Your World is Mine
Fandom: Naruto
Disclaimer: Naruto punya Sasuke, kan? -.-a
#JDERR
…xXx…
Namikaze Mansion, Tokyo
"Sasukee~ cepat turun!" Suara jeritan seorang gadis berambut pirang dikuncir kuda menggema di sebuah rumah bertingkat dua dengan halaman yang luas
"Baka-neechan! Berisik!" sahut suara baritone seseorang yang dipanggil Sasuke tadi. Ia berada di ujung tangga, sedang menuju ke ruang makan.
"Kau lama sekali! Jangan-jangan kau berdandan dahulu~" kata gadis blonde tadi dengan mata berbinar nakal dan senyum jahil terpasang di wajahnya.
"Ngaco!" Sasuke yang sudah sampai di ruang makan hampir saja menjitak gadis itu jika suara sang ayah tak menghalanginya.
"Sasuke, sudahlah. Segera habiskan sarapanmu," kata sang ayah yang memiliki rambut pirang agak panjang. Lalu ia berpaling ke sang kakak, "Dan kau, Deidara..."
'Glek!' Gadis yang dipanggil Deidara itu menelan ludahnya.
"I-iya, Tousan?" jawab Deidara ragu-ragu.
"Berhenti menggoda adikmu untuk saat ini dan selesaikan makananmu, bisa?" tanya sang ayah, atau yang kita ketahui bernama Namikaze Minato dengan sebuah senyum lebar, namun terkesan mengerikan.
"B-bisa, Tousan..." jawab Deidara tergagap.
Beberapa detik kemudian seorang wanita berambut merah dengan celemek masuk ke ruangan itu sambil membawa dua kotak bentou. "Ohayou, minna!" serunya dengan semangat '45. Dia adalah Namikaze Kushina
"Ohayou, Kaasan!" sahut Deidara tak kalah semangatnya dengan sang ibu yang masih terlihat seperti anak remaja walau umurnya sudah menginjak akhir 30.
"Ohayou, Kushi-chan," sapa Minato, yang kemudian mengangkat cangkir kopinya dan menyesapnya.
"Hn. Ohayou, Kaasan," sapa Sasuke kalem, namun tidak dengan tindakan yang kalem juga. Ia yang belum duduk di bangkunya menghampiri Kushina dan mengecup pipi ibunya.
"Thanks, Sasu-chan!" seru Kushina lagi.
Muka Sasuke memerah mendengar perkataan Kushina tadi. "Kaasan..."
"Iya, Sasu-chan?" tanya Kushina dengan wajah innocent.
Tiba-tiba aura hitam pekat memancar dari tubuh Sasuke. Namun entah Kushina tak menyadari, tak peduli, atau memang bodoh. #dirantai
"JANGAN PANGGIL AKU DENGAN EMBEL-EMBEL ITU! AKU BUKAN ANAK KECILL!" teriak Sasuke, yang kemudian menggetarkan jendela dan gelas yang ada di meja makan.
"Unn... Suaramu menggetarkan bumi, Sa-su-channn~" ucap Deidara dengan suara kekanakan.
"Diam, Teroris-Masa-Depan!"
"Teroris-Masa-Depan?" tanya Minato dengan nada tertarik.
"Karena..."
"Berhenti, Chick-butt!" potong Deidara cepat-cepat.
Semua mata memandang ke arah si blondie. Minato dan Kushina memandanginya dengan wajah ingin tahu.
"A-apa?" Deidara bertanya.
"Teroris itu penghancur, bukan?" tanya Sasuke yang habis menyendokkan nasi goreng ke mulutnya. MinaKushi mengangguk. "Nah, jadi deh Namikaze Deidara, sang manusia penghancur..."
Kushina angkat bicara. "Kaasan masih tak mengerti dengan perkataanmu, Sasu-chan," kata Kushina tanpa berpikir dahulu.
'TWICH'
"Kushi-koi..."
"Iya, Minato?" tanya Kushina innocent.
"I-itu..." ucap Minato pelan sambil menunjuk ke sosok pemuda berambut raven dengan wajah horor. Aura neraka mulai memenuhi ruangan itu.
"Hm..." Dengan santainya Kushina membalik badannya dan melihat wajah sang putra menampilkan ekspresi aneh. "Sasu-chan kenapa? Hm, kau mau tambah nasi goreng tomat, ya?"
Uzumaki Kushina, apa kau tau betapa baka-nya dirimu? #dirajam
"MUSNAHKAN EMBEL-EMBEL ITU DARI NAMAKU!" Oh, ledakan kedua dari seorang Sasuke di pagi hari yang cerah ini. Mungkin julukan teroris-masa-depan lebih cocok disandang oleh seorang Namikaze Sasuke?
