"It's Too Late to Regret" .
Chapter 4
All the cast are not mine. They're belong to God, their parents, and them self.
.
Pairing : HaeHyuk~
.
Rated T (maybe)
.
Genre : Romance, Angst.
.
Warning! OOC, gaje, MPREG, yaoi,judul sama cerita nggak nyambung, typo(s), serba kurang._.
.
Summary : Aku mencintaimu. Selalu mencintaimu. Tak bisakah kau
melupakannya dan mulai melihat ke arahku? Aku yang selalu mencintaimu.
Aku yang selalu ada di sini…
.
.
HAPPY READING~ :3
.
.
"Gwaenchanayo, Wookie. Aku memang lemah, kan?" Ucapan Hyukjae membuat perasaan bersalah terbesit di hati Donghae. Ia sedikit terkejut saat melihat Hyukjae membungkukkan badannya. "Aku pergi dulu. Annyeong," ujarnya.
Donghae tertegun saat sosok Hyukjae berjalan menjauh. Ia hanya bisa menatap punggung Hyukjae yang semakin menjauh.
Kalau dilihat-lihat dengan teliti… Hyukjae terlihat lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu. Jaket yang dikenakannya terlihat kebesaran. Pipinya juga terlihat sangat tirus. Wajahnya pucat. Kantung matanya besar. Benar-benar… mengenaskan.
Dalam hatinya, Donghae merutuki mulutnya yang lagi-lagi berucap tanpa bisa ia atur. Sungguh untuk kesekian kalinya, bukan keinginan hatinya untuk berkata seperti itu kepada Hyukjae. Ia sama sekali tidak ingin mengatakan hal sejahat itu. Itu bukan pribadinya.
Seorang Lee Donghae bukanlah seorang namja bajingan sebelumnya.
"—Hae Hyung?" Merasa dipanggil, Donghae menoleh.
"Ah, ne?"
Ryeowook tersenyum lembut kepada Ryeowook. "Hyung masih ingin di sini?" tanyanya lembut. Seolah terhipnotis, Donghae ikut tersenyum.
"Eum… Mungkin?"
"Mau mengobrol dulu? Kurasa sudah lama kita tidak mengobrol."
Donghae mengerutkan keningnya. "Lalu bagaimana dengan Hyukjae?" Ryeowook tersenyum miris saat mendengar nama hyungnya disebutkan.
"Hyukkie hyung sedang butuh sendirian. Lagipula, ia pasti bisa menjaga dirinya dengan baik."
.
.
.
Hyukjae keluar dari ruangan dokter dengan lemas. Ucapan dari dokter yang memeriksanya masih teringat jelas di pikirannya. Rasanya ingin menangis saat mendengar ucapan dokter tadi. Sekarang, pilihan apa yang harus dipilihnya setelah mendengar perkataan dokter tadi?
Hyukjae menghela nafas. Kakinya membawanya menuju taman yang berada di halaman belakang rumah sakit. Ia mendudukkan tubuhnya di atas kursi taman. Tatapannya tampak kosong. Perlahan, air mata keluar dari kedua matanya. Tak terdengar isakan sama sekali. Hanya air mata.
Kenapa hidupnya terasa sangat berat setelah ia menikah bersama Donghae? Kenapa hidupnya tak lagi setenang dulu? Bahkan sejak bersama Donghae, ia selalu terkekang. Ia jarang bertemu denagan teman-temannya.
Hidupnya menjadi monoton karena bersama Donghae.
Setiap pagi bangun, lalu memasak sarapan. Membangunkan Donghae dan menyiapkan air hangat untuknya mandi, lalu bertanya, "Kau ingin mandi atau makan dulu?". Kemudian menerima cacian dari Donghae karena sarapannya tidak seenak yang ia inginkan. Puas mencacinya, Donghae akan berangkat bekerja.
Siangnya, ia akan berbelanja untuk bahan makan siang dan malam. Setelah memasakkan makanan untuk Donghae, ia akan pergi ke kantor Donghae untuk memberikan bekal makan siang, yang pastinya akan berakhir di tempat sampah. Setelah itu, ia akan pulang untuk beristirahat.
Menjelang malam, ia akan memasak makan malam. Menunggu Donghae sampai ia tertidur. Saat ia terbangun, Donghae pasti sudah tidur mendahuluinya di kamar. Tanpa menyentuh makan malam yang sudah dibuat Hyukjae dengan susah payah.
Seperti itu seterusnya. Membosankan, monoton, penuh air mata.
