, karena yang Haise baca dari buku, ada beberapa tahap terlebih dahulu seperti berpegangan tangan, lanjut ke kecupan dan kecupan lama-lama berubah menjadi ciuman, dan setelah bosan dengan ciuman, akhirnya berakhir dengan cumbuan sampai akhirnya mereka berhubungan intim. Sementara Haise melewati tahap berpegangan tangan dan kecupan. Dan itu terjadi malam ini! Bukan dalam beberapa bulan, minggu atau hari. Baiklah, Haise sudah 2 tahun mengenal mentornya ini, mereka sering sparring bersama, bertukar pikiran, memberi kritik dan saran dan hal yang lain-lain yang seputar pekerjaan. Dan itupun seputar pekerjaan. Hanya seputar pekerjaan. Bukan dalam keadaan seperti ini, bukan dalam kondisi yang intim dan vulgar seperti ini. Bukan, bukan, bukan.
"Katakan sesuatu." Desak pria berambut putih itu. Kedua matanya mencari jawaban di iris kelabu milik Haise.
Haise yang belum mampu mengendalikan pikirannya dan powerless mencoba menggerakkan lidahnya. "Aku tidak tahu harus berkata apa, Arima-san."
Arima mengecup lembut bibir Haise.
"Katakan padaku." Ia mengecup bibir itu lagi. "Apakah Kagune-mu akan bangkit bila aku melakukan ini." Detektif Special Class itu meremas selangkangan Haise ketika mengakhiri kalimatnya.
Ketika tangan Dewa Kematian itu meremas selangkangannya, Haise melenguh dengan nikmat dan melengkungkan tubuhnya. Oh, my God, I can't hardly think. "Aku harap tidak, Arima-san." Haise berkata dalam lenguhannya. Ia berbohong, sebenarnya Kagunenya tidak akan bangkit juga bila dirinya dirangsang seperti ini, ia membuktikannya sendiri ketika dikamar mandi.
"Kalau begitu jangan." Arima mengakhiri percakapan mereka kemudian mencium lagi bibir mungil itu, kali ini ciumannya lebih mendesak. Haise tidak yakin harus melakukan apa, maka ia pun mencoba menangkup wajah si pencium dengan kedua tangannya, dan ciuman mereka semakin liar ketika bibir mungil Haise terbuka kali ini ia merayu lidah sang Detektif untuk mengikuti iramanya, ia memiringkan kepalanya sehingga ciuman mereka semakin intim. Arima membiarkan kedua tangan Haise mengacak-acak rambut putihnya sementara lidah mereka masih menari-nari dalam cumbuan mereka. Mereka sama-sama menuntut dan menyesap kenikmatan satu sama lain, bertukar saliva dan bergulat lidah. Tidak ada yang mendominasi, mereka menyatu dalam ritme yang sama dan gerakan yang seimbang.
Bibir mereka sama-sama tidak berhenti memagut, suara kecupan tidak henti-hentinya terlantun dari cumbuan keduanya, Haise bisa melakukan ini selamanya. Bibir Detektif Special Class itu terasa begitu nikmat di lidahnya, rasanya tidak ada satu manisan pun di dunia ini yang dapat menggantinya. Kali ini Haise yang mengakhiri ciumannya, tidak ada yang kepayahan karena lack of oxygen kali ini. Haise masih membenamkan jemarinya di helaian rambut sewarna kapas itu. Mereka masih memandangi satu sama lain. Dan untuk pertama kalinya ia benar-benar bisa menikmati wajah yang selalu datar ekspresi itu kusut karena nafsu dan desakan gairahnya sendiri.
"Kau tampak berantakan, Arima-san."
"Begitukah?" Jawabnya sambil tersenyum. Arima tidak menampik perkataan Haise. Memang benar dirinya berantakan akibat tuntutan nafsunya sendiri dan ia tidak menyembunyikannya pun tidak mencoba menghilangkannya. Ia benar-benar menyukai saat ia bisa melampiaskan seluruh nafsunya, rasanya seperti seluruh beban yang melilit tubuhmu menghilang. Sang Dewa Kematian yang selalu tampil sempurna itu kali ini gagal meraih penampilannya, dan semua itu hanya karena seorang Haise Sasaki, makhluk yang terombang-ambing diantara dunia manusia dan Ghoul, mantan Kakujya berklasifikasi SS dan seorang pemuda yang pernah ia bunuh.