…xXx…
"Ita-nii, apa di rumah ini hanya ada kita berdua?" tanya seorang gadis berambut pirang panjang kepada pemuda berambut hitam panjang.
"Tidak, ma chérie," jawab orang yang dipanggil Ita-nii tadi. Atau kita sebut saja ia Uchiha Itachi.
"Aku tahu apa yang ingin kau katakan," potong gadis itu ketika melihat Itachi membuka mulutnya. "'Masih ada para butler dan maid di rumah ini. Bukan hanya kita berdua'. Kau sudah sering mengatakannya."
Itachi menghela napas pelan. Ia tak menyangka jika sang adik akan menjadi sosok yang berbeda. Sosok yang dingin, acuh, dan... tak tersentuh. Gadis ini seakan menutup dirinya dengan dunia dan membuatnya nampak tak tersentuh.
Hanya ada Uchiha Naruko dan dunianya.
Hal ini terjadi semenjak Naruko, sang adik, berusia 7 tahun. Kalian pasti tahu kalau 7 tahun adalah usia anak-anak untuk masuk sekolah dasar. Nah, itu berlaku juga untuk si blondie. Ia memasuki St. Pierre Elementary School –hanya fiksi—di Paris, Perancis. Tempat yang sama dengan Itachi.
Awalnya semua berjalan lancar. Tetapi 3 bulan kemudian sang adik tak mau keluar dari kamarnya sedikitpun. Kamar itu dikunci dari dalam sehingga tak ada yang bisa masuk ke dalam kamar. Beberapa kali terdengar suara barang yang dilemparkan sembarangan. Tidak makan seharian itu.
Sayang yang ada di rumah saat itu hanyalah para pelayan di Uchiha Mansion. Fugaku dan Mikoto sedang pergi ke luar negeri untuk keperluan Uchiha Corp. Sedangkan Itachi sedang les sampai jam 8.
…xXx…
Flashback
…xXx…
"Naru-sama, saya mohon anda membuka pintunya," ucap seorang wanita berusia 50-n yang merupakan kepala pelayan di rumah -yang menurutku lebih mirip disebut istana- itu. Namanya adalah Chiyo.
"Pergi dari sini!" teriak Naruko dari dalam dengan keras. Memang bukan hanya kali ini sang nona berteriak keras seperti ini. Tapi baru kali ini Naruko berteriak dengan nada frustasi seperti itu.
"Naru-sama," panggil Chiyo lagi seraya mengetuk pintu kamar dengan ukiran indah bertuliskan 'Naruko'. Namun tak lama, terdengan sebuah benda dilemparkan ke pintu kamar itu.
'PRANG!'
"À partir d'ici! (1)" bentak Naruko lagi diiringi bunyi sesuatu yang pecah. Hal itu membuat Chiyo semakin cemas.
/(1) Pergi dari sini!/
"Tapi-"
Kata-katanya tak selesaikan karena terpotong oleh teriakan Naruko.
"DIAMM! Diam dan pergilah! CEPAAATTT!" perintahnya dengan penuh penekanan dalam setiap katanya. Maka wanita itu pun beranjak dari depan pintu sang putri. Ia turun ke lantai dasar. Di dapur beberapa pelayan keluarga Uchiha sedang berkumpul.
"Bagaimana, Chiyo-san? Apakah Naru-Hime sudah mau keluar?" tanya seorang maid, diikuti anggukan kepala yang lain. Chiyo hanya menghela napas berat. Ia tahu kalau Naruko adalah sosok yang dicintai oleh seisi rumah dengan tingkah lakunya yang supel, riang, dan murah senyum. Jadi tak heran jika mereka semua begitu cemas dengan pola Naruko yang berubah begitu drastis.
Chiyo menggeleng pelan. "Naru-sama tak ingin keluar. Kukira kalian sudah mendengar perintahnya tadi," jawabnya lirih.
"Bagaimana kalau anda menelpon Itachi-sama, Chiyo-san?" tanya seorang pria dengan pakaian butler. Yang lain mengangguk setuju.
"Baiklah, akan kucoba," putus Chiyo. Kemudian ia menuju ruang Keluarga dimana terdapat sebuah telepon. Sebenarnya di setiap ruangan dalam kediaman ini terdapat sebuah telepon. Tapi karena—mungkin—kelewat panik Chiyo malah menuju ruang keluarga. Para pelayan pun tak menghiraukan fakta tersebut. Yang ada di pikiran mereka adalah Uchiha Naruko.