Isakan mulai terdengar keluar dari bibirnya.
.
.
.
"Wookie," panggil Donghae, memecahkan keheningan di antara mereka. Ryeowook yang merasa dipanggil itu menoleh. Ditatapnya wajah Donghae dengan lekat.
"Waeyo, Hyung?"
Donghae tampak menghela nafas panjang. Tatapannya terarah pada Ryeowook –meskipun kosong. "Hyukjae—" Ia menghela nafas lagi. "—jadi lebih kurus, ya?" tanyanya lirih. Mendengar perkataan Donghae, Ryeowook menghela nafas.
"Ne, Hyung… Hyukkie hyung jadi semakin kurus. Ia jadi sering menolak untuk makan. Padahal kan, makanan itu penting untuk bayinya. Aku takut ada hal buruk yang terjadi pada kandungannya, Hyung…"
Tatapan Ryeowook tampak sendu, membuat Donghae merasa bersalah. "Aku senang saat mendengar Hyukkie hyung mengatakan kalau ia sedang mengandung. Aku sangat senang. Tapi kalau tau akan seperti ini—" Isakan Ryeowook terdengar. "—aku pasti tidak akan pernah membiarkannya mengandung bayi…"
Perkataan Ryeowook semakin membuat Donghae merasa bersalah. Entah merasa bersalah kepada siapa. Ryeowook, bayi yang dikandung Hyukjae, atau bahkan mungkin—
—Hyukjae?
.
.
.
Air mata sudah berhenti jatuh dari mata Hyukjae. Tetapi tidak bisa dipungkiri, jejak-jejak air mata masih terlihat si wajahnya.
DRT… DRT…
Ponselnya yang bergetar membuatnya sedikit mengalihkan kesedihannya. Ia mengambil ponsel yang diletakkannya di saku jaketnya. Nama 'Yesungie Hyung' terpampang di layar ponselnya. Dibukanya ponsel itu.
From: Yesungie Hyung
Hyukkie-ah… Kudengar, hari ini kau pergi ke dokter,
ne? Bagaimana kata dokter? Baik-baik saja, kan?
Senyuman tipis terulas di bibir Hyukjae. Setidaknya, masih ada yang mempedulikannya kan?
To: Yesungie Hyung
Gwaenchana, Hyung…
Hanya saja kata dokter, aku harus memilih. Ottokhe?
Apa yang harus kupilih?
Hyukjae menghela nafas. Ia menyandarkan punggungnya. Dipejamkannya matanya. Ia lelah. Tubuh dan hatinya lelah. Ia merasa tak sanggup lagi menjalani semuanya. Jujur, ia ingin mengakhiri hidupnya. Tapi…
Bukankah ia harus tetap bertahan untuk bayinya yang bahkan belum ia lihat?
"Hyukjae?"
Mendengar namanya dipanggil oleh suara itu, tubuhnya menegang. Dengan perlahan, ia menolehkan kepalanya ke arah suara. Hatinya langsung berdenyut sakit saat ia melihat orang yang memanggilnya. "Dong—Donghae?"
.
.
.
Kini, Donghae dan Ryeowook sama-sama terdiam. Tak ada yang ingin memulai kembali pembicaraan. Hanya sesekali terdengar suara Ryeowook yang masih sesenggukan.
Pada akhirnya, Donghae menghela nafas. Ia bediri dari tempat duduknya. Menatap Ryeowook dalam. "Aku akan mencari Hyukjae. Kurasa—" Donghae menghela nafas. "—kurasa aku harus meminta maaf kepadanya."
"Hyung…" Panggilan Ryeowook membuat Donghae yang mulai berjalan itu menghentikan langkahnya.
"Ne?"
"Hyung—" Ryeowook menatap Donghae dengan penuh harap. "—mencintai Hyukkie hyung, kan?" Pertanyaan Ryeowook membuat tubuh Donghae menegang. Ia hanya terdiam. Membuat Ryeowook menghela nafas. "Aku harap Hyung mencintai Hyukkie hyung. Hyukkie hyung sangat mencintaimu, Hyung tau, kan?"
Donghae menganggukkan kepalanya dengan ragu. "Aku akan mencoba untuk mencintainya."
"Tapi kapan, Hyung? Hyukkie hyung sudah terlalu lama menunggumu untuk mencintainya," balas Ryeowook cepat. Ia menatap Donghae dengan tatapan sendu. Sesak juga mendengar hyungnya tidak dicintai orang yang telah menjadi suaminya.
