Yeaaah, akhirnya nyampe champter 4.

Hohoho.

OOC banget yah?

Namanya juga fanfic. #ngeles

Hati-hati bau sampah karena cerita ini sampah banget. (_^_)

Keputusan

-Chapter 4-

Kadang kesepian dapat membuatmu bangkit dan memeluk orang-orang di sekitarmu. Namun, tak jarang kesepian dapat membuatmu terjatuh dan ingin merenggut semua kebahagian di sisimu. Kadang kesepian dapat membuatmu mengerti arti hidup. Namun, tak jarang kesepian membuatmu tak dapat merasakan sedikit saja kesenangan di sekelilingmu walaupun ia sangat besar.

Itulah yang dialami Ai. Ia kesepian. Sangat kesepian. Orang-orang yang disayanginya meninggalkannya tanpa pernah mengucapkan selamat tinggal. Mereka meninggalkannya sendiri tanpa pesan apa pun. Mereka meninggalkannya dalam hutan gelap liar yang dipenuhi hewan ganas yang selalu berharap suatu saat ia lengah dan dapat disergap dalam kilatan cahaya.

Kedua orangtuanya beserta kakaknya menghembuskan nafas terkahir dalam atmosfer organisasi itu. Ia tidak pernah mengerti apa kesalahan mereka sehingga nyawa direnggut begitu saja seolah mengambil permen dari anak kecil. Ia lah satu-satunya orang yang tersisa dalam garis keturunan keluarganya. Sangat mengenaskan jika keluarga itu harus berakhir dalam organisasi gelap itu. Ia ingin melarikan diri, namun ia sadar ia akan diburu bahkan hingga ke ujung galaksi.

Terkadang, ia sangat ingin menghunuskan pisau membelah nadinya. Ia ingin bertemu orang-orang yang disayanginya. Berkumpul seperti sebuah keluarga kecil di langit sana.

Namun, ia pun takut. Takut akan rasa sakit. Takut tak dapat menggapai langit. Takut meninggalkan tanah tempatnya berpijak. Dan rasa takut itu sama besarnya dengan rasa kesepiannya.

Ia mati rasa. Semua hal yang ada di hadapannya, yang sedang terjadi padanya, yang ditumpahkan padanya, seolah hanya semilir angin di musim dingin. Semuanya terasa salah. Ia tidak dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Semuanya salah.

Ia mati rasa. Ia tidak dapat mendengar hingar bingar di sekelilingnya. Ia tidak dapat merasakan riang yang menyelimutinya.

Dalam hati kecilnya, ia merasa iri. Bagaimana anak-anak di sekelilingnya dapat seriang itu. Semua anak itu tertawa dengan tulus. Bercanda dengan tulus. Berkata dengan tulus. Ah, yang dapat ia berikan saat ini hanya kepalsuan. Senyum palsu, tawa palsu, simpati palsu, perkataan palsu. Ia tidak tahu kapan terakhir kali merasakan indahnya menjadi kanak-kanak tanpa debu masalah yang selalu menyelimutinya walaupun kerap kali dibersihkan. Bahkan ia lupa apakah hal itu pernah terjadi dalam hidupnya atau tidak.

Ia ingin kembali ke masa kanak-kanak walau hanya sehari. Ia ingin mengingat kanak-kanaknya yang ia lupakan.

Memang tubuhnya kembali menjadi kanak-kanak, namun hatinya tidak. Hati itu telah dipenuhi oleh baying-bayang yang tak dapat ditangkap mata manusia.

"Ai, kau tidak makan siang?" suara kanak-kanak yang sangat dikenalnya membawanya kembali pada realita. Ayumi Yoshida.

"Aku tidak lapar." Ia membalas dengan senyum. Satu lagi senyum palsu.

"Lebih baik aku ke perpustakaan." Ai meninggalkan bangkunya bersama komik yang dipinjamnya dari Conan.

Perpustakaan lengang. Hanya ada beberapa murid kelas atas yang sedang mengerjakan tugas. Ai memilih duduk di pojok dekat jendela, jauh dari pandangan semua orang. Dari sana ia dapat melihat lapangan sekolah yang kering.

Ia membuka komik yang dibawanya dan membacanya untuk ke sekian kalinya. Sudah seminggu ia meminjam komik itu. Ia selalu mengatakan ia lupa membawa komik itu. Semula ia bermaksud mengembalikannya hari ini, alih-alih ia membawanya ke perpustakaan.

"Sepertinya kau sangat menyukai komik itu."

Ai menoleh. Conan sudah duduk di sampingnya.