Dengan tergesa-gesa Chiyo menekan serangkaian nomor yang sudah dihapalnya di luar kepala. nomer ponsel Uchiha Itachi. Sejenak terdengar nada tunggu dari telepon itu sampai akhirnya terdengar suara Itachi dari ujung sana. 'Allô? Qui est-ce? (2)'
/(2) Halo? Siapa ini?/
"C'est Chiyo, Itachi-sama," jawab Chiyo dengan suara yang diusahakannya setenang mungkin.
'Ah, Chiyo-baasan. Qu'est-ce qu'il y a? (3)' tanya Itachi dengan ramah. [Berhubung males banget nulis pakai bhs. Perancis, jadi ditulis pake bhs. Indonesia aja ya?]
/(3) Ada perlu apa ya?/
"I-iya, Itachi-sama. Ini tentang Naru-sama," jawab Chiyo.
Beberapa saat hening menyelimuti percakapan dua arah tersebut. Sampai akhirnya Itachi membuka suara. 'Ada apa dengan Naru-chan?'
"Sejak pulang Naru-sama tak mau keluar dari kamarnya. Tak mau makan sesendok pun. Kamarnya dikunci dan ketika ada yang ingin masuk Naru-sama akan melemparkan barang ke pintu dan berteriak-teriak. Kami khawatir dengan Naru-sama," ucap Chiyo dengan nada cemas.
'Baik, saya sudah hampir selesai. Saya akan segera kembali setelah selesai. Tolong, Chiyo-baasan, coba bujuk Naru-chan,' pinta Itachi.
"Baik, Itachi-sama. Merci beacoup, au revoir (4)," ucap Chiyo.
/(4) Terima kasih, sampai nanti/
'Au revoir, Chiyo-baasan,' ucap Itachi balik. Chiyo meletakkan gagang telepon itu setelah terdengar nada sambung yang telah terputus. -alah, ribet!
'Tok-tok-tok!'
Suara pintu diketuk bergema di koridor di lantai dua Uchiha Mansion. Terlihat beberapa orang berdiri di depan kamar dengan pintu bercat hitam. Tapi tak ada sahutan dari dalam.
"Naru-chan, buka pintunya," pinta Itachi. Sesampainya ia di rumah itu, ia melempar tasnya begitu saja dan langsung menuju ke kamar sang adik. Di sana berdiri Chiyo dan seorang bocah yang diketahui bernama Sasori.
"PERGII!"
"Naru-chan, ini aku, Itachi..." balas Itachi dengan suara lembut, mencoba meluluhkan hati sang adik. Entah kenapa, ia khawatir akan akibat dan kejadian ini.
"Semuanya, PERGI!" teriak Naruko, histeris.
Itachi menghela napas akan kelakuan Naruko. Ia berhenti mengetuk pintu kamar itu sehingga keadaan menjadi hening. Samar-samar terdengan suara isakan Naruko di dalam kamar. Bocah berumur 9 tahun itu berpaling ke arah anak bernama Sasori yang berdiri di samping Chiyo.
"Apakah aku bisa mendapatkan kunci cadangan kamar ini?" tanya Itachi dengan suara tenang. Ya, panik takkan menghasilkan apapun. Bukankah begitu?
"Biasanya kunci cadangan beberapa ruangan di rumah ini dipegang oleh Chiyo-baasan," kata Sasori, cucu dari Chiyo yang juga tinggal di rumah itu.
Kini kedua pasang mata memandang ke arah Chiyo. Ia terlihat risih dipandang seperti itu.
"I-iya, saya memegang kunci cadangan beberapa ruangan di rumah ini. Tapi hanya sebagian," ucap Chiyo dengan agak sedih. Kedua anak lelaki itu menghela napas berat. Beberapa saat kemudian Chiyo melanjutkan, "Kunci ruangan yang bersifat pribadi dipegang oleh Mikoto-sama, seperti kamar tidur, ruang kerja, perpustakaan, dan lainnya."
Kini ketiganya terlihat lemas. Opsi satu gagal. Ke opsi selanjutnya.
"B-bagaimana kalau k-kita dobrak saja?" usul Sasori takut-takut karena bagaimanapun ia hanyalah cucu dari pelayan di kediaman mewah itu. Dan usul untuk merusak salah satu perabot di tempatnya menumpang... Sungguh, tidak etis rasanya.