"Aku masih mencintaimu, Wookie. Kau tau itu…"
Ryeowook menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. "Ne, aku tau itu, Hyung. Aku selalu tau," jawab Ryeowook lirih. "Tapi kumohon… Lupakan aku. Cintai Hyukkie hyung. Aku sudah memiliki Yesung hyung. Dan kau sendiri sudah menikah dengan hyungku."
Donghae memejamkan matanya, lalu kembali membukanya. "Aku akan mencobanya, Wookie. Berikan aku waktu untuk mencintainya…"
"Sudah lama, Hyung…" ujar Ryeowook. "Kumohon, cepat cintai Hyukkie hyung. Aku takut kau terlambat mencintainya. Aku takut kau akan menyesal, Hyung."
"Terlambat?" ulang Donghae. Ryeowook menganggukkan kepalanya. "Tidak akan ada kata terlambat, Wookie."
"Mungkin tidak ada kata terlambat. Tapi bagaimana dengan menyesal?"
Donghae terdiam. Tak lama kemudian, ia menghela nafas. "Sudahlah, Wookie. Aku akan mencari Hyukjae dulu," ucapnya pada akhirnya. Wookie menghela nafas, kemudian mengangguk.
"Hyukkie hyung pasti sedang di taman rumah sakit, Hyung…"
Tanpa menunggu lama, ataupun menunggu Ryeowook melanjutkan kata-katanya –yang akan semakin membuat Donghae merasa bersalah—Donghae langsung melangkahkan kakinya ke arah taman.
Ia menghentikan langkahnya saat sudah mencapai taman. Matanya menatap berkeliling. Mencari sesosok namja dengan tubuh mungilnya –Hyukjae. Setelah berulang kali menatap berkeliling, akhirnya matanya menangkap sesosok namja berbadan kecil dengan jaket yang terlihat kebesaran yang melekat di tubuhnya.
Donghae berjalan mendekat. Lagi, ia menghentikan langkahnya. Hanya menatap Hyukjae yang sedang memegang ponselnya. Ia menahan nafasnya saat melihat Hyukjae yang memejamkan matanya. Entah kenapa, ia menangkap kesan manis pada wajah Hyukjae.
Apakah ia mulai mencintai Hyukjae?
"Hyukjae?" Akhirnya suaranya keluar, memanggil nama namja yang sejak tadi ditatapnya. Hyukjae yang merasa namanya dipanggil itu menoleh. Tatapannya bertemu dengan Donghae. Bisa Donghae lihat, kilatan kaget terlihat di mata Hyukjae.
"Dong—Donghae?" Desisan Hyukjae terdengar pelan, meskipun masih bisa didengar oleh Donghae. Perlahan, Donghae berjalan semakin mendekati Hyukjae.
Tatapan mata Hyukjae mengikuti setiap gerakan yang dilakukan oleh Donghae. Membuat Donghae merasa salah tingkah. Ia menelan ludahnya dengan susah payah. Kemudian dengan gerakan yang terpatah-patah, Donghae mendudukkan tubuhnya di samping Hyukjae.
Kini, giliran Hyukjae yang menahan nafas. Ia sama sekali tidak pernah membayangkan kalau Donghae –yang selalu menyakitinya—sedang duduk tepat di sampingnya.
"A—aku—"
.
.
.
"A—aku—"
GREK.
Dengan cepat, Hyukjae berdiri dari tempatnya duduk. Ia menatap Donghae. Tatapannya tampak menahan sakit di hatinya. Berusaha mengulas senyum –meskipun tipis. "Mi—mianhae, Donghae-ah. Aku harus pulang sekarang."
Hyukjae membungkukkan tubuhnya dalam-dalam. Kemudian, ia bergegas berjalan menjauh. Tidak mempedulikan Donghae yang belum meneruskan perkataannya. Ia hanya terus berjalan, berjalan dan berjalan menjauhi Donghae.
Ia takut. Ia hanya terlalu takut kalau Donghae berbicara kepadanya. Ia hanya terlalu takut kalau hatinya akan menjadi lebih sakit karena perkataan Donghae. Ia takut…
.
.
.
Donghae menatap punggung Hyukjae yang semakin menjauh. Ia menghela nafas.
Kenapa Hyukjae langsung pergi saat ia akan meminta maaf? Kenapa Hyukjae tidak ingin ia dekati? Dan—
—kenapa Hyukjae memanggilnya Donghae dengan embel-embel ah? Bukankah biasanya Hyukjae akan memanggilnya dengan panggilan Hae?