Arima berhenti meremas selangkangan Haise karena lengan kanannya sudah keram menahan beban tubuhnya dari tadi, ia bertumpu pada kedua lengannya sekarang. Ia memejamkan matanya sambil membelai hidung Haise dengan hidungnya, Haise bisa melihat bulu mata Arima yang panjang menawan itu.
"Aku benci ketika semua orang melihat kesempurnaanku." Ia berkata membuka matanya. Iris matanya tampak gelap oleh amarah. "Aku tidaklah sempurna, Haise. Aku manusia biasa, aku peka, aku bisa merasakan ketakutan, kesedihan dan kebahagiaan."
Haise mengangkat kepala berambut putih itu, ia mengernyit dan mencari kebenaran di iris mata segelap malam itu.
"Berhentilah menganggap diriku sempurna." Arima mendesak dalam suaranya.
Haise diam namun berhenti mengernyit. Ia paham betul apa yang Arima katakan. Ia mengerti bahwa Arima Kishou hanyalah seorang manusia, ia bisa memahami rasa sakit dan takut dan sedih juga kebahagiaan. Selama ini Haise selalu salah mengira pria 32 tahun ini sebagai sesosok Dewa. Sesungguhnya, Arima bahkan tidak pernah merasa sesempurna dewa. Ia tersenyum memikirkan ini. Betapa bodohnya dirinya, Arima bukan Dewa yang kebal terhadap apapun bahkan Zeus pun pernah kecurian api oleh Prometheus. Dan begitupun Arima, ia hanya sekumpulan daging dan tulang yang diisi oleh emosi dan akal sehat. Ia punya kelemahan. Dan kelemahannya adalah rasa posesifnya terhadap Haise.
"Kau terlalu banyak bicara, Arima-san." Haise mengakhiri kalimatnya sambil tersenyum.
"Ah, ya?" Timpalnya menyunggingkan senyum. "Betapa bodohnya aku." Ia menempelkan keningnya pada kening Haise dan kembali menutup matanya, meresapi kehangatan tubuh Haise.
Haise meleleh dalam sentuhan Arima, pria yang benar-benar ia kagumi dalam kondisi dan keadaan apapun, seorang manusia yang telah menyelamatkannya dari lumpur kesesatan, satu-satunya rekan kerja yang paling menghargai jati dirinya sebagai setengah Ghoul. Bahkan melebihi Akira dan anggota Quinckes.
Haise mengangkat wajah Arima, dalam minimnya cahaya sekali lagi ia memperhatikan wajah Arima yang kini sarat emosi. Ia menghiraukan dada telanjangnya, dengan kedua tangannya ia kembali menangkup wajah "Ayah"nya yang semenawan patung Dewa Romawi. Ah, benar. Arima bukanlah ayahnya, Arima adalah kekasihnya.
"You look beautiful." Bisiknya di wajah Arima.
"I'm no beautiful." Jawab Arima kemudian mencium Haise untuk yang ke sekian kalinya. Arima mengecup bibir Haise yang sudah ranum, ia menyesap permukaan kenyal itu pelan-pelan. "I love you."
Sudah terlalu jauh untuk berbalik arah sekarang, bila semua orang menghujatnya karena ia menyukai laki-laki, seorang laki-laki setengah Ghoul maka ia akan menerimanya. Ia bukannya seorang homoseks. Sesungguhnya Arima tidak pernah mempermasalahkan orientasi seksualnya, karena ia pun tidak pernah menyukai seseorang sebelum ini, sebelum mantan SS-rated Kakujya ini muncul didepan matanya, seorang pemuda yang ia lahirkan kembali sebagai perisainya.