"Hmm..." Itachi terlihat berpikir sebentar. Sedangkan Chiyo memandang sang cucu dengan pandangan aneh. Ia berpikir kalau sebaiknya sang tuan muda-lah yang terlebih dahulu mengusulkan hal itu. Tapi sudah lewat, bukan?
"Baik," ucap Itachi setelah sekian lama berdiam. Pasangan nenek-cucu itu memandangi Itachi ingin tahu. "Lebih baik kita dobrak saja pintu ini. Aku khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk kepada Naru-chan."
"Sasori menghela napas yang entah sejak kapan ia tahan.
"Sasori-kun..." panggil Itachi kepada lelaki itu. Ia menambahkan embel-embel -kun karena ia tak menganggap pemuda berambut merah maroon itu sebagai bawahan, melainkan saudara yang seharusnya dihormati. Sejak kecil mereka bermain bersama. Bercanda...
Oke, cukup nostalgia ini. Kembali ke cerita. ^^v
"Eh, i-iya Itachi-sama?" sahut sasori.
"Tolong panggilkan beberapa lelaki untuk membantu mendobrak pintu ini," papar Itachi akan tujuan perintahnya.
"Baik, Itachi-sama," jawab Sasori mantap. Ia langsung berjalan dengan cepat—setengah berlari—menuju lantai dasar dimana biasanya para lelaki berkumpul.
Beberapa menit berlalu dan Sasori kembali bersama dua orang penjaga rumah atau simpelnya 'security' berbadan besar dan kekar. Melihat otot mereka yang begitu terlatih, pasti sebuah pintu bukanlah masalah besar.
"Ada yang bisa kami bantu, Itachi-sama?"
"Tolong dobrak pintu ini," katanya singkat. Kedua pria itu membungkuk singkat kepada Itachi lalu mengambil ancang-ancang di depan pintu.
'BRAKK! BRAKK!'
Dua kali dubrakan (?) dan pintu kamar Naruko pun terlepas dari engselnya. Di dalam kamar terlihat sebuah gundukan di atas tempat tidur king size tersebut. Gundukan itu terbungkus dengan bed cover berwarna biru muda.
"Naru?" Itachi mendekat ke arah gundukan tersebut yang pastinya adalah sang adik. Semakin dekat ia dengan Naruko, semakin terdengar isak tangis sang adik.
"Hiks… Hiks…"
"Naru?" Kembali Itachi memanggil nama sang adik.
"J-jahat… Hiks… P-pasti mereka bohong… Hiks…" Naru bergumam sambil sesenggukan.
Itachi mengangkat selimut yang menutupi tubuh mungil sang adik."Naru-chan, ada apa?" tanya Itachi dengan lembut. Ia membelai rambut Naruko dengan penuh kasih sayang.
Awalnya Naruko tersentak. Namun kemudian ia merasakan kehangatan yang menjalar dari itachi. Membuat tangisannya mereda.
Melihat adiknya yang sudah mulai tenang, Itachi tersenyum. Perlahan ia mendudukkan dirinya di samping Naruko. "Ada apa, Dear?" tanyanya dengan lembut. Itachi menghapus jejak air mata di pipi yang berhiaskan tiga garis di masing-masing sisinya.
"Hiks… Hiks…"
"Tenanglah, Imou-chan…" ucap Itachi. "Kau bisa bercerita kepadaku."
Masih sesenggukan, Naruko mengucek matanya dengan tangannya yang mungil. "Hiks… A-apakah aku adikmu?"
Mendengarnya, Itachi tertegun. Kenapa Naruko bertanya seperti itu?
"Sayang, kenapa pemikiran itu bisa sampai kepadamu?" tanya Itachi dengan nada bingung menghiasi pertanyaannya tersebut.
"Hiks… Teman-teman Naru bilang, hiks, k-kalau Naru berbeda d-dengan Kaasan, Tousan, dan juga Ita-nii…" lirih Naruko, membuat Itachi terbawa akan suasana tak mengenakkan yang tercipta dari perkataan sang Rubah.
Namun kemudian Itachi tersenyum tipis, membuat Naruko berhenti menangis. Mungkin sang adik heran. Atau terpesona? Ah, yang manapun itu ane tak tahu.. :P
"Lalu?" tanya Itachi, menginginkan Naruko melanjutkan perkataannya.
Mengerti akan maksud sang kakak, Naruko pun berkata, "M-mereka bilang k-kalau Naru anak pungut. Hiks… Mereka tak mau bermain dengan Naru… Ukh, hiks… Naru dijauhi…" Kembali air mata gadis kecil itu jatuh.