Dengan frustasi, Donghae mengusap-usap wajahnya. Ia ingin meminta maaf, sungguh! Ia tidak ingin menyakiti Hyukjae lagi, kalau ia bisa! Tapi kenapa saat ia akan melakukannya, Hyukjae malah tampak seperti menjauhinya?
.
.
.
"Aku pulang."
BRAK!
"Hyung!" Ryeowook langsung memeluk Hyukjae dengan erat. Membuat Hyukjae sedikit tidak bisa menjaga keseimbangannya. "Hyung kemana saja, sih?" tanya Ryeowook dengan nada suara khawatir.
Hyukjae tersenyum tipis. "Aku pergi ke kedai ice cream, Wookie…"
Ryeowook langsung melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah hyungnya dengan lekat. "Dari siang sampai malam hari di kedai ice cream? Berapa ice cream yang sudah kau habiskan, Hyung?" Wajahnya tampak kalau sangat khawatir.
"Eum… Mollayo. Mungkin sekitar—" Hyukjae memasang pose berpikirnya yang imut. "—eum, enam, mungkin?" jawab Hyukjae pada akhirnya. Ia tersenyum lebar, seolah tak ada beban.
"Hyung~" panggil Ryeowook gemas. "Kenapa makan sebanyak itu~?" tanya Ryeowook. Hyukjae mengerjap-erjapkan matanya. Menambah kadar kemanisannya. Membuat Ryeowook yang menatapnya semakin gemas. "Hyung seharusnya tidak boleh makan ice cream sebanyak itu!"
Hyukjae mempoutkan bibirnya. "Bukan aku yang menginginkannya. Yang menginginkannya itu keponakanmu, kau tau?"
Ryeowook tertegun. Ia menatap perut Hyukjae yang terlihat sedikit membesar. Hanya sedikit. Ia tersenyum, kemudian mengelus perut Hyukjae. Ia tersenyum. "Ah~ Ternyata keponakanku, ne~?" ucapnya. Hyukjae mengangguk-anggukkan kepalanya. "Gwaenchana~ Hyung boleh makan ice cream sebanyak yang Hyung mau kalau begitu~"
Hyukjae kembali mempoutkan bibirnya. "Ya! Kau mengizinkanku hanya karena ada bayi ini, ya?!"
.
.
.
Donghae kembali menggulingkan tubuhnya menghadap ke arah tembok. Sudah berulang kali ia berusaha tidur. Sudah berulang kali pula ia mengganti posisinya. Menghadap ke kanan, ke kiri, bahkan terlentang. Tidak bisa. Ia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya.
Kejadian siang tadi sama sekali tidak bisa hilang dari pikirannya. Kejadian itu terus saja membayanginya. Ia sama sekali tidak bisa melupakannya.
Entah apa yang tidak bisa dilupakannya. Bertemu Ryeowook atau Hyukjae. Dua-duanya sama-sama melekat pada otaknya.
Ryeowook…
Hyukjae…
Kenapa ia tidak bisa melupakan keduanya, malam ini?Hhh
~"~"~"~"~"~"~"~"~"~"~"~"~"~"~"~
TO BE CONTINUED or END?
~"~"~"~"~"~"~"~"~"~"~"~"~"~"~"~
*lirik FF di atas*
Aaaaaaaaaah~ Cerita macam apa ituuuuu~? DX
Mianhae karena chapter ini pendek banget. Saya ngetik malem-malem dengan keadaan sedikit capek dan sedikit mengantuk. Ngebut, pula._.v
Tugas yang bejibun serta kegiatan-kegiatan sekolah yang bejibun membuat saya sedikit menelantarkan FF ini. Jeongmal mianhae~!
Untuk chapter selanjutnya, aku nggak janji bakalan update minggu depan. Mungkin sedikit –atau mungkin sangat—terlambat. Tergantung tugas yang aku dapet aja. Doakan aja, semoga tugasnya cuma dikit, dan aku dapet mood buat nerusin FF ini._.v
Jeongmal gomawoyo, untuk semua yang udah mereview FF ini. Sumpah, aku nggak nyangka bakalan dapet review sebanyak ini. Mianhae untuk yang nggak login. Aku nggak bisa bales review kalian semua. Tapi aku bener-bener berterima kasih banyak kepada semua yang udah ngereview.
Once again, JEONGMAL GOMAWOOOOO~ ^^
Wanna know me more? Contact me at:
Twitter : revitakuzo
Facebook : Revita Kuzo
Kamsahamnida~ Once again, give me a
R
E
V
I
E
W
~