Haise hampir tidak dapat mengatur kata-katanya ketika ia mendengar ucapan Arima barusan. "I love you. Too."
"Katakan padaku, apa kau perawan?"
"Mh, pertanyaan macam apa itu?"
Dan untuk yang kesekian kali percakapan mereka berakhir dalam cumbuan, kali ini Arima yang mendominasi cumbuannya. Bibir mungil Haise tampak tenggelam dalam mulutnya, lidah mereka saling bertautan dan saliva mereka berbaur. Tanpa perintah Haise memiringkan kepalanya sehingga Arima lebih leluasa menguasai bibirnya. Tangan Arima mulai bergerak menelusuri leher jenjangnya sementara ia masih menggunakan tangannya yang lain sebagai tumpuan.
Haise membiarkan desahannya mewarnai cumbuan intim mereka. Sensasi hangat dan menggelitik muncul ketika tangan Arima dengan sangat posesif menggenggam lehernya. Sentuhan tangan besar itu bagai menghantarkan stimulasi yang membuat gairah ditubuhnya kembali bereaksi, menghirup udara terasa semakin sulit bagi Haise. Ia ingin menyudahi cumbuan ini namun Arima tidak menunjukkan tanda-tanda ingin mengakhirinya, cumbuan itu menjadi basah sekarang akibat tetesan saliva milik Haise. Sebaliknya tangan Arima justru semakin menggerilya, ia dapat merasakan bagaimana tangan kokoh itu turun menelusuri buah dadanya, meskipun bukan keinginan tubuhnya, jamahan asing di dadanya membuat tubuhnya melengkung, kedua tonjolan di dadanya mengeras. Haise semakin tidak nyaman dalam cumbuan Detektif Special Class itu, sensasi yang ditimbulkan terlalu berlebihan sehingga membuat panas kembali menyergap tubuhnya. Tangan asing itu sukses menghantarkan sengatan yang membuat gairahnya bergemuruh di seluruh dada dan perutnya.
Arima menyingkirkan tangan Haise dari wajahnya, ia membuat pemuda berambut hitam putih itu tidak berdaya dalam pagutannya. Meskipun akhirnya Haise berhasil terlepas dari cumbuan itu, hal ini tidak membuat Arima berhenti menginspeksi tubuhnya. Haise berusaha menghentikan desahan yang keluar dari mulutnya dengan tangan kanannya ketika pria berambut putih itu menciumi lehernya, ia menyesap kulit putih itu dan menjilatnya berulang kali menghasilkan jejak kemerahan yang tidak etis dilihat, beruntung kegelapan dapat menjadi excuse sehingga Arima bisa sebanyak mungkin meninggalkan jejak erotis itu. Arima bisa mendengar suara desahan pemuda berambut hitam putih yang teredam tangannya sendiri, membuatnya ingin mendorong Haise lebih lagi.
"Apa kau tidak menikmati ini, Haise?" Arima berbisik di telinganya.
Haise tidak mau menyingkirkan tangannya, ia hanya menggeleng dengan kencang sambil memejamkan matanya erat-erat.
"Lalu kenapa memejamkan matamu?"
Oh, God. Dari mana ia tahu aku menutup mataku? Batin haise dalam hati.
"Buka matamu, Haise. Tatap aku."
Bagaimana bisa aku membuka mata dan melihat seseorang sedang menjamahku? Runtuknya dalam hati. Ia tidak ingin mendengar dirinya mendesah seperti wanita lagipula melihat seseorang yang sedang menjamahmu tidak pernah membawa hal baik. Haise dapat merasakan sesuatu diselangkangannya berkontraksi lagi.
Walau tak sanggup, Ia pun membuka matanya perlahan dan menoleh ke iris hitam mutiara itu.
"Jangan tahan suaramu, Haise." Kemudian Arima mengecup pipi kiri Haise.
Dengan penuh keberanian, Haise menyingkirkan tangannya sendiri dari bibirnya, ia memberanikan diri mendengar desahannya sendiri. Arima menelusuri garis rahangnya dengan bibir nakalnya. Meskipun tidak ingin, Haise mendongakkan kepalanya membiarkan Detektif Special Class itu meninggalkan banyak jejak cinta di leher jenjangnya.