Sasori yang sedari tadi mendengarkan percakapan keduanya pun akhirnya masuk dan berjongkok di depan si rambut kuning. Ia menghiraukan panggilan neneknya yang berpendapat bahwa apa yang dilakukannya tidak sopan.
"Sudahlah, Hime…" putus Sasori. Bergabungnya sosok berambut maroon tersebut membuat Itachi serta Naruko menoleh ke arahnya. Sedangkan yang ditengok tersenyum.
Kembali Naruko mengucek matanya. Itachi menahan tangan Naruko, namun ia mengusap jejak air mata yang mulai mengalir itu dengan perlahan. Sementara Sasori meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha sang putri.
"Tidak peduli siapapun kau sesungguhnya, kau adalah kau. Jika mereka tak menerimamu, kamilah yang akan selalu menerimamu. Bagaimana, Hime?" tawar Sasori. Kemudian ia mengedipkan sebelah matanya kea rah Naruko, membuat gadis cilik itu terkikik pelan.
Itachi melengkungkan bibirnya ke atas melihat adiknya sudah mulai ceria. Itu karena Sasori.
"Iya, Sayang. Masih ada Niichan, Kaasan, Tousan, Saso-nii, Chiyo-baasan, dan yang lainnya. Sampai kapanpun kau akan tetap menjadi seorang Uchiha Naruko…" ucap Itachi. Mendengar hal itu, Naruko pun memeluk Itachi dengan erat. Hingga yang dipeluk merasa sesak. Namun Itachi tak mengeluh.
Sedangkan tangan kiri Naruko kemudian mencari dan menggenggam erat telapak tangan Sasori.
"Merci beacoup, tout…" bisik Naruko.
…xXx…
End of Flashback
…xXx…
"Sudahlah, Sayang. Cepet habiskan sarapanmu dan kita berangkat ke sekolah. Ini hari pertamamu, bukan?" tanya Itachi setelah bayangan masa lalu itu buyar. Ia merapikan seragamnya dan meraih ranselnya.
"Hn…" Gadis berambut 'pirang' itu menyimpul dasinya dan berjalan mengikuti sang kakak. Sebelum masuk ke dalam mobil mewah milik keluarga Uchiha tersebut, sosok berambut merah melemparkan sebuah kunci kea rah Itachi.
"Kini giliranmu," serunya. Naruko tersenyum tipis.
Dengan tangkas Itachi menangkapnya. "Hap!"
Kemudian pemuda bertampang baby-face tersebutmenepuk pundak Naruko. "Bonjour, Mademoiselle Naruko. Comment êtes-vous?"
/(5) Selamat pagi, Nona Naruko. Bagaimana kabarmu?/
"Lumayan. Sekarang kita satu sekolah, Saso-nii…" ujar Naruko.
"Hei, kalian berdua! Kita akan terlambat bila kalian tak segera masuk!" gerutu Itachi dengan wajah masam.
"Baik, Bos!" jawab keduanya.
…xXx…
End of Chapter 3
…xXx…
Huwalaaahhh… Lama nian daku apdet fict ini. XD
#dilemparpohoncabe
Sudah lama, abal pula. *pudung*
Mau minta saran. Apa sebaiknya Lils ganti kategorinya jadi Naruko U. atau tetap?
…xXx…
Next Chapter: Pertemuan pertama antara Uchiha Naruko dengan Namikaze Sasuke. Bagaimana nih reaksi mereka berdua?
…xXx…
Special thanks for:
mugen' chikara kyoshiro
Kim D. Meiko
Kiryuu arcafia kurozuki
Namikaze Sakura: Sudah apdet. Makasih sudah sempat me-review. :D
Icha22madhen
Naru3: Daku perempuan, kok. :D
Kyukei Hieru
S plus N: Bikin akun baru, dong. Masa pass bisa lupa? -.-'
Orange Naru
Aoi no Kaze
Demikooo
Miyako Shirayuki: Ini sudah besar kok. Makasih atas review-nya. :D
Uzumaki Andin: Maaf kelamaan. -.-'
Bryella: Ini kelamaan yak? #ditimpuk
Sparky-Cloud
Adex Chacha: Makasih atas review-nya, Kak Adel. XD
Ruvine no Ookami Hime: Wah review Ruvi-san panjang sekali. Pegel, gak? –pertanyaangakmutu- Maaf gak sempat balas via PM. Sarannya bagus, itu sudah Lils terapkan. Makasih atas review-nya. :DD
: Maaf juga gak dibalas via PM, ini warnetnya pada tutup. Makasih atas review-nya. :D
…xXx…
Akhir kata:
Mind to Review or Con-crit? :3