"Tidak juga, hanya tidak ada bacaan yang lain." Mungkin memang benar.

"Kupikir kau tertarik membaca buku sains."

"Membosankan. Buku sains di perpustakaan ini hanya mengenai pengetahuan dasar. Lagipula, sangat mencurigakan jika anak kelas satu membaca buku semacam itu."

Conan mengangguk.

Ai menutup komik dalam genggamannya. Ia mengembalikan komik itu pada pemiliknya. Lagipula, tidak ada alasan baginya menahan komik itu lebih lama. Ia sudah sangat hapal isinya.

"Kau tahu, aku belum sepenuhnya percaya padamu," kata Conan. Ai berpaling padanya. "Mungkin kau dikirim oleh organisasi untuk membunuhku. Lagipula, kau masih berhutang padaku telah membuatku terjebak dalam tubuh seperti ini."

Ai terdiam. Seorang detektif memang tidak dapat dipandang sebelah mata.

"Tapi kuharap pemikiranku kali ini salah." Conan tersenyum lebar sampai memperlihatkan gigi-giginya. Ia tampak seperti kanak-kanak pada umumnya.

Sesaat, ada sensasi aneh saat Ai melihat cengiran lebar itu. Sensasi yang ia tidak tahu apa itu karena belum pernah dirasakannya.

Bagaimana mungkin "kutukan" yang didapat Kudo masih dapat membuatnya nyengir lebar? Bahkan, ia dapat beradaptasi dengan anak-anak "seusianya" walaupun terkadang tampak bosan. Lalu, Kudo pun tahu bahwa Ai dapat dipersalahkan atas tubuhnya yang mengecil, namun ia tidak tampak gusar dan ingin membalas dendam, bahkan menyalahkan pun tidak, hanya berhati-hati jika ternyata dirinya adalah mata-mata.

Ia tidak akan pernah mengerti semua itu. Ia mungkin jenius, namun dalam hal perasaan, kejeniusannya sama dengan resultan gaya pada benda yang tak bergerak: nol. Ia sudah melupakan semua perasaan menyenangkan.

Ia mungkin dapat berpura-pura beradaptasi dan tersenyum serta tertawa, namun hatinya tetap redup. Hatinya dipenuhi tanda tanya. Ia merasa kehilangan sesuatu yang ia tidak tahu entah apa.

Bel sekolah berdentang, tanda semua pelajaran berakhir hari itu. Seperti biasa, kelompok detektif cilik, termasuk Ai dan Conan, pulang bersama.

Ayumi, Genta, Mitsuhiko membicarakan sesuatu yang hanya dimingerti anak-anak seusia mereka. Conan tidak ambil bagian dalam percakapan itu, tidak peduli. Begitu pun Ai.

Conan dan Ai berjalan beriringan paling depan. Mereka hanya diam. Sesekali Ai melirik Conan. Melihatnya berlakon sangat santai memberikan suatu tanda tanya besar dalam otaknya. Conan bersikap seolah tidak ada masalah dalam hidupnya.

Ai berjalan, terus berjalan. Lampu penyebrangan masih berwarna hijau, masih boleh menyebrang jalan. Ia melangkahkan kakinya untuk menyebrang. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah kaki kecil. Baru beberapa langkah, bahkan sebelum mencapai tengah jalan, lampu itu berubah merah dan lampu lalu lintas berubah hijau.

Dan semuanya berlangsung cepat.

Sebuah motor sport merah menyerbu cepat ke arahnya. Ia hanya dapat terpana menyaksikannya, tidak dapat bereaksi dengan cepat.

Jadi, inilah akhirnya? Akhir dari seorang Shiho Miyano. Setidaknya akhir ini lebih baik daripada tembakan orang dalam organisasi itu.

Ai hanya dapat memejamkan mata. Tubuhnya tidak dapat bergerak.

Kami-sama pasti tidak mengizikan tanganku ternoda. Aku berakhir di hadapan targetku, yang seharusnya kuakhiri hidupnya lebih dahulu. "Menyenangkan".

"Bodoh, kau mau mati, ya?"

Di luar kesadarannya, tubuhnya sudah mendarat di trotoar jalan. Kesadarannya masih ada, tetapi tidak sepenuhnya.

Masih dalam keadaan pening akibat terantuk tiang lampu jalan, samar-samar ia dapat melihat siluet remaja berusia kira-kira tujuh belas tahun terjatuh di sebelahnya.


INI CERITA APA?

SAMPAH BANGET!

Gomenasai. Aku memang tak pandai berkisah.

Tapi tolong review yaa. Arigato gozaimasu.