Desahan yang koheren terus disuarakan bibir mungil Haise. Tanpa henti tubuhnya didera kenikmatan yang menyentil feromonnya. Arima bahkan belum menyentuh bagian itu namun Haise sudah menelantarkan seluruh kewarasannya, kesadarannya telah dirampas gemuruh gairah yang menyertai cumbuan di tubuhnya. Seluruh tubuhnya bereaksi, dadanya menggeliat dibawah sentuhan Arima. Sementara pria berambut putih itu masih sibuk meninggalkan bekas kepemilikan di leher Haise. Udara disekeliling semakin menguap akibat aktivitas intim yang mereka lakukan membuat Arima gatal untuk segera melepas sweaternya.
Ia pun berhenti mencumbu leher Haise dan menarik sweaternya keatas kepala kemudian melemparnya ke ujung tempat tidur. Arima masih tidak bergeming pada tumpuan lututnya, ia terlihat tidak malu berpose tanpa atasan.
Oh, goddamn the lights. Haise mengutuk keminiman cahaya di ruangan itu untuk pertama kali. Ia jadi tidak bisa melihat dengan jelas hadiah utamanya yaitu Arima yang sedang dalam keadaan yang sama dengan dirinya. Berbeda dengan Haise yang kurus hingga beberapa tulangnya menonjol, Arima memiliki massa otot yang lebih besar, tidak perlu heran karena Detektif Special Class itu mempunyai hobi nge-gym sepulang kerja. Haise tersipu memperhatikan tubuh polos Arima. Meskipun temaram ia dapat melihat guratan-guratan seksi dari otot yang terbungkus kulit putih itu, tulang selangkanya menonjol, bahunya tegap dan solid, ia semakin terlihat seperti mahakarya seorang pematung terkenal. Well, apa lagi yang kalian harapkan dari manusia jenius yang hanya terlahir sekali dalam seratus tahun? Bahkan sekalipun Arima tidak mengakuinya, tidak ada apapun yang ada dan melekat pada dirinya kecuali kesempurnaan.
Arima kembali bertumpu dengan kedua lengannya, menawan tubuh Haise dan mendekatkan wajahnya, membuat hidung mereka kembali bersinggungan, bibirnya kuncup.
"Kita akan melakukannya lebih perlahan kali ini."
-to be continued-
Huaaa, das tut mir so leid T_T
Maafkan saya karena adegan syur yang saya janjikan muncul di chapter 4 harus di lempar lagi ke chapter selanjutnya.
Saya masih tidak kuat membayangkan Arima yang akan totally naked. Itu sebabnya saya berhenti menulis dan memutuskan untuk menyambungkannya lagi ke chapter 5. Haduuh jadi berkembang terus deh chapternya.
I dunno if its important. But, I really proud of myself, karena saya berhasil memetakan pikiran erotis saya tentang Arima dan Haise ketika saya juga harus berbagi otak dengan alasan banding visa, yeayy \m/
Sejujurnya, kalau saya sudah punya kesibukan lain biasanya kegemaran saya menulis berhenti seketika. Namun entah saking ngebetnya menghidupkan pairing ArimaxKaneki ini atau apa, jadinya ini deh, si Chapter 4 yang udah di tunggu-tunggu *eaa..
Saya harap ini semua memenuhi harapan kalian para reader yang mengidamkan pairing ArimaxHaise ini, jujur saya jarang menemukan pairing ini di search engine.
Mohon maaf karena Haise nya saya bikin kurus disini padahal aslinya kan gak kurus-kurus banget, ini untuk mengimbangi deskripsi saya terhadap Arima yang lagi topless. *mupeng*
Vielen Dank, alles. Terima kasih semuanya.
Untuk reviewnya dan Hell-yeah akhirnya saya punya satu followers. \^o^/
It worths a lot for me. Okay. ^^
See you in the next chapter..
